Bab 1

Sarah dan Reyhan pasangan muda yang saling mencintai, mereka dua sejoli yang sedang dimabuk cinta, entah setan apa yang merasuki keduanya hingga Sarah mau menuruti apa yang diinginkan kekasihnya Reyhan. Demi cinta mungkin pikir Sarah, Demi cinta Sarah rela kehormatannya direnggut oleh sang kekasih. Kala itu keduanya memang sedang melepas kerinduan sebab Reyhan baru saja pulang selepas meniti karir meneruskan Perusahaan Ayahnya. Rumah Sarah tampak sepi sebab Darmi Ibu Sarah sudah berangkat berjualan di pasar, sehingga Reyhan menginginkan keduanya untuk bertemu di rumah bukan di luar, sudah hampir dua bulan terakhir Reyhan tidak menemui kekasihnya karena kesibukannya. Sekalinya bertemu keduanya ingin menikmati keintiman dan cinta yang mereka bagi.

"Aku merindukanmu Sarah," Reyhan mendekat mengecup cuping telinga Sarah, membuat wanita itu terdiam seketika. Menatap sendu manik mata sang kekasih lalu tersenyum kecil, bukan hanya Reyhan dirinya pun sangat merindukan kekasihnya.

"Rey aku tahu kau tak perlu mengatakan itu.”

" Aku menginginkanmu, "bisiknya sekali lagi. Sarah memejamkan matanya, entah kenapa pandangan Reyhan membuat dirinya seperti terhipnotis olah sentuhan kecil yang Reyhan berikan.

Hening, tak terduga sebuah desahan lolos dari bibir Sarah, akibat ulah Reyhan yang mulai mencumbu kekasihnya.

“Rey…”

Sarah menjilat bibir bagian bawah,mengulum ketika menahan lenguhan, dia menyukai rangsangan yang diberikan Reyhan dibagian gundukan kenyal miliknya dan Reyhan pandai melakukannya. Tangan Sarah mendekap wajah Reyhan lalu mencium lembut kekasihnya, dan mereka Kembali menikmati ciuman yang memabukan.

"Rey.... aku. "

"Syuuttt! pelase sayang sekali saja," ucap Reyhan merajuk pada Sarah. wanita itu mengangguk lemah, dia pun menginginkan hal yang sama karena sudah merasakan horni sedari tadi akibat sentuhan Reyhan.

Reyhan mendorong bahu Sarah hingga gadis itu terkapar pasrah di sofa empuk miliknya. Reyhan meneguk saliva saat kekasihnya sudah dalam keadaan polos. Tangan Reyhan mengusap pinggang ramping Sarah memeluk tubuh tersebut hingga tak berjarak.

“Apa kita akan melanjutkannya?” tanya Sarah, wanita itu sudah berkabut napsu begitu pun dengan Reyhan. Reyhan mengangguk perlahan,Sarah mengangkat tubuhnya lalu mendorong masuk kejantanan Reyhan, wanita itu menjerit karena merasakan sakit saat Reyhan perlahan memompanya.

"Rey...aw..sakit!" bulir air mata jatuh memasahi pipi Sarah, Reyhan menghapusnya meyakinkan kekasihnya jika sakitnya tidak akan lama.

"Kamu tenang sayang, ini tak akan lama kamu perlahan akan menikmatinya, percaya padaku," kata Rey sambil mengecup bibir kekasihnya dan terus memompa kejantanannya. Reyhan mempercepat temponya hingga masuk secara keseluruh di dalam sana. Gerakan itu awalnya samar namun Sarah mulai memaju mundurkan tubuhnya hingga kejantanan Reyhan menggesek dinding kewanitaannya.

“Rey…

Suara desahan saling bersautan,sepertinya benar apa yang dikatakan kekasihnya ini sangat nikmat, dan Sarah mengerang berkali kali akibat ulah ritme yang Reyhan mainkan, mereka saling memeluk satu sama lain, ketika tubuh mereka menegang, saling memompa untuk mencapai pelepasan bersama. Mereka tidak sadar jika sedari tadi rupanya sudah ada sepasang mata yang melihat adegan ranjang yang sebenarnya tidak pantas mereka lakukan.

“Rey I love You, aku mohon jangan tinggalkan aku,” ucap Sarah pada Reyhan sambil mendesah Panjang. Pria itu mengangguk dia membenarkan rambut Panjang Sarah dan terus memompa tubuh Sarah meneguk kenikmatan bersama, Sarah memang selalu dibuat mabuk kepayang selalu terlihat sempurna oleh Reyhan dan dia selalu membuatnya bagaikan laki-laki perkasa.

Terkejut melihat apa yang terjadi di dalam rumah Sarah tersebut, tetangga itu melihat dengan rasa ingin tahu lebih lalu mengintip kembali dari celah bilik rumah tersebut yang terbuat dari anyaman bambu, dan matanya terbelalak melihat keduanya telanjang bulat tanpa busana di siang bolong. Meski awalnya dia tidak percaya pada apa yang dilihatnya. karena selama ini dia melihat Sarah sosok wanita yang pendiam tidak banyak tinggkah. Tanpa berpikir panjang, dia segera menghubungi Ketua RT setempat untuk memberitahukan insiden ini. Berita tersebar dengan cepat di kampung tersebut, dan suasana semakin panas dan tegang.

Sarah dan Reyhan tak lama kemudian dikepung oleh warga dan dipaksa masuk ke rumah Kepala Desa. Saat mereka berdua ditangkap, terlihat bahwa Sarah tidak mengenakan sehelai benang pun begitu juga Reyhan mereka tertangkap basah saat sedang menikmati puncak kenikmatan.

“Bangun! Keluar kalian!”

Keduanya terperanjat begitu kaget dengan suara yang tiba-tiba saja ada di hadapan mereka, saking nikmatnya salah satu warga yang berhasil membobol pintu rumah Sarah pun tidak mereka dengar.

Sarah segera turun dari tubuh kekasihnya dia ditarik paksa oleh salah satu warga dan disoraki secara bersamaan, dia tidak mengenakan sehelai benang pun dan langsung dipaksa untuk keluar rumah tersebut. Sarah dan Reyhan digelandang oleh warga tanpa memanusiakan keduanya, Warga semakin murka dan geram dengan tindakan di luar batas yang dilakukan Sarah. Mereka tak pernah membayangkan bahwa Sarah, seorang perempuan yang terkenal sebagai sosok yang alim dan sopan, dapat melakukan hal semacam itu bersama kekasihnya. Warga banyak mencemooh bahkan menghakimi keduanya, Reyhan dan Sarah hanya menunduk malu dan Pasrah atas apa yang mereka lakukan, setelah sampai di rumah pak RT. Istri pak RT langsung memberikan sarung pada Sarah dia geram dengan tindakan warga yang menggelandang Sarah dan Reyhan tidak manusiawi.

“Apa yang kalian lakukan! Bukan begini caranya,ini namanya mempermalukan dan menghina wanita!”teriak bu RT histeris. dia tidak suka warga main hakim sendiri.

“Dia memang sudah hina! Wanita murahan! dia harus diusir dari kampung ini!

“Usir dari kampung kita! Usir dari kampung ini!” teriak salah satu warga.

“Usir Sarah dari kampung kita! Usir sarah Dari kampung kita!” berkali-kali sebagian warga mengatakan itu hingga membuat Sarah gemetar takut lalu menangis. Sudah berapa banyak air mata yang menetes di pipinya, saat ini dirinya seolah menjadi wanita yang paling hina di mata manusia.

“Tenang … tenang semua harap tenang!” ucap pak RT menolak warganya agar memusyawarahkan permaslahan ini dengan kepala dingin. Dia pun menyuruh salah seorang warga untuk menjemput Darmi ibunya Sarah yang sedang bekerja menjadi tukang sayuran di pasar. salah satu warga akhirnya menjemput Darmi. begitu datang Darmi syok langsung menangis dengan apa yang terjadi, tanpa warga menceritakan, dia tahu jika anaknya berbuat hal yang fatal.

“Ibu maafkan Sarah,” kata Sarah begitu melihat sosok ibu paruh baya mendekatinya, air mata menetes saat melihat anaknya hanya mengenakan kain sarung saja, digelandang oleh warga dan saat ini sedang berada di rumah kepala desa. Tentu saja Darmi merasa kecewa, dia mendidik Sarah dengan begitu baik, namun di belakangnya Sarah rupanya sering melakukan hal yang dilaknat oleh Tuhan.

Darmi, ibu Sarah, merasa syok saat salah seorang warga menjemputnya. Dirinya tidak menyangka bahwa anaknya akan berbuat bodoh seperti ini. Darmi dihadapkan pada dua pilihan oleh Pak Lurah, sesuai hasil musyawarah bersama para warga dan Ketua RT. Pilihan pertama adalah Sarah harus meninggalkan kampung tersebut, memilih pergi dari kehidupan yang telah mereka bangun bersama selama ini. Pilihan kedua adalah melaporkan kejadian ini kepada pihak kepolisian.

Di tengah kerumunan yang semakin memanas, Darmi terperangah dan berusaha mencerna semua yang terjadi. Ia tahu bahwa apapun pilihan yang ia buat akan berdampak besar pada masa depan Sarah. Darmi merasakan kekecewaan yang mendalam, sekaligus kekhawatiran akan bagaimana Sarah akan melanjutkan hidupnya setelah peristiwa ini.

Dalam keheningan yang mencekam, Darmi mengambil keputusan dengan hati-hati. Ia tahu bahwa meskipun Sarah telah membuat kesalahan, ia masih merupakan anaknya dan Darmi mencintainya dengan tulus. Dengan suara bergetar, Darmi berkata kepada Pak Lurah.

"Saya memilih agar Sarah diberi kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri. Biarkan dia tetap tinggal di kampung ini dan kita akan mengawasinya dengan ketat. Saya yakin dia masih punya masa depan yang baik jika diberi kesempatan untuk bertobat."

“Tidak bisa! Sarah harus diusir dari kampung ini, kita akan terkena musibah jika dibiarkan pezina masih ada di kampung ini! Ucap warga yang tidak setuju keinginan Darmi.

Keputusan itu menyapu angin segar di tengah suasana yang tegang. Meskipun beberapa warga masih merasa tidak puas, mayoritas setuju dengan keputusan tersebut. Sarah diberi kesempatan kedua untuk mengubah perilakunya dan membuktikan bahwa ia bisa belajar dari kesalahan yang telah ia buat. Sedangkan baik Pak RT dan pak Lurah masih berembuk.

Sarah merasa terharu dan bersyukur atas keputusan ibunya. Ia menyadari bahwa tindakannya telah melanggar norma dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat di kampungnya. Sarah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan mengubah diri, menjalani kehidupan yang lebih baik, dan membuktikan kepada semua orang bahwa ia masih layak mendapatkan tempat di kampung itu.

Darmi, sebagai ibu yang penuh kasih, berjanji akan mendampingi Sarah dalam proses perbaikan diri tersebut. Mereka berdua menghadapi cemoohan dan pandangan sinis dari sebagian warga yang masih memandang rendah pada Sarah. Namun, mereka bertekad untuk membuktikan bahwa kesalahan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan batu loncatan menuju perubahan yang lebih baik.

Sarah merasakan hembusan angin yang dingin menusuk ke dalam hatinya ketika beberapa warga menentang keputusan ibunya. Suara-suara menentang semakin menguat, mengakibatkan keriuhan di antara mereka. Sarah merasa hatinya teriris tajam oleh penolakan dan ketidakpercayaan yang melingkupinya.

“Saya tidak ingin kampung ini terkena musibah akibat perbuatan dia!”

“Betul!” ucap salah satu warga. Dan semuanya bergemuruh kompak untuk tetap mengusir Sarah dari kampungnya.

“Tidak ada toleransi lagi untuk orang yang sudah berbuat zina!” teriak salah seorang warga. Mereka riuh Kembali menyuarakan tanda keberatan jika Sarah di maafkan begitu saja, walaupun mendapatkan sanki sosial mereka yakin akan ada Sarah lain yang akan berani melakukan itu jika Sarah dimaafkan begitu saja.

Tatapan yang penuh kecewa dan sedih dari Darmi membuatnya semakin terhimpit. Ia tahu ibunya juga merasakan tekanan yang sama seperti dirinya. Sarah menundukkan kepalanya, air mata perlahan jatuh membasahi kain sarung yang melilit di tubuhnya. Tampaknya semua kebaikan dan perubahan yang telah ia lakukan tidak cukup untuk mengubah pikiran mereka.

Dalam keheningan yang terasa berat, Sarah mengangkat kepalanya dengan tegas. Suaranya terdengar getir saat ia berbicara dengan mantap, "Baiklah, jika itu yang kalian inginkan, maka aku akan pergi dari kampung ini.”

Warga Kembali bersorak karena senang dengan keputusan Sarah, namun ada sebagian warga yang merasa Iba dengan Sarah dan ibu Darmi

“Tapi, Nak_”

Bab 2

“Memalukan!”

Margaret dan Ibrahim merasa diperlakukan dengan perilaku Reyhan, putra mereka yang semakin hari semakin menjauh dari nilai-nilai keluarga mereka. Reyhan yang seharusnya menjadi harapan keluarga, kini telah terjerumus dalam hubungan yang mereka anggap merusak nama baik keluarga.

“Sudah Ma, nanti migren Mama kumat sudahlah, biarkan Reyhan berpikir jernih dulu.”

“Berpikir jernih bagaimana sih Yah, Mama sudah pernah bilang berkali-kali wanita itu bukan wanita baik-baik buktinya dia sengaja membuat Reyhan malu, dia sengaja ingin mencemarkan nama baik kita, Mama tidak terima diginikan.” Margaret merasa kesal dan tidak bisa tenang, dia kemudian mengambil ponselnya hendak menghubungi seseorang.

Setiap malam, Margaret dan Ibrahim duduk di ruang tamu mereka, cemas memikirkan bagaimana cara mengembalikan kehormatan keluarga mereka. Kejadian ini tidak boleh tersebar apalagi keluarga besarnya tahu, Mereka menggertakkan cangkir teh mereka, berdua geram atas Reyhan yang terlalu keras kepala untuk mendengar nasehat mereka dan tetap mencintai kekasihnya bahkan berbuat hal diluar kendali.

Namun, Margaret memiliki rencana yang dianggapnya sebagai jalan keluar dari masalah ini. Dia mengenal seorang rekan bisnis yang memiliki seorang anak perempuan yang selama ini dianggapnya sebagai pasangan yang cocok untuk Reyhan. Margaret mengatur pertemuan antara Reyhan dan anak rekan bisnisnya, meskipun Reyhan sangat tidak setuju.

“Yah, bagaimana kalau kita jodohkan anak kita dengan anaknya Collin, aku pikir ini adalah jalan yang terbaik agar Mama bisa melupakan kejadian yang memalukan ini.”

“Rey pasti tidak setuju, dia tidak akan mau.”

"Mama tidak peduli dengan perasaan Reyhan, dia pun tidak peduli dengan perasaan kita Yah.”

Margaret keluar dari kamarnya dan menemui putranya, Reyhan saat itu sedang berbaring bersantai di kamar dia sedikit lega karena Sarah sudah memberi kabar padanya jika sudah berada di kontrakan Mayang di Jakarta, Sarah juga mengirimkan Alamatnya pada Reyhan.

“Mama.”

“Sedang apa kamu, jangan sampai kamu masih menghubungi gadis itu!”

Reyhan tidak menjawab, dia meletakan ponselnya menghembuskan napas kasarnya. Sementara, Margaret duduk di samping ranjang putranya.

“Bersiap-siaplah, besok kita akan kedatangan tamu penting.”

“Tamu penting Mama tidak ada hubungannya dengan Rey, Ma, besok Rey harus segera ke Jakarta banyak pekerjaan yang memang harus Rey segera selesaikan.”

“Kamu ke Jakarta bawa istri barumu.”

Rey mengerutkan kening sambil menatap Mamanya.

“Apa maksud Mama?”

“Besok ada calon besan, Mama akan kenalkan kamu dengan anak teman Mama tante Collin kamu pasti cocok, lusa kalian menikah.”

Reyhan merasa terjebak dalam perjodohan yang dia anggap tidak adil. Baginya, cinta adalah sesuatu yang tidak bisa dipaksakan. Meskipun dia sangat mencintai orang tuanya, dia juga ingin memiliki kendali atas hidup dan cintanya sendiri. Reyhan menghadapi dilema besar, antara mematuhi keinginan orang tuanya atau mengikuti hatinya.

Ketegangan di antara mereka berlanjut, menciptakan konflik mendalam dalam keluarga. Margaret dan Ibrahim berusaha memahami Reyhan, sementara Reyhan mencoba menjelaskan perasaannya kepada mereka. Sementara itu, cinta dan perasaan antara Reyhan dan pasangannya yang sekarang semakin mendalam, membuat keputusan yang sulit harus diambil.

Semalaman Reyhan tidak bisa tidur, dia ingin segera bertemu dengan kekasihnya namun lebih dulu dia harus memenuhi janjinya untuk bertemu dengan rekan bisnis Mamanya Tante Collin, ada hal yang tidak bisa dia bantah dari permintaan Mamanya entah kenapa Reyhan tidak bisa menolak ajakan Mamanya untuk bertemu dengan keluarga besar Collin besok.

Pagi-pagi Mamanya sudah mengetuk pintu kamar Reyhan, saat itu Reyhan baru selesai mandi dan bersiap-siap untuk menyambut tamu keluarga besar dari calon besan.

“Nah gitu dong, kamu sudah siap? Sebentar lagi tante Collin akan segera tiba, kamu harus sudah rapi nanti Mama tunggu di bawah ya.” Margaret terlihat sangat antusias dalam pertemuan ini, dia juga tersenyum begitu melihat Reyhan tampak sedang bersiap-siap dan dari raut wajah Reyhan terlihat sepertinya dia santai dan tidak memiliki beban sedikitpun walau dirinya akan dijodohkan.

Saat hendak keluar dari kamarnya, tiba-tiba Ibrahim masuk ke dalam kamar Reyhan membuat Rey sedikit terkejut dibuatnya.

“Kamu sudah siap?”

“Ayah mau tanya aku udah siap atau belum, kan? Ayah liat sendiri penampilanku,” kata Reyhan sedikit memaksakan senyumnya.

“Rey kamu baik-baik saja?”

Reyhan tersenyum tipis lalu menghembuskan napas kasarnya.

“Ayah sudah tahu jawabannya, aku sedang tidak baik-baik saja tapi aku tidak bisa membatah Mama.”

“Semua yang Mama dan Ayah lakukan pasti terbaik untuk kamu, nak.”

“Tapi bukan terbaik untukku Ayah,” ucap Rey lirih. Pria itu meninggalkan Ibrahim bergitu saja lalu menuruni anak tangga. Di sana rupanya calon besan baru saja datang, Margaret melihat anaknya menuruni anak tangga dia menyuruh agar Reyhan mendekatinya dan bersalaman pada tante Collin. Reyhan melihat ada gadis cantik keluar dari mobil, mungkin Perempuan itu yang Mama maksud yang akan dijodohkan dengan dirinya, meski cantik jujur Reyhan tidak tertarik sedikit pun sama sekali dengan gadis itu. Dengan langkah malu gadis tersebut masuk dan mendekati Margaret.

“Amanda bagaimana kabarmu, Nak. Wah tante sudah lama sekali tidak melihat kamu sejak kamu kuliah di luar negeri.”

“Kamar Manda baik Tante.”

“Mari silakan masuk,” kata Margaret begitu sangat antusias mempersilakan tamunya untuk masuk. Gadis itu tampak malu-malu begitu berhadapan dengan Reyhan, namun dia menyunggingkan senyum kecilnya sepertinya dia sudah tertarik pada Reyhan meski baru pertama bertemu. Tidak berbasa-basi Margaret mengajak Collin untuk membicarakan inti dari pertemuannya. Dia menggiring Collin dan suaminya juga Amanda untuk makan sambil berbicara untuk acara pernikahan.

“Kalau memang tidak ada kendala, kami menginginkan acaranya di gelar lusa karena kami tahu Reyhan pasti sangat sibuk.”

Reyhan tersendak, dia terkejut mendengar apa yang diinginkan calon mertuanya, dia menggeleng tidak setuju sebab dia tidak menginginkan secepat itu.

“Ma, Rey tidak bisa mendadak, tidak bisa Rey harus menikah lusa banyak pekerjaan yang harus Rey selesaikan.”

“Sehari saja Rey, kamu yang mengendalikan Perusahaan itu, sehari tidak akan mempengaruhi semuanya, biar sementara Ayah yang mengendel atau Mama kabari sekretaris kamu.”

Reyhan menghembuskan napas kasarnya, dia segera mengakhiri makannya yang sebetulnya sedari tadi sudah tidak berselera, namun Ibrahim yang melihat Rey seperti itu langsung mengambil alih pembicaraan agar diberikan lebih waktu lagi, sepakat jika keduanya akan menikah akhir pekan ini. Setelah pertemuan selesai Reyhan langsung berkemas siang itu juga menuju Jakarta. Margaret lebih lega jika melihat anaknya kembali ke Jakarta padahal dia tidak tahu jika sebenarnya Sarah sudah lebih dulu berada di ibu kota tersebut.

“Rey kamu tidak perlu memikirkan rencana pernikahan kamu, kamu tinggal duduk dan ijab kobul saja Mama dan Ayah yang akan mengatur semuanya, bahkan Mama sudah mentransfer uang untuk acara pernikahan mewah kamu pada tante Collin barusan.” Reyhan hanya mengangguk dia tidak menanggapi semua ucapan Mamanya. Yang dia pikirkan saat ini hanyalah Sarah.

Bab 3

Setelah Reyhan menjemput Sarah dari kosannya Mayang sahabatnya, kini mereka tiba di apartemen, Reyhan sengaja membawa Sarah ke apartemennya agar keduanya bisa bersantai dan nyaman, mereka duduk bersama untuk berbicara. Reyhan mencoba menjelaskan situasinya dengan lebih rinci kepada Sarah menenangkan kekasihnya sebab Sarah masih terlihat murung dan Sedih. Namun untuk saat ini dia tidak ingin menambah beban Sarah dia tidak mungkin mengatakan bahwa dia sudah dijodohkan oleh keluarganya dan pernikahannya sudah diatur untuk akhir pekan ini. Namun, Reyhan juga ingin memastikan bahwa Sarah memahami bahwa perasaannya terhadapnya masih kuat. Egois memang namun Reyhan belum bisa mengatakan semuanya pada Sarah terlalu berat bagi dirinya menceritakan semuanya.

“Jangan melamun saja sayang, sudahlah kita sudah tidak lagi berada di kampungkan, ini tempatku kamu akan nyaman berada di sini.” Sedari tadi Sarah tidak memperhatikan sedikitpun ornamen atau isi dari apartemen Reyhan, dia masih sedih dan belum bisa diajak berpikir jernih. Sarah menatap Reyhan dengan saksama, melihat wajah kekasihnya yang begitu amat tampan menurutnya, Reyhan belahan jiwanya pria itu terlihat sempurna di mata Sarah, sehingga Sarah tidak mungkin begitu saja melepaskan Reyhan atas permintaan Ibunya karena wanita paruh baya tersebut begitu sangat kecewa pada Reyhan yang tidak bisa mengambil keputusan yang membuat harkat martabat keluarganya hancur.

“Sebelum aku pergi dari rumah Ibu merasa sangat kecewa dengan sikap aku, terlebih lagi dengan kamu Rey, kata Ibu kenapa kamu tidak berani mengambil sikap untuk menikahiku, meski Ibu tahu ibu tidak berharap banyak dia berkata semuanya mustahil terjadi. Aku merasa bersalah dan berdosa besar pada Ibu Rey.” Sambil tersisak Sarah teringat kembali momen dirinya dan Ibu saat hendak berpisah, Ibunya sedih sekaligus merasa kecewa dengan dirinya, namun entah semua sudah terlanjur terjadi karena kesalahan fatal yang Sarah lakukan.

Reyhan mengembuskan napas kasarnya, dia mengusap lembut rambut Sarah membiarkan kepala Sarah agar bersandar di bahunya meski dia tidak berucap sepatah kata pun karena dia tidak tahu harus mengatakan apa, dia memeluk Sarah erat lalu menitikkan air matanya, mengecup pucuk kepala gadis itu.

“Aku minta maaf sayang, aku memang pria bajingan yang tidak memiliki mental untuk melakukan itu.”

“Ibu mengatakan itu karena dia emosi, dia pun ingin ikut saat aku pergi dari rumah hanya saja aku menolak Rey karena aku belum tahu pasti kehidupanku bagaimana kedepannya.”

“Kamu jangan khawatir dengan semuanya sayang, aku yakin semua akan baik-baik saja, kamu juga tidak perlu khawatir dengan kehidupanmu di sini semua aku yang tanggung, aku nanti transfer uang ke Mayang untuk kamu, tapi aku mohon malam ini kamu menginap di sini ya sampai akhir pekan.”

Sarah menggeleng tidak setuju.

“Aku tidak mau berbuat ulah lagi Rey, aku takut.”

Rey tersenyum lalu mengecup pucuk kepala kekasihnya kembali kemudian menatap wajah kekasihnya mengusap air mata yang masih membasahi wajah cantik Sarah.

“Hey ini bukan di kampung Sarah, tidak ada yang tahu aku memasukan wanita, jika pun ada mereka cuek dan tidak akan berkomentar apa pun.”

“Apa jangan-jangan kamu sering memasukan Perempuan tanpa sepengetahuan aku?” tanya Sarah sambil menampilkan wajah muram.

“Memang aku kelihatan orang seperti itu?” tanya Reyhan sambil menjawil hidung Sarah. Wanita itu pun menggeleng karena dia yakin jika Rey bukan pria yang seperti itu.

Reyhan semakin gemas dengan kekasihnya Sarah, namun saat hendak menciumnya suara perut Sarah berbunyi membuat keduanya saling menatap lalu terkikik.

“Aku sampai lupa jika kamu belum makan dari pagi, aku pesan makan dulu ya sayang,” kata Reyhan, pria itu mengambil ponselnya hendak memesan makanan namun Sarah menolak.

“Tidak usah jika ada bahan-bahan kita masak aja, aku lebih suka masakan rumahan Rey, aku tidak bisa makan makanan luar selain pecel ayam dan pecel lele.”

Reyhan tersenyum dia memahami itu, dia pun membawa Sarah ke dapur keduanya masak bersama. Sarah tersenyum saat melihat dapur di apartemen Rey yang sangat kecil, dia melihat kompor namun tidak pandai untuk menyalakannya. Semua terlalu mewah untuk Sarah.

“Rey kompornya aneh, aku tidak bisa menyalakannya.”

Rey tersenyum dengan memeluk Sarah dari belakang pria itu mengajarkan Sarah bagaimana menyalakan kompor tersebut.

“Begini caranya, kamu tekan dikit langsung nyala, sama aja sama kompor biasa.”

Sarah tersenyum lalu dia pun mencoba untuk menyalakan seperti yang sudah diajarkan Rey dan berhasil. Keduanya akhirnya masak bersama. Rey senang dan dia membayangkan bagaimana kehidupannya nanti dengan Sarah, dia sama sekali tidak membayangkan bagaimana hidupnya nanti dengan calon istrinya Amanda, wanita yang kedua orang tuanya jodohkan.

Dua piring nasi goreng, ayam goreng juga sambal sudah tersaji di meja makan, keduanya langsung makan bersama, meski sebetulnya Rey sudah sarapan, karena menghargai kekasihnya dia kembali makan lagi.

“Jadi bagaimana kamu betah di kontrakan Mayang, ada yang lebih bagus lagi enggak sih kontrakannya selain di sana, biar aku yang bayar.”

“Aku belum cari kerjaan juga Rey, aku tidak mau terlalu merepotkan kamu, aku pikir itu sudah lebih dari layak bagiku.”

“Kamu kirim pesan ke dia sekarang, minta nomor rekeningnya dan aku akan kirimkan uang untuk kamu ke Mayang.”

Reyhan berkata demikian karena dia tahu jika Sarah tidak memiliki rekening, dia sering mengirimkan uang ke Sarah saat di kampung melalui tetangganya yang memiliki nomor rekening bank.

Sarah mengangguk dia mengirimkan pesan pada mayang untuk meminta rekening, memang saat ini Sarah sangat membutuhkan uang tersebut untuk menyambung hidupnya sebelum mendapatkan pekerjaan, sebab semalam Mayang mengatakan jika belum ada pekerjaan yang kosong di tempat kerjanya.

Setelah makan selesai Rey mengajak Sarah kembali ke ruang televisi untuk bersantai sementara dirinya tiba-tiba mendapat panggilan telepon dari kantornya. Panggilan itu sedikit lama hingga Rey sedikit menjauh dari Sarah, sementara Sarah menonton televisi sampai menunggu kekasihnya selesai.

“Aku sudah transfer sepuluh juta pada Mayang.” Sarah langsung menoleh juga sekaligus terkejut dengan apa yang barusan Reyhan katakan.

“Kamu Serius? Untuk apa kamu kirimkan uang sebanyak itu Rey, aku tidak butuh begitu banyak uang.”

Rey tersenyum lalu mendekati kekasihnya, dia kemudian memeluk Sarah lalu menatapnya.

“Ini Jakarta sayang, semua harga dan barang-barang mahal, kamu juga tidak banyak bawa pakaian, kan. Kamu bisa beli apa pun dengan uang itu.”

“Tapi nominalnya sangat banyak Rey, baru kemarin kamu belikan aku ponsel dan harga mahal juga.”

“Semua akan aku berikan karena aku sayang sama kamu Sarah, uang itu tidak seberapa.”

“Eum…gombal pasti ada maunya.”

Reyhan nyengir kuda lalu kemudian mengecup lembut bibir ranum kekasihnya.

“Rey…Eump!!”

Sarah hampir kehabisan napas karena Reyhan terus memperdalam pagutannya.

“Aku mohon lupakan dulu sementara apa yang sedang kamu pikirkan sayang, semua masalah pasti akan ada solusinya kamu akan nyaman bersamaku.”

Sarah mengangguk lemah dan menuruti apa yang Rey inginkan saat ini, berada disamping Reyhan Sarah merasa sangat nyaman. Rey terus memperdalam ciumannya lalu mengecup cuping Sarah hingga wanita itu meremang, benar saja karena begitu terbuai dengan sentuhan yang Reyhan berikan, sejenak Sarah melupakan permasalahan yang menghimpit kehidupannya, dia lupa pesan ibunya yang terakhir untuk mampu menjaga dirinya dan kembali bermain gila dengan Rey kekasihnya. Sarah tidak tahu saja jika Rey akan menikah akhir pekan nanti dengan wanita lain pilihan kedua orang tuanya.

“Rey_”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED