Langkah kaki tanpa suara diambil oleh Dyandra malam ini. Ia memutuskan untuk mencari kebenaran dari kecurigaannya selama satu minggu terakhir. Sudah terlalu sering suaminya menghilang dari ranjang mereka antara jam satu sampai dua malam ketika ia sedang tertidur lelap.
Kuatkan dirimu, Dyandra! Semua harus jelas malam ini!
Ia berusaha menguatkan batinnya. Apa pun yang terjadi akan dihadapi dengan sekuat tenaga. Namun, detak jantungnya saat ini semakin kencang seakan hendak melompat jauh pergi dari badannya.
Langkah demi langkah dijalani oleh Dyandra menuruni tangga beroles pualam, di rumah megah nan mewah milik keluarga besar Arka Hasbyan, sang suami. Kemudian ia berlanjut, berjingkat menuju kamar tamu di sisi selatan bangunan yang saking besarnya, bisa disamakan dengan sebuah istana ini.
Lampu hias teramat besar tergantung di langit-langit rumah dengan cantik meski dalam keadaan padam. Lukisan di atap yang mirip dengan museum-museum seni di Eropa terlihat sangat indah apabila lampu tersebut menyala.
Dengan berjalan sepelan mungkin tanpa suara, ia semakin mendekati kamar tamu. Napas Dyandra terhenti sekian detik saat telinganya mendengar apa yang ia sebut kebenaran.
“Aaaah, Mas Arka, enak sekali, Mas! I Love You!” desah seorang perempuan. Meracau, memanggil nama suami tercintanya.
“Almost there, Cersey! Almost there!” Suara Arka terdengar sangat menikmati kegiatan yang sedang ia lakukan.
Erangan silih berganti terdengar dari balik pintu kamar perempuan bernama Cersey Avriana. Dia adalah seseorang yang kini telah hadir dalam rumah tangga Dyandra.
“Yeeesssss, Cersey!” pekik Arka dilanjutkan dengan erangan panjang.
Dyandra hafal kebiasan suaminya, yang juga sering mengucapkan hal sama persis kepada dirinya, saat mereka sedang bercinta.
Nafas Dyandra tersengal-sengal. Ia dalam kondisi shock. Matanya terbelalak. Kedua tangan menutup mulutnya sendiri agar tidak mengeluarkan suara-suara yang bisa terdengar oleh dua love bird di dalam kamar.
Kini kakinya mulai terasa lemas dan berat untuk melangkah. Bahkan, tulang-tulang seolah tidak mampu lagi menopang berat badannya. Sementara itu, ia harus segera kembali ke kamar tidur lalu berpura-pura seakan ini semua tidak terjadi. Terlalu lama berada di luar kamar akan semakin meningkatkan resiko Arka mengetahui keberadaannya malam ini.
Dengan segenap tenaga dan kekuatan yang masih tersisa, Dyandra berusaha menyeret badan, dan juga hatinya untuk segera beranjak dari situ. Satu langkah demi satu langkah sampai ia bertemu dengan tangga megah itu lagi.
***
Begitu tangannya membuka pintu kamar tidur ia langsung menuju pemberhentian utama yaitu kamar mandi. Ia merasa air mata akan segera tumpah saat itu juga. Dyandra mengunci diri dan duduk di dalam bak mandi yang biasa ia gunakan sebagai jacuzzi.
Bak mandi itu kering tidak ada airnya sama sekali. Ia hanya duduk di situ, tanpa bisa berpikir apa-apa. Hatinya hancur lebur dimana serpihan asa itu telah menjadi sangat kecil sehingga bisa terbawa oleh angin yang bertiup sendu. Namun, hal aneh terjadim Air mata sama sekali tidak ada yang menetes dari pelupuk matanya.
Hanya saja, tangan Dyandra terus bergetar dengan hebat. Paha mulus miliknya kemudian ia rapatkan di dada. Kepalanya lalu ditundukkan perlahan sampai menyentuh lutut. Tangan yang bergetar tadi, dilingkarkan di depan kakinya. Dyandra terus berada dalam posisi ini sampai hampir tiga puluh menit ke depan. Setiap tangannya akan bergetar lebih hebat dari sebelumnya, ia segera menekankan lingkar tangan di lutut kemudian memaju mundurkan tubuhnya agar bisa mendapat ketenangan kembali.
