Bab 1

Mobilku hancur menabrak pembatas jalan, kakiku terjepit, dan darah mengucur deras di tengah hujan lebat.

Dalam kepanikan antara hidup dan mati, aku menelepon suamiku, Roni, memohon pertolongan.

Tapi dia malah mematikan teleponku dengan kasar.

"Aku sedang rapat penting! Jangan ganggu aku!" bentaknya sebelum sambungan terputus.

Aku pingsan menahan sakit, mengira dia benar-benar sibuk menyelamatkan perusahaan.

Namun, kebenaran yang kutemukan kemudian jauh lebih menyakitkan daripada luka fisikku.

Di fitur 'Close Friend' Instagram sekretarisnya, Chika, terpampang foto tangan Roni sedang memegang obat kucing.

Caption-nya menusuk hati: "Makasih Pak Bos selalu ada di saat genting."

Ternyata, 'rapat penting' itu hanyalah menemani selingkuhannya ke dokter hewan.

Nyawaku ternyata lebih murah daripada seekor kucing peliharaan pelakor.

Saat aku menuntut penjelasan, Roni malah menuduhku egois dan drama.

"Kamu selamat kan? Bersyukurlah, jangan lebay," katanya tanpa rasa bersalah sedikitpun.

Hingga akhirnya, di hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-10, dia malah memberikan proyek impianku pada Chika di depan umum.

Cukup sudah.

Aku meletakkan surat cerai dan pengunduran diri di atas meja.

"Tanda tangani ini, Roni. Aku pergi."

Dia tertawa meremehkan, yakin aku tak bisa hidup tanpanya dan akan kembali mengemis.

Dia tidak tahu, kali ini aku tidak akan pernah menoleh ke belakang lagi.

Bab 1

(Alea Zahra POV)

Aku sedang berbicara di telepon dengan Bibi Rina, bibi dari pihak ibuku yang tinggal di Bali. Suaranya hangat, penuh kasih sayang, dan membuatku merasakan kehangatan yang sudah lama tidak kudapatkan.

"Alea, kamu sungguh-sungguh kali ini? Kamu akan kembali ke Bali?" tanya Bibi Rina, suaranya terdengar antusias.

"Iya, Bi. Aku sudah memikirkannya matang-matang," jawabku, mencoba meyakinkannya dan diriku sendiri.

"Baguslah, Nak. Bali selalu menyambutmu. Lagipula, kamu kan sudah lama tidak pulang. Nanti kan kamu ada pekerjaan juga di sana, kan?" Ada nada ceria dalam suaranya, seolah dia sudah merencanakan segalanya untukku.

Aku tersenyum kecil. "Iya, Bi."

"Ya sudah, nanti kalau sudah sampai, langsung kabari Bibi ya. Bibi akan jemput kamu di bandara."

"Makasih banyak, Bi."

Setelah mengucapkan salam, aku menutup telepon. Rasa lega bercampur haru memenuhi dadaku. Sudah terlalu lama aku tidak merasakan kasih sayang setulus ini. Selama ini, aku hanya berjuang sendirian.

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Roni masuk.

Dia baru pulang kerja, tapi ada aroma parfum wanita yang asing, manis dan berlebihan, menempel di tubuhnya, menembus indra penciumanku. Aroma itu bukan milikku.

"Siapa yang telepon?" tanyanya, melirikku sekilas.

Matanya sudah kembali ke layar ponselnya, jemari lincah menari di atas keyboard, seolah percakapan barusan tidak penting.

Aku menatapnya. Ingin sekali aku mengatakan siapa yang barusan menelepon, keinginan yang sudah lama tertahan. Tapi sebelum aku sempat membuka mulut, ponsel Roni berdering.

Layar ponselnya menampilkan nama "Chika".

Seketika, suara centil Chika Purba memenuhi ruangan, tawa renyahnya terdengar jelas. "Makasih banyak ya, Pak Roni. Kucingku sudah jauh lebih baik sekarang. Pak Roni memang penyelamatku!"

Aku mendengar suara Chika, yang sengaja ditekan seolah sedang merajuk. Roni buru-buru menjauhkan ponsel dari telinganya, menekan tombol volume, dan berkata, "Nanti aku telepon lagi. Ya, Chika. Oke."

Dia berdeham canggung, lalu kembali menghadapku. Aku hanya diam. Berdebat lagi? Untuk apa? Semuanya sudah jelas.

Aku kembali melipat pakaianku, memasukkannya ke dalam koper besar yang tergeletak di lantai. Gerakanku tenang, seolah tidak ada yang terjadi. Kemudian, aku beranjak ke dapur, mengambil gelas, dan membuatkan diriku secangkir teh herbal. Aroma mint dan lemon langsung menenangkan pikiranku.

Roni selesai menelepon. Dia duduk di sofa ruang tamu, mengambil majalah bisnis yang biasa dibacanya.

Dia meraih meja kopi, mencari-cari sesuatu. Tidak ada. Dia mengerutkan kening.

"Teh hangatku mana, Alea?" tanyanya, suaranya terdengar tidak sabar saat matanya melirikku.

Aku menelan ludah. "Aku cuma bikin untuk diriku sendiri," kataku datar.

Roni mendengus. "Kamu ini kenapa sih? Sejak kecelakaan itu, kamu jadi aneh. Kata terapisku, mungkin itu stres pasca trauma. Kamu harusnya bersyukur kamu selamat, bukannya malah menarik diri begini."

Aku menutup mata sejenak. Sudah kuduga dia akan berbicara seperti ini. Roni selalu begitu. Dia selalu punya alasan untuk segala hal, bahkan untuk mengabaikanku.

"Bersyukur?" tanyaku, suaraku terdengar serak. "Bagaimana aku bisa bersyukur, Roni? Aku hampir mati di jalan tol yang sepi itu. Kakiku terjepit, darah mengucur. Aku meneleponmu berkali-kali, tapi kamu mematikannya."

"Sudah kubilang, aku sedang rapat penting!" Roni membentak, matanya memancarkan kemarahan. "Rapat dengan investor! Apa kamu mau perusahaan kita hancur?!"

Aku hanya menatapnya kosong. Saat itu, aku percaya padanya. Aku benar-benar berpikir dia sedang rapat penting, hingga nyawaku sendiri tidak seberapa dibanding saham perusahaannya.

Kecelakaan itu... saat itu hujan sangat deras. Mobilku oleng, menabrak pembatas jalan. Kakiku terjepit, aku tidak bisa bergerak. Panik, aku menelepon Roni. Satu kali, dua kali, tiga kali. Tidak ada jawaban. Panggilan keempat, teleponnya mati. Aku mencoba lagi, tapi teleponnya sudah tidak aktif. Aku ingat bagaimana rasa takut itu merayapiku, bagaimana rasa sakit di kakiku terasa seperti disayat sembilu. Aku bertahan, terus mencoba menelepon orang lain, sampai akhirnya aku pingsan.

Aku baru tahu kebenarannya beberapa hari kemudian. Saat aku melihat postingan di Instagram Chika, di fitur 'Close Friend'. Sebuah foto tangan Roni yang memegang obat kucing, dengan caption manis, "Makasih Pak Bos selalu ada di saat genting."

"Rapat penting?" ulangku, suaraku nyaris tak terdengar. "Itu kamu bilang rapat penting? Menemani sekretarismu ke dokter hewan untuk kucingnya?"

Roni terdiam, wajahnya pias. Dia tidak bisa membantah.

"Kamu tahu, Roni," kataku, melipat sisa pakaian terakhirku. "Saat itu, aku sadar. Nyawaku tidak lebih berharga daripada kucing peliharaan selingkuhanmu."

Hening. Berat.

"Itu sebabnya aku mengajukan gugatan cerai," lanjutku, suaraku semakin mantap.

Roni tiba-tiba berdiri, wajahnya memerah. "Kamu masih saja membahas itu? Kamu pikir aku akan membiarkanmu pergi begitu saja? Setelah semua pengorbananku untukmu?"

Dia melemparkan majalahnya ke meja, membuat suara keras.

"Pengorbanan?" Aku menggeleng pelan. "Aku sudah mengorbankan karierku demi membangun perusahaanmu. Aku yang mendesain semua proyek besar, Roni. Aku yang bekerja siang malam di balik layar. Aku yang mengurus semua detail sampai kamu bisa berdiri seperti sekarang."

"Kamu jangan egois, Alea! Kita bisa bicarakan ini baik-baik!" Roni mencoba meraih tanganku, tapi aku menghindar.

"Terlambat, Roni. Semua sudah terlambat."

Dia mengepalkan tangannya, menatapku dengan mata berapi-api. Dia tahu aku sudah memutuskan. Dia tahu aku tidak akan menyerah.

Roni membanting pintu kamarnya, membuat seluruh ruangan bergetar. Aku hanya memejamkan mata. Aku tidak peduli lagi. Aku tidak akan membiarkan kemarahannya menguasai diriku.

Dengan tenang, aku menyelesaikan tugasku. Aku memasukkan sikat gigi dan pasta gigi ke dalam tas kecil, meletakkannya di atas koper. Aku menyalakan lampu tidur, lalu merebahkan diri di tempat tidur.

Tiba-tiba, ponselku berdering. Sebuah pesan masuk. Dari Roni.

"Alea, jemput aku sekarang. Aku ada di bar dekat kantor. Jangan lupa bawakan jas dan kunci mobilku."

Aku membaca pesan itu, amarahku kembali membuncah. Dia pikir aku masih istrinya yang akan menuruti semua perintahnya?

Beberapa detik kemudian, ponselku kembali berdering. Pesan lain dari Roni.

"Jemput sekarang, Alea! Aku sudah menunggu lama! Jangan membuatku menunggu, kamu tahu aku tidak suka menunggu! Ini kewajibanmu!"

Aku memejamkan mata, menghela napas panjang. Aku sangat lelah. Aku ingin tidur. Tapi aku tahu, jika aku tidak menjemputnya, dia akan mengamuk.

Dengan enggan, aku bangkit dari tempat tidur. Aku akan menjemputnya. Tapi ini adalah yang terakhir kali.

Bab 2

(Alea Zahra POV)

Udara malam Jakarta terasa dingin menusuk kulit, berbanding terbalik dengan panasnya amarah yang membakar di dalam dadaku. Aku tiba di depan bar, aroma alkohol dan asap rokok menyengat hidungku. Dari dalam, sayup-sayup kudengar tawa Roni yang menggelegar, disusul suara centil Chika.

Suara tawa mereka seperti jarum es yang menusuk sanubariku. Aku ingat malam pertama aku mengajukan cerai. Roni mabuk berat malam itu, dan dia tidak tahu aku ada di dekatnya, mendengarkan semua yang dia katakan pada teman-temannya.

"Roni, apa kamu serius mau cerai dengan Alea?" tanya salah satu temannya, suaranya sedikit cadel karena mabuk.

Roni tertawa, tawa hampa yang menyakitkan. "Cerai? Alea? Dia hanya sedang mencari perhatian. Dia tidak akan pernah meninggalkanku."

"Tapi Alea sudah mengajukan gugatan cerai di pengadilan, Ron..."

"Dia tidak punya siapa-siapa, dia yatim piatu. Dia sudah menggantungkan hidupnya padaku selama sepuluh tahun ini. Ke mana lagi dia akan pergi? Dia hanya ingin aku lebih memperhatikannya." Roni meneguk minumannya. "Lagipula, ada masa tenang kan? Aku yakin, sebelum itu berakhir, dia akan kembali padaku. Dia akan menyesal."

Senyum tipis yang penuh percaya diri terukir di wajah Roni. Aku mengepalkan tangan. Dia memang tidak pernah mengenalku. Dia tidak pernah tahu betapa kerasnya aku berjuang, bahkan saat aku sendirian. Dia tidak pernah tahu, dia hanya menganggapku sebagai miliknya, barang yang tidak akan pernah pergi.

Sekarang, hitungan mundur masa tenang itu sebentar lagi akan berakhir. Dia akan tahu betapa salahnya dia.

Aku membuka pintu bar. Suasana riuh langsung menyergapku. Mata Roni terpaku padaku, ekspresinya berubah terkejut. Alisnya berkerut.

"Kenapa kamu di sini?" tanyanya, suaranya sedikit meninggi.

Aku mengangkat ponselku, menunjukkan pesannya. "Kamu yang menyuruhku datang."

Chika yang duduk di sebelahnya, langsung merangkul lengan Roni. "Pak Roni, siapa dia? Kenapa dia mengganggumu?" Chika menatapku dengan wajah polos yang memuakkan, seolah dia tidak tahu apa-apa.

Wajah Roni yang tadinya terkejut, kini sedikit melunak melihat Chika.

Aku hanya menatap mereka berdua, tanpa ekspresi. Aku tidak lagi merasakan amarah yang membakar seperti dulu. Yang ada hanya rasa kosong dan hampa. Aku mengangguk kecil, mengisyaratkan bahwa aku mengerti.

Roni mencoba mencari perhatianku lagi. "Alea, aku bisa jelaskan..."

"Tidak perlu, Roni," potongku, menyerahkan jas dan kunci mobilnya. "Kamu sudah minum. Aku tidak bisa mengantarmu pulang."

Aku berbalik, melangkah menuju pintu keluar. Aku akan memesan taksi online.

"Alea!" Roni menarik lenganku.

Tiba-tiba, sebuah taksi melaju kencang di depanku. Jantungku berdegup kencang. Roni menghela napas lega, mencengkeram tanganku.

"Kamu ini kenapa sih? Hampir saja kamu tertabrak!" Roni memarahiku. "Sudah kubilang, jangan ceroboh! Kenapa kamu jadi begini, Alea?"

Dia mencengkeram tanganku dengan erat, seolah ingin melindungiku, seolah aku masih miliknya yang rapuh. Cengkeramannya mengingatkanku pada masa lalu, saat dia masih peduli, saat dia masih memperlakukanku seperti harta karun.

Tapi itu dulu. Sekarang, sentuhannya terasa aneh, asing. Aku menarik tanganku dari genggamannya, perlahan. Mataku menatap lurus ke depan, tidak ada lagi jejak emosi. Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku hanya ingin pergi.

Bab 3

(Alea Zahra POV)

Pagi berikutnya, aku sudah siap untuk berangkat kerja. Tiba-tiba, Roni muncul di pintu kamarku.

"Alea, biar aku antar kamu ke kantor," katanya, suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya.

Aku menatapnya. Waktu sudah mepet, jika aku naik taksi online atau bus, aku pasti terlambat.

"Oke," kataku singkat.

Aku berjalan menuju mobilnya. Saat kubuka pintu penumpang, aroma parfum Chika langsung menyeruak, menohok hidungnya. Lebih kuat dari kemarin malam. Aku melongok ke dalam. Di jok penumpang, ada sebuah bando kelinci berwarna pink, sebuah botol minum berwarna ungu dengan stiker karakter kartun, dan sebuah tas kecil berisi perlengkapan make up. Semuanya barang-barang miliknya.

Roni yang melihatku menatap barang-barang itu, sedikit terbatuk. "Chika lupa barangnya kemarin. Dia memang ceroboh."

Aku hanya mengangguk, tanpa ekspresi. Aku tahu Chika tidak ceroboh. Chika sengaja. Chika sengaja meninggalkan barang-barang itu, seolah ingin mengatakan bahwa dia berkuasa di sini.

Bahkan dia juga pernah memposting foto mobil Roni di fitur 'Close Friend' dengan caption, "Mobil Pak Bos sudah jadi mobilku sekarang hihihi."

Aku tidak tahu kenapa Roni melakukan ini. Apa dia ingin membuatku cemburu? Atau dia hanya ingin menunjukkan betapa dia mencintai wanita itu?

Aku memilih tidak berkomentar. Berdebat tidak akan ada gunanya.

"Aku duduk di belakang saja," kataku, lalu berbalik dan membuka pintu belakang.

Roni terdiam, tapi tidak membantah. Dia hanya menatapku dengan ekspresi yang sulit diartikan.

Di tengah perjalanan, Roni menyodorkan sebotol minuman kemasan kepadaku. "Sudah sarapan? Ini, minum dulu."

Aku melihat ke sampingnya. Di atas jok, ada banyak snack dan makanan ringan berserakan. Semuanya adalah makanan favorit Chika. Aku mengenalinya karena Chika sering mempostingnya di Instagram.

Aku teringat betapa Roni dulu selalu menjaga kebersihan mobilnya. Dia tidak akan pernah membiarkan sebutir remah pun jatuh di jok mobilnya. Pernah suatu ketika aku demam dan mual di perjalanan pulang. Aku memohon sebungkus biskuit agar perutku terisi.

"Jangan makan di mobilku," katanya dingin. "Nanti kotor."

Aku menghela napas. Ah, ya. Cinta dan tidak cinta, memang terlihat jelas.

Aku menggeleng. "Tidak, terima kasih." Lalu aku memalingkan wajah ke jendela, menatap gedung-gedung yang berlalu lalang.

Kami tiba di kantor. Aku segera turun dan masuk ke dalam. Aku masih punya tanggung jawab. Proyek penting yang sudah lama kukerjakan harus selesai. Aku tidak ingin meninggalkan perusahaan dalam keadaan kacau.

Sepanjang pagi, aku sibuk dengan pekerjaanku. Mataku terasa berat karena kurang tidur. Aku beranjak ke dapur untuk membuat kopi. Tiba-tiba, seorang kurir masuk, membawa beberapa kardus besar.

"Ini ada kiriman untuk Bapak Roni," katanya.

Kardus-kardus itu berisi minuman dan makanan ringan. Rekan-rekan kerjaku langsung heboh.

"Wah, Pak Roni memang yang terbaik!"

"Iya nih, tahu saja kita lagi kelaparan."

"Pasti buat Chika nih, kan Chika lagi diet dan suka banget minuman ini."

Obrolan mereka seperti kaset rusak yang terus berputar, mengorek luka lama.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED