Bab 1

Heaven berlari dengan langkah tercepat yang sanggup ia lakukan, tak perduli kaki telanjangnya berkali-kali tergores kerikil tajam ataupun ranting-ranting pohon yang berserakan di sepanjang permukaan tanah. Pakaian yang ia kenakan bahkan tampak compang-camping karena berkali-kali terkoyak semak belukar. Wanita itu sama sekali tak memperhatikan langkahnya, yang ia lakukan hanya berlari dan terus berlari.

Heaven sesekali melihat ke belakang, memastikan sosok yang sangat ingin ia hindari berada jauh atau bahkan memutuskan berhenti mengejarnya. Namun Heaven rasanya ingin menjerit frustasi saat itu juga ketika melihat orang itu -entah masih bisa disebut demikian atau tidak- masih dengan gigih mengejarnya. Bahkan jarak mereka saat ini begitu tipis.

Heaven memekik saat kakinya terantuk akar pohon sehingga membuat langkahnya goyah dan tubuhnya terjerembab ke atas tanah yang keras dengan suara berdebam kencang.

Memejamkan mata, Heaven hanya pasrah ketika sosok yang sejak tadi mengejarnya langsung menerjang dan menindih tubuhnya sedemikian rupa. Mencengkeram tangannya dengan kasar dan mengunci semua pergerakannya. Heaven merasa sekujur tubuhnya kaku karena himpitan pria di atasnya ini. Heaven bahkan merasa begitu sesak untuk sekedar bernafas.

Heaven menatap dengan takut mata pria itu, pupil yang selama ini berwarna biru penuh karisma, terlihat berubah merah penuh aura pembunuh. Tanpa kata pria itu langsung mencabik dada Heaven dengan kuku-kuku tajamnya.

Heaven langsung berteriak, menjerit sejadi-jadinya ketika rasa perih yang menyayat terasa di dadanya. Darah segar mengalir dengan cepat memenuhi permukaan dada dan perutnya, bahkan ada darah yang memercik membasahi wajah pria yang tampak kehilangan seluruh kendali dirinya itu.

"Tidak!" Heaven terpekik ketika melihat pria itu menjilati jarinya yang berlumuran darah dengan ekpresi kenikmatan. Membuat Heaven merasa takut dan jijik dalam waktu yang bersamaan.

Pria itu menyeringai, memperlihatkan dua taring panjang yang menambah kesan menakutkan dalam dirinya. Taring yang Heaven sadari sepenuhnya, dulu tidak pernah dimiliki oleh pria ini.

"Tidak! Kay, sadarlah! Ini aku Heaven! Kaylein!" Heaven terus berteriak. Menggelengkan kepalanya dengan keras, berusaha sebisa mungkin menghindari kepala Kaylein yang sudah melesak ke lehernya.

Suara 'krak' terdengar dengan nyaring di tengah malam yang sunyi ini, ketika taring Kaylein akhirnya menembus kulit Heaven, menusuk tepat di mana urat nadi wanita itu berada.

Heaven memejamkan mata, nafasnya terputus-putus akibat rasa sakit yang membuat sekujur tubuhnya terasa ngilu. Kaylein yang memang kehilangan kendali sepenuhnya justru terus menghisap darah gadis itu dengan beringas, seperti orang yang benar-benar kehausan. Mengambil sebanyak apapun yang bisa ia dapatkan.

Heaven merasakan tubuhnya kian melemah, kulitnya yang putih terlihat mulai memucat, nafasnya tersengal seiring kesadarannya yang mulai menghilang.

"Kaylein..." lirih gadis itu sebelum akhirnya menyerah pada kegelapan yang menyelimutinya.

Kaylein tersentak, dengan cepat pria itu mengangkat tubuhnya dari tubuh Heaven yang tak sadarkan diri. Matanya yang berwarna merah berangsur-angsur berubah menjadi biru, warna aslinya. Dia menatap Heaven, keadaan sekitar dan keadaan tubuhnya sendiri yang berlumuran darah dengan tatapan bingung bercampur nanar. Terlihat kehilangan orientasi untuk sesaat.

