Aku tahu aku akan mati. Tubuhku sudah tidak kuat lagi. Aku terbaring di ranjang putih ini sendirian. Di ruangan yang kecil namun bersih dan rapi.
Beberapa tahun ini aku menghabiskan waktuku di panti ini. Di tempat di mana orang-orang sepertiku ditampung. Tanpa sanak saudara juga teman.
Namun beberapa tahun di sini aku justru lebih bahagia dibandingkan seumur hidupku bersama suami dan sanak saudaraku. Di sini aku bertemu dengan orang-orang yang senasib. Kami berbagi cerita, suka dan duka.
Waktuku hampir tiba dan entah mengapa aku teringat perjalanan hidupku selama 45 tahun ini. Terlahir di tengah-tengah keluarga miskin di pedesaan yang tertinggal, aku menjalani kehidupan yang sederhana semasa kanak-kanak hingga menjelang remaja.
Saat dewasa aku menikah dengan salah satu putra kepala desa karena hutang budi. Sewaktu masih kecil aku pernah menyelamatkan nyawa putra kepala desa, dan beliau berjanji untuk mengambilku sebagai menantunya.
Sebagai gadis desa yang miskin dan lugu, tentu saja aku senang. Sedari kecil aku memupuk cinta pada Ding yuan putra kedua kepala desa yang aku selamatkan.
Namun aku tak menyangka dia mengkhianatiku dengan menyelingkuhi sepupuku sendiri. Aku tidak tahan dengan pengkhianatannya, apalagi neneknya tak pernah bisa menerimaku. Menurutnya aku tak pantas menjadi cucu menantunya.
Aku bercerai dengan Ding yuan, namun sepupuku tak mau melepaskanku begitu saja. Dia sengaja menabrakku dengan mobilnya. Beruntung aku selamat, meski aku menjadi lumpuh. Sejak itu aku dirawat di panti ini.
Aku tak pernah tahu siapa yang membawaku kemari juga membiayai perawatan dan pengobatanku. Keinginan terakhirku sebelum aku pergi, aku ingin bertemu dan berterima kasih pada orang itu.
Surga jika kau ijinkan pertemukan aku dengannya, aku ingin mengucapkan terima kasih dan memberkati hidupnya.
Mataku mulai terasa berat sedangkan tubuhku terasa ringan. Aku merasa mengantuk dan melayang-layang. Ming yue, meninggal diusianya yang ke 45 tahun. Tanpa sanak saudara menemani saat-saat terakhirnya.
"Ming yue, kau tidak sendiri. Aku selalu menemanimu. Selalu mencintaimu. Ming yue surga pasti akan berbelas kasihan pada kita. Agar kita bisa bersama di kehidupan nanti. Mungkin juga surga akan memberi kesempatan kedua untuk kita. Jika itu ada, aku bersumpah akan menjagamu dan tak akan melepaskanmu."
Seorang lelaki berlutut di tepi tempat tidur Ming yue. Namun Ming yue tak pernah tahu orang yang selalu ingin ia temui kini tengah memeluknya dengan penuh kasih sayang.
Ming yue, Ding xie surga pasti akan memberi kesempatan kedua untuk kalian berdua.
Kepalaku terasa pusing dan badanku sakit semua. Perlahan kubuka mataku. Inikah surga?
Haih kenapa surga terlihat seperti kamar di rumah kumuh orang tuaku?
Perlahan kuedarkan pandanganku ke sekeliling. Astaga itu memang kamarku semasa aku kecil. Kenapa aku di sini? Bukankah aku mati?
Dengan panik kutatap lengan, tangan dan kakiku. Haaiih ini benar-benar tubuhku semasa umur belasan tahun.
Aku segera melompat dari tempat tidur dan bercermin di cermin yang sudah retak yang ada di kamarku.
Ya Tuhan itu memang aku saat berumur 11 tahun dan di dahiku ada perban menutupi luka akibat terantuk batu saat aku didorong sepupuku.
Apakah aku hidup kembali diusia 11tahun? Itu dua tahun sebelum ayahku meninggal.
Ah iya ayahku … aku harus mencari ayahku. Aku harus bisa membujuknya untuk mengubah nasib kami. Agar kelak keluarga kami tidak dihina lagi.
"Ming yue …." Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Seorang wanita memasuki kamarku. Dia ibuku, Hui yun.
"Ming yue jangan turun dari tempat tidur. Apakah ada yang tidak nyaman di badanmu?" wanita itu mendekatiku dan menyentuh dahiku dengan lembut.
"Ibu …." Aku memeluk wanita itu dan mulai menangis tersedu-sedu. Ibuku yang malang, yang selalu menderita di tangan mertua dan iparnya.
"Ming yue gadis baik, jangan menangis lagi. Ayo berbaring lagi. Ibu akan membasuh badanmu."
Aku menurut dan duduk di tempat tidur. Kutatap wajah cantik ibuku. Dia masih muda namun terlihat kuyu, kurus dan kehilangan vitalitasnya.
Ibu, surga mengijinkan aku untuk hidup lagi pasti agar aku bisa melindungi orang-orang yang kusayangi. Untuk mencegahmu mati dalam kesia-siaan.
Mungkin aku tidak bisa mengubah takdir namun aku pasti bisa menghindari kesalahan dalam kehidupan kedua ini. Setidaknya aku bisa sedikit mengubah alur kehidupanku juga keluargaku.
"Ibu aku akan membasuh sendiri. Aku bisa melakukannya." Aku mengambil handuk kecil dari tangan ibuku.
"Baiklah, ibu akan menyiapkan bubur untukmu. Setelah membasuh, makanlah dan beristirahatlah."
Ibu pergi meninggalkanku sendirian. Aku termenung dan tak terasa mulai menangis terisak-isak.
Surga terimakasih atas kesempatan kedua ini. Aku Ming yue akan memanfaatkan kesempatan ini untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dari hidupku yang dulu.
Surga aku tidak akan balas dendam pada orang-orang itu. Aku hanya akan melindungi orang-orang yang aku sayangi. Dan hidup lebih baik dan penuh makna.
Aku tidak akan dibutakan cinta lagi. Aku akan meninggalkan Ding yuan dan tidak akan mengemis cintanya. Aku yakin surga akan memberiku kesempatan untuk cinta yang lain.
Setelah tenang dan dapat menerima kelahiranku kembali aku duduk di tempat tidur dan mencoba mengingat-ingat peristiwa yang terjadi saat umurku 11 tahun.
Haiiya … dalam beberapa hari nanti aku akan menyelamatkan Ding yuan dari gigitan ular berbisa. Aku harus menghindari bertemu dengannya. Aku tidak ingin terlibat apa pun dengan laki-laki itu.
Dan juga besok ayah akan mengajakku ke kota untuk menjual biri-biri kami. Dalam kehidupan yang lalu uang hasil penjualan biri-biri itu pada akhirnya dipinjam paman kedua dan sebagian diberikan ayah untuk nenek. Hanya sisa sedikit untuk kami.
Pada masa ini bakti anak sangatlah mendominasi kehidupan. Banyak orang yang lebih mementingkan orangtuanya daripada anak istrinya.
Ayah ibuku juga seperti itu. Mereka sangat takut dianggap tidak berbakti pada orangtua. Namun pada saat-saat terakhir hidupnya ayah sangat menyesal karena baktinya pada orangtua telah menyengsarakan anak dan istrinya.
Dalam kehidupan ini aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku akan mencegah ayah untuk meminjamkan uang pada paman kedua. Dalam ingatanku, sampai aku meninggal paman tidak pernah mengembalikan uang itu.
"Ming yue, apa kau sudah lebih baik?" Ayah berdiri di depan pintu kamarku yang memang terbuka.
Aku ingin menangis melihatnya lagi setelah lama tak melihat ayah. Ayah terlihat kurus namun masih sehat. Satu tahun kemudian sebuah kecelakaan membuat kesehatannya merosot.
Dan pada akhirnya ayah meninggal setelah ibu melahirkan putra yang sangat dinantikannya. Mengingat semua itu aku merasa masam di hati.
"Ya ayah aku sudah lebih baik. Ayah bolehkah aku ikut ke kota denganmu?" Aku berusaha menyembunyikan isak tangisku yang hampir tak bisa kutahan. Aku tidak ingin ayah curiga karena aku menangis.
"Ayah memang berniat untuk mengajakmu. Mungkin dengan ke kota akan menyegarkan badan dan pikiranmu."
Ayah masuk ke dalam kamarku dan duduk di sebelahku. Dengan lembut dibelainya kepalaku. Ayah tahu apa penyebab luka di dahiku.
Sepupuku, Tang zhiyin mendorongku hingga kepalaku terantuk batu. Namun Zhiyin tidak mau mengakuinya. Bahkan dia menuduhku telah membingkainya, karena aku iri dengan nilai-nilainya yang lebih tinggi dariku.
"Ayah, ayo kita pergi sekarang. Ini masih pagi, jadi kita bisa berjalan-jalan keliling kota." Aku berdiri dan menarik tangan ayah dengan gembira.
Haih sebenarnya aku malu bertingkah kekanak-kanakan. Namun akan aneh jika aku bersikap seperti seorang wanita berusia 45 tahun sementara tubuhku adalah bocah berusia 11 tahun.
Ayah tertawa melihatku bersemangat. Dia senang putrinya ceria lagi. Semenjak jatuh dan bertengkar dengan sepupunya putrinya menjadi pendiam.
"Baiklah baiklah. Ayah akan menyewa gerobak Paman Wang untuk mengangkut biri-biri itu. Kau naiklah sepeda."
Ayah keluar dari kamarku dan pergi ke rumah Paman Wang untuk meminjam gerobak. Aku bersiap-bersiap dengan berganti pakaian dan memompa ban sepedaku.
Ibuku tengah memasak, sedangkan adikku, Tang yin mei yang berusia 8 tahun masih tertidur .
Setelah berpamitan pada ibuku, aku menyusul ayah ke depan. Ayah sedang mengangkut biri-biri gemuk itu dengan Paman Wang.
Kami bertiga berangkat ke kota setelah semua biri-biri diangkut. Ayah dan paman Wang naik gerobak sedangkan aku naik sepeda.
Jarak dari desa ke kota terdekat tidak terlalu jauh, hanya memakan waktu setengah jam dengan menaiki sepeda. Itu pun karena aku mengayuh dengan santai.
Kami tiba di kota saat matahari baru muncul di ufuk timur. Masih sangat pagi, namun pasar kota sudah terlihat ramai.
Ayah membawa biri-biri itu ke pasar hewan. Aku mengikutinya sedangkan paman Wang menunggu kami di dekat pasar.
Rupanya ayah sudah memiliki janji dengan salah satu pedagang di pasar itu. Mereka tampak berbincang-bincang dengan serius. Pedagang itu sangat puas dengan biri-biri kami. Tentu saja, biri-biri itu gemuk dan sehat.
Setelah menunggu lama, ayah menghampiriku. Sepertinya ayah berhasil menjual biri-biri itu dengan harga yang bagus. Mukanya terlihat berseri-seri.
"Ming yue ayo kita berbelanja, ayah akan membelikan apa saja yang kau mau." Ayah tersenyum lebar sambil menggandeng tanganku.
"Benarkah ayah? Kalau begitu ayo beli anak ayam, bebek dan bibit ikan mas. Aku ingin memeliharanya ayah." Aku menatap ayah dengan mata berbinar-binar.
Aku harus membuat ayah membeli hewan-hewan ternak itu untuk mendukung keluarga kami. Dengan beternak itu akan lebih banyak menghasilkan uang. Setidaknya bisa memenuhi kebutuhan protein untuk keluarga kami.
"Baiklah baiklah, ayah akan membelikannya untukmu. Tapi kau harus berjanji untuk merawatnya dengan sungguh-sungguh."
Aku menganggukkan kepalaku dengan kuat menyatakan keteguhanku. Ayah mengajakku ke pedagang ayam dan bebek. Kami membeli lima ekor anak ayam dan bebek.
Setelah itu kami melanjutkan membeli bibit ikan mas dan gurami. Ayah agak ragu untuk membelinya karena kami tidak memiliki kolam ikan.
"Ayah, nanti aku akan meminta Paman pertama dan sepupu untuk membuatkanku kolam ikan." Aku menatap polos ayahku. Dan akhirnya ayah membeli bibit-bibit ikan itu untukku.
Aku berencana untuk memelihara ayam, bebek dan ikan selain biri-biri. Dengan begitu pemasukan kami tidak hanya tergantung dari pekerjaan ayah di proyek dan ternak biri-biri.
Setelah membeli hewan ternak, ayah mengajakku membeli baozi dan susu kedelai. Kami juga membeli beberapa untuk Paman Wang.
Ayah memberikan baozi itu pada Paman Wang dan kami melanjutkan berbelanja. Kami harus membeli beras, tepung terigu, tepung gandum, minyak, telur dan masih banyak lagi.
"Ayah kita belikan Nenek sekalian ah." Aku menarik ujung kemeja ayah saat di toko sembako. Ayah menoleh dan mengerutkan keningnya. Biasanya dia hanya memberi uang pada ibunya. Ibunya sangat mencintai perak dibandingkan apa pun.
"Kalau ayah hanya memberi uang, pasti akhirnya uang itu dihabiskan Sepupuku. Dan Nenek akan meminta lagi pada Ayah atau Paman pertama untuk membeli bahan makanan."
Aku berkata dengan nada sebal dan memasang wajah cemberut pada ayah. Yang aku katakan pada ayahku memang benar.
Hal seperti itu terjadi berulangkali. Sudah sering ayah ataupun paman menegur tapi nenek akan selalu membuat keributan. Akhirnya ayah dan paman mengabaikannya.
Namun itu sangat merugikan ayah dan paman pertama dan menguntungkan paman ketiga. Aku tidak ingin nenek dan paman mengambil keuntungan dari ayahku lagi.
"Baiklah kita akan membelikan nenekmu bahan makanan yang cukup untuk satu bulan," ayah akhirnya memutuskan setelah berpikir beberapa saat. Ayah pasti tahu maksudku.
Ayah sudah berusaha untuk meminimalkan dukungannya untuk nenek tapi nenek selalu menuntut lebih. Nenek selalu beralasan itu karena ibuku tidak melahirkan seorang putra. Jadi ayahku harus mendukung keponakan laki-lakinya.
Ayahku berkali-kali menolak. Dia tidak keberatan mendukung orangtuanya namun dia tidak mampu jika harus mendukung keluarga kakaknya. Dan setiap kali beradu argumen nenek pasti akan berakting menangis, berguling-guling dan akhirnya pingsan. Dengan begitu ayah selalu kalah.
Setelah membeli bahan makanan, ayah mengajakku membeli bahan pakaian dan keperluan mandi. Ayah juga membelikan hal-hal itu untuk nenek.
Sepertinya ayah bertekat untuk memotong subsidi uang untuk nenek, aku tersenyum. Ayahku bukan orang bodoh namun terlalu mengalah pada ibunya.
"Ayah lihat toko bangunan itu, sepertinya mereka mencari pegawai. Apakah ayah tidak ingin mencobanya?"
Lowongan pekerjaan
Saat melewati toko bangunan aku melihat pamflet yang tertempel di tembok. Aku menunjukkannya pada ayah.
Ayah membaca pamflet itu dan menatapku seakan meminta persetujuanku. Aku menganggukkan kepalaku.
Ayah memintaku menunggu di depan toko itu. Sementara dia masuk ke dalam toko untuk menemui pemilik toko.
Aku punya alasan tersendiri untuk menggiring ayah bekerja di toko itu. Pemilik toko itu sangat terkesan dengan pekerjaan ayah saat tahun lalu ada proyek pengaspalan jalan. Dia ingin mempekerjakan ayah di tokonya, sayang ayah menolaknya.
Pada waktu itu aku tak tahu alasan ayah menolak tawaran pekerjaan itu. Namun akhirnya aku mengetahuinya dari sepupuku yang cantik dan baik hati itu.
Nenek yang meminta ayah menolak agar paman ketiga bisa bekerja di toko itu. Dan kehidupan keluarga paman ketiga membaik sejak saat itu.
Dan yang paling terpenting aku harus menghindarkan ayah dari kecelakaan yang menimpanya di proyek pembangunan pabrik . Karena kecelakaan itu kesehatan ayah semakin menurun dan akhirnya meninggal dunia satu tahun setelah kecelakaan itu.
Kali ini aku akan memastikan ayah mendapatkan pekerjaan di toko itu. Mungkin itu tidak bisa merubah kematian ayah, namun setidaknya bisa merubah keadaan keluarga kami.
Setelah lama menunggu ayah keluar dari toko itu. Dia terlihat sangat bersemangat. Aku tersenyum menyambutnya.
"Ayah bagaimana? Bisakah kau bekerja di toko itu?"
Ayah hanya tersenyum dan mengembangkan lengannya untuk memelukku. Kemudian ayah berjongkok di depanku dan menggenggam tanganku.
"Ming yue, mulai hari ini ayah berjanji untuk melindungimu, adikmu dan juga ibumu. Kau tak perlu khawatir, ayah tidak akan membiarkan siapa pun menggertak kalian."
Dari kata-kata-kata ayah aku tahu ayah berhasil mendapatkan pekerjaan itu. Dan karena itu ayah bertekat untuk tidak mengalah pada siapa pun meski itu nenek. Aku tersenyum senang.
"En … aku percaya ayah pasti bisa. Aku akan membantu ayah sebisaku." Aku menganggukkan kepalaku dengan kuat.
"Mari kita pulang." Ayah menggandeng tanganku dan mengajak pulang.
Penyebab biasnya nenek
Kali ini kami bertiga menaiki gerobak paman Wang. Sepedaku diangkut di dalam gerobak bersama dengan barang-barang belanjaan kami.
Sepanjang perjalanan pulang ayah mengajakku mengobrol. Sementara paman Wang hanya mendengarkan dan tersenyum lembut.
"Ming yue, apa sepupumu sering seperti itu?" Ayah bertanya tentang perilaku Tang zhiyin.
"Iya ayah, setiap kali aku mendapat nilai lebih tinggi darinya dia pasti akan memarahiku. Kadang dia akan menuduhku mencontek."
Ayah menepuk-nepuk kepalaku dengan lembut. Ayah tahu nilaiku selalu lebih bagus daripada nilai sepupuku itu.
"Nenekmu terlalu memandang tinggi putra putri paman ketigamu, namun kau tak perlu berkecil hati."
Aku menganggukkan kepalaku.
"Ayah kenapa nenek sangat pilih kasih terhadap kita? Dan selalu melebih-lebihkan sepupu Zhiyin? Apa pun yang kulakukan selalu salah di mata nenek. Dan aku juga tidak boleh mengunggulinya? Apa salahku ayah?"
Aku menatap ayah dengan polos. Sebenarnya pertanyaan ini selalu ingin kutanyakan sedari dahulu. Dalam kehidupanku yang dulu aku tak mendapatkan jawaban yang pasti atas pertanyaan ini.
Ayah tertegun mendengar pertanyaan-pertanyaanku yang bertubi-tubi. Ayah menghela napas pelan sebelum menjawab pertanyaanku.
"Ming yue, sebenarnya ayah juga tidak tahu pasti penyebab biasnya nenekmu terhadap kita. Mungkin itu karena dulu nenek sangat berharap pada paman ketigamu. Nenek bersikap sama seperti ini sewaktu ayah dan pamanmu masih kecil."
Aku mendengarkan cerita ayah dengan serius. Baru kali ini, baik dalam kehidupan lalu dan sekarang, ayah bercerita tentang masa kecilnya juga hubungannya dengan nenek dan saudara-saudaranya.
"Nenek sangat menyayangi paman ketiga karena dia pandai berbicara dan pandai mengambil hati nenekmu. Paman ketigamu sebenarnya cukup pandai, namun dia tidak pernah mau berusaha lebih keras. Waktu itu ayah dan paman ketigamu mendaftar di militer, namun pamanmu gagal. Semenjak itulah nenek sangat tidak menyukai ayah."
Haih aku baru menyadari ternyata itu pangkal masalahnya. Pantas nenek sering mengataiku dan ayah sebagai bintang pembawa sial untuk paman ketiga dan sepupuku.
"Tapi ayah, bukankah kegagalan paman tidak ada hubungannya dengan ayah?" Aku bertanya pada ayah dengan heran.
"Itu benar. Namun nenekmu menganggap seharusnya pamanmu yang diterima. Itu sama dengan sikapnya terhadapmu dan sepupumu. Nenekmu tidak pernah mau mengakui kenyataan. Sudahlah jangan terlalu kau pikirkan."
Ayah kembali menepuk-nepuk kepalaku dengan sayang. Aku menyandarkan kepalaku di bahu ayah.
Sekarang aku mengerti, nenek adalah tipe orang kuno yang keras kepala. Dia tidak memahami dan tidak mau mengerti kenyataan hidup.
Nenek hanya mendengarkan dan mempercayai kata-kata paman, bibi dan sepupu-sepupuku tanpa pernah berusaha mengecek kebenarannya.
Harus memisahkan keluarga
Haaih kalau sudah begini tidak ada gunanya berbicara pada nenek. Satu-satunya cara adalah menjauhinya juga memotong jalurnya untuk menekan keluarga kami.
Dengan kata lain, aku harus membujuk ayah untuk melakukan pemisahan keluarga. Dengan begitu nenek tidak akan bisa ikut campur atau pun menekan keluargaku. Namun cukup sulit untuk meyakinkan ayah agar mau memisahkan keluarga.
Tapi dengan kejadian terlukanya kepalaku akibat didorong sepupuku, mungkin dapat meyakinkan ayah untuk mulai berpikir memisahkan keluarga kami dari keluarga inti.
Aku tahu ayah sangat kecewa, saat mendengar Tang zhiyin menuduhku iri dan membingkainya.
Saat itu Tang zhiyin menangis sedih di depan nenek dan ibunya. Mereka berdua memarahiku habis-habisan seakan-akan Tang zhiyinlah yang terluka.
Meski pada kenyataannya akulah yang terluka karena saat didorong Tang zhiyin, kepalaku terantuk batu. Namun tak seorang pun mempercayaiku apa lagi berusaha menolongku. Sampai ayahku datang.
Ayah melihat dan mendengar sendiri apa yang dikatakan dan diperbuat oleh mereka bertiga.
Di mata keluargaku juga masyarakat desa, Tang zhiyin seperti bidadari. Dia cantik dan pintar. Dia juga pandai mengambil hati semua orang.
Dia secantik dan semurni lotus putih. Mungkin hanya aku yang tahu warna aslinya. Dia hanya seorang gadis yang manja, angkuh dan selalu ingin menang sendiri.
Di sekolah Tang zhiyin bukanlah murid terpandai. Namun dia selalu bersikap seakan-akan dialah murid teladan dan favorit di sekolah.
Apa lagi bibiku, ibu Tang zhiyin, gemar membanggakan putrinya itu. Jadi di mata penduduk desaku, Tang zhiyin adalah bunga yang indah sedangkan aku hanya setumpuk lumpur kotor.
Memang tak banyak anak-anak di desaku yang sekolah menengah di kota. Karena selain jauh juga lebih mahal. Aku bersekolah di kota karena mendapatkan beasiswa.
Namun tak seorang penduduk desa pun yang tahu. Karena nenek mengancam kami untuk tidak mengatakan hal ini pada mereka. Dia merasa seharusnya beasiswa itu untuk Tang zhiyin. Dia marah padaku dan orangtuaku.
Saat itu ayah dan ibu berdiam diri karena tidak ingin ada keributan. Tapi mereka tidak menyangka nenek justru akan semakin menekan keluargaku.
Tak terasa kami telah tiba di desa. Ayah meminta paman Wang untuk langsung ke rumah kami.
Karena masih siang, suasana di desa sangat sepi. Sebagian penduduk desaku adalah petani. Siang hari seperti ini mereka masih berada di ladang masing-masing.
Tak banyak orang yang melihat kami kembali dari kota. Bahkan nenek dan bibi juga tidak.
Aku dan ayah segera menurunkan belanjaan kami. Ayah memberi beberapa yuan untuk upah paman Wang. Selain itu ayah juga menyertakan beras dan telur di gerobaknya.
Ibu menyambut kami dengan gembira. Sedangkan Yin mei sangat senang karena ayah membelikannya tanghulu dan gula-gula yang sangat disukainya.
"Yun'er, simpanlah bahan makanan dan kain-kain ini di tempat yang aman. Pastikan tidak mudah untuk ditemukan. Sisakan saja secukupnya."
Ayah menginstruksikan ibu untuk menyimpan barang belanja kami. Ibu mengangguk mengerti dan segera melakukan perintah ayah.
"Ming yue simpan buku tabungan dan uang ini baik-baik. Besok pagi ayah akan ke bank sekembalinya dari pabrik. Ayah akan mengundurkan diri dari proyek. Dan lusa ayah mulai bekerja di toko bangunan itu."
Aku mengerti maksud ayah. Aku memiliki tempat persembunyian rahasia yang tidak diketahui siapa pun.
Di masa lalu setiap ayah menjual biri-biri atau menerima gaji, nenek akan datang mengunjungi kami. Dia akan meneliti semua hal di rumah dan membawa pulang hal-hal yang diinginkannya. Dia tidak peduli apakah kami mengijinkannya atau pun tidak.
Setelah aku dan ibuku menyelesaikan hal-hal yang diminta ayah, aku melihat ayah tengah memasukkan ayam dan bebek ke kandangnya. Sedangkan bibit ikan di taruh di tempayan di dapur.
Sementara ibu melanjutkan memasak dan berbenah dapur. Tang yin mei menemaniku merapikan rumah.
Rumah keluargaku sangat sederhana. Hanya berdinding papan kayu yang sudah tua. Lantainya hanya tanah berlapis batu yang tersusun rapi. Tak banyak ruang mau pun barang di rumah kami.
Hanya ada ruang serbaguna yang tidak begitu luas, dua buah kamar dan dapur. Sedangkan kamar mandi ada di luar. Seperti layaknya keluarga-keluarga lain di desaku, rumah kami pun merupakan bagian dari komplek rumah keluarga Tang.
"Meimei apa yang kau masak?" aku mendengar suara bibiku dari halaman belakang. Ibuku mengatakan beberapa hal.
Dan tak lama terdengar suara nenek. Seperti biasa dia sibuk membuka lemari, tempayan dan penyimpanan bahan makanan. Dia mengomel karena tidak menemukan apa pun.
"Ibu aku baru kembali dari kota. Aku belum sempat ke rumahmu."
Ayah tiba-tiba masuk dan menyela percakapan mereka. Aku juga ikut duduk di dapur dan membantu ayah mengambil bahan makanan yang kami beli untuk nenek.
"Ibu aku akan membawakan bahan-bahan ini ke rumahmu. Aku rasa ini cukup untuk satu bulan. Maafkan aku, aku tidak bisa memberimu lebih."
Ayah tampak sangat menyesal karena tidak bisa memberi ibunya uang. Aku tertawa dalam hati, ternyata ayahku pandai berakting juga.
"Bukankah kau telah menjual biri-birimu? Apa kau tidak mendapatkan uang? Kakak dan keponakanmu membutuhkan uang untuk biaya sekolah dan pernikahan keponakanmu. Apa kau tidak punya hati?"
Seperti biasanya nenek mulai berteriak dan mencaci maki ayahku. Mendengar suaranya yang keras, tetangga mulai berdatangan. Penduduk desa sangat senang dengan keributan seperti ini.
"Ibu aku memang menjual biri-biri itu, namun aku harus membayar hutang pada temanku. Tahun lalu aku berhutang banyak untuk pengobatan Yin mei."
Ayah benar-benar terlihat memelas. Sedangkan ibuku hanya meremas tangannya dengan cemas.
"Kau sungguh keterlaluan, Tang zhou yang adalah cucu laki-lakiku yang paling cerah masa depannya, apakah bisa dibandingkan dengan anak-anak perempuanmu itu? Yang satu sakit dan menjadi cacat dan satunya lagi senang berkhayal terlalu tinggi."
Nenek terlihat sangat marah. Selama ini putra bungsunya selalu mengalah dan menuruti kemauannya. Tapi hari ini dia membantahnya.
"Ibu bagiku anak-anakku adalah segala-galanya, aku akan berjuang untuk mereka. Dan tentunya aku tidak pernah minta dukungan saudara-saudaraku. Aku rasa kakak ketiga cukup mampu untuk mendukung keluarganya sendiri."
Ayah masih berbicara tanpa emosi. Ketenangan ayah yang seperti ini belum pernah kulihat sebelumnya.
"Anak perempuan itu tidak ada harganya, hanya akan merepotkan dan menghabiskan biaya. Apa kau mau menghabiskan uangmu untuk mereka?"
"Ibu itu lebih baik daripada uangku habis untuk membiayai anak orang lain. Aku tidak keberatan mendukungmu. Sama sekali tidak keberatan. Tapi aku keberatan untuk mendukung kakak-kakakku. Anak-anakku juga membutuhkan biaya ibu."
"Kau … kau … dasar tak tahu diri. Serigala bermata putih. Pasti perempuan sial itu yang mempengaruhimu!"
Nenek gemetar karena sangat marah. Dia pun mulai menangis dan memaki-maki ibuku. Ayah berdiri di depan ibu menghalangi nenek yang hendak menyerangnya.
Suasana sungguh tak terkendali. Penduduk desa yang berkerumun hanya berbisik-bisik tak berani mengambil tindakan. Saat itu aku berpikir untuk memanggil kepala desa. Aku berlari menuju rumah kepala desa yang tepat di depan rumah kami.
Saat aku kembali dengan kepala desa, nenek sedang menangis berguling-guling di lantai. Sedangkan ayah hanya berdiri di depan ibuku sambil memeluk Yin mei yang ketakutan.
Orang-orang yang berkerumun minggir ketika melihat kepala desa datang. Dan saat bersamaan kakek dan ketiga pamanku juga datang.
"Tang wu di, ada apa ini?" Kepala desa menatap ayahku dengan tenang.
Melihat kepala desa datang nenek merangkak mendekati kepala desa masih dengan menangis terisak-isak, "Kepala desa lihatlah putraku ini, dia sungguh melupakanku sebagai ibunya."
Bibi ketiga juga menghampiri kepala desa dan nenek, tapi dia mencoba mengangkat nenek dari lantai.
"Ibu jangan seperti ini, lihatlah kepala desa sudah datang. Dia pasti akan memberi keadilan untukmu."
Ayah dan ibu hanya saling berpandangan. Aku mendekat pada ayahku dan menggenggam tangannya. Ayah menganggukkan kepalanya dan membelai kepalaku seakan menenangkanku.
"Kepala desa, aku minta maaf jika ibuku sudah membuat keributan. Maafkan aku tidak mampu mengendalikan masalah keluargaku hingga mengganggumu dan juga penduduk desa." Ayah mendekati kepala desa dan berdiri tak jauh darinya. Kepala desa menatap berkeliling sebentar.
"Lao Tang tolong bawa istrimu untuk duduk." Kepala desa menatap kakek dengan tajam. Kakek menganggukkan kepala.
Kakek segera membawa nenek untuk duduk, meski enggan nenek terpaksa menurut. Di depan kepala desa dia tidak berani bertingkah.
"Tang wu di, sebenarnya aku tidak berhak ikut campur masalah keluargamu. Tapi putrimu memintaku untuk datang karena mengkhawatirkan kalian. Apakah begini cara para tetua bertindak didepan generasi muda?"
"Kepala desa, aku tahu ini memalukan namun seperti yang kau tahu aku tidak mampu mengendalikan ibuku. Ini juga bukan yang pertama kalinya, aku sungguh minta maaf." Ayahku menundukkan kepala tak berdaya.
Namun dengan kata-kata ayah penduduk desa mulai berbisik-bisik lagi. Hal seperti ini memang kerap terjadi setiap nenek menginginkan uang dari ayahku untuk putra-putranya yang lain.
"Lao Tang apa pendapatmu? Ini masalah keluargamu, namun tingkah istrimu sudah mulai mengganggu kenyamanan lingkungan." Kepala desa melirik kakek yang terdiam, duduk di samping nenek.
Nenek tampak hendak membantah, namun kakek memegangnya dengan erat.
"Kepala desa aku akan mendisiplinkan istri dan putraku untuk tidak membuat keributan lagi," kakek agak enggan ketika menjawabnya. Ini sungguh memalukan baginya.
"Baiklah, Aku tidak ingin ini terulang lagi. Aku bisa memberi sangsi pada keluargamu. Tang wu di adakah yang ingin kau sampaikan?" Kepala desa beralih menatap ayahku.
"Sebenarnya ini masalah keluarga, Namun jika kau tidak keberatan aku ingin meminta bantuan dan pendapatmu kepala desa."
Kepala desa hanya menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan.
"Kepala desa, aku dan istriku memang belum memiliki putra. Hanya dua orang putri ini yang kami miliki. Di mata kami mereka sama berharganya dengan anak-anak kakak-kakakku. Aku ingin menyekolahkan mereka semampuku. Apakah pemikiranku ini salah kepala desa?"
Ayah menggandengku dan Yin mei seakan-akan ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa kami adalah hartanya yang berharga.
Aku menatap ayah dengan berkaca-kaca. Ayah dulu aku tak sempat membahagiakanmu, di kehidupan ini aku akan membuatmu bangga.
"Itu tidak salah. Zaman sudah berubah, sekarang tidak Ada bedanya laki-laki dan perempuan. Tang wu di, aku setuju dengan pendapatmu. Lalu apakah masalahnya?" Kepala desa menatap kami dengan heran.
Bukankah semua orang tua pasti menyayangi anak-anaknya? Lantas apa masalahnya jika sebagai seorang ayah, pria di depannya ini ingin menyekolahkan kedua putrinya setinggi mungkin?
"Ibuku tidak sependapat denganku, dia beranggapan karena aku tidak memiliki putra maka aku harus mendukung putra kakak-kakakku dan membiarkan putriku untuk putus sekolah. Jika aku berlebih aku tidak keberatan, namun kondisi keuangan kami juga sudah sulit." Ayah menundukkan kepalanya seakan-akan takut dimarahi nenek dan dibenci kakak-kakaknya.
"Sejujurnya aku tidak berani mencampuri masalah ini, namun aku hanya mengingatkan. Adat hanyalah kebiasaan tapi sekarang hukum perundang-undanganlah yang berlaku. Menelantarkan anak kandungmu sendiri itu melawan hukum. Wu di lakukanlah yang menurutmu terbaik."
Kepala desa memahami maksud ayah. Dalam adat masyarakat kami saat ini, sistem patrilineal sangatlah kuat. Keuangan dan pengaturan rumah tangga biasanya berpusat pada ibu atau salah satu putra yang ditunjuk.
Akan ada sejumlah uang yang merupakan uang keluarga yang akan digunakan untuk kebutuhan seluruh keluarga. Namun sistem ini sering menimbulkan ketidakpuasan banyak pihak. Terutama jika ada pihak yang pengeluarannya sedikit namun berpenghasilan banyak.
Sepertinya inilah yang terjadi dalam keluarga Tang. Ayah sebagai putra bungsu memiliki pekerjaan tetap di proyek. Selain itu dia juga mendapat tunjangan dari militer karena dia pensiun dini. Dengan menggunakan alasan tanpa memiliki putra, nenek selalu menekan ayah untuk menyerahkan sebagian penghasilannya untuk mendukung pengeluaran seluruh keluarga.
Dalam sistem patrilineal, anak perempuan jika sudah menikah akan menjadi bagian keluarga suaminya. Dan sangat jarang bisa membantu secara finansial keluarga aslinya. Karena itu sangat menyedihkan jika sebuah keluarga tanpa putra.
"Terima kasih kepala desa. Dengan ini sudah bulat tekatku untuk menyekolahkan kedua putriku setinggi yang aku mampu."
Ayah tersenyum lega mendengar perkataan kepala desa. Sebenarnya ayah hanya ingin penegasan di depan semua orang bahwa apa yang dilakukannya benar.
"Lao Tang keadaan sudah berubah, setiap anak berhak mendapatkan kehidupan yang layak apakah perempuan atau laki-laki. Dan tugas kalianlah sebagai orangtua untuk memberi kehidupan layak untuk anak-anak kalian."
Kepala desa mengalihkan pandangannya pada kakek, nenek dan paman-pamanku.
"Aku mengerti kepala desa, aku akan membicarakan ini dengan anak dan istriku." Kakek hanya menganggukkan kepala setuju.
"Ini bukan hanya untuk keluarga Tang tapi juga seluruh warga desa. Kerukunan keluarga besar itu sangat bagus. Tapi jika ada yang dirugikan itu tidak adil. Aku rasa aku sudah selesai. Aku akan pergi."
"Terima kasih kepala desa," ayah dan kakek serentak mengucapkan terima kasih. Kepala desa meninggalkan rumah kami begitu juga dengan penduduk desa.
"Wu di, kau tahu seperti apa ibumu, apakah kau harus membuatnya marah setiap saat?" Kakek menatap ayahku dengan muram.
Kakek orang yang acuh tak acuh dan membenci keributan tapi dia juga orang yang adil. Beberapakali dia menegur nenek namun selalu tidak tahan dengan tingkah nenek yang memancing keributan.
"Dengarkan aku, seperti yang kepala desa katakan. Keadaan sudah berubah. Kita juga harus bisa mengikuti perubahan. Kalian harus bisa bertanggung jawab atas rumah tangga kalian sendiri." Kakek menatap putra-putra dan menantunya.
Kemudian dia menatap istrinya yang duduk di sebelahnya. Wanita itu tampak marah namun tidak berani memarahi suaminya itu.
"Dan kau sebagai seorang ibu dan nenek, bersikaplah adil dan jangan bertingkah konyol. Wu di tidak memiliki kewajiban untuk mendukung kakak-kakaknya. Tentu saja jika dia mau membantu itu lebih baik. Namun dengan kondisinya saat ini untuk menghidupi keluarganya saja dia masih kekurangan." Kakek berhenti sejenak dan kembali memandang keluarganya satu persatu.
"Ingat kata-kataku ini. Jika terjadi keributan lagi aku akan mengusulkan pemisahan keluarga. Ayo kembali ke rumah." Kakek beranjak sambil menarik nenek dari kursinya. Nenek enggan untuk pergi, dia belum mendapatkan apa yang diinginkannya.
"Ayah ini bahan makanan yang kubeli tadi. Bawalah, Aku rasa ini cukup Untuk persediaan kalian berdua selama satu bulan " Ayah mengulurkan bahan makanan itu pada kakek.
Kakek menatap kantong makanan itu. Kemudian dia menerimanya.
"Baiklah. Aku akan membawanya pulang. Kau harus memberi makanan anak istrimu dengan benar. Mereka terlalu kurus."
"Iya ayah aku akan," Ayah tersenyum dan mengantar kakek keluar dari rumah.
Nenek dan lainnya mengikuti mereka. Dengan demikian keributan hari ini berakhir. Tentu saja nenek dan bibi ketiga tidak bisa berdamai dengan akhir yang seperti ini.
Tapi ayah terlihat puas. Setidaknya nenek tidak akan membuat keributan lagi. Dan yang terpenting paman dan bibiku tidak bisa sembarangan menatap apa saja yang ada di keluarga kami miliki.