Bab 1

Langkah Leanna terhenti, dia meluruskan punggungnya. Lututnya terasa ingin terlepas saja dari kakinya. Dia sudah menyerah, tidak sanggup menaiki tangga darurat di lantai 7 itu. Napasnya panas, terengah-engah. Paru-parunya ingin meledak.

"Aku tidak mengerti, kenapa ada jadwal pemeliharaan elevator di saat genting seperti ini," Lea mengatur napas dalam, tapi akhirnya dia tertawa. Dia bercanda dengan dirinya sendiri, kemungkinan karena umurnya sudah tidak muda, naik tangga saja dia sudah kelelahan.

"Tidak apa-apa, aku hanya terlambat 30 menit," desis Lea berbicara sendiri, dia menghempas sepatu yang ditentengnya. Tapi Heels hitam itu terasa kasar di kakinya, seharusnya dia memakai stocking.

"Tenang... Tenang," desis Lea. Dia mengatur napas dan mulai merapikan helaian rambut yang mulai turun dari dahinya. Mungkin saat ini rambutnya berantakan bercampur keringat.

Lea bergegas membuka ujung pintu darurat. Air conditioner langsung dingin langsung bertiup, rasanya sangat nyaman. Leana menikmati rasa sejuk itu menyapu keringat dinginnya.

"Selamat pagi, Bu Leanna."

Lea tersenyum, membalas sapaan salah satu karyawan yang melihatnya baru datang. Benar, Lea datang ke kantor terlambat pagi ini, sungguh memalukan! Untungnya... semua orang sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, mereka tidak memandangi Lea selayaknya orang yang harus dikenai denda keterlambatan. Lea buru-buru berjalan cepat nenuju ruangannya.

"Oh, syukurlah!" desah Lea seraya membuka pintu menuju ruangannya. Mata berkedip saat melirik Siska, sekretarisnya. Lea memberi isyarat, kalau dia telat datang.

Siska tersenyum dan mengikuti atasannya itu masuk ke ruangannya. "Bu Leanna, selamat pagi," sapa Siska sambil membawa beberapa berkas.

"Selamat pagi, Siska. Oh, aku benar-benar tidak tahu, kalau hari ini elevator dalam jadwal perawatan. Kenapa kamu tidak memberitahuku?" Lea langsung duduk di kursinya, dia meluruskan kaki dan melepas sepatu heels yang dikenakannya. Dia lebih nyaman memakai sandal.

"Maaf, bu... Saya sudah mencoba hubungi ponsel ibu, tapi sepertinya ada gangguan. Saya juga sudah mengirimkan pesan," jawab Siska sambil merapikan tas Lea yang hampir terjatuh. Siska memandangi pakaian atasannya itu tampak kacau, sepertinya dia terburu-buru berangkat kerja.

"Benarkah?"

Lea menggaruk dahinya. Dia merogoh ponsel di dalam blazernya. Oh, pantas saja ponselnya mati. Lea menyadari kancing kemejanya tidak terpasang dengan baik.

"Apakah aku ada schedule hari ini?" tanya Lea sambil merapikan kemejanya. Di hari Senin ini, dirinya memulai hari senin dengan kelalaiannya sendiri.

"Hari ini, kita ada rapat dengan pak direktur setelah makan siang, Bu. Ada interview dengan karyawan baru yang akan menepati posisi wakil manajer," jelas Siska.

Lea menaikkan pandangan matanya. Wakil manajer? "Oh, yang infonya dia adalah kenalan pak direktur? Benarkah?" tanya Lea mencoba mengingat-ngingat.

"Iya bu, keponakan pak Direktur Kalandra. Namanya Elver... Dia baru lulus saja tahun ini," jelas Siska

"... Astaga, kenapa tidak cari tenaga profesional saja," Lea menghela kesal. Tentu saja, nantinya dia akan menghabiskan tenaganya untuk mengurusi training dan juga mengajarinya. Pak Direktur memang nepotisme! Batinnya berang.

"Baiklah, aku mau memeriksa email dulu," ucap Lea. Siska mengangguk, beranjak keluar dari ruangan Lea.

Lea buru-buru mengambil celana dalam dan stocking dari dalam tasnya, dia langsung ke kamar mandi. Demi apa pun kebodohannya, sampai pakai celana dalam saja dia tidak sempat! Lea memandangi dirinya di cermin, memastikan pakaiannya sudah rapi. Tidak lupa, dia menyemprotkan parfum di pergelangan tangannya.

"Untung saja tadi aku sempat mandi bebek," celetuk Lea sambil tertawa.

Leanna Mentari Iskandar, seorang Manajer cabang di sebuah perusahaan besar ekspor impor. Leanna adalah anak perantauan yang sedang merasakan kesuksesannya dalam berkarir. Dia termasuk anak buah kesayangan atasannya, karena selalu berhasil mendapatkan proyek besar yang tentu saja menguntungkan perusahaannya. Hanya saja...

Ponselnya berbunyi, Lea membuka pemberitahuan di ujung layar dengan warna merah.

"Tuan Je. 35 tahun. Submisif Sadomasokis. Kamis, pukul 19.00 sore. Tekan ya untuk SETUJU atau TIDAK untuk menolak."

Leanna tidak menjawab, dia meletakkan ponselnya kemudian tersenyum datar. Dia masih menunggu jadwal lainnya.

Apa lagi yang dia cari? umurnya yang sudah menginjak 27 tahun. Kata orang, umur segitu adalah umur menjelang kadaluarsa bagi seorang wanita. Wanita harus buru-buru menikah... melahirkan... Nanti kalau tidak begitu, dipastikan dia kesulitan saat melahirkan atau susah punya anak. akhirnya saat menua akan hidup sendirian dan menderita.

Lea menopang wajahnya, matanya mengamati deretan surat-surat elektronik yang belum dibacanya. Jarinya dengan cat kuku merah tua dengan lincah menggeser layar, dia mencari apa yang ingin dia mulai hari ini.

Sambil menguap, Lea mencoba melebarkan matanya. Rasa kantuk itu merangkupnya lagi karena dirinya tidur dini hari. Semalam Lea mendapat teman bermain yang luar biasa. Pria Belanda bernama John. Pria 40 tahun itu punya tubuh yang luar biasa bagus. Sayangnya, Lea tidak akan pernah tidur dengan para submisifnya. Padahal, pria itu sangat gagah.

"Hm... " Lea melihat email berisi CV milik calon manajer kantor yang dimaksud. Seorang pemuda yang menurutnya masih terlalu muda untuk memegang jabatan penting. Elver Ra Said, 23 tahun. Leanna memeriksa pengalaman kerja yang tertulis, ternyata dia baru saja lulus dari universitas luar negeri dan pernah punya startup sendiri di New York, tipikal anak muda jaman sekarang. Lea memandangi foto Elver, wajahnya oriental antara etnis Cina, korea atau Jepang. Cukup menarik bagi penggemar idol kekinian.

"Harusnya dia bekerja di bagian administrasi sebelum naik ke jabatan penting," desis Lea. Bagaimana pun orang yang punya referensi dengan atasan, pasti melaju dengan cepat. Mereka menyebutnya privilege. Di bandingkan dirinya, berawal bekerja mati-matian di bagian marketing.

Lagi-lagi ponselnya berbunyi. Sebuah pesan muncul.

"Tuan Partoni. 20 tahun. Submisif. Sabtu, pukul 22.00 malam. Tekan ya untuk SETUJU atau TIDAK untuk menolak."

Mata Lea menyempit. Harusnya mereka membaca ketentuannya. Leanna tidak suka berhubungan dan bermain dengan pria muda di bawah umurnya. Tentu saja Lea langsung menekan "TIDAK".

Leanna mendesiskan napasnya dengan kesal.

Tidak ada yang mengetahui, bahwa Leanna punya sisi lain yang liar dan gila. Dia adalah anggota "Pemain" aplikasi khusus dewasa dari situs terselubung.

Lea segera menutup aplikasi berlatar merah itu. Matanya melirik ke arah pintu, Lea mengendus senang, bau kopi yang diantarkan Siska ke mejanya. Sinar matanya tampak menyala-nyala mencium baunya saja membuatnya melek.

"Bu, ini kopinya," Siska meletakkan cangkir.

"Terima kasih..." Lea menyambutnya dengan sorot berbinar. Secangkir kopi yang akan menambah semangatnya untuk fokus bekerja hari ini. Lea menghirupnya pelan. Rasanya nikmat...

"Tolong sampaikan... kita bersiap untuk briefing, 10 menit lagi," ucap Lea. Walau pun terlambat, dia harus tetap bekerja sesuai jalurnya.

"Baik, Bu."

---

Mobil yang membawa Leana sudah sampai di kantor pusat tower PT. Kalandra. Lea mengusap wajahnya yang sembab, Lea menyempatkan untuk tidur karena lama perjalanan memakan waktu 1 jam...

"Pak, tunggu di kantin saja, takutnya saya lama rapat di atas. Nanti saya telepon kalau saya sudah selesai." Lea merongoh tasnya, mengambil uang berwarna merah selembar.

"Terima kasih banyak, Bu." Wajah supirnya langsung berbinar, menyambut uang pemberian Lea.

Lea turun dari mobil dengan wajah yang masih mengantuk. Dia membalas sapaan Satpam yang menyambutnya. Suara langkah sepatu heels tinggi miliknya bergema ketika dia melintasi lorong parkiran yang sepi. Lea menekan tombol elevator sambil menguap lagi.

"Selamat siang," suara satpam tedengar ramah menyahut sapaan seorang pria yang juga baru turun dari mobil.

Pria berpostur tinggi itu berdiri di samping Lea, sama dengan dirinya menunggu pintu elevator terbuka. Lea menguap, dia langsung menutup mulutnya saat .

Tiba-tiba terdengar suara notifikasi dari ponsel Lea. Dia merogoh ponselnya, tiga pesan dari aplikasi. Lea tidak langsung membukanya.

Suara denting berbunyi, tanda pintu lift terbuka. Lea segera melangkah masuk. Begitu pula pria yang berada di sampingnya, dia langsung menekan nomor tombol yang dituju, ternyata tujuan mereka sama.

Lea menatap bayangannya. Penampilannya sangat kusut, bahkan rambutnya berantakan, Lea langsung menyisir dengan tangan untuk merapikan rambutnya. Dia pun mengambil lipstik merahnya dari dalam tas kecilnya, agar wajahnya tidak terlalu pucat. Matanya melirik ke arah angka-angka yang mulai sampai di lantai yang dia tuju.

Karena terburu-buru, tanpa sengaja kuas lipstik cair yang dipegang Lea terlepas. Tangan Lea refleks menangkapnya, tapi dia malah tidak berhasil menangkapnya. Kuas lipstiknya itu sukses mendarat di kemeja pria yang masuk bersamanya tadi. Noda merah itu menempel, juga berceceran di kemejanya.

Mata Lea membesar.

"Ma... Maafkan saya," Lea panik. Sedang pria itu hanya bengong melihat cairan merah, belepotan di kemejanya.

Lea buru-buru mencari-cari sapu tangannya. Dia mengusapnya, bermaksud untuk membersihkannya. Lea melotot... Bukannya hilang... Noda merah itu itu semakin melebar dan meresap.

"Ahh.." Lea mulai panik.

Pintu elevator terbuka. Wajah mereka berdua canggung, mata mereka kosong bertatapan.

"Sialan," maki pria itu langsung menepis tangan Lea. Dia buru-buru pergi ke arah toilet. Lea menelan air ludahnya, dia hanya terpaku akan ketidak sengajaan itu. Dia memandang kuas lipstiknya yang terjatuh di lantai elevator, dan memungutnya.

"... Aku sudah meminta maaf," desis Lea, dia menoleh ke arah pria yang sudah menghilang dari tatapannya.

"Selamat siang, Bu Leanna." Resepsionis segera berdiri, senyumnya manis menyambut kedatangan Lea.

"Ah, selamat siang. Apa bapak Kalandra ada di ruangannya?" tanya Lea sambil membuang sapu tangan dan lipstiknya ke tempat sampah di samping meja resepsionis. Dia harus segera melupakan kejadian yang sama sekali dia tidak sengaja itu.

"Pak Kalandra tadi berpesan, segera ke ruangan rapat sekitar 15 menit lagi," jawab salah satu resepsionis dia melirik jam tangannya.

"Oh, baiklah. Kalau begitu, saya langsung ke ruangan rapat saja."

Lea melangkah sambil mengambil ponselnya. Dia membaca serius sebuah pesan dari aplikasi berwarna merah itu. Akhirnya dia menekan pilihan "IYA" untuk salah satu submisif yang mendaftar.

"Cukuplah, aku punya satu slot lagi," ucap Lea berbicara sendiri.

Terdengar suara tawa melewatinya. Lea menaikkan pandangan. Entah apa yang karyawan itu tertawakan. Lea segera memasukkan ponselnya ke dalam tas.

"Bu Leanna," sambut sekretaris pak Kalandra, wajahnya senang melihat Lea.

"Hallo... Apa kabar, Tira?"

"Saya kabar baik. Lama sekali ibu baru berkunjung ke kantor pusat." Tira membukakan pintu ruangan di depan mereka.

"Iya, aku baru sempat kemari. Kebetulan ada calon wakil manajer yang akan interview hari ini... Tapi aku lupa siapa namanya," jawab Lea menggaruk dahinya.

"... Iya, pak Elver. Ini pak Elver Ra Said sudah ada di belakang ibu," Tira tersenyum

---

Bab 2

"Oh?"

Lea tentu tidak menyadari kalau ternyata ada orang di belakangnya. Saat Lea menoleh, seketika jantung Lea berdegup kencang. Dia menjadi panik. Pria berwajah masam itu menatapnya dengan kesal. Elver adalah pria yang tadi masuk ke dalam elevator bersamanya!

Lea menepuk dahinya.

"Pak Elver, kenapa kemejanya?" Ekspresi Tira kebingungan. Dia melihat noda merah di kemeja Elver.

Elver hanya tertawa sinis. "Aku baru saja dapat musibah. Seseorang yang bodoh dan ceroboh menumpahkan sesuatu ke kemejaku," Elver menyipitkan matanya, menghadang luapan emosinya. Sorot kebencian itu seakan-akan menyorongkan kesalahan ini kepada Lea. Lea hanya menggaruk dahinya, dia pun tidak akan mengira kalau lipstik itu bisa terselip dari tangannya.

"Ya, ampun. Tunggu sebentar, Pak Elver, coba saya cari pinjaman jas dulu." Tira bergerak keluar ruangan, menuju elevator meninggalkan Lea dan Elver berduaan di depan ruang rapat.

Elver menegakkan punggungnya di hadapan Leanna, gurat wajahnya mengeras, seakan-akan menantang Lea. Lea tidak bergeming untuk membalasnya, tetapi dia tidak takut. Lea hanya memaksakan dirinya untuk tersenyum.

"Kamu tidak meminta maaf?" Suaranya meninggi.

Lean membesarkan matanya. Logat bicara pria ini sedikit aneh. Ah? Lea masih tidak mengerti. "Aku sudah meminta maaf tadi. Apa kamu tuli?" pungkas Lea.

"Cih, kalau sampai aku bermasalah dengan pak Kalandra hanya karena noda merah ini. Aku akan memberi pelajaran kepadamu!" Elver menekan suaranya. Ujung tatapannya meledak-ledak, mata Almond itu jelas memegarkan kekesalannya.

"Lalu? Memangnya kamu tidak tahu aku ini siapa?" Lea melipat tangannya. Ya, anak mudah ini hanyalah anak kemarin sore yang... Tentu saja tidak baik mengatur emosinya. Seharusnya dia mengerti arti dari ketidak sengajaan. Apalagi dirinya adalah atasan pria pemarah ini.

Bola mata Elver bergerak, dia menatap perempuan yang sedikit berantakan itu. Matanya merayap turun dan membaca ID Card milik Leanna yang terkalung.

Manager?

"Oh, tante tua... Wajar saja kamu begitu ceroboh. Rupanya syarafmu mulai banyak yang terjepit." Elver mencetus ejekannya, dia tidak takut dengan Leannam

What?  "A... Apa kamu bilang?" Lea langsung membalasnya dengan bernada tinggi. Dia sampai mengepalkan tinjunya.

"... Tante... Leanna..." Sebutnya lagi.

"Kurang ajar!" Lea jelas tidak suka dengan tingkah Elver. Apalagi dengan logat bicaranya yang aneh, sok bule!

"Siapa yang kurang ajar? Ini semua gara-gara lipstik sialanmu itu! Aku jadi ditertawakan orang satu gedung ini!" Elver menunjuk wajah Lea, ekspresinya sangat marah.

"Hei! aku benar-benar tidak sengaja!"

Suara elevator terdengar, membuat mereka menjauhkan jarak mereka. Mereka lalu bertingkah biasa saja, seakan-akan tidak pertengkaran.

Tira datang terburu-buru, dia membawakan Elver sebuah Jas pinjaman. Elver sangat lega melihat uluran jas hitam itu, walau pun tidak bisa menutup semua noda merah di kemejanya, setidaknya penampilannya terlihat lebih baik.

"Terima kasih..." ucapnya kepada Tira. Wajah Elver mulai santai.

"Sebentar lagi, Pak Kalandra akan datang..." Tira membukakan pintu ruangan untuk mereka. "Silahkah, masuk..." Elver langsung menerobos masuk ke dalam ruangan, dia sengaja menabrak bahu Leanna dengan keras.

"Si kampret," desis Leanna.

"Ada apa, Bu?" Tanya Tira mendengar celetukan Lea.

"Ti... Tidak apa-apa. Ehem!" Lea memaksakan dirinya tertawa. "Apakah pak Kalandra akan segera kemari?" Lea mengikuti langkah Tira yang masuk ke dalam ruangan.

"Iya, beliau akan segera kemari," Tira memeriksa ponselnya.

Lea mendudukkan dirinya di depan Elver. Pria muda itu tampak tidak memperdulikannya atau menunjukkan rasa hormatnya. Pria berkulit putih itu, masih saja sibuk dengan ponselnya. Dasar, tidak tahu sopan. Padahal jelas-jelas Leanna lah yang punya kedudukan lebih tinggi. Kalau begini sudah jelas, mereka tidak akan akur bekerja jika disatukan dalam satu tim!

"Selamat siang..."

Suara Pak Kalandra terdengar dari arah pintu. Elver segera berdiri, begitu pula Leanna.

"Pak Kalandra..." Leanna mengulurkan tangannya, menyalami sang Direktur.

"Leanna. Sudah lama kita tidak bertatap muka," Kalandra menyambut tangan Lea dengan hangat.

"Oh, lihat anak muda ini. Kamu benar-benar sangat gagah sekarang." Wajah Kalandra cerah, menangkap penampakan keponakannya. Dia senang dan menepuk-nepuk bahu Elver. Elver hanya tertawa.

Lea memincingkan matanya, menunjukan ekspresi mengejek mendengar pujian pimpinan perusahaannya itu.

"Bu Leanna, ini Elver Ra Said. Keponakan saya. Dia yang akan kita wawancara terakhir hari ini," ucap Kalandra. Lea mengangguk, hanya menyungging senyum tipis.

"Silahkan.. Mungkin, kita langsung saja?" Kalandra melihat jam di tangannya dan mempersilahkan mereka untuk kembali duduk.

"Iya, pak Kalandra," sahut Lea. Dia sekali lagi melirik sinis ke arah Elver merapikan jas hitamnya. Wajahnya tidak terlihat tegang.

"Pak Elver, perkenalkan ini adalah Bu Leanna yang memiliki banyak sekali prestasi dalam memajukan bisnis perusahaan ini. Dia bekerja dengan tekun dan berhasil menembus tender besar kelapa sawit ke Eropa yang sulit." Tira memperkenalkan Leanna dengan suara yang jelas. "Saat ini Ibu Leanna adalah manajer tertinggi di kantor cabang di daerah Tenggarong. Sesuai rapat top manajemen yang sudah di sepakati, Pak Elver yang akan mengisi kursi wakil manager di sana."

Elver tidak berekpresi apa pun mendengar perihal Leanna. Dia hanya menyimak, baginya wanita berantakan yang duduk di depannya ini tidak relevan dengan prestasinya. Dia bisa sudah menandai Leanna sebagai wanita yang sembrono.

"... Kami akan mewawancarai Pak Elver, sesuai ketentuan yang berlaku," sambung Tira sambil memberikan map kepada Pak Kalandra dan Leanna.

Leanna memandangi map itu. Dia sudah tahu... ini hanyalah formalitas.

"Bu Leanna ini adalah CV yang sudah dikirimkan oleh Tira melalui Email. Mungkin ada yang perlu ditanyakan?" tanya Kalandra.

Leanna melirik Pak Kalandra yang tampak santai. Dia tersenyum datar menatap Elver. Bukankah dia terlalu mudah dan kurang berpengalaman untuk langsung duduk di kursi jabatan terbaik!

"Selamat datang, Tuan Elver... Sebelumnya, perkenalkan namamu dan umurmu..." Leanna mengkaitkan tangannya. "Lalu.. Melihat latar belakang pengalamanmu. Kamu pernah membangun dan menjalankan startup yang mungkin tidak cukup bagus karena tidak ada kaitannya dengan lingkup perusahaan ini," sambung Lea. Langsung pada intinya.

"Oh..." Kalandra hanya menaikkan bahunya. Tapi dia akan membiarkan Elver menjawab pertanyaan Leanna.

"Saya Elver Ra Said, 23 tahun. Benar, sebelumnya saya pernah memimpin sebuah tim ketika saya berbisnis di New York. Saya harus belajar banyak hal, dan semuanya berjalan dari nol. Manusia mempunyai otak dan dari ketidak tahuan saya... Di setahun berikutnya, kami mendapatkan kesuksesan sampai menembus angka US$ 2,28 miliar atau 13,8 triliun, kurs 14.369 rupiah. Saya rasa, saya lebih pantas untuk duduk di kursi manajer marketing." Elver tersenyum dingin menatap, Lea yang membesarkan matanya. Elver langsung menembak untuk mengincar posisinya, langsung di hadapan pak Kalandra!

"... Well..." Lea mengingatkan dirinya untuk menahan dirinya, agar tidak membalas Elver.

"Lalu... Kenapa kamu tidak membuat startup saja di Indonesia? Bukankah lebih menjanjikan," ucap Lea. Tentu saja, insting Lea mencurigainya.. sangat aneh seorang enterpreneur sukses dengan penghasilan uang yang berlimpah, tiba-tiba saja beralih menjadi seorang karyawan dengan gaji 5 juta sampai 8 juta rupiah!

"Elver memang diminta pulang ke Indonesia karena permintaan keluarganya. Saat ini, dia tidak memiliki teman di Indonesia. Sementara.... Dia bekerja denganku " sahut Kalandra. Elver menatap Kalandra. Kalandra tampak menggelengkan kepalanya, pelan. Elver paham.

"Oh, berarti perusahaan hanya batu loncatan?" Tanya Lea lagi.

"Saya hanya memerlukan pekerjaan yang baik," jawab Elver. Dia jelas tidak menyukai Leanna, baginya wanita ini tampak senang untuk memulai perdebatan.

"... Leanna, sepertinya kamu ragu jika Elver menduduki kursi wakil manajer mendampingimu?" tanya Kalandra.

"Saya hanya tidak yakin. Di umurnya ini, dia tidak punya pengalaman bekerja di bawah tekanan orang lain sebagai karyawan biasa. Menurut saya, lebih baik Elver duduk dahulu di bagian administrasi atau perlengkapan, dan terus naik ke tingkat jabatan secara bertahap. Mungkin 5 atau 6 tahun dia baru bisa duduk di kursi manajer seperti saya." Lea mengutarakan pendapatnya.

"Oh, jadi saya akan seperti anda menua sampai berumur 40 tahun untuk sukses? Anda sepertinya tidak bisa menerima anak muda untuk maju," pungkas Elver. Dia sedikit mengejek.

Lea tertawa. "Aku hanya memberitahumu... memang seperti itu aturan di kantor. Bahkan untuk bank saja, kamu harus mau duduk di bagian kasir sebelum naik menjadi manajer," balas Lea.

Kalandra menaikkan alisnya. Belum apa-apa, Leanna sudah berkonflik dengan Elver. Terlihat mereka sama-sama keras kepala, mungkin akan saling bersaing menjadi yang lebih unggul. Instingnya bermain, jelas mereka berdua adalah orang-orang yang hebat. Kalandra yakin mereka akan bisa bekerja memberikan yang terbaik.

"Sudah... sudah..." Kalandra malah tertawa. "Mulai minggu depan, Elver akan pindah ke Tenggarong, dia akan bekerja sama denganmu, Lea," sambungnya.

"Ta... Tapi pak...."

"Leanna... Aku sangat yakin kalian bisa bekerja sama dengan baik." Kalandra menepuk punggung Leanna.

"Kalau begitu, terima kasih atas kesempatan ini, Pak Kalandra." Elver menyahut sambil tersenyum.

"Kita memang punya rencana, memulai eksport kelapa sawit ke Amerika tahun depan... Cukup sulit...  Semoga Kamu bisa mengurus tim ini dengan baik, Elver."

"Saya akan berusaha sebaik-baiknya, Pak." Elver yakin.

"Bu Leanna adalah atasanmu. Kamu bisa bertanya banyak hal kepadanya jika mengalami kendala atau kesulitan." Kalandra berdiri dan menyerahkan mapnya kepada Tira.

Elver tidak menjawab lagi.

Sedang Leanna hanya bengong, sepertinya interview ini sudah berakhir. Itu artinya Elver sialan ini positif akan mengisi posisi wakil di kantornya?

"Aku harus kembali.." ucap Kalandra mendekati Elver. Elver pun berdiri dan bersalaman dengan Kalandra.

"... Apa ini?" Kalandra menyibakkan jas yang dikenakan Elver, dia melihat noda merah yang menyebar di kemeja. Elver langsung menatap dingin ke arah Leanna.

"Ada wanita gila di gedung ini. Dia menumpahkan lipstik di kemeja saya, Pak Kalandra," jawab Elver. Mendengar Elver menyebutnya wanita gila, Lea kembali naik darah, padahal jelas-jelas dia tidak sengaja!

"Oh, permulaan yang bagus. Mungkin kamu sudah diberi tanda wanita itu sebagai miliknya," seloroh Kalandra diakhiri ketawa yang lumayan keras. Leanna dan Elver langsung bergidik.

"Hah?" Sialan! Mana mungkin! Batin Elver langsung merinding melihat Lea. Dia benar-benar tidak menyukai wanita ceroboh seperti Leanna. Apalagi dari penampilannya saja, Leana terlihat tidak waras

"Ha ha ha, Pak Kalandra selalu suka berbicara aneh," sahut Lea pun ikut pura-pura tertawa. Batinnya jelas menolak! dia langsung merasa alergi dengan pria muda dan angkuh ini!

"Kalau begitu, sampai jumpa Elver... Bu Leanna..." Kalandra keluar ruangan rapat, begitu pula dengan Tira.

Leanna dan Elver membalas lambaian tangan pak Direktur sambil tersenyum palsu. Setelah pintu tertutup, mereka berdua langsung membisu dan kembali menunjukkan ekspresi sinyal kebencian.

"... Sialan! Kamu hampir saja membuat semunya kacau!" Elver kesal dan membuka jas yang dikenakannya.

"Hahaha... " Lea tidak perduli, dia memilih mengambil ponselnya. "Baiklah, aku juga pergi," Lea segera berdiri.

"Heh! Kamu harus tanggung jawab dengan kemejaku!" Elver melempar wajah Lea dengan jas yang dipegangnya.

"Kamu tidak tahu sopan! hah? Aku ini atasanmu!" Lea juga kesal. Dia melempar balik jas ke arah Elver.

"Atasanku? Hei... Aku belum mulai untuk kerja. dan kamu harus ganti kemejaku!" Elver mendorong bahu Lea dengan kasar, sampai-sampai Lea merasa kesakitan.

Lea melotot... Elver memang serius meminta ganti kemejanya. "Aku ganti! Aku ganti! Jangan menyentuhku atau mendorongku dengan kasar!"

---

Leanna meringis melihat nota yang diberikan kasir. Demi Tuhan, dia tidak rela jika harus mengganti kemeja merek gambar kuda itu seharga Rp1.765.000,00. Batinnya menangis keras!

"Sepertinya aku apes hari ini." Lea menitikkan air mata penyesalan. Siapa yang mau memberikan barang semahal ini! Apalagi untuk pria kasar dan angkuh yang menuduhnya sengaja mengotori kemejanya!

"Ok. Ini kemejaku, kamu bisa membuangnya." Elver melemparkan tas berisi kemeja yang bernodanya ke kaki Leanna.

"Kamu..." Lea hampir saja meneriakinya. Kalau saja mereka di luar mall, sudah pasti Lea menamparnya dan menginjak lehernya dengan sepatu heels miliknya! Bukannya berterima kasih, pria kampret ini malah memperlakukannya seperti manusia rendahan!

Elver hanya berwajah ketus sambil merapikan kancing lengannya. Tanpa basa-basi, dia langsung meninggalkan Leanna tanpa sepatah kata.

---

Bab 3

---

"... sakit?"

"Ti... Tidak."

"Kamu yakin ini tidak sakit?" Nona D menekan ujung heels merahnya. Pria dengan mata tertutup itu mengeluh, dia menahan suaranya. Urat lehernya seakan memanjang hingga menekan otot perutnya yang menegang. Dia menahan injakkan Nona D di dekat tulang selangkanya.

"Tidak ini sama sekali tidak sakit! Teruskan!" Erangnya. Kedua tangannya mencengkram tali pengikatnya, dia memaksa refleks tubuhnya. Jelas terlihat bekas siksaan yang menyakitkan, meninggalkan ruam-ruam di tubuhnya. Tetapi hal itu malah membuatnya bertambah gila dan minta dipuaskan rasa ketagihannya.

"Nona D..." Pria itu menggeliat, dia mempunyai lekuk tubuh yang kencang dan fit. Otot-otot perutnya timbul dipamerkannya, sebagai bukti bahwa dia rajin berolahraga. Pria itu lebih melebarkan kedua pahanya... Tampaknya kejantanan pria itu sudah sangat terangsang. Gairahnya melonjak sangat tinggi.

Nona D tersenyum senang, ekspresi tersembunyi di balik topengnya.

"Anak nakal! Kenapa kamu begitu terangsang?" Nona D melecutkan pemukul kulitnya ke udara seperti suara petasan yang berbunyi keras. Pria dengan mata tertutup itu tampak terkejut tetapi semakin kegirangan. Napasnya terus menderu, terlihat dari gerakan dada dan perutnya yang bergerak cepat.

"Saya anak nakal! Saya anak nakal! Tolong hukum saya, Nona D!" Pekiknya, tanda dia sangat haus ingin segera dipuaskan.

"Lihatlah, batang kotormu itu mengotori sepatuku!" Nona D mengusapkan sepatunya di sekitar kejantanannya. Dia memukulkan lagi pecut kulitnya, kali ini lebih dengan keras sebagai hukumannya!

Pria berumur 35 tahun itu mengerang, reaksi napasnya tertahan di perut hingga dadanya. Pria itu gelisah dan menggerakkan pinggulnnya, dia terlihat sangat erotis. Mata Almond setengah terpejam, mengimbangi berat tekanan birahinya. Nona D tahu, pria ini sedang menikmati rangsangannya.

"Beri aku lebih, Nona D!" Suaranya gemetar, tetapi bukanlah tanda dia ketakutan.

Sekali lagi, Nona D melecutkan pemukul itu dan mendarat lebih keras. Bekas merah memanjang di dadanya meninggalkan jejak memar. Pria itu melenguh dan meracau berat, rasa gelisahnya semakin membumbung.

Nona D menarik kuat pemecut dari kulit itu, menahan dengan tangannya. Sebelum meneruskan permainannya, dia memperhatikan kondisi pria di bawah tubuhnya terlebih dahulu.

"Nona D... Hukum saya lebih kuat!" Pintanya, urat di keningnya tampak mengurat keluar. Peluhnya mengucur deras. Pria seksi ini sangat menyukai sensasi menyakitkan dari rasa perih itu.

Nona D tertawa, dia langsung duduk di atas perut rata pria itu.

"Sabar! Apakah kamu sudah hampir keluar anak bodoh?" bisik Nona D sambil mengusapkan ujung pemecut itu ke mulutnya.

Pria itu mengangguk, dia pasrah saat Nona D memasukkan ujung pemecut itu ke dalam mulutnya.

"... Kamu bodoh sekali. Apa orang tuamu tidak pernah mengajarimu untuk bersabar? Kenapa Kamu ingin permainan ini berakhir?"

Nona D menarik kuat ring penjepit yang sudah terpasang pada puting pria itu. Pria itu langsung berteriak karena tidak menyangka penjepit itu ditarik paksa. Tetapi, bukannya kesakitan dia malah menyukainya. Nona D bisa melihat pori-pori kulitnya timbul karena merinding, pria ini sangat seksi.

"Nona... Nona...!" Erangannya terdengar gelisah.

Nona D dengan cepat langsung menarik penjepit itu sekuat-kuatnya hingga terlepas. Pria itu memekik, dia mengerang berat hingga kepalanya terangkat. Dengan mata yang tertutup dan tangannya yang terikat, tentu dia tidak bisa melakukan apapun. Tubuhnya mengejang menyambut klimaksnya. Cairannya akhir itu melompat jauh mengenai tubuh Nona D.

"Ini yang kedua kalinya..." Goda Nona D sambil memainkan puting pria itu dengan pemecutnya.

"Demi Tuhan, aku menyukainya," desah pria itu. Napasnya berat tersenggal-senggal, dia masih menikmati puncak klimaksnya.

Nona D membuka ikatan mata pria yang dia tidak ingat namanya itu. Pria itu melekatkan pandangan, berusaha menembus mata di balik topeng hitam itu. Bagianya Nona D sangatlah luar biasa.

"Aku sangat menyukaimu," ucap pria itu. Dia tersenyum terlihat sangat puas.

Nona D hanya tertawa, lalu menegakkan tubuhnya. Dia masih duduk di atas perutnya dan memainkan lekuk otot yang sempurna di perut pria yang sudah menikah itu.

"Tubuhmu luar biasa indah," pria itu menatap seluruh tubuh Nona D yang memakai lingerie seksi berwarna dan transparan. Dia bisa melihat jelas puting berwarna cokelat manis itu.

"Sudah saatnya kamu pulang." Nona D melepaskan ikatan tangan pria itu.

"... Apakah aku bisa mendapat jadwal lagi?"

"Tidak tahu... Apa kamu tidak takut cidera karena terlalu sering bermain?" Nona D beranjak dari atas tubuhnya. Langkahnya terlihat genit, seraya dia mengambil rokok di atas meja

"Cukup susah mencari pemain seperti dirimu." Pria itu mengusap bekas memar di dadanya. Dia mengambil pematiknya dan cepat-cepat menyalakan rokok Nona D.

"... Aku menyukai sikapmu tidak pernah tertarik berhubungan seks dengan submisif," bisiknya. Matanya merayapi lagi topeng Nona D, dia sangat penasaran dengan sosok asli Nona D. Dia hampir mencium bibir Nona D.

"Cobalah, mendaftar lagi... Semoga beruntung..." Nona D menjauhkan tubuh pria itu dengan kaki jenjangnya. Pria itu tertawa, dia mengangkat kedua tangannya. Permainan mereka memang usai. Jika dia memang Nona D, penjaga di luar kamar hotel akan menembaknya mati.

Pria tampan itu pun mengambil pakaiannya yang tercecer, lalu meninggalkan beberapa lembar uang dollar di atas kasur, padahal dia sudah mentransfer sejumlah uang yang banyak untuk biaya bermain. Nona D bersikap kaku, menunggunya selesai berpakaian... sampai pria itu keluar dari kamar hotel.

"Ah, akhirnya! aku benar-benar mengantuk," Leanna menghela napas panjang dan membuka topengnya kucingnya. Lea merasa konyol. Dia mengisap sisa rokok terakhirnya, padahal... sebenarnya dia tidak terlalu suka merokok.

"... Submisif malam ini cukup tampan dan berbadan bagus. Sayang, dia tidak pernah klimaks saat berhubungan seks dengan istrinya," Leanna berbicara sendiri sambil merapikan beberapa barang bermainnya yang tercecer. Tatapan Lea terhenti, dia memandangi dirinya di depan cermin. Senyumnya tersungging dingin.... Penampilannya memang terlalu seksi dengan pakaian dalam yang transparan itu. Nona D memang menggoda...

Leanna adalah salah satu "Pemain" dalam aplikasi online bernama Hadiah. Aplikasi ini hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu dan anggota yang berani menggelontorkan biaya yang cukup mahal. Hadiah menawarkan permainan berbeda bagi siapa pun yang mencari kepuasan orientasi seks yang berbeda, yang tidak mungkin di dapan dalam kehidupan nyata. Aplikasi itu akan memilih pemain dan sang submisif yang mendaftar secara acak. Nona D atau inisial lain Leanna, adalah pemain khusus untuk para submisif.

Terdengar ketukan pintu. Leanna cepat-cepat memungut topengnya yang dia lempar ke lantai. Penjaga mengintip. "Kami harus segera merapikan barang-barang..."

"Iya... Aku sudah selesai," ucap

Lea sambil memakai mantel untuk menutupi tubuhnya, tidak lupa dia memasukkan tips uang Dollar tadi ke dalam tasnya. Tidak berapa lama ponselnya berbunyi lagi... dia mengabaikannya.

---

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

Rahasia

Bab 1
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED