#REKENING_SUAMIKU(1)
“Percuma kamu punya suami modal tampang doang! Memangnya hidup mau kenyang hanya cuma makan cinta? Tiap hari kerjanya hanya ngendon di kamar dan jalan-jalan keliling komplek bawa kamera!” hardik bapak sambil melempar sayuran sisa jualanku hari ini.
Aku hanya terdiam. Sudah bosan beradu debat dengan bapak yang selalu merendahkan dan menghina Mas Yasa. Lelaki yang sudah dua tahun terakhir ini menjadi suamiku. Pekerjaan Mas Yasa memang hanya serabutan. Namun akhir-akhir ini sebetulnya kondisi ekonomi kami sudah mulai membaik. Mas Yasa sudah berhasil memonetisasi channel Yutub yang digarapnya. Dia memang sejak dulu sangat suka membuat konten-konten menarik.
“Yang penting aku dan Mas Yasa tidak merepotkan Bapak dan Ibu lagi! Sejak kami menikah cuma hitungan jari aku meminta bantuan kalian ataupun saudara yang lainnya! Itupun waktu Alika sakit. Selebihnya kami berjuang dan berdiri di atas kaki sendiri!” ucapku.
“Kamu itu masih saja belain si Yasa itu! Lelaki yang bertanggung jawab itu harus punya pekerjaan tetap! Beliin kamu rumah! Bukannya dua setengah tahun terus-terusan ngendon di pondok mertua indah!” Mbak Miranda yang baru datang turut menceramahiku. Dia kakak satu ayah tapi beda ibu. Rumah Mbak Miranda hanya terhalang dua rumah dari rumah Bapak dan Ibu.
“Mbak, apa kamu nggak bosan menghina suamiku terus? Kami tidak pernah merepotkan kalian! Bahkan tiap hari aku juga turut andil dalam urusan dapur! Kalian tidak sadar kalau setiap sore kalian juga ikut menikmati sayuran gratis sisa jualanku? Bahkan seringkali kalian mengambil sayuran dari tudung saji rumah ini!” ucapku dengan dada menahan sesak.
“Tuh, Pak! Si Mela makin nggak tahu diri saja! Cuma sayuran sisa saja diungkit-ungkit terus!” cebiknya sambil menginjak seikat kangkung yang tadi dilempar Bapak.
Nyess!
Hatiku terasa nyeri. Bapak melihat ke arahku dengan tatapan tidak suka juga.
“Kamu itu memang selalu keras kepala, Mel! Dari dulu juga Bapak udah larang kamu nikah sama si Yasa! Orang nggak ada kerjaan kayak gitu! Lihat Mbakmu sekarang! Dia sudah punya rumah sendiri dan hidup mapan! Coba kamu dulu mau dilamar sama si Sobir, sekarang kamu sudah jadi istri kepala desa!” ucapnya.
Hidup di kampung seperti ini memang sangat menjadi sorotan ketika suami memang tidak punya pekerjaan. Terlebih Mas Yasa yang memang pekerja seni tidak terlihat kerja kerasnya di depan Bapak.
Dia hanya sesekali dipanggil untuk menyanyi di acara nikahan. Selebihnya dia berkutat dengan laptop dan benda pipih di kamarnya. Membuat konten Youtube yang katanya suatu hari nanti bisa jadi pasif income. Benda-benda mahal itu dia sudah miliki jauh sebelum dia menikah denganku.
Mas Yasa bukan orang pendidikan rendah. Namun karena pilihan profesi yang tidak nyata ini, dia selalu direndahkan. Bukan hanya dari pihak keluargaku, dari keluarganya juga. Bahkan saat kami menikah, tak ada satupun keluarga besarnya dari Surabaya yang datang ke sini.
“Sekarang ke mana lagi si Yasa pengangguran itu? Masih ngendon aja di kamar? Malah relain istri keliling jualan! Memang menantu miskin nggak tahu diri!” gerutu Bapak.
Aku menyeka air mata. Kupunguti sayuran yang tadi dilemparkan Bapak. Sementara Mbak Miranda masuk ke dalam dan pastinya langsung membungkus masakan yang tersisa. Dia paling malas masak dan sukanya menghabiskan stok yang ada di rumah.
“Mbak, sisain ayamnya! Itu sengaja kugoreng lembek buat Alika, biar gampang nanti dilembutkannya!” ucapku. Alika putriku yang usianya sudah satu setengah tahun lebih.
“Alaah! Pelit banget kamu, Mel! Sudah miskin terus pelit nanti seret lho rejekinya!” Dia tidak menggubris. Lalu pergi setelah misinya berhasil. Mengeruk isi dari tudung saji.
Aku hanya mengelus dada. Lalu berjalan ke kamar kami yang ada di belakang. Kubuka pintunya tampak Alika tengah duduk di punggung Mas Yasa yang sedang fokus sama laptopnya. Dia sedang mainkan rambut ayahnya.
“Mas, udah makan?” tanyaku.
“Belum, Mel! Ini tanggung konten aku sebentar lagi selesai! Ini sudah banyak subscriber dan jam tayangnya sudah lumayan! Semoga mimpiku bisa segera jadi nyata! Aku bisa menjadi seperti Atta halilintar yang kaya raya hanya dengan hasil ngonten, Dek!” ujarnya.
“Iya, Mas! Aku doakan! Pengen cepetan punya rumah sendiri dan pindah dari sini!” ucapku sambil terduduk di samping Mas Yasa.
“Sabar, ya, Dek! Bulan ini ‘kan penghasilanku sudah lumayan. Hanya memang butuh untuk fokus dan konsisten saja! Kamu juga nggak perlu jualan sayur lagi, Dek! Uang kita bisa cukup hanya untuk menyambung hidup!” ucapnya sambil tersenyum dan menoleh ke arahku.
“Nggak apa, Mas! Aku bosan juga di rumah! Lagian para pelanggan aku sudah banyak dan untungnya lumayan, jadi uang hasil dari yutub kamu nanti bisa ditabung!” ucapku.
“Iya, semoga segera terlaksana, Dek! Ini rumah impian untuk kita nanti!” ujarnya sambil menunjukkan sebuah gambar yang terpampang pada wallpaper laptopnya.
Brakk!
“Duh, aduh, aduh! Pasangan tukang ngimpi emang! Ngarepin bisa beli rumah besar tapi nggak mau kerja!” tanpa kukira Mbak Miranda sudah berdiri lagi di ambang pintu kamar kami. Tidak sopan memang.
“Mbak, jangan hinakan mimpi kami! Lagian kamu ngapain balik ke sini lagi? Bukannya isi tudung saji sudah bersih?” pekikku.
“Aku lupa, belum masak nasi! Jadi mau ambil sekalian! Masa kamu saja yang nikmati nasi dari hasil kerja keras Bapak! Enak banget numpang teruuuus!” ucapnya sambil mencebik. Lalu berjalan meninggalkanku dan Mas Yasa yang saling bertukar pandang.
“Sabar ya, Dek! Maafkan pekerjaan Mas yang tidak keren seperti suaminya Mbak Miranda yang kantoran! Padahal ‘kan pendapatan Mas sekarang saja sudah mulai lebih besar dari pada gaji UMR yang ada! Makanya kamu udah nggak usah jualan sayur lagi! Mending di sini bantuin Mas bikin konten biar lebih menarik lagi,” ujarnya.
“Nggak apa, Mas! Biar nanti ketika kita sukses bisa memberikan kejutan yang indah untuk mereka! Biar mereka menganga melihat tukang ngendon dan tukang sayur tapi isi rekeningnya lebih besar dari pada suaminya Mbak Miranda yang pekerja kantoran!” ucapku sambil mencoba tersenyum.
#REKENING_SUAMIKU (2)
“Sabar ya, Dek! Maafkan pekerjaan Mas yang tidak keren seperti suaminya Mbak Miranda yang kantoran! Padahal kan pendapatan Mas sekarang saja sudah mulai lebih besar dari pada gaji UMR yang ada! Makanya kamu udah nggak usah jualan sayur lagi! Mending di sini bantuin Mas bikin konten biar lebih menarik lagi,” ujarnya.
“Gak apa, Mas! Biar nanti ketika kita sukses bisa memberikan kejutan yang indah untuk mereka! Biar mereka menganga melihat tukang ngendon dan tukang sayur tapi isi rekeningnya lebih besar dari pada suaminya Mbak Miranda yang pekerja kantoran!” ucapku sambil mencoba tersenyum.
Mas Yasa tersenyum lembut. Dia lelaki yang sangat pengertian sebetulnya. Cuma memang karena waktunya habis di kamar jadi seolah dia lelaki yang tidak bertanggung jawab terhadap keluarga.
Pernah dulu beberapa kali menggantikanku keliling menjual sayur. Kami bertukar posisi. Aku dimintanya untuk membuat konten agar tidak terlalu berat kerjanya. Namun dalam hitungan hari, jam tayang langsung menurun drastis. Beberapa subscriber left juga. Daripada semakin parah, akhirnya kami bertukar posisi semula.
“Nih, Dek, lihat! Ini uang hasil gajian dari youtube bulan ini!” Mas Yasa menunjukkan sms banking pada gawainya di mana sudah ada uang masuk.
“Alhamdulilah, Mas! Ini biar ditabung saja buat beli rumah, Mas! Aku masih akan tetap jualan sayur selama kita belum punya rumah dan usaha sendiri! Kalau ngonten gini ‘kan rame-ramean ya, Mas?” tanyaku sambil menatapnya. Alika kini tengah beralih fokus menonton layar laptop dan menonton film kartun kesukaannya.
“Iya ‘kan semua ada plus minusnya! Kalau kerja kantoran gaji tetap jadi tiap bulan sudah pasti dapet segitu, tapi ya, segitu saja! Kalau kayak Mas gini bebas! Bisa dapet berkali-kali lipat tapi bisa juga nggak dapat!” ujarnya.
“Hmmm … iya, Mas! Nggak apalah … saat ini yang penting kita bisa makan. Sama uangnya jangan diboros-boroskan, Mas! Kita lebih baik perih sekarang asal punya rencana dan tabungan buat masa depan! Aku pengen buka usaha, Mas! Jadi sekarang aku akan bantu kamu semampu yang kubisa!” ujarku.
“Tapi bisa nggak kalau kamu nggak usah keliling jualan sayur lagi, Dek! Mas sakit kalau kamu dihina-hina dan dikatain terus sama Mbak Miranda!” ucapnya lirih.
“Biar aja, Mas! Sudah kenyang juga aku dari dulu! Nanti tiap bulan boleh aku ngasih ibu, Mas? Biar Bapak nggak rewel lagi kalau kita kasih duit! Jadi anggap saja kita ngontrak!” ucapku sambil menatapnya.
“Atau kita ngontrak saja, Dek?” Dia menatap ke arahku. Memberikan ide yang sudah lama terpikir olehku.
“Kalau kita ngontrak, Alika sama siapa kalau aku jualan sayur, Mas? ‘Kan kalau lagi rewel dia malah gangguin kamu terus jadi nggak bisa buat ngonten waktunya! Nanti malah makin lama kita bisa beli rumah, Mas!” ucapku sambil melirik ke arah putri kecil kami.
Memang selama di sini, dengan keberadaan ibu, aku tidak khawatir ketika meninggalkan Alika. Kadang Mas Yasa juga nggak bisa full jagain dia.
“Mel! Mela!” Kudengar ibu memanggil dari luar disertai ketukan pada daun pintu. Bahasan kami berhenti sebentar. Lalu aku berjalan menghampirinya.
“Ada apa, Bu?” tanyaku.
“Dipanggil bapak, katanya ada yang mau diobrolkan dengan Yasa!” ujarnya.
Aku mengerutkan dahi. Tumben sekali bapak mau mengobrol dengan Mas Yasa. Padahal selama ini jika bertemu pun jarang bertegur sapa.
“Tumben, Bu? Ada apa?” tanyaku akhirnya.
“Ibu juga nggak tahu, temuin saja! Ibu mau nganter dulu kue dari Bu RT ke rumah Miranda! Buat kalian ada di meja makan, ya!” ujar Ibu. Wanita yang tidak pernah berucap kasar maupun menyakiti hati kami selama di sini.
Akhirnya aku menggendong Alika dan mengikuti Mas Yasa yang berjalan ke depan menemui bapak. Wajahnya tampak suram ditekuk ketika menatap ke arah menantu yang memang selama ini sangat tidak disukainya.
“Bapak manggil saya?” tanya Mas Yasa sopan.
Kami duduk pada kursi bambu yang berhadapan dengan tempat Bapak duduk. Dia menatap tajam pada Mas Yasa.
“Iya, bapak mau bicara serius sama kamu!” ucapnya.
“Mau bicara apa, Pak?” tanya Mas Yasa pelan.
“Kemarin Juragan Amir datang ke sini! Dia sedang mencarikan calon istri untuk anaknya yang duda! Si Amran itu, sudah dari dulu juga suka sama si Mela!” ujarnya menjeda. Perasaanku sudah tidak enak dibuatnya.
“Lalu apa hubungannya dengan saya, Pak?” Mas Yasa mengerutkan dahi.
“Saya menginginkan menantu dengan pekerjaan yang jelas! Anak saya harus memiliki orang yang bisa membahagiakannya! Menafkahinya secara lahiriah juga!” ucapnya menjeda. Dipadamkannya rokok yang masih setengah dihisapnya.
Aku dan Mas Yasa masih berdiam menunggu kalimat bapak berikutnya.
“Selama dua tahun ini, saya lihat kamu hanya berleha-leha dan nggak ada kemauan sama sekali. Malah si Mela yang wara-wiri ke sana ke mari mencari rezeki! Hari ini sudah saya putuskan, bapak ingin agar kamu menceraikan Mela!”
“Bapak mau menjodohkan Mela dengan Amran yang sudah jelas-jelas memiliki pekerjaan meski hanya seorang supir di pabrik! Tapi jelas-jelas dia punya masa depan!” ujarnya pelan, tegas dan penuh penekanan.
“Mela nggak mau, Pak!” Aku langsung menyambar kalimat Bapak. Dia pikir aku itu apa? Semudah itu menentukan hidup dan masa depan hanya karena melihat semuanya dari cangkang.
“Mela, dengerin Bapak! Semua ini demi kebaikan kamu! Sekarang Kamu pilih, mau tetap menganggap bapak sebagai orang tua kamu dan mengikuti keinginan bapak? Atau tetap memilih lelaki pengangguran ini sebagai suami kamu dan anggap saja bapakmu ini sudah mati!” teriaknya.
Aku sampai mengelus dada. Kupeluk Alika erat-erat. Menyesal tidak membiarkannya ikut ibu ke rumah Mbak Miranda saja. Kini, anakku harus menyaksikan perbuatan tidak menyenangkan seperti ini.
#REKENING_SUAMIKU (3)
“Mela, Bapak besarkan kamu dari kecil, berharap suatu hari nanti kamu bisa menjadi kebanggaan keluarga. Namun apa? Tidak ada hal baik yang bisa kamu berikan pada Bapak yang telah berjasa membesarkanmu ini!”
“Bahkan menuruti permintaan kecil bapak saja kamu tidak mau! Bapak kecewa punya anak seperti kamu, Mela!”
“Setidaknya lihat Mbakmu---Miranda, hidupnya mapan dan terpandang. Punya suami pekerja keras dan sudah karyawan. Sudah punya rumah. Tiap bulan bisa ngasih sama ibu dan bapak! Lha kamu?”
“Apa yang sudah kamu berikan pada ibu dan bapak? Selama dua puluh empat tahun kami besarkan! Nggak ada timbal baliknya sama sekali! Bisanya hanya buat malu dan buat bapak kecewa!” ujarnya lagi.
Aku semakin erat memeluk Alika. Ingin aku berlari ke kamar dan menangis sepuas-puasnya. Setiap ucapan Bapak terasa pedih mengiris. Mungkin jika ibu mengatakan dia bukan bapak kandungku, maka aku akan percaya. Sejak kecil, perlakuannya sangat berbeda padaku dengan perlakuannya pada Mbak Miranda.
Aku menguatkan hati. Kututup kuping Alika meski dia terus menggeleng-geleng kepalanya karena tak nyaman. Bagaimanapum aku harus tetap di sini mendampingi Mas Yasa. Dia tidak mungkin berkutik menghadapi bapak sendirian di sini.
“Maafin Mela kalau sudah mengecewakan bapak! Maafin Mela yang baru mampu menumpang dan selalu menyusahkan Bapak! Maafkan Mela kalau tidak sebaik Mbak Miranda! Maafkan Mela kalau sampai saat ini masih membuat Bapak malu!” ucapku dengan gemetar. Air mata sudah deras mengalir membasahi pipi.
“Iya, kamu itu keras kepala, Mela! Cuma mengabulkan permintaan kecil bapak saja tidak bisa! Apa hebatnya sih, suami kamu yang pengangguran itu, hah?”
“Sadar Mela! Sadar! Hidup itu tidak akan kenyang hanya dengan makan cinta! Lihat anak kamu, makin besar makin butuh biaya! Apa kamu kira hanya dengan ngendon di kamar, uang itu bisa datang sendirinya?! Nggak akan, nggak ada dalam sejarah tujuh keturunan dari leluhur bapak!” ujarnya dengan nada tinggi beberapa oktaf, entahlah.
“Pak, tolong jangan terus memojokkan Mela! Semua itu masalahnya ada pada saya! Saya sudah jelaskan ke Bapak ‘kan?”
“Saya di kamar bukan hanya main-main dan istirahat! Saya sedang membangun jaringan pasif income dari konten di dunia digital! Suatu saat nanti saya yakin bisa membahagiakan Mela dan memenuhi semua kebutuhan finansialnya!” ujar Mas Yasa menjelaskan untuk ke sekian kalinya.
“Syukur kalau kamu sadar jika semua masalah itu ada di kamu! Dari dulu jawabannya sama! Sok pinterlah pake bahasa-bahasa kekinian!”
“Kalau malas ya, malas saja! Jangan banyak alasan! Bapak sudah nggak percaya lagi sama omong kosong kamu, Yasa!” ujar bapak sambil melengos membuang muka.
Aku memejamkan mata. Menekan rasa sakit yang semakin menjalar ke dada.
“Saya tidak pernah menjanjikan omong kosong! Ini sms banking saya, Pak! Bapak lihat sudah mulai ada pemasukan meski belum stabil dan besarannya belum seberapa! Tapi ini sudah bukti kalau diamnya saya di rumah itu bukan tanpa alasan!” Mas Yasa mengambil gawainya dan menunjukkan sms banking pada bapak.
“Ck! Kamu pikir bapak bodoh! Itu bisa saja teman kamu disuruh sms! Cuma nulis kayak gitu semua orang juga bisa! Alasan kamu saja itu. Kamu sengaja minta temanmu, kamu sms buat bodoh-bodohi si Mela!” ujarnya tetap tidak percaya.
“Lalu apa yang harus saya buktikan agar Bapak percaya?” tanya Mas Yasa masih dengan nada datar.
“Kamu pergi dari rumah ini! Jangan pernah kembali sebelum kamu punya rumah dan pekerjaan tetap yang bisa mencukupi kehidupan anak saya! Sekarang! Pergi! Buktikan omong kosongmu selama ini!” bentak Bapak.
Aku sampai terperanjat mendengar kalimatnya. Mas Yasa mengepalkan tangannya. Aku tahu, harga dirinya sebagai seorang lelaki pasti terluka.
“Bapak, Bapak jangan keterlaluan sama Mas Yasa!” pekikku tak tahan.
“Diam!” bentaknya kali ini padaku.
“Ingat, Yasa! Kalau kamu memang tidak bisa membuktikan bualanmu itu! Saya minta kamu tidak usah kembali dan ceraikan saja si Mela! Saya akan jodohkan dengan calon mantu pilihan saya! Sekarang tinggalkan rumah ini!” hardiknya lagi.
“Baik, kalau itu mau Bapak! Saya berjanji akan secepatnya menjemput Mela kembali dengan mobil terbaik yang akan saya beli!” ucap Mas Yasa dengan suara gemetar.
Bapak malah tertawa. Lalu tersenyum miring mendengar perkataan Mas Yasa.
“Mel, Mela! Suami kamu itu tukang ngimpi! Kesambet hidupnya kebanyakan tidur soalnya!” ujar Bapak sambil menggeleng-geleng kepala.
“Dek, Mas pergi dulu! Secepatnya mas akan kembali untuk jemput kamu dan Alika!” ucapnya.
“Enggak, Mas! Aku ikut!” Aku menarik lengannya.
“Hal itu mas kembalikan ke kamu, Dek! Mas siap-siap dulu!” ujarnya sambil mengayun langkah cepat menuju kamar kami di belakang.
“Bapak nggak punya hati!” pekikku sambil menangis. Aku langsung masuk ke dalam hendak menyusul Mas Yasa. Lebih baik aku pergi dari pada di sini tanpa suamiku.
Mas Yasa sudah memasukan peralatan digitalnya pada tas gendong. Ada beberapa pakaian yang dia masukan juga. Tidak banyak hanya beberapa helai saja.
“Mas, kamu mau pergi ke mana? Aku ikut, Mas!” Aku memegang tangannya.
“Kamu yakin? Mas akan coba pulang dulu ke Surabaya, Dek! Mungkin benar, kalau nunggu dari konten ini menghasilkan akan terlalu lama! Mas mau pinjam uang modal pada keluarga, Mas! Kamu beneran mau ikut, tapi harus siap menghadapi sikap keluarga Mas yang memang belum merestui pernikahan kita, Dek! Mas cuma takut kamu nggak kuat!” lirihnya.
Aku terdiam. Dilemma datang. Sudah dua tahun menikah, bahkan aku belum mengenal seperti apa rupa mertuaku dan saudara-saudara Mas Yasa. Pilihan yang Mas Yasa ambil telah benar-benar membuatnya menjadi orang terbuang juga dari keluarganya.