Lelaki itu kemudian menatap Heaven yang terbaring dengan wajah pucat, disentuhnya pipi wanita itu. Saat itulah Kaylein terpana melihat tangannya yang berlumuran darah. Dengan kuku-kuku panjang, meski tak sepanjang beberapa saat yang lalu.

Tubuh Kaylein langsung berubah dingin, tangan dan bibirnya bergetar, menolak dengan keras kenyataan pahit yang mungkin baru saja terjadi. Berulang kali menggelengkan kepala dengan frustasi, Kaylein langsung merengkuh tubuh Heaven ke dalam pelukannya. Menangis terisak-isak bagaikan anak kecil. Dikecupnya kening Heaven berkali-kali.

"Heaven, sayangku. Bangunlah... maafkan aku. Jangan pergi..." bisiknya di sela-sela isakan.

Kaylein bahkan sesekali tersedak dalam tangisnya. Bagaimana bisa ia melakukan hal sekeji ini terhadap wanita yang ia cintai? Dengan tangannya sendiri!

"Arrggghh!" dengan kecepatan di luar nalar, Kaylein bahkan perlu waktu untuk menyadari apa yang baru saja terjadi.

Tubuh pria itu terlempar sejauh empat meter dari tubuh Heaven dan terbentur dengan keras di sebuah pohon.

Di depan sana, terlihat Xavier, salah satu sosok yang membuat Kaylein berubah menjadi mahluk terkutuk seperti ini. Sosok pria bengis yang telah menghancurkan hidupnya. Pria yang juga dengan begitu kejam telah menodai Heaven tepat di depan matanya. Pria itu kini tengah berjalan ke arah Heaven, mengangkat wanita itu dengan mudah ke dalam gendongannya. Seakan tubuh wanita itu seringan bulu.

"Jangan... sen-tuh dia," lirih Kaylein sambil menyentuh dadanya yang sempat terbentur tadi.

Xavier menyeringai dengan ekspresi jahat, menatap Kaylein dengan tatapan merendahkan sebelum akhirnya mengecup bibir Heaven dengan mata yang sama sekali tak beralih dari Kaylein.

"Aku sudah pernah menyentuh seluruh tubuhnya, tepat di depanmu. Kau sama sekali tak bisa melakukan apa-apa. Jadi, apa kau pikir kali ini kau bisa melakukan sesuatu jika aku menyentuhnya?"

Xavier lagi-lagi menyeringai melihat sorot kebencian yang terlihat di mata Kaylein.

"Hahh... sudahlah, aku tak ingin berdebat denganmu lebih lama. Wanita ini akan mati jika tidak cepat diobati," ujar pria itu sambil memutar tubuhnya membelakangi Kaylein, "ah, satu lagi. Perubahanmu belum sempurna, aku masih bisa mencium bau manusia dari dalam tubuhmu. Ikut denganku sekarang jika kau tak ingin menjadi makan malam bagi semua hewan buas di luar sana."

Kaylein mengepalkan tangannya dengan erat. Andai saja waktu bisa diputar kembali. Ia tidak akan pernah datang ke tempat terkutuk ini. Heavennya tak akan menderita seperti ini dan yang paling penting, ia tak akan pernah berubah menjadi salah satu bagian dari clan sialan ini.

Bab 2

Heaven berkali-kali melirik ke arah Kaylein dan sebuah rumah bergaya Victorian yang berdiri dengan megah di depannya. Entah mengapa sebersit perasaan tak enak yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata membuat gadis itu berpikir ribuan kali untuk mengikuti ajakan Kaylein.

"Kau yakin ingin memasuki bangunan ini?" tanya gadis itu entah untuk keberapa kalinya.

"Sangat, sebenarnya ada apa Sayang? Bukankah kita sudah terlalu sering melakukan hal semacam ini?" tanya Kaylein dengan mata menyipit ke arah kekasihnya.

"Entahlah, aku memiliki firasat, yang kali ini kita lakukan akan terasa berbeda." Kaylein langsung merengkuh bahu kekasihnya, bermaksud menenangkan.

"Itu hanya adrenalin sayang, tidak akan terjadi apa-apa. Bukankah kita sudah pernah mengunjungi beberapa kota mati sebelumnya? Hasilnya, kita tidak pernah menemukan apa-apa bukan? Aku hanya ingin memastikan, jika kunjungan kita hari inipun akan memperoleh hasil yang sama."

Heaven menatap Kaylein yang tampak begitu bersemangat. Rasanya begitu egois jika ia membatalkan rencana yang sudah dirancang sejak jauh-jauh hari hanya karena ketakutan yang tak beralasan. Dengan ragu Heaven kembali menatap bangunan tua di depannya. Sambil menelan ludah dengan gugup, gadis itu kemudian menganggukkan kepalanya kepada Kaylein, yang langsung dibalas dengan cengiran lebar dari kekasihnya itu.

"Baiklah, ayo kita berpetualang!" dengan penuh semangat diraihnya tangan Heaven dan menariknya memasuki bangunan tua itu.

Bangunan itu memang sama sekali tak ada penghuninya, entah sejak berapa tahun yang lalu, pintu depannya bahkan tidak tertutup dengan sempurna. Sehingga makin memudahkan baik Heaven ataupun Kaylein untuk menelusuri ruangan-ruangan yang ada di dalamnya.

Bangunan ini ternyata jauh lebih luas dari yang terlihat dari luar. Keadaan di dalamnyapun sangat mengejutkan. Memang tidak rapi selayaknya rumah yang dirawat dan dijaga sepenuhnya, namun tetap saja ini tidak seberantakan layaknya rumah yang sudah tak dihuni bertahun-tahun lamanya.

Heaven mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Bahkan properti seperti lukisan, sofa, meja tv dan segala macamnya tetap terpasang dengan rapi di tempatnya. Apakah setelah bertahun-tahun, tak pernah ada seorangpun yang memasuki rumah ini?

Heaven langsung menoleh ke arah tangga penghubung lantai dua ketika merasakan ada seseorang yang memperhatikannya dari arah sana. Namun tak ada siapapun atau lebih tepatnya 'apapun' di tangga itu. Heaven mengetatkan syal dan jaketnya saat merasakan dingin yang tak wajar terasa menusuk tengkuknya.

"Ayolah sayang, singkirkan ekspresi horrormu itu. Tidak ada apapun di sini, oke?" Kaylein lagi-lagi berusaha meyakinkan Heaven yang tampak masih menatap takut-takut situasi di sekitarnya.

"Kita hanya melihat-lihat, setelah itu kita akan keluar secepatnya." Ujar Heaven, raut wajahnya mengatakan jika ia sama sekali tak menerima bantahan.

"Iya, tentu saja, bukankah biasanya juga seperti itu?" Kaylein lagi-lagi tersenyum meyakinkan.

Mereka terus melangkah, menelusuri ruangan demi ruangan. Seperti yang sudah mereka duga, bangunan ini nemiliki banyak kamar, mungkin mencapai puluhan dan semuanya merupakan bangunan luas yang memiliki perabotan kualitas terbaik.

Hal itu membuat bangunan ini terlihat makin aneh saja. Apakah setelah sekian tahun lamanya, benar-benar tak ada seorang pencuripun yang masuk ke tempat ini? Bagaimanapun juga, bangunan megah ini sudah tak berpenghuni begitu lama, kalian ingat?

Heaven menggelengkan kepalanya, apa-apaan dia ini? Kenapa mendadak dia jadi penakut? Bukankah mereka sudah biasa memasuki bangunan yang bahkan lebih menakutkan dari tempat ini sebelumnya?

Menghela nafas, Heaven memantapkan langkahnya, tak ada yang pantas ditakuti dari bangunan ini, bangunan ini terlalu indah dan tampak terawat untuk ukuran rumah kosong. Heaven terus mensugestikan kalimat itu ke dalam pikirannya. Kaylein yang melihat perubahan ekspresi kekasihnya, langsung tersenyum dan menuntun gadis itu agar lebih mempercepat langkahnya.

"Menurutmu apa yang membuat bangunan ini dibiarkan kosong begitu lama? Padahal dari segi tampilan, bangunan ini bahkan jauh lebih mewah dan megah jika dibandingkan dengan apartemen-apartemen mewah di kawasan elite." Tanya Heaven sambil menyingkap sebuah tirai kelabu yang menutupi hampir seluruh kaca jendela yang berada di dalam bangunan megah ini.

"Hem... entahlah, mungkin karena kutukan?" detik itu juga Kaylein langsung menyesali ucapannya ketika melihat tubuh Heaven yang kembali menegang. Ingin rasanya pria itu menampar wajahnya sendiri karena bicara sembarangan.

"A-ah, aku hanya bercanda sayang, aku hanya membayangkan film yang sempat aku tonton dengan Stacy hari minggu kemarin." Lanjut pria itu lagi dengan raut serba salah.

Heaven mengibaskan tangannya, sebagai isyarat jika ia sama sekali tak terpengaruh dengan kata-kata Kaylein tadi. Sebenarnya hanya untuk menenangkan pria itu, karena mau tak mau, Heaven justru memikirkan ucapan kekasihnya itu berkali-kali dalam benaknya.

Bagaimana jika apa yang dikatakan Kaylein tadi adalah kenyataan? Bagaimana jika bangunan ini benar-benar bangunan yang dikutuk? Mengingat aura berbeda yang dirasakan Heaven bahkan pada detik pertama ia menjejakkan kakinya di tempat ini. Heaven kembali menggelengkan kepalanya. Tidak Heaven, jangan berpikiran aneh-aneh! Berkali-kali gadis itu mengingatkan dirinya sendiri.

"Sudahlah, ayo! Masih banyak ruangan yang belum kita masuki." Ucap gadis itu kemudian sambil menarik tangan Kaylein agar mengikuti langkahnya.

Mereka kemudian memasuki sebuah ruangan yang mungkin paling luas jika dibandingkan dengan yang lain, perabotannyapun terlihat paling lengkap dan paling mewah. Heaven lagi-lagi merasakan tusukan dingin pada tengkuknya, lagi-lagi ia merasakan ada seseorang yang tengah memperhatikan mereka. Namun ke arah manapun ia melihat, hanya ruangan kosong yang ia temukan.

"Ada apa sayang," Heaven langsung tersentak merasakan sentuhan lembut di bahunya.

"Ah, tidak. Hanya sedang mengagumi arsitektur bangunan ini." tak ingin membuat Kaylein kuatir, Heaven langsung merubah ekspresinya.

"Hemm... ya, sangat indah bukan? Aku tak habis pikir kenapa bangunan seindah ini dibiarkan kosong begitu saja." Decak Kaylein.

'Ya, aku juga tak habis pikir, kenapa kau bisa tetap tenang di tengah aura mengerikan tempat ini.' Lirih Heaven dalam hati.

Heaven kembali mengedarkan pandangannya ke sekitar, hingga tatapannya tertuju pada sebuah cermin besar yang ditutupi dengan sehelai kain tipis berwarna kelabu. Cermin itu bahkan terlihat lebih tinggi dari tubuh Kaylein. Mengikuti rasa penasaran yang menggelitik, Heaven kemudian melangkah ke arah cermin tersebut.

Menarik kain penutupnya hingga terjatuh dengan lembut, Heaven menatap dengan takjup bentuk dan detail ukiran yang menghiasi bingkainya. Lalu tiba-tiba saja pikiran konyol itu muncul begitu saja dalam benak Heaven.

"Hei cermin ajaib, katakan padaku, siapa wanita paling cantik di dunia ini." Lama menanti namun tak ada suara yang menjawabnya. Memangnya apa yang ia harapkan?

"Tentu saja kau, bidadariku." Heaven langsung tersenyum ketika merasakan pelukan Kaylein dan merasakan hangat tubuh pria itu merambati punggungnya.

"Benarkah?"

"Hemmm, tentu saja." Kaylein menjawab sambil menenggelamkan hidung dan bibirnya di relung leher Heaven. Mencium wangi tubuh gadis itu yang begitu lembut dan membuatnya bergairah.

Detik itu juga Kaylein membalikkan tubuh Heaven, memeluknya dengan lebih erat dan mencium bibir gadis itu dengan pagutan lembut. Tangan Kaylein membelai punggung Heaven dari atas ke bawah hingga berakhir di pinggul feminin gadis itu. Desahan nafas Heaven membuat Kaylein semakin semangat untuk memperdalam ciumannya, tangan pria itu bahkan sudah tak lagi berdiam diri di pinggul Heaven, namun sudah melakukan pengembaraan kecil yang terkesan nakal.

"Emh, Kay..." kata-kata Heaven sudah tenggelam dalam pagutan panas bibir Kaylein, pria itu terus mengulum bibirnya dengan ganas, liar dan basah. Lidah pria itu kini bahkan mulai menginvasi ke dalam mulut Heaven, mengabsen satu persatu apapun yang berada di dalamnya.

Tangan kekar pria itu kini bahkan mulai merayap ke dada Heaven, mengelus dengan lembut dan memberi pijatan ringan. Membuat Heaven mengerang penuh damba kepada sentuhan lembut pria itu. Namun Heaven langsung tersentak ketika hembusan angin dingin berhembus menerpa tubuhnya, hembusan angin yang terasa tak wajar, tidak pada tempatnya dan bahkan terasa tak masuk akal.

Bab 3

"Heaven, ada apa? Ah... maafkan aku sayang, aku sudah keterlaluan." Kaylein langsung merengkuh kedua pundak Heaven, merasa sangat bersalah ketika melihat wajah gadis itu yang berubah pucat.

Berpikir jika gadis itu belum siap dengan sentuhannya, memang selama ini hubungan mereka sama sekali belum pernah mencapai tahap itu. Hal terjauh yang mereka lakukan hanyalah ciuman dengan saling melumat bibir dengan lembut. Tak ada pertarungan lidah, berbagi saliva ataupun tangan yang merayap kemana-mana.

Mereka memang sudah lama menjalin hubungan, hampir empat tahun, selama itu pula Kaylein selalu berusaha menjaga perasaan dan kehormatan kekasihnya. Hal itu pulalah yang membuat perasaan Heaven selalu menguat seiring dengan berjalannya waktu.

"Maafkan aku sayang, sungguh maaf," gumam Kaylein sambil menempelkan keningnya dengan kening Heaven.

Heaven hanya menggelengkan kepala dan memeluk Kaylein dengan erat. Dalam benaknya saat ini sama sekali tak mempermasalahkan apa yang baru saja terjadi antara dirinya dan Kaylein. Namun yang sekarang ia rasakan hanyalah ketakutan. Takut akan apa yang baru saja terjadi.

Heaven tahu dengan pasti, angin yang berhembus tadi bukanlah angin biasa, angin itu terasa... entahlah, begitu dingin dan membuat perasaan Heaven tidak enak. Semakin meyakinkan Heaven jika bangunan ini memang menyimpan sebuah kekuatan misterius, kekuatan yang tidak pernah ingin diketahui oleh gadis itu.

Sebut saja dia aneh. Bukankah ia sengaja pergi ke tempat-tempat misterius hanya untuk memenuhi obsesinya agar bisa melihat mahluk immortal? Lalu kenapa di saat dia mungkin sudah dekat dengan obsesinya, gadis itu malah ketakutan setengah mati?

"Kay, ayo kita keluar dari sini." Gumam Heaven lirih karena teredam mantel Kaylein yang masih berada dalam pelukannya.

Setelah terdiam beberapa saat, Kaylein akhirnya mengangguk dan melepaskan pelukan Heaven. Menggenggam tangannya dan menuntun gadis itu agar berjalan mengikutinya.

"Ya, kita sepertinya sudah memasuki semua ruangan, seperti biasanya, tak ada apa-apa di tempat ini. Apa mahluk immortal itu memang tak pernah ada?" gumam Kaylein sambil melangkah menuju pintu keluar. Namun langkah mereka langsung terhenti ketika melihat di luar tengah terjadi hujan salju yang sangat lebat, bahkan mungkin bisa dikatakan badai.

"Badai salju? Aneh sekali." Gumam Kaylein namun tetap masih bisa di dengar Heaven. Memang ketika mereka masuk tadi, cuaca di luar sangat cerah. Namun pergantian cuaca yang cukup ekstrim sepertinya sudah bukan hal yang baru pertama kali mereka lihat, jadi bukan hal yang aneh lagi bagi mereka.

"Aneh? Kenapa?" tanya gadis itu kemudian. Merasa kata 'aneh' di sini, karena hal yang berbeda.

"Sayang, ini New Orleans. Tempat yang beriklim subtropis basah, sangat jarang turun salju. Itu berarti badai salju sudah menjadi hal yang benar-benar mustahil." Satu fakta lagi yang meyakinkan Heaven jika tempat ini memang benar-benar aneh.

"Jadi sekarang harus bagaimana?" Kaylein terdiam sebentar, memikirkan langkah terbaik yang bisa mereka lakukan.

"Mau bagaimana lagi? Sepertinya kita harus bermalam di sini. Di luar sedang badai, bukan pilihan yang bijak jika kita keluar dalam keadaan seperti itu."

"Tapi sebentar lagi malam Kay, aku tak ingin terjebak di sini hingga malam hari."

Kaylein mengangkat tangan kirinya, melihat pada arloji yang ia kenakan. "Masih ada waktu dua jam sebelum matahari tenggelam dengan sempurna. Aku yakin sebelum itu, badai salju ini pasti sudah berhenti."

Heaven menggigit bibirnya, merasa ragu dengan ucapan Kaylein. Bagaimana jika badai salju tak akan berhenti hingga esok? Haruskah mereka bermalam di tempat ini? Siang saja Heaven sudah merasakan ada yang tidak beres dengan bangunan ini, bagaimana malamnya? Heaven bergidik dengan pikirannya sendiri. Hanya Tuhan yang tahu, mahluk apa saja yang menghuni tempat ini. Dan gadis itu, sama sekali tak ingin mengetahuinya.

Dengan ekspresi ragu dan mata yang terus-menerus memandang dengan defensif ke sekeliling ruangan, Heaven akhirnya menggangguk lemah dan pasrah ketika Kaylein menuntunnya duduk di sebuah sofa yang berada di ruang tengah. Tersenyum penuh kemenangan, Kaylein berjalan dengan langkah lebar ke arah perapian yang berada di pojok ruangan. Dirogohnya tas ransel yang selalu ia bawa kemana-mana dan mengeluarkan sebuah korek api dari sana.

"Hei sayang, ada sebuah perapian, setidaknya kita tak akan mati kedinginan di sini." Kata Kaylein dengan penuh semangat.

Heaven hanya tersenyum mebalas ucapan Kaylein. Ya... kita memang tidak akan kedinginan, dan aku harap, kita tak akan mati karena alasan yang lainnya. Lirih Heaven dalam hati.

