Bab 1

Detta termenung setelah panggilan telpon dari orang tuanya terputus, wanita itu merasa bingung dimana dia harus mendapatkan uang sebanyak itu untuk biaya operasi neneknya? Sedangkan uang beasiswa bulan ini sudah diambil semua oleh mereka. Detta bahkan harus makan seadanya untuk mengganjal perutnya.

"Detta, malam ini ikut aku, aku tahu kerja sampingan yang menghasilkan banyak uang." Detta langsung menyetujui ajakan temannya, dia tidak punya pilihan lain.

Malam itu dia dan Liona langsung berangkat menuju tempat dimana dia akan bekerja part time, dia tidak akan melakukannya setiap hari karena setelah tahu dimana tempat kerjanya dia merasa menyesal menerima ajakan Liona.

"Jangan takut, kita disini di bayar dengan harga tinggi per-jamnya belum lagi ada tips. So, mari kita kerja." Liona menarik tangan Detta untuk pergi ke ruangan manager karena memang sebelumnya dia sudah mengatakan jika akan membawa satu teman untuk bekerja bersamanya.

"Cantik juga, lakukan pelayanan dengan baik. Jangan sampai mengganggu tamu, apapun yang mereka lakukan jangan kalian pengaruhi. Liona kamu bekerja di lantai 1 sedangkan Detta, kamu bekerja di ruangan atas." Detta dan Liona mengangguk mereka lalu memakai seragam pelayan yang memang sangat mini di tubuh mereka.

Lekuk tubuh Detta terlihat jelas, tingginya semampai dan tubuhnya yang proporsional membuat seragam itu semakin pendek.

"Nggak nyaman aku," ucap Detta.

"Lakuin aja, ini cara cepat biar cepet dapat uang." Liona menarik tangan Detta menuju tempat pengarahan, mereka akan diarahkan untuk mengantar minuman di mana saja sesuai dengan pesanan.

"Aku duluan, hati-hati jangan terkena rayuan buaya darat." Liona berbisik ditelinga Detta, walau suara musik sangat berisik dia masih bisa mendengarnya dengan baik, wanita itu bergedik ngeri dia berdoa agar tidak terjadi hal yang tidak dia inginkan selama bekerja.

"Antarkan di ruangan vip 5," ujar bartender pada Detta.

Wanita itu mengangguk dan dengan perlahan membawa minuman yang sudah di pesan oleh pelanggan, bartander memintanya untuk berhati-hati karena minuman yang dibawanya saat ini bernilai jutaan rupiah.

Detta membuka pintu dengan perlahan, dirinya lalu mengantarkan minuman kepada pelanggan, sesuai dari arahan manager apapun yang pelanggan itu lakukan Detta harus menutup mata dan menganggap tidak melihat apapun di sana. Detta awalnya risih melihat dua orang yang saling berpagutan, namun pada akhirnya dia mencoba menahan diri dan kembali keluar setelah melakukan tugasnya dengan baik.

Semakin malam suasana klub semakin panas, banyak lelaki hidung belang yang menggodanya. Detta profesional dengan pekerjaanya, bahkan tidak sedikit orang yang menawarkan uang banyak asalkan Detta mau menemani mereka tidur. Detta menolak dengan tegas, dia hanya sebagai pelayan dan tidak melakukan pekerjaan tambahan.

"Sombong banget, jadi pelayan aja kayak gitu." Detta hanya diam ketika pelanggan itu mencemoohnya.

Setelah di minta keluar Detta langsung bernafas lega, dia kembali ke tempat untuk mengambil minuman yang di pesan oleh orang lain, kali ini dia berjalan dengan perlahan karena matanya sedikit mengantuk terlebih jam sudah menunjukkan pukul 2 malam.

"Hati-hati minuman ini seharga mobil, jangan sampai jatuh." Bartender mengatakan itu saat Detta membawa wine yang sangat mahal di club itu, rasanya hati Detta semakin berdebar apalagi banyak orang mabuk yang berada di sekitarnya, Detta tidak ingin melakukan kesalahan.

Napas Detta perlahan menjadi lega karena sudah sampai di ruangan paling mahal di club ini, suasana sangat sepi dan mencekam. Detta pikir ruangan ini digunakan oleh orang banyak, namun dia salah, hanya satu orang yang berada di ruangan ini.

"Ini tuan, apa ada yang bisa saya bantu lagi?" Tanya Detta ramah.

Lelaki itu menatap Detta dengan pandangan berbeda, entah apa yang dipikirkan oleh lelaki itu hingga kini membuat tubuh Detta merinding dia takut jika lelaki yang ada di hadapannya kesurupan penunggu tempat ini.

"Apa kau butuh uang?" Pertanyaan Aleandro membuat Detta menghentikan pekerjaanya, wanita itu dengan perlahan mulai menatap wajah orang yang sedang mengajaknya bicara. Detta tidak tahu jika orang yang berkata gila padanya adalah pewaris kelurga Smith yang banyak diinginkan oleh wanita.

"Aku akan berikan 1 milyar jika kau berhasil melahirkan anakku." lelaki itu bahkan meminta sembarang orang untuk mengandung benihnya karena permintaan pernikahan oleh ibunya.

Detta memundurkan tubuhnya dia merasa aneh dengan ucapan tamu yang ada di hadapannya, Detta memang membutuhkan uang, namun apakah dia harus menjual rahimnya demi membalas budi kepada neneknya?

Aleandro menahan tangan Detta yang ingin kabur, wanita itu memberanikan diri untuk menatap Alenadro yang sejak tadi menatapnya intens. Wanita ini sungguh bingung, dia takut, tetapi dia sungguh membutuhkan uang saat ini.

"Apakah kau bersedia?" Tanya Aleandro menatap Detta dengan penuh pengharapan.

"Aku-" belum sempt menjawab telpon Detta kembali berdering dia melihat nomor ibunya kembali menghubunginya.

Detta langsung mengangkatnya, dia mendengar suara teriakan ibunya yang sangat mengganggu telinganya. Ibunya kembali marah dan mengatakan akan membiarkan nenek Detta mati jika Detta tidak segera mengirimkan uang.

"Ibu ada dimana? Kenapa ramai di sana?" Tanya Detta.

Ibu Detta kembali berteriak dan mengancam jika Detta tidak segera mengirim uang maka dia akan membuang nenek Detta di jalanan.

"Jangan buang nenek," ucap Detta lemah.

Aleandro yang sejak tadi diam kini mulai mengerti arah pembicaraan Detta dan ibunya, dia menatap jam di tangannya yang sudah menunjukkan setengah tiga dini hari bahkan jam segini ibunya terus meminta uang pada anaknya.

"Aku mau, tapi aku mohon berikan aku uang terlebih dahulu."

Aleandro mengangguk, dia langsung menarik tangan Detta dan menbawanya untuk pergi dari sini. Aleandro rasa Detta bukan wanita nakal seperti yang lainnya di klub ini. Aleandro mengatakan pada manager jika Detta dia bawa, tak lupa dia membayar semua bill dan semua tips untuk membawa Detta keluar dari club sebelum jam berakhir.

"Kita mau kemana?" Tanya Detta takut.

"Kau sudah setuju, jadi kau pasti tau apa yang akan aku lakukan saat ini."

Detta sungguh tidak berani, ini pertama kali untuknya dan dia tidak menyangka jika keperawanannya harus dia jual dan dia pula harus menyewakan rahim demi mendaptkan 1 milyar. Detta merasa hidupnya sungguh kejam, bahkan sejak dulu hingga sekarang orang tuanya selalu memaksanya bekerja, mereka tidak setuju jika Detta berkuliah karena mereka hanya ingin menjadikan Detta sebagai sapi perahnya.

Selama ini Detta tidak pernah tahu jika dia bukan anak kandung dari kekuarga itu, anak kandung mereka hanya satu yaitu anak laki yang selalu dimanjakan oleh mereka. Selama ini Detta selalu mengalami ketidakadilan bahkan sampai sekarang mereka selalu meminta uang seperti lintah darat yang menghisat darah Detta sampi titik penghabisan.

***

Detta sudah sampai di apartemen mewah, ini pertama kalinya dia menginjakkan di tempat seperti ini. Detta tidak menyangka jika dia nekat menyewakan rahim dengan orang asing yang baru dia kenal.

"Aku akan mandi," ucap Aleandro ketika Detta hanya diam.

Aleandro meletakkan botol wine yang dia beli di club , setelah itu dia masuk kedalam kamarnya untuk membersihkan dirinya. Aleandro kasihan, tetapi semua ini harus dia lakukan untuk mengamankan posisinya sebagai pewaris keluarga Smith jika tidak ingin terus direcoki ibunya dengan perjodohan yang sangat dia benci.

Sementara itu, Detta kini merasa takut dan gemetar wanita itu tanpa pikir panjang langsung mengambil gelas dan membuka wine mahal yang dibawa oleh Aleandro. Wanita ini hanya ingin menghilangkan kesadarannya, dia tidak ingin sadar ketika dia tahu bahwa setelah ini dia tidak lagi berharga, tidak ada lagi yang bisa dia banggakan lagi.

Pintu terbuka, wangi sabun tercium ketika sang empunya semakin mendekati Detta. Lelaki itu mengambil botol wine dan menutupnya, dia tidak ingin wanita ini semakin mabuk dengan minuman yang dia minum.

"Em kenap kita tidak menggunakan metode inseminasi?" Tanya Detta yang kini terlihat mulai tidak sadar.

"Aku tidak menyukainya, apa kamu keberatan sekarang?" Tanya Aleandro yang kini merapikan rambut Detta yang menutupi sebagian wajahnya.

Wanita yang ada di depannya memang sangat cantik, jika bukan karena kebutuhan mungkin dia tidak akan melakukan pekerjaan di club.

"Aku tidak keberatan," ujar Detta yang tiba-tiba mengalungkan tangannya dileher Aleandro.

Aleandro terpaku, jantungnya berdebar hebat dia tidak menyangka jika sentuhan wanita ini mampu membuatnya bereaksi lebih.

"Jangan menyesal esok hari." Aleandro langsung menggendong Detta dan langsung dibawa ke kamarnya, Aleandro sudah tidak tahan lagi dia tergoda dengan kecantikan Detta yang sangat menawan.

Aleandro membaringkan Detta diatas ranjang empuknya, cahaya lampu yang temaram membuat wajah Detta semakin terlihat sendu dibawahnya. Sentuhan Aleandro turun tepat di bibir Detta, bibir merah yang mungkin belum dicoba oleh siapapun juga. Perlahan Aleandro mengecupnya, bibir manis bercampur dengan bau wine kini dia rasakan. Detta terlihat kurang berpengalaman, dia hanya diam bahkan tanpa membalas ciuman dari Aleandro.

"Balas ciumanku," bisik Aleandro yang kini dengan tanpa ragu meremas gundukan kenyal milik Wanitanya.

Detta tidak membalas namun wanita itu mendesah karena ulah Aleandro padanya. Lelaki itu tersenyum, dia mengecup bibir Detta sekilas dan kembali merangsang wanitanya dengan ciuman intens yang kini turun di leher Detta.

Setengah jam Aleandro melakukan pemanasan dan kini keduanya sama sama telanjang, Detta sungguh sangat basah karena rangsangan Aleandro, lelaki itu melakukan tugasnya dengan baik untuk memuaskan wanita.

"Aku akan melakukannya," ucap Aleandro ditelinga Detta, lelaki itu sudah berada tepat diatasnya dan mengarahkan miliknya berada tepat di depan lubang kenikmatan wanita itu.

Aleandro memaksa miliknya memasuki milik Detta, percobaan pertama wanita itu melirih kesakitan dan Aleandro juga merasakan hal yang susah untuk memasukinya. Aleandro sama sekali tidak menyerah, dia sudah berada diubun-ubun nafsunya, dia hanya ingin bercinta dengan Detta.

Aleandro kembali mendorong miliknya dengan paksaan, miliknya kini berhasil menerobos masuk kedalam milik Detta yang sangat sempit. Bahkan saking sakitnya Detta melampiaskan cakarannya di punggung Aleandro saking sakitnya.

Aleandro mencium bibir Detta dengan sensual dia hanya ingin mengurangi rasa sakit yang wanita itu rasakan karena ulahnya. Tiap kali Aleandro mendorong miliknya tangan Detta semakin erat memeluknya, wanita itu kini tidak bisa bersuara karena bibirnya dibungkam ciuman oleh Aleandro, namun wanita itu semakin erat memeluk dan membuat jantung Aleandro semakin berdetak kencang.

"Sialan kenapa sangat rapat," Ujar Aleandro yang rasanya ingin menyerah untuk memasukinya.

Aleandro sudah hilang kesabaran, tanpa mempedulikan tangisan dan erang kesakitan Detta dia memaksakan miliknya masuk, Aleandro merasakan kenikmatan yang luar bisa dia tidak menyangka jika Detta masih perawan.

Rasa sakit kini perlahan berubah menjadi hawa nafsu yang menyelimuti, baik Detta dan Aleandro sama-sama bergairah bahkan keduanya tidak peduli waktu terus berjalan hingga pagi.

"Kamu benar-benar liar karena wine itu," bisik Aleandro ketika dia berhasil mengeluarkan cairan kenikmatannya. Mereka berdua sama-sama orgasme dan setelah itu Detta tertidur karena kelelahan setelah bercinta dengan Aleandro.

"Kita bahkan tidak saling berkenalan, namun sudah berakhir diranjang."

Penastory Come Back, jangan lupa baca ikuti cerita baruku yaaa❤️

Bab 2

Detta memegang kepalanya yang terasa sangat sakit, wanita itu perlahan mulai mengingat apa yang dia lakukan semalam. Detta otomatis menatap tubuhnya yang tertutup selimut tebal, dia merasa bodoh karena menerima tawaran orang asing begitu saja karena dia membutuhkan uang.

"Bersiaplah, kita pergi sekarang." Detta menatap lelaki yang dihadapannya dengan pandangan penuh tanya.

"Aku tidak mau memiliki anak haram, kita menikah sekarang. Kau bisa pergi setelah melahirkan anak ini," ujar Aleandro dingin.

Lelaki itu meninggalkan Detta, kini yang tersisa hanyalah rasa hampa ada sedikit penyesalan pada hati Detta karena mengorbankan tubuhnya demi mengumpulkan uang yang dibutuhkan oleh neneknya. Rasanya Detta ingin menangis, namun nasi sudah menjadi bubur dia tidak bisa mengembalikan apa yang sudah hilang pada dirinya.

"Maafkan aku Tuhan, aku terpaksa." Detta mencoba berdiri, namun tubuhnya terasa sangat lemas.

Wanita itu merasakan sakit di pangkal pahanya, ini pertama kalinya dia melakukan hubungan seksual bahkan dia tidak menyangka juka keperawanannya dia berikan kepada orang yang tidak dia kenal.

Detta akhirnya menyelesaikan mandinya setelah dia berusaha dengan keras, permainan lelaki itu sungguh kasar hingga membuat area sensitivenya sedikit luka, dia tidak menyangka miliknya akan terasa sakit ketika dia berjalan.

"Apa aku harus memakai ini?" Tanya Detta ketika melihat dress yang tergeletak di sofa.

Detta tidak berani memakainya, dia hanya menatapnya lama karena dia takut salah dalam bertindak terlebih lelaki yang bersamanya sungguh menakutkan. Bunyi pintu terbuka membuat Detta terkejut, lelaki itu menatap Detta dengan pandangan kesal karena dia sudah menunggu sejak lama.

"Apa yang kau lakukan? Kenapa tidak berpakaian?" Tanya Aleandro yang melihat Detta hanya menggunakan handuk.

"Bajuku rusak," ucap Detta memperlihatkan bajunya yang memang koyak akibat ulah Aleandro yang tidak sabar dan langsung merobek pakaian Detta semalam.

"Pakai itu, Cepatlah! aku tidak punya banyak waktu untuk menunggumu." Aleandro melihat Detta yang berjalan dengan aneh, kini lelaki itu sadar bahwa permainannya semalam sangatlah kasar.

Aleandro menutup pintu kamarnya dengan perlahan, bahkan hal sekecil itu membuat Detta terkejut, wanita itu sungguh takut pada Aleandro karena lelaki itu sungguh menakutkn.

***

Aleandro melihat Detta kini sudah siap, wanita itu terus menahan rasa sakit tiap kali berjalan. Aleandro yang tidak tahan akhirnya dia langsung menggendong Detta, wanita itu hampir saja berteriak namun tatapan tajam Aleandro cukup membuatnya terdiam.

"Apa begitu menyakitkan?" Tanya Aleandro.

Detta mengangguk, dia tidak berani berkata sepatah katapun karena jantungnya berdetak cepat akibat ulah Aleandro yang menggendongnya tiba-tiba.

"Maaf jika aku terlalu kasar," ucapan Aleandro membuat Detta terdiam, matanya yang jernih membuat Aleandro merasa berbeda.

"Terima kasih," ucap Detta ketika Aleandro membantunya duduk di kursi mobil mewahnya.

Detta menatap isi mobil dengan penuh keheranan, ini pertama kalinya dia melihat isi mobil ini karena semalam dia bahkan tidak berani karena dia masih ketakutan dengan apa yang diinginkan oleh Aleandro.

"Tandatangani surat perjanjian ini, jangan sampai melanggar apa yang terdapat di dalamnya." Detta membuka kontrak perjanjian dan mulai membacanya, selama pernikahan Detta tidak diperbolehkan mengakui Aleandro sebagai suaminya di depan umum, Detta tidak boleh menjalin hubungan dengan lelaki lain dan kontrak pernikahan ini akan berhenti jika pihak pertama yang menginginkannya.

"Kompensasi yang aku berikan senilai itu, apa kamu keberatan?" Tanya Aleandro.

"Aku tidak keberatan, tapi apakah aku boleh minta sedikit dulu? Aku butuh uang untuk operasi nenek."

"Berapa yang kamu butuhkan?" Tanya Aleandro.

"Aku tidak tahu berapa, tapi apa aku boleh meminta 50 juta?" Tanya Detta.

"Baiklah kirimi nomor rekening kamu," ujar Aleandro.

Detta hanya terdiam dia bingung, jika sampai ditaruh di rekeningnya maka ibunya akan tau dan langsung mengambilnya kembali seperti beberapa hari yang lalu. Dia hanya ingin menyimpan uang itu untuk berjaga-jaga, jika dia berikan semua pada ibunya maka dia akan kembali meminta uang pada Detta.

"Kenapa? Tidak punya akun bank?" Tanya Aleandro.

"Aku punya, tapi jika dikirim ke sini maka ibuku akan mengambil semuanya. Dia akan terus meminta uang padahal aku sudah memberikan semuanya, aku hanya ingin menyimpan uang itu untuk berjaga-jaga jika nenek kondisinya makin parah." Detta meremas jari-jarinya dengan rasa takut karena dia baru kali ini berbicara intens dengan laki-laki.

"Berikan kartu identitasmu, aku akan meminta orang untuk mengurusnya untukmu." Detta menatap Aleandro dia hanya tidak menyangka jika lelaki itu baik padanya.

"Maaf merepotkanmu," ujar Detta.

Aleandro hanya diam, setelah setengah jam berlalu kini mereka akhirnya sampai di kantor pencatatan sipil. Aleandro sudah reservasi dan mendapatkan nomor antrian hingga dia tidak membutuhkan waktu lama untuk mendaftarkan pernikahannya.

Detta berdebar jantungnya, dia dan lelaki itu akhirnya berfoto untuk kartu nikah. Lelaki di sampingnya memang sangat tampan, tetapi tatapan tajamnya membuat Detta tidak berdaya, dia bahkan tidak berani untuk menatapnya terlalu lama.

"Aku yang akan menyimpannya," ucap Aleandro mengambil buku pernikahan karena dia tidak ingin wanita itu melanggar kontrak yang sudah ditandatangani olehnya.

"Ini kartu identitasku, tolong bantu simpan." Detta tahu ibunya pasti akan semakin membuatnya sengsara jika buku registrasi itu berada bersamanya, beberapa hari lalu ibunya terus meminta Detta untuk menikah dengan saudagar kaya yang dikenalkan oleh bibinya, lelaki tua itu ingin menikahi Detta dan berjanji akan memberikan mahar yang besar untuknya.

"Aku akan kembali ke perusahaan setelah ini apa yang kau lakukan?" Tanya Aleandro.

"Hari ini aku masuk kuliah," ujar Detta.

Aleandro meminta ponsel Detta untuk diisi nomornya, dia memang baru tahu nama wanita itu ketika pendaftaran pernikahan dan memang ini pertama kali mereka bersama.

"Baiklah kembali ke tempatku malam ini, beresi barang-barangmu di tempat tinggalmu sebelumnya." Aleandro tidak ingin menerima penolakan karena itulah dia langsung meninggalkan Detta dan bergegas kembali ke perusahaan.

***

Detta kembali ke kos-nya, hari ini dia memang memiliki janji dengan dosen untuk bimbingan, namun dosennya memintanya datang jam 1 karena itulah dia masih memiliki banyak waktu untuk membereskan barangnya untuk pindah ke tempat Aleandro.

"Detta tadi kamu kemana? Aku mencarimu tapi kamu bahkan tidak ada dimanapun." Liona masuk ke kamar Detta dan membawakan barang-barang wanita itu yang tidak sempat dia ambil karena ulah Aleandro.

"Aku harus kembali karena ada hal yang aku urus," ucap Detta sedikit gugup.

"Ini gaji yang bos berikan, aku juga gatau berapa isinya." Liona mengatakan itu karena memang amplop yang bosnya berikan masih direkatkan tanpa berani Liona bawa.

"Terimakasih Liona, nenekku sangat membutuhkan uang ini untuk operasi," ujar Detta.

Liona mengusap punggung Detta dengan perlahan, dia tahu nasib Detta sangat tidak beruntung, wanita itu banyak bekerja keras demi keluarganya bahkan selama ini dia selalu makan tak teratur demi menghemat pengeluarannya.

"Liona tunggu," ujar Detta menahan tangan Liona yang akan keluar dari kamarnya.

"Ada apa? Hari ini kamu ada bimbingan'kan?" Tanya Liona.

"Iya, aku cuma mau bilang. Aku sudah tidak akan kos disini lagi," ujar Detta.

"Kenapa? Kamu ga punya uang untuk membayarnya?" Tanya Liona yang tahu bahwa memang dua hari lagi waktunya bayar kos.

"Aku mendapatkan pekerjaan dan bisa tinggal di rumahnya, sepertinya ini lebih baik untuk mengurangi biaya hidup."

"Kamu bekerja sebaga art?" Tanya Liona.

"Pekerjaannya tidak berat kok, bersih-bersih dan memasak hal yang mudah bagiku. Setidaknya aku bisa menghemat uang kos dan uang makan," ucap Detta.

"Bagaimana kuliahmu? Kamu tinggal konsultasi bab 4 dan sebentar lagi juga selesai," ujar Liona yang menyayangkan jika bos Detta yang baru akan melarang pendidikannya.

"Kamu tenang saja, bos mendukung pendidikan dia tidak melarang aku berkuliah asalkan tau waktu dan aku juga harus menyelesaikan pekerjaanku dengan baik." Detta terpaksa berbohong pada Liona, dia hanya belum siap mengatakan kejujuran karena hal ini bagaikan aib untuknya, dia bahkan harus menjual keperawanannya demi mendapatkan uang.

"Kamu hati-hati di sana, kalau ada waktu kita ketemu lagi. Kamu pindah hari ini?" Tanya Liona.

"Iya aku pindah hari ini, setelah bertemu dosen aku akan pergi. Nanti aku akan mengirim pesan pada ibu kos tentang aku yang tidak melakukan perpanjangan," ujar Detta.

Liona mengangguk dia langsung pamit kembali ke kamarnya karena dia tidak ingin mengganggu Detta yang sedang membereskan barang-barangnya yang tidak banyak. Detta hampir 4 tahun di sini, namun barang-barangnya hanya sedikit bahkan barang-barangnya dia kemas dalam satu koper. Detta hanya memiliki baju sedikitt karena dia hampir tidak pernah membeli baju baru karena sangat membatasi pengeluarannya.

"Ya Tuhan lelah sekali," ucap Detta setelah membereskan kamar kosnya.

Wanita itu hanya membawa 1 koper dan tas ransel yang biasa dia gunakan untuk kuliah. Wanita itu melihat jam usang yang melingkar di tangannya, sudah jam 12 dan dia bergegas untuk mandi dan menuju kampus dengan berjalan kaki, walaupun lumayan lelah dia tidak memiliki pilihan lain karena tidak memiliki kendaraan apapun.

Wanita itu sudah bersiap dan rapi, dia kini teringat dengan amplop yang diberikan oleh Liona. Detta langsung membukanya, matanya terkejut dia melihat uang yang ada didalamnya.

"Kenapa sebanyak ini?" Tanya Detta tak percaya.

Wanita itu mengeluarkan semua uangnya dan mengambil note kecil yang berisi rincian gajinya malam itu. Gajinya memang tidak besar dia mendapatkan 650 ribu sebagai pelayan namun tips yang dia dapatkan sangat besar, bahkan total semuanya 3juta 500 ribu, bahkan seumur hidup dia tidak menyangka mendapatkan uang sebanyak ini dalam satu malam.

"Gila, tapi aku bersyukur setidaknya aku bisa mengirim sedikit uang untuk nenek dikampung." Detta bergegas berangkat lebih awal karena dia akan mampir ke atm untuk menyetor uang, setidaknya dia akan meminta ibunya untuk mengambil uang 2 juta terlebih dahulu karena Detta tidak ingin ibunya semakin serakah jika tahu Detta memiliki banyak uang.

"Mas Ghani dengan Tania? Jadi semuanya benar. Aku hanya sebagai mainan," ucap Detta pada dirinya sendiri. Detta mengucek matanya berkali kali berharap salah dalam melihat namun nyatanya semua itu memang benar. Ghani ternyata berangkat bersama dengan wanita lain, Detta tidak menyangka lelaki yang menyatakan cinta padanya ternyata hanya main-main saja.

Bab 3

Detta menyadarkan pikirannya, dia bergegas menuju ruang dosen untuk bertemu dengan dosen pembimbingnya, ketika menunggu lift Detta tidak menyangka jika dua orang yang dia hindari datang. Tania datang bersama dengan Ghani, bahkan wanita itu tidak segan untuk melingkarkan tangannya di lengan Ghani. Tania menatap Detta dengan pandangan puas, dia merasa senang karena Detta kini melihatnya bersama Ghani.

"Lantai berapa, Ta?" Tanya Ghani pada Detta karena dia yang paling dekat dengan tombol lift.

"Lantai 7," ujar Detta pada Ghani.

Wanita itu kini merasa tidak nyaman, dia hanya tidak ingin mendengar omongan Tania yang semakin membuat hatinya sakit. Sejak awal Detta juga tahu bahwa Ghani dan dirinya tidak mungkin akan bersama, sejak pernyataan cinta itu dia juga tidak berharap apapun, sejak awal dia sadar diri dan menganggap bahwa apa yang dikatakan oleh Ghani adalah omong kosong semata.

"Maaf ya, Mas Ghani kemarin hanya memenuhi hukuman pas main uno. Takutnya situ baper beneran," ujar Tania.

"Maaf sebelumnya, sejak awal saya juga nggak nganggep itu beneran." Detta merasa muak menghadapi kedua orang itu.

Ghani terlihat ingin berbicara pada Detta namun selalu dialihkan oleh Tania, Ghani hanya bisa terdiam dan merasa bersalah pada Detta yang terlihat kesal padanya. Ghani tidak bermaksud melakukan hal itu, Tania yang merancang semua ini dan Ghani merasa tidak nyaman karena menyakiti hati Detta.

"Maaf ya, Ta."

"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Mas. Lagian nggak ada yang salah," ujar Detta dia menunggu pintu lift yang sebentar lagi terbuka di lantai 7.

Detta hanya ingin segera keluar, dia sudah tidak sanggup lagi menghadapi dua orang yang membuatnya merasa muak.

"Jangan berharap ya, Mas Ghani milikku." Detta tidak menjawab ucapn Tania, dia langsung keluar dari lift setelah pintunya terbuka.

Tujuan Detta ke kampus adalah untuk bimbingan, dia tidak memiliki tenaga untuk menghadapi orang seperti mereka. Memikirkan kehidupannya yang rumit saja sudah menguras pikirannya, dia tidak memiliki waktu untuk mengurus Tania dan pacarnya.

"Maaf Bu Endang apakah sudah datang, Bu?" Tanya Detta pada salah satu dosen yang ada di ruangan.

"Bu Endang belum datang."

Detta hanya mengangguk tak lupa mengucapkan terima kasih, dia lalu kembali menunggu Bu Endang di depan ruang dosen. Banyak orang berlalu lalang dihadapannya, mereka mungkin memiliki tujuan yang sama namun bedanya mereka bersama temannya sedangkan dirinya hanya sendirian dan menunggu kedatangan dosen pembimbingnya.

Dua jam Detta menunggu, dirinya memberanikan diri untuk mengirim pesan pada Bu Endang untuk mengingatkan bahwa mereka memiliki janji untuk temu. Sebenarnya Bu Endang adalah pembimbim satu dan dia hanya butuh persetujuan Bu Endang karena dosen pembimbing dua sudah menyetujui skripsi dari Detta, bahkan Bu Ida sudah menyetujui bab 5 yang dia kerjakan.

Bu Endang memang sangat sibuk karena itulah Detta berusaha dengan keras untuk bertemu dengannya, dia sudah menunggu seminggu hingga akhirnya Bu Endang menyetujui pertemuan mereka.

Sampai pukul setengah 4 sore Detta masih belum mendapatkan jawaban, dia bahkan sudah menunggu 3 jam lebih namun Bu Endang tidak menjawab pesannya.

Detta kini berjalan dengan lemas, dia mungkin belum beruntung untuk bertemu Bu Endang hari ini padahal Detta sudah berharap dia ingin segera mengajukan sidang karena dia ingin lulus tepat waktu, beasiswanya sudah habis tahun ini dan mau tidak mau dia harus lulus tepat 4 tahun. Bagi Detta lulus tepat waktu sudah merupakan hal baik karena selama ini waktunya dia habiskan untuk bekerja dan belajar selama ini, dia tidak memiliki banyak waktu untun istirahat karena memperjuangkan pendidikan dan waktu kerjanya.

"Temui saya di gedung fikes." Detta terkejut dengan pesan yang dikirimkan oleh Bu Endang, tanpa membuang waktu dia langsung bergegas menuju gedung 4, rasanya dia sangat bersemangat dan berharap semoga tidak ada revisi yang sulit untuk dirinya agar bisa segera mengajukan sidang.

10 menit berjalan akhirnya Detta sampai di gedung fikes dengan terengah-engah, lokasinya lumayan jauh dan Detta sudah berusaha sebaik mungkin agar Bu Endang tidak pergi sebelum menemui dirinya.

"Bu, saya kira tidak bisa bertemu lagi."

"Maaf Detta, saya lupa jika ada janji denganmu." Detta mengangguk dia lalu memberikan skripsinya, dia sadar bahwa Bu Endang sangat sibuk sebagai dosen, dirinya juga sering pergi keluar kota dia sebagai mahasiswa yang membutuhkan Bu Endang harus memaklumi semua kesibukannya.

"Saya setujui untuk mengajukan sidang, Bu Ida sudah setuju juga kan?" Tanya Bu Endang.

Detta mengangguk, dia menunjukkan tanda tangan dari bu Ida yang mengatakan bahwa Bu Ida setuju jika dirinya mengajukan sidang.

"Segera ajukan sidang agar tidak melewati semester 8 ini, maaf jika saya susah ditemui."

Detta mengangguk dia berterima kasih atas kebaikan Bu Endang, akhirnya Detta bisa tenang kini dia langsung kembali ke kosnya dia sudah mengirimkan pesan pada admin di fakultasnya untuk bertanya apa saja yang dibutuhkan oleh mahasiswa untuk mengajukan sidang akhir.

"Terima kasih Tuhan, akhirnya aku bisa ngajuin sidang." Detta tersenyum lebar, dia merasa sangat bangga dengan pencapaiannya selama ini. Detta bekerja keras dan berjuang untuk hidupnya, walau kehidupannya terasa menyedihkan setidaknya ada hal yang bisa dia banggakan.

***

Detta sudah bersiap dan kini dia menuju ke apartemen Aleandro dengan taksi online, awalnya dia merasa sayang dengan uangnya namun dia tidak punya pilihan lain karena barang bawaannya lumayan merepotkan jika harus menggunakan motor.

"Apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya Satpam pada Detta ketika dirinya sudah sampi di apartemen.

"Saya orang yang bekerja di apartemen lantai paling atas," ujar Detta.

Satpam kini paham dirinya lalu mempersilahkan Detta masuk karena lantai teratas adalah kekuasaan Aleandro, mereka sudah tahu jika tidak boleh mencari masalah dengan orang kaya raya di negara ini.

"Capek banget ya Tuhan," ujar Detta.

Detta sudah sampi di dalam apartemen, dia pikir Aleandro belum datang namun ternyata pikirannya salah karena ketika dirinya berjalan menuju ruang tamu kini Aleandro menghampirinya dengan baju tidurnya.

"Kenapa baru datang?" Tanya Aleandro ketika melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul delapan.

"Maaf, tadi pulang dari kampus udah jam setengah 5 an terus siap-siap kesini malah kejebak macet," ujar Detta jujur.

"Sudah makan?" Pertanyaan Aleandro membuat Detta tertegun.

"Jangan baper, aku hanya ingin kamu sehat agar segera bisa hamil anakku." Detta mengangguk, sejak awal memang dia tidak boleh terbawa perasaan, walaupun memang dia merasa terharu karena baru kali ini ada yang memperhatikannya, namun dia juga harus menjaga sikap dan menepati semua aturan yang ada.

"Aku mengerti, aku akan membersihkan diriku lalu makan malam." Aleandro mengangguk dia lalu kembali ke kamarnya setelah memberitahu kamar Detta.

Wanita itu kini masuk ke dalam kamarnya, walau tidak sebesar kamar Aleandro namun bagi Detta kamar ini sangat bagus dan besar baginya. Selama ini Detta tidak pernah memiliki kamar sebagus ini, rasanya dia merasa sangat nyaman bahkan setelah dia menata semua barang dan menyimpan kopernya ruangan ini tetap luas, memang berbeda jika dirinya hidup dalam kesenangan orang kaya seperti Aleandro ini.

"Wah memang gila, bahkan aku tidak pernah membayangkan bisa tinggal ditempat seperti ini." Detta bergegas membersihkan diri dia tidak ingin terlalu lama mengagumi semuanya karena dia sadar bahwa apa yang dia rasakan saat ini hanya sementara.

Detta akhirnya menuju ruang makan, dia melihat begitu banyak menu yang tersedia dan Detta kini sadar bahwa suami kontraknya memang sungguh menyiapkan semua hal terbaik demi agar bisa mendapatkan keturunan dengan segera.

"Banyak makan-makanan yang bergizi, mulai sekarang jangan makan sembarangan." Aleandro yang tiba-tiba muncul membuat Detta terkejut, hampir saja dia mati tersedak jika Aleandro tidak membantunya.

Lelaki itu menatap Detta dengan diam, dia memang salah karena membuat Detta terkejut namun sejak awal dia bahkan berjalan seperti biasanya jika salah itu merupakan kesalahan Detta yang tidak sadar dirinya sudah melihat wanita itu makan beberapa waktu.

"Besok apakah kau akan pergi?" Tanya Aleandro.

"Tadi skripsiku di acc dosen, besok rencananya ke kantor fakultas ketemu admin mau tanya syarat ngajuin sidang, jujur saja aku nggak mau nambah semester." Detta hanya tidak ingin menguarkan banyak uang karena banyak hal yang dia butuhkan demi kesembuhan neneknya.

"Ya sudah hati-hati, sopir yang akan mengantar dan menjemputmu. Ini kartu bank mu, aku sudah mengisi 100 juta di sana," ujar Aleandro.

"Kebanyakan," ujar Detta tidak ingin memiliki resiko besar.

"Sudahlah, lagi pula kamu hanya perlu menggunakannya anggap saja uang nafkah." Aleandro pergi meninggalkan Detta setelah mengatakan hal itu, Detta merasa berdebar ini dia tidak menyangka bahwa akun bank miliknya di isi saldo 100 juta oleh Aleandro yang bahkan tidak lama dia kenal.

Detta sudah selesai makan dia langsung membawa sisa makanan dan piring yang kotor ke tempat cuci, wanita itu mulai kembali menatap menu yang masih banyak, Detta sayang dengan makanan itu karena dia tahu mencari uang tidaklah mudah bahkan dia sering hanya makan nasi saja untuk menghemat uanganya.

Detta tersenyum, dia lalu menaruh makanan sisa di kulkas setelah itu kembali ke kamar untuk istirahat, dibalik semua itu Aleandro diam-diam memperhatikan apa yang Detta lakukan, dia hanya tidak menyangk jika Detta akan menyimpan makanan sisa padahal dia bisa membeli lagi.

"Malang kali nasib anak ini," ucap Aleandro dalam hatinya lalu kembali ke kamarnya sendiri, mereka memang pisah kamar karena bagaimanapun Aleandro tahu mereka tidak sedekat itu untuk tidur bersama kecuali memang waktunya mereka untuk persiapan memiliki keturunan.

***

Pukul enam pagi Aleandro terbangun dari tidurnya karena mencium bau makanan, lelaki itu langsung menuju ke toilet untuk membasuh wajahnya setelah itu bergegas ke dapur melihat apa yang wanita itu lakukan di sana.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Aleandro.

Detta agak terkejut, dia takut jika Aleandro marah kepadanya terlebih dia menggunakan bahan-bahan yang ada di kulkasnya.

"Kalau aku yang masak nggak papa kah? Aku nggak enak tinggal dengan cuma-cuma," ujar Detta.

"Terserah, lakukan sesukamu." Aleandro lalu kembali ke kamar untuk bersiap mandi karena memang hari ini dia akan rapat di pagi hari.

Aleandro memang membebaskan wanita itu, karena dia harus menjaga mood wanita itu agar nantinya bisa segera memiliki momongan dengannya. Tak lama kemudian dia sudah siap dengan pakaian kerjanya, Aleandro lalu duduk di kursi makan dan Detta menyiapkan segalanya. Sejak awal Detta sendiri bukan menganggap dirinya sebagai istri namun dia adalah pekerja di rumah Aleandro.

"Enak juga, kau boleh masak jika ingin. Kalau capek ga usah masak, aku akan memesan makanan dari luar," ujar Aleandro.

"Aku aja yang masak, asal ada bahan makanan aku akan memasak." Detta mengatakan itu dengan senyuman ceria di wajahnya.

Aleandro memberika satu kartu baru untuk Detta, dia memberikan ini untuk membeli keperluam rumah dan lain-lain.

"Ini untuk apa? Kemarin udah," ujar Detta.

"Uang kemarin kau simpan saja, ini khusus untuk belanja. Kau jangan lelah bersihkan apartemen karena 2 hari sekali akan ada orang yang datang bersihkan, kau cukup masak saja."

Detta mengangguk dia tidak ingin membuat Aleandro kesal, setidaknya dia merasa senang karena diijinkan Aleandro untuk memasak, dia merasa senang karena ada hal yang bisa dia lakukan disini.

"Aku sudah selesai, aku sudah mengirimkan nomor sopir. Pergi dengan dia."

"Tapi aku nggak biasa, aku-"

"Aku tidak menerima penolakan, lakukan apa yang aku katakan." Aleandro lalu berdiri setelah menyelesaikan sarapannya, dia pamit akan berangkat kerja sekarang.

Detta kini merasa aneh dengan sikap Aleandro, terkadang lelaki itu dingin namun Detta merasa di balik sikapnya itu ada sedikit rasa baik bahkan Aleandro tidak melarang Detta melakukan apa yang dia inginkan.

"Aku harap kamu tidak akan membuatku merasa kehilangan ketika sudah tidak dibutuhkan."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED