Orang tua merupakan orang yang sangat berjasa dalam kehidupan seseorang , Orang tua merupakan orang yang dihormati dan dihargai dalam kehidupan sehari-hari. Umumnya, orang tua memiliki peranan yang sangat penting dalam membesarkan anak, betapa bahagianya seseorang anak yang dapat merasakan kasih sayang dari orangtua kandungnya.
Sangat di sayangkan, masih banyak orangtua yang tak bisa merawat anaknya, melihat tumbuh kembang mereka dan menjadi dewasa tanpa peranan langsung dari orangtua kandungnya. Salah satu anak yang kurang beruntung adalah Rayhan Saga Febriano.
Remaja yang saat ini berusia 14 tahun itu, selalu merasakan kerinduan yang amat besar kepada orangtuanya yang tak pernah datang untuk menjenguk dirinya. Sedari bayi, Rayhan memanglah tidak di rawat oleh orangtua kandungnya melainkan ia di titipkan kepada paman dan bibinya. Alasan di balik itu semua tak pernah Rayhan ketahui.
Di pagi hari yang cerah ini, Rayhan masih bergelung di dalam selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Seakan tak terganggu dengan cahaya matahari yang menerobos masuk melalui sela-sela jendela kamarnya. Karena terlalu kelelahan ia tak menyadari jika sang mentari sudah menunjukkan sinarnya.
Mata anak itu tampak bengkak, akibat menangis karena di ejek oleh teman-temannya. Alasannya tak pernah berubah, karena mereka belum pernah melihat kehadiran orangtua Rayhan, mereka berfikir Rayhan adalah anak yang di buang.
Ceklek.
Suara pintu yang terdorong dari luar, tak menganggu Rayhan dalam tidurnya yang begitu nyenyak. Wanita parah baya bergerak untuk mendekati kasur Rayhan, deru nafas terdengar cukup keras. Megan, bibi dari Rayhan itu menatap lekat keponakannya. Raut lelah terlihat jelas dari wajah tampaknya, ada perasaan nyeri yang timbul di dalam hatinya saat ia melihat anak itu. Anak tak berdosa yang harus berpisah dari orangtuanya karena suatu alasan.
“Ray bangun nak,” panggilan bernada lembut itu tak mengusik Rayhan.
“Ray, kamu udah hampir telat loh,” Megan menepuk pelan bahu anak itu, berharap kali ini Rayhan dapat segera bangun. Namun respon Rayhan hanya menggerakkan tubuhnya sedikit namun tak membuka matanya.
Megan menghela nafas lelah. Saat seperti ini ia harus memiliki stok kesabaran yang banyak. Perilaku Rayhan tak beda jauh dengan anak keduanya, sama-sama menguji nyali.
“Kalau kmu gak bangun sekarang. Rafa dan Rafi bakal tinggalin kamu,” ancaman dari Megan, sukses membuat Rayhan membuka matanya. Dengan nyawa yang masih setengah itu, ia terduduk dengan lesu.
Ia tersenyum kecil melihat wajah Megan yang tampak menahan lelah dan kekesalan. Rayhan belum menyadari jika matahari sudah meninggi.
“Good morning, aunty,” Rayhan berucap manis.
“Good morning too, keponakan aunty,” balas Megan “Gimana tidurnya, nyenyak?”
“Nyenyak banget tante. Sampai sampai Rayhan seperti tak ingin meninggalkan mimpi itu,” balas Rayhan. Ia memimpikan keluarga kecil yang bahagia, sangat di sayangkan karena harus terbangun lebih awal.
“Pantes aja, dari tadi gak mau bangun-bangun, emangnya kamu mimpi apa?” Megan bertanya dengan rasa penasaran yang membucah dalam hatinya.
“Rayhan tadi tuh, mimpi ket-“
Belum sempat Rayhan menyelesaikan ucapannya, tiba tiba ia membelalakan matanya dengan perasaan panik. Tak sengaja, indera penglihatannya itu melihat jam sudah menunjukkan pukul 07.00 Pagi. Tentu Rayhan panik. Ia akan terlambat, lebih tepatnya sekarang sudah terlambat.
“HAH? SUDAH JAM TUJUH!” teriak Rayhan tanpa sadar. Suara yang melengking itu, membuat Megan tanpa sadar menutup kedua telinganya.
“Ray kalau kaget, ya kaget aja. Tapi jangan buat telinga tante tiba-tiba tuli ni,” protes Megan dengan perasaan yang masih terkejut.
“Kok tante gak bangunin Ray, sih. Sekarang Ray telat!” Rayhan balik menyalahkan Megan. Matanya sudah berkaca-kaca siap mengeluarkan air matanya yang akan membuat hati Megan luluh.
“Loh? Kenapa malah nyalahin tante,” Megan tak terima di tuduh. Kan ini juga kesalahan dari Rayhan sendiri.
“Karena tante gak bangunin Ray,” rengek Rayhan seperti anak berumur lima tahun.
“Tante udah dari tadi loh bolak balik bangunin kamu, tapi kamu tidurnya nyenyak banget sampe gak ngerasa saat tante bangunin,” kata Megan tak ingin di salahkan. Karen faktanya, ia sudah membangunkan Rayhan dari jam 6 pagi tadi.
Rayhan menundukkan wajahnya.
“Rayhan udah terlambat,” gumamnya lirih.
“Siapa yang bilang telat, gak kok, ini baru jam 7. Mending kamu cepetan mandi terus turun. Nanti kalau kama bakal makin telat, tante gak mau ya Rayhan bolos,” ujar Megan sambil berjalan ke arah pintu. Ia harus memastikan Rafa dan Rafi belum berangkat ke sekolah. Karena jika Rayhan di tinggal sudah di pastikan anak itu akan mengamuk.
Megan berjalan ke meja makan. Di situ sudah kepala keluarga dan juga kedua remaja kembar yang sedang menikmati sarapan pagi. Niatnya tadi ingin menunggu Rayhan dulu, namun karena terlalu lama akhirnya mereka sarapan duluan.
“Rayhan mana ma?” tanya Rafa saat menyadari kehadiran Megan.
“Baru mandi. Kalian tungguin Rayhan,” lontar Megan.
Ia hanya duduk di meja makan menunggu Rayhan. Mereka bertiga sudah selesai sarapan, tinggal Megan dan Rayhan.
“Ih kok baru mandi sih ma. Nanti kita akan di hukum di sekolah. Rafi gak mau ya, sampai di hukum gara-gara telat,” protes Rafi kesal. Ia sudah keseringan di hukum, dan tidak bisakah untuk hari ini saja, ia tak mendapatkan hukuman itu.
“Gak usah banyak protes. Hukuman kan sudah jadi kewajiban buat lo,” timpal Raka dengan wajah datar khasnya.
“Anj-“
“Rafi, jangan bicara kasar!” tegur Bima. Rafi hanya bisa menundukkan wajahnya, nyali menciut jika di hadapan ayahnya itu.
Tak lama, terdengar suara langkah kaki yang terdengar menuruni tangga, lebih tepatnya sedang berlari. Letak tangga dari dapur dan raung makan memang dekat. Sehingga mereka dapat mendengar suara langkah kaki itu semakin jelas.
Rayhan datang dengan terburu-buru menghampiri mereka.
“pagi om, tante. Kak Rafa, kak Rafi,” Rayhan menyapa satu persatu anggota keluarganya.
“Pagi jagoan,” balas Bima.
“Pagi juga kesayangan aunty,” ujar Megan langsung mendapat delikan tajam dari Rafi.
“Lama amat lo, mimpi apaan sih, sampai jam tujuh masih molor?” tanya Rafi.
“Kak Rafi gak usah tau. Intinya, Rayhan mimpi indah banget,” ujar Rayhan dengan tersenyum manis.
“Oh, sekarang gitu ya. Main rahasia-rahasiaan,” Rafi ngambek ceritanya.
“Ih gak gitu. Ini kan urusan pribadi jadi harus di privasi,” jawaban dati Rayhan justru membuat Rafi semakin ngambek.
“Terserah lo,” balas Rafi cuek.
“Masih mau ngobrol atau berangkat?” Rafa berjalan mendahului mereka. Jika di biarkan anak itu berdebat tak akan selesai sampai jam pulang sekolah. Dan terpaksalah Rayhan dan Rafi berlari menyusul Rafa. Takutnya mereka malah di tinggal.
“Ray, kenapa tuh sepupu lo,” Rafi bertanya heran mengenai Rafa yang begitu cuek dan terkesan kaku.
“Kembaran lo kali, kak,” balas Rayhan.
“Bukan kembaran gue,” Rafi berujar polos.
“OM, TAN. RAY BERANGKAT!” Rayhan berteriak, karena ia sampai kelupaan untuk pamit kepada mereka.
“KAMU BELUM SARAPAN, RAY!” Megan balas beberteriak.
“DISEKOLAH AJA MA!” bukan Rayhan yang menjawab namun Rafi, ia kini menyeret Rayhan keluar dari rumah.
Sesampainya disekolah, pintu gerbang sekolah telah tertutup. Hal yang wajar karena jam telah menunjukkan angka delapan pagi. Rafa, Rafi serta Rayhan hanya dapat meratapi nasib jika seandainya mereka akan di hukum. Rafi dengan tampak lesu berdiri di depan gerbang, ia memanggil salah satu satpam yang bertugas menjaga gerbang sekolah.
Tadinya, Rafi menyarankan untuk membolos saja, tetapi langsung di bantah oleh Rafa. “Lebih baik di hukum, daripada bolos,” begitulah perkataan Rafa yang membuat Rafi jengkel setengah mati.
“Pak, bukain lah gerbangnya,” Rafi berucap memelas pada pak Joko, satpam sekolah.
“Aduh. Maafkan saya den Rafi, saya gak punya kewenangan untuk membukakan pintu bagi murid-murid yang datang terlambat,” Pak Joko berkata dengan perasaan bersalah.
“Ayolah pak, saya gak mau kena hukuman lagi,” Rafi memohon dengan menunjukkan puppy eyes andalannya.
Pak Joko terlihat iba, tetapi aturan tetaplah aturan yang harus do taati oleh siapa pun. Jadi yang bisa pak Joko lakukan hanya meminta maaf tak bisa menuruti permintaan Rafi.
“Masa bapak tega sih, kalo misalkan anak tertampan di sekolah ini harus dihukum pagi pagi gini,” ucap Rafi dengan kepercayaan dirinya yang sudah setinggi langit. Rafa dan Rayhan hanya diam, sudah biasa mereka melihat Rafi yang terlalu percaya diri itu.
“Sekali lagi, saya minta maaf den. Saya gak bisa,” pak Joko berkata untuk kesekian kalinya.
“Pak please sebelum guru killer itu datang, terus ia ngehukum kita loh pak, bapak tau kan bu Julia itu galak banget dan sialnya dia malah jadi wali kelas kita, ayolah pak bantu saya kali ini aja,” bujuk Rafi belum menyerah.
Ia sudah lelah dihukum hampir setiap hari. Alasannya karena terlambat, bolos pelajaran atau pun karena Rafi yang begitu menjengkelkan sehingga membuat bu Julia marah padanya.
“Ngapain ngomongin saya!” kata seseorang berdiri di belakang mereka. Ia menatap punggung mereka bertiga yang sedang menghadap ke gerbang. Dengan berkacak pinggang dan juga tatapan tajam ia berikan pada murid yang berani membicarakannya. Dari punggungnya saja, bu Julia hafal kalau itu adalah Rafi, murid yang selalu saja membuat menghabisi stok kesabarannya
“Eh ibu Julia, baru datang bu,” kata Rafi dengan senyum yang begitu di paksakan. Rautnya yang tadi kesal, kini menampilkan senyuman paling manis miliknya. Namun di dalam hatinya, ia merutuki mulutnya yang tidak bisa dijaga.
“Kalian terlambat yah?” Tanyanya pada mereka bertiga. Rayhan menundukkan kepalanya takut. Tatapan tajam dan menginterogasi dari guru itu membuat mereka tak mampu menjawab, kecuali Rafi tentu saja.
“Emm itu bu, kita cuma telat datang aja,” elak Rafi. Rafa yang berdiri di samping Rafi menginjak sebelah kakinya sebagai peringatan.
“AKH. SAKIT TAU!” teriak Rafi.
"Hah? Apa!" tanya bu Julia tak terlalu mendengar ucapan Rafi.
“Telat dikiiiiiit, aja,” ujar Rafi dengan tampang sok polos, berharap bu Julia akan iba dan membiarkan mereka masuk tanpa mendapat hukuman.
Rayhan menepuk dahinya sendiri. Tak habis pikir mengapa bisa ia memiliki sepupu bego dan gak punya otak kayak Rafi. Untung saja Rafi memiliki wajah yang lumayan tampan.
“Ikut saya sekarang!” perintah bu Julia. “Pak Joko, tolong buka pintunya.”
“Siap bu,” pak Joko dengan sigap membuka gerbang.
“Mau kemana Bu? Mau beliin makanan yah? Kalo beli makanan Rafi ikut Bu,” sela Rafi saat gerbang sudah di buka oleh pak Joko. Ia dengan semangat melangkah masuk. Berharap bu Julia saat ini sedang berbaik hati.
“Saya akan hukum kalian, berdiri di lapangan sekolah dengan posisi hormat pada bendera,” ucap nya tak bisa di bantah.
Rafi yang mendengar kata-kata bu Julia langsung syok dan panik. Ingin kabur tapi gak bisa. Gimana dong? Ia sedang memikirkan cara agar bisa lolos dari hukuman ini.
“Bu jangan deh, perut saya tiba tiba sakit nih,” ucap Rafi pura pura sakit perut. Di tambah ekspresi wajah yang dibuat sesakit mungkin, agar bu Julia percaya.
“Jangan mencoba buat membohongi saya Rafi!” ucap bu Julia menahan marah “mau hukuman kamu saya tambah?”
Bu Julia memang sudah kebal dengan trik yang di berikan oleh Rafi. Anak itu ketika akan di hukum akan memberikan alasannya.
“Janganlah bu, saya gak bohong. Perut saya benar benar sakit,” kata Rafi dengan mimik wajah yang di buat semakin kesakitan.
“Saya gak peduli, kalian bertiga ke lapangan sekarang. Sampai jam kedua berakhir baru kalian boleh beristirahat,” kata bu Julia tak ingin di bantah.
Rayhan dan Rafa langsung pergi kelapangan tanpa protes berbeda dengan Rafi yang masih berdiam diri di tepi lapangan. Ia tentu masih ingin protes meski tahu bu Julia tak akan luluh dengan bujuk rayuannya itu.
“Ngapain kamu masih berdiri disitu,” ujar bu Julia menatap Rafi yang enggan menyusul Rafa dan Rayhan yang berjalan menuju lapangan.
“Bu tolong, saya gak mau dihukum. Sudah sering bu saya di jemur. Untuk kali ini, tolonglah bu mereka berdua, saya juga lelah bu di jemur terus. Emang ibu tega jika misalkan saya gosong,” bujuk Rafi dengan panjang lebar.
Bu Julia hanya menghela nafas lelah. Hal yang sudah biasa menghadapi Rafi yang keras kepala dan nakal itu.
“Rafi jangan buat saya marah, cepat kelapangan atau saya tambah hukuman buat kamu,” kata bu julia yang mulai kesal.
Melihat amarah yang akan meledak, Rafi tak ada pilihan lain selain menjalani hukumannya.
“Ehh iya Bu, jangan marah dong nanti gak cantik lagi loh.”
“RAFI!” Bentak Bu Julia tak tahan dengan muridnya yang satu ini.
“Hehehe, iya bu saya ke lapangan dulu,” kekeh Rafi dan langsung berlari ke lapangan.
Sabar. Punya murid seperti Rafi memang harus banyak sabar. Untung saja murid seperti Rafi hanya ada satu di sekolah ini. Rafa, saudara kembarnya sangat berbanding terbalik dengan perilaku Rafi.
Rafi segera menghampiri kedua saudaranya yang sudah lebih dulu mengambil posisi, menghadap bendera. Ia dengan malas berdiri di samping Rayhan. Sambil mempoutkan bibirnya, Rafi memberikan hormat pada bendera merah putih, kebangsaan Indonesia.
“Lama banget lo,” tegur Rafa yang melihat ekspresi kesal Rafi. Sudah di tebak jika Rafi datang dengan perasaan kesal, maka ia belum bisa meluluhkan hati bu Julia yang sekeras batu.
“Tadi gue rayu dulu tuh guru gendut tapi gak berhasil,” jawab Rafi.
Seketika kecewa karena hal sekecil ini tak dapat Rafi lakukan, padahal dia kan raja gombal. Banyak gadis-gadis yang mengantri ingin mendengar gombalan darinya, tapi meluluhkan hati guru killer ternyata sangat sulit.
Untung saja, pelajaran saat ini sedang berlangsung, jadi Rafi tak perlu malu karena kembali di hukum. Meskipun sebagain murid telah melihatnya yang sudah menjadi langganan guru BK.
Mereka bertiga menjalankan hukumannya dalam diam kecuali dengan Rafi yang tak berhenti bicara, membuat mereka yang menjadi pendengar ingin sekali membungkam mulutnya dengan Plester saking kesalnya. Siapa yang tak kesal, di situasi sekarang, anak itu masih bisa bercanda dan membicarakan hal-hal lucu yang sama sekali tak sesuai dengan selera humor Rafa dan Rayhan.
“Woi kok kalian berdua diam aja sih,” Rafi mulai protes karena ocehannya sedari tadi tak ditanggapi. Ia sudah seperti orang sinting yang berbicara sendiri tanpa ada lawan bicara.
“Lo berdua kok.jahat banget sih!”
Rayhan maupun Rafa hanya diam. Menganggap ocehan Rafi hanya angin lalu, terlalu malas menanggapinya saat keringat terus membasahi pelipis mereka. Udara saat ini sangatlah tak bersahabat, sangat panas.
“Tau ah gue kesel sama kalian,”kata Rafi pura pura ngambek. Ia berjalan sedikit menjauh dari mereka berdua.
“Cih elah gitu aja ngambek lo,” cibir Rafa.
“Biarin,” balas Rafi masih mode ngambek. Ia bahkan enggan menatap mereka berdua.
Rafa tak peduli. Ia menatap.ke arah Rayhan yang sedari tadi tak mengeluarkan sepatah katapun.
“Eh Ray kok wajah Lo Pucat sih,” tanya Rafa saat tak sengaja ia melihat wajah sepupunya yang pucat. Rasa khawatir langsung ia rasakan, tak tega melihat Rayhan yang begitu pucat karena kelelahan.
“Gue gak papa,” jawab Rayhan masih setia hormat pada bendera. Ia menguatkan dirimu sendiri, tak ingin lemah di hadapan mereka.
“Fi, sini deh!” panggil Rafa.
“Lo ngambeknya tunda aja dulu. Ini wajah Rayhan pucat.”
Ucapan dari Rafa membuat ia segera menghampiri mereka berdua. Dan saat telah sampai dapat dilihatnya wajah itu sangat kelelahan dan juga pucat.
“Anjir. Kok Gue bisa lupa sih, Lo kan gak sarapan tadi,” pekik Rafi ikutan panik. Ia merutuki dirinya yang langsung menarik Rayhan tanpa memikirkan jika Rayhan memiliki penyakit maag.
“Gue gak papa kak,” ucap Rayhan mencoba meyakinkan mereka. Suaranya terdengar lemah jadi Rafi tak akan percaya dengan ucapan Rayhan.
“Mending sekarang kita ke kantin,” ajak Rafi, ia tahu meskipun rayhan mengatakan. baik baik saja. Namun anak itu sedang tak baik baik saja.
“Kita lagi dihukum loh,” kata Rafa memperingati, meskipun sebenarnya ia juga sama khawatirnya dengan Rafi.
“Emang Lo gak kasihan sama Ray. Gimana kalo seandainya dia pingsan terus siapa yang bakal gendong dia, gue gak mau yah,” kata Rafii yang maksud nya tak ingin direpotkan. Namun itu hanya lah perkataan saja, asli nya ia akan berbuat apa pun demi rayhan, sepupu nya yang begitu ia sayang.
“Gue beneran gak papa,”ucap Rayhan tak ingin di khawatirkan. Entah kenapa mereka selalu saja memiliki sikap over protective padanya. Sakit sedikit saja, membuat mereka begitu panik dan khawatir.
“Gak percaya gue sama loh Ray, yuk buruan ke kantin,” potong Rafi enggan mempercayai omongan Rayhan.
“Jangan jangan elu kali yang pengen ke kantin,” tebak Rafa melihat Rafi yang begitu semangat ingin pergi ke kantin. Seharusnya orang sakit, di bawa ke UKS, ini malah ke kantin. Meskipun tak sepenuhnya salah, tetapi Rafi memiliki tujuan yang berbeda.
“Yaps benar sekali brother,” jawab Rafi dengan senyum tak berdosa nya.
“Tapi kak gue takut dimarahi sama bu Julia,” kata Rayhan.
“Udah Lo tenang aja, gue yang bakal tanggung semuanya. Si guru gendut itu gak bakalan marahin Lo,”kata Rafi sok berani. Padahal nyali nya menciut saat di hadapan bu Julia.
“Emang Lo gak takut sama bu Julia,” tantang Rafi.
“Yahh takut sih. Cuman kan demi adek kesayangan gue apa pun bakal gue lakuin termasuk ngelawan bu Julia,”ucap Rafii dengan begitu yakin.
“Gak usah ngelawan juga kali, gak sopan Lo.”
“Iya deh maaf.”
Dan akhirnya mereka memutuskan untuk ke kantin. Masalah dimarahi itu tanggungjawab Rafi nantinya. Daripada Rayhan pingsan, dan mereka berdua yang akan di marahi oleh Bima dan Megan, jadi lebih baik melanggar hukuman aja.
Malam harinya, Rafi sekarang berada dikamar Rafa. Hal yang begitu jarang Rafa membiarkan Rafi menginjakkan kakinya ke dalam kamarnya.
“Eh tadi ada PR gak sih?” Tanya Rafi pada Rafa. Setelah acara kabur dari hukuman itu, Rafi di suruh membersihkan toilet sekolah sebagai hukumannya lagi. Hanya Rafi yang dihukum, Rafa dan Rayhan di biarkan untuk mengikuti pembelajaran.
“Ada,” jawab Rafa dengan singkat dan jelas.
“Seriusan? Gue liat ya punya lo,” pinta Rafi.
“Emangnya Lo siapa, kerjain sendiri sana,” kata Rafa ngegas tak ingin memberikan tugasnya.
“Pelit amat Lo sama kembaran sendiri,” Rafi kesal langsung melempar buku yang ia pegang. Hanya memegang, karena Rafi taj tertarik membaca buku.
“Keluar Lo dari kamar gue,” usir Rafa yang tak terima bukunya di lempar.
“Lo ngusir gue?”
“Iyalah. Kurang jelas. Ini kan kamar gue dan gak nerima orang yang gak punya akhlak kek lo,” balas Rafa tajam.
“Anj*ng lo, Rafa!”
“Buruan keluar, gue mau tidur.”
“Gue doain Lo gak bangun sekalian,” kata Rafi dan membanting keras pintu kamar Rafa.
Rafi yang kesal pergi ke ruang tamu dan melihat Rayhan yang tengah menonton kartun Upin Ipin kesukaannya. Jika Rafa tak ingin memberi jawaban, maka Rayhan lah satu-satunya harapannya kini.
“Wih bocah, masih nonton kek ginian,” ucap Rafi dan langsung duduk disamping Rayhan yang tampak tak peduli dengan kehadiran Rafi. Rafi sih sudah biasa di perlakukan seperti itu, bak anak tiri.
“Eh Ray gue minta PR Lo dong,” kata Rafi mencoba membujuk rayhan, kali aja rayhan mau berbagi padanya.
“PR? PR apaan?” tanya Rayhan bingung. Emang iya ada PR tadi, perasaan enggak deh.
“PR tadi, kata si Rafa ada,” kata Rafi memberitahu.
“Yaudah mending Lo liat aja punya kak Rafa,”balas Rayhan tak ingin ambil pusing.
“Pelit tuh anak, makanya gue minta sama Lo. Please,” mohon Rafi.
“Coba Lo cek di tas gue ada apa nggak.”
“Ok,” setelah mendapat izin Rafi segera berlari ke kamar Rayhan
Tak lama Rafi kembali dengan wajah masam. Ia duduk dengan kesal.
“Kenapa?” Tanya Rayhan pada Rafi yang wajahnya di tekuk.
“Gak ada PR nya,”jawab lesu Rafi. Ingin marah, tetapi ada mamanya di sini.
“Berarti lu dibohongi sama kak Rafa,” kata Rayhan tak mengalihkan matanya dari layar televisi padahal saat ini, sedang iklan.
“Sialan tuh si Rafa berani beraninya dia membohongi gue njir, ”kata Rafi dengan marah. Kesal dia sampai kelepasan mengumpat.
“Raf, jangan bicara kasar,” tegur Megan.
“Iya mah maaf, gak sengaja tadi,” elak Rafi.
“Kak Rafi sengaja tuh tan,” kompor rayhan, padangan nya masih tetap pada layar tv.
“Gak ma, si Ray bohong. Masa mama lebih percaya sama si Rayhan dari pada anak mama yang paling tampan ini.”
“Rafi bisa gak sih sehari aja kamu gak buat ulah,”ucap Megan lelah menghadapi perilaku putranya sendiri.
“Rafi gak buat ulah tuh hari ini, malahan si Rafa mah. Masa ia tega bohongin Rafi kalo tadi ada tugas tapi ternyata gak ada ma,” Rafi mengadukan Rafa.
“Itu sih karena lu doang yang gampang di kibulin kak.”
“Tuh mah, masa Ray bilang gitu,”adunya lagi pada Megan. Megan hanya diam tak menanggapi Rafi.
“Benar kan tante,” tanya Rayhan dan mendapat anggukan dari Megan.
“Sialan Lo cil. Awas aja ntar” gumam Rafi.
“Mending kalian berdua belajar aja deh, dikamar, di mana kek. Pusing mama dengar kalian ribut.”
“Rayhan ke kamar dulu yah mau belajar,” kata Rayhan sopan. Kebetulan kartun upin ipin nya telah selesai. Jadi lebih baik di kamar, belajar dengan tenang tanpa mendengar ocehan-ocehan dari Rafi.
“Eh gue ikut cil,” kata Rafi langsung mengikuti Rayhan naik ke lantai dua.
“Gak boleh. Kamar gue gak nerima tamu gak punya otak kayak lo, kak,” balas Rayhan tajam.
“Tega amat Lo sama kakak sendiri.”
“Gak peduli,” kata Rayhan langsung masuk ke kamar tak lupa mengunci pintu agar Rafi tak bisa masuk dan mengganggu dia yang ingin belajar.
See you next chap
4 April 2021