Wanita muda berusia dua puluh empat tahun, tinggi sekitar seratus enam puluh delapan sentimeter, berkulit kuning langsat dengan rambut bergelombang yang di gelung tinggi di atas kepala, memperlihatkan leher jenjangnya dengan sebuah tato kupu-kupu kecil di bagian tengkuk menambah keindahan bagi setiap orang yang memandangnya.
Kaos berbahan straight tanpa lengan melekat sempurna di tubuh elok miliknya di padu dengan setelan celana hotpants yang memperlihatkan kaki mulus rampingnya dengan bentuk tubuh secara proporsional milik wanita muda bernama Angelina Wijaya.
Saat dirinya keluar dari sebuah mobil berwarna merah maroon yang terparkir di depan toko bakery yang disinggahi, beberapa pasang mata memandang ke arahnya. Tampak jelas di dalam mobil, seorang lelaki memakai topi dengan kaca mata hitam, menunggu di tempat parkir itu dengan kondisi mesin mobil masih tetap menyala.
Beberapa saat kemudian, Angel, panggilan akrab dari Angelina Wijaya. Keluar dari toko bakery berjalan menuju mobil yang masih menyala kemudian ia pun masuk ke dalam mobil tersebut dan mobil pun melaju ke jalanan yang terlihat padat merapat.
Di dalam mobil tampak Angel menyuapi lelaki yang sedang menyetir dengan sepotong roti sobek keju. Angel juga terlihat mengambil tissue untuk membersihkan sudut bibir lelaki itu dari remahan roti yang masih tersisa.
“Hmmmm.. Slow Sayang.., bibirku tidak bisa memuat semua potongan dari roti itu.., kecuali beberapa potongan bagian tubuhmu yang seksi itu,” ujar lelaki itu sambil tersenyum nakal.
Mendengar ocehan lelaki itu, Angel tersenyum penuh arti, lalu memandang lelaki itu lewat tatapan tajam dari kedua bola matanya yang indah dan berkata, “Dasar perayu.”
Lelaki yang disebut perayu oleh Angel, tertawa menggoda dengan pandangan tetap fokus pada jalanan yang semakin padat di sore hari.
“Mas Tito, kapan bisa ajak Angel jalan-jalan ke Singapura? Cuma janji-janji aja, Aah...”
Lelaki yang dipanggil Tito oleh Angel adalah seorang lelaki yang berusia empat puluh lima tahun, dengan postur tubuh tinggi dan bentuk tubuh yang sangat di jaga dalam penampilannya. Dia adalah Tito Khaidir, pengusaha muda dibidang kuliner yang telah mempunyai seorang istri dengan dua orang anak.
Tetapi dia memiliki hubungan spesial dengan Angel. Dan pertemuan mereka pertama kali terjadi, kala Angel bekerja sebagai marketing pada sebuah perusahaan otomotif. Bertemu dalam ajang pameran mobil keluaran terbaru. Dan Tito adalah salah seorang customer yang di rayu oleh Angel untuk membeli salah satu jenis mobil keluaran terbaru.
Sejak saat itu, hubungan mereka pun menjadi bertambah dekat. Entah karena cinta yang memang tumbuh diantara mereka atau karena nafsu semata. Dan semua itu hanya mereka sendiri yang tahu ke mana arahnya.
“Hmmmm akhirnya sampai juga di apartemen cinta kita,” ciuman mesra Tito mendarat mesra di pipi ranum Angel.
Mereka keluar dari mobil, menuju lift untuk sampai ke lantai tujuh. Sesampai di dalam lift, Tito menekan tombol nomor tujuh seraya meraih pinggang Angel yang kian merapat ke tubuhnya.
Sesaat kemudian pintu lift pun terbuka dan mereka menuju kamar apartemen mereka pada nomor 701. Tito langsung membuka pintu kamar itu dan masuk ke dalam apartemen lalu menggiring Angel ke ranjang mereka, untuk melampiaskan hasrat kerinduan sesaatnya.
Tito yang sudah tidak bisa membendung hasratnya langsung menciumi Angel dalam setiap jengkal tubuhnya dalam desahan hasrat yang dalam. Angel yang mendapatkan sentuhan Tito, menyambut setiap sentuhan dengan membalas mencium lelaki itu dengan bergairah.
Lalu mereka pun melambung jauh pada hasrat yang kian menggebu dengan memberikan sensasi dalam hasrat cinta sesaat yang kian menggelora.
“Sayang... kamu yang di atas yaa,” kecup mesra Tito setelah puas dalam memainkan sensasinya pada tubuh Angel yang telah polos.
Angel dengan tubuh eloknya melakukan apa yang menjadi keinginan kekasih hatinya. Mereka pun berpacu dalam hasrat, hentakan tubuh Angel dengan liukkan membuat kelelakian Tito bertambah tegang.
“Aarrhhh.., terus sayang.., Ouuwhh.., nikmatnya, hemmm,” cercau Tito dalam setiap hentakan yang dilakukan Angel dengan bibir yang menyesap dan memainkan dua gundukan kenyal kian menegang.
Sampai akhirnya, erangan panjang Angel dan Tito mengisi seluruh ruang kamar itu saat Angel semakin keras menghentakan bokongnya dan bibir Tito pun terus menyesap secara bergantian gundukan kenyal itu.
“Ouuwhh.., Aaaoouuhh.., Mas..,” Angel menggelinjang dengan memutarnya perlahan sedangkan kedua tangan Tito menekan pinggul Angel yang masih diatas tubuhnya.
“Aaarrhhhh..., Ooowwhhh, Angel..! Pekik Tito sambil menyesap bibir Angel di antara desahan dan derup jantung yang kian berpacu dengan kenikmatan yang terhambur hangat dalam percintaan mereka.
“Hebat...kamu yaa,” bisik Tito memeluk dan kembali memberikan kecupan kecil pada bibir ranum Angel, memperlihatkan kepuasan atas permainan Angel.
“Mas menginap yaa malam ini,” rajuk Angel sambil melepas pelukannya beranjak dari tempat mereka bercinta menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tidak ada jawaban atas pertanyaan Angel. Lelaki itu hanya memandangi tubuh elok Angel, berjalan tanpa sehelai kain, menghilang ketika masuk ke kamar mandi. Sekembalinya Angel dari kamar mandi, Tito pun beranjak dari ranjang kenikmatan itu untuk membersihkan diri.
Setelah itu, terlihat Tito memakai seluruh pakaiannya. Lalu dia pun menjawab, “Maaf sayang... sepertinya aku tidak bisa bermalam disini, besok aku ada janji untuk mengajak anak-anak bertemu dengan kakek-nenek mereka.”
Angel yang masih tidur-tiduran di pembaringannya menutup seluruh tubuhnya yang masih tanpa busana dengan selimut tebal berwarna biru tua, ia mendengarkan penjelasan lelaki yang baru saja selesai bercinta dengannya bersiap-siap pergi dari apartemen mereka.
Hubungan yang telah terjalin selama satu tahun setengah ini sama sekali tidak memberikan kemajuan, malah kemunduran. Dulu ketika baru pertama kali Tito menyatakan cinta dan kasih sayangnya, dalam sebulan dua sampai tiga kali Tito berbohong pada istrinya dengan alasan ada urusan keluar kota hanya untuk bisa merengkuh rasa cinta yang masih membara.
Setelah satu tahun tampak makin terasa perubahannya, walaupun dalam finansial Tito masih mencukupinya, tetapi kebutuhan batin Angel kian berkurang seiring dengan perjalanan waktu cinta mereka, “Angel...koq melamun seperti itu, aku janji... kalau ada kesempatan pasti aku akan menemani dirimu satu sampai dua hari.”
“Jangan terlalu banyak berjanji mas, sudah banyak janji yang enggak jadi kenyataan,” Angel merajuk dengan menutup seluruh wajahnya dengan selimut tebal.
Melihat kekasih gelapnya merajuk, Tito menghampiri dan duduk disisi ranjang kenikmatan mereka. Tito membuka selimut yang menutupi bagian wajah Angel. Setelah membuka selimut itu, ia lalu mencium kening Angel dan membisikkan kata-kata rayuannya.
“Sayang, aku serius akan membuat rencana yang lebih matang, untuk keluar negeri sama kamu, agar bisa menikmati malam indah bersamamu.”
Setelah itu, Tito pun beranjak menuju pintu keluar apartemen pulang ke rumahnya.
“Sayang...aku pergi dulu yaa,” ucap Tito, sesampai di pintu keluar ia melambaikan tangan ke arah Angel.
Sesaat Angel masih terdiam dan berbaring di ranjangnya. Ia kembali memikirkan kelangsungan dari hubungan gelap yang sudah satu tahun lebih. Tidak adanya kepastian dari Tito membuat hati Angel gusar. Setiap habis bercinta, Angel selalu membahas masalah kelanjutan hubungan mereka, hanya saja Tito belum bisa memberikan arah yang pasti. Padahal Angel ingin Tito menjadikannya istri ke dua.
Seperti sahabatnya yang kini berbahagia, walaupun menjadi istri ketiga dari bandot tua yang selama ini menidurinya. Bahkan bandot tua itu memberikan seorang anak lelaki yang kini baru berusia satu tahun.
Sahabatnya bernama Siska, yang dulu bekerja sebagai marketing di perusahaan otomotif juga. Mereka menjadi sahabat sejak duduk di bangku Sekolah Lanjutan Atas. Dan mereka pun sama-sama melanjutkan kuliah di Universitas yang sama.
Hanya saja selera dan pandangan mereka tentang lelaki jauh berbeda. Angel suka dengan lelaki yang rapi, wajah yang karismatik, mapan tetapi tidak terlalu tua sekali darinya. Sedangkan Siska, melihat lelaki dari sudut pandang yang berbeda.
Pagi ini Angel pulang ke rumah orang tuanya. Dia membawa beberapa potong pakaian, dia berencana akan berada di rumah orang tuanya satu minggu. Setelah membawa beberapa perlengkapan dan beberapa potong pakaian, lalu dia memesan taxi untuk pergi ke rumah orang tuanya.
Setelah memastikan seluruh peralatan listrik yang digunakan telah dimatikan. Dia pun meninggalkan apartemen menuju lift untuk sampai ke lobby. Sesampai di lobby, taxi yang dipesan pun telah sampai. Di dalam taxi, ia langsung menghubungi mamanya.
“Ma, Angel sudah on the way menuju rumah, mama masak apa hari ini?”
“Mama hari ini masak sayur asem, cumi goreng kesenangan kamu.”
“Aduh, Angel jadi lapar Ma...,” dengan manja ia berkomentar tentang makanan yang dimasak mamanya hari ini.
Selama ini, jika Angel pulang ke rumah, mamanya selalu memasak makanan kesukaannya. Kerinduan Angel pada masakan mamanya membuat ia, bisa dua sampai tiga kali bolak balik rumah dan apartemen. Karena selezat apa pun masakan yang dibelinya, masakan mamanya tetap juara.
Perjalanan ke rumah mamanya memakan waktu sekitar satu jam untuk hari Sabtu dan minggu. Tetapi untuk hari jam sibuk bisa memakan waktu sekitar dua jam. Dalam perjalanan Angel kembali mengingat perkataan dari Tito.
Miris sekali hatinya, karena selama ini dia pikir, Tito serius akan hubungan yang telah mereka rajut selama satu tahun lebih. Kenyataannya setelah mereka berhubungan selama satu tahun lebih, Tito memintanya untuk tidak menghubunginya selama satu bulan, karena ketakutan atas kecurigaan istrinya pada hubungan cinta mereka.
Dulu, Tito sering mengeluh pada Angel, tentang istrinya yang tidak bisa mengurus anak-anak, senang Shopping, kumpul dengan teman-tannya dan jarang melayaninya kebutuhan batin Tito sebagai suami. Waktu itu Angel berharap bisa menggantikan posisi nyonya Tito seperti yang sering kali ditanyakan tentang kelangsungan hubungan mereka.
Angel yakin kelak Tito akan menyunting dirinya. Bagi Angel menjadi istri dari lelaki keren, mapan seperti Tito bukanlah suatu musibah, bahkan dianggap sebagai berkah. Dan teman-teman di sanggar senam pun sudah mengetahui status dari Angel dan Tito.
Angel yang berkumpul dengan ibu-ibu di sanggar senam telah terbiasa berbagi cerita tentang apa pun, bahkan masalah ranjang mereka. Berbagi tip untuk membuat pasangan agar tetap betah di ranjang adalah topik yang biasanya jadi bahan lelucon di antara mereka.
Ada juga teman sanggar senam yang mengingatkan Angel agar memaksa Tito menikahinya, hanya saja selama Tito belum pernah membahasnya. Jika Angel membahas masalah itu, yang diterima olehnya cuma janji belaka. Keseriusan Tito sewaktu menjalin cinta dengannya terlihat pada awal jalinan cinta terlarang yang masih menggebu dan penuh hasrat.
Keseriusan Tito kala itu terlihat sewaktu ia meminta Angel berhenti bekerja dan menjamin kehidupan lahir batinnya. Sejak saat itu Angel tinggal di sebuah apartemen milik Tito. Dan mereka sudah seperti pasangan suami istri walaupun tanpa selembar kertas yang legal.
Selama ini, Angel tidak pernah mengenalkan Tito pada mamanya sebagai teman dekat atau pun hanya teman biasa. Angel juga mengaku masih bekerja di perusahaan otomotif. Dan ini adalah awal dari satu kebohongan kecil tentang pekerjaan, lalu berlanjut dengan kebohongan-kebohongan lain yang sering kali meluncur dari bibirnya ketika bercerita pada mamanya.
Keresahan hati Angel sekarang ini, disebabkan Tito yang tidak mengizinkan menghubunginya. Selama ini tidak pernah sekali pun hal itu terjadi dan hal ini jelas sangat membuat hatinya terluka. Perjalanan cinta terlarang mereka yang telah berjalan setahun lebih seakan-akan ter-nodai dengan larangan menghubungi lelaki yang menjadi pengharapan masa depannya.
Padahal selama ini, Angel selalu memberikan cinta, perhatian dengan ketulusan walaupun cinta yang diberikan oleh Angel bukanlah cinta biasa. Angel sebelumnya menyadari konsekuensi mencintai lelaki beristri, hanya saja cinta di hati telah membutakan logikanya dalam berpikir wajar.
“Maaf Non, sudah sampai,” ucap sopir taxi.
“Eehh... iya pak, terima kasih, ini biaya taxi nya, kembaliannya ambil saja.
Terima kasih banyak Non,” sahut sopir taxi itu kembali.
Angel keluar dari dalam taxi, menuju pintu pagar yang tidak tergembok. Dilihatnya tanaman bunga-bunga di depan teras rumah bermekaran. Terasa indah dipandang mata, dan ada rasa ketenangan ketika melihat bermacam bunga yang tertata rapi dengan pot yang sesuai dengan jenis tanaman.
Ketika memasuki pintu rumah itu, Angel serta merta memanggil mamanya, “Maa...Angel sudah sampai.”
Tidak didengarnya ada sahutan, Angel pun langsung menuju dapur. Aroma cumi yang digoreng menghantarkannya ke dapur. Di lihat mamanya sedang asyik menggoreng cumi asin tanpa menyadari kehadirannya.
“Maa... sudah matang apa belum?”
Seketika mama menoleh ke belakang mendengar suara yang tidak asing lagi. Dan tersenyum manis dan melambaikan tangannya meminta Angel masuk ke dalam ruang memasak, “Sini... Bantu mama.”
Angel pun bergabung ke ruang masak, terlihat ia sedang mengulek sambal pada sebuah cobek yang telah berisi bahan yang sudah disiapkan.
“Angel, nanti mama akan coba sambal buatan kamu yaa.”
“Pasti enak laah Ma.”
“Kalau sudah bisa bikin sambal enak, berarti kamu bisa mengurus suami kamu dengan baik.”
Angel yang sedang malas membahas tentang hubungan bikin sambal dengan mengurus suami, tidak menimpali kembali ucapan mamanya. Ia terus saja mengulek sambal hingga terlihat halus. Selesai itu, ia membantu menggoreng tempe dan tahu.
Setelah selesai mereka menata hidangan di meja makan, dan makan bersama. Ketika menikmati makanan itu, mamanya bercerita akan bertemu dengan teman lamanya dan meminta Angel ikut menemani karena papanya sedang pulang ke kampung menjenguk neneknya yang sudah sangat sepuh.
“Angel, mama mandi dulu, apa kamu enggak mandi lagi?” tanya mama.
“Yaa sudah mama mandi cepat sana, Angel masih harum, jadi enggak perlu mandi lagi,” jawab Angel dengan tersenyum manis ke arah mamanya.
Angel beranjak ke ruang keluarga, mengambil beberapa album foto yang diletakan di dalam sebuah lemari kaca di samping meja televisi. Terkadang Angel sangat merindukan masa kecil, masa remaja. Ia adalah anak bungsu dari tiga bersaudara.
Kedua kakak lelakinya telah menikah dan tinggal di luar kota, sehingga mamanya hanya tinggal bersama papanya. Ia merasa kasih sayang kedua kakak lelakinya telah lenyap ketika mereka menikah dan mempunyai anak.
Hubungan mereka tidak seperti dulu lagi. Angel merasa kakaknya sibuk dengan keluarga kecilnya dan terlalu banyak menghabiskan waktu bersama istri dan anak mereka. Terkadang mamanya sering mengeluh tentang kurang perhatian kakaknya pada mama setelah mereka menikah.
Kalau sudah demikian, dalam pikiran Angel, ingin sekali ia menikah dan hidup bersama mamanya, agar ia bisa membahagiakan mamanya, dengan kehadiran cucu yang jarang mereka temui dari kakaknya.
“Angel..., kemari,” panggil mamanya dan Angel berjalan ke kamar mama dan melihat mamanya sedang mencoba beberapa pakaian.
“Mama.., seperti akan ketemu pacar saja, sampai mencoba beberapa pakaian untuk ketemu teman lama,” ucap Angel.
“Apa mama akan bertemu dengan mantan masa sekolah dulu?” Angel menggoda mamanya yang terlihat, melotot ke arahnya.
“Bagusan yang warna biru muda apa ungu?” tanya mamanya.
“Yang ungu aja maa.. lebih bagus bahan bajunya dan lebih cocok dipakai mama,” jawab Angel.
Selesai berpakaian dan memoles tipis wajah mamanya Angel masih terlihat cantik, walaupun separuh abad telah dilaluinya. Angel yang telah membersihkan diri pun telah mengganti pakaiannya selaras dengan warna baju yang akan dikenakannya.
“Maa... coba lihat, sudah cocokkan dengan baju yang mama pakai,” tanya Angel.
“berdandanlah sedikit Angel, agar wajahmu terlihat segar,” ujar Andini.
Angel lalu berdandan ala kadar nya saja. Karena memang perasaan hatinya sejak kemarin hingga kini tidak bisa dibohongi kalau dia merasa ada yang telah berubah dari Tito. Setelah selesai mereka pun pergi dengan menggunakan taxi.
Sesampai di sebuah rumah mewah, mereka pun keluar dari taxi menuju pagar rumah yang telah dijaga oleh dua orang security di pos jaga sebelum memasuki pagar tinggi berwarna hijau terang.
Dilihat seorang security menghubungi seseorang, lalu mereka dipersilakan masuk. Memasuki pintu gerbang tinggi berwarna hijau terang membuat Angel dan mamanya sangat takjub dengan keindahan interior dari rumah mewah itu.
Jalan menuju rumah itu adalah sebuah jalan yang terus menanjak. Dimana kanan dan kiri dari jalanan itu tertanam bunga mawar merah yang bermekaran. Batu sikat dengan motif bintang membuat keindahannya menyatu dengan bunga-bunga mawar.
Sesampai di depan rumah tampak lima anak tangga menuju teras dengan tiga empat pilar besar yang ditempel dengan paras yogya berwarna kuning muda membuat rumah mewah itu terlihat kokoh berdiri walaupun ada guncangan yang akan menggoyahkannya.
Sesampai di tangga ke lima mereka langsung disambut oleh pemilik rumah. Dia adalah tante Yuni, sahabat karib mamanya Angel, sewaktu masa sekolah. Tante Yuni terlihat lebih muda dilihat dari usianya.
“Andini, apa kabar...?” peluk cium kedua sahabat itu pun terjadi, dan mereka kembali mengulang berpelukan. Terlihat rasa kangen yang demikian sangat bagi mereka berdua.
Angel yang berdiri di antara kedua wanita paru baya itu hanya tersenyum menyaksikan pemandangan itu. Lalu Angel diperkenalkan dengan tante Yuni. Wanita cantik pemilik kemewahan rumah itu membimbing mereka memasuki kemegahan pada bagian dalam rumah itu.
Dalam hati Angel berdecap kagum dengan interior dan furnitur yang tertata rapi. Mereka dipersilakan duduk pada kursi yang terlihat sangat besar dengan ukuran badan mereka.
“Dini, putrimu cantik sekali,” ucap Yuni memandang ke arah Angel sambil tersenyum ramah.
“Terima kasih tante,” singkat jawab Angel ketika mendapatkan pujian atas kecantikannya.
Mereka pun bercerita banyak tentang banyak hal, dan Angel sebagai pendengar setia yang sesekali tertawa ketika mendengarkan ulasan cerita masa lalu mereka. Kurang lebih tiga puluh menit kemudian datang seorang pria muda seumuran dengan Angel masuk ke ruang tamu.
“Andi, sini Nak... Kenalkan ini teman mama.” Yuni meminta putranya berkenalan dengan Angel dan mamanya.
“Tampan sekali putramu Yun,” ujar Andini.
Mendengar pujian dari tamu yang baru dikenalnya membuat Andi tersenyum lebar dan menimpali perkataan dari mamanya Angel.
“Setiap lelaki memang tampan, tante,” seloroh Andy tertawa.
Mereka akhirnya tertawa bersama. Lalu Yuni meminta putranya untuk membersihkan diri, karena ia ingin putranya turut serta dalam makan siang. Andi pun undur diri dari ruang tamu dan bergegas membersihkan diri.
Dan mereka pun kembali dalam percakapan yang berlanjut hingga Andi telah siap membawa mereka ke restaurant sesuai perintah mamanya.
Mereka akhirnya tertawa bersama. Lalu Yuni meminta putranya untuk membersihkan diri, karena ia ingin putranya turut serta dalam makan siang. Andi pun undur diri dari ruang tamu dan bergegas membersihkan diri. Dan mereka pun kembali dalam percakapan yang berlanjut hingga Andi telah siap membawa mereka ke restaurant sesuai perintah mamanya.
Mereka tiba di restaurant yang telah dipesan sebelumnya oleh Yuni. Setelah berbicara dengan bagian reservasi mereka mengikuti pramusaji untuk menunjukkan meja yang telah dipesan sehari sebelumnya.
“Silakan..., Saya dengan sri... nanti ibu bisa memanggil saya ketika akan memesan,” ucap seorang Pramusaji.
Pramusaji itu membagikan daftar menu pada ke empat tamu yang telah duduk di kursi yang telah di dudukinya. Lalu pramusaji itu pun berlalu dari hadapan mereka. Terlihat mereka membaca menu, lalu pemuda yang bernama Andi melambaikan tangan memanggil pramusaji yang saat ini sedang berdiri disudut menunggu panggilan mereka.
“Yaa pak, ada yang akan di pesan?” tanyanya dengan membawa bolpain dan notes.
Mereka lalu menyebutkan beberapa menu yang ingin mereka makan, setelah itu pramusaji pun berlalu dari hadapan mereka. Sambil menunggu makanan disajikan, obrolan pun berlanjut di meja makan antara sahabat lama yang saling merindukan.
Andini mama dari Angel terlihat antusias mendengarkan cerita dari Yuni, mereka berbagi informasi tentang teman-teman semasa sekolah yang hidupnya sukses ataupun yang terpuruk, bahkan ada beberapa teman mereka yang telah berpulang kepada Sang Pencipta.
Sedangkan Angel dan Andi hanya berbicara tentang Kesibukan mereka masing-masing dan membahas tentang hal yang sedang jadi pembicaraan di kalangan anak muda.
Pembicaraan mereka terhenti ketika pramusaji datang ke meja itu untuk menyajikan hidangan di meja sesuai dengan pesanan. Lalu pramusaji kembali menyebutkan satu persatu menu yang telah di pesan.
“Ibu... sudah semua menu yang dipesan telah disajikan ya, apa ada yang akan dipesan kembali?” tanya pramusaji tersebut.
“Yaa.. telah lengkap menunya, untuk saat ini cukup,” ucap Yuni setelah mengecek semua pesanannya.
“Baik... selamat menikmati, Terima kasih.”
Pramusaji itu pun meninggalkan meja itu. Mereka langsung menyantap hidangan yang terlihat mengudang selera. Beberapa kali Yuni, mengambil beberapa makanan dan diletakkan pada piring Andini.
“Coba makan ini Din, biar tubuhmu lebih berisi,” ucap Yuni pada Dini yang memang terlihat kurus di usianya.
Andini yang mendengar ucapan Yuni hanya tersenyum melihat ke arahnya. Dalam hati Andini, sahabat karibnya pasti akan mengorek habis masalah yang dihadapi selama perpisahan mereka. Apalagi Yuni sudah memperhatikan tubuhnya yang memang kurus.
Setelah selesai menyantap hidangan, mereka kembali bercakap-cakap, lalu mereka pun meninggalkan restaurant menuju mobil yang terparkir. Sesampai di dalam mobil, Yuni berkata pada Andini,” Din, kita jalan ke Mal yaa.”
Andini yang mendengar permintaan sahabat karibnya hanya mengangguk tanda setuju. Mobil pun meluncur ke sebuah Mal besar. Tiga puluh menit kemudian, mereka sampai pada sebuah Mal besar. Yuni, Dini dan Angel melangkah masuk ke dalam Mal sedangkan Andi memarkirkan mobilnya.
Terlihat Yuni menggandeng tangan Andini dengan erat. Sedangkan Angel berjalan di belakang mereka, mengikuti langkah kedua wanita paruh baya yang sedang melampiaskan kerinduan dengan jalan bergandengan tangan.
Entah persahabatan seperti apa yang telah mereka rajut sampai membuat keduanya begitu merindukan satu sama lain.
Mereka akhirnya duduk pada sebuah bangku yang tersedia di sekitar toko yang berjejer di dalam Mal.
“Angel, kita duduk disini dulu ya.. sambil menunggu Andi,” pinta Yuni.
Angel ikut duduk di sebelah mamanya, lalu terdengar Yuni menghubungi Andi dan memberitahukan keberadaannya. Sekitar sepuluh menit kemudian, terlihat Andi berjalan menghampiri mereka. Setelah itu, mereka berjalan menyusuri beberapa toko yang berjejer menyajikan berbagai kebutuhan konsumtif.