Bab 1

“Arsyana!”

Seorang wanita cantik berusia 30 tahunan, menghadang Arsyana Quinshaa–teman kuliah dari keponakannya–Karin Rashif Qaylandra, saat Arsyana sedang berjalan di depan rumah Karin.

“Bukannya itu bibinya Karin?”

Alis Arsyana seketika terangkat sebelah, saat dia melihat kalau wanita itu adalah bibi dari sahabat baiknya.

“Ikut aku.”

Wanita itu–Devina Qaylandra langsung menarik tangan Arsyana untuk masuk ke dalam mobil sedan mewah miliknya.

“A–ada apa, Bi?" tanya Arsyana, terbata.

Namun dia tetap menuruti Devina untuk masuk ke dalam mobil.

Begitu mereka duduk di dalam mobil, Devina langsung berkata tanpa basa-basi, “Langsung saja ke intinya, Arsya. Aku mau menawarkan bantuan untukmu.”

Kening Arsyana langsung berkerut mendengar perkataan Devina.

“Bantuan? Maksud Bibi?” 

Devina tersenyum tipis, menatap Arsyana di sampingnya dengan tatapan penuh arti.

“Arsyana, aku tahu semua apa yang sudah kamu alami selama ini, karena itu aku akan membantumu.”

Tatapan Devina begitu serius, seolah dia ingin meyakinkan Arsyana kalau dia benar-benar ingin membantunya.

Arsyana menggeleng pelan. Dia masih tidak bisa menangkap maksud perkataan bibi sahabatnya itu.

“Bibi Devina, aku mohon. Aku sama sekali tidak mengerti maksud dari perkataanmu. Bantuan? Bantuan apa, maksudmu?!” 

Arsyana akhirnya mengungkapkan kebingungannya.

“Aku tahu, kalau kamu sekarang ini sedang membutuhkan banyak uang. Uang untuk biaya pengobatan ibumu, dan untuk melunasi hutang-hutang ayahmu.”

Karin kembali mengulas senyuman tipis, sambil melipatkan kedua tangannya di dada dengan santai. Tatapannya masih sama, seakan menyiratkan niatan lain yang terselubung.

Kening Arsyana semakin mengkerut tak mengerti, namun dia tetap menyimak dengan seksama apa yang dikatakan oleh lawan bicaranya itu..

“Baiklah, singkat saja Arsyana. Aku akan membantumu, asal …” 

Devina menjeda sejenak, sebelum kembali melanjutkan, “ Kamu mau mengandung anak dari suamiku, Kelvin. Lalu memberikan anak yang sudah kamu lahirkan dengan sukarela padaku. Dan syaratnya–”

“Tunggu!”

Arsyana langsung memotong dengan telapak tangannya yang terangkat.

“Maksud Bibi dengan–”

“Biarkan aku selesaikan bicaraku dulu, Arsya!”

Devina balas memotong dengan nada yang lebih tegas, membuat Arsyana spontan menutup mulutnya.

“Syaratnya gampang. Kamu hanya perlu tidur satu malam dengan suamiku, Kelvin. Pastinya kamu tahu Kelvin, Kelvin Daviandra. Semua orang di kota ini tahu tentang dia.”

Devina terkesan begitu santai saat melanjutkan penjelasannya. Dia tersenyum tipis, menikmati raut wajah Arsyana yang terperangah menatapnya dengan tak percaya.

Suasana menjadi hening sejenak, mencerna apa yang barusan di katakan oleh Devina kepadanya.

“Kenapa?" tanya Devina, tiba-tiba memecahkan keheningan.

“Nggak mungkin, kan, kamu tidak mengenal suamiku, Kelvin Daviandra. Sang pewaris utama salah satu dari 5 perusahaan terbesar di negara kita?” lanjutnya, penuh rasa bangga sekaligus mengejek.

“Tentu saja aku mengenalnya. Aku pasti mengenal siapa-siapa saja yang memiliki sangkutan hutang-piutang dengan ayahku.”

Arsyana menjawab dengan nada rendah, sambil memalingkan wajahnya dari Devina yang terus menatapnya dengan tatapan merendahkan.

“Berhutang?!" pekik Devina, terkejut.

Kali ini Devina yang dibuat terkejut oleh Arsyana dengan pernyataannya.

“Hm.”

Arsyana bergumam kecil, sambil berusaha untuk tetap bersikap tenang menanggapi permintaan Devina sebelumnya.

“Ah, baiklah-baiklah. Aku tak peduli soal itu," tepis Devina, tak mau ambil pusing.

 “Jadinya bagaimana, apa kamu mau Arsyana?" tanya Devina, penuh harap. Senyuman manis terulas tipis di wajah cantik Devina yang begitu terawat.

“Aku akan membayarmu dengan sangat mahal. Satu miliar. Satu miliar Arsyana!”

Tak tanggung-tanggung, Devina langsung menawarkan nominal uang yang cukup menggiurkan untuk Arsyana, agar gadis itu tak menolak tawarannya.

Namun, Arsyana masih tetap diam. Dia menyimak perkataan Devina dengan seksama, sambil berusaha memindai mimik wajah Devina untuk mendeteksi tingkat keseriusannya.

“Bahkan, aku bisa memberikanmu lebih dari itu, kalau kamu berhasil melahirkan anak laki-laki untuk suamiku," lanjut Devina kembali, memberikan tawaran yang lebih besar.

“Bibi, sepertinya kamu sudah tidak waras!”

Arsyana mulai angkat bicara, tanpa ragu dia langsung mencerca Devina. Napasnya mulai terasa memburu seiringan dengan luapan emosi yang tertahan kuat di dalam dadanya. Bahkan, Rona wajahnya mulai merah padam, karena merasa dirinya saat ini tengah di permainkan oleh Devina. Dia pun langsung mengeluarkan botol air mineral dari dalam tas ranselnya, membuka tutup botol dengan kasar, dan menenggak air mineral di susul menghela napas sekaligus dengan kasar. Lalu dia tanpa ragu langsung meraih gagang pintu mobil disamping untuk membukanya, tapi pintu itu langsung terkunci otomatis karena ulah sopir di yang duduk didepan mereka. 

“Buka!” 

Arsyana mulai berteriak membentak ke arah sopir. Dan dia semakin panik, saat sopir itu tak kunjung membukakan pintu mobil. Arsyana mulai merasakan bahwa situasinya saat ini tidaklah main-main.

“Kau benar-benar naif sekali Arsyana. Dasar angkuh!”cerca Devina sinis.

“Kamu masih bisa bertingkah angkuh, seolah kamu memang tidak membutuhkan uang itu. Padahal, kamu sangat membutuhkan uang itu, Arsyana," cibir Devina, sambil tersenyum mengejek.

“Aku memang sangat membutuhkan banyak uang Bi. Tapi, bukan berarti aku akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya,” bantah Arsyana, dengan tegas menepis cercaan Devina.

“Aku tak tahu, apa yang Karin katakan padamu tentangku. Tapi yang jelas, aku sama sekali tidak berminat dengan tawaran gilamu itu, bibi cantik!”lanjut Arsyana, dengan penuh penekanan di setiap katanya.

Mendengar itu, Devina justru menyeringai jahat, tatapannya justru semakin sulit untuk diartikan. Auranya terkesan mengerikan, hingga Arsyana bergidik ngeri saat berkontak mata dengannya.

Bab 2

“Sayang sekali. Padahal aku sudah sangat berbaik hati menawarimu secara baik-baik Arsyana.”

Devina membalas dengan seringaian licik terukir di wajah cantiknya, itu semakin membuat Arsyana merinding.

Namun, Arsyana berusaha mengumpulkan segenap keberaniannya untuk menghadapi Devina. Dia tidak mau terlihat lemah di depan wanita, yang menurutnya sangat aneh sekaligus gila itu.

Devina lalu melirik pada asistennya yang duduk di kursi depan, menandakan sebuah perintah.

“Telepon dia, sekarang.”

Laki-laki yang sedari tadi hanya diam dan menyimak dan duduk disamping sopir itu langsung mengeluarkan sebuah smartphone dari dalam tas hitam yang dipangkunya. Lalu dia menghubungi seseorang dengan menekan beberapa nomor, dan memastikan panggilan telepon itu tersambung, baru dia memberikannya kepada Devina.

“Ini, Nyonya.”

Devina mengambil ponsel itu, dan langsung menyapa seseorang di balik telepon. 

“Halo, paman. Ini aku Devina.”

Devini melirik tipis ke arah Arsyana di sampingnya, sambil mengulas senyuman licik.

“Apa pasien bernama Qyanara Jasmine, benar dia dirawat di rumah sakit milikmu, paman?”

Seketika mata Arsyana langsung melebar saat Devina menyebut-nyebut nama ibunya.

“Aku minta, paman keluarkan saja wanita itu dari rumah sakit–”

Kata-kata Devina langsung terputus saat Arsyana merebut paksa ponsel itu dari tangannya.

“Apa-apaan ini, Bibi?!”

“Dengarkan aku Arsyana, aku sama sekali tidak main-main. Jadi sebaiknya kamu tidak menolak tawaranku.” 

Seketika raut wajah Devina langsung serius, dan kembali melanjutkan perkataannya untuk mengancam Arsyana.

“Karena, jika kamu menolaknya, aku bisa saja menendang ibumu saat ini juga dari rumah sakit pamanku!”

Kali ini tampak jelas, kalau ancaman Devina pada Arsyana tidaklah main-main.

Arsyana menatap Devina dengan penuh rasa tidak percaya. Bagaimana bisa, wanita itu menawarkan hal yang gila kepadanya dan mengancamnya seperti itu?

Sekalipun gadis itu memang sangat membutuhkan uang. Namun tetap saja, untuk mengandung bayi dari suami orang lain, itu hal yang gila menurut Arsyana.

Bahkan, meski sesulit apapun kehidupannya sekarang ini, Arsyana tidak pernah sekalipun memiliki pikiran untuk menjual diri hanya demi mendapatkan uang.

Arsyana menggenggam erat smartphone yang direbutnya dari Devina dengan gemetar, sekalipun napasnya terasa memburu karena menahan emosi, tapi tubuhnya justru terasa sangat lemas. Tatapan mata gadis itu mulai berkaca-kaca menahan buliran bening yang seakan menyeruak memaksa untuk keluar dari pelupuk matanya.

Arsyana tertunduk sesaat, dia menahan kuat untuk tidak menangis di hadapan wanita yang dianggapnya gila itu.

Segenap kemampuannya, Arsyana berusaha keras untuk terlihat tegar di hadapan Devina yang saat ini menatapnya, seakan-akan wanita itu sedang mengejek keadaan dirinya saat ini.

Devina memperhatikan gelagat Arsyana yang tertekan sekaligus kebingungan untuk mengambil keputusan yang tepat. Dia kemudian berinisiatif untuk memberikan waktu kepada Arsyana agar bisa berpikir lagi.

“Baiklah, aku beri waktu kau dua hari. Ingat, hanya dua hari! Dan kamu harus memutuskan dengan suka rela, sebelum aku benar-benar memaksamu!”pungkas Devina penuh penekanan.

“Keluarkan dia!”titah Arsyana pada asistennya.

“Baik, Nyonya,”sahut Sang Asisten, menganggukan kepala.

Lalu asisten Devina pun keluar dari dalam mobil, membukakan pintu mobil di samping Arsyana untuk mempersilahkannya keluar dari dalam mobil.

“Silahkan keluar Nona,”ucap Sang Asisten pada Arsyana.

Arsyana yang sesaat diam membeku, sontak menoleh ke arah asisten Devina, lalu mengangguk pelan, bersiap keluar dari dalam mobil.

Setelah Arsyana keluar, asisten Devina pun kembali memasuki mobil. Lalu mobil sedan mewah berwarna hitam itu berlalu pergi begitu saja, meninggalkan Arsyana di tempatnya semula.

Seketika Arsyana terjatuh ambruk di trotoar jalan sambil menatap mobil sedan itu menjauh, dan menghilang dari pandangannya.

Arsyana kembali mencerna apa yang baru saja terjadi. Dia mencerna kembali detail ancaman yang dilayangkan Devina padanya, serta tawaran gila untuk mengandung bayi dari laki-laki yang tidak dikehendakinya.

                                      * * *

Di sepanjang perjalanan menuju kantor suaminya, Devina terus saja berpikir sambil tersenyum licik. Karena akhirnya dia menemukan seorang gadis yang tepat untuk mengandung bayi dari suaminya, Kelvin, dengan membayar rahim gadis itu seharga satu miliar. Nominal yang terbilang kecil untuk orang kaya sepertinya.

Niatan Devina mungkin terkesan gila. Namun dia melakukan itu untuk bisa mewujudkan segala ambisinya, agar tidak ditendang dari keluarga Daviandra karena kemandulannya, yang menyebabkan Devina tidak bisa memberikan keturunan untuk Kelvin.

Hingga akhirnya, muncullah ide gila di benak Devina. Dia mendapatkan ide untuk membayar rahim gadis lain, agar bisa mengandung bayi dari suaminya sendiri, hingga bisa memiliki seorang bayi yang selama lima tahun terakhir sangat dinantikan di dalam pernikahannya bersama Kelvin selama ini.

Setibanya di gedung kantor, Devina bergegas menuju ke lantai 18, dimana ruangan kerja Kelvin berada.

“Sayang!”

Devina langsung saja berteriak memanggil Kelvin, begitu dia memasuki ruangan kerja suaminya.

“Ah, Devina. Sayangku.”

Kelvin langsung tersenyum menyambut kedatangan istri tercintanya.

Devina menghampiri Kelvin, lalu mengambil posisi duduk di pangkuan Kelvin dengan manja.

“Tumben sekali kamu datang, Devina?”tanya Kelvin.

Tangan kekar sang pengusaha muda itu merangkul pinggang ramping milik Devina, dan merapatkan tubuh keduanya sampai begitu rapat.

“Aku sangat merindukanmu, Kelvin sayang. Tentu saja aku akan datang berkunjung untuk melepaskan rinduku ini," jawab Devina, matanya berkedip nakal menggoda Kelvin.

Kelvin seketika terkekeh dengan kelakuan nakal istrinya itu, dan dia pun langsung meraih sebuah remote kontrol di atas meja kerjanya. Lalu menekan tombol remote itu, hingga sebuah pintu menuju ke sebuah ruangan rahasia di balik dinding ruangan kantornya terbuka secara otomatis.

Bab 3

Kelvin langsung saja memangku tubuh Devina, dan membawanya masuk ke dalam ruangan rahasia, yang dijadikannya sebagai kamar pribadi di saat dia berada di kantor.

“Buktikan padaku Devina, kalau kamu memang merindukanku,”tantang Kelvin sambil tersenyum tipis, menatap Devina dengan sorot mata nakal.

“Baiklah, sayang.”

Devina menerima dengan sangat baik tantangan dari suaminya Kelvin. Dia melingkarkan kedua lengannya di pundak sang suami, sambil menyandarkan kepalanya dengan lembut.

Begitu keduanya memasuki kamar rahasia milik Kelvin, pintu langsung tertutup kembali secara otomatis melalui remote kontrol di bawah kendali Kelvin.

Mereka berdua langsung menghabiskan waktu istirahat siangnya dengan pergulatan panas antara sepasang suami-istri yang di mabuk cinta.

“Aah …”

Desah panjang dari puncak kenikmatan yang berhasil mereka berdua capai. Suasana sejenak menjadi hening, di saat keduanya masih menikmati sisa-sisa rasa nikmat dari pergulatan panas mereka yang dipenuhi gairah.

“Aku sudah menemukannya, Kelvin,”ucap Devina, terkesan mengambang itu tiba-tiba memecahkan keheningan.

Mereka berdua masih dalam posisi tiduran dengan saling berpelukan satu sama lain, dan selembar selimut tebal tipis putih senada dengan set sepreinya menjadi penutup untuk tubuh polos keduanya.

“Menemukan apa?” tanya Kelvin, mengerutkan keningnya.

“Menemukannya. Gadis yang akan mengandung bayi kita Kelvin," jawab Devina.

Kepala Devina mendongak menatap wajah Kelvin, sambil menyunggingkan senyum bahagianya pada sang suami.

Tatapan Kelvin langsung melebar, dia langsung menyadari apa yang dimaksudkan oleh Devina Istrinya.

“Kau masih saja membahas rencana gila mu itu Devina?!”pekik Kelvin, langsung memalingkan wajahnya ke samping dengan kesal.

“Apa maksudmu dengan rencana gila, Honey?”

Devina balik bertanya, dan dia bangkit untuk setengah duduk, sambil menatap tajam pada Kelvin.

“Ya, rencana gila, yang menyuruh suamimu sendiri untuk meniduri wanita lain, hanya demi mendapatkan seorang anak!”bentak Kelvin, dengan nada tinggi.

Kelvin langsung beranjak bangkit dari atas tempat tidur, langsung memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai untuk dipakainya kembali.

“Kelvin! Apa sulitnya bagimu menuruti permintaanku untuk kali ini saja, hah?!”teriak Devina penuh tuntutan.

“Kau hanya tinggal meniduri gadis itu sampai dia mengandung bayimu, lalu semuanya akan selesai Kelvin!”

Jeritan Devina semakin histeris, dia terus mencecar Kelvin dengan tekanan yang dirasakan olehnya.

“Keluargamu tidak akan lagi menekanku untuk memberikan mereka penerus lagi!”

Kelvin mendengus kesal.“Apa sulitnya kau bilang?”

“Kau benar-benar sudah gila, Devina!”

Rasa frustrasi bergambar jelas di wajahnya yang tampan, saat menghadapi setiap tuntutan Devina yang ditekankan untuknya itu.

“Bagaimana bisa, kamu menyuruh suamimu sendiri untuk meniduri wanita lain, hah?!”bentak Kelvin tak kalah kerasnya dari Devina.

“Ya! Aku memang sudah gila, Kelvin!”

“Aku memang sudah gila oleh keluargamu!”

“Keluargamu, yang selalu mengejekku, karena kemandulanku, ini!”

“Keluargamu, mereka selalu saja mencemoohku hanya karena aku tak bisa memberikanmu seorang anak!”

“Keluargamu, yang selalu menyudutkanku sebagai sosok istri yang gagal, dan menantu yang gagal, hanya karena tak bisa memberikan mereka penerus!”

Devina mulai menjerit kesetanan sambil menangis histeris. Dia meluapkan seluruh rasa sesak serta sakit di dadanya dengan berteriak pada Kelvin.

“Devina, tolong tenanglah!” 

Kelvin kembali membentak Devina yang menjerit-jerit semakin histeris. Dia langsung memeluk istrinya, berusaha untuk menenangkan Devina. Kelvin merasakan tubuh Devina gemetar hebat karena luapan emosinya yang semakin tidak terkontrol, dan itu justru membuatnya semakin tidak tega melihat Devina yang seperti tersiksa seperti. Karena pernikahan mereka, serta tekanan keluarga besarnya selama ini, membuat Devina menjadi lebih cepat marah, emosinya tidak terkontrol dan sering kali menjerit histeris seperti sekarang ini.

“Sayang, Devina, aku mohon tenanglah sayang.”

Kelvin terus berupaya membujuk Devina dengan lemah lembut, pelukannya semakin erat pada tubuh Devina, berharap kalau istrinya itu akan segera tenang.

“Kamu jahat, Kelvin!”

“Kamu sengaja mau menyiksaku!”

“Sepertinya kamu lebih senang, kalau aku mati karena tertekan oleh keluargamu!”

Devina terus saja menjerit, menuduh Kelvin, meskipun gerak tubuhnya kian melemah di dalam pelukan hangat suaminya.

“Tidak, sayang. Itu semuanya sama sekali tidak benar. Aku sama sekali tidak suka melihatmu seperti ini,” bantah Kelvin dengan lembut.

“Aku mohon sayang, tenanglah.”

Kelvin terus berusaha membujuk dan memohon pada Devina.

Namun, Devina tetap saja berteriak sambil menangis histeris. Dia meluapkan segala emosinya, dengan menumpahkan semua kesalahan pada Kelvin. Devina seakan ingin melimpahkan semua kesakitan yang dirasakannya pada Kelvin. Kelvin semakin dibuat kelimpungan serta tak berdaya oleh istrinya sendiri.

“Iya!”

“Iya, sayang. Oke, aku mau. Aku mau melakukan apa yang kamu minta!”

Kelvin akhirnya menyetujui keinginan Devina. Karena perasaan cintanya yang begitu besar terhadapnya, membuat Kelvin menjadi tak berdaya disaat Devina bersikap seperti itu.

“Apa kamu serius, Kelvin?" tanya Devina, memastikan.

“Iya, aku serius sayang.”

Kelvin mengangguk, mengiyakan.

Devina langsung bersikap tenang, dia tak lagi menjerit histeris seperti sebelumnya. Namun, Devina tetap saja menangis sesenggukan, sambil membenamkan diri ke dalam pelukan Suaminya Kelvin.

Kelvin memeluknya Devina dengan begitu erat, napasnya memburu, serta detak jantungnya begitu kencang, hingga mungkin Devina juga dapat mendengarnya.

“Berjanjilah Kelvin, kamu akan memenuhi impianku untuk bisa memiliki seorang anak?”tuntut Devina sambil terisak di dalam pelukan Kelvin.

“Ya, aku berjanji, Devina.”

Kelvin menghela napasnya dengan sangat berat sambil memejamkan mata. Dia menahan kuat perasaan amarahnya sendiri, atas apa yang menjadi permintaan Devina untuknya.

“Baiklah, tunggu dua hari lagi Kelvin. Aku akan membawa gadis itu ke rumah kita. Dia adalah teman dari keponakanku, Karin. Aku yakin, dia gadis yang bersih, terjaga, dan juga masih perawan. Dia sangat cocok untuk mengandung bayi kita Kelvin,” jelas Devina, begitu antusias. Dia langsung melepaskan pelukannya, lalu dia menyeka air mata yang membasahi wajahnya.

“Apa?!”pekik Kelvin, terkejut.

“Devina, gadis itu adalah teman dari Karin? Bagaimana kamu bisa tega melakukan itu pada teman dari keponakanmu sendiri, Devina?!”

Kelvin semakin dibuat tak habis pikir oleh tindakan istrinya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED