"Hanya sampai kau memiliki anak, Jihan. Itu tidak akan lama. Satu tahun lagi kau akan kembali lagi ke sini."
Satu tahun. Itu akan menjadi waktu yang sangat panjang. Bagaimana mereka katakan itu takkan lama? Kupandangi wajak Mak Tuah dan Tek Ida bergantian, sudah nyaris satu bulan ini mereka membujukku.
"Aku ...."
"Dengar, orang itu akan datang esok pagi. Kau harus bersiap. Mamak tidak ingin kau membantah."
"Hanya satu tahun, lalu semua akan baik-baik saja." Tek Ida mengusap rambutku perlahan, kepura-puraan begitu kentara ketika tangan itu menyentuh rambutku.
"Untuk apa uang seratus juta itu?" Aku menatap hampa ke luar jendela rumah, yang menampilkan pesona alam nan memukau.
"Untuk menebus semua harta yang telah tergadai akibat membesarkanmu." Suara Tek Ida berubah ketus. Benar, wanita paruh baya yang terpaksa merawatku dari kecil ini sangat pandai berpura-pura.
Harta, entah harta yang mana yang telah kuhabiskan. Bisa dikatakan aku besar dari belas kasihan orang. Selalu saja ada orang yang datang tiap minggu, entah itu mengantar beras atau kebutuhan lainnya, dan kini mereka mengkambing hitamkanku atas semua harta yang tergadai.
"Aku akan bekerja, akan kubayar uang Mamak dan Etek yang sudah terpakai olehku, tapi bukan cara seperti ini."
"Jangan bertingkah, Jihan! Apa pekerjaan yang akan kau dapatkan, kau hanya menamatkan SMP! Bekerja di mana, menjual diri!" gertakan Mila membuatku semakin beku, aku sudah sangat biasa dengan suara keras dan makiannya. Anak sulung Mak Tuah ini, lebih tega dari siapapun di rumah ini.
"Aku akan bekerja," desisku menggigit bibir, memutar otak mencari pekerjaan apa saja.
"Sudah, tidak ada pertengkaran atau penolakan lagi. Besok orang itu akan datang. Kau harus bersiap!"
Aku memejamkan mata, memeluk lutut erat, suara Mak Tuah adalah final. Terdengar langkah kaki meninggalkan kamarku lalu pintu yang ditutup keras.
Air mataku jatuh, tidak menyesal. Aku tidak pernah menyesali apa pun. Bagiku semua yang terjadi adalah jalan takdir yang telah tertulis. Hanya saja kadang aku tak bisa menahan sesuatu yang pedih di dalam dada, menyesakkan. Hingga aku harus meneteskan air mata.
Baiklah, kuceritakan awal ide buruk ini menghampiri Mak Tuah. Beberapa minggu lalu, seorang laki-laki bertubuh subur datang ke rumah, dan menawarkan sesuatu yang sangat buruk pada Mak Tuah.
Aku tidak terlalu terkejut kenapa Mak Tuah langsung menawarkanku. Dari dulu, semenjak Ibu meninggal dia selalu mencari celah untuk mencampakkanku. Namun, tidak berhasil. Aku cukup diperhatikan di kampung ini, anak yatim yang malang. Sehingga Mak Tuah tak pernah berhasil dengan semua rencana jahatnya.
Tetapi kali ini rencana mereka untuk menyingkirkan akan terlaksana. Beliau akan mengumumkan bahwa aku akan bekerja di kota. Lalu aku menghilang, entah sampai kapan.
Aku tidak punya seseorang untuk berbagi, aku memang tidak suka bercerita pada siapapun. Jadi, kali ini mereka akan berhasil.
Aku tidak bisa membayangkan seperti apa orang itu. Apakah sudah tua atau cacat? Sehingga harus mencari wanita lugu di perkampungan untuk melahirkan anaknya.
Tetapi siapapun, mungkin kami bisa berteman. Mengingat melahirkan seorang anak berarti harus menikah dulu, dan aku akan menikah dengan orang asing.
Di usia delapan belas tahun, aku belum pernah menjalin hubungan dengan laki-laki manapun. Apa lagi membayangkan menikah. Almarhum Ibu pernah memberi petuah tentang pernikahan saat itu aku berumur enam tahun, beberapa bulan sebelum dia meninggal, tentang tanggung jawab besar menjadi seorang istri. Dan itu tidaklah mudah.
Aku menenggadahkan kepala, menatap langit-langit kamar. Benarkah malam ini malam terakhir aku di sini? Benarkah waktu itu hanya satu tahun dan semua akan selesai?
Azan magrib berkumandang dari masjid dekat rumah, aku bergegas menutup jendela kamar. Melangkah ke kamar mandi dan berwudhu. Satu-satunya tempat pulang adalah padaNya. Hanya padaNya aku menceritakan semua.
Setelah memakai mukena aku kembali mengintip di celah jendela. Memperhatikan teman-teman sebaya shalat berjamaah di masjid. Aku rindu ingin ke sana juga, tapi tidak boleh. Mak Tuah melarang, mungkin beliau takut aku memiliki teman. Seperti dicerita-cerita dongeng, aku tidak pernah membantah Mak Tuah. Entahlah, aku memang tak menyukai pertentangan.
Selesai shalat dan bermunajat, aku ke luar kamar. Menuju meja makan, menikmati makanan sisa yang telah disediakan. Aku tak pernah diizinkan makan satu meja dengan keluarga Mak Tuah, kecuali jika ada tamu. Ya, Mak Tuah selalu kelihatan menyayangiku di depan orang-orang, meskipun itu tidak tapi aku tak berniat menceritakan cerita sedih ini pada siapapun.
Selesai makan aku membereskan piring dan langsung mencucinya. Lalu melangkah ke ruang keluarga. Pemandangan seperti biasa terlihat, keluarga bahagia. Lengkap, sepasang anak yang sudah hampir menginjak dewasa, dengan orang tua yang begitu menyayangi. Hanya ini yang membuatku iri. Hanya ini yang mampu mengusik keikhlasan betapa cepatnya Ayah dan Ibu dipanggil yang maha kuasa.
"Ada apa, tidur sana!" Mila yang pertama menyadari kehadiranku dia menatap sinis.
"Ingin gabung? Susul ayah dan ibumu ke dalam kubur," potong Rudi terbahak.
Aku menelan ludah yang terasa pahit. Aku mengerjapkan mata, berusaha mengusir kabut yang hendak mengalami pandangan. Kalau saja bunuh diri itu sah dalam agama, sudah kususul Ayah dan Ibj jauh-jauh hari.
"Kapan orang itu akan menikahiku, Mak?" Suaraku yang serang terdengar nyaring, membuat semua orang itu menatap ke arahku dengan keterkejutan yang nyata. Kemudian tawa mengejek Mila dan Rudi memenuhi ruangan keluarga.
"Nikah? Mimpi!" Rudi memegangi perutnya dan terus tertawa.
"Tidak akan ada pernikahan, Jihan." Suara Mak Tuah menghentikan tawa Mila dan Rudi. Mak Tuah menatap ke arahku tajam.
"Tapi ...."
"Orang itu hanya membutuhkan anak, bukan istri. Kau mengerti maksudku?"
Aku menggeleng, bagaimana memiliki anak tanpa menikah. Astaga, apakah orang itu akan mengajakku berzina? Bisa kurasakan darah surut dari wajahku, menggelengkan kepala cepat. Aku takkan memasuki lobang dosa itu.
"Ya, kau akan melahirkan anaknya tanpa menikah. Tidak akan ada orang yang tahu ...."
"Tuhan tahu, Mak! Tuhan tahu segalanya! Aku takkan melakukan dosa itu!" jeritku.
Ayah dan Ibu akan masuk neraka karena dosaku. Mereka berdua akan menyesal memiliki anak sepertiku. Jadi, aku takkan melakukan itu, tidak tanpa pernikahan.
"Kamu jangan aneh-aneh, Jihan. Mana ada orang kota kaya raya yang mau menikahi wanita kampung sepertimu. Meskipun dia bandot tua itu takkan terjadi. Sudahlah terima saja takdirmu," tekan Tek Ida.
"Aku tidak akan berzina untuk memberikan siapapun anak," geramku memutar tubuh dan melangkah masuk kamar. Rasanya tenaga tercabut habis dari ragaku, kenapa kenyataan begitu semengerikan ini?
"Jangan coba-coba bertingkah, atau aku akan kujual kau ke rumah kuning kampung sebelah!" Tek Ida menyentakkan tanganku hingga kembali menghadap padanya. Mataku membulat tak percaya dengan apa yang dia katakan. Rumah kuning adalah tempat wanita yang menjajakan dirinya secara diam-diam. Penghuninya rata-rata janda genit. Tidak tersentuh hukum, kabarnya rumah itu milik seseorang yang berpengaruh.
"Etek takkan berani," tantangku.
"Jangan mengujiku, akan kuantar kau ke sana malam ini." Lalu tangannya menyeretku.
"Lepaskan!"
"Jangan membantahku, Ayo, Pak. Kita antar saja dia ke rumah kuning itu!" Tek Ida berseru pada Mak Tuah dengan terus menyeretku ke luar.
"Tidak! Tidak!" Aku mencoba melepaskan diri ketika dipaksa naik mobil Avanza yang baru saja dibeli Mak Tuah dari hasil penjualan tanah tapi tak berhasil.
Tak berapa lama kemudian mobil sudah meluncur melewati jalan desa. Dari kejauhan rumah kuning itu sudah jelas, lampu temaram terasnya membuatku merinding. Tel Ida tak main-main, dia ingin menjualku. Ke mana semua orang malam ini, kenapa tak ada yang melihatku. Ya Allah ....
"Baik, baik! Aku akan memberikan anak pada orang itu, bawa aku pulang!"
Air mataku tumpah bak hujan, tubuhku menggigil, ketika Mak Tuah ke luar dan tertawa pada seorang laki-laki berjenggot dan berkali menoleh ke arahku.
"Aku akan menuruti perintah, Etek. Bawa aku dari sini," bisikku mencoba menahan tangis. Semenjak Ibu tiada aku belum merasa seterancam ini.
"Bagus, kalau sampai kau bertingkah lagi. Kau tahu akan berakhir di mana." Lalu Tek Eda mengibaskan tangan ke arah Mak Tuah. Mak Tuah memasuki mobil dan menghidupkan mesinnya, membalas seringain laki-laki berjenggot itu dan menjalankan mobil.
Aku melangkah terhuyung masuk kamar. Memijit kepala yang sakit. Sementara di belakang bisik-bisik kepuasan bergema, cekikikan seakan baru saja memenangkan sebuah pertempuran.
Ya, mereka akan mendapatkan seratus juta dari orang itu esok atau bahkan lebih. Mereka akan bahagia, tapi bagaimana dengan nasibku?
Kututup pintu kamar erat, istighfar berkali-kali. Segera berwudhu dan shalat isya. Memohon ampunan dan petunjuk, entah apa yang akan kulakukan esok.
Malam menua, mataku masih terjaga. Pikiranku berkelana jauh. Kalau saja Ibu masih hidup, aku takkan semalang ini. Beliau akan melindungiku. Beliau takkan menjualku.
Siapapun, semoga orang itu baik. Bisa diajak kompromi. Bisa jadi teman. Semoga dia mau menikahiku. Tak apa kalau dia tua atau cacat, aku akan ikhlas menerimanya.
****RahmiNovaliza****
Seusai subuh aku kembali bergelung di bawah selimut. Tek Eda takkan membangunkanku, dia takkan membuat kelelahan tergambar di wajahku sampai orang itu datang. Akan kunikmati tidur di bawah selimut usang ini. Satu satunya peninggalan Ibu yang masih kumiliki.
Suasana berubah, aku terkesiap menyadari sedang di mana. Ini rumahku dulu. Tempat Ibu membuat gorengan, untuk kami jual ke liling kampung. Tempat Ibu mengajariku mengaji ketika malam tiba, mengajari bacaan shalat serta doa-doa lainya.
Sekarang aku melihat Ibu sedang shalat. Rumah ini masih sama. Seperti tak tersentuh waktu. Ibu menoleh, shalatnya sudah selesai. Dia menatap ke arahku, matanya basah.
"Ibu." Suaraku serak, aku mendekat kemudian bersimpuh meletakkan kepala di pangkuannya.
"Apakah, Ibu kembali?"
Tak ada jawaban, hanya elusan penuh kasih sayang yang menyentuh kepalaku.
"Aku merindukan, Ibu."
Ibu masih tak bersuara, kurasakan usapan lembut di kepala mulai berkurang lalu udara dingin mengambil alih.
"Ibu?" Aku mengangkat kepala, Ibu menghilang. Kupandangi sekeliling, hening.
"Ibu!"
"Jihan!"
Ketukan pintu bertubi dan teriakan membuatku terbangun, ternyata mimpi. Ibu datang. Aku tertegun, mata Ibu basah, mungkin saat ini beliau sedang menangis menyaksikan takdir hidupku.
"Aku akan baik-baik saja, Ibu," bisikku sendu. Menghapus sisa air mata di pipi lalu bangkit dan membukakan pintu.
Tek Eda menatap cemas tapi kuabaikan. Mungkin dia takut aku akan bunuh diri. Takut uang jutaan takkan pernah jadi miliknya.
"Kenapa lama sekali buka pintunya?" tanyanya menerobos masuk kamarku.
"Aku ketiduran," ucapku acuh kembali hendak merebahkan diri.
"Sudah jam sembilan, segerahlah mandi. Orang itu akan segera sampai. Pakailah baju terbaikmu," titahnya kemudian.
"Baik." Aku berdiri melangkah ke kamar mandi. Menuruti semua kehendak Tek Eda itu lebih baik. Lagi pula aku sudah lelah bertengkar.
Aku selesai dengan pakaian terbaik, celana hitam jins panjang, baju kaus lengan panjang warna abu-abu dan jilbab warna senada. Ini pakaian terbaik, entah pemberian siapa yang pasti masih bagus dan layak pakai.
Aku melangkah pelan dengan ransel bertengger di punggung, rasa takut yang teramat sangat menguasai. Keringat dingin mulai merayap di kening, ketika kakiku sudah mencapai ruang tamu.
Mataku langsung tertuju pada sepasang mata biru yang tajam dan tenang. Menatap ke arahku dengan menusuk. Dia tampan, aku belum pernah melihat orang yang seperti ini, kecuali di film-film. Style dan penampilannya begitu menegaskan siapa dirinya yang sesungguhnya. Dia sendirian. Siapa dia? Sedang apa dia di sini?
Mataku berpindah pada Mak Tuah dan Tek Eda, juga Mila yang tak bisa menyembunyikan keterpesonaannya.
"Ini dia, ini Jihan." Mak Tuah tiba-tiba berdiri di samping dan memegangi bahuku, membuat mata biru itu kembali menatapku.
"Siapa dia?" gumamku menundukkan kepala.
"Dia ...."
"Aku Salim. Aku yang akan membayarmu seratus juta." Dia berdiri dan aku harus menenggadahkan kepala menatap mata itu. Mata arogan seseorang yang kini menatapku dengan cara meremehkan.
"Sebenarnya sangat mengecewakan, harusnya kubayar separuh saja," dengkusnya membuang pandangan membuat. Mak Tuah dan Tek Eda menundukkan kepala.
"Dia masih perawan, Pak." Mak Tuah mengucapkan kata itu tanpa rasa malu, dia benar-benar menjual kesucianku.
"Itu tidak penting sebenarnya. Tapi ya sudahlah, semua sudah terlanjur."
Orang itu nampak menyesal, memangnya apa yang dia harapkan dari wanita kampung? Apakah dia bermimpi akan menemukan seorang artis di kampung ini?
Aku tidak percaya, pemuda seperti dia mencari wanita kampung untuk melahirkan anaknya?
Aku masih membeku, berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Ruang tamu ini seperti tempat persidangan. Begitu tegang. Pemuda ini memakai kaca mata hitamnya dan menghubungi seseorang.
"Bawa uangnya aku tak tahan berlama-lama di sini."
Tak berapa lama beberapa orang berpakaian resmi masuk rumah. Membawa sebuah koper dan meletakkannya di atas meja.
"Bawa wanita itu," perintahnya dua orang laki-laki berbadan tegap mendekati dan hendak menarik tanganku.
"Jangan sentuh, aku bisa berjalan sendiri."
Aku melangkah setelah memakai sepatu kets usang yang terletak di atas rak sepatu di beranda rumah. Sebelum memasuki mobil itu, aku menoleh ke belakang. Pintu rumah sudah tertutup rapat, hatiku nyeri. Mungkin mereka sudah berpesta dengan uang itu.
Dengan menghela napas aku duduk di sebelah pemuda yang bernama Salim ini. Sejenak kulirik dia sibuk dengan ponselnya.
"Cepat saja," perintahnya pada sopir, lalu mobil melaju meninggalkan desa. Beberapa kali aku menoleh ke belakang, beberapa kali aku merasa Ibu memanggil.
Aku menghapus cepat air mata yang hendak jatuh. Sekali dua kali dan berkali-kali. Kupeluk erat ransel, sesekali membenamkan wajahku di sana. Saat ini aku sedih sekali, aku tak ingin meninggalkan desa.
"Siapa yang kau tangisi?" Aku tidak menoleh, meski cukup terkejut dengan pertanyaan itu. Bisa kurasakan nada di sinis di suara itu.
"Mereka bahkan tak peduli padamu,"lanjutnya merebahkan diri di jok mobil.
"Ya."
Aku tak punya jawaban lain. Mereka memang tak peduli, ini kenyataan yang begitu, menyedihkan.
"Jadi, berhentilah menangis!" perintahnya.
"Aku sedang berusaha untuk tidak menangis, Pak." Kututup wajah dengan telapak tangan berusaha kuat meredam isak.
Lama, isakku belum juga reda. Mobil melaju kencang entah sudah sampai di mana. Entah di mana tempat ini, aku tak lagi mengenalinya.
"Berhentilah menangis, gadis kampung! Kau menggangguku!" Bentakannya membuatku menoleh sekaligus mengundang kemarahan yang terduga dalam diriku. Aku menatapnya kesal.
"Aku juga sedang berjuang, Laki-laki kasar!"
"Jangan berteriak, aku takkan segan melemparmu ke luar," geramnya menatapku tajam, tapi aku sedang tidak takut pada siapapun.
"Coba bayangkan kalau Anda berada di posisiku ...."
"Maka aku akan bunuh diri," tukasnya tajam.
"Maka Anda akan menjadi lebih merugi," ucapku pelan. Ya, tidak ada serugi orang yang mengakhiri hidupnya sendiri. Tidak ada pengampunan. Beruntung aku memahami sedikit ilmu agama sehingga tak ada pemikiran itu singgah di kepalaku.
"Entah kerugian seperti apa yang kau maksud, tapi dari yang kulihat kau seperti benalu di kehidupan mereka."
Itu benar, dia benar. Bagi keluarga Mak Tuah aku hanya benalu, tak peduli sekeras apa aku berusaha bersikap baik.
"Jujur saja, entah seperti apa anakku nanti kalau lahir dari rahim wanita sepertimu. Kau benar-benar di luar ekspektasiku."
"Memangnya apa yang Anda harapkan dari wanita kampung, Pak? Cinderella? Percayalah itu hanya ada dalam dongeng. Anda pulangkan saja aku."
"Pulang? Bagaimana dengan seratus jutaku? Sekarang ini aku merasa yakin keluarga rakusmu itu sedang menikmati uang itu, apa mereka akan mau mengembalikannya lagi?"
Aku menghela napas, pusing melanda. Mobil ini terlalu kencang, dan bau yang menguar membuat perutku menggeliat. Salim benar, Mak Tuah akan membunuhku jika dikembalikan saat ini.
"Tapi semua layak dicoba, kalau kau tidak pantas maka kau akan jadi pelayan di rumah besarku."
Aku menoleh cepat memastikan apa yang kudengar benar. Tetapi wajah itu tak menggambarkan apa pun. Kelihatan tenang dan penuh rahasia. Tampan dan berkharisma. Wajar bila dia kasar dan sombong, aku rasa itu memang pantas dengan kelasnya. Dan aku memang cocok jadi, pelayannya.
"Aku bersedia jadi pelayan di rumah Anda, Pak. Aku terbiasa melakukan pekerjaan rumah ...."
"Cukup, Pembicaraan kita berakhir. Dasar mental pelayan!"
Aku memeluk ransel, menggigit bibir rasanya sejak memasuki mobil ini aku terasa lebih berani. Padahal orang ini sepenuhnya asing, tapi aku tak merasa begitu.
Aku menahan diri untuk bertanya kenapa dia mencari orang kampung untuk mengandung anaknya. Mungkin nanti saja, setelah waktunya tepat. Aku ingin lihat ke mana dia akan membawaku.
Perjalanan panjang tanpa pembicaraan. Dua jam perjalanan dalam mobil, tiga jam naik pesawat yang membuat nervous dan kembali naik mobil dua jam. Aku pusing, benar-benar pusing.
Aku sampai di kota asing, gedung-gedung mencakar langit hingga pusat perbelanjaan. Kalau sampai aku tersesat di sini, aku benar-benar akan mati ketakutan.
Aku memejamkan mata bersandar ke jok mobil. Nyaliku menciut membayangkan apa yang akan kuhadapi, entah takdir apa yang menungguku di kota ini.
Malam sudah turun ketika mobil mewah ini memasuki sebuah rumah besar. Aku memeluk ransel erat. Apa yang akan terjadi dalam rumah ini? Kalau sesuatu yang buruk terjadi, kalau si bapak arogan ini jahat aku takkan mampu melarikan diri.
"Ayo."
Dia turun lebih dulu meninggalkanku dalam kebingungan sampai Pak Supir membukakan pintu dengan senyum ramahnya.
"Terima kasih, Pak."
Aku melangkah takut-takut di belakang Pak Arogan yang berjalan tegap, semua orang menunduk melihat kedatangannya.
Sayup suara azan menyadarkan kelalaianku. Seharian ini aku melupakan kewajibanku pada Tuhan.
Allah, ampuni aku.
"Maaf, Pak. Aku ingin numpang shalat."
Semua mata tertuju padaku, menatap heran.
"Bi Asih, tolong rawat dia. Penuhi segala kebutuhannya. Ajarkan dia bagaimana caranya menjadi wanitaku. Satu bulan lagi aku akan datang menjemputnya."
"Baik, Pak."
Wanita paruh baya yang dipanggil Bik Asih tersenyum ke arahku. Aku membalasnya canggung.
"Semoga kau bukanlah Upik Abu yang kekal."
Pak Arogan berbisik kemudian berlalu meninggalkanku. Dia membawa mobilnya sendiri tanpa supir, menatapku dengan ejekan yang nyata.
"Ayo, Nona. Kau ingin shalat?" Bi Asih mendekat, aku menyalaminya.
"Jihan, Bi. Namaku Jihan."
"Ya, Nona Jihan. Ayo ikut aku."
Bi Asih membawaku ke lantai dua, memasuki salah satu kamar yang ada di sana. Aku terkejut melihat kamar ini, luas dan sangat mewah. Ini tak pernah ada di bayanganku sebelumnya.
Tempat tidur yang sangat luas, ada televisi, meja rias, lemari pakaian dan ada balkonnya. Selama ini aku hanya melihat semua ini di film ketika aku mengintip dari dapur ke ruang keluarga Mak Tuah.
"Ini akan jadi kamarmu," ucap Bi Asih tersenyum menyadari kekagumanku.
"Aku rasa ini terlalu berlebihan," ucapku.
"Tidak. Ini memang seharusnya. Kau akan di sini sampai satu bulan berlalu."
"Setelahnya?"
"Tergantung pada keputusan Pak Salim."
Benar, dia mengatakannya tadi entah aku akan jadi pelayan atau wanita yang akan mengandung anaknya.
Bi Asih menunjukkan kamar mandi, dan lagi-lagi aku tercengang. Luas dan mewah. Bi Asih mengajarkanku cara memakai alat-alat di kamar mandi ini, mulai dari shower, but up, cara mengatur suhu air. Bagaimanapun ini membuatku senang, mencoba-coba sesuatu yang baru dan mewah serta jadi pemilik sementaranya.
Bi Asih meninggalkanku yang hendak membersihkan diri. Dengan canggung akhirnya aku selesai juga. Memakai pakaian harian yang kubawa dari kampung lalu shalat.
Alhamdulillah, senang rasanya setelah berkeluh kesah pada yang maha kuasa. Bukankah mensyukuri semuanya lebih baik, dari pada terpuruk oleh keadaan dan putus asa.
Hari-hari berlalu dengan sangat baik. Bi Asih mengajariku banyak hal, bagaimana wanita moderen tanpa merusak akidah. Aku juga dibelikan ponsel pintar, yang membuatku bisa berselancar ke dunia maya. Ini sedikit menyenangkan, aku bisa mencari informasi apa saja yang ingin kuketahui. Bi Asih juga membelikanku beberapa potong pakaian, aku sedikit lega memili lebih dari cukup pakaian ganti.
"Pak Salim akan senang dengan keadaanmu sekarang, Nona. Sangat berbeda jauh dari saat pertama datang ke sini. Nona sudah tahu semua tentang rumah ini ...."
"Panggil Jihan, Bi. Bukan Nona. Ada yang belum Bibi ajarkan padaku."
Aku sudah mengingatkannya berkali-kali tentang panggilan ini, tapi sepertinya Bi Asih keras kepala.
"Apa?"
Aku tersenyum melihat wajah bingung Bi Asih. Entah kenapa aku merasa dekat dengannya. Dia shalat dan mengaji, aku merasa tak sendirian di sini. Rumah ini memiliki banyak pelayan, hanya Bi Asih yang lebih ramah padaku.
"Bibi belum mengajariku cara menggunakan dapur mewah itu, dan cara mennggunakan mesin cuci."
Ini hal yang sangat ingin kucoba ketimbang yang lainnya. Aku lebih berharap jadi pelayan di sini.
"Anda tidak dibawa ke sini untuk jadi pelayan, Nona."
Setengah mati akhirnya aku berhasil membujuk Bi Asih untuk mengajarkan memakai dapur yang menurutku super wow. Juga mesin cuci, tidak terlalu sulit. Aku langsung bisa dengan sekali arahan dari Bi Asih.
Hari kembali berlalu, begitu cepat rasanya. Aku nyaris lupa dengan tujuan utama kenapa aku di sini. Kalau saja Bi Asih tak mengingatkan maka aku akan lupa menyiapkan mental untuk bertemu Tuan Arogan itu esok. Dia akan datang, untuk menentukan aku cocok jadi pelayan atau sebagai wanita yang melahirkan anaknya.
"Besok Pak Salim akan datang dengan Marisa," ucap Bi Asih ketika malam ini kami baru saja selesai membaca Alqur, an bersama.
"Siapa Marisa?" Spontan aku bertanya dengan mendekatkan mushaf di kening seperti yang biasa kulakukan.
"Kekasihnya."