Bab 1

"Sayang, apa yang ini bagus?"

"Bagus, belilah yang ini!"

Lara terhenyak, tatkala mendapati suara berat yang begitu mirip suaminya.

Wanita dengan tubuh tambun itu lantas menoleh ke samping. Tepatnya pada sepasang suami istri yang tengah sibuk memilih model cincin.

"Mas Prasetya?" Sekali lihat saja Lara sudah bisa mengenali suaminya meski pria itu membelakanginya kala itu.

Pria yang awalnya membelakangi Lara pun pada akhirnya berbalik badan, saat mendengar suara wanita yang tengah memanggil namanya.

Lara diam mematung dengan tatapan tak percaya. Begitu pula sang suami yang langsung menunjukkan wajah tegangnya.

"La-lara, apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Prasetya terbata.

"Bukankah harusnya aku yang tanya begitu padamu, Mas? Bukankah dua hari yang lalu kamu pamit ke luar kota atas perintah Atasanmu? Dan siapa dia?" Lara menunjuk wanita di belakang suaminya dengan dagu.

"Berhubung kamu sudah mengetahuinya, maka aku akan sekalian menjelaskan." Prasetya merangkul wanita di sampingnya. "Dia Medina, Atasanku sekaligus calon Istriku. Kamu tahu? Akhirnya aku akan segera memiliki keturunan darinya." Prasetya memamerkan senyum lebar seraya mengusap lembut perut datar Medina beberapa kali.

"Hay," sapa Medina melambaikan tangan tanpa rasa malu.

Lara membeku. Hatinya bagai tertusuk ribuan sembilu. Begitu nyeri.

Niat hati ingin membeli cincin untuk menggantikan cincin pernikahan yang sempat ia jual di awal tahun pernikahan, Lara malah mendapati suguhan kebusukan suaminya di toko perhiasan.

"Jadi, kamu berselingkuh di belakangku selama ini?" Lara mengepalkan kedua tangannya menahan amarah. Bahkan kelopak matanya yang mulai memanas kini terasa basah.

"Cih! Lihatlah perbandingannya denganmu! Dia juga wanita pekerja, tapi tidak gembrot dan kucel sepertimu. Dan kabar baiknya, dia tidak mandul," cebik Prasetya. Tatapan matanya menyiratkan rasa jijik.

"Aku kucel seperti ini karena tak memiliki waktu untuk merawat diri, Mas! Setiap pagi sampai--"

"Cukup! Intinya sekarang aku menceraikanmu. Urus berkas-berkasnya sendiri di pengadilan!" pungkas Prasetya.

Rasa sesak dalam dada membuat Lara hampir tak dapat mengendalikan diri. Ingin rasanya menjabak dan mencakari wajah wanita yang tengah dirangkul mesra suaminya itu. Namun Lara sadar. Perbuatan brutal semacam itu pun tak akan mengubah keadaan.

"Aku akan menjual rumah besok. Tenang saja, kamu masih akan mendapatkan bagian dua puluh persen dari hasil jual rumah itu," ucap Prasetya memberitahu sebagai formalitasnya saja.

"Tidak! Itu rumahku. Apa hakmu untuk menjualnya?! Jika kamu ingin menghidupi Istri barumu, setidaknya bekerja keraslah! Jangan terus menumpang hidup pada wanita!" teriak Lara hampir mengumpat. Tak ia pedulikan beberapa pasang mata yang mulai memperhatikan mereka dari jauh.

"Apa maksudmu dengan menumpang hidup? Selama kita menikah aku juga bekerja. Hanya karena aku memberi sedikit gajiku padamu, lantas kamu menganggapku menumpang hidup?!"

Lara tak sempat menimpali, tatkala suara dering ponselnya terdengar dari dalam tas di gendongannya.

'Pak Abian' batin Lara membaca nama kontak pada layar ponselnya.

"Halo?"

"Lara, sekarang kamu ke kantor! Ada meeting mendadak."

"Ba--" Dengungan sambungan telepon yang terputus, membuat Lara tak sempat menuntaskan kalimatnya.

Lara gegas meletakkan kembali ponselnya di dalam tas. "Ingat baik-baik, Mas! Jika kamu ingin menjual rumahku, maka langkahi dulu mayatku!" pungkas Lara sebelum melengos pergi.

Mengurungkan niatnya semula untuk membeli cincin. Baginya yang terpenting saat ini adalah bekerja. Karena pekerjaan bisa membuat Lara melupakan sejenak perkara rumah tangganya.

Lara tak peduli akan pendapat orang lain yang menyaksikan pertengkarannya kala itu. Ia gegas menuju ke arah jalan besar. Menunggu ojek online yang telah ia pesan sebelumnya.

Sebagai seorang sekretaris perusahaan yang diberikan kepercayaan lebih oleh atasannya, Lara harus memanfaatkan kepercayaan itu baik-baik. Secepat mungkin dia harus sampai di perusahaan sebelum atasannya sampai di sana lebih dulu.

Tak butuh waktu lama, seorang pria dengan sepeda motor butut berhenti di depan Lara. "Mbak Lara?"

"Benar, Pak," ujar Lara membenarkan, lantas segera menaiki sepeda motor dan memakai helm yang diberikan tukang ojek.

Motor dipacu dengan kecepatan tinggi. Menembus kemacetan panjang di jalanan ibu kota.

Hari ini tak seperti biasanya. Mobil-mobil besar melaju di satu jalur, sebab ada perbaikan jalan di jalur lain.

"Mbak, saya pelankan sedikit motornya ya? Terlalu berbahaya kalau ngebut di jalanan ramai seperti ini."

"Saya sedang buru-buru, Pak. Mungkin satu menit saja saya telat datang ke kantor, saya akan langsung dipecat."

Tak memiliki pilihan lain, tukang ojek pada akhirnya memacu motor bututnya dengan kecepatan yang lebih tinggi.

Namun di tengah perjalanan, sebuah mobil berwarna kelabu nampak menyusul. Dengan sengaja menyerempet body motor beberapa kali. Hingga pada akhirnya motor oleng ke kanan dan menghantam truk besar yang melintas.

Brak!

Lara terpental keras hingga beberapa meter dari jalan raya. Nahasnya, helm yang Lara gunakan terlepas akibat benturan keras. Menyebabkan pendarahan hebat pada kepalanya yang berbenturan langsung dengan jalan beraspal.

"Sakit ...." lirih Lara mengadu kesakitan.

Di separuh kesadarannya yang tersisa. Lara melihat dari celah matanya yang tak terbuka sempurna. Prasetya yang turun dari dalam mobil, gegas melangkahi tubuhnya beberapa kali seraya tertawa lepas. "Sekarang aku sudah melangkahi mayatmu, jadi aku bebas menjual seluruh aset yang kamu tinggalkan, Lara. Sungguh malang nasibmu."

"Ti ... dak ...." Suara Lara lemah tak berdaya. Bahkan hampir tak terdengar jelas oleh telinga.

Ingatan demi ingatan masa lalu atas segala jerih payahnya, membuat Lara tak rela meninggalkan dunia dengan cara keji ini.

'Aku tidak terima! Aku tidak mau mati sia-sia seperti ini! Aku akan menghancurkanmu, Prasetya!' batin Lara penuh amarah yang berkobar, sebelum Lara benar-benar kehilangan kesadarannya.

Keesokan harinya.

"Hah ... hah ...!" Lara terbangun dengan napas terengah. Mengusap dahinya yang berkeringat dingin.

"Mimpi?" gumam Lara sembari mengatur napas.

Tak ada hal aneh yang Lara rasakan, sebelum pandangan matanya menelisik setiap sudut dalam ruangan yang begitu asing.

Gegas Lara turun dari tempat tidurnya. Namun hal aneh kembali terjadi, tatkala Lara berdiri menatap kakinya sendiri. "Aku jadi lebih tinggi? Atau hanya perasaanku saja?"

Dalam kebingungan itu Lara tak sengaja menatap ke arah cermin besar dalam ruangan.

Wajahnya tercengang, tatkala mendapati pantulan orang asing dalam cermin tersebut.

Sosok wanita cantik bertubuh tinggi. Rambut sepinggang yang tergerai indah dan tonjolan di bagian dada dan bawah pinggangnya membuat daya tarik bayangan dalam cermin itu semakin indah.

Lara beberapa kali memegangi wajahnya. Menelusuri setiap bagian tubuh dengan tangannya. Dan anehnya, pantulan bayangan dari cermin itu mengikuti setiap gerakan tubuhnya.

"Ada apa denganku?! Siapa dia? Kenapa aku berada di tubuh orang lain?!"

Bab 2

Klek!

Pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka. Muncul sesosok lelaki tampan dengan handuk putih yang masih menggantung di bahu kirinya.

Rahang kokoh yang tegas dan mata elangnya membuat tatapan matanya terkesan mengintimidasi.

'Pak Abian?' batin Lara dalam kepanikannya.

Tatapan sang atasan masih terasa sama. Dingin dan menusuk. Membuat siapa saja yang ditatapnya seketika tertunduk.

"Masih hidup? Aku pikir kamu akan mati setelah meminum racun serangga itu," ucapnya datar tanpa ekspresi.

"Ra-racun serangga?" Lara yang tak sepenuhnya mengerti, mengedarkan pandangan matanya, hingga terpaku pada sebuah botol hijau kosong yang tergeletak di samping tempat tidur.

"Pak Abian, saya bukan--" Rasa sakit bagai tertusuk ribuan jarum tak kasat mata membuat tenggorokan Lara terasa nyeri luar biasa.

"Barusan kamu memanggilku apa?" tanya Abian tak paham. Melihat istrinya kesakitan pun ia tak gegas memberi pertolongan.

"Sa-saya sebenarnya--" Lara tercekat. Bahkan mengeluarkan suara rintihan kesakitan pun ia tak mampu.

Tubuhnya terasa ngilu, bagai terlilit kawat berduri yang semakin mengerat setiap kali Lara berusaha mengeluarkan suara.

'Ada apa denganku? Kenapa tubuhku terus merasakan sakit ketika berusaha menjelaskan?' batin Lara kebingungan.

"Jangan mengharapkan belas kasihan dariku. Sekali pun kamu mati aku tidak akan peduli," pungkas Abian sebelum berlalu pergi.

Lara berdiri mematung di hadapan cermin. Merasakan rasa sakit yang perlahan menghilang dari sekujur tubuhnya.

"Cepat ganti bajumu! Ikut aku pergi ke pemakaman Sekretarisku sekarang!" titah Abian menyambar cepat jas hitamnya di atas gantungan baju dan kembali berlalu pergi.

Sebagai seorang atasan yang telah menikah, tentunya membawa seorang istri pergi melayat adalah sebuah formalitas. Sebab itu, meski Abian membenci pernikahan ini, ia tetap meminta sang istri menemaninya pergi.

Lara membeku. Otaknya berusaha menyambung setiap kalimat dan kejadian aneh yang ia alami saat ini. "Sekretaris Pak Abian adalah aku. Itu artinya ...."

Dalam kepanikan, Lara gegas berlari keluar dari dalam ruangan mencari keberadaan Abian.

Hingga sampai di ruang makan, langkah Lara terhenti.

Pandangan mata keluarga besar yang terdiri dari ayah, ibu, dan putranya, tertuju pada satu titik. Yakni kedua telapak kaki Lara yang menapaki lantai tanpa alas.

"Lea? Kamu bangun kesiangan lagi? Ayo makan dulu, Sayang!" seru salah seorang wanita paruh baya seraya tersenyum ramah.

Lara celingukan sesaat mencari seseorang yang dipanggil Lea, sebelum sadar jika dialah orang yang dimaksud.

Prang!

Pisau dan garpu yang dibanting di atas piring membuat seluruh anggota keluarga yang berada di sana berlonjak kaget. Tak terkecuali Lara.

"Mau sampai kapan kamu bengong di sana?! Mau buat kami kelaparan menunggumu?!" bentak Abian lantang.

"Abian!" sungut sang ayah.

Tanpa pikir panjang, Lara segera mendekati meja makan dengan perasaan ragu. Lantas memegangi satu kursi dan hendak menariknya.

"Duduklah di sebelah Suamimu! Buatkan dia roti selai. Abian suka selai coklat," timpal sang ibu.

'Su-suami?' batin Lara bingung.

Seketika itu Lara mengingat kembali, jika sang atasan beberapa hari yang lalu menikahi seorang gadis atas perjodohan keluarga.

Mungkinkah Lara kini menjadi penghuni raga ini setelah pemilik sebelumnya meninggal keracunan obat serangga?

Tak banyak bicara, Lara gegas menuruti perintah. Layaknya seorang bawahan dengan atasannya.

Namun baru saja Lara menarik kursi di sebelah Abian, pria itu gegas berdiri. "Aku kehilangan selera makan. Aku tunggu kamu di mobil," pungkas Abian sebelum berlalu pergi.

Lara berdiri mematung. Bukan sebab kecewa dengan perilaku Abian terhadapnya, namun dengan takdir yang membawanya kembali. Mungkinkah Tuhan memberinya kesempatan untuk membalas dendam?

Namun mengapa harus di tubuh ini?

"Jangan terlalu dipikirkan, Lea. Abian memang sifatnya keras kepala. Tapi Mama yakin, cepat atau lambat dia akan luluh dengan kelembutanmu," sahut ibu Abian yang berhasil membuyarkan lamunan Lara.

"Kalau begitu saya permisi. Pak Abian meminta saya untuk ikut melayat dengannya." Lara berlalu pergi. Tak menghiraukan tatapan heran dari kedua mertuanya tersebut.

"Apa Lea baru saja memanggil Abian, Pak?"

"Biarkan saja. Mungkin itu salah satu caranya mendekati Abian," pungkas ayah Abian mengabaikan keanehan menantunya.

Setelah mengganti baju, Lara gegas berlari ke luar dari kediaman mewah tersebut, untuk segera menghampiri Abian yang berpesan akan menunggunya di mobil.

Lara bergegas menghampiri pintu belakang mobil dan hendak membukanya.

"Heh! Duduk di depan! Aku bukan Supirmu." Kalimat lantang itu seketika membuat tubuh Lara membeku. Sebab dari dulu hal yang paling ia takuti di tempat kerja adalah teriakkan atasannya.

Lara segera berpindah ke kursi di samping kemudi. Namun sambutan yang ia dapatkan kala itu adalah tatapan aneh Abian yang menelisik dari bawah hingga ke atas tubuhnya.

Pria itu hanya diam membisu, sebelum kembali bersikap acuh seperti biasanya.

Mobil mewah itu kini dipacu menuju jalanan kota.

Setelah hampir setengah jam berada dalam keheningan. Mobil itu pada akhirnya berhenti di depan sebuah rumah. Tangis kesedihan dari pelayat terdengar meriuhkan suasana duka.

Lara diam termenung. Tatapan matanya yang mulai berair, mengarah ke jalanan becek yang harus dilewatinya jika ingin sampai di rumah duka. 'Ini benar-benar rumahku' batinnya kalut.

"Jangan memintaku untuk menggendongmu! Jika tidak sanggup melewati lumpur, terbanglah sa--" Abian yang salah menangkap maksud tatapan Lara, tak sempat menuntaskan kalimatnya, saat mendapati sang istri telah terlebih dahulu turun dari mobil dan memasuki rumah duka dengan berlari cepat.

Gegas Abian menyusul dengan penuh kebingungan.

Lara menerobos kerumunan para pelayat yang tengah membacakan doa di sekitaran jenazah. Dan gegas membuka kain jarik yang digunakan menutupi wajah jenazah.

Tubuh wanita itu seketika membeku. Bulir bening berjatuhan dengan derasnya, tatkala mendapati tubuh gempalnya telah terbujur kaku dengan wajah pucat pasih.

"Apa yang sedang kamu lakukan?! Duduk!" Abian menarik kasar lengan Lara hingga membuat wanita yang semula membelakanginya itu berbalik menghadapnya. Membentaknya lirih dengan mata melotot tajam.

Di tengah dukanya, Lara bingung harus berbuat apa. Melihat saat ini seluruh pasang mata memandang aneh ke arahnya. Terpaksa Lara menuruti perintah Abian untuk duduk dan berbaur dengan pelayat lainnya.

"Permisi, Pak. Saya mencari keluarga Mendiang. Saya adalah Atasan di tempat Mendiang bekerja. Saya ingin mengucapkan bela sungkawa. Barangkali Bapak bisa panggilkan Suaminya?" ujar Abian sopan pada salah seorang pria yang tengah duduk di sebelahnya.

Lara jelas mendengar kalimat itu, tapi dia lebih memilih untuk diam.

"Lara ini yatim piatu, Pak. Dan sepertinya Suaminya tidak akan datang sampai pemakaman selesai. Jadi para tetangga yang akan membantu mengurusi pemakamannya," jelas pria itu.

"Kenapa tidak datang? Memangnya Suaminya pergi ke mana, Pak?"

"Setelah menjual rumah ini kemarin malam, kabarnya sekarang dia menikah lagi di rumah barunya. Selebihnya saya tidak tahu, saya tidak ingin mencampuri urusan orang lain," pungkas pria itu tersenyum segan. Membuat Abian akhirnya terdiam.

Lara menautkan kedua tangannya di pangkuan. Mencengkeram erat ujung gamisnya. Wajah yang semula menampilkan kesedihan dan duka mendalam itu kini menampakkan kilat amarah yang berusaha ia redam.

Tetes demi tetes air mata kembali berjatuhan. Amarah yang bergemuruh terasa begitu menyesakkan dada. 'Dengan kesempatan kedua untuk hidup, aku akan membantumu mendapatkan karma, Mas Prasetya!' tekadnya kuat dalam hati.

Setelah prosesi pemakaman selesai dilangsungkan, Lara dan Abian gegas kembali pulang.

Dalam perjalanan pulang, Lara hanya terdiam dengan tatapan kosong.

Dan Abian menyadari hal itu, namun memilih diam dengan segala kebingungannya. Pasalnya, sang istri adalah keturunan bangsawan yang ia ketahui tak pernah kenal dekat dengan sekretarisnya. Lantas, bagaimana wanita itu menangisi kematian orang asing?

Bahkan mengenai alas kaki, gamis, dan lumpur. Lea adalah seorang wanita perfeksionis. Tak mungkin baginya berjalan tanpa alas kaki dan mengenakan gamis hitam yang begitu longgar dan menutupi seluruh kakinya.

Namun terlepas dari hal-hal aneh itu, Abian masih memilih diam dan tak peduli.

"Mulai besok kamu akan menggantikan posisinya sebagai Sekretarisku. Sampai aku mendapatkan pengganti yang baru."

Bab 3

Lara tertegun. Lantas menoleh menatap Abian yang masih berfokus menatap jalanan. "Ta--"

"Aku tidak menerima alasan penolakan apa pun!" pungkas Abian dengan tegas.

Lara terdiam dan kembali menundukkan pandangannya. Sebab ia tahu, kalimat yang keluar dari mulut atasannya adalah sebuah perintah yang tak dapat diganggu gugat.

Hingga pada keesokan harinya.

Duka Lara serasa sirna begitu cepat. Entah telah merelakan, atau hanya tidak ingin terlalu larut dalam kesedihan.

Wanita yang wajahnya terasa lebih muda itu terus memandangi pantulan dirinya di hadapan cermin. Tatapan kagum dengan senyum sumringah masih terasa menghiasi wajah sejak terbangun dari tidurnya.

"Tubuhku ramping sekali. Berasa jadi seorang model." Lara menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri di hadapan cermin besar.

Klek!

Lara terkesiap, tatkala hal yang paling ia takutkan benar terjadi. Yakni kehadiran sang Atasan.

Entah semalam Abian menghilang ke mana, namun mereka tak tidur satu ruangan.

Pria itu membuka pintu lemari dan mengambil jas hitam yang tergantung di dalam sana, sebelum kembali berlalu begitu saja. Tak ada sambutan pagi dari pasangan suami istri itu.

Bunyi debam pintu yang tertutup kasar membuat Lara kembali terkesiap seraya mengelus dada.

"Kenapa Pak Abian bersikap seperti ini pada Istrinya? Padahal dia cantik, lho," ujar Lara mengutarakan kebingungannya pada pantulan dirinya di cermin.

Setelah selesai bersiap, Lara gegas berjalan keluar dari dalam ruangan.

Tubuhnya kembali terkesiap, tatkala seorang pelayan wanita tiba-tiba muncul sesaat setelah dia membuka pintu.

"Selamat pagi, Nona muda. Anda telah ditunggu Nyonya dan Tuan di meja makan," ucapnya sopan seraya merundukan tubuh beberapa saat.

"Baik." Lara gegas berjalan mendahului pelayan.

Langkah Lara langsung terhenti, tatkala pandangannya tak mendapati sosok Abian di sekitar meja makan.

"Lea, ayo sarapan dulu, Sayang!" seru ibu Abian.

"Pak Abian ...."

"Abian sudah berangkat lebih dulu ke perusahaan, dia bilang ada urusan penting yang harus diselesaikan." Ibu Abian memberi jeda pada kalimatnya. "Lea, kamu tidak biasa bekerja. Terlebih lagi, Sekretaris adalah pekerjaan yang cukup berat. Tidak apa-apa jika kamu tidak mau. Biar Mama yang ngomong sama Abian nanti," terangnya.

Lara gegas melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. 'Astaga! Sudah pukul sembilan. Pantas saja Pak Abian sudah berangkat' batinnya panik.

"Ti-tidak apa-apa, Tan, eh Ma. Saya akan menggantikan posisi Sekretaris untuk sementara. Kalau begitu saya pamit." Lara bergegas pergi dengan langkah setengah berlari.

"Eh? Lho? Sarapan dulu, Lea!" teriak ibu Abian. Namun kepanikan hebat membuat Lara tak menggubris perhatian itu.

Hampir satu jam mengendarai taksi online yang ia pesan melalui aplikasi, akhirnya Lara sampai di depan halaman gedung perusahaan yang menjulang tinggi.

"Terima kasih, Pak." Lara memberikan selembar uang kertas berwarna merah yang ia temukan di dalam dompet milik pemilik raga yang Lara tempati saat ini, pada seorang pengendara taksi online yang telah mengantarnya hingga di depan halaman perusahaan.

Meski beberapa kali mendapatkan tawaran sopir rumah yang siap mengantarnya, namun Lara terus menolak. Alasannya sepele, ia tak ingin merepotkan orang lain.

Gegas Lara berlari menuju gedung pencakar langit itu. Namun langkahnya dihentikan beberapa security yang berjaga di depan pintu. "Maaf, Nona. Ada yang bisa kami bantu?"

"Lho, Pak? Saya kan La--" Kalimat itu urung terucap, tatkala rasa nyeri kembali menusuk tenggorokan.

Kini Lara baru menyadari akan sesuatu. Nampaknya semesta tak mengijinkannya untuk memberitahu identitas asli yang dia miliki.

"Apa Anda baik-baik saja, Nona?"

"Ti-tidak apa-apa. Sa-saya adalah pengganti Sekretaris Pak Abian untuk sementara," jelas Lara bersusah payah. Kedua tangannya menggenggam erat tenggorokannya yang mulai terasa lega.

"Oh, maafkan atas ketidak tahuan kami, Nona. Apa perlu saya antar ke ruangan Pak Abian?" Security merundukan tubuhnya beberapa saat sebagai tanda penyesalan.

"Tidak perlu, saya tahu tempatnya. Bisakah saya masuk sekarang?"

"Silakan, Nona."

Lara mengangguk sekilas seraya tersenyum ramah, sebelum beranjak memasuki pintu kaca.

Tanpa Lara sadari. Ia menjatuhkan sesuatu yang berkilau dari lehernya. Dipungut seorang pria yang kebetulan berjalan di belakangnya kala itu.

Setelah keluar dari dalam elevator yang ia naiki, Lara gegas berlari memasuki sebuah ruangan dengan pintu kaca.

"Selamat pagi, Pak. Maaf saya terlambat. Lain kali tidak akan saya ulangi lagi." Lara merundukan tubuhnya beberapa saat setelah kembali menutup pintu.

Namun Abian hanya meliriknya sekilas, sebelum kembali berfokus pada berkas di tangannya.

"Salin dokumen ini!" titah Abian sedikit mendorong tumpukan berkas di atas meja kerjanya. Namun pandangan matanya tak teralihkan sedikit pun.

"Se-semuanya, Pak?" Lara tertegun melihat tumpukan berkas dengan tebal hampir sepuluh senti.

"Hemm." Namun Abian hanya bergeming sebagai jawaban.

Tok! Tok! Tok!

Abian segera menatap ke arah pintu saat terdengar bunyi ketukan.

Seorang pria nampak berdiri di depan pintu kaca seraya menunjukkan kartu identitas yang menggantung di lehernya.

"Siapa?" Abian memicingkan mata berusaha mengenali.

Lara yang awalnya berdiri membelakangi pintu gegas berbalik dan membeku. Matanya membulat sempurna. Menatap kedatangan seorang pria yang sangat berpengaruh besar dalam hidupnya. 'M-mas Pra ... setya?'

Lara menautkan kedua tangannya di depan tubuh. Mencengkeram kuat ujung roknya hingga menyembulkan urat-urat halus dari punggung tangan.

Sebisa mungkin wanita itu menahan amarah yang kembali bergejolak hebat dalam dada. Ia tak ingin orang lain mengetahui tentang emosinya yang hampir tak terkendali.

"Kenapa diam saja? Cepat buka pintu!"

"Ba-baik," jawab Lara tergagap sebab tubuhnya yang tengah bergetar hebat.

Lantas Lara segera membuka pintu dan berusaha bersikap wajar.

"Selamat pagi, Nona. Saya Prasetya Abimanyu. Wartawan dari Alpha News yang akan mewawancarai Pak Abian Mahendra. Saya sudah membuat janji dengan Sekretarisnya beberapa hari yang lalu," terang Prasetya menjelaskan tujuan kedatangannya.

Beberapa hari yang lalu, Prasetya memang sudah meminta Lara untuk membujuk atasannya agar mau diwawancarai. Mengingat sang atasan adalah orang yang cukup susah untuk ditemui. Prasetya ingin memamerkan pada seluruh rekan kerjanya, bahwasanya hanya dia seoranglah yang mampu melakukan pekerjaan berat itu. Dan bodohnya lagi, Lara malah mengiyakan permintaan itu dengan mudah.

"Si-silakan masuk." Lara menepi beberapa langkah dari hadapan pintu, guna memberi jalan untuk Prasetya memasuki ruangan.

Namun Prasetya hanya diam. Pria itu malah menelisik wajah Lara untuk beberapa saat. "Oh, ternyata kamu."

Lara sontak mematung dengan wajah menegang. 'Mungkinkah Mas Prasetya mengenaliku dengan raga baru ini?'

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED