Bab 1

“Akh! Lepas! Sakit, tolong lepas!” bentak Zevanya mencoba melepas cengkraman dileher dari pria paruh baya yang makin terasa erat.

“Makin kamu berontak, makin erat cengkramanku ini!” terasa hembusan napas penuh nafsu dari pria tua Bangka itu.

“A-Ayah, Ibu, akh, tolong!” tangannya terulur mencoba meraih kaki Ayah dan Ibunya yang saat ini pun terkungkung oleh anak buah dari pria tua bangka yang sedang mencekiknya saat ini.

“Kalau kamu tidak sanggup membayar hutangmu, anak gadismu ini akan kunikahi!” ancam pria tua lintah darat dengan bringas.

Zevanya gadis cantik bermata coklat tua itu menangis dengan menahan sakit. Rupanya Ayahnya terlilit hutang. Memang Hudson-AyahZevanya ini merupakan pejudi yang tak kenal kapok. Berbagai hutang sana-sini sudah tertumpuk bak gunung. Tapi tak disangka sampai ada orang yang menagih dengan cara seperti ini. Juga mengancam dengan cara harus menjadi istrinya jika hutang tidak terbayarkan.

“Minggir, tolong lepaskan anakku! Aku akan bayar tapi jangan kau sakiti anakku,” kata Hudson memelas.

Tak ada yang menghiraukan permohonan Hudson. Tiba-tiba terdengar suara benturan keras.

DUGH!!

Hudson jatuh tersungkur akibat terdorong salah satu anak buah pria tua tak punya hati itu. Ia tergeletak dilantai sembari meringis kesakitan dan memegang dadanya. Tak butuh waktu lama, Hudson pingsan.

Gerombolan pria tua dan anak buahnya pergi setelah melihat kondisi Hudson yang sudah tergeletak. Zevanya langsung merogoh sakunya dan menekan nomor panggilan darurat.

Zevanya menyeka buliran air yang mengalir deras dikulit halusnya. Tak henti-henti memukul dada yang terasa sesak. Tak disangka hal buruk benar-benar seakan menjadi kutukan yang datang secepat kilat. Dia berlari mendorong brankar dari UGD menuju sampai depan pintu ruang operasi.

Badan lemas, kaki bergetar sampai jatuh dipelukan Lidya-ibu Zevanya. Dari tangisan dengan suara keras sampai melemah kedua wanita itu masih tak kunjung melepas pelukan. Menunggu di depan ruang operasi dengan tatapan nanar. Mata sembab dan merah. Berharap hal buruk tak terjadi.

Beberapa jam berlalu seketika pintu ruang operasi terbuka. Zevanya dan Lidya tersadar dari lamunan dan langsung berdiri dengan tertatih menghampiri Dokter.

“Operasi berhasil, tinggal menunggu pasien sadar.”

“Terima kasih banyak Dokter, terima kasih,” tutur Lidya.

Zevanya dan Lidya saling bertukar pandang dan saling memelukku dengan erat. Rasa lega terlihat dari raut wajah kedua wanita itu ketika mendengar ucapan Dokter. Setelah itu salah satu perawat menghampiri.

“Pasien akan segera dipindah ke ruang inap. Mohon melengkapi berkas administrasi terlebih dahulu.”

“Baik, terima kasih Suster,” sahut gadis bermata coklat tua yang sudah terlihat agak tenang.

Zevanya membagi tugas dengan Lidya. Dia mengurus administrasi rawat inap sedangkan Lidya menemani Hudson.

“Ini biaya yang harus dilunasi,” petugas menyodorkan kertas dengan rincian pembayaran.

Netra Zevanya terperangah melihat nominal yang tertera di kertas, 200 juta . Karena tak akan sanggup membayar dengan nominal sebesar itu.

“Maaf, apa saya boleh menyicil?” tanyanya lirih.

“Maaf nona, tidak bisa.”

“Bolehkah saya meminta waktu?” memelas meminta keringanan.

“Nona hanya punya waktu maksimal 2 hari.”

Zevanya melangkah dengan gontai. Satu pukulan lagi menghantam dada. Benar-benar rasanya ingin bunuh diri saja. Tak sanggup, ia putuskan pulang.

Setibanya di rumah gadis itu mencari benda berharga yang bisa dijual untuk mengumpulkan pundi-pundi uang untuk membayar biaya rumah sakit Hudson.

“200 juta, dari mana aku mendapat uang sebanyak itu,” lirih Zevanya meringkuk di lantai. Dia tak menyangka diusianya yang ke-23 tahun ini mengalami hal pahit. Memiliki ayah pejudi yang berhutang pada banyak orang dan sekarang harus berada dalam perawatan pasca operasi jantung. Ibunya hanya penjual roti keliling dan dia bisa kuliah dengan beasiswa.

Tak tahu harus bagaimana. Melihat sekeliling rumah tak ada yang bisa dijual. Satu persatu barang sudah habis dijual Hudson untuk membayar hutang judinya.

Zevanya memutuskan untuk lekas pergi mencari kerja serabutan meski tak mungkin mendapat 200 juta dalam waktu singkat.

Waktu terus berlalu, matahari sudah tak ada dalam peredaran langit. Keluar masuk toko untuk mencari pekerjaan. Tak ada satu pun yang menerima dengan alasan tak membuka lowongan pekerjaan.

***

Pintu kokoh terdobrak hingga menimbulkan suara keras.

“Mama apa-apan, sih!?”

“Kamu benar-benar buta atau bodoh Alejandro Ricardo!” bentak Bianca.

Tak menghiraukan pria tampan dengan penuh kharisma itu kembali membaca berkas yang ada ditanganku. Seketika Bianca melempar amplop coklat ke meja kerjanya.

“Lihat dan buka mata kamu!”

Alejandro langsung menuruti perintah wanita yang melahirkannya itu. Ia mendapati foto-foto mesra. Bukan fotonya yang terpampang melainkan istri yang dinikahinya 3 tahun lalu dan seorang pria asing.

“Mungkin saja ini rekan kerjanya, Ma. Tessa memang sedang ada proyek di Itali selama 2 minggu kedepan,” jelasnya sambil mengalihkan pandangan.

“Kamu masih bisa santai? Dengar, mama tidak mau reputasi mama tercoreng lagi karna rumor dari istrimu yang memilih berkerja seperti jalang itu. Sudah berkali-kali mama dipermalukan di depan istri-istri rekan bisnis Papamu. Kalian sudah menikah selama 3 tahun, sudah sepantasnya memiliki keturunan. Mama dan Papa butuh penerus dari kamu Alejandro!”

Lagi-lagi hal ini yang Alejandro dengar. Pria tampan itu mulai muak dengan pembahasan yang sama dan tak kunjung usai.

“Tessa hanya model, bukan jalang. Dan tolong, aku bosan mendengar keluhan Mama tentang hal yang sama,” Alejandro melempar foto-foto itu dan melangkah mendekati kaca sudut ruang yang menyuguhkan pemandangan kota.

Bianca membuntuti putra kesayangannya, “Pokoknya, minggu depan kamu dan Tessa harus program ke Dokter yang mama tunjuk. Kalau tidak, kamu harus ceraikan jalang itu. Kali ini Mama tidak main-main!” Wanita paruh baya itu pergi meninggalkan ancaman yang sukses membuat terperangah. Mendengar apa yang diucapkan itu, rahang Alejandro mulai mengeras.

Tak lama selepas kepergian Bianca, Alejandro merogoh saku mengambil benda pipih. Menekan tombol panggil pada nama yang tertera dilayar.

“Tessa, kontrakmu berapa lama lagi?” tanyanya tanpa basa-basi.

“Honey, ada apa? Tidak biasanya kamu membahas ini,” sahut wanita disebrang sana.

“Jawab cepat!” seru pria gagah itu.

“Masih 1 tahun lagi, Honey. Asal kamu tahu, aku baru saja menandatangani kontrak dengan James. Dia menawariku untuk film terbarunya.”

“Sial! Kenapa kamu memutuskan tanpa memberitahuku! Batalkan! Besok kamu harus pulang dan kita harus rencanakan untuk memiliki anak.” bentaknya, tangannya mulai mengendurkan dasi yang melekat dilehernya.

“Honey, aku sudah tanda tangan kontrak. Apa kataku? Anak? Kita sudah sepakat untuk menundanya setelah kontrakku habis,” rengek Tessa manja.

Tak tahan dengan alasan Tessa dan berani-beraninya istrinya memutuskan menandatangani kontrak tanpa berdiskusi dengannya. Kepalan tangan Alejandro sudah mulai mengeras.

“Atau kita bisa pakai Ibu pengganti, semacam menyewa Rahim kalau kamu benar-benar menginginkan anak. Aku tidak bisa memutuskan kontrak secara sepihak, Ale.”

Alejandro memutuskan panggilan telepon. Tak habis pikir dengan ide gila yang baru saja kudengar dari istriku sendiri untuk menggunakan Rahim sewaan. Selama 3 tahun aku telah mengalah pada Tessa. Sebenarnya tanpa Bianca suruh, Alejandro pun juga menginginkan keturunan.

“Sialan!” dilemparnya foto yang ada di meja kerja.

Alejandro mengambil gagang telepon dan segera menyambungkan pada Lian asistennya, “Segera siapkan ruangan untukku seperti biasa dan kali ini siapkan juga wanitanya.”

Bab 2

Kaki jenjang gadis cantik itu menyusuri jalan, nampak rambut yang tergerai berayun mengikuti arah angina berhembus. Tangannya memukuli kaki yang mulai terasa pegal. Namun tak menyurutkan tekad dan semangat untuk terus mencari kerja. Di tengah perjalanan ada benda yang bergetar dalam tas. Zevanya mengambil benda pipih tersebut dan menerima panggilan masuk.

“Halo, Ana?” sapanya.

“Zeva, kamu seharian ini nggak ikut satu mata kuliah ke mana aja?” tanya Anastasia.

“Hari ini Ayahku masuk rumah sakit dan harus operasi jantung. Sekarang aku di jalan cari pekerjaan karena harus membayar biaya rumah sak…” jelasnya terhenti karena pandangan tertuju pada bangunan ramai di sebrang jalan.

“Zeva?”

“Ana, maaf nanti aku kabari lagi.”

Berjalan sambil mematikan sambungan telpon. Zevanya berlari menuju gedung tersebut karena di sana tertera lowongan pekerjaan untuk pelayan. Gadis polos itu memasuki tempat ramai tersebut dan melihat sekeliling. Dia Nampak asing dengan tempat itu. Baru pertama kali menjejakkan kaki di tempat seperti ini. Matanya mengedar lalu menemukan barista di sana. Ya gadis itu memasuki sebuah club malam.

“Permisi, di sini butuh pelayan? Saya mau melamar!” sapanya dengan suara kencang. Karena takut tak terdengar oleh suara musik yang tak kalah kencangnya.

Barista tersebut menoleh ke arah seorang pria yang mengenakan pakaian sama dengannya yang berada tepat di belakangnya. Pria tersebut menyuruh gadis lugu ini untuk mengikuti pelayan tersebut. Pelayan itu membawa ke ruang Manager.

“Boss, ada yang mau melamar kerja.”

Sang Manager hanya mengangguk dan menyuruhnya dengan isyarat tangan untuk pergi meninggalkan kami berdua di ruangan itu.

“Nama?”

“Zevanya Eldora,” sahut Zevanya lirih.

“Oke, kamu bisa langsung kerja hari ini. Tugasmu hanya melayani tamu VIP. Cepat ganti pakaianmu dan jangan buat masalah,” pria tersebut melempar baju karyawan yang harus dikenakan Zevanya malam ini. Mata sang Manager tak melepas pandangan yang ditujukan pada tubuh Zevanya. Karena memang tubuh gadis ini sangat ideal dengan tinggi 170 dengan tubuh padat terutama di daerah dada. Bulatan sintal juga Nampak di bagian belakang. Kulit putih tanpa noda benar-benar menggoda. Padahal saat ini dia mengenakan pakaian yang tidak terbuka.

Zevanya mengangguk dan keluar, rupanya pelayan pria yang mengantarnya masih menunggu. Seakan sudah tahu tugasnya, dia menunjukkan ruang ganti. Dia mengikuti arahannya. Setelah berganti pakaian dia kembali menghampiri pria itu.

“Tugasku apa saja kak?” tanya Zevanya polos.

Pria itu tersenyum aneh,“Barra, panggil aku Barra. Tugasmu mengantar minuman ke ruangan VIP yang ada di sebelah sana” menunjuk arah ruangan VIP.

“Tuangkan minum, dan layani apa pun permintaannya.”

Dahi dengan otomatis mengerut, berbagai pertanyaan dan rasa keberatan terpampang jelas seakan tahu apa yang dimaksud Barra.

“Kalau kamu nggak mau melayani hal ‘lebih’, kamu bisa panggil aku. Biar kucarikan pengganti,” jelasnya.

Mendengar itu Zevanya lega. Barra memberikan nampan berisi minuman dan menyuruhku membawanya ke ruangan yang bertuliskan kata Black di pintunya.

***

Pintu terketuk dan Lian segera membukanya.

Alejandro duduk di kursi dengan menyandarkan kepala dan lengan menutup mata dengan baju tergulung berantakan. Keadaan kacau dengan memikirkan masalah yang bersumber dari istri yang sangat dicintainya.

“Ibu pengganti? Rahim sewaan? Konyol, ide sialan!” umpatnya dalam hati.

Terdengar suara gadis yang menyodorkan minuman.

“Minumannya, Tuan.”

Alejandro membenarkan posisi duduk dan melihat gadis yang menata minuman di depannya.

“Mau sekalian dituangkan, Tuan?” katanya memperlihatkan manik coklat legam saat menatap Alejandro ragu.

Terlihat raut sedih, takut dan gelisah jadi satu. Saat menuangkan minuman terlihat lengan gemetar. Perlahan tapi pasti ia berhasil menuangkan cairan penenang yang biasa kuminum saat kalut melanda.

Setelah dia rasa telah berhasil melewati step awal, gadis yang baru pertama kali dilihatnya itu terdiam mencoba mengontrol diri. Alejandro menikmati pemandangan yang jarang sekali ia lihat. Biasanya wanita jalang yang melayani semua sangat lihai. Tak jarang para mereka itu sampai duduk dipangkuan pria tampan.

Mata lekat memandangi tiap inci tubuh gadis muda yang ada di depannya, “Pelayan baru rupanya,” batin Alejandro sambil senyum samar. Zevanya memang mampu menarik pandangan pria mana pun karena kecantikannya yang paripurna. Wajahnya hanya dengan riasan sederhana. Tetapi bak mengandung magnet, wajah, tubuh dan bagi orang yang sudah mengenal lama pun pasti sangat tertarik dan nyaman dengannya.

BRAK!

Sosok pria yang sangat familiar bagi Alejandro mendobrak pintu dengan cara tak sopan. Ya sudah jelas itu sahabatnya, Victor Fernandes.

“Bro! what’s up?! Wah, galau lagi gara-gara Tessa?” tanpa basa-basi.

Tak dapat respon dari dia melanjutkan ocehannya untuk menghiburnya seperti biasa. Pria bengis dan kurang ajar ini hanya bertingkah konyol di depan Alejandro, keluarganya dan dan keluarga Alejandro. Tak lupa juga pada Lian dan Alvaro saja. Selebihnya dia selalu menjaga image pada siapapun.

“Percuma kau sering datang ke sini dan pesan wanita kalau tak pernah ada yang dicicip satu pun dari mereka. Terlalu bucin, sih. Tessa juga belum tentu setia,” tanpa rasa bersalah mulut Victor ingin sekali disumpal dengan pukulan keras.

“Tuangkan untukku juga,” titah Victor.

Kedua pria itu melihat ke arah yang sama, yaitu gadis lugu yang ada di depan. Mendapati pelayan yang tak biasa dan sangat amat cantik meski tanpa polesan menor yang biasanya digunakan wanita-wanita lain, termasuk Tessa, istrinya sendiri.

Semua gerakannya mampu menyita waktu untuk terus menatapnya. Sesaat Victor mengalihkan pandangan pada sahabat karibnya, Alejandro. Dia mendapati hal yang tak biasa saat menatap lekat wanita lain selain Tessa.

“Bawa gelas itu ke sini.”

Suara Victor berhasil mengalihkan pandangan Alejandro pada Zevanya. Zevanya berdiri sedikit ragu dan maju perlahan. Gelas yang dipegang pun tampak tak tenang, penuh goncangan. Ketakutan yang mendalam jelas menyelimuti raut wajah dan tubuhnya.

AHK! BRUK!

Basah, gelas yang berisikan minuman itu tumpah di badan Victor yang mengakibatkan bajunya kotor.

“Ma-maaf, Tuan. Saya tidak sengaja.”

“Wah!” Senyum bengis Victor mulai muncul. Dia berdiri dan menarik badan Zevanya dan menjambak rambut halus. Mulai mengungkung sampai dinding.

“Aw! Maaf, Tuan saya benar-benar tidak sengaja,” jelas Zevanya.

“Layani aku mala mini untuk menebus kesalahanmu!” tukas Victor.

Wanita itu mulai memberontak. Mendorong kuat tubuh kekar Victor yang sudah mencoba menjamah. Kakinya juga berusaha menendang sana-sini. Hingga berhasil menendang milik Victor sampai jatuh tersungkur.

“Sial!”

Berhasil lolos dari dekapan Victor, wanita itu lari keluar ruangan.

“Dia wanita pelayan yang aku pesan. Harusnya lo gak berhak nyentuh dia!” tegas Alejandro.

Alejanro memberi isyarat pada Lian untuk membawa Victor pulang. Tak ingin malam ini rugi dia beranjak mengejar Zevanya. Pandangan mengedar di tempat ramai yang hampir mustahil menemukan seorang pelayan baru. Tampak sosok pelayan pria yang seakan mengerti apa yang dicari. Dia menghampiri Alejandro.

“Ada yang Tuan Ale cari?”

“Di mana gadis itu, pelayan lugu yang baru saja keluar dari ruanganku?” tanyanya dengan nada dingin.

“Dia bukan gadis sembarangan, Tuan,” pelayan itu berusaha menutupi di mana Zevanya sekarang berada.

“Ambil ini, aku tidak akan menyentuhnya. Bawa aku padanya.” Alejandro memberi beberapa jumlah uang dan benar saja pelayan pria itu mengikuti perintahnya. Mereka berjalan menyusuri lorong yang biasa dilewati para pelayan yang bekerja di sini. Sampai ruang ganti dan pelayan itu menundukkan kepala lalu pergi.

Alejandro memasuki ruangan itu mendapati gadis yang dicarinya. Zevanya terperanjat kaget dan menggantung pakaian yang dikenakan tadi dan mengambil tas bawannnya.

“Izinkan saya pergi, Tuan. Saya benar-benar tidak sengaja. Ini hari pertama saya kerja dan saya sangat butuh uang. Tolong kasihanilah saya,” ujarnya memelas.

“Ikut aku, jangan membantah.”

Zevanya menggeleng keras dan menangis tak henti-hentinya sedari tadi. Alejandro mendekatinya dan menarik dagunya. Mata mereka beradu, dengan bulir mata Zevanya masih menetes. Bak dihipnotis Alejandro mendekatkan wajahnya hingga dapat menghirup aroma vanilla pada tubuhnya. Zevanya tersentak mendengar dering telpon yang berasal dari saku Alejandro. Pria itupun tergagap melihat nama yang tertera dilayar handphone.

Bab 3

Bak ditimpa musibah berkali-kali, Zevanya benar-benar muak dengan kehidupannya. Ingin sekali mengakhiri hidup dengan cara tragis sekali pun. Tapi tak ingin melihat Ibunya sendiri menanggung semua yang sudah diperbuat Hudson-Ayah selama ini.

“Lepaskan tangan saya, Tuan, sakit,” pekik Zevanya.

Alejandro membuka pintu mobil dan mendorongnya masuk. Dengan segera menutup pintu mobil. Lalu mobil melaju menjauh meninggalkan club malam. Entah akan dibawa ke mana oleh pria asing yang tak dikenalnya sebelumnya.

“Tuan mau bawa saya ke mana. Tolong turunkan saya. Saya harus pulang.”

“Katanya kau butuh uang, jadi lebih baik diam dan turuti semua perintahku. Atau aku bawa kamu ke tempat laki-laki yang berusaha menidurimu tadi,” gertaknya.

Seketika tak terdengar ocehan yang keluar dari mulut Zevanya. Meski dia kerja di club malam, bukan sebagai jalang yang dimaksud. Zevanya rela bekerja dengan mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuannya tetapi tidak dengan melepas keperawanan. Ia benar-benar takut saat Victor menyentuh dan sekarang dia di mobil bersama teman dari pria brengsek tadi. Akan sesial apalagi hidupnya dibeberapa waktu ke depan Tuhan.

Mobil yang mereka tunggangi berhenti di depan lobby yang tak asing. Ya, Zevanya mengetahui kalau aku sedang di bawa ke hotel. Alejandro memesan kamar dan Zevanya hanya mengikuti dari belakang. Mereka memasuki lift. Gadis itu merasa diperhatikan dari pantulan pintu lift. Tatapannya mengitimidasi. Firasatnya mengatakan akan ada hal buruk yang menimpa untuk kesekian kalinya.

Pintu terbuka dan mereka keluar menuju kamar yang berada diujung lorong. “Masuk,” titahnya.

Alejandro berjalan santai sambil memegang tengkuk lehernya seakan dia merasakan penat. Lalu menuju kursi yang berada tepat di samping tempat tidur. Zevanya mengikutinya duduk tepat di depannya.

“Nama?”

“Zevanya Eldora.”

“Panggilan?”

“Tuan bisa panggil saya Zeva.”

“Anya, aku panggil kamu Anya. Aku membutuhkan kamu untuk menjadi Ibu pengganti. Tentunya saja aku akan menikahi kamu secara kontrak. Akan kutanggung semua yang kamu butuhkan selama manjadi Ibu pengganti untukku dan istriku.”

“Maksud, Tuan?”

“Aku dan istriku membutuhkan ibu pengganti untuk melahirkan anak kami.”

Benar dugaannya. Batu besar menimpa dadanya lagi. Seharian ini jiwa dan raganya remuk, pecah tak bersisa. Zevanya akan menjadi alat untuk orang lain. Lebih tepatnya rahimnya yang menjadi alat untuk melahirkan anak orang lain. Impiannya menikah dengan orang yang dicintai hingga memiliki anak dan membesarkannya bersama pupus sudah. Pernikahan yang indah dan suci harus pupus dari benak dan pikirannya. Karena jika menolak pun ia tidak akan bisa mendapatkan uang 200 juta dengan secepat kilat.

Bingung, marah, kecewa semua jadi satu. Lidah kelu, tercekat tak bisa mengucap sepatah kata pun. Orang gila macam apa yang ada dihadapan Zevanya saat ini.

“Akan kunikahi kamu untuk mendapat status sah. Tapi setelah anak itu lahir, kontrak kita pun berakhir. Ah, dan hal yang terpenting adalah jangan sampai kamu jatuh cinta karena aku tidak akan meninggalkan istriku. Jangan mengusik dan ikut campur kehidupan pribadi masing-masing karena kita hanya dua orang”

Tak ada pilihan lain selain aku mengiyakan kontrak yang dia tawarkan. “Baik, saya menyetujui hal yang Tuan tawarkan. Tapi, tolong transfer uang sejumlah 200 juta karena saya membutuhkan uang itu secepatnya.”

“Oke, semua akan diurus Lian besok.”

“Kenapa, Tuan memilih saya?” selidikku.

“Alejandro, panggil saja Ale. Entah, firasat mungkin?” jawabnya asal.

“Kalau gitu saya pamit pulang. Saya tunggu janji tuan besok. Terima kasih,”ucap Zevanya yang mulai beranjak pergi.

Tangan kekar terasa memegang pergelangan Zevanya. Ya, itu tangan Alejandro yang berusaha menahan. Gadis itu memicingkan mata mendapati tangan yang dimasih dipegangnya.

“Kamu bisa tidur di sini, besok kuantar pulang. Kamu bisa jamin tidak akan terjadi apa-apa.”

Alejandro pergi, hanya aku sendiri di kamar mewah dan megah ini. Entah harus merasa senang atau marah dengan perlakuannya. Tetapi untuk sementara waktu inilah yang terbaik. Zevanya mendapat uang, Alejandro mendapatkan anak.

***

“Lian, tolong beri informasi mengenai Zevanya Eldora dan juga siapkan kontrak, isinya kan kukirim lewat email. Ah, iya, besok juga siapkan baju untuk wanita.”

“Baik, pak,” balas suara dibalik telepon.

Segera dimatikan telpon dan memijat pelipis, kepala Alejandro sangat pening. Dia memutuskan untuk masuk kembali ke kamar.

Melihat sosok gadis lugu yang sedari tadi hanya bisa menangis karena ketakutan. Tanpa sadar Alejandro sudah duduk di samping tempat tidur. Melihat lekat wajah cantik tanpa polesan make up. Rambutnya bergelombang, kulit putih, bulu mata lentik, alis rapi tertata, bibir tanpa lipstick pun sudah terlihat ranum. “Pipinya halus dan …” sadar dari lamunan. Alejandro kembali menyadari bahwa dia telah beristri.

TING!

Suara notifikasi yang familiar kudengar. Lian sudah mengirim informasi mengenai Zevanya. Dibaca dengan teliti hingga dapat disimpulkan bahwa dia gadis yang malang. Dengan usia yang masih muda sudah menghadapi masalah yang berat. Tak lupa Alejandro membalas dengan persyaratan kontrak yang harus Lian cantumkan agar bisa ditandatangani besok dengan Zevanya.

Sofa tempat terbaik untuk beristirahat kali ini. Alejandro menyempatkan untuk melirik gadis yang sedang tertidur, memastikan dia nyaman.

Beberapa saat kemudian, ketika membalik badan Zevanya tersadar bahwa sudah ada cahaya matahari yang masuk lewat sedikit celah dimata. Karena silau, dia mencoba mengusap kedua mata. Benar saja sudah pagi. Melihat sekeliling tidak ada orang tetapi terdengar suara gemercik air. Begitu ingat jika semalam aku bersama dengan Alejandro langsung diperiksa badannya. Syukurlah kalau baju masih melekat dan sama seperti kemarin, hanya dandanan saja yang sudah mulai kacau karena menikmati Kasur yang sangat nyaman.

“Haah! Jangan-jangan pas aku tidur aku ngorok? Atau malah lebih parah dari itu!” pekikku.

Malu rasanya jika aib terlihat orang lain apalagi oleh lawan jenis. Tapi saat diingat kembali, untuk apa Zevanya mencemaskan hal itu. Pria itu juga bukan orang yang disukainya.

“Kalau sudah bangun cepat mandi, bajumu ada di sana,” suara baritone milik Alejandro mengagetkan. Dia menunjuk paper bag yang ada di atas meja. Zevanya beranjak dari tempat tidur dan langsung mengambil paper bag dan menuju kamar mandi.

Setelah selesai mandi Zevanya menghampiri Alejandro yang sudah duduk disofa dengan memegang berkas. Pria itu memandangi dari ujung kaki sampai ujung kepala. Entah apa yang dia perhatikan pada Zevanya yang berdiri dihadapannya.

“Apa terlihat aneh mengenakan dress ini?” tutur Zevanya malu.

“Ti-tidak. Silakan duduk. Ini kontrak kita selama setahun kedepan. Jangan melanggar satu pun dari apa yang tertullis di sini.” Alejandro mencoba mengontrol diri.

Membaca semua berkas yang diberikan Alejandro. Isinya membuat Zevanya terbelalak. Kontrak itu adalah selama setahun Zevanya akan menjadi istri kontrak dengan status sah. Semua kebutuhannya akan dipenuhi, termasuk biaya rumah sakit dan hutang-hutang Ayah akan dilunasi. Selama menjadi istri kontraknya keluarganya akan diberi rumah, dan Zevanya juga akan tinggal di apartemen lengkap dengan pelayan. Selama itu dia tidak boleh ikut campur urusan rumah tangganya dengan istri pertama. Begitu juga Alejandro tidak akan ikut campur dengan urusan pribadi Zevanya. Sementara juga gadis manis itu harus cuti kuliah karena harus fokus dengan kontrak yang mengharuskan dia hamil anak mereka.

“Kamu tahu dari mana semua informasi tentang aku?” kata Zevanya memicingkan mata.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED