Bab 2

Sebuah senyum ditampilkan dengan sangat terpaksa oleh Dyandra. Saat masih sekolah dulu padahal ia tidak pernah mengambil kelas drama. Entah mengapa kali ini ia pintar sekali menutupi perasaan muak terhadap perempuan di hadapannya.

“Iya, Cersey. Aku harus menjaga kesehatan. Mas Arka selalu mengajak olah raga di atas ranjang hampir tiap malam. Jadi aku harus terus fit,” jawab Dyandra menyindir.

Selain itu, ia sedikit banyak ingin menegaskan posisinya sebagai Nyonya Arka Hasbyan. Bahwa ia yang dicintai Arka, bukan wanita yang hanya disewa rahimnya seperti Cersey.

“Luar biasa! Pasti Mas Arka benar-benar mencintai Mbak Dyandra,” sahut Cersei santai, seolah tulus dan turut berbahagia mendengar itu semua.

Pintar sekali kalian bersandiwara? Apa memang sudah kalian rencanakan harus bersikap bagaimana jika bertemu aku? Kalian menjijikkan! Terus saja jiwa wanita berusia tiga puluh tahun itu memaki dalam hati.

Dyandra tidak menjawab. Ia hanya tersenyum ketus dan segera berlari keluar rumah menuju pintu gerbang megah yang dijaga oleh tiga orang petugas keamanan.

“Selamat pagi, Bu Dyandra!” seru ketiga satpam membukakan gerbang. Mereka menunduk untuk memberi hormat kepada sang majikan.

“Ya, pagi!” jawab Dyandra singkat menyapa balik para petugas keamanan.

Tak lama ia telah melesat, melaju di area jogging yang sudah disediakan oleh pengembang perumahan mewahnya.

“F**k you Arkaaaaa!” jeritnya saat sampai di tepi danau yang masih sepi. Hawa segar perumahan di antara rimbun pepohonan tidak bisa membuat hatinya merasa sejuk.

Dengan napas terengah-engah, Dyandra terus menerus berteriak, memaki suaminya.

“Aku benci kamu! Lelaki brengsek! Lelaki jahanam!” teriak Dyandra sampai napasnya tersengal-sengal. “Kamu pembohong! Pengkhianat! Bajingan! Dasar Lelaki cabul!”

Sudah sekitar dua puluh batu kerikil ia lempar sekeras mungkin ke dasar danau. Pada setiap lemparan, ia meluapkan emosi dan ledakan dari rasa hancur hatinya.

Dyandra menghempaskan diri di atas tanah. Kalbu yang berserakkan semalam, semakin hancur ketika melihat perut buncit Cersey pagi ini. Ia juga ingin bisa seperti itu. Merasakan sesuatu tumbuh di dalam tubuhnya. Namun, takdir berkata lain.

Namun, sebanyak apa pun kerikil dan teriakan yang ia lemparkan, tetap tidak bisa membuat air matanya keluar. Karena itulah, hatinya tetap terasa sesak sangat. Napasnya semakin terengah-engah dan ia mulai merasa dunianya berputar.

Khawatir terjadi sesuatu terhadap dirinya, ia segera bangkit dan memutuskan untuk pulang. Mungkin saja karena semalam ia tidak tidur maka pagi ini kondisinya tidak bisa fit untuk lari pagi.

Dengan gontai Dyandra melangkahkan kaki menuju istana megah yang biasa ia sebut rumah. Hanya saja, saat ini ia tidak lagi merasa bahwa itu adalah rumahnya. Tidak ada lagi perasaan nyaman di sana. Kebahagiaan disana, telah runtuh.

***

“Kok cepat?” Arka heran melihat Dyandra sudah kembali dalam waktu setengah jam saja. Biasanya jogging sang istri memakan waktu sampai dua jam.

“Tidak enak badan!” jawab Dyandra ketus segera menyambar handuk di sebelah pintu kamar mandi.

“Dyandra!” panggil Arka menarik lengan Dyandra dan merapatkan sang istri dalam pelukannya.

“Happy 10th Anniversary,” bisiknya memperlihatkan sebuah kotak kain beludru berwarna hijau, bertuliskan Tiffany.

“Hah?” Dyandra tergagap. Ia lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahun perkawinan mereka. Ia bahkan belum membeli kado apa pun untuk suaminya.

“Untukmu, Cintaku.” Arka membuka kotak. Sebuah kalung dengan liontin berlian mungil, bertuliskan AD ada di sana sebagai hadiah untuk Dyandra.

“Berputarlah, biar aku pasangkan di lehermu.”

Arka memasangkan kalung indah pemberiannya di leher sang istri. Ia bahkan mengecup leher jenjang Dyandra dengan mesra.

“Aku mandi dulu!” Dyandra semakin merasa rapuh. Ia berkelit dan menghindar lalu cepat masuk kamar mandi.

Arka hanya bisa bengong melihat kelakuan istrinya yang datar, padahal sebuah kalung berlian telah melingkar di lehernya.

Segera ia pasang pancuran air pada posisi paling keras. Dyandra juga menyalakan kran pada bak jacuzzi dan membuka penutup saluran di dasar bath tub agar air tidak meluber keluar tub.

Wanita bertubuh mungil itu membutuhkan suara pengalih sekeras mungkin. Air matanya dirasa akan segera tumpah dengan deras.

Masih memakai baju lari, Dyandra terduduk lemas di lantai kamar mandi, di bawah pancuran air hangat. Benar saja. Kini, ia mulai sukses menangis dan tak mampu untuk menghentikannya.

Deraian air mata mengalir seperti tsunami menerjang, sederas pancuran air di atas kepalanya.

Ia menangisi hadiah ulang tahun perkawinan kesepuluh yang baru saja ia dapatkan dari Arka. Disentuhnya kembali kalung tersebut. Ia meraba tulisan AD yang tersemat sebagai liontin. Apakah hanya sebatas itu saja keadaan mereka saat ini, yaitu inisial pada kalung?

Sebuah perselingkuhan yang dibalut dengan kalung berlian tetap saja menghancurkan segenap sudut hati wanita manapun. Inilah kenyataan pahit yang harus ia terima. Semua akibat ketidakmampuan dirinya untuk memiliki anak. Maka kepedihan mana yang bisa mengalahkan penderitaan Dyandra pagi ini?

Liontin bertuliskan AD merupakan singkatan dari Arka-Dyandra. Sebuah ungkapan dan ucapan bahwa Dyandra adalah cintanya. Segala keromantisan iti tidak berbanding lurus dengan apa yang Dyandra ketahui semalam.

“U’re such a bullsh*t, Arka!” desisnya memukulkan tangan pada lantai kamar mandi. Kakinya pun menjejak-jejak seperti anak kecil sedang marah karena tidak mendapat mainan yang diinginkan.

Terus terisak, terisak dan terisak. Rintihan kecil dari bibirnya yang gemetar terus mengisi ruang hampa. Di kamar mandi ini, di bawah pancuran air yang sama, Dyandra sering merasakan hangatnya sentuhan Arka, tanpa penghalang apa pun diantara mereka. Hanya bercinta dengan bahagia dan saling memuaskan satu sama lain, persis di tempatnya duduk saat ini.

Perilaku suaminya yang seolah tidak terjadi apa-apa, padahal sudah tidur dengan wanita lain, membuat semuanya semakin menyakitkan.

Namun, biarlah semua ini ia terima apa adanya. Kedewasaannya mengetahui bahwa takdir manusia tidak selamanya sesuai keinginan. Lambat laun ia harus tetap tegar dan menegakkan kepala.

Bayangan seorang bayi mungil yang akan hadir membuat hidupnya lebih bermakna, menjadikan Dyandra berusaha kuat menerima terpaan dan tusukan duri pada hati dan batinnya.

Ia mulai melepas pakaian lari yang sudah basah kuyup itu lalu bangkit berdiri. Seiring itu pula, ia berjanji pada dirinya sendiri tidak akan lagi membiarkan perasaan sakit ini terus menerus menghancurkan kehidupannya.

***

“Aku hari ini ada klien penting. Aku akan berangkat lebih pagi. Bisa kamu mengantar Cersey ke dokter? Dia merasa kurang enak badan,” ujar Arka saat Dyandra selesai mandi.

“Tahu dari mana dia tidak enak badan?”

“Baru saja dia dari sini.”

Dyandra terdiam. Bayangan dalam kepalanya sudah tidak karuan. Arka dan Cersey baru saja berduaan di kamar tidurnya. Berbuat apa saja mereka selama ia sedang di kamar mandi selama setengah jam lebih tadi?

“Hey, ayolah jangan murung. Mungkin dia hanya masuk angin. Tapi demi keamanan bayi kita, sebaiknya Cersey diperiksakan, benar ‘kan?” Arka khawatir akan keselamatan bayi mereka.

“Iya, nanti aku antarkan. Setelah dari dokter, aku akan langsung ke kantorku,” Dyandra akhirnya menyanggupi, walau berat.

“Oke. Aku akan mandi sekarang. Kamu tidak mau masuk kamar mandi lagi, menemaniku?” rayu Arka. Jemarinya nakal menarik tali di jubah mandi Dyandra, sembari terus mendekati sang istri.

Jubah mandi itu kini terbuka, mengekspos tubuh mulus yang belum memakai apapun di dalamnya. Dyandra diam saja. Ia sudah terlalu lelah untuk bereaksi apa pun.

Bibir Arka mulai bergerak liar, menjelajahi leher istrinya dan terus menurun ke bawah. Dalam hati, Dyandra sudah tidak ingin disentuh oleh suaminya. Namun untuk saat ini, sepertinya ia harus berpura-pura menikmati. Demi supaya tidak ada kecurigaan dari Arka.

“Permisi! Ada yang mau aku tanyakan!” Cersey tiba-tiba mendorong pintu kamar yang memang tidak tertutup rapat.

BERSAMBUNG

Bab 3

Mata mendelik melihat pemandangan erotis di kamar Dyandra. Mulut terbuka lebar, menunjukkan ekspresi sangat kaget. Di depannya, Arka sedang menciumi leher Dyandra dengan penuh nafsu. Sementara kedua tangan lelaki yang sangat maskulin itu, mulai menyusup masuk ke balik jubah mandi sang istri.

Cersey tak berkedip dan detak jantungnya semakin kencang menendang rongga dada. Sesak menangkup perasaan yang kini ia alami. Ada rasa cemburu, dan ada rasa tidak terima melihat ini semua.

Wanita itu tidak rela berbagi seorang Arka, meski itu dengan istrinya sendiri. Batin mengaum layaknya singa betina sedang kelaparan. Ia membeku, mematung, dan menatap sinis pada kedua anak manusia yang sedang bermesraan.

Ujung mata Dyandra menangkap ada sesosok bayangan di pintu kamarnya. Ia segera menoleh dan terkejut bukan kepalang melihat Cersey menatap lekat padanya.

“Heh! Kamu sedang apa menonton kami?” hardiknya dengan suara marah. Ia segera merapatkan jubah mandi dan mendorong Arka menjauh.

“Ma-maaf. Aku hanya mau bertanya kita berangkat jam berapa ke dokter?” Cersey gugup dan segera menundukkan kepalanya.

“Sudah, jangan dimarahi. Dia tidak sengaja. Ingat, dia sedang mengandung anak kita. Buah cinta kita,” sela Arka membela Cersey.

Perasaan Dyandra semakin mendidih, mendengar suaminya lebih membela perempuan lain ketimbang dirinya. Namun, ia tidak lagi heran. Jelas saja Arka membela Cersey. Ia mendapat kenikmatan dari wanita itu, bukan?

“Jam sembilan kita berangkat! Sekarang, pergilah dari kamarku!” ketus Dyandra mengusir Cersey.

Tanpa menunggu dua kali, wanita muda yang memberikan rahimnya untuk diisi buah cinta Dyandra dan Arka segera berlari keluar kamar dan menuruni tangga.

“Kamu ada apa, kok hari ini terlihat emosi sekali?” tanya Arka memandang istrinya heran. “Matamu juga terlihat sembab. Kamu habis menangis?” Arka kaget sendiri dan segera menyentuh wajah Dyandra.

“Aku sedang flu. Itu saja. Untuk apa aku menangis?” Dyandra memalingkan wajah.

“Lalu kenapa kamu pemarah sekali? Ada masalah apa?” desak Arka merengkuh jemari istrinya.

“Mungkin aku hanya lelah saja. Pekerjaan sedang banyak urusan,” kilah Dyandra menyungging senyum datar di wajah.

“Aku kira kamu marah padaku?” selidik Arka memeluk pinggul wanita yang telah bertahun-tahun menemani tidurnya.

“Kamu masih mencintaiku, Say?” lirih Dyandra menatap manik hitam sang suami.

“Aku akan selalu mencintaimu,” balas Arka memagut bibir istrinya lembut. “Jangan pernah ragukan cintaku.”

Dyandra mencoba tersenyum. Kalimat lelaki itu begitu manis dan diucapkan dengan sungguh-sungguh. Padahal, ia baru saja meniduri wanita lain semalam. Luar biasa!

Arka kembali memagut bibir Dyandra sekali lagi dengan begitu panas dan bergairah. Berusaha merayu agar Dyandra mau menemaninya mandi berdua. Akan tetapi, wanita itu menolak dengan alasan harus segera bersiap untuk pergi ke dokter.

Arka menyerah. Ia membiarkan berdandan sementara ia mandi sendiri. Dalam hatinya merasa heran dengan sikap Dyandra pagi ini. Namun, ia tak ingin terlalu banyak memikirkan itu semua.

Begitu sang suami hilang dari pandangan, Dyandra langsung mengambil tissue di meja rias dan mengelap bibirnya berkali-kali. Rasa jijik melanda seluruh titik tubuh.

Dalam bayangannya, bibir Arka pasti sudah melanglang buana menjelajahi liuk tubuh Cersey. Napasnya kembali terengah dan kilatan berkaca-kaca muncul di bola mata indah miliknya.

***

Tiga orang wanita telah duduk di meja makan pagi ini. Ada Moeryati, ibunda Arka. Kemudian ada Dyandra, istri Arka. Terakhir, ada Cersey, sang wanita pengganti.

Berada di meja yang sama dengan ibu mertuanya selalu membuat Dyandra kehilangan banyak kata-kata. Ia lebih memilih diam karena paham bahwa dirinya bukanlah menantu favorit.

Sebuah kenangan tentang bagaimana semua ini berawal sedang ia putar ulang di dalam pandangan lelah matanya. Peristiwa bagaimana ia menghadirkan Cersey dalam kehidupan cintanya.

“Aku menemukan sebuah program bernama Surrogate Mother. Aku rasa kita harus mencobanya, Say!” seru Dyandra sekitar dua tahun lalu, setelah mendapat vonis dari dokter, bahwa ia tidak akan bisa memiliki anak.

Say, kependekan dari sayang. Panggilan cinta Dyandra untuk suaminya. Terkadang ia memanggil dengan resmi seperti Mas Arka bila di hadapan banyak orang, terkadang ia memanggil suaminya hanya dengan sebutan singkat yaitu Say.

“Program apa itu?” sahut Arka penasaran.

“Jadi di program ini, sel telur dan sel sperma dijadikan pembuahan di luar tubuh, atau dalam hal ini, di dalam sebuah alat,” jelas Dyandra bersemangat. “Kemudian pembuahan yang sukses itu, di tanam di rahim wanita lain, sampai sembilan bulan ke depan. Sampai bayinya lahir!”

Arka menaikkan sebelah alisnya. Ia merasa keinginan Dyandra kali itu sudah kelewatan. Memang mereka ingin sekali memiliki anak. Tapi cara ini terdengar sungguh tidak manusiawi baginya.

“Aku tidak mau punya anak dari rahim wanita lain!” tolaknya tegas.

“Kita tidak akan bisa punya anak, kalau tidak dengan cara ini. Ayolah, Say?” rengek Dyandra seperti anak kecil meminta es krim

“Aku pikirkan lagi, ya? Aku tidak bisa memutuskan, kalau harus saat ini juga. Banyak yang harus di pikirkan,” jawab Arka menghela napas.

Wajah Dyandra berseri-seri penuh harap. Ia yakin suaminya pasti akan setuju pada akhirnya nanti.

***

“Pagi, Ma.” Arka menyapa ibundanya, sambil mengecup ujung kepala Dyandra mesra. Kehadiran sang suami membuatnya tersadar dari lamunan dan kenangan masa lalu yang baru saja ia putar kembali.

Mata Cersey terus mengamati setiap gerak-gerik Arka. Hal ini tidak luput dari Dyandra yang juga mengamati gerak-gerik selingkuhan suaminya. Ingin sekali Dyandra mengambil sepotong roti lalu dilemparkan pada wanita itu. Hatinya dibakar rasa cemburu.

Memang resiko dari memiliki suami seperti Arka adalah kecemburuan yang sering hinggap. Sejak dulu Dyandra sudah sering mendapati wanita mengelilingi Arka dan membuatnya merasa insecure. Namun, Arka tidak pernah memperlihatkan gelagat tidak beres hingga Dyandra tidak mempermasalahkan.

Wanita mana tidak kenal Arka Hasbyan? Pewaris tunggal kerajaan bisnis Best Future Corporate. Sebuah perusahaan yang lini bisnisnya sudah seperti gurita, mencengkeram ke segala arah.

Sementara Dyandra, meski ia anak seorang pengusaha, tapi kekayaan orang tuanya jauh di bawah kekayaan keluarga Arka.

“Nanti malam, ayo pergi merayakan ulang tahun perkawinan kita,” ajak Arka melirik Dyandra. Ia sangat bersemangat sambil menyeruput kopi pagi.

“Oh, kalian sedang 10th anniversary? Congrats! Pantas saja kalungmu baru. Tiffany kah?” tanya Moeryati datar.

Ibunda Arka ini memang sejak dulu tidak menyukai Dyandra, yang dianggapnya tidak satu level dengan keluarga Hasbyan. Seandainya dulu Arka tidak mengancam akan pergi dari rumah bila ia tidak boleh menikahi Dyandra, pastilah ia dan almarhum ayah Arka tidak akan mengijinkan pernikahan itu terjadi.

“Iya, Ma. Tiffany, like always,” jawab Dyandra tersenyum memainkan liontin AD di kalung barunya.

Mata Cersey melirik kalung di leher Dyandra dengan perasaan iri. Ia kemudian melirik Arka sedikit cemberut.

“Arka, harusnya sesekali kamu belikan juga perhiasan untuk Cersey. Bukankah dia yang berhasil mengandung anak kalian? Buatlah hatinya senang!” celetuk Moeryati membuyarkan kebanggaan Dyandra akan kalung barunya.

Ucapan ibu mertua Dyandra kali ini betul-betul sebuah pukulan telak untuk wanita itu. Seketika wajah Dyandra terasa panas dan tenggorokannya menjadi kering hingga susah berkata-kata.

Cersey di sisi lain, tersenyum simpul mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh ibunda Arka. “Ehm, terima kasih, Tante. Sudah memikirkan saya.”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED