Malam di Djakarta Club terasa memekakkan telinga. Dentuman musik electronic dance music (EDM) yang menggelegar berpadu dengan sorotan lampu neon yang berkedip-kedip, menciptakan atmosfer surga semu bagi para pencari kesenangan. Di salah satu sudut private lounge, seorang pria muda berwajah tampan dengan tatapan dingin duduk sendirian. Ia adalah Rayden, pewaris tunggal kerajaan bisnis Wijaya Group. Hari ini, ia kembali merasa hampa, meskipun dikelilingi oleh keramaian.
Rayden menyesap habis scotch di gelasnya, lalu menuangkan lagi, tanpa ragu. Hatinya terasa kosong, setelah pertengkaran hebat dengan ayahnya. Ayahnya menuntut Rayden untuk segera bertunangan, menikah dengan wanita yang ia pilihkan, demi kepentingan bisnis. Rayden muak dengan semua itu. Ia ingin kebebasan, ia ingin hidup sesuai keinginannya, bukan boneka yang diatur ayahnya. Ia terus minum, seolah ingin menenggelamkan semua masalahnya dalam alkohol.
Beberapa gelas kemudian, Rayden merasa kepalanya mulai pening. Dunia di sekitarnya terasa berputar. Ia menyadari dirinya sudah mabuk, namun ia tidak peduli. Ia hanya ingin melupakan segalanya, bahkan jika hanya untuk sesaat.
Di tengah kekacauan pikirannya, matanya menangkap siluet seorang wanita di kerumunan. Wanita itu menari dengan anggun, tubuhnya lentur, seperti penari profesional. Ia mengenakan gaun mini ketat berwarna merah yang membalut lekuk tubuhnya dengan sempurna. Rambutnya terurai panjang, menutupi sebagian wajahnya, namun Rayden bisa melihat senyum misterius di bibir wanita itu.
Rayden bangkit dari duduknya, berjalan sempoyongan mendekati keramaian. Ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wanita itu. Ia merasa ada dorongan aneh yang menariknya, sesuatu yang lebih kuat dari rasa mabuknya.
Wanita itu merasakan tatapan Rayden. Ia berbalik, lalu menatap Rayden dengan mata berbinar. Wajahnya cantik dengan riasan minimalis. Ia tersenyum tipis, lalu mengulurkan tangannya. Rayden menyambut uluran tangan itu.
"Kenapa sendirian di sini?" bisik wanita itu, suaranya lembut, namun terdengar sangat sensual di telinga Rayden.
Rayden tidak menjawab, ia hanya menatap wanita itu lekat. Meskipun penampilannya menggoda, matanya memancarkan kepolosan yang kontras.
Wanita itu tersenyum lagi. Ia melingkarkan tangannya di leher Rayden, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Rayden. "Ingin... bersenang-senang denganku?" bisiknya, suaranya serak.
Rayden merasakan gejolak gairah yang kuat. Ia menunduk, menatap bibir penuh wanita itu. Tanpa sadar, ia menempatkan tangannya di pinggang wanita itu, menariknya mendekat.
"Siapa namamu?" tanya Rayden, suaranya parau.
"Kau bisa memanggilku Vella," jawab wanita itu, lalu ia mencium leher Rayden, membuat Rayden merinding.
Rayden tidak bisa menahannya lagi. Ia menangkup wajah Vella, lalu mencium bibir wanita itu. Ciuman itu intens, liar, dan penuh gairah. Vella membalasnya dengan sama beraninya. Rayden tahu, ia sudah tidak bisa mengendalikan dirinya lagi.
Ia melepaskan ciuman itu, lalu menggendong Vella ke kamar hotel di lantai atas Djakarta Club. Vella hanya terkekeh, melingkarkan kakinya di pinggang Rayden, menikmati sensasi digendong oleh pria tampan dan gagah ini.
Sesampainya di kamar hotel mewah, Rayden menurunkan Vella di atas tempat tidur. Ia tidak membuang waktu. Ia mencium Vella lagi, kali ini lebih dalam, lebih menuntut. Rayden mencium Vella dengan liar, seolah ingin melampiaskan seluruh kekacauan di kepalanya.
Vella merespons setiap sentuhan Rayden. Tangannya dengan sigap membuka kemeja Rayden, lalu ia mengelus dada Rayden yang bidang, membuat Rayden mendesah.
"Kau sangat tampan, tuan," bisik Vella.
Rayden tersenyum. "Kau juga sangat cantik, Vella. Sangat cantik."
Rayden mencium leher Vella, lalu turun ke bagian tubuhnya. Vella melayani Rayden dengan sangat baik. Ia tahu cara memuaskan pria. Ia menciumi Rayden, mengelus Rayden, membuat Rayden hampir gila. Vella mulai membelai Rayden, lalu ia menunduk dan memanjakannya.
"Aahhh... Vella... ahh...." desah Rayden. Ia merasakan sensasi yang begitu kuat. Ia mencengkeram sprei, menikmati sentuhan Vella yang begitu profesional dan memabukkan.
Setelah beberapa saat, Rayden tidak bisa menahannya lagi. Ia menarik Vella ke atas, lalu memposisikan dirinya di atas tubuh Vella.
"Ahh... Rayden... pelan-pelan..." desah Vella, saat Rayden mulai memasukinya.
"Ahhh... sempit sekali... ahhhh..." desah Rayden, merasakan sensasi penuh dan hangat yang luar biasa. Ia mulai menggerakkan pinggulnya, perlahan pada awalnya, lalu semakin cepat.
"Ehhh... uhhh... ahhhh... lebih cepat Rayden... lebih cepat..." pinta Vella, suaranya serak. Ia mendesah, tangannya merangkul leher Rayden, melengkungkan tubuhnya ke atas.
"Ssss... ahhhhh... Vella... kau... membuatku gila..." desah Rayden, ia merasa hampir mencapai puncaknya. Ia menggerakkan pinggulnya semakin cepat dan kuat.
"Rayden... ahhhhhh... ahhh...." desah Vella. "Nikmat sekali... ahhhhh... lagi... lagi..."
Kamar itu dipenuhi oleh suara desahan mereka. Mereka berdua terhanyut dalam gairah yang membara. Tubuh mereka saling bergesekan, kulit bertemu kulit, menciptakan melodi kenikmatan.
Rayden merasakan puncaknya sudah dekat. Ia memeluk Vella erat, lalu ia melepaskan desahannya yang panjang saat ia mencapai puncak. Vella juga demikian, tubuhnya menegang, lalu lemas dalam pelukan Rayden.
Setelah beberapa saat, Rayden membaringkan Vella di tempat tidur. Ia memeluknya erat, menciumi rambut wanita itu.
"Kau... kau membuatku gila, Vella," bisik Rayden.
Vella tersenyum, lalu mencium pipi Rayden. "Aku tahu, tuan."
Rayden membaringkan dirinya di samping Vella, memeluknya erat. Ia merasa lelah, namun hatinya sedikit lebih tenang. Untuk sesaat, ia melupakan semua masalahnya.
"Berapa biayanya?" tanya Rayden, suaranya parau.
Vella menatap Rayden. "100 juta."
Rayden terkejut. Jumlah itu sangat besar untuk 'layanan' seperti ini. Namun, ia tidak peduli. Vella memang pantas mendapatkan lebih. Tanpa ragu, ia membuka ponselnya dan melakukan transfer.
"Sudah," kata Rayden, singkat.
Vella tersenyum misterius. Ia bangkit, lalu mengenakan gaunnya kembali. Rayden menatapnya dengan bingung. Vella mengambil tas kecilnya, lalu berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia berbalik, menatap Rayden dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Suatu hari nanti... kita akan bertemu lagi, Rayden. Dengan cara yang lebih baik," bisik Vella, lalu ia menghilang di balik pintu, meninggalkan Rayden sendirian di kamar hotel, diliputi kebingungan dan rasa ingin tahu yang besar.
Vella melangkah keluar dari Djakarta Club, membiarkan angin malam menerpa wajahnya. Dinginnya udara Jakarta tidak sebanding dengan panasnya sensasi yang ia rasakan beberapa menit lalu. Ia menatap layar ponselnya, membaca notifikasi transfer yang masuk. Jumlahnya membuat bibirnya melengkung tipis. Seratus juta. Tidak ada tawar-menawar, tidak ada keraguan, hanya transfer yang cepat. Vella tersenyum penuh kemenangan.
Sesampainya di gang sempit menuju kosannya, Vella sudah disambut oleh sosok yang familier. Ibu Tini, pemilik kosan dengan wajah masam dan tangan terlipat di dada, sudah menunggunya.
"Vella! Mau sampai kapan kamu menghindar, Nak?" seru Ibu Tini dengan suara nyaring. "Sudah sepuluh bulan kamu nunggak! Kalau kamu nggak bisa bayar, lebih baik angkat kaki saja!"
Vella berjalan santai mendekati Ibu Tini, mengabaikan tatapan mata tetangga yang mengintip dari balik jendela. Ia meraih tas kecilnya, lalu mengeluarkan sejumlah uang tunai.
"Ini, Bu," kata Vella sambil menyerahkan uang jutaan itu. "Tunggakan sepuluh bulan, lunas. Malah ini ada kelebihan sedikit untuk Ibu, beli camilan."
Mata Ibu Tini membelalak melihat tumpukan uang di tangannya. Ia menggeser uang itu dengan jari, seolah tidak percaya. Kerutan di dahinya langsung menghilang, digantikan oleh senyum yang terlalu lebar.
"Astaga, Vella! Kok tiba-tiba dapat uang sebanyak ini?" tanya Ibu Tini, suaranya kini melunak.
Vella hanya mengangkat bahu. "Rezeki, Bu."
Ibu Tini ingin bertanya lebih jauh, tetapi tumpukan uang di tangannya lebih menarik perhatian. "Syukurlah kalau begitu. Penting lunas, ya sudah."
Vella hanya tersenyum dingin, lalu melangkah masuk ke kamarnya, meninggalkan Ibu Tini yang masih terheran-heran. Di dalam kamar kos yang sempit dan pengap, Vella menjatuhkan dirinya di kasur. Bau keringat dan asap rokok dari luar masih tercium, tetapi ia sudah terbiasa. Ia memandangi langit-langit, pikirannya kembali pada pria semalam.
Rayden.
Nama itu terngiang di kepalanya. Selama ini, banyak pria yang mencoba menawarnya, tetapi tidak ada yang berani membayar mahal. Mereka semua menawar rendah, seolah ia bisa dibeli dengan harga murah. Namun, Rayden berbeda. Pria itu memberikan jumlah yang ia minta tanpa protes, bahkan tanpa bertanya. Siapa sebenarnya dia? Apakah ia begitu kaya sampai seratus juta itu tidak berarti apa-apa? Atau... apakah ia melihat sesuatu yang berbeda darinya?
Pikiran itu terus mengganggu Vella hingga ia tertidur.
Cahaya matahari yang menembus jendela membangunkan Vella. Ia bangkit, menyambut hari baru yang jauh berbeda dari malamnya. Ia mandi, memakai kemeja kebesaran dan celana jins belel, lalu mengikat rambutnya dengan asal. Vella yang ini adalah Vella yang berbeda. Di kampus, ia dikenal sebagai mahasiswi yang bar-bar, berani, dan tidak kenal takut. Ia tidak memakai riasan tebal, dan bahasa tubuhnya jauh dari kata sensual.
Saat berjalan di koridor kampus, Vella berjalan tergesa-gesa. Ia menunduk, fokus pada ponselnya, hingga...
BUGH!
Vella menabrak seseorang. Ponselnya jatuh, dan ia langsung mendongak, siap memaki-maki.
"Jalan tuh pakai mata! Atau otak lo masih di rumah?!" seru Vella, suaranya keras.
Pria yang ia tabrak hanya tersenyum santai. Vella baru menyadari siapa pria itu. Tubuhnya seketika menegang. Wajah tampan itu, senyum sinis itu... Rayden!
Rayden menunduk, mengambil ponsel Vella yang terjatuh. Ia menyerahkannya sambil menyeringai. "Wow, Vella. Ternyata kamu versi siang lebih garang ya," goda Rayden, suaranya berat dan mengintimidasi.
Wajah Vella memerah karena kesal. Jantungnya berdebar, bukan karena malu, melainkan karena amarah. Bagaimana bisa ia bertemu pria ini lagi? Apalagi di kampus!
"Tutup mulutmu! Ini kampus, bukan tempat sampah kayak bar semalam!" balas Vella, ia mengambil ponselnya kasar.
Rayden hanya terkekeh, tidak terusik sama sekali. "Sampah-sampah juga kamu ikut main, kan? Apa aku perlu ingatkan lagi betapa liar dan memabukkannya kamu semalam, Vella?" bisik Rayden, mendekatkan wajahnya.
Vella melangkah mundur, matanya memancarkan api. "Jangan macam-macam!"
"Kenapa? Bar-bar itu bukan sifat aslimu, ya?" goda Rayden, lalu ia mengedipkan sebelah matanya dan berlalu pergi, meninggalkan Vella yang berdiri kaku, diliputi kemarahan dan kebingungan.
Vella berjanji, ia akan membuat Rayden menyesali pertemuan mereka di siang hari ini.
Kemarahan Vella tidak mereda bahkan saat ia memasuki kelas. Pikirannya masih dipenuhi oleh wajah Rayden yang menyebalkan. Ia duduk di bangku paling belakang, menumpuk buku-buku di meja, berharap bisa menyembunyikan wajahnya. Ia tidak menyangka akan bertemu pria itu di kampus, tempat di mana identitas gandanya begitu ia jaga ketat.
Tak lama kemudian, pintu kelas terbuka dan seorang dosen paruh baya masuk, diikuti oleh seorang pria yang Vella kenali dengan sangat baik. Rayden.
Vella mendengus, merasa takdir sedang mempermainkannya. Ia membenamkan wajahnya di balik tumpukan buku, berharap Rayden tidak melihatnya.
"Selamat pagi, semuanya. Hari ini kita kedatangan mahasiswa baru pindahan dari luar negeri," kata Dosen Nata, memecah keheningan kelas.
Rayden berdiri di depan kelas, dengan senyum tipis di wajahnya. Tatapannya menyapu seluruh ruangan, dan entah bagaimana, Vella merasa mata itu berhenti sejenak padanya, seolah-olah Rayden tahu persis di mana ia bersembunyi.
"Silakan perkenalkan diri," pinta Dosen Nata.
Rayden mengangguk. "Nama saya Rayden Wijaya. Panggil saja Rayden."
Reaksi di kelas hening sejenak, lalu terdengar bisik-bisik. Nama Wijaya Group terlalu terkenal untuk diabaikan. Rayden adalah pewaris tunggal kerajaan bisnis yang bergerak di mana-mana. Vella mendengus. Pantas saja pria itu tidak peduli soal 100 juta. Uang sebanyak itu tidak ada artinya baginya.
"Baik, Rayden, silakan cari bangku kosong," kata Dosen Nata.
Rayden mengangguk, lalu pandangannya langsung tertuju pada satu-satunya bangku kosong yang tersisa. Bangku di sebelah Vella. Vella yang kini menunduk dalam-dalam.
Dengan langkah santai dan percaya diri, Rayden berjalan ke arah Vella. Ia menarik kursi di sebelahnya, membuat suara berderit yang mengalihkan perhatian semua orang di kelas, termasuk Vella. Rayden menjatuhkan tasnya di lantai dengan suara keras, lalu ia duduk.
Vella tetap menunduk, berpura-pura sibuk dengan buku-bukunya. Rayden mencondongkan tubuhnya ke arah Vella.
"Masih marah?" bisik Rayden, suaranya pelan, tetapi Vella bisa merasakannya. Aroma cologne mahal menguar dari tubuh Rayden, aroma yang sama seperti semalam.
Vella mengabaikannya. Ia membalik halaman bukunya dengan kasar.
Rayden tidak menyerah. Ia meletakkan tangannya di atas tumpukan buku Vella. "Aku pikir setelah semalam, kita bisa lebih akrab. Setidaknya, jangan mendiamkanku seperti ini."
Vella mengangkat kepalanya, matanya memancarkan amarah. Ia menatap Rayden tajam, seolah-olah ia bisa membakar pria itu dengan tatapannya.
"Pergi," desis Vella.
Rayden menyeringai. "Wow. Bar-bar itu bukan akting, kan? Atau itu bagian dari layanan spesialmu?"
Wajah Vella memerah padam. Ia mengepalkan tangannya di bawah meja, menahan diri untuk tidak meninju wajah Rayden. Ini tempat umum, tempatnya menutupi diri. Ia tidak boleh lepas kendali.
"Layanan apa?" tanya Vella, berpura-pura tidak mengerti.
Rayden tertawa pelan. "Layanan yang harganya 100 juta. Aku rasa kamu sangat mengingatnya, Vella."
Vella merasa semua orang di kelas menatapnya. Padahal, hanya imajinasinya saja. Ia menendang kaki Rayden di bawah meja. Tendangannya tidak main-main.
"Aduh," Rayden pura-pura meringis. "Galak sekali, ya. Beda sekali dengan Vella yang aku gendong semalam."
"DIAM! Ini kampus! Jangan bicara sembarangan!" bisik Vella, suaranya bergetar karena emosi.
Rayden hanya tersenyum. "Aku tahu, ini kampus. Jadi, mari kita mulai babak baru, Vella. Babak baru di siang hari. Aku tidak sabar menunggu kamu melayani aku di sini."
Vella tidak bisa menahan kekesalannya lagi. Ia menggertakkan giginya. "Tunggu saja. Aku akan membuatmu menyesal sudah menggangguku," ancam Vella.
Rayden hanya mengangkat bahu, seolah ancaman Vella tidak berarti apa-apa. Ia mengambil ponselnya, lalu mengulurkan tangannya pada Vella.
"Tanganmu gemetar. Butuh minum?" goda Rayden.
Vella mengabaikan uluran tangan Rayden. Ia kembali menunduk, mengepalkan tangan sekuat-kuatnya. Ia tidak akan membiarkan Rayden menghancurkan kehidupan yang sudah ia bangun dengan susah payah. Ia tidak akan membiarkan dirinya jatuh lagi.