Menit demi menit berlalu, di luar mulai terlihat gelap dan Heaven semakin gusar. Hingga akhirnya matahari tenggelam dengan sempurna, penerangan hanya berasal dari perapian yang tadi dinyalakan Kaylein. Badai salju tampak mulai mereda, masih terlihat butir-butir salju yang berjatuhan, hanya saja tidak selebat beberapa jam yang lalu. Heaven bergegas mengambil tasnya dan menarik tangan Kaylein agar segera berdiri, sehingga mereka bisa secepatnya keluar dari tempat ini.

"Ayo Kay, aku ingin keluar secepat mungkin dari sini, aku lapar dan semua persediaan makan kita dengan bodohnya tertinggal di mobil." Kaylein hanya tersenyum melihat kekasihnya bersungut-sungut.

Ketika hampir mencapai pintu keluar, secara tiba-tiba pintu kokoh itu menutup dengan debaman keras, bahkan hingga membuat lantai dan dinding di dekatnya ikut bergetar pelan. Kaylein tersentak dan memandang tak percaya ke arah pintu, sedangkan Heaven nyaris melompat karena tak siap melihat apa yang baru saja terjadi.

"Well, well, well... sepertinya tamu kita sedang terburu-buru."

Heaven dan Kaylein langsung menoleh ke arah tangga, di mana saat ini tengah berdiri seorang -atau setidaknya ia terlihat seperti itu, tengah menatap mereka dengan seringai mencurigakan. Pria itu sesungguhnya sangat tampan jika saja raut sombong dan congkak itu disingkirkan dari wajahnya.

"Kenapa terburu-buru manis? Bukankah kalian begitu penasaran dengan eksistensi kami? Lalu kenapa pergi bahkan sebelum kami sempat memperkenalkan diri?"

Heaven memejamkan mata, menahan nafas dan menggenggam tangan Kaylein dengan erat ketika sebuah suara lain muncul dari belakang tubuhnya. Terlalu dekat mungkin nyaris menempel karena Heaven bisa merasakan dingin yang menusuk di punggungnya.

"Ah... breath baby, breathe..." ucap suara itu lagi karena merasakan Heaven menahan nafasnya sejak tadi. Gadis itu sama sekali tak ingin menatap ke belakang, takut dengan apapun yang berada di belakangnya saat ini.

"Ehm!" pria yang masih berdiri di atas tangga mulai menunjukkan ekspresi kesal yang dibuat-buat. Sedangkan pria yang berada di belakang Heaven, hanya terkekeh mendengarnya.

"Jadi Louis, kau pilih mana? Yang pria atau wanita?" Heaven memejamkan mata, tangannya bergetar ketika merasakan jilatan pada daun telinganya.

"Kalian boleh melakukan apapun pada pria itu, tapi kalian jelas tahu, wanita itu milikku."

Kali ini Kaylein dan Heaven mengalihkan pandangan mereka ke arah sofa yang baru beberapa menit yang lalu mereka duduki. Di sana terlihat seorang pria yang sangat tampan, berkulit putih pucat dan memiliki tinggi tubuh yang sangat proforsional, hanya saja ekspresi dingin pria itu mampu membuat suasana terasa begitu mencekam.

Di sebelah pria itu terlihat seorang wanita dengan rambut pirang keemasan. Wajahnya tampak begitu cantik hingga terlihat tak masuk akal. Wanita itu duduk dengan anggun, memilin-milin rambutnya yang ikal bergelombang sambil sesekali mengerling ke arah Kaylein dan Heaven.

Pria yang sedari tadi berada di belakang Heaven mendengus kemudian berjalan ke depan, sehingga kini Heaven bisa melihat wajah pria itu dengan jelas. Tampan... sangat tampan. Dengan warna rambut dan bola mata cokelat keemasan. Heaven mulai bertanya-tanya dalam hati, mengapa semua yang ada di sini terlihat begitu rupawan? Wajah mereka bahkan terlihat nyaris tak masuk akal.

Pria di depannya kembali mendengus, "itu bonus dari kutukan, sayang~"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED