Bab 2

Bryan berjalan mendekat dan menarik Angeline untuk bergeser dari tempatnya. Namun, saat Bryan hendak masuk ke dalam mobil Angeline langsung menahannya.

“Biarkan aku mengantar Anda Pak, aku sudah berjanji untuk mengantar Anda sampai rumah dengan selamat,” ucap Angeline dengan penuh keyakinan.

“Apa kau tidak punya kaca?” tanya Bryan dan membuat Angeline bingung.

“Apa ... aku terlalu cantik sebagai supir pengganti?” tanya Angeline dengan polosnya. Bryan menatapnya dengan heran.

“Wajahmu sangat pucat, seperti orang mati!”

“Aku belum mati.”

“Dan aku belum mau mati. Jadi, pulanglah. Aku tidak mau mengalami kecelakaan karena kau membawa mobil dengan wajah seperti itu.” Bryan kembali mendorong Angeline, namun Angeline menahan tubuh Bryan.

“Tidak bisa! Pak, aku mohon biarkan aku mengantar Anda,” ucap Angeline memaksa dan memasang wajah memelas.

Bryan menghela napas, ponselnya berdering dan Bryan harus mengangkatnya. Merasa tidak bisa menyetir dan harus cepat pulang, Bryan pun terpaksa menyuruh Angeline untuk membawakan mobilnya dan masuk ke dalam mobil dengan sambil berteleponan.

Mendapatkan ijin, Angeline langsung mengemudikan mobil dan membawanya dengan lancar dan aman. Meski wajahnya pucat dan penuh dengan keringat dan ac mobil cukup dingin. Tapi fokus Angeline tidak hilang sedetik pun dan dapat mengemudi dengan lihai.

Bahkan saat harus menyalip atau berputar, terasa halus tanpa ada kesalahan sedikit saja. Diam-diam Bryan yang sedang sibuk berteleponan dengan kliennya merasa cukup kagum. Angeline sama sekali tidak terlihat seperti supir baru. Namun, terasa sangat profesional.

Beberapa saat kemudian, mobil mereka sudah memasuki perkarangan rumah Bryan. Angeline keluar terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk Bryan.

“Selamat istirahat Pak,” ucap Angeline dengan sedikit menganggukkan kepalanya.

“Terimakasih sudah mengantar saya dengan selamat,” ucap Bryan dan memberikan selembar uang seratus ribu.

“Tips untukmu,” ucapnya lagi dan Angeline menerimanya dengan senyuman lebar.

“Terimakasih kembali.”

Angeline berjalan pergi dari sana, sementara Bryan masih memandang Angeline dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Saat Bryan berbalik dan baru melangkah tiga langkah, ia dikejutkan dengan bunyi dentuman yang cukup keras.

Bryan berbalik mencari sumber asal suara tersebut, semakin terkejut saat ia melihat Angeline yang sudah tergeletak di tanah tak sadarkan diri. Bryan berjalan lebih cepat menghampiri Angeline.

“Hei, kau tidak apa-apa?” tanya Bryan dan mencoba mengguncangkan tubuh Angeline. Tak ada respon, Bryan pun menyentuh wajah Angeline yang sudah sangat pucat, panas dan penuh dengan keringat.

Terpaksa Bryan menggendong Angeline untuk dibawa ke dalam rumahnya. Ia menaruh Angeline di atas sofa ruang tamu dan menelpon dokter kenalannya.

Satu jam kemudian, Angeline mulai mendapatkan kembali kesadarannya. Matanya perlahan terbuka dan terkejut saat mendapati dirinya berada di tempat asing.

“Kau sudah bangun?” terdengar suara seorang pria yang datang dengan bungkusan di tangannya.

“Seharusnya kau pingsan di jalan, kenapa harus di rumahku?” tanyanya lagi dan membuat Angeline menatapnya dengan heran.

“Bapak? Aku ... di rumah Anda?” tanya Angeline menyadari siapa yang ada di depannya.

“Ya. Hah ... dokter sudah memeriksamu dan kau ... kurang gizi, kelelahan bahkan anemia. Kau ini sebenarnya apa? Bagaimana bisa kau bekerja dengan kondisi seperti itu?” omel Bryan yang terlihat kesal meski tak perduli pada Angeline.

“Ah ... maafkan aku karena sudah merepotkan Anda Pak. Aku ... akan membayar semuanya, tapi apa bisa dengan cicilan?”

Bryan menatap Angeline dengan datar, namun dalam hati ia sangat terkejut. Hal pertama yang ia khawatirkan adalah biaya pengobatannya yang harus ia ganti. Bukan keterangan tentang kesehatannya, namun biaya ganti yang harus ia bayar.

“Makanlah dulu, baru kau boleh pergi,” ucap Bryan menunjukkan bungkusan yang ia bawa tadi.

Namun, bukan bungkusan itu yang Angeline ambil. Melainkan ponselnya dan langsung memeriksanya.

“ASTAGA! Aku kehilangan banyak pekerjaan, kenapa harus pingsan segala sih,” seru Angeline dan segera turun dari ranjang yang ia tempati lalu terburu untuk segera pergi.

Bryan menahan tangan Angeline dan terdiam cukup lama sampai Angeline kembali menarik tangannya.

“Terimakasih karena sudah menolongku, Bapak bisa menghubungiku untuk biaya pengobatanku pada supir anda Pak. Permisi,” ucap Angeline seraya menarik tangannya dan hendak keluar dari kamar tamu yang ia gunakan.

Bryan masih terdiam di tempatnya, ia ingin sekali tidak memperdulikan Angeline meski tahu kondisi Angeline. Tapi, setelah beberapa saat Bryan malah cemas dan mulai bimbang. Hingga akhirnya ia menyusul Angeline yang sudah berada di ambang pintu.

“Berapa?” ucap Bryan menghentikan langkah Angeline.

“Apa?” tanya Angeline berbalik menatap Bryan yang menghentikan larinya dan mulai berjalan perlahan ke arah Angeline.

“Berapa ... biayamu? Perjam? Atau ... per perkerjaan? Aku akan membayarmu.”

Angeline menatap tidak mengerti, namun sedetik kemudian Angeline terkejut dengan menutupi bagian tubuh depannya dengan menyilangkan tangannya.

Bryan terhenti, ia menghela napas. Tangan kanannya ia masukkan ke dalam saku celananya dan mengurut dahinya. Tak habis pikir bahwa Angeline akan berpikir terlalu jauh dengan ucapannya barusan.

“Apa maksud bapak? Aku bukan wanita panggilan! Meski aku sangat membutuhkan uang, aku masih punya harga diri. Aku memang menerima semua pekerjaan, tapi tidak dengan melayani pria hidung belang seperti bapak!”

Mendengar itu, Bryan tak bisa menahan tawanya. Angeline sempat terpesona akan ketampanan Bryan yang bertambah dua kali lipat saat sedang tertawa seperti itu. Karena dari awal mereka bertemu, Bryan tampak dingin dan sangat serius.

“Kenapa tertawa? Apa bapak pikir ini sebuah lelucon?” tanya Angeline marah.

“Ah tidak ... sorry. Aku gak bermaksud untuk menyinggungmu. Dan aku ... tidak berpikir kau akan mengira aku, akan membayarmu untuk ... melakukan hal itu. Aku hanya ingin kau menghabiskan makanmu. Jika kau pergi dengan keadaan seperti itu, aku yakin kau akan pingsan lagi di jalan.”

“Apa?”

“Anggap saja, biaya doktermu lunas jika kau menghabiskan makan yang sudah aku belikan. Dan jangan lupa obat yang diberikan oleh dokter. Entah kenapa aku harus perduli padamu seperti ini,” jelas Bryan dan membuat Angeline luluh.

Beberapa saat kemudian, Angeline selesai menghabiskan satu mangkok bubur yang masih hangat. Dan segera meminum obatnya. Sementara Bryan sibuk dengan tabletnya. Tiba-tiba sebuah pesan masuk dan itu dari Nyonya Rose. Ibu tirinya.

Bryan enggan membuka pesan itu dan langsung menaruh tabletnya. Wajahnya kembali berubah menjadi dingin dan sangat serius.

“Terimakasih atas bubur dan obatnya, hutangku lunas ‘kan? Kalau begitu aku pamit pergi,” ucap Angeline setelah mencuci mangkok piringnya.

“Kenapa kau bekerja serabutan seperti ini? Bahkan kau bersedia menjadi supir pengganti, bagaimana jika aku adalah orang jahat?” tanya Bryan dan membuat Angeline tak jadi pergi.

“Aku hanya seorang pekerja keras yang rela melakukan apa saja asalkan bisa menghasilkan. Ibuku sakit dan tak ada yang bisa kami andalkan. Jika bukan aku, siapa lagi?”

“Apa saja ... asalkan menghasilkan?”

“Ya.”

Bryan terdiam sejenak, berpikir cukup serius sambil berjalan mendekat ke arah Angeline. Dengan kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana. Bryan berhenti tepat satu langkah dari tempat Angeline berdiri.

“Kalau begitu, apa kau mau bekerja untukku? Setidaknya untuk satu tahun?” tawar Bryan.

“Pekerjaan apa yang kau tawarkan?”

“Menikahlah denganku, dan lahirkan seorang putra untukku.”

Angeline terkesiap mendengar ucapan Bryan.

Bab 3

“Menikahlah denganku, dan lahirkan seorang putra untukku.”

Angeline terkesiap mendengar ucapan Bryan. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa pria yang terlihat cukup jauh usia dengannya dengan santainya berkata seperti itu. Rasa amarah yang sempat redam, kini mulai bangkit. Seolah akhirnya Angeline tahu alasan kenapa pria itu menahannya pergi di saat dirinya sudah ingin pergi sejak tadi.

“Kau gila,” umpat Angeline dan tanpa kata lagi ia beranjak pergi dari sana.

“Berapa pun akan aku bayar. Bahkan aku akan memberikan rumah, mobil atau pun toko setelah kontrak kita berakhir.”

Angeline sempat berhenti, namun ia tak mau dianggap murahan dan tetap berjalan pergi. Bahkan saking emosinya, Angeline membanting pintu dengan cukup keras.

“Hah ... apa yang baru saja aku katakan?” gumam Bryan mengusap wajahnya. Seolah ia pun tak sadar jika sudah mengatakan hal yang gila dan terlewat batas.

Namun, tak ada penyesalan dari semua ucapannya. Ia kembali terlihat serius dan berjalan ke kamarnya untuk istirahat.

Hari semakin larut, Angeline yang sedang berjalan untuk mencari angkutan umum merasa sangat kesal dan sedih sekaligus. Ia tak habis pikir bisa bertemu dengan pria yang tampak seperti om-om itu membual yang aneh-aneh.

Meski dirinya sangat membutuhkan uang, tapi Angeline bukanlah wanita murahan yang rela menjual dirinya hanya untuk mendapatkan penghasilan. Perlahan air mata mengalir di pelupuk matanya, Angeline mulai meratapi nasibnya yang kurang beruntung dan diperlakukan rendah seperti ini.

Tiba-tiba ponselnya berdering, dan Angeline langsung mengangkatnya.

“Halo, apa ini dengan Angeline?”

“Ya benar, ini dengan siapa ya?”

“Kami dari kepolisian, apa benar Anda Kakak dari Michael Bastian?”

“Polisi? Saya kakaknya Michael, apa yang terjadi dengan adik saya pak?”

Angeline tersentak saat mendengar penjelasan sang polisi yang menelponnya. Dengan air mata yang semakin deras mengalir, akhirnya Angeline menghentikan sebuah taksi yang lewat lalu menutup teleponnya.

“Pak antarkan saya ke kantor polisi,” ucap Angeline dengan menahan tangisnya. Kepalanya mulai pusing dan semakin berat.

Masalahnya tak juga kunjung berhenti, adik satu-satunya yang masih duduk di bangku kelas 3 SMA kini berada di kantor polisi. Angeline tak percaya dan tak menyangka jika adiknya terlibat dalam jaringan obat terlarang.

Polisi mengatakan jika adiknya positif menggunakan obatan terlarang dan akan di penjara. Angeline yang baru saja sampai kantor polisi langsung mencari sang adik yang sudah masuk ke dalam kurungan.

“Kak Angeline! Tolong aku kak, bebasin aku kak. Aku gak tau kalau itu obat terlarang, mereka ... menjebakku kak! Aku mohon keluarin aku dari sini. Aku gak mau di penjara,” ucap Michael dengan derai air mata.

Angeline menatapnya dengan menahan tangis, ia tahu jika adiknya tidak berbohong. Ia tahu jika adiknya berusaha keras untuk mencari uang dengan mengumpulkan barang bekas selepas sekolah. Jadi, bagaimana bisa adiknya terjebak dalam hal ini.

“Pak polisi, saya tau jika adik saya bersalah. Tapi, bapak dengar sendiri kalau dia dijebak. Dia tidak tahu jika yang dia minum itu adalah obat terlarang. Aku mohon ... lepaskan adik saya Pak,” ucap Angeline memohon dengan sangat.

“Maaf, tapi kami akan menangkapnya sesuai hukum. Adik anda tertangkap dengan para pengedar dan pengkonsumsi obat terlarang.”

“Apa tidak ada jalan lain Pak?”

Di saat sedang putus asa itu, seorang pria berjas datang dan langsung menghampiri salah satu polisi tanpa seragam yang ada di sana. Mereka berbisik-bisik dan pria berjas itu memberikan sebuah koper yang berukuran 30*30. Setelah polisi itu membukanya, ia langsung tersenyum lebar.

Tak berapa lama, pria yang ditangkap dengan Michael dibebaskan tanpa hukuman. Angeline dan Michael yang melihat itu terheran-heran.

“Alex, bebaskan aku juga! Kau tidak bilang kalau itu obat terlarang!” teriak Michael putus asa menahan tangan Alex. Namun, Alex menampiknya dan bahkan menendang Michael lalu keluar dari kurungan.

“Bagaimana kau bisa membebaskan pria yang menjebak adik saya? Sementara adik saya masih ditahan?” hardik Angeline pada polisi yang mendapatkan koper yang berisi uang tersebut.

“Jika kau ingin adikmu dibebaskan tanpa hukuman, bawakan kami uang lima puluh juta. Ah tidak ... ini sudah lebih dari tiga jam. Dan sekarang sudah berganti hari, jadi bawakan kami seratus juta. Jika lewat sehari lagi, tambah lima puluh juta. Sampai jaksa membawanya untuk disidang, kau bisa menghitungnya bukan?”

Polisi yang berkata itu pergi begitu saja. Angeline menahannya dan didorong sampai tersungkur. Angeline mencoba meminta tolong pada polisi lain yang ada di sana. Tapi mereka semua acuh tak perduli seolah Angeline tak terlihat sama sekali.

Michael pun meraung menangis sedih memohon dibebaskan. Angeline kembali meratapi nasib, ia pun tak bisa melakukan apa-apa.

Pagi hari, Angeline sudah mencari pekerjaan lain untuk mengumpulkan uang pembebasan adiknya. Seharian penuh, Angeline mencari pekerjaan dan mengumpulkan semua penghasilannya, namun masih sangat jauh untuk bisa menebus adiknya.

Tiga hari berlalu, Angeline hanya bisa mengumpulkan lima juta dengan bekerja tanpa istirahat. Ia sedang berada di pinggir jalan dengan memakan sepotong roti dan segelas air mineral.

“Jika sehari hanya segini, kapan bisa terkumpulnya? Besok sudah jadi berapa ratus juta? Apa yang harus aku lakukan?”

Tanpa sengaja, Angeline melihat mobil yang mirip dengan mobil Bryan. Angeline menatapnya dengan penasaran, apakah orang yang ada di dalam sama dengan pria yang ia temui waktu itu. Mobil itu berhenti di depan sebuah restoran mewah. Dan seorang pria turun dari sana.

Sayangnya pria itu bukanlah Bryan. Membuat Angeline sedikit merasa kecewa. Namun sedetik kemudian ia menggelengkan kepalanya. Berpikir untuk tidak tergoda dengan penawaran yang Bryan berikan saat itu.

“Aku harus bekerja lebih keras lagi, aku pasti bisa melakukannya,” ucap Angeline dan kembali melihat ponselnya untuk mendapatkan pekerjaan.

Sebuah panggilan masuk, dan ini panggilan dari rumah sakit. Tempat ibunya berada. Angeline mengangkat teleponnya dan terkejut. Ia pun tanpa berpikir panjang menghentikan sebuah taksi untuk segera datang ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit, Angeline berlarian untuk menemui sang dokter yang merawat ibunya.

“Dokter, apa yang terjadi dengan ibu saya?” tanya Angeline. Wajahnya tampak pucat dan napas yang tersenggal.

“Ibu anda, tiba-tiba saja muntah darah. Kami sudah memeriksanya, dan kondisi ibu anda sangat tidak stabil. Ginjalnya sudah sangat parah, dan harus segera dioperasi secepat mungkin,” jelas sang dokter.

Angeline syok kebingungan. Di saat ia sedang pusing mencari uang untuk membebaskan sang adik, di saat itu juga sang ibu diharuskan operasi yang membutuhkan biaya sangat besar. Masalah terus saja terjadi pada hidupnya.

Angeline sudah kehabisan berpikir, seolah ia menemui jalan buntu. Pikirannya sudah tak bisa terkendali. Ingin sekali ia berteriak dan menyalahkan orang-orang. Namun, ia tau bahwa itu semua tak akan merubah apa pun.

Angeline berada di atas jembatan layang, di bawah sana terdapat banyak kendaraan besar yang melaju cukup cepat karena jalanan sedang sepi. Tatapan mata Angeline kosong, ia terlihat sangat frustasi dan depresi. Beban hidupnya tak pernah berkurang sedikit pun. Hal ini membuatnya ingin menyerah dan berpikir untuk mengakhiri hidupnya.

Angeline menatap ke bawah yang berjarak sepuluh meter lebih. Ia sudah tak punya semangat hidup lagi.

“Apa kematian akan mengakhiri semuanya? Apakah dengan mati, aku bisa menjadi tenang?”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED