Bab 1

Hari ini Dara pulang ke desanya untuk membujuk orang tuanya agar mau ikut tinggal di kota tempatnya merantau selama ini. Sudah berkali-kali ia membujuk orang tuanya pindah ke kota, tapi mereka selalu menolak. Dan kali ini dia harus berhasil mengajak ibu bapaknya pindah.

Dia datang tidak sendirian. Dia mengajak dua anak kecil, Nindy dan Shaka, anak atasannya.

“Assalamualaikum, Bu, Pak,“ ucap Dara setiba di depan rumahnya.

Terlihat pintu rumahnya tertutup rapat. Satu jendela yang berada di kiri pintu, sedikit terbuka kacanya. Tangan Shaka terlepas dari genggaman Dara. Dia berlari-lari sambil menengok ke arah samping rumah. Sedangkan sang kakak, tetap mengeratkan genggaman tangannya.

Hari ini Dara datang menjelang tengah hari. Dan itu membuat keadaan sekitarnya sepi. Andai datangnya lebih pagi atau sedikit sore pasti para tetangga julid akan ikut memenuhi rumah Bu Maisaroh, ibunda Dara.

“Wa’alaikumussalam,“ jawab sang pemilik rumah dari dalam. Terlihat handle pintu bergerak dan perlahan pintu terbuka.

“Ya Allah, Nduk,“ ucap Bu Maisaroh seketika melihat putrinya di depan rumah. Di elapnya tangan yang sedikit basah tadi di daster yang beliau kenakan. Setelah itu beliau menerima uluran tangan sang putri. Dicium punggung tangan ibunda, setelah itu dipeluknya erat-erat tubuh ibunya yang mulai renta.

Ibu Maisaroh sungguh terkejut melihat kedatangan putrinya yang tiba-tiba. Karena kemarin saat video call pun Dara tidak mengatakan kalau akan pulang. Biasanya Dara akan pulang saat hari raya Idul Fitri saja selepas itu dia tidak pernah pulang mengunjungi kedua orang tuanya.

“Kakak, adik, ayo salim dulu sama Mbah,“ titahnya pada anak yang dari tadi menemaninya.

Anin segera meraih tangan Bu Maisaroh dan mencium punggung tangannya. Sedangkan Shaka terlihat berlari mendekat saat bundanya memanggil.

“Anak siapa ini, Nduk?“ tanya ibunya sambil menerima uluran tangan pria kecil itu.

“Izinkan kami masuk dulu ya Bu. Sepertinya mereka sangat lelah,“ pinta Dara.

“Astaghfirullah ... Ibu lupa Nduk,“ ucap Bu Maisaroh sambil menepuk keningnya.

Bu Maisaroh sedikit menepi dan memberikan jalan agar ketiga tamunya bisa masuk. Setelah memasuki ruangan, Nindy dan Shaka segera duduk di kursi kayu dengan model lawas dengan anyaman rotan di bagian bawah dan sandarannya.

Kursi yang bagian punggung dan tempat duduknya terbuat dari anyaman rotan. Setelah duduk Nindy terdiam sedangkan Shaka mengelilingi seluruh ruangan itu melalui pandangannya.

Setelah masuk rumah tadi, Dara melangkah ke kamarnya. Dia hanya meletakkan tas yang berisi beberapa potong pakaian untuk mereka bertiga. Setelah itu dia kembali ke ruang tamu tempat dua bocah itu menunggu.

“Ini tempat tinggal bunda waktu kecil dulu,“ katanya seraya mendaratkan pantatnya ke kursi di hadapan Shaka.

“Jadi kita akan liburan di sini?“ tanya sang pria kecil.

“Iya,“ jawab Dara sambil mengangguk. “Shaka tidak suka?“

Belum sempat adik Nindy menjawab, Bu Maisaroh datang sambil membawa nampan yang diatasnya terdapat tiga gelas teh hangat.

“Siapa nama anak-anak lucu ini?" tanya Bu Maisaroh seraya meletakkan gelas-gelas tadi di hadapan mereka.

Shaka melirik Dara seolah bertanya tentang wanita paruh baya itu.

“Ini ibunya bunda. Kalian bisa panggil Mbah,“ seolah mengerti lirikan Shaka.

"Ayo di jawab pertanyaan Mbah tadi. Mulai dari kakak dulu ya,“. perintah Dara. Nindy langsung berdiri.

“Hallo Mbah. Nama saya Nindy, Anindya Wardhani. Umur saya 7 tahun. Saya kelas 2."

Melihat kakaknya memperkenalkan diri, Shaka pun langsung bangkit dari duduknya.

“Saya Shaka, Abishaka Syailendra, Mbah. Saya sudah sekolah PAUD,“ katanya penuh semangat.

Bu Maisaroh gemas dengan tingkah Shaka. Dia tersenyum sambil mengacak rambut si kecil. Setelahnya Bu Maisaroh duduk di samping sang putri.

“Diminum dulu tehnya," kata Bu Maisaroh. "Kalian pasti capek kan? Ayo sekalian makan siang,“ tawar wanita tua itu.

Lagi-lagi dua bocah itu memandang Dara seraya meminta persetujuan. Melihat Dara mengangguk, keduanya langsung mengambil gelas yang ada didepannya. Mereka meniup gelas yang berisi teh. Kemudian perlahan mereka menyesapnya.

“Assalamualaikum.“

Terdengar ucapan salam dari luar. Bu Maisaroh segera bangkit dan berjalan mendekati pintu.

Pintu terbuka dengan dorongan pelan dari arah luar.

“Nduk," ucap orang yang baru datang itu. Sama halnya dengan sang istri, Pak Abdullah juga terkejut dengan kehadiran putri tunggalnya.

Dara berdiri dan menghampiri sang ayah. Diraihnya tangan tua itu dan mencium punggung tangannya.

“Sini Nak, salim dulu sama Mbah,“ ucap Dara pada Nindy dan Shaka. Dua bocah itu segera meletakkan gelas yang sedari tadi mereka genggam. Setelah itu mereka berjalan menghampiri Dara.

Pak Abdul, panggilan ayah Dara, langsung menoleh ke arah anak kecil yang di panggil putrinya tadi.

Pertama Shaka dulu yang salim dengan Pak Abdul karena posisi Shaka lebih dekat dari sang kakak.

“Hallo Mbah, nama saya Shaka,“ sapa Shaka dengan nada menggemaskan.

Setelah memperkenalkan diri, Shaka bergeser dan Nindy melangkah mendekat. Dia segera mencium punggung tangan Pak Abdul.

“Saya Anin, Mbah."

Pak Abdullah tersenyum. Dia sangat senang. Dia berharap kalau mereka benar-benar cucu yang sangat dia nantikan.

Pak Abdullah dan Bu Maisaroh sudah sangat lama mendambakan seorang cucu. Tapi sang putri tidak mau menikah. Dia juga sudah sering mengatakan kalau dia tidak akan pernah menikah.

Bukan tidak ada sebab Dara mengatakan hal itu. Ada kejadian naas yang membuat Dara memutuskan untuk tidak menikah.

Kedua orang tuanya pun tahu hal itu. Mereka juga paham bagaimana kejadian naas itu membuat hidup anaknya menjadi hancur.

Mereka bertiga sudah berusaha untuk bangkit dan melupakan kenangan pahit itu. Kejadian sepuluh tahun yang lalu memang tidak bisa mereka lupakan. Apalagi untuk Dara. Dia mengalami trauma sampai saat ini. Dulu bahkan dia sempat depresi dan ingin mengakhiri hidupnya.

Dara dulu pernah menjadi korban pemerko**** saat dirinya baru merayakan kelulusan. Dia diculik dan dilecehkan hingga tak sadarkan diri. Dia ditemukan warga di rumah kosong di ujung desa.

Saat itu Dara menangis histeris hingga membuat warga penasaran. Rumah tempat kejadian perkara telah lama ditinggal pemiliknya dan tiba-tiba terdengar suara wanita menangis.

Beberapa warga sekitar mencoba memasuki rumah itu. Ada yang menduga kalau itu suara makhluk halus karena suara itu terdengar saat malam.

Tidak hanya itu nasib buruk yang Dara alami. Dia juga mengandung setelah kejadian itu. Kejiwaannya semakin terguncang. Dia tidak mau bertemu dengan siapa pun kecuali ayah ibunya. Sering kali dia mencoba mengakhiri hidupnya. Terakhir kali dia mencoba bunuh diri malah membuat nyawa janin dalam kandungannya meninggal.

Mulai saat itu dia menyadari kesalahannya. Dia berusaha keras melawan traumanya. Dia belajar bangkit dari keterpurukannya. Dukungan dari orang tuanya membuat wanita itu lebih semangat berjuang, berubah menjadi diri yang lebih baik. Dia mengambil keputusan untuk meninggalkan desa tempat kelahirannya. Dia akan menjadi diri yang baru di tempat yang baru pula.

Bab 2

Malam harinya, selesai sholat Maghrib, mereka berkumpul di ruang tamu. Nindy dan Shaka melihat televisi di ruang tengah. Awalnya, Shaka menolak karena televisi itu tidak sebesar yang ada di rumahnya. Setelah diberi pengertian, dia pun mau melihat si kembar botak di layar televisi 14 inch.

Pak Abdullah ingin mengetahui tentang dua anak kecil yang Dara ajak. Tadi sepulang dari sawah, sang istri mengajak makan setelah itu anak-anak disuruh untuk tidur. Jadi kali ini saat yang tepat untuk Pak Abdullah bertanya-tanya.

“Mereka anak siapa, Nduk?“ Pak Abdullah memulai. “Kok boleh kamu ajak kesini?“

“Apa orang tuanya tidak marah?“ lanjut Bu Maisaroh. Beliau pun ingin mengetahui siapa sebenarnya Nindy dan Shaka.

“Katanya ibu sama bapak mau cucu. Itu Dara bawakan. Dua sekaligus,“ ucap Dara sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah.

Dia menjawab dengan santai pertanyaan orang tuanya. Dia tersenyum melihat orang tuanya yang tidak puas dengan jawaban Dara

“Kamu tidak menculik mereka kan?“ Bu Maisaroh mulai berpikir yang tidak-tidak. Raut wajahnya tampak lebih panik.

“Kami memang ingin memiliki cucu, anak yang lahir dari rahimmu, Nduk,“ timpal Pak Abdullah.

Wajah Dara berubah sendu. Dia benar-benar tidak bisa mengabulkan permintaan orang tuanya itu. Bagaimana lagi caranya menjelaskan kalau dia tidak akan menikah tanpa membuat luka hati ayah ibunya.

“Maafkan Dara, Pak. Aku tidak bisa mengabulkan permintaan bapak dan ibu soal itu," Dara meraih

tangan ayah dan ibunya. “Dara tidak akan menikah,“ ucap wanita itu sambil menggenggam erat tangan orang tuanya.

Pak Abdullah dan Bu Maisaroh pun tidak terkejut dengan perkataan itu. Putrinya sudah terbiasa

mengatakan hal itu.

“Mereka sama saja dengan cucu bapak dan ibu. Dara membantu merawat mereka dari kecil. Saat itu

Nindy baru berusia tiga tahun. Dan Shaka berusia satu tahun, makanya mereka memanggil Dara dengan

sebutan bunda."

Pak Abdullah dan Bu Maisaroh hanya terdiam. Mereka ingin mendengar cerita lebih lengkapnya.

“Mereka anak Pak Aidin, bosnya Dara di restoran. Mama kandung mereka meninggal dunia karena kecelakaan saat Shaka masih di kandungan. Hingga membuat Shaka harus lahir secara prematur. Neneknya, ibunya Pak Aidin sering membawa mereka ke restoran dan Dara disuruh bantu menjaga. Tidak hanya itu, saat aku libur kerja pasti mereka akan bersamaku. Mereka sudah terbiasa tinggal bersama Dara, Bu, Pak,“ ucap Dara menjelaskan.

Dara berharap orang tuanya mau menganggap mereka sebagai cucunya hingga tidak akan menyuruh Dara menikah terus.

“Aku sudah menganggap mereka seperti anak kandung jadi ibu dan bapak bisa menganggap mereka seperti cucu sendiri.“

“Tapi, Nduk,“ Pak Abdullah menjeda perkataannya. “Bagaimana jika suatu saat nanti bosmu menikah dan mereka punya mama sambung? Tidak mungkin mereka akan bersamamu terus."

"Benar kata Bapak, Nduk,“ sambung Bu Maisaroh. “Jika mereka dewasa nanti pasti mereka lebih memilih keluarga aslinya. Dan bila kami dipanggil Gusti Allah, kamu akan sendirian,“ Bu Maisaroh mulai berkaca-kaca.

“Jika kamu tidak menikah dan punya anak, siapa yang akan menjagamu saat kami tiada," terlihat Bu Maisaroh menyeka air matanya yang membasahi pipi.

Wanita 28 tahun itu terdiam. Dia tidak menyangka akan seperti ini. Dia membawa Nindy dan Shaka untuk membujuk orang tuanya agar mau pindah ke kota bukan untuk membuat mereka sedih.

“Kami tahu kamu masih belum bisa melupakan masa lalu itu, Nduk,“ lanjut sang ayah. “Tapi kami mohon agar kamu mau membuka hati untuk lelaki. Tolong pahami juga keinginan orang tua yang sudah sepuh ini,“ Pak Abdullah tertunduk, beliau pun mulai meneteskan air mata.

"Pasti ada laki-laki yang mau menerima masa lalu mu. Masih ada lelaki baik di luar sana," lanjut sang ayah penuh harap.

“Kami tidak memaksamu untuk segera menikah, tapi kami ingin kamu membuka hati lagi. Dan jangan lagi berkata kalau kamu tidak akan pernah menikah,“ sang ibu pun menangis.

“Kami menanti kehadiranmu sangat lama. Di usia pernikahan yang ke 22 tahun, Allah baru menitipkan nyawa di rahim ibu. Kami sangat bahagia saat itu. Kami berjanji akan menyayangi dan membahagiakan kamu sebisa mungkin. Lalu saat peristiwa buruk itu terjadi kami juga merasa kecewa pada diri kami sendiri. Kami merasa gagal menjaga permata kami. Kami gagal melindungi mu," isak tangis Bu Maisaroh tidak dapat dibendung.

“Kami mohon jangan buat bapak dan ibu merasa kecewa dan gagal lagi dalam menjaga dan melindungi mu, anugerah yang dipercayakan Allah pada kami,“ lanjut Pak Abdullah.

Dara pun ikut meneteskan air mata. Dia tidak menyangka kalau selama ini telah membuat orang

tuanya terluka. Dia merasa egois karena memikirkan dirinya sendiri. Tapi dia masih belum bisa membuka hati untuk lelaki.

Selain pelecehan yang di alami, ada satu hal lagi yang membuat Dara belum bisa membuka hatinya. Dafi Zayyan, teman seangkatan Dara di sekolah meskipun usia mereka berbeda satu tahun.

Dafi, nama panggilannya. Dafi sering kali menyatakan perasaannya pada Dara, tapi selalu ditolak. Walau begitu, Dafi tidak pernah menyerah mencari perhatian Dara. Diam-diam timbul rasa suka di hati Dara.

Tapi dia tak kunjung menyambut ungkapan cinta Dafi. Dara merasa tidak pantas untuk Dafi karena status mereka yang jauh berbeda. Dara hanya anak

seorang buruh tani. Dafi anak kepala desa.

Pernah dia berkhayal jika nanti setelah lulus sekolah dia akan bekerja keras agar bisa sejajar dengan Dafi. Dara tahu, Dafi mempunyai perasaan yang tulus. Sebenarnya pemuda itu tidak peduli kalau Dara hanya anak seorang buruh tani.

Tapi setelah kejadian naas itu, Dafi tidak pernah menampakkan diri lagi. Entah apa alasannya, Dara tidak pernah tahu.

Terakhir kabar yang dia dengar, Dafi melanjutkan kuliah di luar negeri. Dan empat tahun yang lalu Dara dengar pria itu sudah menikah.

Dara termenung cukup lama. Selain memikirkan nasihat orang tuanya, dia tiba- tiba memikirkan Dafi. Padahal sudah sangat lama pria itu hilang dari pikirannya.

“Bunda, Shaka mau pipis,“ perkataan Shaka membawanya ke alam sadar lagi. Cici segera bangkit dan menuntun pria kecil itu ke kamar mandi.

Setelah Dara pergi, bapak dan ibu saling berpandangan. Ada perasaan lega, akhirnya mereka bisa mengungkapkan uneg-unegnya.

Selama ini mereka hanya diam. Mereka tidak ingin membuat putrinya terlalu banyak pikiran. Mereka tahu hidup di kota sendirian tidaklah mudah. Dengan kejadian ini mereka berharap Dara dapat berubah pikiran.

Bu Maisaroh berdiri, dia hendak menemani Nindy melihat TV.

“Nduk, Mbah tadi buat pudding, Nindy mau?“ tawar Bu Maisaroh saat tiba di ruang tengah. Sejak datang tadi siang, Nindy tidak banyak tingkah berbeda dengan sang adik.

“Mau Mbah,“ jawab Nindy sambil mengangguk. “Maaf kalau merepotkan," lanjut gadis kecil itu.

“Mbah malah senang kalian ada di sini. Rumahnya jadi rame,“ ucap Bu Maisaroh sambil meninggalkan Nindy.

Dapur terletak di sebelah kamar mandi. Bu Maisaroh mendengar celotehan Shaka yang membuat Dara

tertawa. Dia membayangkan andai bocah cilik itu benar-benar cucunya.

Bab 3

Pagi hari setelah sarapan, Dara mengajak anak-anak pergi ke sawah. Kemarin sebelum tidur Dara bercerita tentang keindahan alam di desanya. Dan dia berjanji besok pagi akan mengajak Nindy dan Shaka jalan-jalan ke sawah.

Sekitar pukul tujuh mereka berangkat. Bu Maisaroh pun tidak mau ketinggalan. Meski setiap hari sudah melihat pemandangan di desanya, tapi ini kesempatan berbeda. Dia pergi dengan putrinya dan dua bocah cilik.

Saat berjalan menuju sawah, mereka melewati pemukiman warga. Baik Dara maupun Bu Maisaroh menyapa para tetangga yang ada di luar rumah. Sebagian mereka ada yang mulai berbisik-bisik. Pasti mereka membicarakan Dara. Karena selama ini jika Dara pulang kampung, dia tidak akan mau keluar rumah. Dan sekarang dia pulang dengan membawa dua anak.

Dara tidak peduli dengan apa yang dipikirkan tetangganya. Sebentar lagi dia akan pergi dari desa ini dan tak akan kembali lagi. Sudahlah, terserah mereka mau bicara apa. Dia hanya fokus pada celotehan anak berumur empat tahun itu. Selain super aktif, Shaka juga banyak bicara. Ada saja yang dia tanyakan. Sangat berbeda dengan kakaknya. Nindy sangat pendiam.

“Bunda, di mana Mbah?“ tanya Shaka saat baru tiba di area persawahan. Dia mencari keberadaan Pak Abdullah.

Sepanjang mata memandang, hanya terlihat hamparan tumbuhan padi yang masih hijau.

"Katanya tadi pergi ke sawah juga, kok tidak terlihat?“ lanjutnya sambil menoleh ke segala arah.

“Ayo, kita kesana!“ ucap Bu Maisaroh sambil menunjuk sebuah jalan setapak yang berada di tengah sawah. “Tapi hati-hati ya. Tidak boleh lari-lari!“

Mata kedua bocah itu berbinar. Mereka belum pernah menemui pemandangan seperti ini. Suasananya pun hening. Udaranya pun sejuk tidak seperti di kota tempat tinggal mereka selama ini.

“Itu gunungnya terlihat besar,“ ucap Shaka sambil menunjuk sebuah gunung yang terlihat begitu

dekat.

"Ayo kak kita ke gunung itu," ucap Shaka sambil menarik tangan kakaknya. Mereka berlari pelan. Mereka terlihat sangat senang. Dara dan Bu Maisaroh pun ikut tersenyum melihat tingkah bocah-bocah itu.

“Semoga kamu segera menikah dan dikaruniai anak seperti mereka ya, Nduk,“ Bu Maisaroh mencoba mengungkit kembali pembicaraan semalam yang tidak ada jawaban dari sang putri.

Karena semalam setelah mengantar Shaka ke kamar mandi mereka ikut melihat TV dan mengobrol tak karuan dengan adik Nindy.

Dara menoleh pada ibunya. Dia tersenyum kecut. Dia belum bisa menjanjikan apa-apa. Dia juga tidak bisa mengatakan sesuatu, takut orang tuanya terlalu berharap.

“Nindy, Shaka, belok sini!“ teriak Bu Maisaroh.

Kedua bocah itu sudah berlari jauh lurus ke depan. Sedangkan tujuan mereka belok menuju galengan di antara dua sawah. Dua orang dewasa berhenti, menunggu Nindy dan Shaka mendekat.

“Bunda bawa hp tidak?“ tanya Nindy.

“Buat apa, Kak?“ tanya Dara. Wanita itu biasa memanggil dengan adik kakak untuk Nindy dan Shaka.

“Buat foto-foto, Bun. Nanti mau ditunjukkan kakek dan nenek,“ ucap Nindy.

"Juga Papa,“ sambung Shaka dengan semangat.

Dara pun mengeluarkan ponselnya dari saku.

“Baiklah. Sekarang berdiri di sana biar bunda foto!“ ucap Dara mengarahkan bocah itu ke tempat yang menjadi spot untuk berfoto.

Dengan lincah mereka berpose layaknya seorang model. Sudah banyak sekali foto yang mereka ambil. Tidak hanya dua bocah yang berfoto, tapi Dara dan Bu Maisaroh juga ikut berfoto ria.

“Sudah, nanti foto lagi di tempat berbeda,“ kata Dara setelah merasa foto yang diambil cukup banyak.

Mereka segera berjalan menyusuri galengan. Bu Maisaroh yang berada di depan. Di belakangnya ada Shaka dan Nindy, sedangkan Dara di belakang sendiri.

Galengan adalah jalan sangat kecil yang berfungsi menyekat petak-petak sawah. Jadi mereka berjalan sangat pelan agar tidak terjatuh.

Sekitar lima menit mereka tiba di tempat tujuan. Sebuah sungai dengan air yang jernih dan dangkal karena terlihat batu-batu yang ada di dasar sungai. Arusnya tidak begitu deras. Dua bocah itu melompat kegirangan melihat pemandangan tersebut.

“Tidak boleh sampai basah ya. Bunda tadi tidak bawain kalian baju ganti,“ seru Dara yang melihat mereka langsung berlari ke arah sungai.

“Ya Bunda,“ keluh mereka kecewa. Dara pun paham dengan wajah kecewa mereka.

“Kita foto-foto lagi yuk!“ kata Dara sambil mengangkat hp dan menggoyangkan benda pipih itu, berharap agar mereka tidak kecewa.

Nindy melihat sang adik tetap murung. Dia menghampiri dan mengusap punggung sang adik.

“Kita foto-foto dulu nanti baru main air,“ ucap Nindy menenangkan Shaka.

“Tapi kata Bunda, Bunda gak bawa baju ganti, Kak,“ rengek Shaka.

"Shaka nanti bisa lepas bajunya terus main air. Anggap saja Shaka mandi. Setelah selesai bajunya dipakai lagi."

Raut wajah Shaka kembali ceria. Dia bersemangat lagi mendengar ide dari sang kakak. Dara memperhatikan mereka dari tadi. Dia pun senang. Gadis cantik itu bisa menjadi kakak yang baik. Walau pendiam tapi dia memiliki rasa peduli pada sang adik yang sangat aktif.

“Ayo Bunda, foto kami di sini dulu ya,“ kata Nindy.

Dirinya dan sang adik sudah berada di tengah sungai yang airnya hanya selutut Shaka. Mereka pun kembali berpose untuk pemotretan bak seorang model. Hari sudah beranjak siang. Bu Maisaroh mengajak mereka pulang.

Seperti biasa, Shaka yang sulit dibujuk, dia masih betah berendam di sungai itu. Walau tubuhnya sudah menggigil kedinginan, dia tetap tidak mau pulang. Dari tadi Nindy dan Dara hanya main di tepi sungai sambil mencelupkan kakinya di air.

Setelah benar-benar merasa kedinginan dan lapar, akhirnya Shaka mau diajak pulang. Dia sangat lelah dan tidak sanggup berjalan. Dara menggendongnya saat perjalanan pulang.

"Dara!!" teriak seseorang.

Wanita itu berhenti dan menoleh ke arah orang yang memanggilnya. Bu Maisaroh dan Nindy pun ikut berhenti. Seorang laki-laki sedang berlari mendekat.

“Ra, masih ingat aku?“ tanyanya seketika tiba di depan Dara. Pria itu terengah-engah mengatur napasnya.

Dara melotot tak percaya dengan apa yang saat ini dilihat. Dia terdiam membisu.

“Nak Dafi?“ Bu Maisaroh malah yang merespon. “Kapan kembali ke sini?“

Dafi meraih tangan Bu Maisaroh lalu mencium punggung tangannya.

“Kemarin malam, Bu“ jawabnya sambil menyunggingkan senyum.

Shaka yang dari tadi menyandarkan kepalanya di bahu Dara, segera mendongak melihat apa yang tengah terjadi.

“Aku lapar Bunda, ayo cepat pulang,“ rengeknya.

Fokus Dara pun beralih pada anak kecil yang digendongnya.

Dafi terlihat sedikit terkejut mendengar perkataan Shaka tadi. " Bunda. Ya anak itu memanggil Dara dengan sebutan Bunda," batin Dafi.

Dia sedikit kecewa mengetahui ada anak yang memanggil Dara bunda. Dia telah lama berharap bisa bertemu wanita pujaannya kembali, tapi bukan dalam kondisi seperti ini.

"Maaf ya Sayang," jawab Dara sambil mengelus rambut bocah itu. "Bu, aku duluan ya," wanita itu segera bergegas meninggalkan Dafi dan ibunya.

“Ayo Kak!“ lanjutnya sambil mengajak Nindy.

Bu Maisaroh pun merasa ada yang aneh dengan putrinya Beliau segera menoleh ke arah Dafi kemudian pamit, "Kami duluan ya, Nak."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED