Bab 1

Di perusahaan JM Company ada Leo yang sedang menunggu Ziko menyeleksi sekretaris baru untuknya.

Tadinya Leo menolak saat Ziko menyarankan agar mempunyai sekretaris barunya.

Leo paling membenci berurusan dengan wanita

Karena itu mengingatkan dirinya tentang pengkhianatan istri dan sahabatnya.

Semenjak itu Leo memutuskan untuk menduda selama 5 tahun tanpa mau berurusan dengan wanita.

Namun, melihat Ziko yang kewalahan karena mengurusi dirinya membuat Leo mengiyakan saran Ziko.

Mau tak mau Leo harus terpaksa menentang prinsipnya untuk berurusan dengan wanita namun dalam hal pekerjaan, bukan lainnya.

Tok tok

Ceklek

"Permisi tuan, saya ingin memperkenalkan sekretaris baru anda," Leo hanya mengangguk membuat Ziko langsung masuk ke dalam dan diikuti perempuan cantik di belakangnya.

"Ini sekretaris baru anda namanya Angel Feronica, dia berusia," Ziko tak melanjutkan ucapannya saat Leo mengangkat telapak tangannya.

"Langsung saja, suruh dia merevisi ulang semua proposal untuk proyek Spanyol dan berikan padaku jika sudah selesai," perintah Leo yang diangguki paham oleh Ziko.

"Baik kalau begitu saya permisi dulu," kata Ziko yang diangguki oleh Leo.

Ziko lalu mengantar Angel ke ruangannya untuk menjalankan perintah Leo barusan.

Sedangkan di dalam ruangan, Leo menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya sembari sedikit melonggarkan dasinya.

Ia paling benci saat berdekatan dengan wanita.

Tok tok

Ceklek

"Permisi tuan," Leo membuka kedua matanya dan melihat Angel di ambang pintu sedang tersenyum.

"Boleh saya masuk," Leo mendengus pelan dan mengangguk dengan sangat malas.

Angel tampak lenggat- lenggut berjalan menghampiri meja kerja Leo dengan membawa beberapa berkas di tangannya.

"Ini proposal yang anda minta," kata Angel dan duduk di hadapan Leo.

Leo lalu meraih proposal itu sembari memainkan bolpoin di tangannya.

Dengan sengaja Leo mencoret- coret kata yang perlu diperbaiki kembali.

"Kalau boleh tahu, kenapa semua staf dan karyawan di sini laki- laki semua dan hanya saya yang perempuan?" tanya Angel yang sangat penasaran namun merasa spesial saat Leo menerima dirinya perempuan satu- satunya di kantornya.

"Saya malas berurusan dengan wanita," Angel hanya mengangguk pelan dan sedikit memajukan kursinya.

"Lalu apa anda sudah menikah?" Leo melirik sinis Angel yang begitu banyak bicara dan ingin tahu kehidupannya.

"Duda," jawaban yang sangat singkat namun mampu membuat hati Angel berdesir hangat.

Angel lalu memberanikan diri untuk menggoda bos yang selalu menjadi idaman para wanita di luaran sana ini.

Dengan sangat berani Angel melepaskan high heelsnya dan menyentuh kaki Leo.

Leo menatap Angel dengan ekspresi datar dan sentuhan kaki Angel semakin naik ke atas sembari membuka kancing bajunya paling atas.

Dengan hati yang dongkol dan segala umpatan dalam hati, Leo meletakkan berkas itu di atas meja dan menghadap menatap Angel.

"Tidak bisakah kau bekerja dengan profesional tanpa harus menjual diri?" Angel hanya tersenyum menanggapi ucapan Leo.

Angel berdiri dan beralih mendekati Leo dan duduk di atas meja tepat di hadapan Leo.

"Tapi tidak ada pria lain yang bisa menolak pesonaku," Leo memundurkan kursinya menjauhi Angel sembari tersenyum sinis.

"Barang murahan memang pantas untuk orang bawahan," kata Leo dengan sangat pedasnya.

Angel tak menyerah ia melepaskan dasi Leo dan meraba dada bidangnya.

"Siapa yang peduli dengan hal itu? Jangan bilang jika kamu hanya berpura- pura menahan nafsumu," katanya membuat Leo sudah muak dan jijik dengan segala rayuannya.

Leo mendorong Angel hingga terduduk di atas mejanya membuat Angel tersenyum senang.

"Jangan samakan diriku dengan pria yang selalu menyentuhmu," kata Leo lalu menarik tangan Angel untuk masuk ke dalam kamar yang berada di ruangannya.

Ceklek

Brugh

Leo mendorong Angel hingga terduduk di tepi ranjang minimalis itu.

Angel begitu girang dalam hatinya saat Leo mengambil borgol dalam laci dan memborgol tangan Angel.

Tak hanya itu, Leo bahkan melepaskan seluruh pakaian Angel hingga ia bertelanjang bulat.

"Oh kau malu mengungkapkan padaku jika kau seorang sadomasokis?" tanya Angel saat Leo melepaskan sabuk besar hitamnya.

"Aku suka kekerasan," katanya membuat Leo tersenyum licik.

"Oh ya? Lalu rasakan kekerasan ini," kata Leo sembari menutup kedua mata Angel.

Ceteeess

Ceteessss

Ceteeeesss

"Ah sakit Leo," pekik Angel saat tubuhnya merasakan cambukan keras dari sabuk Leo.

Leo seakan tuli dengan teriakan dan rintihan dari Angel.

Bahkan tubuh Angel sudah mengeluarkan bercak merah karena cambukan keras dari Leo.

Leo lalu mendorong Angel untuk tengkurap dan kembali mencambuk dengan keras.

Entah sekeras apa hati Leo tapi ia tidak merasakan iba dan kasihan pada Angel.

Jangankan kasihan, rasa nafsu dan birahi saja Leo tidak merasakannya meski melihat Angel bertelanjang bulat di depannya.

Setelah puas melihat ukiran pada tubuh Angel dan korbannya sudah tak berdaya, Leo mengeluarkan pistol dalam sakunya.

DARRR

DARR

DARRR

Leo menembak Angel tanpa belas kasihan lalu keluar dari kamarnya.

"Ke ruanganku sekarang," perintahnya pada Ziko lewat telepon.

Ceklek

"Buang mayatnya dan sterilkan kamarku, aku ingin pulang sebentar," perintahnya sembari menyambar jas hitamnya dan keluar kamar.

Ziko hanya menghela napas pelan saat dirinya merasa sedang menyetor nyawa seseorang pada Leo.

"Astaga, Angel- Angel gue suruh lo kesini tuh buat gantiin gue bukan buat cari mati, lo enggak kasihan apa sama gue," gumamnya sembari menghubungi anak buah Leo yang lain untuk membantunya.

•••

Sesampainya di rumah Leo mengangkat sebelah alisnya saat mobil papa mamanya terparkir epic di samping teras.

Ceklek

Terlihat De Vana dan Mira sedang duduk di ruang tamu sedang menunggu dirinya.

"Kapan papa sama mama datang?" tanyanya sembari berjalan menghampirinya.

"Barusan," jawab De Vana pelan sembari melipat korannya.

"Tumben pulang, dari club atau dari kantor?" tanya Mira sedikit ketus.

"Kantor," jawab Leo singkat sembari menyandarkan punggungnya ke sofa.

PLUK

Mira melemparkan beberapa lembar kertas foto di atas meja.

Leo hanya menatapnya tanpa mau melihat atau sekedar bertanya.

"Besok kita akan dinner bersama keluarga om Denta, jadi besok kamu harus datang," kata Mira membuat Leo memijat pelipisnya.

"Leo enggak mau," tolaknya dengan tegas.

"Lihat dulu fotonya, ia seorang model terkenal di Belgia, cantik dan sangat mapan, siapa tahu kalian cocok," kata Mira membuat Leo meraih kertas foto itu.

"Dulu juga cantik dan mapan, tapi tukang selingkuh. Mending sendiri aja duda sampai tua," gumamnya sembari merobek kertas foto itu lalu membuangnya ke tempat sampah.

Bugh

Mira memukul bahu Leo dengan dompet LV nya.

"Aduuhhh sakit ma," rintihnya dengan gemas sembari mengusap- usap bahu kekarnya membuat De Vana hanya terkekeh melihat tingkah putra dan istrinya.

"Enak aja mau duda sampai tua, mama juga butuh cucu, mama pengin gendong bayi," kata Mira mengungkapkan isi hatinya melihat putranya menduda selama 5 tahun.

"Kenapa enggak buat sama papa aja, kan entar sama- sama gendong bayi," Mira hendak memukul Leo kembali namun terhenti dan melampiaskannya pada De Vana.

"Salah apalagi papa coba," gumam De Vana heran saat Mira memukulnya, Leo tertawa melihat wajah pasrah papanya.

"Pokok mama enggak mau tahu, besok malam kamu harus dateng," kata Mira lalu beranjak dari duduknya dan keluar dari rumah.

De Vana lalu menatap putranya yang terlihat tenang dan santai.

"Sabar son, kontes perjodohan ini akan berakhir disaat kamu mau menerima salah satunya," kata De Vana memberitahukan.

"Ya tuan De Vana, tidak bisakah anda memberitahu mama jika putranya ini sangat tertekan?" De Vana tertawa.

"Papa hanya bisa menuruti kemauan mamamu yang terbaik," katanya membela diri.

"Bilang aja anda tipe- tipe suami takut istri kan?" De Vana menggelengkan kepalanya.

"Kata siapa? Papa hanya bersikap sebagai pasangan yang saling melengkapi," katanya dengan sangat bijak.

"Oh ya?" De Vana mengangguk mantap.

TINNNN

TINNNN

"De Vanaaa cepatlah keluar, aku ingin ke salonn," teriak Mira yang membunyikan klakson mobilnya.

"Iya ma tunggu bentar," Leo tertawa melihat tingkah papanya.

"Hei son, kau lihat saja nanti. Saat kau sudah menikah papa akan membalas menertawakanmu," kata De Vana di ambang pintu lalu menutup pintunya.

Leo hanya tertawa pelan dan menyandarkan punggungnya di sofa.

"Aku tidak akan pernah menikah," gumamnya mengingat bagaimana perselingkuhan istri dan sahabatnya 5 tahun lalu.

Bab 2

Keesokan paginya, di rumah sederhana ada keluarga Keysa yang sedang duduk di ruang makan menunggu sarapan yang tengah dibuat oleh Keysa.

"Keysa ayo buruannn kakakmu mau berangkat sekolah ini," teriak Sarah begitu kesal saat ia menunggu begitu lama.

"Iya bu sebentar," jawab Keysa dari dapur.

Tak lama Keysa datang dengan mangkuk besar berisi nasi goreng seafood kesukaan Celine.

"Lama banget sih, laper nih gue," ketus Celine yang merupakan kakak tiri Keysa.

"Iya maaf, tadi aku bangunnya kesiangan," kata Keysa sembari mengambilkan piring untuk mereka.

"Besok lagi bangun pukul 4 agar kakakmu tidak terlambat sarapan," kata ayahnya, Dion.

Keysa hanya bisa menahan rasa sakit mendengar ucapan sang ayah yang mana lebih menyayangi kakak tirinya.

"Buatkan kakakmu susu dulu, baru kamu boleh sarapan," kata ibu tirinya membuat Keysa mau tak mau kembali ke dapur untuk membuatkan susu Celine.

Mereka lalu sarapan bersama tanpa menunggu Keysa yang tengah membuatkan susu untuk Celine.

Tak lama Keysa kembali sembari membawa segelas susu cokelat dan mereka telah selesai sarapan.

"Ini susunya," kata Keysa sembari meletakkan di samping Celine.

Keysa menatap mangkuk besar itu, hanya tinggal sisa beberapa suap nasi goreng untuknya.

Padahal semalaman Keysa tidak makan karena Celine menghabiskan jatahnya.

"Lihat apa kamu, buruan cuci piringnya," bentak Sarah keras.

Keysa membawa piring- piring kotor itu ke belakang dan sarapan di dapur.

Selesai mencuci piring dan sarapan, Keysa pergi ke kamar untuk berganti seragam.

Tak ada.

Di mana seragamnya?

"Ibu, di mana seragam Keysa?" tanya Keysa sedikit panik dan cemas.

"Ohh iya sorry ibu lupa nyuci, kayaknya sih masih di rendaman," Keysa langsung berlari ke belakang dan melihatnya.

Dan benar, seragamnya masih terendam di bak cucian.

Buru- buru Keysa mencucinya dan kembali ke kamar untuk mengeringkannya dengan kipas.

Sekitar pukul 6.45 Keysa terpaksa memakai seragam yang masih setengah basah itu, karena hari ini ia sedang ujian nasional.

"Sekolah juga?" tanya Sarah yang duduk di ruang tamu sembari menonton TV.

"Iya bu," Sarah hanya mengangguk sembari menatap iba Keysa.

"Nanti malem kita mau pergi keluar, kamu jaga rumah aja," kata Sarah memberitahukan pada Keysa.

"Iya bu," jawab Keysa lalu bergegas berangkat ke sekolah dengan harapan masih ada bus yang lewat.

Padahal dulu Keysa selalu berangkat bersama dengan Dion meski hanya menaiki mobil butut.

Karena tidak ada lagi angkutan umum Keysa berlari menuju sekolah, hitung- hitung seragamnya bisa kering karena terpaan angin.

Suatu keberuntungan saat Keysa bisa datang tepat waktu dan mengikuti ujian.

Fely yang duduk di belakang Keysa, menatap iba sahabatnya itu saat tahu seragamnya masih setengah basah.

"Nih buat ganjel perut," kata Fely menyodorkan sebungkus roti pada Keysa karena ia tahu sahabatnya itu pasti tidak akan pernah mendapat jatah sarapan melihat keluarganya yang mirip iblis.

"Makasih," kata Keysa menerima sebungkus roti itu dengan senyum manisnya.

Tetttt

Keysa memasukkan sebungkus roti itu ke dalam kolong meja saat bel berbunyi.

Ujian pun berlangsung selama 120 menit dan telah berakhir.

Keysa yang merasa pusing dan perutnya sakit, langsung merebahkan kepalanya di atas meja.

Fely langsung menghampirinya.

"Ayo ikut gue," kata Fely sembari menarik tangan Keysa.

"Kemana?" tanya Keysa yang mengikuti langkah Fely.

"Lo tuh jadi orang jangan diem aja, sekali- kali ngelawan kek," omel Fely sembari menarik tangan Keysa ke kantin.

Brugh

"Keysaaa," pekik Fely kaget saat Keysa jatuh pingsan.

"Key bangun Key," Fely menepuk- nepuk pelan pipi tirus Keysa dengan harapan ia bangun.

"Keysa kenapa?" tanya Rey yang langsung siaga mengangkat Keysa.

"Enggak tahu tiba- tiba aja dia pingsan," jawab Fely cemas.

Rey langsung membopong Keysa berlari ke uks.

Sesampainya di uks Keysa langsung diperiksa oleh dokter yang tersedia.

"Dok, apa Keysa baik- baik aja?" tanya Fely saat melihat sang dokter terlihat tenang.

"Dia tidak apa- apa, hanya masuk angin dan maag nya kambuh," Fely mendengus sebal saat alasan itu selalu jadi langganan.

Fely lalu duduk di samping brankar menatap Keysa.

Wajah dan bibir yang pucat membuat Fely selalu ingin membunuh keluarganya.

Di mana hati nurani mereka pada anaknya.

"Kalau gitu gue beliin makan dulu ya buat Keysa," pamit Rey yang hanya diangguki oleh Fely.

"Lo tuh jadi anak berbakti banget sih Key, gue kalau jadi lo mungkin udah enggak kuat," gumam Fely yang kagum akan sikap bakti Keysa pada kedua orang tuanya.

"Loh Cel, itu adik lo kenapa?" Celine yang melangkah masuk ke dalam uks menatap Keysa dan Fely bergantian.

"Temen lo kenapa? Sekarat?" tanya Celine yang diiringi gelak tawa dari teman- temannya.

Fely yang begitu greget dengan kakak tiri Keysa langsung berdiri dan menghampirinya.

Dengan sangat sinis dan mengintimidasi Fely menatap penampilan Celine dari atas hingga bawah.

"Lo enggak malu pakai barang punyanya orang? Oh sorry perempuan kayak lo kan enggak punya urat malu," ejek Fely saat mengetahui sepatu, jam tangan dan seragam baru milik Keysa yang dibeli bersamanya dan saat ini tengah dipakai oleh Celine.

Celine melihat teman- temannya yang berbisik lalu melangkah maju mendekati Fely.

"Diem mulut lo sebelum gue robek lebar- lebar," Fely hanya tersenyum meremehkan dan dengan sengaja ia menendang kaki kering Celine.

Dugh

"Aww bangsat," umpatnya sembari mengusap- usap kaki keringnya yang terkena sepatu cat Fely.

"Ohh sorry," ucap Fely dengan nada bercandanya.

Celine hendak membalas namun detik kemudian Rey datang sembari menenteng plastik yang berisi makanan dan sebotol air putih.

"Ehh kak Rey," sapa Celine dengan nada lemah lembut membuat Fely merasa jijik melihatnya.

Rey tidak memedulikan Celine dan masuk ke dalam uks untuk meletakkan makanan yang ia beli untuk Keysa.

"Gue pergi dulu ya," pamit Rey pada Fely dan keluar dari uks.

Fely yang melihat Celine diacuhkan begitu saja hanya menjulurkan lidahnya untuk mengejeknya.

•••

Pukul 2 siang mereka baru saja keluar dari gerbang sekolah.

Begitupun Fely dan Keysa yang tengah berdiri di tepi jalan hanya untuk menunggu angkutan umum.

Dari kejauhan Keysa menatap Celine yang dijemput oleh Dion dan Sarah.

Ketiganya lalu masuk ke dalam mobil bersama dan pergi dengan melupakan Keysa yang masih menunggu angkutan umum.

Fely yang melihat hal itu merasakan bagaimana rasanya tersakiti karena keluarga kita sendiri.

"Eh Key kata lo kan malam ini mereka pergi, gimana kalau lo ke rumah gue aja, biar ada temennya?" tanya Fely menawarkan agar Keysa menginap di rumahnya.

Jika dipikir- pikir, mungkin enak juga jika Keysa menginap di rumah Fely mengingat dirinya di rumah sendiri malam nanti.

"Iyadeh aku mau," Fely bersorak senang dan memeluk erat sahabatnya itu.

Keduanya lalu pulang menaiki bus umum dengan hati yang bergembira.

Bab 3

Sepulang sekolah, Keysa dan Fely langsung menonton drama kesukaan mereka dengan makan beberapa camilan.

Keysa senang disaat dirinya merasa terpuruk dan sendiri ada Fely yang selalu ada untuknya.

Fely yang hidup sendiri sebatang kara juga senang bisa bertemu Keysa.

Dia merasa jika mempunyai keluarga meski hanya Keysa yang ia punya.

"Key entar malam pokok lo harus ikut gue," kata Fely memaksa.

"Kemana?" tanya Keysa penasaran dengan tatapan masih fokus pada layar laptop Fely.

"Entar lo juga tahu," kata Fely sembari tersenyum tipis membuat Keysa sangat penasaran.

Saat malam tiba, kedua remaja ini sibuk merias diri di dalam kamar.

Namun, yang membuat Fely heran adalah, Keysa memakai pakaian yang begitu tertutup.

"Astagaaa Keysaa, lo masak iya mau main keluar pakaiannya panjang gini?" kata Fely heran.

"Emang kenapa? Di luar dingin tahu," katanya sembari memeluk dirinya sendiri.

"Ya seenggaknya pakai baju yang kayak gue kek," kata Fely sembari menatap dirinya di pantulan cermin.

Keysa menatap sahabatnya yang berpakain begitu seksi dan terbuka itu.

"Bukankah itu sangat terbuka Fel, di luar cuacanya sangat dingin," kata Keysa menatap penampilan Fely yang begitu terbuka.

"Gampang, nanti bawa jaket," kata Fely sembari menambah olesan pada bibirnya.

Sedangkan Keysa yang tidak tahu akan di ajak kemana hanya diam dan berpikir tentang keluarganya.

Kemana mereka pergi?

Apa mereka sedang jalan- jalan bersama?

Lalu kenapa Keysa tidak diajak? Bukankah Keysa juga bagian dari keluarga mereka?

"Ayo tunggu apalagi, kita berangkat," kata Fely yang menarik tangan Keysa dengan begitu bersemangat.

•••

Sedangkan di tempat lain, tepatnya di restoran milik Leo, ada dua keluarga yang sedang mengadakan dinner.

Namun, sayangnya orang yang mereka tunggu- tunggu tak kunjung datang.

Ya, siapa lagi jika bukan Leo.

Bahkan Mira sudah mengeluarkan sumpah serapahnya saat putra semata wayangnya tak kunjung datang.

Jika hanya telat 5- 10 menit mah enggak papa.

Ini sudah hampir 45 menit lamanya.

"Sorry telat, tadi macet," semua orang menoleh begitupun perempuan cantik itu yang mana tatapannya bertemu dengan mata elang Leo.

Leo langsung duduk bersama Ziko di sampingnya.

Bugh

"Aduh ma sakit," rintih Leo saat Mira memukul bahu kekarnya.

"Kamu ini dinner pakaiannya kucel gitu, mana keringetan lagi, enggak malu apa sama Vanya?" marah Mira saat melihat penampilan Leo begitu kusut.

"Namanya juga pulang kerja, ya enggak Zik?" Ziko yang duduk di samping Leo merasa tertekan karena harus berbohong, pasalnya tadi Leo sengaja berolahraga sebelum berangkat kesini agar cewek yang akan dijodohkan merasa ilfeel pada Leo.

Dengan terpaksa Ziko hanya mengangguk saat kakinya ditendang oleh Leo.

"Udah enggak papa Mir," lerai Denta membuat Mira tersenyum paksa karena ulah putranya.

Sebelum mengawali dinner, Denta menyampaikan niatnya pada keluarga Leo.

"Leo, om tahu jika kamu sudah lama menduda, sedangkan putri om kini juga sudah semakin dewasa, om rasa kamu paham ucapan om," kata Denta membuat Leo menghela napas dan itu membuat Mira langsung mencubit perut putranya.

Leo hanya mengusap pelan perutnya dan bersikap dingin.

"Saya menolak perjodohan ini," kata Leo to the point membuat Vanya yang mendengarnya sangat jengkel.

"Tapi kamu belum mencobanya, bagaimana jika kalian jalani dulu siapa tahu kamu cocok dengan putri om," kata Denta mencoba untuk membujuk Leo.

"Zik lo mau enggak?" tanya Leo menawari Ziko membuat Vanya meremas dressnya di bawah meja.

Ziko yang ditawari hanya melebarkan kedua matanya dan bingung.

Bugh

"Aduh ma sakit," rintih Leo saat Mira memukulkan tas Diornya pada punggung kekar Leo.

"Yang dijodohkan kamu kenapa malah nawari Ziko?" marah Mira membuat De Vana berusaha untuk menahan bibirnya agar tidak tersenyum.

"Leo kan udah bilang enggak mau," kata Leo dengan santainya.

"Tapi aku mau jalani perjodohan ini," sontak semua mata menatap Vanya.

"Tapi gue enggak mau," bantah Leo yang mampu membuat Vanya merasa malu.

"Leo jaga ucapanmu," kata Mira menepuk paha putranya.

"Maaf om terus terang saja, saya tidak mau menerima perjodohan ini," kata Leo sembari beranjak dari duduknya diikuti oleh Ziko.

"Leo berhentiii," panggil Mira berharap Leo kembali.

"Maaf ma Leo mau mandi," teriak Leo sembari melambaikan tangannya dan keluar dari restoran.

De Vana yang melihat hal itu sudah tak heran dan terkejut, pasalnya bukan hanya Vanya yang ditinggalkan begitu saja saat dinner dan ditolak mentah- mentah oleh putranya itu, sudah banyak perempuan selama 5 tahun ini.

Dan herannya De Vana merasa kagum dengan istrinya.

Yang mana Mira tak kenal lelah untuk menjodohkan Leo dengan perempuan yang menurut ia baik dan pantas untuk Leo.

"Maaf ya Denta, aku tidak bisa memaksakan Leo untuk menerima perjodohan ini," kata Mira mewakili Leo meminta maaf pada Denta dan Vanya.

"Iya enggak papa Mir, aku tahu perasaan Leo yang belum bisa menerima kenangan pahit masa lalunya," kata Denta berlapang dada.

Namun, tidak dengan Vanya yang terus mengumpat dan merutuki Leo yang mempermalukan dirinya.

Lihat saja, aku akan membuatmu bertekuk lutut dan mengemis cinta padaku, batin Vanya sembari menatap kepergian mobil Leo.

•••

Di sinilah Leo sekarang, di club Vana miliknya sendiri.

Selesai membersihkan diri, Leo langsung datang ke clubnya.

Bukan untuk bermain wanita melainkan hanya untuk duduk santai menikmati alunan musik dan minum wine.

Ziko duduk di samping Leo dan menatap para wanita yang tengah asyik berjoget ria.

"Emang lo enggak mau main sama mereka?" Ziko menggelengkan kepalanya.

Leo menatap Ziko yang hanya berekspresi datar menatap banyaknya perempuan yang berpakaian seksi.

"Jangan bilang kalau lo gay?" tebak Leo membuat Ziko langsung mendelik kaget.

"Ya tuhan mana mungkin, saya juga masih normal seperti pria pada umumnya," kata Ziko membantah tebakan Leo.

"Terus kenapa lo enggak selera lihat mereka?" tanya Leo ingin tahu.

"Anda sendiri kenapa enggak selera sama mereka yang begitu banyak mendekati anda?" Leo langsung terdiam saat Ziko membalikkan ucapannya.

"Karena gue paling benci pengkhianatan," gumamnya sembari menenggak winenya.

Ziko hanya mengangguk paham.

"Lalu apa anda akan terus begini? Anda butuh seseorang untuk menemani setiap harinya. Tidak ada salahnya jika anda mencobanya lebih dulu," kata Ziko mencoba memberi saran pada Leo.

"Aku sudah mencobanya," kata Leo membuat Ziko menyemburkan winenya membuat Leo mendengus sebal.

"Secepat itu?" tanya Ziko tak percaya pasalnya dari 10 tahun ia bekerja dengan Leo, baru kali ini tuannya itu mendengarkan nasehatnya.

Ziko menatap wajah Leo yang terlihat begitu tenang dan seperti orang sedang kasmaran.

Sejak masuk tadi gadis yang duduk di sudut ruangan itu terus menarik perhatian Leo.

Pasalnya hanya gadis itu yang mengenakan pakaian panjang nan sopan.

Bahkan ia terlihat begitu cantik dan menggemaskan di mata Leo.

Deg

Hati Leo berdesir hangat dan berdetak cepat saat tatapan mereka bertemu meski hanya sekilas.

Ziko yang begitu penasaran dengan apa yang sedang ditatap Leo langsung bertanya.

"Tuan, wanita mana yang anda tatap dengan sejuta cinta itu?" tanya Ziko sembari mencari wanita yang menurut Ziko bisa menarik perhatian Leo.

"Dapatkan wanita itu untukku," perintahnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED