(Alea Zahra POV)
Udara malam Jakarta terasa dingin menusuk kulit, berbanding terbalik dengan panasnya amarah yang membakar di dalam dadaku. Aku tiba di depan bar, aroma alkohol dan asap rokok menyengat hidungku. Dari dalam, sayup-sayup kudengar tawa Roni yang menggelegar, disusul suara centil Chika.
Suara tawa mereka seperti jarum es yang menusuk sanubariku. Aku ingat malam pertama aku mengajukan cerai. Roni mabuk berat malam itu, dan dia tidak tahu aku ada di dekatnya, mendengarkan semua yang dia katakan pada teman-temannya.
"Roni, apa kamu serius mau cerai dengan Alea?" tanya salah satu temannya, suaranya sedikit cadel karena mabuk.
Roni tertawa, tawa hampa yang menyakitkan. "Cerai? Alea? Dia hanya sedang mencari perhatian. Dia tidak akan pernah meninggalkanku."
"Tapi Alea sudah mengajukan gugatan cerai di pengadilan, Ron..."
"Dia tidak punya siapa-siapa, dia yatim piatu. Dia sudah menggantungkan hidupnya padaku selama sepuluh tahun ini. Ke mana lagi dia akan pergi? Dia hanya ingin aku lebih memperhatikannya." Roni meneguk minumannya. "Lagipula, ada masa tenang kan? Aku yakin, sebelum itu berakhir, dia akan kembali padaku. Dia akan menyesal."
Senyum tipis yang penuh percaya diri terukir di wajah Roni. Aku mengepalkan tangan. Dia memang tidak pernah mengenalku. Dia tidak pernah tahu betapa kerasnya aku berjuang, bahkan saat aku sendirian. Dia tidak pernah tahu, dia hanya menganggapku sebagai miliknya, barang yang tidak akan pernah pergi.
Sekarang, hitungan mundur masa tenang itu sebentar lagi akan berakhir. Dia akan tahu betapa salahnya dia.
Aku membuka pintu bar. Suasana riuh langsung menyergapku. Mata Roni terpaku padaku, ekspresinya berubah terkejut. Alisnya berkerut.
"Kenapa kamu di sini?" tanyanya, suaranya sedikit meninggi.
Aku mengangkat ponselku, menunjukkan pesannya. "Kamu yang menyuruhku datang."
Chika yang duduk di sebelahnya, langsung merangkul lengan Roni. "Pak Roni, siapa dia? Kenapa dia mengganggumu?" Chika menatapku dengan wajah polos yang memuakkan, seolah dia tidak tahu apa-apa.
Wajah Roni yang tadinya terkejut, kini sedikit melunak melihat Chika.
Aku hanya menatap mereka berdua, tanpa ekspresi. Aku tidak lagi merasakan amarah yang membakar seperti dulu. Yang ada hanya rasa kosong dan hampa. Aku mengangguk kecil, mengisyaratkan bahwa aku mengerti.
Roni mencoba mencari perhatianku lagi. "Alea, aku bisa jelaskan..."
"Tidak perlu, Roni," potongku, menyerahkan jas dan kunci mobilnya. "Kamu sudah minum. Aku tidak bisa mengantarmu pulang."
Aku berbalik, melangkah menuju pintu keluar. Aku akan memesan taksi online.
"Alea!" Roni menarik lenganku.
Tiba-tiba, sebuah taksi melaju kencang di depanku. Jantungku berdegup kencang. Roni menghela napas lega, mencengkeram tanganku.
"Kamu ini kenapa sih? Hampir saja kamu tertabrak!" Roni memarahiku. "Sudah kubilang, jangan ceroboh! Kenapa kamu jadi begini, Alea?"
Dia mencengkeram tanganku dengan erat, seolah ingin melindungiku, seolah aku masih miliknya yang rapuh. Cengkeramannya mengingatkanku pada masa lalu, saat dia masih peduli, saat dia masih memperlakukanku seperti harta karun.
Tapi itu dulu. Sekarang, sentuhannya terasa aneh, asing. Aku menarik tanganku dari genggamannya, perlahan. Mataku menatap lurus ke depan, tidak ada lagi jejak emosi. Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku hanya ingin pergi.
(Alea Zahra POV)
Pagi berikutnya, aku sudah siap untuk berangkat kerja. Tiba-tiba, Roni muncul di pintu kamarku.
"Alea, biar aku antar kamu ke kantor," katanya, suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya.
Aku menatapnya. Waktu sudah mepet, jika aku naik taksi online atau bus, aku pasti terlambat.
"Oke," kataku singkat.
Aku berjalan menuju mobilnya. Saat kubuka pintu penumpang, aroma parfum Chika langsung menyeruak, menohok hidungnya. Lebih kuat dari kemarin malam. Aku melongok ke dalam. Di jok penumpang, ada sebuah bando kelinci berwarna pink, sebuah botol minum berwarna ungu dengan stiker karakter kartun, dan sebuah tas kecil berisi perlengkapan make up. Semuanya barang-barang miliknya.
Roni yang melihatku menatap barang-barang itu, sedikit terbatuk. "Chika lupa barangnya kemarin. Dia memang ceroboh."
Aku hanya mengangguk, tanpa ekspresi. Aku tahu Chika tidak ceroboh. Chika sengaja. Chika sengaja meninggalkan barang-barang itu, seolah ingin mengatakan bahwa dia berkuasa di sini.
Bahkan dia juga pernah memposting foto mobil Roni di fitur 'Close Friend' dengan caption, "Mobil Pak Bos sudah jadi mobilku sekarang hihihi."
Aku tidak tahu kenapa Roni melakukan ini. Apa dia ingin membuatku cemburu? Atau dia hanya ingin menunjukkan betapa dia mencintai wanita itu?
Aku memilih tidak berkomentar. Berdebat tidak akan ada gunanya.
"Aku duduk di belakang saja," kataku, lalu berbalik dan membuka pintu belakang.
Roni terdiam, tapi tidak membantah. Dia hanya menatapku dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Di tengah perjalanan, Roni menyodorkan sebotol minuman kemasan kepadaku. "Sudah sarapan? Ini, minum dulu."
Aku melihat ke sampingnya. Di atas jok, ada banyak snack dan makanan ringan berserakan. Semuanya adalah makanan favorit Chika. Aku mengenalinya karena Chika sering mempostingnya di Instagram.
Aku teringat betapa Roni dulu selalu menjaga kebersihan mobilnya. Dia tidak akan pernah membiarkan sebutir remah pun jatuh di jok mobilnya. Pernah suatu ketika aku demam dan mual di perjalanan pulang. Aku memohon sebungkus biskuit agar perutku terisi.
"Jangan makan di mobilku," katanya dingin. "Nanti kotor."
Aku menghela napas. Ah, ya. Cinta dan tidak cinta, memang terlihat jelas.
Aku menggeleng. "Tidak, terima kasih." Lalu aku memalingkan wajah ke jendela, menatap gedung-gedung yang berlalu lalang.
Kami tiba di kantor. Aku segera turun dan masuk ke dalam. Aku masih punya tanggung jawab. Proyek penting yang sudah lama kukerjakan harus selesai. Aku tidak ingin meninggalkan perusahaan dalam keadaan kacau.
Sepanjang pagi, aku sibuk dengan pekerjaanku. Mataku terasa berat karena kurang tidur. Aku beranjak ke dapur untuk membuat kopi. Tiba-tiba, seorang kurir masuk, membawa beberapa kardus besar.
"Ini ada kiriman untuk Bapak Roni," katanya.
Kardus-kardus itu berisi minuman dan makanan ringan. Rekan-rekan kerjaku langsung heboh.
"Wah, Pak Roni memang yang terbaik!"
"Iya nih, tahu saja kita lagi kelaparan."
"Pasti buat Chika nih, kan Chika lagi diet dan suka banget minuman ini."
Obrolan mereka seperti kaset rusak yang terus berputar, mengorek luka lama.