Bab 1

Nadhera berdebar-debar saat lelaki yang baru dinikahinya masuk ke kamar. Dia yang masih memakai baju pengantin duduk di ranjang dengan wajah tertunduk malu. Meskipun Nadhera sudah mempelajari Kitab Fathul Izhar yang membahas tentang perkawinan termasuk etika berhubungan suami istri tetap saja malam ini dia diliputi kegelisahan.

Sebagai perempuan yang tak pernah bersentuhanan dengan lelaki bahkan untuk berbicara dengan lawan jenis hampir tak pernah, Nadhera sangat menjaga batasan pergaulan dengan laki-laki yang bukan mahram. Kalaupun terpaksa berbicara, dia akan menundukkan pandangannya untuk menjaga hatinya. Dan malam ini perasaannya campur aduk.

Attar yang baru datang langsung melepas jas, menggantungnya di stand hanger. Tanpa ada rasa canggung dia buka kemejanya di depan Nadhera memperlihatkan dada bidangnya. Tak ada ucapan basa basi dari lelaki tampan itu. Dia terlihat asyik sendiri dengan siulannya.

Melihat Nadhera di ranjang dengan muka tertunduk malu, Attar langsung mendekati istrinya yang cantik itu. Dia lepaskan aksesoris yang menempel di hijab istrinya tanpa berkata sepatah apapun.

Jantung Nadhera berdegup kencang saat tak sengaja tangannya bersentuhan dengan tangan lelaki kekar yang otot-ototnya terlihat jelas. Sentuhan itu, meski hanya sekejap, mengirimkan gelombang kehangatan yang menjalar hingga ke ujung jari-jarinya.

Nadhera bisa merasakan kekuatan dan kehangatan dari tangan lelaki itu membuatnya sulit untuk mengalihkan pandangan. Aroma parfum Attar yang khas memenuhi udara saat Nadhera tak sengaja melihat tubuh kekar suaminya. Dia buru-buru berpaling, pipinya memerah karena belum terbiasa dengan pemandangan itu. Hatinya berdebar kencang, mencoba menenangkan diri dari kejutan yang tak terduga.

Melihat istrinya salah tingkah, Attar hanya tersenyum tipis. Dia dengan tenang membantu membuka resleting belakang gaun Nadhera, memperlihatkan sekilas kulitnya yang putih. Nadhera mencoba menenangkan diri dari rasa malu yang tiba-tiba muncul.

"Apakah secepat ini suaminya meminta haknya?" pikirnya dipenuhi banyak pertanyaan.

Tak mau semakin gemetar, Nadhera memberanikan diri membuka obrolan.

"Sebaiknya kita salat dulu sebelum melakukannya, Mas."

Attar yang mendengar istrinya bersuara tiba-tiba tertawa lebar.

"Apa katamu? Salat?"

Mendengar suaminya menertawakan dirinya, Nadhera tercengang. Dia tidak menyangka reaksinya seperti itu. Tidak ada yang salah dari perkataannya. Namun tawa Attar membuatnya merasa bingung dan sedikit tersinggung.

"Jangan harap aku menjamah tubuhmu. Pernikahan ini hanya sandiwara. Aku menikahimu karena terpaksa, bukan cinta. Sudah saatnya kau tahu kenyataan sebenarnya," jawan Attar dengan nada dingin.

Kata-kata itu menghantam Nadhera bagai petir di siang bolong. Hatinya terasa hancur, air mata mulai menggenang di sudut matanya. Kenyataan pahit itu membuatnya merasa terpuruk.

"Apa maksud ucapanmu, Mas? Aku tak mengerti," tanya Nadhera dengan suara bergetar, matanya mencari jawaban di wajah Attar.

"Kita hanya pasangan suami istri di atas kertas. Tapi kau jangan khawatir. Kau akan mendapatkan fasilitas mewah selama jadi istriku. Kau bebas mau melakukan apa saja. Asal jangan memintaku untuk memberikan hak sebagai suami."

Tubuh Nadhera lemas. Dia tak menyangka suaminya tega melakukan ini.

"Oh iya, kamu jangan salah sangka. Aku hanya membantumu membuka gaun pengantin agar memudahkanmu berganti pakaian, bukan karena aku tertarik ingin melakukannya denganmu," kata Attar tanpa basa-basi. Lalu pergi membanting pintu dengan keras meninggalkan istrinya sendirian.

Hati Nadhera semakin hancur mendengar penjelasan Attar. Dia menundukkan kepala, menumpahkan semua kesedihannya.

Bab 2

"Ibu sudah menerima perjodohan dari Umi Tatu. Secepatnya kamu akan bertemu dengan Attar putranya."

Nadhera yang sedang murojaah surat Al-Mu'minun tersentak kaget mendengar berita dari ibunya. Diletakkan mushaf Al-Qur'annya di atas ranjang. Lalu menghampiri ibunya yang berdiri di dekat pintu.

"Umi Tatu pemilik pondok pesantren Al Khalifi tempat Nadheera dulu belajar, Bu?"

"Iyaa. Kamu akan menikah dengan putranya yang kuliah di Jerman."

"Mengapa harus mendadak seperti ini, Bu? Nadhera kan baru saja lulus dari pondok pesantren. Masih ingin bekerja dan membahagiakan Ayah dan Ibu."

Dengan wajah lesu, gadis berparas cantik dengan khimar panjang itu memeluk ibunya erat. Matanya berkaca-kaca.

"Nadhera masih Ingin bersama Ibu, Ayah dan dik Maryam. Tujuh tahun belajar di pesantren, jauh dari keluarga masak langsung menikah. Kangenku saja belum terobati, Bu.''

Melihat putrinya merajuk, Nuha menghela napas panjang. Dia sebenarnya berat mengatakan ini.

"Harus bagaimana ibu menolak lamaran dari Umi Tatu. Beliau orang baik. Sampai suaminya Haji Sahlan datang ke kantor Ayahmu membicarakan masalah perjodohan ini. Kami berdua diundang ke istana megahnya. Mereka memohon-mohon untuk diterima."

"Mengapa harus Nadheera, Bu? Banyak perempuan lainnya yang pantas menikah dengan putranya. Apalagi Haji Sahlan orang kaya raya, bisnisnya banyak pasti mudah mencari menantu yang sederajat bukan kita yang keluarga sederhana."

"Ayahmu sudah mengatakan hal sama seperti yang kamu pikirkan. Tapi Haji Sahlan dan Umi Tatu tetap memilihmu menjadi menantunya. Mereka mencari menantu yang alim, Hafidzah dan cantik."

Nuha melirik putrinya dengan tatapan sendu.

"Banyak santri Al Khalifi yang alim, Hafidzah dan cantik, Bu. Aku sendiri tidak mengenal putranya. Kenapa harus secepat ini? Apa tidak ada pilihan lain?"

Nadhera protes keras meskipun nada yang disampaikan sangat lembut. Dia masih belum mengerti alasan Umi Tatu memilihnya. Usianya masih muda. Baru menginjak delapan belas tahun. Masih banyak mimpi-mimpi yang harus dicapainya termasuk membuat bangga orangtuanya. Dia juga belum siap menikah.

"Karena Umi Tatu menyukaimu, Nak. Pertama kali melihatmu di album foto santri berprestasi beliau langsung suka dan menghubungi Ibu."

Nadhera tak bisa berkata apa-apa. Dia tertunduk lama berusaha memahami apa yang terjadi.

"Ibu dan Ayah sangat menyayangimu. Berat melepasmu menjadi istri orang lain. Tapi karena mereka dari keluarga baik-baik. Ibu percaya kamu akan bahagia. Putranya Attar juga besar di lingkungan pesantren. Insya Allah bisa menjadi imam yang baik."

"Ibu ...."

Nadhera menangis di pelukan ibunya. Meski berat mendengar berita perjodohan ini. Dia tak kuasa menolak. Dia tak mau membuat orangtuanya sedih. Hatinya tak tega berkata tidak. Dia hanya ingin patuh dan berbakti pada orangtua.

Nuha mengusap lembut punggung putrinya. Lalu keluar dari kamar. Dia tak mau terlihat lemah karena sebentar lagi akan kehilangan putri kesayangannya.

"Bagaimana, Bu? Apa Nadhera setuju?"

Basyar dengan wajah cemas yang sedari tadi menunggu di depan pintu menanti jawaban dari istrinya. Hanya sekali anggukan dari Nuha lalu perempuan dengan bergo panjang itu masuk ke kamarnya. Di sana dia menangis tersedu-sedu. Melihat istrinya bersedih. Buru-buru Basyar mengikutinya.

"Ada apa, Bu? Bukannya kita sudah sepakat menerima perjodohan Haji Sahlan. Kenapa kamu malah menangis?"

Lelaki berperawakan sedang itu meraih tangan istrinya dengan lembut, menatap matanya dengan penuh kasih. Dia mengusap punggungnya perlahan, mencoba meredakan kegelisahan yang terlihat di wajah istrinya.

"Aku tak sanggup melihat wajah Nadhera, Pak. Dia masih berat menerima perjodohan ini. Masih ingin membahagiakan kita. Usianya juga masih muda. Apa sebaiknya kita batalkan saja perjodohan ini?"

"Jangan, Bu. Kita sudah sepakat dengan mereka. Tak bisa membatalkan begitu saja. Keluarga Haji Sahlan orang baik. Mereka bukan orang biasa. Nadhera pasti bahagia menikah bersama Attar. Masa depan putri kita sudah terjamin, Bu. Nggak akan pernah kekurangan."

"Tapi, Pak ...."

"Percaya padaku. Nadhera pasti bahagia. Haji Sahlan, Umi Tatu akan memperlakukan Nadhera dengan baik, menganggap seperti anak sendiri dan Attar akan mencintai anak kita."

"Sudah jangan menangis lagi. Harusnya kita bahagia karena keluarga Haji Sahlan yang kaya raya itu memilih putri kita. Mereka tidak mungkin asal memilihkan jodoh untuk putra tunggalnya. Pasti sudah menyelidiki keluarga kita dan mencari tahu tentang Nadhera."

"Semoga keputusan yang sudah kita buat baik untuk Nadhera. Aku tak mau menyesal, Pak. Tak boleh ada yang menyakiti putriku."

Basyar menggelengkan kepala. Dia heran mendengar ucapan istrinya.

"Mana mungkin mereka menyakiti Nadhera. Haji Sahlan bukan orang jahat, Bu. Beliau dikenal banyak orang sebagai dermawan, berakhlaq baik. Apalagi Umi Tatu beliau banyak bantu orang miskin. Insya Allah putri kita mereka jaga. Tak mungkin akan menyakiti apalagi kasar dengan Nadhera."

"Sekarang tidurlah! Buang jauh-jauh pikiran burukmu."

Setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari suaminya, Nuha akhirnya merasa tenang. Dia menarik napas dalam-dalam merasakan beban di dadanya perlahan menghilang. Dengan senyum tipis di wajahnya, dia memejamkan mata dan tertidur lelap di samping Basyar.

Berbeda dengan Nadhera yang terlihat murung. Ditatapnya foto lelaki yang akan menjadi suaminya. Selama ini dia tak pernah membantah. Apa yang menjadi keinginan orangtuanya selalu dituruti termasuk masuk pesantren tahfidz dan belajar selama enam tahun di Al-Khalifi. Ditambah satu tahun pengabdian mengajar di pesantren.

Nadhera tak tega menolak perjodohan yang sudah disepakati orangtuanya. Lagi-lagi dia harus mengalah dan menerima semuanya.

Ya Robb jika ini baik untukku permudah urusanku. Berikanlah aku kekuatan dan petunjuk agar dapat menjalani semuanya dengan hati yang tenang dan penuh keyakinan.

"Kalau secakep ini aku juga mau, Kak?"

Maryam merebut foto berukuran 2R dari tangan kakaknya. Dia sangat puas menggoda Nadhera.

"Ini mah Pangeran tampan. Beruntung sekali kak Nadhera. Maryam jadi iri. Hidup kakak selalu mudah. Yang diinginkan banyak perempuan bisa didapatkan. Nggak perlu kerja keras."

Maryam berkata seperti itu karena merasa hidupnya tidak seberuntung kakaknya. Dari segi wajah sudah tidak bisa bersaing. Kecantikan Nadhera di atas rata-rata. Padahal mereka sedarah.

Tiap kali Maryam berjalan dengan kakaknya yang menjadi pusat perhatian selalu Nadhera. Yang sering dibicarakan di keluarga besar karena banyak prestasi juga Nadhera. Maryam tak pernah ditanya. Bahkan orangtuanya selalu bangga dengan kakaknya. Sementara Maryam sering dilupakan.

"Maryam harus bersyukur. Kakak sering iri dengan kehidupan Maryam."

"Iri sama Maryam? Yang bener aja, Kak?"

"Iyaaa. Karena Maryam bisa bebas menentukan pilihan tidak seperti kakak. Bisa menjadi diri sendiri tanpa harus berkorban untuk kebahagian orang lain."

Maryam memeluk erat Nadhera, merasakan tubuh kakaknya yang gemetar. Dia tahu betapa berat beban yang dipikul kakaknya. Meski senyum selalu menghiasi wajahnya, Maryam tahu bahwa Nadhera tak pernah benar-benar memiliki pilihan dalam hidupnya, termasuk urusan jodoh.

Kediaman Haji Sahlan

"Kamu harus pulang Attar. Pertemuan dengan Nadhera sudah kuatur termasuk lamaran dan pernikahan kalian."

"Tapi Umi, aku sudah nyaman tinggal di sini. Aku sudah punya kekasih. Tak mungkin menikahi Nadhera."

Mendengar jawaban putranya. Umi Tatu makin meradang. Dia tak mau putranya mengikuti pergaulan barat. Susah payah dia besarkan Attar di lingkungan pesantren. Ternyata di sana berpacaran dengan perempuan yang mengumbar aurat dan berani tinggal serumah dengan kekasihnya.

Umi Tatu merasa menyesal sudah menyetujui Attar mengambil kuliah di Jerman. Tak ada jalan lain untuk menyelamatkan putranya. Selain menikahkan dengan Nadhera.

"Umi tak peduli dengan jawabanmu. Kalau kamu tidak pulang hak warismu akan kucabut termasuk pembiayaan hidup di Jerman akan kuhentikan."

Tangan Umi Tatu gemetar saat menutup telepon. Namun, senyum puas perlahan muncul di wajahnya. Matanya berbinar penuh harapan membayangkan putra kesayangannya segera kembali ke rumah.

Bab 3

Berita perjodohan Nadhera dengan Attar anak Haji Sahlan tersebar luas di kerabat Nuha. Dahlia sampai datang ke rumah adiknya memberi ucapan selamat kepada Nadhera.

"Anak gadis Pak Basyar sebentar lagi jadi istri anak orang kaya. Bibi bangga padamu. Mereka nggak salah pilih. Kamu memang pantas jadi menantunya."

Dahlia mencubit gemas pipi Nadhera yang kemerah-merahan, tak henti-hentinya berdecak kagum. "Cantiknya keponakan Bibi ini," katanya dengan senyum lebar, matanya berbinar melihat paras ayu Nadhera.

"Ceritanya bagaimana mereka bisa memilih Nadhera?"

Dahlia yang penasaran langsung mengejar jawaban dari Nuha yang pagi itu terlihat sibuk di dapur.

"Mereka tahu Nadhera dari album foto santri berprestasi Al-Khalifi mbak. Begitu melihatnya Umi Tatu langsung suka," jawab Nuha dengan mata berbinar. Ada kebanggan yang terpancar jelas di wajahnya.

"Gimana nggak suka sama Nadhera, cantiknya kebangetan, Dik. Nasibnya selalu baik putrimu itu. Dari kecil selalu beruntung. Banyak laki-laki yang datang ke rumah untuk melamarnya. Padahal Nadhera belajar di pesantren. Kalaupun pulang ke rumah pas liburan, tidak pernah keluar. Tapi semua pada tahu dan ingin menjadikan Nadhera calon istri. Banyak yang ngantri," kata Dahlia sambil tertawa, membuat Nuha makin semringah.

Nuha kembali mengulas senyum mendengar perkataan kakaknya. Sementara gadis yang disanjung kecantikannya hanya terdiam menyimak perbincangan bibi dan ibunya sembari mengiris wortel untuk bahan sayur sop.

"Gimana rasanya punya besan orang terpandang? Kamu jangan berubah jika sudah kaya."

"Ah, Mbak Dahlia kayak nggak kenal Nuha. Mana mungkin aku berubah. Yang jadi istri anak orang kaya kan Nadhera bukan aku, Mbak?"

"Sama aja. Sedikit banyak pasti Nadhera akan bantu renovasi rumahmu jadi bagus. Percaya omonganku."

"Mbak Dahlia bisa saja." Nuha mencubit lengan kakaknya.

Keduanya lantas melanjutkan obrolan ke ruangan depan untuk membahas masalah lamaran yang akan diadakan minggu depan. Nuha bingung harus menyambut besan kayanya dengan apa? Rumahnya hanya sederhana. Kalau harus menyiapkan sajian mewah dia tidak punya biaya sebanyak itu.

"Bagaimana ini Mbak. Aku tak tahu adat orang kaya kalau melamar."

"Duh gimana ya Nuha. Mbak juga nggak ngerti. Basyar sudah menghubungi Haji Sahlan untuk menanyakan lamaran mereka?"

"Suamiku mana mau mbak menghubungi Haji Sahlan? Mendengar suaranya saja langsung gemetar. Sampai menjelaskan berita perjodohan pada Nadhera, aku yang harus turun tangan."

"Lha trus gimana? Waktunya semakin dekat. Kita perlu persiapan, dik."

"Entahlah, Mbak."

Nuha menepuk jidatnya saking pusingnya memikirkan semuanya. Sampai akhirnya terdengar panggilan di ponselnya dari nomor tidak dikenal beberapa kali.

"Assalamualaikum Bu Nuha. Ini saya Umi Tatu."

Dag dig dug jantung Nuha. Dia sampai gelagapan berbicara.

"Wa-wa-waalaikumsalam ..."

Nuha terperanjat kaget mendengar suara Umi Tatu. Dia langsung menyuruh kakaknya Dahlia untuk diam dengan isyarat telunjuknya dan menepi ke pojok ruangan.

"Bu Nuha dan keluarga tidak usah repot dengan persiapan lamaran minggu depan. Semuanya sudah saya urus termasuk makanan untuk jamuan, dekorasi lamaran. Sebentar lagi ada karyawan saya yang datang ke rumah Bu Nuha mengantar baju untuk Nadhera dan keluarga."

"Masya Allah Umi Tatu saya jadi nggak enak. Semua sudah dipersiapkan keluarga Attar."

"Sebentar lagi kita menjadi keluarga. Jangan pernah merasa sungkan pada kami. Kalau butuh apa-apa Bu Nuha bisa langsung menghubungi saya."

"Te-terima kasih banyak Umi Tatu."

Nuha makin berdebar-debar setelah selesai berbincang dengan calon besannya. Sampai dia terduduk lemas di sofa. Dahlia yang melihat muka adiknya pucat langsung menghampiri.

"Ada apa? Apa mereka membatalkan perjodohan ini?"

Nuha menggeleng. Dia memejamkan mata sembari mengatur napasnya yang berdetak kencang.

"Lalu kenapa denganmu? Ayo cerita! Jangan buat orang penasaran."

"Tolong ambilkan aku minum, Mbak."

Dahlia buru-buru ke dapur mengambil segelas air minum. Dia ikut panik melihat ekspresi adiknya. Ditungguinya sampai keadaan Nuha sedikit tenang dan mau berbicara apa yang terjadi barusan.

"Mereka sudah mempersiapkan semuanya mbak."

"Maksudmu persiapan lamaran minggu depan?"

"Iya, Mbak. Kita nggak usah repot menyiapkannya."

"Tuh kan apa yang kubilang jadi kenyataan. Enaknya punya besan orang kaya ya gini. Kamu nggak perlu repot semua sudah dihandle. Nadhera bener-bener bawa rezeki buat kamu. Anak itu anak emas. Dia bisa mengangkat derajat keluarganya."

"Iya mbak. Aku beruntung ada Nadhera. Dia nggak pernah menyusahkan sama sekali sejak kecil."

Maryam yang mencuri dengar perkataan Dahlia dan ibunya langsung berlari ke kamar. Dia menangis sejadi-jadinya. Tak pernah sekalipun dia membuat bangga orangtuanya. Beda dengan kakaknya yang penurut dan berprestasi.

"Aku benci diriku. Aku ingin menjadi seperti kak Nadheraaaa."

Dilemparnya bantal unicorn kesayangannya. Maryam membuang semua barang-barangnya hingga berserakan ke lantai.

"Tuhan tak pantaskah aku bahagia? Kenapa hanya kak Nadhera yang merasakannya?"

Berlin, Jerman.

"Kamu harus janji Attar sampai kapanpun tetap setia padaku. Aku sudah menyerahkan apa yang kupunya padamu."

Miskah terus menekan kekasihnya. Dia tak mau dijadikan barang pelengkap yang bisa dibuang Attar kapan saja dia mau.

"Percayalah padaku, sayang. Pernikahan ini hanya formalitas. Aku tidak akan mencintai Nadhera." Dengan lembut, dia mengecup bibir tipis Miskah mencoba menenangkan kegelisahan di hatinya.

"Kapan kau kembali ke sini?" rajuk Miskah sembari mengeratkan pelukannya di tubuh kekar kekasihnya.

"Secepatnya aku kembali menemuimu."

Attar mengecup mesra kening Miskah, perempuan cantik blasteran Jerman-Indonesia dengan mata yang memikat. Setelah itu, dia melepaskan selimutnya dan bergegas menuju kamar mandi. Hari ini, dia akan pulang sesuai janjinya pada Umi Tatu.

Miskah yang ditinggal sendirian di ranjang, hatinya terus bergejolak. Pikirannya diliputi keraguan tentang ketulusan Attar. Dia tidak ingin kehilangan lelaki kaya pewaris tunggal perusahaan ekspor impor dengan puluhan cabang di seluruh Indonesia.

Dengan penuh perjuangan, Miskah berhasil menaklukkan hati Attar yang dulunya alim sampai akhirnya dia berubah. Sikap dan cara pikirnya mengikuti budaya barat.

Dengan waktu yang terbatas, Miskah berpikir keras mencari cara untuk mengendalikan Attar. Dia tahu, mengandalkan hubungan jarak jauh (LDR) tidak akan cukup. Attar bisa saja berpaling dan mencintai Nadhera. Miskah tidak mau itu terjadi. Kehilangan donatur tetap seperti Attar akan sangat merugikannya.

"Ayo, Miskah cepat cari ide sebelum terlambat."

Lama dia mondar-mandir di depan kaca hingga akhirnya menemukan jawaban yang dia mau.

Attar yang baru selesai mandi, terkejut melihat ekspresi gelisah di wajah Miskah. Tanpa ragu, dia segera menghampiri dan memeluknya erat, berusaha menenangkan hati kekasihnya yang resah. "Ada apa, sayang?" bisiknya lembut, mencoba menghapus keraguan yang tersirat di mata Miskah.

"Masih ragu dengan ketulusanku?" tanya Attar, sambil memainkan ujung rambut Miskah yang bergelombang.

Miskah menatap dalam mata tegas Attar. Senyum ceria perlahan menggantikan cemberut di wajahnya. Dengan manja, dia bisikkan ke telinga kekasihnya,

"Aku sudah putuskan. Aku ikut pulang ke Indonesia. Kita akan tinggal bersama di sana."

Mendengar jawaban Miskah, senyum lebar menghiasi wajah Attar. Tanpa ragu, dia mengendong tubuh Miskah dan mendaratkan ciuman berkali-kali di wajahnya, membuat Miskah tertawa bahagia. "Aku sangat mencintaimu," bisik Attar di antara ciumannya, memastikan Miskah merasakan ketulusannya.

"Kita tidak boleh berpisah. Aku akan terus memantaumu. Kau tak boleh jatuh cinta pada Nadhera."

"Aku akan menepati janji. Nadhera hanya kujadikan alat agar hak warisku tidak dicabut. Setelah semuanya kudapatkan, kita bisa hidup bahagia selamanya," jawab Attar penuh keyakinan berharap kata-katanya bisa menghapus semua keraguan di hati kekasihnya.

Keduanya tertawa lepas, merayakan keberhasilan rencana yang disusun Miskah.

"Indonesia, aku datang..." bisik Attar dengan semangat, membayangkan masa depan yang cerah bersama Miskah.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED