Bab 1

Hari ini merupakan hari terakhir para murid kelas XII berseragam sekolah sebagai siswa-siswi di SMA Penabur Bunga. Kemarin semua siswa dan siswi telah dinyatakan lulus seratus persen. Untuk merayakan kelulusan tersebut, maka pihak sekolah mengadakan pentas seni untuk terakhir kalinya bagi siswa siswi kelas XII tersebut.

Empat orang cewek yang duduk di pojok kiri paling depan dan baris nomor dua terlihat tegang, kontras dengan suasana gaduh isi kelasnya dan lingkungan sekitar.

"Sesuai dengan perjanjian kita waktu kelas dua di awal, hari ini hari penentuan kisah cinta kita," ucap Danisha serius.

"Tapi kalo ditolak gimana?" tanya Grenda.

"Itu sih, risiko kita kali," jawab Gisella enteng.

Ketiga gadis itu melirik salah satu sahabat mereka yang sama sekali tidak berkomentar tentang yang sedang mereka diskusikan. Sontak sang gadis yang merasa dirinya jadi tujuan lirikan, hanya mendelik sebal pada mereka semua.

"Kenapa sih liatin gue segitunya?!" ketus Clarista.

Dan ketiga sahabatnya itu mengedikan bahu tak peduli.

"Pokoknya sebelum pensi dimulai kita jalani misi perjanjian kita. Apa pun hasilnya harus diterima. Janji harus ditepati. Gimana setuju, kan?" ucap Danisha yang diikuti anggukan dari ketiga sahabatnya.

*****

Keempat sahabat ini melangkah menuju koridor XII IPS 4, target pertama mereka yaitu Giovanni Putra. Cowok kalem blasteran Indonesia - Swedia, salah satu anak pengusaha dealer motor dan mobil di kota ini. Banyak yang menyangka kedekatan Gio dan Gisella selama ini adalah kedekatan sepasang kekasih. Namun, kenyataannya sampai detik ini, baik Gio maupun Gisella tidak pernah mengungkapkan perasaan mereka.

"Tarik napas! Embuskannn ... Tarik napasss .... Embuskannn ..." Danisha memberikan contoh pada Gisella untuk mengurangi ketegangannya.

"Gimana penampilan gue? Udah oke belom sih?" tanya Gisella gugup sambil memelintir rambut panjangnya yang sudah dikeritingnya.

"Lo udah cantik, Gisell. Udah buruan sana. Keburu Gio kabur," ucap Clarista datar.

"Iya. Sana buruan. Keburu nanti target gue ngilang," ucap Grenda mendorong pelan bahu Gisella.

Gadis itu menghela napas panjang sebelum melangkah menuju Gio yang terlihat sedang bercanda gurau di depan kelasnya.

"Good luck, Gisell!" ucap Danisha, Clarista dan Grenda bersamaan.

Dengan langkah percaya diri dan menebar senyum berseri-seri, Gisella menghampiri Gio. Ditepuknya bahu Gio pelan dan Gio terlihat kaget, tapi raut wajahnya berubah seketika menjadi ceria kembali sesaat menatap Gisella.

"Hei, kamu ngapain ke sini?" tanya Gio pada Gisella.

"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu, Gi," ucap Gisella.

"Ngomong? Ngomong apa? Ya,udah. Ngomong aja kali," ucap Gio santai.

Terlihat Gisella menarik nafas panjang dan membuat jeda agak lama, lalu kemudian Gisella memulai perkataannya.

"Aku suka sama kamu, Gi. Kamu mau nggak jadi pacar aku?" Seketika situasi yang riuh di sekeliling Gio dan Gisella mendadak hening ketika mendengar ucapan lantang yang diucapkan Gisella.

Gio terlihat kaget, tapi ia dengan cepat lagi mengubah raut wajahnya menjadi serius.

"Gisell, Kamu serius nembak aku? Di sini?" bisik Gio.

Gisella hanya menganggukkan kepala dengan santai dan matanya tetap menatap Gio dengan penuh harap.

"Terimaaa ... Terimaaa ...Terimaaa..." Koridor itu seketika riuh akibat sorak sorai teman-teman mereka yang sedang berada di sekitar kelas Gio dan laki-laki itu terlihat menggaruk kepala yang sama sekali tidak gatal.

"Tapiii ... Kenapa kamu yang nembak aku sih!" gerutu Gio.

"Duh buruan deh, kamu tinggal jawab. Mau apa nggak nih? Nggak usah lama deh!" ucap Gisella kesal.

"Iyalah. Aku mau jadi pacar kamu. Mulai hari ini kita jadian."

Gio menarik Gisella kedalam pelukannya, hingga membuat teman-teman yang berada disekitar sana bertepuk tangan gemuruh tak terkecuali Danisha, Clarista dan Grenda. Mereka bertiga ber-highfive bersama.

"Oke ... Kita ke target kedua," seru Grenda pada kedua sahabatnya.

"Kamu udah siap, Sha?" tanya Clarista pada Danisha.

"Siap nggak siap harus siap, 'kan?" ucap Danisha yang dijawab anggukan dari kedua sahabatnya.

"Ya, udah. Ayo, kita ke kelasnya Dima," ajak Grenda tak sabaran.

Ketiga sahabat ini berjalan menuju kelas Dima Gornova, salah satu siswa berprestasi dibidang olahraga Karate. Dima ini selain tampan, dia juga laki-laki yang supel dan Dima adalah anak tunggal dari pasangan chef terkenal di Indonesia.

"Tuh, Dima. Astagaaa...! Dia makin kece aja kalo diem begitu," goda Clarista yang dihadiahi cubitan pipi dari Danisha.

"Denger ya, Cla. Dima itu cuma punya Danisha. Kita udah bareng-bareng dari dulu. Dima itu soulmate gue banget tau nggak?" jelas Danisha panjang lebar.

Clarista hanya terkekeh saat mendapat respon dari gurauannya pada Danisha.

"Duh, sana deh buruan ke situ. Tembak si Dima, jangan ngomong mulu!" omel Grenda.

"Iya, bawel! Iya," ketus Danisha.

Danisha bergerak menuju Dima dan terlihat Dima sedang mengotak atik ponsel berlogo apel digigit keluaran terbarunya dengan serius. Di luar kelas nampak, Gisella berlari dengan wajah semringah menuju Clarista dan Grenda untuk ikut serta mengintip aksi yang akan dilakukan Danisha.

Gadis itu duduk persis di depan Dima dan sang laki-laki segera mengalihkan tatapannya, karena merasakan kehadiran seseorang. Wajahnya yang tadi terlihat serius kini berubah menjadi tersenyum senang, begitu pun Danisha.

"Kok kamu di sini? Nggak ke aula?" tanya Dima yang kini fokus pada Danisha.

"Nggak, nanti aja. Aku ke sini ada perlu sama kamu, Dim," ucap Danisha.

"Perlu? Kamu perlu apa? Kenapa nggak chat aku aja? Biar nanti aku anterin ke kamu." Danisha menggeleng cepat, membuat Dima sedikit bingung.

"Aku mau ngomong langsung ke kamu kok. Bukan lewat chat dan ini penting banget, Dim." Dima tersenyum simpul mendengar ucapan Danisha.

"So? Kamu udah di sini, kan? terus apa yang penting?" tanya Dima lembut.

Di luar kelas, Clarista, Gisella dan Grenda terlibat percakapan kecil.

"Njirrr ... Dima so sweet banget sih," ucap Grenda.

"Duh, aku kenapa jadi baper ya sama Dima?" Gisella menambahkan.

Clarista hanya tersenyum kecil mendengar ucapan kedua sahabatnya itu dan matanya terus tertuju pada Dima dan Danisha.

"Aku tau kalo kita udah dijodohkan, tapi hari ini aku mau nembak kamu," ucap Danisha yang disambut kekehan Dima, "kamu kenapa ketawa sih? Apanya yang lucu?" lanjut Danisha kesal.

"Abisnya kamu lucu banget deh. Kita 'kan mau tunangan. Jadi ngapain kamu mau nembak aku? Yang ada harusnya aku yang nembak kamu," jelas Dima seraya membelai rambut Danisha.

Tak ayal gadis itu mencebikkan bibirnya, "Udah deh. Kamu tuh lama banget. Kenapa nggak kemarin-kemarin kalo mau nembak aku?" ketus Danisha.

"Maaf Shasa, Sayang," ucap Dima sembari mengelus puncak kepala Danisha.

"Ya, udah. Sekarang kamu mau nggak jadi pacar aku?" tanya Danisha lagi.

"Aku mau jadi tunangan kamu, bukan cuma jadi pacar kamu," jawab Dima dengan senyuman sejuta watt.

"Nggak usah nyebelin deh! Aku serius! Jawab dulu aja. Mau nggak jadi pacar aku sekarang? Masalah tunangan itu besok-besok, urusan kamu yang minta aku buat mau ga jadi tunangan kamu," cerocos Danisha panjang lebar.

Dima tertawa terbahak dan diikuti ketiga sahabat Danisha yang sedang mengintip di depan pintu kelas.

"Kamu tuh, ya? Ishhh ..." rajuk Danisha.

"Aku mau jadi pacar Danisha kok. Mau banget malah. Makasih ya sudah nembak aku hari ini," ucap Dima sembari menarik Danisha kedalam pelukannya.

Clarista, Gisella dan Grenda ber-highfive bersorak senang, karena satu lagi sahabat mereka akhirnya resmi jadian dengan orang yang disukainya. Danisha dan Dima berjalan beriringan menghampiri ketiga sahabat Danisha.

"Target kedua Berhasil, giliran target ketiga. Kamu udah siap belum Gre?" tanya Danisha yang berdiri disamping Dima.

Hal itu membuat Dima bingung, tapi ia memilih untuk diam daripada bertanya. Terlihat Grenda hanya mengancungkan jempol untuk menyatakan kesiapannya.

Target ketiga mereka adalah seorang pemain futsal yang udah digilai oleh Grenda dari empat bulan yang lalu tepatnya. Sebenarnya Grenda itu termasuk playgirl yang putus dan jadian sama cowok baru seperti gonta ganti celana dalem, tetapi entah mengapa sudah empat bulan ini dia begitu terpesona oleh sosok si pemain futsal. 

Tidak sulit untuk mencari keberadaan incaran Grenda, mereka hanya perlu pergi ke lapangan futsal. Grenda berlari menuju calon kekasih hatinya itu tanpa memedulikan teriakan para fans Andrian yang sedang berdiri di pinggir lapangan.

"Dri, sini bentar donggg ... Gue mau ngomong sama looo..." jerit Grenda tanpa malu-malu.

Andrian berlari pelan kearah Grenda dengan seragam futsal yang penuh keringat membasahi seluruh tubuhnya. Namun, tetap saja Grenda menatap Andrian dengan tatapan memuja.

"Ada apa? Lo mau ngomong apa, Gre? Kayaknya penting banget sampe lo nyamperin gue ke sini," ucap Andrian sembari mengacak-acak rambutnya.

"Lo mau nggak jadi pacar gue?" tanya Grenda to the point yang membuat Andrian melotot dan semua orang disekitar mereka ikut terdiam.

"Lo lagi mengigau, ya? Nggak lucu banget sih lo, Gre!" ucap Andrian yang wajahnya kini telah memerah menahan malu.

"Ck! Emangnya muka gue keliatan becanda apa? Gue serius kali! Masa becanda sih? Sekarang tinggal lo jawab. Mau apa enggak?" ucap Grenda.

Andrian terlihat menggaruk tengguknya yang tidak gatal, memandang ke kanan kiri keadaan sekitarnya yang terlihat sama dengan Grenda yang menanti jawabnya.

"Sorry, Gre. Gue nggak bisa jadi pacar lo. Gue udah punya pacar. Sorry banget ya, Gre? Sorry banget. Lo nggak marah 'kan sama gue?" ucap Andrian dengan lemah dan penuh rasa bersalah.

"Biasa aja kali. Gue 'kan cuma nyoba-nyoba aja. Kali aja lo gak punya pacar, terus mau jadi pacar gue. Kalo lo udah punya pacar, ya mau diapain lagi? Semoga langgeng, ya? Gue cabut dulu. Bye, Driii..." ucap Grenda panjang lebar dan secepat mungkin meninggalkan Andrian dan teman-temannya di lapangan futsal.

Grenda terlihat biasa, tapi ada sedikit raut kekecewaan dalam dirinya karena tidak bisa berhasil memenangkan hati seorang Andrian yang sudah disukainya dalam waktu empat bulan belakang ini.

"Lo kalo mau nangis, ini dibahu gue aja," ucap Gisella pada Grenda.

"Gila apa lo, ya? Gue nggak akan nangis cuma gara-gara ditolak gitu doang. Biasa aja kali, gue kan strong," ucap Grenda santai.

"Tapi mata lo merah banget, Gre. Kalo mau nangis, nggak apa-apa. Jangan ditahan-tahan," ucap Danisha.

"Ya, elahhh ... Kalian ini lebay banget sih! Emang gue nggak mau nangis, kenapa disuruh nangis? Ini soflens gue udah lewat dari lima jam nggak dilepas mangkanya begini. Nggak boleh Neg-Thing sama gue," ucap Grenda.

"Ya, udah deh. Kalo lo nggak kenapa-kenapa, kita ikut tenang, Gre," sahut Clarista.

"Huh, target ketiga gagal. Kita harus kerja keras buat target keempat ini," ucap Gisella.

"Udah tenang aja. Yang keempat ini, jinak kok. Apalagi yang bakal nembak so sweet begini, ya nggak?" ucap Danisha sembari menjawil dagu Clarista.

"Ya, udah. Nggak usah lama-lama lagi. Ayok ke aula. Lo harus check sound dulu, kan? Habis nyanyi baru deh, lo laksanain misi terakhir kita." Grenda menggiring ketiga sahabatnya menuju Aula.

"Tapi gue nggak pede," ucap Clarista lirih.

"Duh, suara lo bagus. Lo itu multitalent, tapi lo terlalu menutup diri. Lo bisa nyanyi, bisa ngedesain baju. Pokoknya lo itu T-O-P banget! Jadi, nggak usah sok rendah diri deh, Cla."

"Saatnya lo tunjukkan sama semua isi sekolah yang nggak pernah menganggap lo ada selama tiga tahun ini. Kita selalu dukung lo kok, Cla."

"Iya, Cla. Lo nggak usah banyak mikir ini itu, pokoknya lo nyanyi aja,terus bikin doi meleleh sama suara lo. Kalau nggak sekarang, terus kapan lagi? Udah ini kita 'kan bakal sibuk sama kuliah masing-masing." 

"Makasih ya, Girls. Kalian emang sahabat terbaik gue," ucap Clarista.

Gadis itu melambaikan tangannya kepada ketiga sahabatnya, dan menghilang dibalik pintu bertulisan khusus pengisi acara.

Gisella, Grenda dan Danisha berdiri paling depan menanti penampilan Clarista. Namun, mata mereka berjelajah mencari target keempat mereka.

Ternyata orang yang mereka cari itu berada tak jauh dari mereka, target keempat ini bernama Josh Nicolas yang biasa dipanggil Nico. Ia salah satu member most wanted di Sekolah ini.

Wajah tampan dan paling kalem diantara ketiga anggota yang lain. Nicolas bukan yang paling tampan diantara mereka, namun Clarista telah jatuh hati padanya. Dia terlihat paling baik diantara ketiga anggota yang lain.

MC sudah bercuap-cuap ria diatas panggung acara perpisahan kelulusan SMA Penabur Bunga. Tepuk tangan hanya sedikit yang terdengar ketika nama Clarista disebut, dikarenakan banyak siswa sekolah yang tidak begitu mengetahui sosok Clarista.

Clarista berdiri dengan canggung menatap ratusan penonton yang juga teman-teman satu sekolahnya. Dia ditunjuk oleh ibu Wati, guru kesenian untuk mengisi acara perpisahan dan memberikan kebebasan pada gadis itu untuk menyanyikan lagu apa pun.

Ketiga sahabat Clarista tampak memberikan semangat pada cewek cantik berambut sebahu, dengan t-shirt pink dan juga jeans biru dongker biasanya itu.

"Hai, semuanyaaa ... Nama gue Clarista dari kelas XII IPA 3. Hari ini gue mau nyanyi sebuah lagu buat seseorang yang juga ada disini. Semoga dia tahu perasaan gue dari lagu ini." Sapa Clarista sebelum ia bernyanyi

"I lie awake at night. See things in black and white. I've only got you inside my mind. You know you have made me blind.I lie awake and pray, that you will look my way. I have all this longing in my heart. I knew it right from the start. Oh my pretty pretty boy I love you, like I never ever loved no one before you. Pretty pretty boy of mine, just tell me you love me too..."

Seusai menyanyikan sebuah lagu dari M2M-Pretty Boy, Clarista menolehkan diri kearah ketiga sahabatnya. Setelah mendapat anggukan dari mereka, Clarista berjalan menuju Josh Nicolas atau yang sering dipanggil Nico.

Nico tampak sedang bercanda gurau dengan kedua sahabatnya, seketika terdiam ketika Clarista berdiri di dekat mereka. Arah pandang seisi aula ini menuju ke Clarista.

"Hm ... Nico, gue bisa minta waktu lo sebentar nggak?" tanya Clarista pada Nicolas.

Laki-laki itu hanya menjawab dengan anggukkan kepala, tampak Clarista menarik napas panjang.

"Lagu tadi itu buat lo, Nic," ucap Clarista memberanikan diri.

Nico hanya menatapnya lama dan tersenyum simpul. Maju dua langkah mendekati posisi Clarista berdiri.

"Terus?" tanya Nico.

Clarista terlihat gugup, bahkan peluh sudah membasahi dahinya. Tampak Clarista tengah menggigit bibirnya dalam. Dengan sisa keberanian yang ada, akhirnya ia memberanikan diri bertanya, "Hmm- elo, mau nggak jadi pacar gue?" ucap Clarista cepat.

Nico hanya diam tanpa ekspresi, menatap lekat wajah Clarista. Di sana juga tampak kedua teman Nico. Ada Alexander dan Jammie yang tersenyum menggoda dibelakangnya. Semua yang sedang berada di Aula, menantikan jawaban Nico mengenai ajakan berpacaran dari salah satu murid yang tidak begitu populer disekolah mereka.

"Menurut lo, gue harus jawab apa?" tanya Nico pongah pada Clarista yang nampak gugup di depannya.

Clarista hanya diam dan menunduk mendengar pertanyaan yang diajukan Nico padanya. Perasaannya saat ini bercampur aduk, antara malu dan juga gugup.

"Udah gila kali yah gue mau nerima lo. Emangnya lo itu siapa, mau jadi pacar gue? Lo harus ngaca diri lo dulu sebelum nembak gue."

"Gue seganteng dan sekeren ini, masa iya pacaran sama cewek modelan lo begini. Cupu dan kampungan. Kita sama sekali gak selevel. Lo sukses mempermalukan diri lo sendiri di depan semua orang. Lo itu ..." ucap Nico panjang lebar.

Clarista berlari meninggalkan Aula diiringi oleh riuhnya cemoohan dari semua orang yang berada didalam aula yang tidak bersimpati padanya. Clarista tidak ingin mendengar lebih banyak lagi ucapan kasar yang dilontarkan Nico untuknya. Sebelum keluar aula, Gisella dan Grenda mengancungkan jari tengahnya lalu berlari mengejar Clarista.

PLAKKK!!

Bunyi tamparan keras terdengar begitu nyaring di dalam Aula SMA Penabur Bunga, karena ulah salah satu dari sahabat Clarista.

"Lo pantes nerima itu," ucap Danisha pada Nico yang membuat Nico tertegun di tempat.

******

Bab 2

♥ ♥ ♥ ♥ ♥

Tujuh tahun telah berlalu. Kejadian begitu memalukan yang dirasakan Clarista dikubur dalam-dalam sebagai kenangan yang tidak perlu diingat atau diungkit kembali.

Clarista kini telah sukses menjadi seorang wanita dewasa yang cantik dan modis serta menjadi desainer ternama. Dalam kurun waktu tiga tahun belakang, ia sudah memiliki dua cabang butik miliknya sendiri.

Setelah lulus SMA, Clarista memilih untuk berkuliah di The Fashion Institute of Technology yang terletak di New York. Ia mengambil jurusan Fashion design.

Selama kuliah di New York, Clarista memilih untuk bekerja part time. Mencari tambahan uang untuk ia kumpulkan demi impiannya membuka butik sendiri setelah lulus kuliah dan kembali ke Indonesia.

Kringgg ... Kringgg ...

Suara telepon kantor terdengar.

"Hallo, Selamat siang."

"Nggak usah sok manis deh, Cla. Biar gue tebak deh, lo pasti masih diruangan, kan? HELLO ... Kita tuh janjian sebelum lunch. Buruan deh ke sini. Gue, Grenda sama Gisella udah lumutan nungguin lo tau!" omel Danisha.

"Tsk! Ocehan lo udah kayak MRT aja. Ya udah, gue beres-beres dulu terus langsung cabut kesana. Wait me ya, Darling?"

"Iya. Buru deh!"

"Kebiasaan deh, ya? kalo si Cla telat mulu," omel Danisha.

"Ya, gitu deh kalo desainer hits kayak dia. Dikejar deadline terus," kepulan asap keluar dari bibir merah Grenda.

"Hidupnya dihabisin buat belajar sama kerja melulu kayaknya, sampe lupa mau pacaran," kekeh Gisella.

"Yup! Tiap kali ada cowok yang ngedeketin, udah otomatis dia pasang muka garang sama cuek gitu," kesal Grenda.

"Emangnya sakit hati sama patah hati itu bikin orang males pacaran ya? Atau jangan-jangan Cla lesbi? Kan, New York banyak juga tuh yang LGBT?" ucap Danisha curiga.

"Jadi, menurut lo kemungkinan Cla ketularan jadi lesbian selama dia kuliah di New York? Bisa jadi juga sih, soalnya gue gak pernah denger dia cerita apapun tentang cowok," timpal Gisella.

"Jangan ngomong sembarangan deh. Konfirmasi aja langsung ke Cla. Daripada kita nuduh dia, nanti jatuhnya fitnah loh," kata Grenda.

"Bener juga yah, daripada menduga-duga lebih baik tanya langsung. Kenapa dia gak pernah pacaran selama ini? Masih ngarep Nico kah? Atau ada alasan lainnya," ucap Danisha.

Clarista datang dari arah belakang mereka dan langsung mengambil tempat duduk disamping Gisella.

"Kayaknya obrolan kalian seru banget. Kalian ngobrolin apa sih? Gue kayaknya ketinggalan banyak nih," ucap Clarista memandang semua sahabatnya bergantian.

Grenda menaruh puntung rokoknya di atas asbak dan menjawab pertanyaan Clarista.

"Kita semua disini lagi ngomongi elo. Kita lagi bertanya-tanya, kenapa elo gak pernah pacaran. Elo belom move on atau elo itu sebenarnya lesbi?"

Clarista tersedak mendengar ucapan Grenda yang blak-blakan itu. "Astaga. Jadi, kalian mikir kalo gue ini lesbi? Hell no, gue gak lesbi,"

"Kenapa elo gak pernah pacaran?" tanya Gisella.

"Yah, karena gue belom nemu orang yang pas. Gue mau langsung nikah aja nanti kalo udah ketemu yang klop dihati gue. Lagian nih yah, for your information, gue udah lama move on. Please, kalian gak perlu berpikir kalo gue masih ngarepin Nico." jelas Clarista.

Danisha yang baru saja menutup telepon dari tunangannya, langsung dengan cepat menyela, "apa kabar gaun pernikahan gue, Cla? Gue udah gak sabar mau fitting,"

"Pengerjaannya sih masih 75%, tapi kalo elo mau lihat terus mau fitting, besok lo langsung aja ke butik. Biar kalo ada detail yang elo kurang suka, gue bisa ubah secepatnya," kata Cla.

Danisha terlihat begitu excited mendengar ucapan Clarista mengenai perkembangan gaun pengantin miliknya yang sengaja ia minta buatkan pada salah satu sahabat baiknya ini.

"Gue emang gak salah pilih desainer. Dalam kurun waktu cuma seminggu, gaun gue udah rampung 75%, itu tuh hal yang luar biasa. Makasih yah, Cla."

"Gak usah lebay. Kalo lo mau makasih, sana, lo ucapin sama tim gue. Mereka yang ngerjainnya secepat kilat, demi elo." kata Cla.

"Selalu deh, ngerendah elo tuh," ucap Danisha.

Danisha Arista, Pengangguran yang hobi shopping, keliling dunia dan clubing bersama tunangannya. Statusnya sudah resmi menjadi tunangan Dima, mantan atlet karate nasional sekaligus pengusaha restoran terkaya nomor dua di Indonesia. Sudah enam bulan terakhir tinggal satu apartemen bersama Dima dan tiga bulan lagi mereka akan menikah.

Gisella Ford, adalah seorang model seksi. Putus nyambung dengan Giovanni, kekasih hati sedari SMA. Hobi clubing, pencinta alkohol, masih takut sama komitmen namun hidup bersama Giovanni sedari masa kuliah.

Grenda Debora, juga berprofesi sebagai model yang hobi berganti pacar dan clubing. Ia juga penikmat one night Stand serta perokok aktif.

Clarista Salsabilla Biantoro, fashion desainer. Single sedari SMA dan paling jutek kalo didekati pria. Hobinya clubing,minum alkohol dan masih perawan ting-ting.

"Nanti malem pada punya acara nggak?" tanya Gisella pada ketiga sahabatnya.

"Gue mau balik kerumah Mommy nanti malem," ucap Danisha.

"Kalo gue sih mau lembur, soalnya klien gue yang di Bandung minta dipercepat gaunnya," ucap Clarista.

"Gue sih nggak ada kerjaan. Lagi free tapi kalian sudah dengar kabar 'kan kalo Alex balik ke Indonesia. Gue ada perlu sedikit sama dia nanti," jelas Grenda.

"Alex? Alexander? Temen sekolah kita dulu?"tanya Danisha penasaran.

Grenda mengangguk, "iya. Alexander yang itu. Gue sama dia ada project kerja sama. Gue nggak ada hubungan apa pun kok sama dia."

"Mau berhubungan juga kita nggak masalah, Gre," timpal Clarista, membuat dua sahabat lainnya ikut menganggukkan kepala dan menyetujui ucapan sang desainer.

"Apa sih kalian ini? Nggak jelas banget!" Grenda menghisap rokoknya dalam-dalam dan mengabaikan kekehan para sahabatnya. 

"Jadi kalian pada nggak bisa malem ini? Berarti gue balik aja ke apartemen Gio deh," ucap Gisella malas.

"Lo balikan lagi sama Gio, La?" tanya Grenda dan Gisella mengangguk.

"Ya, ampun! Berantem terus putus terus nyambung lagi. Kenapa nggak nikah aja sih kalian berdua?" timpal Clarista bertanya.

"Ck! Apaan sih lo, Cla? Gue belom mau nikah. Titik! Gue masih mau bebas aja dulu sekarang. Lo aja sana yang nikah setelah Danisha!" jawab Gisella.

"Hah? Gue? Gebetan gak punya, pacar apalagi, disuruh nikah. Lo becanda ya, La?" kaget Clarista.

"Gimana mau punya pacar, di dekati cowok aja pasang muka sangar terus. Ya, cowoknya takutlah," ucap Gisella santai.

"Siapa coba yang ngedeketin gue? Gosip banget lo, La!" elak Clarista.

"Yang mau sama lo itu sebenernya banyak, Cla, tapi elo nggak pernah buka diri buat orang lain. Gue gak ngerti deh elo mau nyari cowok yang gimana!" ejek Danisha.

"Yah, cowok yang gak gimana-gimana sih. Kemarin-kemarin kan gue lagi hectic banget ngebangun karir gue. So, fokus gue tentu buat itu semua dibanding ngurusin cowok-cowok yang nantinya malah bikin puyeng gue," jelas Clarista.

"Alasan cukup masuk akal dan gue cukup menerimanya," ucap Gisella dan Danisha serta Grenda ikut serta mengangguk.

"Karena karir lo sekarang udah cemerlang, lo harus buka diri dan mencari mangsa buat calon jodoh lo ntar," Danisha memberi saran.

"Sekali-sekali lo harus cobain ONS dong, Cla! Nikmatnya tiada tara. Apalagi kalo lo dapet yang bule, mantep banget! Tapi inget cari yang TAJIR!" tegas Grenda.

"Saran kalian semua gue tolak. Ogahhhh ...! Gue gak mau cari mangsa apalah itu apalagi ngelakuin sex before married, hell no..." tolak Clarista mentah-mentah.

"Pemikiran lo cupu dan cetek banget tau gak," ejek Grenda

Clarista hanya mengedikkan bahunya santai, seolah ejekan dari Grenda merupakan hal yang sudah sangat biasa ia dengar.

******

Jangan lupa tinggalin jejak kalian yah

Bab 3

Sinar hangat Matahari pagi mengintip dari celah gorden. Clarista berjalan menuju jendela apartemen dan membukanya, seketika udara sejuk menyapa wajahnya. Cuaca pagi ini benar-benar membuat mood Clarista sangat baik.

Kaki jenjangnya berjalan menuju tempat favorit ketiga selain tempat tidur dan ruang kerja, sekaligus tempat bereksperimen tentang makanan tertentunya. Pagi ini perut sudah lapar minta diisi sehingga Clarista memutuskan untuk membuat makanan simple sebagai menu breakfast-nya yaitu omelet dan segelas susu.

Hari ini ia berencana untuk bertemu langsung dengan salah satu kliennya, yang kemarin kabarnya memilih untuk pulang karena tidak mau jika tidak bertemu langsung dengan Clarista It's ok! Customer adalah Raja atau pun Ratu. Lagi pula, seharian ini Clarista akan menyibukan diri untuk mengecek pekerjaan gaun-gaun pesanan semua kliennya yang hampuir mendekati hari H pengambilan.

"Pagi, Mbak Cla?" sapa salah satu di pegawai butiknya.

Clarista menganggukkan kepala dan menebar senyum terbaik miliknya, kepada semua pekerjanya yang ada dibutik. Lalu berjalan menghampiri Asisten pribadi kepercayaannya.

"Kinan, kemarin katanya ada klien yang bikin janji sama gue ya?" tanya Cla pada asisten pribadi yang bernama Kinanti.

"Eh, mbak Cla. Iya, Mbak. Dia kemarin kesini terus sempet ngobrol sebentar, tapi dia nggak mau ngomongin detail gaunnya kalo nggak sama Mbak Cla," jelas Kinanti, menyodorkan buku agenda milik Clarista.

"Oh gitu, jadi jam berapa dia mau kesini?" tanya Clarista sambil membolak balik buku agenda yang baru saja diberikan Kinan padanya.

"Jam sepuluh deh, Mbak. Dia itu model Internasional loh, Mbak. Aku juga kaget pas dia kemarin kesini. Berasa kayak pernah liat mukanya di majalah atau di TV. Eh, nggak taunya beneran. Ternyata dia itu model yang suka di majalah fashion itu, Mbak. Tapi lupa deh siapa namanya," jelas Kinanti panjang lebar.

"Ohhh ... Ya, udah deh. Terserah siapa dia. Eh, iya. Gimana progress gaun milik Danisha? Udah disiapin belum? Soalnya nanti siang dia mau fitting," kata Clarista mengingatkan Kinanti.

"Kayaknya udah deh, Mbak. Nanda yang siapin gaun itu," ucap Kinanti.

"Oh... Oke deh. Ya, udah gue ke atas dulu. Mau cek bahan sama pesanan semua klien. Nanti kalo model itu datang, lo kasih tau aja," ucap Clarista sembari melenggang menuju lantai atas.

Danisha memang punya selera fashion sedikit diatas normal. Kalau biasanya orang mau menikah menginginkan gaun yang terlihat elegan dan glamor, tapi Danisha malah minta dibuatkan gaun yang full flower. Dan Clarista merasa takut sahabatnya itu tidak suka dengan gaun yang ia buatkan.

Padahal Clarista termasuk fashion desainer yang hobi membuat gaun dengan motif flower, tapi ia tetap tidak percaya diri ketika harus membuatkan gaun untuk sahabat sendiri.

Beberapa gaun sudah dipersiapkan, Clarista banyak turun tangan langsung dalam membantu memeriksa dan packing.

"Mbak Cla, tamunya udah datang. Sekarang ada di ruang kerjanya, Mbak," ucap Kinan dan Cla hanya mengancungkan jempol ke arah sang asisten.

"Hai, maaf menunggu,"sapa Clarista ramah pada wanita berambut blonde, tinggi semampai, bertubuh proporsional dan juga cantik sedang duduk di sofa yang ada diruang kerja Cla.

"It's okay, Dear," jawabnya santai.

"Kenalkan, aku Clarista Salsabilla Biantoro. Biasa dipanggil Cla," sang desainer memperkenalkan diri.

"Hai, aku Vistania Joseph. Panggil aja Tania," jawabnya ramah.

"Kita ngobrol santai aja, ya? Jadi apa yang bisa aku bantu buat kamu?" tanya Clarista pada Tania.

"Sebelumnya aku mau minta maaf. Kemarin aku sempat kesini dan ketemu sama pegawai kamu, but aku nggak mau. Aku mau ngomong sama kamu langsung. It's okay, kan? Kamu nggak terganggu, kan?" ujar Tania, membuat Clarista terkekeh pelan. 

Ia berjalan menuju lemari es untuk mengambil beberapa softdrink dan gelas untuk dirinya sendiri dan Tania.

"It's okay. Kemarin aku ada janji ketemu sama sahabatku, jadi nggak ada dikantor dan aku malah senang kalo kamu mau ketemu langsung. Aku tersanjung model Internasional kayak kamu mau ngobrol langsung sama aku. Mari diminum," jawab Clarista.

"Thank you, Cla. Jadi gini, aku mau bikin gaun yang warnanya itu campuran pastel dan warna-warna lembut lainnya jadi kayak rainbow but soft colour. Gaun buat pertunangan aku," kata Tania mulai menjabarkan Gaun impiannya pada Clarista.

"Wowww ...! Congratulations, Darl. Semoga lancar acara pertunangannya. Oke, kamu ceritain aja detail seperti apa yang kamu mau. Aku sambil bikin sketsanya, ya?" kata Clarista siap dengan pensil serta buku di hadapannya sambil mendengarkan semua kalimat yang dilontarkan Tania.

Dua jam berlalu. Tania dan Cla menghabiskan waktu diruang kerjanya. Cla harus mengulang dua kali menggambar sketsa gaun milik Tania, karena dia kurang puas dengan hasil yang pertama.

Pintu ruang kerja Cla diketuk pelan. Membuat Cla dan Tania sontak menoleh secara spontan ke arah pintu yang perlahan pintu itu terbuka. Sosok pria bertubuh tegap, memakai blazer biru dongker, dengan kemeja dalaman biru tua celana senada dengan blazer, sepatu mengkilap yang harganya cukup mahal menurut Cla sedang berdiri menatap mereka berdua sambil memegangi gagang pintu.

Jangan lupakan wajahnya, ya Tuhannn ...Tampan! No, Lebih dari tampan. But, Cla seperti kenal dengannya. Wajah yang sama sekali tidak asing di mata Cla. Tapi entahlah, sepertinya pria ini adalah tunangan Tania.

"Excuse me, apa aku ganggu kalian?" tanyanya dengan suara berat.

Tania tersenyum senang melihatnya, terlihat sekali binar kebahagiaan di mata mereka berdua.

Oh, shit! Tuhan begitu baik pada mereka. Dua-duanya tampak serasi. Yang satu cantik dan seorang model. Lalu yang satu lagi pria tampan luar biasa.

Tania berdiri menghampiri pria itu dan menggandengnya mendekati tempat duduk Cla.

"Hai, Cla. Kenalin ini Augfar Andrean. Kamu bisa panggil dia Augfar atau Dean. So, ini Cla. Dia desainer yang bikin gaun aku," ucap Tania memperkenalkan Cla pada pria tampan yang bernama Augfar Andrean, nama yang cukup familiar ditelinga Cla.

"Halo, aku Augfar. Salam kenal, Cla," ucap pria itu dengan suara berat dan tangannya terlalu erat untuk menjabat tangan Cla, bahkan tatapannya tidak bisa Cla jabarkan ketika menatapnya intens.

"Salam kenal juga. Aku Cla," balas Cla dengan tangan yang masih berada di genggamannya.

Tania berdehem dan itu membuat Cla seketika kikuk namun tidak dengan Augfar, dia terlihat biasa saja.

Cla berdeham pelan, menetralkan detak jantung serta suaranya yang mendadak hilang. Bagaimana mungkin Cla menyukai pasangan kliennya sendiri. Ini tidak waras. 

Namun, akhirnya Cla mempersilakan Augfar untuk duduk dan mereka melanjutkan perbincangan mengenai gaun pertunangan milik Tania.

"Aku akan menyelesaikan gaun ini kurang lebih dua minggu. Kalo sudah siap untuk di fitting, pegawaiku akan menghubungi kamu," ucap Cla dengan menatap lurus ke arah Tania dan mengabaikan pandangan pria di sampingnya yang terus memandangi Cla tanpa henti.

"Baiklah kalo begitu. Aku percayakan ini semua ke kamu, Cla. Aku yakin kamu bisa bikin sesuai keinginanku. Aku suka sekali sama semua rancangan kamu, makanya aku pilih kamu buat nangani gaun aku," ucap Tania sungguh-sungguh.

"Kamu bikin aku tersanjung. Makasih atas kepercayaannya. Aku pastiin kamu bakal suka sama gaunnya," balas Cla pada Tania.

"Kalo gitu aku sama Dean pulang dulu. Kamu bisa hubungi aku langsung kalo ada apa-apa," ucap Tania berpamitan dengan Cla.

Setelah mengecup pipi kanan kiri, Tania keluar ruangan Cla terlebih dahulu dan disusul oleh pria itu dari belakang. Namun, tanpa sepengetahuan Tania, tunangannya itu mengecup pipi Cla cepat.

"Sampai ketemu lagi, Tata," bisik Augfar sebelum berlalu dari hadapan Cla dengan senyum smirk di bibirnya.

Dan Cla hanya diam mematung, karena shock akan perbuatannya barusan, "Dasar playboy kurang ajar!You are jerk!" umpat Cla kesal. Cla menutup pintu ruangannya dengan cukup kencang, meluapkan emosinya.

"Halo, Kinan!" sapa Danisha pada asisten pribadi Clarista.

"Eh, Mbak Dani. Apa kabar, Mbak? Ciyeee ... Yang mau married," ledek Kinanti yang sudah akrab dengan Danisha.

"Baik. Makasih, ya? Eh, bos lo ada nggak?" tanya Danisha.

"Mbak Cla ada kok, Mbak. Habis ketemu klien sampe sekarang mbak Cla nggak keluar-keluar. Makan siang aja cuma diruangannya," jelas kinanti.

"Tumben banget bos lo diem di tempat. Biasanya ke mana-mana," kekeh Danisha.

"Mbak Dani bisa aja. Nggak tau tuh, Mbak. Sepulang klien cantik dan ganteng tadi, nggak tau kenapa mood Mbak Clarista berubah jelek," curhat Kinanti.

"Sawan kali ya, Nan. Ya, udah deh. Gue masuk dulu, ya? Mau liat bos lo. Siapa tau dia lagi kejang-kejang di dalam," ucap Danisha sambil tertawa renyah dan ditanggapi oleh Kinan begitu juga.

"Halo, sayangnya gue," sapa Danisha ketika buka pintu ruang kerja Cla.

"Egh! Hai, Darling! Masuk sini," Cla mencoba terlihat antusias pada Danisha.

"Sibuk banget lo. Kayaknya kegagalannya udah jauh banget, ya?" sindir Danisha yang ternyata memergoki aku sedang melamun.

"Sialan! Nggak dong. Biasa, suntuk gue," balas Cla.

"Jangan-jangan lo tadi lagi ngelamun jorok, ya? Lo jangan gesrek kayak Grenda yang jebol tiap malem, Cla. Apalagi ntar malem doi mau ketemu sama si Alex," ucap Danisha yang selalu blak-blakan.

"Anjir! Apa beda sama lo? Kuda-kudaan mulu sama si Dima," sindir Cla balik.

"Damn you!" umpat Danisha yang membuat Cla terkekeh.

"By the way, tumben lo ga mondar-mandir, sibuk sana sini kayak biasanya?" tanya Danisha.

"Nggak kenapa-napa. Eh, lo pernah denger nama Augfar Andrean nggak sih, Dan? Gue kok kayak familiar banget ya sama nama itu?" tanya Cla penasaran.

Danisha termasuk orang yang kenal dengan makhluk-makhluk populer di dunia ini.

"What! Maksud lo, Andrean Augfar Davinci?" tanya Danisha dan dijawab Cla dengan gedikan bahu.

"Masa lo nggak kenal?" histeris Danisha.

"Yeee ... Kalo gue kenal mah, gue nggak nanya lo bego!" sebal Cla pada Danisha.

"Calm, Babe! Augfar Andrean itu temen SMA kita dan doi itu ketua geng most wanted. Dia itu sohibnya pria brengsek yang gue tabok waktu tragedi aula waktu itu. You know what I mean, Darl?" jelas Danisha.

"Anjir! Lo serius? Itu Andrean yang ganteng parah di SMA kita?" tanya Cla memastikan.

"Yes, Darl.Setau gue nama Augfar Andrea yang ganteng gak ketolongan yah dia doang. Doi sekarang jadi CEO Davinci Corp. Masuk jajaran pria hot yang kaya raya dan seperti yang lalu, gosip manusia es. Pria terdingin nggak bisa hilang gitu aja dari doi," jelas Danisha lagi yang hanya Cla tanggapi dengan anggukan kecil.

"By the way, kenapa lo tiba-tiba nanyai tentang doi? Lo naksir doi, ya?" ledek Dani lagi.

"Gila lo, ya! Temennya aja nolak gue, apalagi dia? Lagian dia juga udah punya tunangan," jawab Cla dengan mengibaskan tangannya.

"Hah? Seriously? Doi udah tunangan? Yakin lo?" tanya Danisha shock.

Cla menganggukkan kepala sembari mengiyakan pertanyaannya.

"Tadi dia ke sini sama tunangannya. Model berkelas internasional dan dia minta gue buat bikinin gaun tunangan mereka."

"Hah! Gue masih nggak percaya kalo dia tunangan. Masa sih? Perasaan dia itu single alias jomlo loh. Kenapa tiba-tiba dia tunangan?" tanya Danisha.

Cla lagi-lagi hanya mengedikan bahu tanda tidak peduli. Meskipun masih tersisa rasa penasaran cukup besar atas tindakan yang dilakukan Augfar Andrean itu padanya tadi.

"Yuk, ke atas. Kita fitting baju lo. Gue harap lo suka sama gaun gue ini," ajak Cla pada Danisha, mencoba menepis pemikiran tentang pria itu.

"Oh, oke. Ayo. Gue nggak sabar liat gaunnya."

Mereka berdua berjalan menuju lantai tiga, karena semua koleksi gaun Cla tersimpan rapi di sana termasuk milik sahabat Danisha.

"Sumpah, Cla! Ini keren gilaaa ... Gue suka banget!" pekik Danisha, yang membuat Cla sontak tersenyum bahagia.

Cla bahagia jika pada akhirnya Danisha menyukai hasil karyanya. Tidak sampai disitu saja, Cla memberikan kejutan spesial sebagai kado untuk pernikahan Danisha dan Dima beberapa bulan lagi. 

"Dan, gue punya satu kado buat wedding kalian berdua. Terkhusus buat lo, sahabat terbaik gue," ucap Cla.

Cla melangkah kesalah satu lemari yang berisikan koleksi gaun yang telah selesai ia buat.

"This is special for you, Dear!" ucap Cla yang langsung mendapat serangan pelukan erat dari Danisha.

"Gue suka! Makasih banyak, Sayang! Kado lo luar biasa. Lo juga yang terbaik!" Pelukan erat Danisha terasa begitu hangat, sehangat persahabatan mereka sedari dulu.

♥ ♥ ♥ ♥ ♥

Bahagia itu tidak cuma harus dengan pasangan. Namun dengan sahabat, pun akan terasa luar biasa.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED