Kuta Bali, seakan tidak ada waktu untuk istirahat bagi daerah ini, padahal jam sudah tergelincir ke tengah malam. Tetapi keramaian masih dengan senang hati tercipta.
Langkah kaki Maora terhenti di trotoar, dia memilih duduk dan menyandarkan punggungnya di bangku kosong pinggir jalan.
Maora mengembuskan napas, dia berpikir kalau jalan-jalan seperti ini akan dapat menciptakan suatu kenangan yang indah untuk dikenang. Namun, semua itu nihil. Saat hatinya masih tertuju pada satu nama, yaitu Riky Suhendra.
Riky, si pria brengsek itu saat ini pasti sedang bergelut di atas ranjang bersama Sinta. Munafik memang.
"Mau minum?" Seseorang menyodorkan satu kaleng soda ke Maora.
Maora mendongak, dan ternyata Alvaro lah yang memberikan minuman. "Thanks."
"Sama-sama." Alvaro mendaratkan bokongnya di samping Maora, dia menatap lurus ke arah ruko yang berbaris rapi sepanjang jalan.
"Cinta emang sialan, mereka seenaknya aja mainin perasaan kita, padahal di sini kita sudah berharap banyak." Alvaro berceloteh seorang diri, sedangkan Maora dia tidak ada sedikitpun untuk menyahuti ocehan Alvaro.
"Kamu tau? Besok aku nikah, tapi cewek sialan itu ninggalin aku gitu aja, dan milih karirnya! … kadang aku mikir dia itu beneran cinta atau enggak." Ocehan Alvaro hanya ditanggapi ekspresi tidak menyenangkan dari Maora.
Maora, wanita asing yang dikenalnya di bar tadi karena salah paham akibat perempuan gila yang meneriakinya. Jelas sekali kejadian beberapa saat lalu masih berputar-putar di kepalanya.
Damn! Wanita gila ini membual, dan ayolah, Alvaro tidak akan tertarik pada perempuan setengah sinting ini. "Kamu gila, Nona! Saya tidak ada niat mau memperkosa kamu," tandas Alvaro kesal.
Akan tetapi ini adalah Bar, mereka hanya menoleh sekilas dan kembali melanjutkan kegiatan mereka. Tanpa perduli dengan yang terjadi.
"Syukur deh, nggak ada yang dengerin," gumam Alvaro.
Niat hati Alvaro ingin meninggalkan wanita sinting ini, tapi dia malah mendapatkan kejutan yang tidak terduga.
Seseorang memukul kepalanya dengan tas selempang dari arah belakang. "Sial! Sebenarnya ada masa …." Alvaro tidak melanjutkan perkataannya, ketika dia memutar tubuh dan mendapati sosok wanita cantik, tengah menatapnya nyalang.
Maora Salsabilla, dia melayangkan kembali pukulan untuk Alvaro, tetapi pria ini berhasil menangkis dan sialnya dia malah berada dalam dekapan orang asing. Saat Avaro menarik lengannya.
"Sepertinya kita tidak punya masalah, tapi kenapa aku mendapatkan hadiah seperti ini?" Alvaro berbicara dengan sangat lembut, bahkan Maora nyaris tidak mendengarnya. Jika saja, dia tidak benar-benar dekat dengan pria ini.
"Aku tidak suka dengan lelaki yang memainkan wanita! Itu sama saja mereka dengan binatang!" seru Maora.
Alvaro tersenyum menanggapi jawaban Maora, dia melepaskan tubuh wanita cantik ini, dan berkata, "kamu salah paham, aku bukan lelaki kaya gitu."
"Kenapa nggak tanya aja, daripada di sini. Ngoceh nggak jelas sama orang yang gak dikenal."
Jawaban Maora membuat Alvaro tertawa tersadar dari lamunanya, tetapi tawanya itu terlalu sangat dipaksakan dan menjadi sangat kaku. "Kalo aku mau bisa aja, tapi aku nggak mau. Bukan karena aku nggak punya HP, tapi jawaban yang nanti aku dapet pasti sama."
"Oh," jawabnya singkat.
"Iya, kamu kenapa bisa patah hati juga?" tanya Alvaro.
Maora seketika menoleh menatap Alvaro, dan mengerjap. "Jangan sok tau deh!" sungut Maora.
"Aku bicara sesuai fakta! Orang jauh-jauh datang ke sini udah pasti buat liburan, have fun bareng orang tersayang. Tapi kamu malah ngegalau di sini."
Maora menurunkan bahunya, sejenak menarik napas dan mengembuskannya kembali dengan kasar. "Pacar aku ketahuan wik-wik, sama sahabat aku sendiri!"
Pada akhirnya batu yang mengganjal dapat Maora singkirkan, dan saat ini rasa sesak di dada mulai sedikit berkurang.
"Oh, cowok emang gitu. Nggak bisa lihat yang bening dikit, langsung ngacir," ucap Alvaro santai, seakan dia lupa dengan gendernya sendiri.
"Kamu juga cowok kan, lupa diri atau gimana?"
"Nggak! Aku ngomong apa adanya. Meskipun aku lagi sakit hati, tapi aku bisa aja tetap senang-senang sama cewek."
"Terus kenapa nggak seneng-seneng? Kenapa malah di sini."
"Kalo kamu mau, aku bisa ajak kamu seneng-seneng, hotel di sini bebas kan." Alvaro mengerlingkan mata menggoda Maora.
"Ck, mesum!" Maora memilih mencari aman, dan meninggalkan Alvaro sendiri.
Alvaro menyusul Maora, langkahnya yang lebar sangat mudah untuk menyamai setiap ayunan kaki wanita ini. "Aku hanya bercanda, jangan dimasukin hati."
"Aku nggak masukin ke hati, aku hanya nggak suka aja sama omongan kamu!"
"Oke, aku minta maaf. Aku emang salah."
"Iya."
***
Matahari pagi menyembul di ufuk timur, sinarnya yang hangat menerobos masuk ke kamar hotel Angkasa. Di balik selimut putih yang tebal, tubuh wanita masih nyenyak dalam tidurnya.
Saat panggilan dari seseorang membangunkan Maora, gadis ini mengerjap, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang belum sepenuhnya pulih.
Perut Maora seakan tertekan, seperti ada sesuatu yang menimpanya. Dia menyibak selimut dengan kasar, dan sebuah tangan yang sedikit berbulu dan berwarna melingkar sempurna di pinggangnya.
Maora menoleh ke samping, dan melihat Alvaro terlelap begitu nyenyaknya. Hidung yang mancung, alis mata hitam yang tebal, bibir yang tipis dan sedikit menghitam, serta garis rahang yang terbentuk sempurna. Pria ini begitu sangat tampan untuk lelaki Asia.
Alvaro lebih memiliki wajah pria Italia, dibandingkan Indonesia. Mungkin saja orang tuanya memang keturunan negeri yang terkenal dengan pastanya tersebut. Maora tidak tahu itu.
Semalam Maora mengajak Alvaro untuk berlomba minum wine, dan malah berakhir dengan malam panas bersama pria ini.
"Al, bangun!" Maora mengguncang tubuh Alvaro dengan keras, pria itu hanya menyingkirkan tangannya dari perut Maora. Lalu mengubah posisinya memeluk guling.
"Aihhs, udahlah!" Maora beranjak turun dari ranjang dan mengenakkan kembali pakaiannya.
Maora mengambil tas yang tergeletak di sofa panjang samping tempat tidur. Lalu gegas dia meninggalkan kamar.
Maora kembali ke kamar miliknya, dan mulai menghubungi Ayu, sahabatnya.
"Hallo." Suara Ayu terdengar santai di seberang sana.
"Lagi apa, Yu?" tanya Maora, dia tengkurap di ranjang sambil menekuk kedua kakinya.
"Sibuk, aku lagi di suruh sama bang Iqbal, belanja ke pasar, nemenin istrinya." Ayu menggerutu, seperti memaki seseorang di sana, tapi siapa itu, Maora tidak tahu.
"Oke deh, nanti telepon balik lagi ya, kalo udah sampai." Maora langsung mematikan panggilan, setelah Ayu menyetujui pesannya.
Maora memilih untuk membersihkan tubuh terlebih dulu, sebelum dia mencari sesuatu untuk mengisi perutnya.
Setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian, Maora keluar kamar. Tujuannya saat ini adalah restoran di hotel ini yang terkenal dengan berbagai hidangan seafoodnya.
Maora mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru, dia mencari tempat yang sekira tidak terlalu mencolok, dan jackpot, meja di sudut ruangan yang terhalang rak minuman, menjadi pilihannya.
Hal yang paling disukai Maora saat memilih tempat untuk duduk, berada di pojokkan. Entah kenapa, tapi dia merasa sangat nyaman saja.
Maora mengambil buku menu yang tergeletak di meja, memilih makanan apa yang sekiranya cocok untuk perutnya yang agak rewel ini.
"Mas, aku mau cumi asam manis, gurame saus padang sama es jeruk," pinta Maora.
Pelayan yang mengunakan baju batik berwarna ungu dan ikat kepala, segera mencatat pesanan Maora.
Pelayan tersebut baru saja ingin melangkah pergi, tapi panggilan Alvaro menghentikan langkahnya.
"Bentar, Mas. Aku juga mau makan," ucap Alvaro, kemudian membaca buku menu. "Samain aja deh sama dia," lanjutnya setelah melihat-lihat daftar makanan tersebut.
"Baik, Pak. Ditunggu sebentar ya."
Maora memutar matanya jengah, dia menyandarkan punggung di kursi sambil menatap tajam ke arah Al. "Kamu ini mau ngapain sih? Belum puas ngajak aku minum sampai mabok?" tanya Maora.
"Kamu kenapa nggak bilang mau pergi, pas aku bangun kamu udah nggak ada." Alvaro mengambil bungkusan hitam dari saku kemeja, dan menyulut rokonya.
"Terus masalah gitu? Harusnya, yang punya masalah di sini itu aku!" sungut Maora kesal.
"Kita ngelakuinnya suka sama suka, Sa … apa perlu aku ingetin lagi," ujar Alvaro, dia mencondongkan tubuhnya ke arah Maora yang duduk di hadapannya.
"Ihss, nggak usah! Aku masih inget, dan bekasnya juga masih ada!" balas Maora asal.
"Hahaha, kalo kamu mau kita bisa ngelakuin sekali lagi, buat salam perpisahan."
"No, cukup sekali!"
Malam kemarin saat Maora dan Alvaro berdebat di pinggir jalan. Keputusan mereka final untuk kembali ke Bar Adrena dan menghabiskan sisa malam panjang itu.
Namun, tibanya di sana Maora memilih untuk menantang Alvaro lomba minum dengannya.
Awalnya Alvaro menolak, mengingat dia tidak tahu dengan orang asing yang ada di hadapannya saat ini. Namun, melihat Maora yang begitu antusias, dia pada akhirnya menyetujuinya.
Mula-mula semua masih terkendali, saat gelas pertama Maora habiskan tak tersisa. Namun, setelah gelas kedua, dia tidak bisa menahannya lagi. Pusing di kepalanya mulai terasa dan Maora mulai mengoceh tidak jelas.
"Riky, bajingan! Selama ini apa yang dia minta aku kasih, motor, uang, baju, HP dan lainya. Tapi si kunyuk itu malah selingkuh sama lacur murahan!" maki Maora.
Alvaro hanya menjadi pendengar yang baik, dia sama sekali tidak menyahut saat Maora mengungkap rasa kesal, kecewa, marah dan sedihnya itu.
Meskipun apa yang dialami Alvaro masih jauh lebih baik, pikirnya begitu.
'Gadis malang, secantik begini masih ada juga yang menorehkan luka yang begitu dalam.' ucap Alvaro dalam hati.
Waktu yang sudah semakin larut, Al membawa Maora kembali ke hotel yang dia tempati, dan tiba-tiba saja terlintas dalam benaknya ide konyol. Dia membisikkan sesuatu di telinga Maora, dan hal itu berhasil membuat wanita ini tersadar sepenuhnya.
“Bagaimana kalo kita buat malam ini, jadi malam yang wajib kita kenang,“ ucap Alvaro.
Maora tidak langsung menjawab, sejenak berpikir apakah ini tidak akan pernah disesalinya? Akan tetapi bayangan Riky, yang bercumbu dengan Sinta menghinggapi benaknya.
Ah, pria alim yang berkedok buaya tersebut membuat Maora naik pitam. Riky yang pendiam ternyata memiliki sifat seburuk binatang.
“DEAL!” ucap Maora setelah bergelut dengan hatinya.
'Riky saja mampu bermain gila, aku juga bisa … satu sama, Bajingan.' kata Maora dalam hati.
"Kemarilah." Alvaro menarik tangan Maora, mengajak gadis yang baru saja ditemuinya di bar tadi untuk masuk ke dalam kamar hotelnya.
Langkah Maora terhenti di ambang pintu, perasaan ragu merasuk hatinya, saat melihat ranjang berukuran king size. Dia tidak akan siap melakukan hal gila ini.
"Ada apa?" Suara Alvaro yang serak tapi lembut, mengejutkan Maora. Pria ini berdiri di hadapannya, manik mata perak yang terlihat begitu teduh, sangat menenangkan sangat berbeda dengan Riky, pria itu memiliki ribuan topeng yang terpasang sempurna di wajahnya.
Sial! Seharusnya Maora tidak mengingatnya lagi, rasa sakit yang diberikan Riky akan terganti dengan kenikmatan, ya kenikmatan dan itu akan dia dapatkan malam ini!
“Mau nggak kamu menghabiskan malam bersamaku?” tanya Alvaro setelah kebisuan yang hanya dia dapat dari Maora. Dia juga tersenyum, mengukir lengkungan yang begitu indah di wajah tampannya.
Astaga. Senyum Alvaro begitu menawan, sanggupkah nanti Maora menatap wajah ini di bawah kungkungan pria ini. "Mmm, aku—"
“Ikutin aja, lepaskan semua beban kita, Sa," potong Alvaro cepat. Kemudian dia pergi ke arah meja, memutar musik dari peralatan audio di dalam kamar.
Maora yang memiliki manik coklat ini sedikit meremang. Belum lagi gelenyar hangat di punggungnya. Pria ini mampu membangkitkan sesuatu yang aneh dalam diri Maora.
Maora menurut. Ia memejamkan mata dan mencoba mendengarkan musik yang terdengar.
Tidak lama ia bisa merasakan badannya mulai bergerak. Kepalanya mulai bergoyang mengikuti ketukan lagu.
Senyum Maora mengembang saat reff lagunya muncul.
“Dancing in the moonlight! seru Maora, dia benar-benar melupakan masalahnya dengan Riky, apa yang dikatakan Alvaro benar adanya. Musik mampu melupakan masalah yang ada.
Gerakan tubuh Maora semakin leluasa. “Oh my good, Alvaroooo!" ucap Maora setengah berteriak. Ia merasa emosinya meluap – luap saat ini. Ia membuka matanya dan melihat Alvaro yang berada di dekatnya tersenyum sambil ikut bergoyang.
“Kamu jago banget nge-dancenya … jangan berhenti ya," ujar Alvaro lembut. Maora mengangguk sambil menatap pria di hadapannya ini, tidak lupa juga dia mengukir senyum semanis mungkin.
Sebuah kecupan mendarat di bibir mungil Maora, membuat wanita ini membuka matanya lebar-lebar. Terkejut dengan aksi Alvaro yang sangat tidak dia duga. Ralat, Maora hanya belum siap.
Alvaro menarik bibirnya dengan cepat. Maora terdiam sesaat. Tidak yakin akan apa yang ingin ia lakukan berikutnya. Haruskah ia melepaskan momen ini? Kemudian ia terngiang akan apa yang Alvaro katakan kepadanya tadi.
“It’s gonna be a wild night!” tukasnya dalam bahasa inggris.
Maora tersenyum dan kali ini dia yang bergerak maju ke bibir Alvaro.
Mereka lalu saling berpangutan untuk beberapa lama. Desahan Maora dan Alvaro saling bergantian saat lidah dari keduanya keluar masuk dari bibir mereka.
Napas mereka saling memburu menandakan insting liar manusia mereka mulai muncul. Sesekali mereka berhenti dan saling menatap dan tersenyum.
Rasa akan napsu yang sudah memenuhi diri Maora dan Alvaro, telah membuat mereka mabuk kepayang dan kembali lanjut memperdalam ciuman mereka.
Maora ingin sekali Alvaro memegang seluruh tubuhnya. Semua hasrat birahi telah terpusat di kepalanya, dan tersalurkan dengan lumatan demi lumatan bersama Alvaro.
"Aku nggak tau ini beruntung atau apa, Sa. Tapi permainan lidah kamu udah bikin aku … on," bisik Alvaro di telinga Maora.
"Ihs, apaan sih." Lenguhan Maora keluar begitu Alvaro menghujami lehernya dengan kecupan-kecupan kecil meninggalkan tanda merah di sana.
Alvaro tidak melepaskan tautan mereka, dia menuntun tubuh gadis ini ke tepi ranjang, dengan cepat ia merebahkan Maora di atas kasur king size. Aroma parfum dari Maora mulai menyelimuti dua insan yang dimabuk oleh gairah dan juga pengaruh minuman Alkohol tadi di bar.
“Alvaro," panggil Maora tiba-tiba. “Ini juga bagian dari indahnya gemerlap dunia yang kamu bilang di awal?” tanya Maora mengutip perkataan Alvaro saat di Bar Adrena tadi.
Alvaro tersenyum lalu membelai telinga Maora dengan lembut dan menggeleng. “No, ini hadiah dari rasa sakit kita dengan cinta," jawab Alvaro, sejurus kemudian dia mendaratkan kecupan di bibir Maora.
'Oh God.' pekik Maora dalam hati.
Maora mengalungkan tangannya di leher Alvaro, sedangkan lelaki ini menyusuri wajah Maora, beralih turun ke leher jenjang gadis ini, dan semakin turun berhenti tepat di dadanya.
'Ini salah, Ra! Ini tidak benar. Sadar, Maora.' Suara hati Maora mengingatkannya tentang apa yang dilakukannya.
Akan tetapi setiap ada yang baik, akan ada setan yang membisikkan. Begitu pula hasutan hati Maora yang lain.
'Nikmati, Ra! Kau pantas mendapatkannya. Kau PANTAS!'
Maora melenguh panjang, saat Alvaro semakin kencang bermain di dadanya, dia menggeliat, mengerang menikmati sesuatu yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
“Ikuti kata hati kamu, Maora," ucap Alvaro. Pria ini seakan mengerti tentang perseteruan batinnya.
Maora mengangguk cepat, rasa akan sentuhan Alvaro dan juga libido yang sudah meningkat, telah mengalahkan logika berpikirnya.
Ruangan yang luasnya lebih lima meter persegi ini, menjadi saksi saat dua anak manusia mulai terhanyut dengan gelombang asmara. Maora pasrah, dia bagaikan pidana yang akan dijatuhi hukuman oleh hakim.
Ketika tangan Alvaro menyusup kebalik gaun Maora dan menyusuri lekuk tubuhnya. Telapak tangan Al yang semakin merayap ke atas, menyentuh kulitnya langsung, membuat wanita ini diambang nirwana.
Kenikmatan yang mencapai puncaknya, membuat Alvaro dan Maora tanpa sadar sudah menanggalkan pakaian masing-masing.
Manik perak milik Alvaro, melebar sempurna, melihat tubuh Maora. Dia menelan ludah, degup jantungnya bergermuruh kencang. Untuk pertama kali dalam hidupnya, melihat pemandangan Tuhan yang begitu indah.
Udara yang dihasilkan dari pendingin ruangan, membuat Alvaro dan Maora menggigil kedinginan ketika angin itu menerpa tubuh mereka langsung.
Maora menelan ludah, tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya, ketika gua gunung kawi yang masih tertutup, dibobol oleh ular piton Alvaro.
"Al, aku takut," cicit Maora.
"Tidak ada yang perlu ditakuti, Sayang. Aku akan melakukannya dengan perlahan. Aku janji." Alvaro kini sudah di bawah kaki Maora.
“Ini pertama bagiku, Al.” Maora semakin mengeratkan cengkramannya pada bantal di sampingnya.
“Iya ... aku paham. Tahan sedikit ya."
"Ahhhkkk! Al, ini sakit!" pekik Maora dan reflek memukul lengan Al. Ketika dia merasakan sesuatu yang besar dan juga keras membobol miliknya.
“Iya, tapi jangan KDRT dong!" tukas Alvaro, sambil meringis menahan sakit akibat pukulan Maora.
Maora menahan napasnya sejenak ketika Al meminta izin. Maora bisa merasakan ada sesuatu yang mulai masuk ke dalam dirinya. Sesuatu yang besar dan keras. Namun, terasa hangat. Sesuatu yang perlahan-lahan mulai menyentuh selaput mahkota berharganya. Mulai memenuhi dinding samping bagian pintu masuk surga dunia, seperti menusuk, dan mulai terasa sakit.
Maora melirik sedikit ke bawah dan melihat ular piton Alvaro sudah masuk bagian kepalanya. Lelaki ini menepati janji dan mempenetrasi Maora dengan perlahan dan lembut.
Maora menggigit bibirnya. Menarik selimut, untuk mencoba meredakan rasa sakit saat proses memecah mahkota berharganya saat ini.