Kekaisaran Anggrek Violet, Gunung Matahari, Sekte Matahari.
Pegunungan Matahari merupakan salah satu pegunungan utama yang ada di wilayah Kekaisaran Anggrek Violet. Markas Sekte Matahari terletak di Gunung Matahari karena gunung itu memiliki puncak tertinggi di seluruh wilayah kekaisaran.
Di kaki Gunung Matahari, ada sebuah daratan luas yang dipenuhi dengan rumah-rumah bertingkat. Rumah-rumah itu berjejer memenuhi seluruh daratan itu. Daerah perumahan ini adalah tempat tinggal murid-murid tingkat rendah Sekte Matahari.
Pagi itu merupakan pagi yang sejuk dan menyenangkan. Matahari baru saja terbit dari balik ufuk timur. Langit tampak segar dan bersih, layaknya bunga mawar yang mekar setelah disiram hujan semalaman. Sinar matahari yang lembut berkilauan dengan samar dan halus, menyinari rumah-rumah bertingkat tempat para murid tingkat rendah Sekte Matahari tinggal.
Pegunungan, rumah-rumah, dan pepohonan yang menjulang di wilayah itu diselimuti oleh cahaya matahari yang baru terbit serta udara pagi yang terasa sejuk dan segar. Agak jauh dari daerah perumahan murid-murid tingkat rendah itu, di sudut kaki gunung yang terpencil, berdiri sebuah pondok kecil yang lusuh.
Seorang pemuda bertubuh kekar berjalan dari hutan menuju pondok itu. Pemuda itu tampak berusia sekitar enam belas atau tujuh belas tahun. Sambil memegang roti kukus yang kini sudah mengeras dan dingin di masing-masing tangannya, dia berjalan menuju pondok itu. Sesampainya di pondok itu, dia mendorong pintu dengan kakinya dan kemudian melangkah masuk.
Bagian dalam pondok itu sangat kecil dan sempit. Ruangan itu hampir kosong karena pemuda itu hanya memiliki sedikit barang kepunyaan.
Perabotan yang ada di dalam ruangan itu hanyalah sebuah meja yang sudah berubah warna, sebuah kursi kayu yang goyah dan retak di mana-mana, serta sebuah tempat tidur kayu berukuran kecil.
Pemuda kekar itu meletakkan roti-roti di tangannya di atas meja dan kemudian berjalan ke sisi tempat tidur.
Seorang pemuda yang tidak sadarkan diri terbaring di tempat tidur itu. Wajahnya pucat, napasnya berat dan lambat, dan pakaiannya robek dan compang-camping.
Pakaiannya dipenuhi oleh noda darah yang berasal dari banyaknya perkelahian yang telah dilaluinya. Pemuda itu juga berusia sekitar enam belas atau tujuh belas tahun, tetapi ada sesuatu dalam dirinya yang membuatnya tampak lebih tua dari umurnya yang sebenarnya. Bau darah tercium di udara.
Nama pemuda kekar itu adalah Evan. Dia adalah seorang murid tingkat rendah dari Sekte Matahari.
"Tin? Tin?"
Evan berteriak ketika dia mencoba membangunkan pemuda di tempat tidur itu. Namun, pemuda itu tidak memberikan respons apa pun. Matanya tetap terpejam dan dia tetap tenggelam di alam bawah sadarnya.
Evan adalah orang yang agak kasar dan vulgar. Dia adalah tipe orang yang akan selalu mengikuti perasaannya dan tidak akan pernah memikirkan atau mempertimbangkan tindakannya terlebih dahulu.
Melihat temannya masih tidak bergerak dan tidak memberikan reaksi apa pun, dia merasa gelisah dan khawatir. Dengan cemas, Evan berjalan mondar-mandir di ruangan yang sempit itu. Beberapa saat kemudian, dia kembali ke sisi tempat tidur dan mencoba membangunkan pemuda itu sekali lagi.
"Tin, tolong bangun! Kamu membuatku takut. Sudah tiga hari berlalu dan kamu masih tidak sadarkan diri. Apakah kamu akan mati begitu saja seperti ini? Di usia yang begitu muda ketika kamu masih memiliki begitu banyak hal untuk dilihat dan ketika kamu belum meraih impianmu? Apakah kamu tidak mengkhawatirkanku? Jika kamu mati, aku akan sendirian di Sekte Matahari. Aku tidak akan punya teman untuk diajak bicara. Kamu tidak boleh egois seperti ini. Tolong bangun demi aku dan juga demi dirimu sendiri, oke?"
Air mata mengalir deras dari kedua matanya, layaknya air yang mengalir dari bendungan yang terbuka. Evan melanjutkan dengan suara yang serak dan putus asa, "Tin, kamu selalu melindungiku selama ini. Ketika kamu berada di sisiku, tidak ada orang yang berani menindas atau mempermalukanku. Kamu adalah satu-satunya orang yang selalu menentang dan memberi pelajaran kepada para bajingan itu. Aku selalu bertanya-tanya hal baik apa yang telah aku lakukan sampai aku bisa mendapatkan teman yang begitu luar biasa sepertimu.
Tapi ketika orang lain menindasmu, aku tidak bisa melakukan apa-apa. Betapa tidak bergunanya aku sebagai temanmu! Aku pasti telah sangat mengecewakanmu. Aku benar-benar minta maaf, sobat. Tolong jangan mati! Tolong jangan tinggalkan aku sendiri!"
Ketika kesedihan di hatinya terasa semakin kuat, isak tangis Evan perlahan-lahan berubah menjadi raungan yang terdengar begitu menyakitkan dan putus asa.
Suara tangisannya terdengar begitu nyaring di pondok yang kecil dan sempit itu sampai-sampai atap pondok yang terbuat dari jerami tampak ikut bergetar karena raungannya.
"Tin, aku tidak punya keinginan untuk hidup di dunia ini jika kamu mati. Ini semua karena para bajingan itu. Tunggulah, sobat, aku akan pergi dan membunuh mereka semua."
Setelah mengatakan itu, Evan berbalik dan bergegas keluar untuk membalas dendam.
Dia selalu seperti ini. Didorong oleh perasaannya, Evan akan langsung melakukan apa pun yang terlintas di benaknya tanpa memikirkannya terlebih dahulu.
Namun, ketika dia hendak melangkah keluar, telinganya tiba-tiba menangkap suara seorang pria yang sedang menggerutu dengan tidak puas.
"Suara apa itu? Oh, telingaku! Sepertinya aku akan tuli!
Siapa yang membuat suara mengerikan itu?" Pria yang berbaring di tempat tidur mengernyitkan alisnya ketika mendengar tangisan Evan.
Evan seketika menghentikan langkahnya dan berbalik.
Dia melihat pria di tempat tidur itu mengangkat tangannya dengan lemah dan mencoba untuk mencengkeram sesuatu. Evan segera kembali ke sisi tempat tidur dan menggenggam tangannya yang terangkat itu sambil berseru kegirangan, "Tin! Ini aku, Evan. Bagaimana keadaanmu?"
'Tin? Sudah lama sekali sejak seseorang memanggilku dengan nama itu.'
Nama itu membawa kembali ingatan-ingatan tentang kehidupan masa lalunya. 'Ya, itu mereka. Hanya teman-teman yang bermain basket denganku ketika aku di sekolah yang tahu dan memanggilku dengan nama ini.'
Austin perlahan-lahan menarik diri dari ingatan-ingatan itu dan menaruh seluruh perhatiannya ke masa kini. Dia merasakan rasa sakit yang tajam dan menusuk di dahinya ketika dia mencoba bergerak. Dia tidak berani berpikir lebih keras.
Perlahan-lahan, dia membuka matanya. Sinar matahari menembus celah-celah atap jerami dan menyinari wajahnya. Austin menyipitkan matanya dan mencoba mengingat-ingat di mana dia berada saat ini. Dia memperhatikan sekeliling ruangan yang kecil dan lusuh itu.
Austin terperangah. 'Di mana aku? Bagaimana aku bisa berakhir di pondok tua seperti ini? Siapa yang membawaku ke sini? Apakah aku sedang bermimpi? Tempat apa ini?' Austin berpikir dengan sungguh-sungguh, berusaha mencari jawaban atas semua pertanyaan itu. Namun, dia meringis ketika upayanya itu malah membuat rasa sakit di kepalanya semakin parah.
Austin adalah seorang karyawan biasa di sebuah perusahaan, yang terletak di pesisir Kota Subur yang indah dan makmur, milik Negeri Cadas.
Setelah lulus kuliah, Austin datang ke Kota Subur bersama kekasihnya. Keduanya ingin mengejar karir mereka dan memulai hidup bersama di Kota Subur sebagai babak baru dalam hidup mereka.
Setelah bekerja dengan penuh dedikasi selama beberapa tahun, Austin akhirnya dipromosikan dari posisi karyawan menjadi Wakil Direktur Departemen Penjualan. Promosi tersebut merupakan sebuah peristiwa yang menggembirakan karena hal itu secara pasti membawa harapan dan semangat yang lebih besar dalam dirinya. Dia bekerja lebih keras dari sebelumnya.
Namun, hidupnya tidak berjalan semulus yang dia harapkan. Secara mendadak, sebuah insiden yang mengerikan menghantam hidup dan karirnya yang sedang melonjak itu.
Menjadi seseorang yang luar biasa dalam dunia kerja selalu mengundang rasa iri dan kecemburuan dari orang lain, terutama ketika orang-orang bersaing untuk posisi yang memberikan kekuasaan dan kekayaan yang lebih besar.
Austin adalah seorang pekerja keras yang cukup menonjol, namun sayangnya dia masih belum cukup berpengalaman untuk menyadari bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi.
Dalam persaingan memperebutkan posisi Direktur Eksekutif dengan Wakil Direktur lainnya, dia dijebak oleh saingannya dan membuat kerugian yang besar bagi perusahaan.
Akibatnya, tidak hanya kalah bersaing, dia juga diberhentikan dari perusahaan tersebut.
Nasib buruknya tidak berhenti sampai di situ.
Tak lama setelahnya, pacarnya pun meninggalkan dirinya.
Wanita itu tidak bisa menahan godaan uang, sehingga dia mulai mengabaikan Austin dan berkenalan dengan beberapa orang kaya.
Akhirnya, ketika seorang pria kaya menawarkan untuk mengajaknya pindah ke Amerika dan menjanjikannya kartu penduduk tetap, dia pun putus dengan Austin dan menjadi wanita simpanan pria tersebut.
Gagal dalam karir dan percintaan, Austin pun berubah dalam semalam.
Dia kehilangan gairah hidup dan mencari kenyamanan dengan minum alkohol setiap hari. Terkadang ketika dia tidak mabuk, rasa sakit yang dia rasakan terasa begitu hebat hingga dia meringkuk di sudut kamarnya dan menangis sepanjang malam.
Jelas, sesuatu yang buruk cepat atau lambat akan terjadi padanya jika dia terus berada dalam keadaan yang menyedihkan seperti ini.
Suatu malam, saat dia benar-benar mabuk, dia meninggalkan bar dan menyeberang jalan dengan kaki gemetaran.
Tiba-tiba, sebuah mobil menabraknya.
Sebelum dia kehilangan kesadaran, yang bisa dia ingat adalah sebuah suara melengking dari ban saat sang pengemudi menginjak rem, dan perasaan ketika tubuhnya melayang di udara setelah mobil itu menabraknya.
Dia tidak tahu berapa lama waktu telah berlalu sebelum dia terbangun.
Dalam keadaan linglung, dia mendengar seseorang memanggilnya dengan nama Tin.
Ketika dia membuka matanya, Austin mendapati bahwa dirinya tengah berbaring di sebuah pondok yang kumuh.
Semua yang ada di depan matanya tampak seperti mimpi bagi Austin.
Di hadapannya kini berdiri seorang pria yang tampak vulgar bagi Austin dari kepala hingga kaki, membuatnya bertanya-tanya, "Apakah barusan kamu memanggilku?"
Entah mengapa samar-samar dia merasa bahwa pria itu terlihat tak asing, walaupun dia tidak ingat pernah bertemu dengannya.
Evan tampak bahagia melihat Austin telah bangun dan cukup bertenaga untuk mengajukan pertanyaan kepadanya.
Dia mengangguk dengan riang dan berseru, "Siapa lagi? Akhirnya kamu bangun, Tin. Kupikir kamu akan mati…"
Memikirkan tentang kematian, air mata kembali menetes di wajah Evan.
Dengan kebingungan, Austin menggaruk kepalanya yang sakit dan dengan canggung bertanya, "Siapa kamu? Aku tidak mengenalmu. Aduh! Punggungku!"
Austin merasakan seperti ditusuk oleh aliran listrik yang mengalir di tubuhnya. Matanya tertuju pada lengannya, yang dia coba regangkan dan biarkan rileks setelah tiga hari tidak bergerak sama sekali.
Namun dia keheranan ketika dia merasa seolah tengah melihat lengan dan tangan orang asing.
Dengan perasaan terkejut, dia menurunkan pandangannya untuk melihat seluruh tubuhnya. Benar saja, pakaian yang dia kenakan bukanlah pakaian yang sama dengan yang dia pakai pada malam kecelakan mobil itu. Kakinya juga tampak lebih panjang, sementara dadanya menjadi lebih berotot.
Dia mengulurkan tangannya untuk merasakan wajahnya, dan merasakan bahwa wajahnya lebih tajam dan berbentuk.
Tubuh ini jelas adalah tubuh seorang laki-laki muda, mungkin berusia lima belas atau enam belas tahun. Tetapi Austin seharusnya berusia hampir tiga puluh tahun.
'Bagaimana bisa aku berubah menjadi seperti ini? Apakah aku terlahir kembali setelah kecelakaan mobil?'
Saat Austin tengah berusaha untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, sang pemuda kekar yang menemaninya berkata, "Aku.. Aku adalah temanmu, Evan. Apakah kamu tidak mengingatku, Tin? Kelihatannya mereka memukul kepalamu terlalu keras. Kamu bahkan terdengar lebih konyol."
Evan mengangkat tangannya dan menyisir rambutnya yang acak-acakan dengan jarinya. Dia bertanya-tanya dalam hati, kenapa Tin yang kini sudah bangun tampak bicara dengan sangat aneh.
'Walau Tin tidak bijak, tapi dia tidak akan pernah melupakanku. Sekarang, dia tampaknya tidak mengenaliku sama sekali. Dari reaksinya, dia juga tampaknya tidak sadar dengan dirinya sendiri. Matias, dasar brengsek! Lihat, apa yang sudah kamu perbuat pada Tin?'
Evan merasakan kesedihan dan amarah yang memelintir hatinya saat memikirkan ini.
Tiba-tiba, rasa sakit yang tak tertahankan kembali menjalari kepala Austin. Saking tak tahannya, dia memegangi kepalanya erat-erat dengan tangannya dan menjerit. Rasa sakit itu begitu parah hingga Austin merasa seolah kepalanya bisa meledak kapan saja.
Saat dia tengah berjuang melawan rasa sakit itu, Austin mendadak mendapatkan pandangan jelas tentang apa yang terjadi di dalam pikirannya.
Dia bisa melihat delapan belas bola yang berkilau dan bersinar tengah bertarung dengan satu sama lain di kepalanya.
Di antara mereka, sepuluh bola lebih besar, sementara yang lainnya lebih kecil. Mereka tampak seperti dua pasukan yang sedang bertarung melawan satu sama lain. Pertarungan antara bola-bola besar dan kecil itu begitu sengit, tidak ada pihak yang terlihat akan menyerah sampai pihak lawan bisa mereka telan.
Pada tingkat bawah sadar, Austin merasa bahwa sepuluh bola yang lebih besar itu mewakili kekuatan hidupnya.
Dia tidak merasa punya keterikatan khusus dengan delapan bola kecil yang tersisa. Mereka tampak seperti penyusup yang tercela, dan dia merasakan suatu keinginan untuk menyingkirkan mereka.
Sebuah pikiran tiba-tiba terlintas di benaknya. Mungkin jika sepuluh bola besar itu menang, maka dia akan selamat, dan ingatannya akan tetap bertahan hidup.
Sebaliknya, jika delapan bola kecil yang menang, maka jiwanya akan lenyap, dan dia akan kehilangan keyakinan untuk tetap hidup.
Setelah melalui pertarungan yang sengit, perbedaan kekuatan dan kelemahan dan bola-bola itu menjadi semakin jelas.
Kalah jumlah dan ukuran, delapan bola kecil itu akhirnya kehabisan kekuatan dan mundur hingga ke suatu sudut.
Mereka meringkuk erat dengan satu sama lain, tampak gemetaran dengan hebat dan merengek ketakutan.
Tanpa ampun, sepuluh bola besar melompat dan menelan mereka dalam sekejap!
Cara mereka menaklukkan bola kecil membuat bola-bola besar itu tampak ganas, seperti predator tanpa belas kasihan yang menikmati kemenangan atas mangsanya.
Setelah menelan delapan bola yang lebih kecil, sepuluh bola itu tumbuh menjadi lebih besar. Mereka sekarang sekitar lima kali lebih besar dari ukuran semula, dan tampak lebih terang dan memesona.
Berkilau dalam cahaya yang terang, mereka seperti pejuang yang baru saja kembali setelah memenangkan pertempuran mereka.
Austin merasa lega dalam hati. Rasanya seolah-olah dia baru saja diselamatkan dari bencana yang mengerikan. Dia menarik napas dalam-dalam, mengambil udara hutan yang sejuk dan segar.
Mungkin karena pertarungan yang baru saja terjadi di pikirannya di mana bola besar menelan bola kecil, Austin mulai bisa mengingat kejadian yang tidak dia alami sebelumnya.
Melalui ingatan ini, dia akhirnya mengetahui apa yang terjadi pada dirinya.
Tabrakan dengan mobil ternyata membuat roh Austin terlepas dari tubuhnya.
Kecelakaan itu bertepatan dengan insiden lain di mana seorang laki-laki tengah dipukuli habis-habisan oleh orang lain hingga tidak sadarkan diri.
Entah bagaimana, roh Austin menembus terowongan ruang dan waktu dan melayang menuju tubuh yang lebih muda ini. Sepuluh bola yang lebih besar adalah jiwa Austin yang mencoba untuk menduduki tubuh lelaki muda ini, melawan jiwanya yang berupa delapan bola yang lebih kecil.
Adapun keberadaannya, Austin tidak berada lagi Bumi. Tidak seperti di bumi, orang-orang di sini belum memiliki kemajuan ilmiah dan teknologi dan tempat ini disebut Dunia Bela Diri Utama.
Peradaban yang dimiliki dunia ini lebih mirip dengan zaman Negeri Cadas di Bumi beberapa ribu tahun yang lalu.
Orang-orang yang berada di Dunia Bela Diri Utama sangat menghargai kultivasi energi vital, menghormati seorang kultivator, dan menghormati kultivator yang kuat.
Menjadi sebagai elemen vital dari kultivasi di dunia ini, udara dari energi vital itu memenuhi seluruh dunia ini.
Banyak orang berbakat yang memiliki kekuatan fisik yang melebihi batas melatih energi vital. Ini adalah cara mereka dapat mencapai kultivasi tingkat tertinggi.
Orang dengan dasar kultivasi yang kuat memiliki kekuatan supernatural. Mereka bukan hanya dapat meretakkan batu yang keras dan membelah gunung, tetapi mereka juga dapat mengubah arah air sungai.
Kejadian supernatural dan menakjubkan yang dilihat oleh Austin di film bukan lagi hal palsu dan ilusi di dalam dunia ini.
Austin mulai memahami pemuda dan pengalaman yang dia miliki dalam hidupnya, ketika pikirannya secara bertahap mengingat dan mengumpulkan kenangan yang tersebar akan pemuda itu.
Yang membuat Austin bingung, pemuda yang dirasukinya memiliki nama yang sama dengannya, Austin.
Sayangnya, Austin yang berasal dari Dunia Bela Diri Utama memiliki kehidupan yang miskin dan sulit.
Untuk memulai dengan pengenalan Austin yang berasal dari Dunia Bela Diri Utama, dia telah menjadi seorang yatim piatu ketika dia baru berusia sepuluh tahun. Sebagai seorang yatim piatu, dia berkelana untuk mengemis makanan dan tempat tinggal.
Suatu hari, secara kebetulan, saat dia sedang mengemis di jalan seperti biasa, Austin yang berasal dari Dunia Bela Diri bertemu dengan seseorang dari Sekte Matahari yang bertanggung jawab untuk mencari orang-orang berbakat dan merekrut murid-murid yang menjanjikan.
Atas permintaan orang itu, Austin menunjukkan kepadanya apa yang telah dia pelajari. Saat mengemis, dia telah mengalami begitu banyak kesulitan dan menghadapi berbagai macam orang, dengan itulah dia memperoleh beberapa tingkat kemampuan untuk melindungi dirinya sendiri dan menjaga dirinya dari bahaya. Performanya membuat orang itu terkesan. Kemudian dia membawanya ke Sekte Matahari, dan sejak hari itu, dia secara resmi menjadi murid luar dari Sekte Matahari.
Setelah tiga tahun pelatihan, bakat Austin dalam seni bela diri secara bertahap diakui oleh semua orang.
Dalam tiga tahun ini, dia telah berhasil naik ke kelas sembilan dari Alam Pengumpulan Energi.
Sebenarnya, bisa mencapai kelas enam dari Alam Pengumpulan Energi telah menjadi sebuah pencapaian bagi Austin. Namun, dalam waktu yang singkat dan latihan yang cukup, dia telah naik ke kelas sembilan. Dia mendapatkan berbagai pujian dan menjadi terkenal di antara murid-murid andalan di seluruh sekte.
Di Dunia Bela Diri Utama, dasar kultivasi terdapat lima alam. Dari yang terendah hingga tertinggi, mereka adalah Alam Pengumpulan Energi, Alam Energi Vital Bumi, Alam Energi Vital Misterius, Alam Energi Vital Langit, dan Alam Energi Vital Kaisar.
Meskipun tidak ada yang melihatnya secara langsung, ada desas-desus bahwa ada alam yang lebih tinggi daripada Alam Energi Vital Kaisar.
Di dalam sekte, ujian peringkat tahunan diadakan untuk para murid. Para murid yang menang dalam ujian akan dipromosikan ke alam berikutnya.
Mengingat penampilannya yang luar biasa, Austin cukup percaya diri akan kesuksesannya. Dia tidak menyangka bahwa orang lain akan berkomplot untuk menghabisinya. Pada akhirnya, dia dipukuli habis-habisan dan kehilangan semua dasar kultivasi yang telah dia kumpulkan selama ini.
Seiring dengan lukanya yang parah, dia pun terlihat seperti orang gila dan bodoh sama halnya dengan Austin yang berasal dari Bumi ketika dia kehilangan pekerjaan dan pacarnya. Tim manajemen sekte memutuskan untuk menghapus posisinya sebagai murid luar dan menurunkannya karena melihat tidak ada harapan di dalam diri Austin yang berasal dari Dunia Bela Diri Utama. Inilah yang membuat dia menjadi murid tingkat rendah.
Sekarang, kembali ke kenyataan, setelah terbangun dari ketidaksadarannya selama tiga hari dan setelah pertempuran sepuluh bola besar melawan delapan bola kecil, tubuh Austin yang berasal dari Dunia Bela DirI Utama telah ditempati oleh Austin yang berasal dari Bumi. Dengan campuran dari dua ingatan yang berbeda mengalir di dalam benaknya, kepala pria itu terasa seperti dipalu dan hendak meledak. Di satu sisi, dia tahu bahwa dia adalah Austin yang berasal dari Bumi, tetapi di sisi lain, dia juga memiliki ingatan akan Austin yang berasal dari Dunia Bela Diri Utama.
Ini seperti seseorang yang memiliki ingatan di dua masa kehidupan, ingatan akan kehidupannya saat ini dan ingatan akan kehidupan masa lalunya, yang sangat aneh sehingga membuat Austin bingung.
Setelah beberapa saat menyesuaikan diri, Austin mengerti bahwa dia harus menerima dan menjalani kehidupan ini. Dia mencoba untuk menenangkan diri dan memutuskan untuk melihat seluruh kejadian ini dari sudut pandang yang positif. Kepala Austin yang sakit reda setelah membuat keputusan ini. Dia secara bertahap menyesuaikan diri dengan tubuh baru ini.
'Yah, untuk saat ini sepertinya tidak mungkin untuk kembali ke Bumi. Kalau begitu, aku mungkin harus tinggal di sini sebagai Austin yang berasal dari Dunia Bela Diri Utama.'
'Betapa sialnya Austin yang berasal dari Dunia Bela Diri Utama dan diriku yang diperlakukan dengan kejam? Aku akan mempergunakan kesempatan ini sebaik mungkin karena Tuhan telah memberikanku kesempatan hidup kembali.'
'Aku akan memanfaatkan bakat kultivasi yang telah dicapai oleh tubuh ini di masa lalu untuk membuat kehidupan yang lebih baik dan lebih indah di Dunia Bela Diri Utama.' Saat dia mengambil keputusan, Austin menyesuaikan dan mempelajari lebih dalam lagi akan tubuhnya sekarang.
"Tin, kamu sudah tertidur selama tiga hari. Kamu pasti sangat kelaparan. Ayo sini! Aku membawakanmu dua buah roti kukus. Dalam perjalanan ke sini, roti tersebut telah dingin. Dan bahkan mungkin sedikit basi, tapi itu lebih baik daripada kelaparan. Setidaknya makanlah sedikit."
Setelah mengatakan itu, Evan mengulurkan kedua tangannya. Di masing-masing telapak tangannya terdapat roti kukus untuk diambil oleh Austin. Perkatannya membuat Austin kembali dari pikirannya yang sibuk.
Austin baru menyadari betapa laparnya dirinya, setelah Evan menyebutkan tentang masalah makan. Perutnya keroncongan saat melihat roti kukus tersebut.
Dengan hati-hati, Austin mencondongkan tubuh ke depan dan mengambil roti dari tangan Evan. Kemudian, dia memasukkan satu ke dalam mulutnya dan hampir menelannya dalam satu napas. Dia bahkan tidak tahu rasa akan makanannya.
"Evan, kamu sungguh baik pada diriku. Kamu adalah teman terbaik yang pernah kumiliki. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu," ucap Austin sambil menatap mata Evan dengan rasa terima kasih yang tulus.