“Dyandra? Kamu di dalam?” Suara Arka tiba-tiba memanggil. Dia sudah kembali memasuki kamar tidur.
“Dyandra?” panggil Arka mengulangi, karena tidak ada jawaban dari istrinya.
Arka mengetuk pintu kamar mandi tetapi tetap Dyandra enggan menjawabnya. Akhirnya sang suami berusaha membuka paksa pintu kamar mandi. Suara gemeretak pegangan pintu berkali-kali dibuka terdengar berbarengan dengan tubuh Arka menghantam pintu kamar mandi.
“Dyandra? Kamu sedang apa di dalam?” teriaknya mulai panik.
'Dyandra! Kuatkan dirimu! Ayo jawab suamimu itu!' pekiknya dalam hati.
“A-a-aku sa-sakit perut, Mas!” seru Dyandra berhasil bersuara.
“Kamu baik-baik saja? Mau ke dokter? Aku bangunkan Pak Gito, ya?” Suaminya masih sangat perhatian, meski ia baru saja meniduri wanita lain di bawah sana.
“Tidak, Mas! Aku baik kok!” tolak Dyandra.
Ia memejamkan mata dan berasa menelan pil pahit berkali-kali di tenggorokannya. Kalimat-kalimat kekuatan ia gaungkan di batinnya
Akhirnya Arka berhenti bertanya. Terdengar langkah kakinya menjauh dari pintu kamar mandi. Sesaat kemudian terdengar ia sedang menaiki ranjang.
Dyandra masih merasakan tangannya bergetar, namun sudah tidak sehebat sebelumnya. Perlahan tapi pasti, ia berhasil menguasai diri dan kembali tenang.
Sekitar sepuluh menit kemudian, wanita berusia tiga puluh tahun itu keluar kamar mandi. Dipandangnya Arkq –sang suami– yang sangat ia cintai.
“Kamu dari mana barusan, Mas Arka?” tanya Dyandra berusaha menahan suaranya agar tetap tenang.
“Aku lapar, jadi aku makan di dapur,” sahut Arka memandangi wajah Dyandra tenang tanpa ada kegelisahan sedikit pun.
“Wajahmu pucat sekali. Benar kamu tidak apa-apa? Apa kita ke dokter saja malam ini?” Tangan hangat Arka menyentuh pipi istrinya yang sedingin embun malam.
Reflek karena merasa jijik dengan tangan itu membuat Dyandra melengos. Wajahnya spontan menghindari sentuhan jemari Arka. Batinnya menangis karena mengetahui tangan itu baru saja menyentuh bagian sensitif wanita lain secara sadar dan atas kemauannya sendiri.
“Ada apa?” tanya Arka heran mendapati perubahan pada Dyandra. Mata suaminya itu tajam menatap seakan menembus ke dalam sanubari terdalam.
“Eh, tidak ada apa-apa. Aku masih tidak enak badan. Aku mau tidur saja,” kelit Dyandra segera menaiki ranjang, lalu membelakangi lelaki yang telah menjadi imamnya selama sepuluh tahun terakhir. Ia lebih baik menghadap tembok daripada menatap wajah penuh dusta di sampingnya.
“Selamat tidur, Yank,” ucap Arka mencium pipi Dyandra. Rutinitas yang selalu mereka lakukan sebelum tidur.
Ingin Dyandra kembali ke kamar mandi lalu mencuci wajahnya sebanyak seratus kali. Bibir suaminya itu adalah hal yang paling memuakkan untuk dirinya saat ini.
Sebuah bibir yang mengucapkan banyak kebohongan. Sebuah bibir yang sudah melanglang buana, menikmati tiap inchi tubuh wanita lain.
***
“Maaf Bu Dyandra. Hasil pemeriksaan menunjukkan rahim anda memiliki kelainan pada bagian tuba falopi. Hal ini membuat anda kesulitan memiliki anak.”
Berita itu menghantam keras sekali bagai petir di siang bolong, membumi hanguskan semua impian Arka dan Dyandra. Suara dengungan tinggi melengking terdengar begitu menyakitkan di telinganya.
Delapan tahun berumah tangga, tanpa memiliki keturunan, membuat mereka memeriksakan kondisi kesuburan masing-masing. Mendapat hasil akhir berupa berita seperti itu, serasa hancur hidup Dyandra. Sebagai seorang wanita, ia tidaklah sempurna.
“Lalu garis keturunan kamu bagaimana? Siapa penerus kerajaan bisnis papamu?” sinis Moeryati, ibunda Arka, begitu mendengar kondisi menantunya yang dinyatakan … mandul.
Kejadian ini masih teringat jelas di ingatan Dyandra. Betapa mertuanya pada saat itu memandangnya dengan rendah seolah dirinya hanyalah seonggok sampah.
Kini memori itu kembali menyeruak perlahan pada malam pilu yang telah menjelang pagi ini. Malam dimana ia tidak bisa memejamkan mata, tanpa mendengar desahan Cersey memanggil-manggil nama suaminya penuh kenikmatan.
Sampai bunyi alarm kemudian menghentak pada pukul lima pagi, Dyandra tetap tidak dapat tertidur. Diliriknya Arka, yang masih mendengkur nyenyak di sampingnya. Wajah suaminya itu terlihat tampan saat tidur. Begitu tenang dan damai meski telah berkhianat dengan sengaja.
Tanpa suara, Dyandra menuruni ranjang. Ia melangkah menuju sebuah pintu di pojok ruang kamar. Deretan baju, tas, sepatu, dan berbagai aksesoris terlijat berjejer rapi saat pintu dibuka. Itu adalah ruang pakaian Dyandra yang terdiri dari ratusan barang bermerek terkenal dan mahal.
Ia mengganti gaun tidur dengan satu stel pakaian olah raga. Rambut lurus hitam indah sepunggung miliknya, dikuncir membentuk ekor kuda. Sebuah sepatu berlari ia keluarkan dari dalam lemari kaca yang berisi puluhan pasang sepatu aneka model dan merek.
Setelah membasuh wajah di kamar mandi, Dyandra bersiap untuk memulai rutinitas lari paginya. Tanpa memperhatikan ranjang ia langsung berjalan menuju pintu kamar.
“Sudah mau lari?” tanya Arka yang ternyata sudah bangun. Ia memandangi istrinya yang hendak pergi jogging.
Dyandra tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, tanpa melihat Arka. Jemari lentiknya mulai memutar daun pintu.
“Ciumanku mana? Lupa ya?” rajuk Arka segera turun dari ranjang sambil menyodorkan bibirnya untuk di kecup.
Mati aku! Celaka tiga belas! Kenapa dia tidak tidur saja sih? Pakai acara minta cium seperti biasa, seperti tidak ada apa-apa? Minta cium sama gundikmu di bawah sana! Dyandra memaki suaminya dalam hati.
“Aku sudah kesiangan,” tolak Dyandra belum mampu menguasai perasaannya seratus persen.
Arka segera berlari kecil menuju pintu keluar lalu menghalangi Dyandra untuk keluar kamar.
“Ada apa denganmu, Yank?” Arka menatap antara heran dan curiga.
Yank, panggilan kesayangan untuk Dyandra, kependekan dari sayang. Sebuah panggilan yang terasa hambar untuk saat ini.
Dyandra sadar, sikapnya menunjukkan ada sesuatu yang salah. Ia harus segera terlihat normal, agar tidak menimbulkan pertanyaan.
“Mwah!” Sebuah kecupan akhirnya ia daratkan di bibir Arka.
“Nah, gitu dong, he he he,” kekeh Arka melumat kembali bibir istrinya.
Darah Dyandra terasa mendidih. Bahkan perasaan mual menelisik di dalam lambungnya. Namun demikian, ia tetap berusaha bermain peran dengan baik.
“Aku suka melihatmu dengan celana ketat ini, Yank. Kamu seksi sekali,” desah Arka meraba bagian belakang tubuh molek wanita kecintaannya.
“Aku lari dulu, Mas! Nanti kita lanjut, ya!” Dyandra segera kabur keluar kamar. Ia harus melarikan diri dari berbagai sentuhan Arka sebelum pertahanan sandiwaranya runtuh.
Baru saja ia menuruni tangga, ketika sebuah suara memanggilnya. Suara yang terdengar merdu, ramah, dan bersahabat.
“Mbak Dyandra, sudah berangkat lari pagi?”
Dyandra menoleh malas kepada suara itu. Batinnya langsung bergemuruh ingin menerkam sang pemilik suara.
Wanita murahan! Aku menyewa kamu untuk melahirkan anakku! Bukan bercinta tiap malam dengan suamiku! What the f**k is wrong with you?
Dyandra mengumpat dan memaki tidak karuan di dalam hati kepada wanita cantik dengan perut yang mulai membuncit dan sedang berdiri di hadapannya. Bibirnya tersenyum, wajahnya hangat, tetapi hatinya benar-benar murka dengan wanita ini.
Sebuah senyum ditampilkan dengan sangat terpaksa oleh Dyandra. Saat masih sekolah dulu padahal ia tidak pernah mengambil kelas drama. Entah mengapa kali ini ia pintar sekali menutupi perasaan muak terhadap perempuan di hadapannya.
“Iya, Cersey. Aku harus menjaga kesehatan. Mas Arka selalu mengajak olah raga di atas ranjang hampir tiap malam. Jadi aku harus terus fit,” jawab Dyandra menyindir.
Selain itu, ia sedikit banyak ingin menegaskan posisinya sebagai Nyonya Arka Hasbyan. Bahwa ia yang dicintai Arka, bukan wanita yang hanya disewa rahimnya seperti Cersey.
“Luar biasa! Pasti Mas Arka benar-benar mencintai Mbak Dyandra,” sahut Cersei santai, seolah tulus dan turut berbahagia mendengar itu semua.
Pintar sekali kalian bersandiwara? Apa memang sudah kalian rencanakan harus bersikap bagaimana jika bertemu aku? Kalian menjijikkan! Terus saja jiwa wanita berusia tiga puluh tahun itu memaki dalam hati.
Dyandra tidak menjawab. Ia hanya tersenyum ketus dan segera berlari keluar rumah menuju pintu gerbang megah yang dijaga oleh tiga orang petugas keamanan.
“Selamat pagi, Bu Dyandra!” seru ketiga satpam membukakan gerbang. Mereka menunduk untuk memberi hormat kepada sang majikan.
“Ya, pagi!” jawab Dyandra singkat menyapa balik para petugas keamanan.
Tak lama ia telah melesat, melaju di area jogging yang sudah disediakan oleh pengembang perumahan mewahnya.
“F**k you Arkaaaaa!” jeritnya saat sampai di tepi danau yang masih sepi. Hawa segar perumahan di antara rimbun pepohonan tidak bisa membuat hatinya merasa sejuk.
Dengan napas terengah-engah, Dyandra terus menerus berteriak, memaki suaminya.
“Aku benci kamu! Lelaki brengsek! Lelaki jahanam!” teriak Dyandra sampai napasnya tersengal-sengal. “Kamu pembohong! Pengkhianat! Bajingan! Dasar Lelaki cabul!”
Sudah sekitar dua puluh batu kerikil ia lempar sekeras mungkin ke dasar danau. Pada setiap lemparan, ia meluapkan emosi dan ledakan dari rasa hancur hatinya.
Dyandra menghempaskan diri di atas tanah. Kalbu yang berserakkan semalam, semakin hancur ketika melihat perut buncit Cersey pagi ini. Ia juga ingin bisa seperti itu. Merasakan sesuatu tumbuh di dalam tubuhnya. Namun, takdir berkata lain.
Namun, sebanyak apa pun kerikil dan teriakan yang ia lemparkan, tetap tidak bisa membuat air matanya keluar. Karena itulah, hatinya tetap terasa sesak sangat. Napasnya semakin terengah-engah dan ia mulai merasa dunianya berputar.
Khawatir terjadi sesuatu terhadap dirinya, ia segera bangkit dan memutuskan untuk pulang. Mungkin saja karena semalam ia tidak tidur maka pagi ini kondisinya tidak bisa fit untuk lari pagi.
Dengan gontai Dyandra melangkahkan kaki menuju istana megah yang biasa ia sebut rumah. Hanya saja, saat ini ia tidak lagi merasa bahwa itu adalah rumahnya. Tidak ada lagi perasaan nyaman di sana. Kebahagiaan disana, telah runtuh.
***
“Kok cepat?” Arka heran melihat Dyandra sudah kembali dalam waktu setengah jam saja. Biasanya jogging sang istri memakan waktu sampai dua jam.
“Tidak enak badan!” jawab Dyandra ketus segera menyambar handuk di sebelah pintu kamar mandi.
“Dyandra!” panggil Arka menarik lengan Dyandra dan merapatkan sang istri dalam pelukannya.
“Happy 10th Anniversary,” bisiknya memperlihatkan sebuah kotak kain beludru berwarna hijau, bertuliskan Tiffany.
“Hah?” Dyandra tergagap. Ia lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahun perkawinan mereka. Ia bahkan belum membeli kado apa pun untuk suaminya.
“Untukmu, Cintaku.” Arka membuka kotak. Sebuah kalung dengan liontin berlian mungil, bertuliskan AD ada di sana sebagai hadiah untuk Dyandra.
“Berputarlah, biar aku pasangkan di lehermu.”
Arka memasangkan kalung indah pemberiannya di leher sang istri. Ia bahkan mengecup leher jenjang Dyandra dengan mesra.
“Aku mandi dulu!” Dyandra semakin merasa rapuh. Ia berkelit dan menghindar lalu cepat masuk kamar mandi.
Arka hanya bisa bengong melihat kelakuan istrinya yang datar, padahal sebuah kalung berlian telah melingkar di lehernya.
Segera ia pasang pancuran air pada posisi paling keras. Dyandra juga menyalakan kran pada bak jacuzzi dan membuka penutup saluran di dasar bath tub agar air tidak meluber keluar tub.
Wanita bertubuh mungil itu membutuhkan suara pengalih sekeras mungkin. Air matanya dirasa akan segera tumpah dengan deras.
Masih memakai baju lari, Dyandra terduduk lemas di lantai kamar mandi, di bawah pancuran air hangat. Benar saja. Kini, ia mulai sukses menangis dan tak mampu untuk menghentikannya.
Deraian air mata mengalir seperti tsunami menerjang, sederas pancuran air di atas kepalanya.
Ia menangisi hadiah ulang tahun perkawinan kesepuluh yang baru saja ia dapatkan dari Arka. Disentuhnya kembali kalung tersebut. Ia meraba tulisan AD yang tersemat sebagai liontin. Apakah hanya sebatas itu saja keadaan mereka saat ini, yaitu inisial pada kalung?
Sebuah perselingkuhan yang dibalut dengan kalung berlian tetap saja menghancurkan segenap sudut hati wanita manapun. Inilah kenyataan pahit yang harus ia terima. Semua akibat ketidakmampuan dirinya untuk memiliki anak. Maka kepedihan mana yang bisa mengalahkan penderitaan Dyandra pagi ini?
Liontin bertuliskan AD merupakan singkatan dari Arka-Dyandra. Sebuah ungkapan dan ucapan bahwa Dyandra adalah cintanya. Segala keromantisan iti tidak berbanding lurus dengan apa yang Dyandra ketahui semalam.
“U’re such a bullsh*t, Arka!” desisnya memukulkan tangan pada lantai kamar mandi. Kakinya pun menjejak-jejak seperti anak kecil sedang marah karena tidak mendapat mainan yang diinginkan.
Terus terisak, terisak dan terisak. Rintihan kecil dari bibirnya yang gemetar terus mengisi ruang hampa. Di kamar mandi ini, di bawah pancuran air yang sama, Dyandra sering merasakan hangatnya sentuhan Arka, tanpa penghalang apa pun diantara mereka. Hanya bercinta dengan bahagia dan saling memuaskan satu sama lain, persis di tempatnya duduk saat ini.
Perilaku suaminya yang seolah tidak terjadi apa-apa, padahal sudah tidur dengan wanita lain, membuat semuanya semakin menyakitkan.
Namun, biarlah semua ini ia terima apa adanya. Kedewasaannya mengetahui bahwa takdir manusia tidak selamanya sesuai keinginan. Lambat laun ia harus tetap tegar dan menegakkan kepala.
Bayangan seorang bayi mungil yang akan hadir membuat hidupnya lebih bermakna, menjadikan Dyandra berusaha kuat menerima terpaan dan tusukan duri pada hati dan batinnya.
Ia mulai melepas pakaian lari yang sudah basah kuyup itu lalu bangkit berdiri. Seiring itu pula, ia berjanji pada dirinya sendiri tidak akan lagi membiarkan perasaan sakit ini terus menerus menghancurkan kehidupannya.
***
“Aku hari ini ada klien penting. Aku akan berangkat lebih pagi. Bisa kamu mengantar Cersey ke dokter? Dia merasa kurang enak badan,” ujar Arka saat Dyandra selesai mandi.
“Tahu dari mana dia tidak enak badan?”
“Baru saja dia dari sini.”
Dyandra terdiam. Bayangan dalam kepalanya sudah tidak karuan. Arka dan Cersey baru saja berduaan di kamar tidurnya. Berbuat apa saja mereka selama ia sedang di kamar mandi selama setengah jam lebih tadi?
“Hey, ayolah jangan murung. Mungkin dia hanya masuk angin. Tapi demi keamanan bayi kita, sebaiknya Cersey diperiksakan, benar ‘kan?” Arka khawatir akan keselamatan bayi mereka.
“Iya, nanti aku antarkan. Setelah dari dokter, aku akan langsung ke kantorku,” Dyandra akhirnya menyanggupi, walau berat.
“Oke. Aku akan mandi sekarang. Kamu tidak mau masuk kamar mandi lagi, menemaniku?” rayu Arka. Jemarinya nakal menarik tali di jubah mandi Dyandra, sembari terus mendekati sang istri.
Jubah mandi itu kini terbuka, mengekspos tubuh mulus yang belum memakai apapun di dalamnya. Dyandra diam saja. Ia sudah terlalu lelah untuk bereaksi apa pun.
Bibir Arka mulai bergerak liar, menjelajahi leher istrinya dan terus menurun ke bawah. Dalam hati, Dyandra sudah tidak ingin disentuh oleh suaminya. Namun untuk saat ini, sepertinya ia harus berpura-pura menikmati. Demi supaya tidak ada kecurigaan dari Arka.
“Permisi! Ada yang mau aku tanyakan!” Cersey tiba-tiba mendorong pintu kamar yang memang tidak tertutup rapat.
BERSAMBUNG
Mata mendelik melihat pemandangan erotis di kamar Dyandra. Mulut terbuka lebar, menunjukkan ekspresi sangat kaget. Di depannya, Arka sedang menciumi leher Dyandra dengan penuh nafsu. Sementara kedua tangan lelaki yang sangat maskulin itu, mulai menyusup masuk ke balik jubah mandi sang istri.
Cersey tak berkedip dan detak jantungnya semakin kencang menendang rongga dada. Sesak menangkup perasaan yang kini ia alami. Ada rasa cemburu, dan ada rasa tidak terima melihat ini semua.
Wanita itu tidak rela berbagi seorang Arka, meski itu dengan istrinya sendiri. Batin mengaum layaknya singa betina sedang kelaparan. Ia membeku, mematung, dan menatap sinis pada kedua anak manusia yang sedang bermesraan.
Ujung mata Dyandra menangkap ada sesosok bayangan di pintu kamarnya. Ia segera menoleh dan terkejut bukan kepalang melihat Cersey menatap lekat padanya.
“Heh! Kamu sedang apa menonton kami?” hardiknya dengan suara marah. Ia segera merapatkan jubah mandi dan mendorong Arka menjauh.
“Ma-maaf. Aku hanya mau bertanya kita berangkat jam berapa ke dokter?” Cersey gugup dan segera menundukkan kepalanya.
“Sudah, jangan dimarahi. Dia tidak sengaja. Ingat, dia sedang mengandung anak kita. Buah cinta kita,” sela Arka membela Cersey.
Perasaan Dyandra semakin mendidih, mendengar suaminya lebih membela perempuan lain ketimbang dirinya. Namun, ia tidak lagi heran. Jelas saja Arka membela Cersey. Ia mendapat kenikmatan dari wanita itu, bukan?
“Jam sembilan kita berangkat! Sekarang, pergilah dari kamarku!” ketus Dyandra mengusir Cersey.
Tanpa menunggu dua kali, wanita muda yang memberikan rahimnya untuk diisi buah cinta Dyandra dan Arka segera berlari keluar kamar dan menuruni tangga.
“Kamu ada apa, kok hari ini terlihat emosi sekali?” tanya Arka memandang istrinya heran. “Matamu juga terlihat sembab. Kamu habis menangis?” Arka kaget sendiri dan segera menyentuh wajah Dyandra.
“Aku sedang flu. Itu saja. Untuk apa aku menangis?” Dyandra memalingkan wajah.
“Lalu kenapa kamu pemarah sekali? Ada masalah apa?” desak Arka merengkuh jemari istrinya.
“Mungkin aku hanya lelah saja. Pekerjaan sedang banyak urusan,” kilah Dyandra menyungging senyum datar di wajah.
“Aku kira kamu marah padaku?” selidik Arka memeluk pinggul wanita yang telah bertahun-tahun menemani tidurnya.
“Kamu masih mencintaiku, Say?” lirih Dyandra menatap manik hitam sang suami.
“Aku akan selalu mencintaimu,” balas Arka memagut bibir istrinya lembut. “Jangan pernah ragukan cintaku.”
Dyandra mencoba tersenyum. Kalimat lelaki itu begitu manis dan diucapkan dengan sungguh-sungguh. Padahal, ia baru saja meniduri wanita lain semalam. Luar biasa!
Arka kembali memagut bibir Dyandra sekali lagi dengan begitu panas dan bergairah. Berusaha merayu agar Dyandra mau menemaninya mandi berdua. Akan tetapi, wanita itu menolak dengan alasan harus segera bersiap untuk pergi ke dokter.
Arka menyerah. Ia membiarkan berdandan sementara ia mandi sendiri. Dalam hatinya merasa heran dengan sikap Dyandra pagi ini. Namun, ia tak ingin terlalu banyak memikirkan itu semua.
Begitu sang suami hilang dari pandangan, Dyandra langsung mengambil tissue di meja rias dan mengelap bibirnya berkali-kali. Rasa jijik melanda seluruh titik tubuh.
Dalam bayangannya, bibir Arka pasti sudah melanglang buana menjelajahi liuk tubuh Cersey. Napasnya kembali terengah dan kilatan berkaca-kaca muncul di bola mata indah miliknya.
***
Tiga orang wanita telah duduk di meja makan pagi ini. Ada Moeryati, ibunda Arka. Kemudian ada Dyandra, istri Arka. Terakhir, ada Cersey, sang wanita pengganti.
Berada di meja yang sama dengan ibu mertuanya selalu membuat Dyandra kehilangan banyak kata-kata. Ia lebih memilih diam karena paham bahwa dirinya bukanlah menantu favorit.
Sebuah kenangan tentang bagaimana semua ini berawal sedang ia putar ulang di dalam pandangan lelah matanya. Peristiwa bagaimana ia menghadirkan Cersey dalam kehidupan cintanya.
“Aku menemukan sebuah program bernama Surrogate Mother. Aku rasa kita harus mencobanya, Say!” seru Dyandra sekitar dua tahun lalu, setelah mendapat vonis dari dokter, bahwa ia tidak akan bisa memiliki anak.
Say, kependekan dari sayang. Panggilan cinta Dyandra untuk suaminya. Terkadang ia memanggil dengan resmi seperti Mas Arka bila di hadapan banyak orang, terkadang ia memanggil suaminya hanya dengan sebutan singkat yaitu Say.
“Program apa itu?” sahut Arka penasaran.
“Jadi di program ini, sel telur dan sel sperma dijadikan pembuahan di luar tubuh, atau dalam hal ini, di dalam sebuah alat,” jelas Dyandra bersemangat. “Kemudian pembuahan yang sukses itu, di tanam di rahim wanita lain, sampai sembilan bulan ke depan. Sampai bayinya lahir!”
Arka menaikkan sebelah alisnya. Ia merasa keinginan Dyandra kali itu sudah kelewatan. Memang mereka ingin sekali memiliki anak. Tapi cara ini terdengar sungguh tidak manusiawi baginya.
“Aku tidak mau punya anak dari rahim wanita lain!” tolaknya tegas.
“Kita tidak akan bisa punya anak, kalau tidak dengan cara ini. Ayolah, Say?” rengek Dyandra seperti anak kecil meminta es krim
“Aku pikirkan lagi, ya? Aku tidak bisa memutuskan, kalau harus saat ini juga. Banyak yang harus di pikirkan,” jawab Arka menghela napas.
Wajah Dyandra berseri-seri penuh harap. Ia yakin suaminya pasti akan setuju pada akhirnya nanti.
***
“Pagi, Ma.” Arka menyapa ibundanya, sambil mengecup ujung kepala Dyandra mesra. Kehadiran sang suami membuatnya tersadar dari lamunan dan kenangan masa lalu yang baru saja ia putar kembali.
Mata Cersey terus mengamati setiap gerak-gerik Arka. Hal ini tidak luput dari Dyandra yang juga mengamati gerak-gerik selingkuhan suaminya. Ingin sekali Dyandra mengambil sepotong roti lalu dilemparkan pada wanita itu. Hatinya dibakar rasa cemburu.
Memang resiko dari memiliki suami seperti Arka adalah kecemburuan yang sering hinggap. Sejak dulu Dyandra sudah sering mendapati wanita mengelilingi Arka dan membuatnya merasa insecure. Namun, Arka tidak pernah memperlihatkan gelagat tidak beres hingga Dyandra tidak mempermasalahkan.
Wanita mana tidak kenal Arka Hasbyan? Pewaris tunggal kerajaan bisnis Best Future Corporate. Sebuah perusahaan yang lini bisnisnya sudah seperti gurita, mencengkeram ke segala arah.
Sementara Dyandra, meski ia anak seorang pengusaha, tapi kekayaan orang tuanya jauh di bawah kekayaan keluarga Arka.
“Nanti malam, ayo pergi merayakan ulang tahun perkawinan kita,” ajak Arka melirik Dyandra. Ia sangat bersemangat sambil menyeruput kopi pagi.
“Oh, kalian sedang 10th anniversary? Congrats! Pantas saja kalungmu baru. Tiffany kah?” tanya Moeryati datar.
Ibunda Arka ini memang sejak dulu tidak menyukai Dyandra, yang dianggapnya tidak satu level dengan keluarga Hasbyan. Seandainya dulu Arka tidak mengancam akan pergi dari rumah bila ia tidak boleh menikahi Dyandra, pastilah ia dan almarhum ayah Arka tidak akan mengijinkan pernikahan itu terjadi.
“Iya, Ma. Tiffany, like always,” jawab Dyandra tersenyum memainkan liontin AD di kalung barunya.
Mata Cersey melirik kalung di leher Dyandra dengan perasaan iri. Ia kemudian melirik Arka sedikit cemberut.
“Arka, harusnya sesekali kamu belikan juga perhiasan untuk Cersey. Bukankah dia yang berhasil mengandung anak kalian? Buatlah hatinya senang!” celetuk Moeryati membuyarkan kebanggaan Dyandra akan kalung barunya.
Ucapan ibu mertua Dyandra kali ini betul-betul sebuah pukulan telak untuk wanita itu. Seketika wajah Dyandra terasa panas dan tenggorokannya menjadi kering hingga susah berkata-kata.
Cersey di sisi lain, tersenyum simpul mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh ibunda Arka. “Ehm, terima kasih, Tante. Sudah memikirkan saya.”