“Seharusnya ... Ini dijelaskan bersama dengan orangtua juga,” ucap sang dokter yang kemudian menghela napasnya.
Rena mulai mengerutkan dahinya sembari terus menatap gerak-gerik dokter yang terlihat sedikit gusar.
“Udah, Dok. Jelasin sekarang aja. Orangtua saya udah lama pisah. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Toh ini juga enggak akan ngerubah apapun kalau hasilnya jelek,” desaknya penasaran.
“Berdasarkan hasil USG tadi, saya melihat bahwa uterus kamu hmmm ...Maksud saya rahim kamu ukurannya kecil dan tidak berkembang sebagaimana mestinya. Jadi diagnosis yang ditegakkan oleh dokter Cintya tak salah lagi,” jelas dokter itu sembari menatap lekat kedua manik mata Rena.
Wajahnya berubah sendu dengan mata yang sudah memerah usai mendengar penjelasan barusan. Hasil diagnosis dokter kedua yang dia kunjungi tak ubahnya dengan yang pertama. Rena menggeleng lemah lalu menundukkan wajahnya perlahan.
Sebelumnya dokter Cintya sudah menjelaskan tentang sindrom MRKH yang sejatinya dialami oleh 1 banding 5000 wanita di dunia. Sindrom yang merupakan singkatan dari Mayer Rokitansky Kuster Hauser ini biasanya baru terdiagnosis setelah pasien mengeluh tidak kunjung mendapatkan menstruasi di usia pubertasnya. Pun hal itu yang menjadikan Rena untuk menerima saran Fina agar mengunjungi dokter sejak minggu lalu. Berkat saran dari sang kakak yang merupakan seorang dokter bedah, Fina segera mengajak sahabatnya untuk membuat janji dengan dokter Cintya.
“Untuk sindrom itu obatnya ...”
“Enggak ada obatnya ‘kan?” potong Rena yang sudah kembali mendongakkan wajahnya.
Sang dokter mengangguk, “Tetapi masih bisa ditangani dengan cara lain. Di Indonesia bisa dilakukan pembuatan saluran sehingga nanti pasien bisa melayani suami mereka. Yah, meskipun ...”
“Udah, Dok. Enggak usah diterusin. Enggak bakalan ada yang mau nerima aku. Kecuali nanti cuma dijadikan alat pemuas nafsu mereka aja. Cowok mana yang enggak mau punya anak setelah menikah? Dokter juga bakalan nolak ‘kan?” ujar Rena sembari menyeka air matanya yang hampir menetes.
“Ren, kamu yang sabar. Jangan ngomong gitu,” kata Fina yang sekarang sedang menemani sahabatnya itu.
Sang dokter hanya diam lalu menyodorkan hasil pemeriksaannya ke sisi meja yang berdekatan dengan Rena.
“Untuk lebih jelasnya akan dilakukan pemeriksaan MRI dan lainnya, silakan datang kalau sudah siap,” ucap sang dokter sebelum Rena dan Fina beranjak dari tempat duduk mereka.
“Thanks, Dok.”
Setelah mengucapkan kalimat itu Rena memilih meninggalkan ruangan terlebih dulu. Dia kemudian berlari ke arah taman hijau yang berada di belakang tempat praktik sang dokter. Niatnya yang tadi hendak mendinginkan pikiran malah tak tersampaikan saat melihat beberapa pasangan yang wara-wiri di sekitarnya.
Rena menatap nanar seorang perempuan yang tengah hamil tua bersama sang suami yang berada di sisinya. Jelas sudah senyum kebahagian tercetak sempurna dari sepasang calon orang tua itu. Sayang sekali keadaan demikian rasanya mustahil akan bisa ia rasakan. Mimpinya untuk bisa hidup bahagia bersama keluarga kecil di masa depan perlahan menguap begitu saja.
“Ren, kamu di sini ternyata,” kata Fina usai mengembuskan napasnya lega.
Fina tadi sempat khawatir kalau sahabatnya yang satu itu akan berbuat nekad. Entah melakukan hal aneh atau apapun yang dicemaskan akan membahayakan Rena sendiri. Kedua gadis yang sama-sama berusia 17 tahun itu hanya diam menatap hamparan rerumputan hijau yang menenangkan mata. Fina tak ingin banyak bicara untuk saat ini. Dia membiarkan Rena untuk menikmati pemandangan yang ada di hadapan mereka.
Hingga turunnya hujan membuat Fina segera menarik lengan Rena yang mungkin tak menyadari air yang perlahan turun itu.
“Kenapa hidup aku kacau gini ya? Bahkan kedua orangtua juga kayaknya enggak aware kalau aku mati,” decak Rena usai menepikan diri dari hujan.
“Ren, kamu masih punya aku.” Fina menarik tubuh mungil sang sahabat ke pelukannya.
“Hiks, a-aku enggak tahu harus gimana lagi. Rasanya hancur, Fin. Padahal bulan lalu aku senang banget karena Kak Bara ada niatan serius buat ke depannya. Sekarang semua berubah. Rasanya ...Ah,” decak Rena frustrasi.
“Sabar ya, Ren,” isak Fina yang juga merasakan bagaimana hancurnya perasaan Rena.
***
“Masih belum terlambat. Aku harus bisa akhiri hubungan ini,” gumam Rena yang sedang mematut dirinya di depan cermin.
Tangan kanan lentiknya menyambar ponsel yang berada di atas nakas. Nama kontak Fina menjadi tujuannya saat ini.
[“Halo, Ren. Tumben banget weekend udah nelepon, hoamm.”]
“Iya, sorry kalau ganggu. Please bantuin aku, Fin.”
[“Bantuin apaan?”]
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Rena sudah duduk santai dengan pakaian atas yang sedikit terbuka pada bagian dadanya. Tak lupa rok pink cerah bergaris dengan ukuran mini yang panjangnya hanya sejengkal tangan orang dewasa saja.
“Jeno, makasih ya udah bantu. Meskipun aku sempat nolak jadian, kamu enggak nyimpan dendam sama sekali,” ucap Rena sembari menggenggam tangan si pria dengan senyuman manisnya.
“Rena!!” pekik seorang pria lain dengan rahang yang sudah mengeras.
Jakunnya naik-turun usai mengamati tingkah sang kekasih dengan pria yang merupakan saingannya sedari dulu.
Rena seolah tergagap namun seringai kecil berhasil ia berikan, “Kak Bara, uhmm. Sorry kalau akhirnya ketahuan juga.”
Pria bernama Bara itu hanya berdecih sembari menatap tubuh mungil Rena yang dibungkus dengan pakaian serba kekurangan di hadapannya.
“Cewek murahan kamu. Dasar matre,” hardik Bara dengan mata berapi-api.
Rena berusaha melengkungkan bibirnya, “Well. Aku cuma mau realistis aja. Enggak mungkin kayaknya aku bisa bertahan sama cowok dari pengusaha yang hampir bangkrut.”
Baru saja Bara hendak mengangkat tangannya ke udara, pria yang ada di samping Rena menghentikannya seketika.
“Jangan kasar, Bro sama cewek.”
Bara menggeram, “Shit. Aku benci kamu, Ren. Kamu lihat aja, bahkan semua wanita nanti akan tunduk di bawahku. Termasuk kamu si cewek matre.”
Bara menunjukkan jari telunjuknya ke wajah Rena yang masih setia dengan senyuman tipisnya. Selang beberapa detik pria itu pergi setelah menumpahkan air mineral ke hadapan si gadis.
“Ya ampun, are you okay?” tanya si pria bernama Jeno yang menemani Rena sebelumnya.
Rena menggeleng sambil tersenyum, “Aku baik-baik saja. Thanks ya, Jen.
“Cara ini tapi salah, Ren.”
“Aku tetap enggak peduli.”
***
Sebelas tahun kemudian ...
Usai melakukan pemeriksaan table set up yang diperintah oleh sang manager, perempuan dengan rambut yang dicepol ke atas itu segera mendudukkan diri di tepi meja. Senyumnya langsung terbit sembari menghela napas pelan setelahnya.
Sudah empat bulan dia bekerja di hotel bintang lima sebagai seorang asisten dari manajer Food and Beverage yang lebih akrab disebut dengan manajer F&B. Membantu sang atasan dalam mengkoordinasikan kegiatan yang dilakukan antara bagian dapur, layanan, dengan bagian depan yang bertugas menjamu tamu. Tentu saja awalnya itu tidaklah mudah bagi perempuan yang bernama Serena Queen Adhisty. Banyak orang mengira dia sengaja menjual tubuhnya pada sang direktur agar mendapatkan posisi sebagai asisten manajer.
Seolah tak peduli dengan berita miring yang menerpa dirinya, perempuan yang akrab dipanggil Rena itu tetap saja bekerja seperti biasa. Seperti sekarang dia terus saja fokus pada acara ulang tahun salah satu pemilik usaha kilang minyak di Indonesia yang akan segera dilangsungkan.
“Gimana, Ren? Semua udah oke?” tanya Tommy-sang manajer.
“Everyting is okay, Sir. Saya sudah melakukan semua sesuai dengan perintah Anda,” jawab Rena sambil mengulum senyumnya.
Tommy bergumam lalu meninggalkan bawahannya itu tanpa berkata apa-apa lagi.
Sementara itu di waktu yang bersamaan seorang laki-laki berkulit putih dengan dimples yang sedikit terlihat di wajahnya sedang menaik-turunkan kedua alis secara bergantian. Menatap para divisi hotel yang sedang mengemukakan hasil laporan akhir bulan mereka. Tak lama kemudian senyum tipisnya terbit karena tak ada masalah pelik yang membutuhkan penanganan khusus.
“Ada lagi agenda untuk hari ini?” tanyanya dengan raut wajah datar.
Sang sektertaris yang sekarang menjadi pusat perhatiannya menjadi salah tingkah. Dia menahan napas sejenak usai menatap kedua manik mata tajam milik sang atasan.
“Tidak ada, Pak. Semua sudah sesuai dengan yang diagendakan sebelumnya,” jawab sang sekretaris.
Rapat usai setelah lelaki yang bertindak sebagai seorang general manager itu ke luar dari ruangan. Disusul oleh sang sekretaris yang kini mengekorinya dari arah belakang.
“Pak,” seru sang sekretaris dengan sedikit ragu.
Sang atasan tak menjawab dan segera bergegas menuju kantornya.
“Katakan,” ucapnya usai mendudukkan diri di kursi.
“Hari ini ada acara ulang tahun Putri dari Tuan Aroon di hotel kita. Beliau mengundang Bapak untuk turut hadir. Saya rasa alangkah lebih baik Anda menghadirinya. Sudah lima tahun beliau mempercayakan hotel ini untuk merayakan pesta keluarganya,” terang sang sekretaris.
“Well, aku akan menyapanya. Jam berapa acara itu dimulai?” tanyanya.
“Jam tujuh malam ini, Pak. Untuk jadwal Bapak ke depan sudah saya kosongkan,” jawab sang sekretaris dengan singkat.
“Kau —”
“Maaf, Pak. Saya hanya —” ucapan itu segera terpotong saat melihat tatapan tajam dari sang atasan.
“Sudahlah. Lain kali tanya dulu sebelum bertindak. Aku benci diatur seperti ini,” tandas lelaki yang sekarang sudah berwajah masam itu.
“Keluar sekarang!” titahnya tanpa memandang lagi sang bawahan.
Tak lama kemudian ponselnya berdering. Dia menatap sinis ke arah layar lalu mengabaikannya begitu saja. Hingga yang ke sekian kali barulah dia menerimanya dengan terpaksa.
[“Kenapa lama sekali mengangkat telepon? Aku dengar dari Jenny ...Kau yang akan menghadiri pesta itu bukan?”] tanya seseorang dari arah seberang.
[“Iya.”]
[“Baguslah. Setidaknya aku tak lagi perlu menggantikanmu untuk menghadiri pesta. Bara, mulai sekarang bertindaklah seperti seorang pemimpin yang bertanggung jawab. Jangan terus menyusahkanku.”]
Tak ada jawaban selain gumaman belaka.
[“Bara, apa kau mendengarku hah?”]
[“Sudahlah. Kakak terlalu banyak bicara.”]
Tuut ...Tuut...
Panggilan itu terputus secara sepihak.
Adibara Erlangga. Lelaki yang kerap disapa Bara itu bukan lagi sosok manis yang ramah pada setiap orang yang dia temui. Sebelas tahun ternyata tak mampu membuatnya beralih pada kehidupan yang sudah lama dilaluinya hingga seperti sekarang. Dia hanya mampu bersikap lembut pada sang Mama yang sayangnya sudah tiada sekarang.
Sebenarnya dia masih memiliki Tora sebagai sang Kakak dan seorang Ayah yang masih bisa dijadikan tempat untuk berbagi. Sayangnya Bara bahkan tak pernah mengutarakan masalahnya pada kedua lelaki yang merupakan keluarganya itu.
Lima belas menit lagi acara akan segera dimulai. Bara yang sama sekali tak keluar dari ruangannya sejak tadi sore mulai mematut diri di depan cermin. Aroma parfum maskulin menyeruak hingga ke setiap sudut ruangan. Tampak sekali sang GM sudah mengganti pakaiannya setelah menyegarkan diri di ruang pribadi yang berada tepat di samping ruang kerjanya.
“Malam, Pak,” sapa beberapa orang yang berpapasan dengannya.
Hanya gumaman yang diberikan tanpa memandang siapa sang penyapa. Begitulah yang selalu dilakukan oleh sang atasan berwajah dingin itu.
“David,” seru Bara sambil menoleh sang asisten yang tetap setia di sampingnya.
“Ya, Tuan, hadiah yang Anda pesankan sudah saya berikan ke bagian sesi acara,” lapor David seolah tahu apa yang hendak ditanyakan oleh sang atasan.
“Good job. Ayo kita percepat kehadiran di pesta itu,” ujarnya yang segera memasuki lift khusus para petinggi hotel.
Meskipun kota Medan sedang diguyur hujan deras, kemeriahan acara tidak terganggu sama sekali. Apalagi memang konsep keseluruhannya diadakan di dalam hotel Erlangga yang super mewah di kawasan ibu kota Sumatera Utara ini.
Sementara di bagian selatan arah mata angin, Rena tampak sedang berbicara dengan para waiter dan waitress dalam meeting singkat yang dibentuknya. Memastikan kembali agar idenya dapat berjalan sesuai dengan rencana sedari awal. Jujur saja dia begitu gugup karena ini adalah kali pertamanya mendapatkan tantangan langsung dari sang direktur dan manajer.
“Tegang banget,” sapa seorang perempuan yang baru saja menepuk pundaknya.
Rena tercekat sejenak, “Amel, jangan buat aku jadi tambah panik nih.”
“Calm down, Ren. Acara ini bakalan seru. Apalagi kamu udah ngatur konsepnya beda dari tahun kemarin. Mister Aroon bakalan suka. Enggak monoton kayak yang udah-udah. Keren,” puji Amel- teman Rena semenjak dirinya memulai karir sebagai waitress hingga sekarang.
Rena terus saja memantau acara yang sudah berlangsung sejak setengah jam yang lalu. Bahkan dia juga tak segan untuk menggantikan peran waitress untuk sekadar memberi contoh pada para bawahannya.
“Bagaimana Tuan acaranya? Apakah menurut Anda bagus? Konsepnya ditawarkan langsung oleh asisten baru pak Tommy,” kata sang direktur bagian divisi B&F pada Bara.
Anggukan diberikan oleh sang atasan. Dia pun tersenyum pada Tommy sekilas.
“Meskipun baru diangkat empat bulan, dia melakukan tugasnya dengan baik. Pilihan Bapak Direktur benar-benar amazing,” puji Tommy yang kini sudah melirik ke arah sang direktur divisi itu.
“Sebentar ya, Pak, saya ingin mengucapkan terima kasih secara langsung padanya,” pamit Tommy.
“Sampaikan salam saya juga ya,” sahut Pak Direktur.
Tommy pamit undur diri lalu menghampiri Rena yang tengah asyik mengobrol dengan para tamu undangan.
Awalnya Bara hanya memalingkan wajahnya sekilas pada sang pemilik acara. Namun seketika alisnya bertaut dan dahinya pun mengerut. Rahangnya mulai mengeras saat melihat sosok yang pernah ada dalam hidupnya. Perempuan itu tengah tersenyum pada salah seorang tamu.
Di saat yang bersamaan Tommy sudah tiba di dekat Rena pun kini mengucapkan rasa terima kasihnya. Pemandangan itu sukses membuat membuat Bara tersenyum devil. Tangannya mengepal diiringi dengan anggukan kepala sekaligus.
“Welcome to my kingdom,” ujarnya sambil terus menatap sosok itu dari kejauhan. “David, kemarilah. Ada tugas penting untukmu sekarang. Lakukan dengan benar dan jangan sampai gagal.”
“Makasih, Pak,” ucap Rena saat Tommy memuji hasil kerjanya.
Pria itu mengangguk, “Oh ya, ada pak GM juga di sini. Bukan Pak Tora lagi kayak yang biasa hadir.”
Senyum Rena yang tadinya merekah perlahan memudar saat mendengar penuturan dari sang manajer.
“Terusin kerjanya, saya mau nemenin pak GM dulu,” pamit Tommy yang segera berlalu meninggalkan Rena.
Perempuan dengan setelan pakaian merah maroon itu segera mengangguk pelan. Pasalnya dia juga belum tahu siapa sebenarnya sang GM yang dibicarakan. Apalagi baru tiga bulan hotel yang yang menjadi tempatnya bekerja itu beralih pimpinan. Entah mengapa perasaan tak nyaman muncul begitu saja karena mendengar penuturan dari sang manajer barusan.
Dugaan Rena sepertinya benar. Keadaan tidak sedang baik-baik saja. Salah satu waiter menyampaikan kendala hingga membuatnya harus berpikir cepat dan keras.
“Ini mungkin ulah Wiwid, Ren. Dia ‘kan suka banget mancing emosi kamu,” ujar Amel yang mendengar pembicaraan.
“Masa sih? Awas aja kalau emang dia dalangnya,” decak Rena hampir frustrasi.
Belum lagi gadis itu menentukan langkah, Tommy sang manajer langsung menampakkan raut wajah cemasnya. Rena tergagap lalu mendesah pelan.
“Kenapa bisa gini, Ren? Bukankah semua udah diatur?” tanya Tommy masih berusaha menunjukkan kesabarannya.
“I-iya, Pak. Maaf, saya juga enggak tahu. Dessert-nya udah dipesan sejak jauh hari, tetapi malah yang datang kenapa rasa cokelat ya. Saya akan tanya bagian chef langsung,” ucap Rena yang segera pamit undur diri.
Sementara di bagian barat ruangan pria berkulit putih tengah menyugar rambutnya ke belakang. Dia terus menikmati wajah Rena yang sudah menampakkan kegelisahan. Siapa lagi kalau bukan Bara orangnya. Satu-satunya lelaki yang justru baru menyadari kehadiran Rena di wilayah kekuasaannya saat ini.
Sempat terbesit di benaknya sebuah penyesalan karena tak pernah mengunjungi area restoran hotel Erlangga dengan segera. Kalau saja dia tahu bahwa sang mantan sudah di sana sejak awal maka dapat dipastikan ajang balas dendamnya lebih cepat terlaksana.
“Done?” tanya Bara yang kini melirik David sang bawahan.
“Ya, Tuan. Sesuai dengan intruksi,” jawab David sambil membungkukkan badan.
Dalam hati David terus bertanya mengapa justru sang GM yang ingin mengacaukan acara. Apalagi juga baru kali ini dia melihat lelaki yang sudah lama menjadi atasannya itu tersenyum penuh kemenangan. Sungguh terkesan lain dengan hari-hari biasanya. Bahkan kalau menang tender saja wajah yang terkenal dingin dan datar itu tak pernah secerah barusan.
Bagaikan disambar petir. Tuan Aaroon sang pemilik acara menampakkan raut wajah kecewanya. Sang putri semata wayang menumpahkan hidangan dessert yang tak sesuai dengan keinginan. Mungkin bagi kebanyakan bocah merupakan penggemar cokelat, sayangnya itu tak berlaku bagi dirinya sang penggemar rasa vanila.
“Fluffy vanilla cake. I don’t want another dessert,” ketus sang putri yang sudah melipat tangannya.
Acara yang tadinya meriah nan penuh warna kini sudah berubah menjadi suasana yang amat mencekam. Tuan Aaroon mengeluarkan sumpah serapahnya dan menuntut pihak hotel untuk mengganti rugi. Bukannya khawatir, Bara malah mengulum senyumnya. Oh, dia sukses membuat Rena merasa terpojokkan sekarang.
“Sorry, Ren. Tadi Pak Manajer bilang kalau kamu dipanggil ke ruangan Pak Direktur sekarang,” ujar Amel menampakkan wajah menyesalnya.
“It’s okay. Emang bakalan gitu juga, Mel. Sumpah deh. Aku bingung nih di mana titik salahnya. Sesimple itu loh padahal, hah,” keluh Rena yang kemudian segera menghilang dari pantry.
Jantung Rena semakin berdegup kencang saat melewati koridor hotel. Langkahnya semakin cepat karena penasaran dengan masalah pelik yang memang akan harus dihadapinya seorang diri.
Gadis dengan bola mata cokelat kehitaman itu langsung menundukkan wajah usai dipersilakan masuk. Tampak Sang Direktur menatap tajam ke arahnya.
Rena hanya mengangguk sembari mengucapkan kata maaf tiada henti. Dia tak tahu lagi harus berbuat apa. Bahkan posisinya terancam saat ini. Baru saja diangkat empat bulan menjadi seorang asisten manajer, Rena sudah mengecewakan Sang Direktur F&B.
Sudah lama gadis itu menunduk namun dia belum juga mendengar keputusan dari atasannya. Hingga sebuah ketukan terdengar dari arah luar membuat Rena mendongak sesaat.
“Masuk,” sahut sang direktur.
Dia bergumam saat sang sekretaris menyerahkan sebuah map biru lalu mengucapkan sesuatu yang tak terdengar oleh Rena sama sekali. Rena berusaha tersenyum miring saat melihat sang sekretaris menunjukkan seringai kecilnya.
Oh, gadis ini memang memiliki banyak musuh perempuan di sekitar tempatnya bekerja. Apalagi tatapan sinisnya yang jelas tak bersahabat. Itulah Rena yang memang sudah terbiasa dengan wajah angkuhnya. Apalagi sekarang dia hanya tinggal seorang diri di perumahan mungil tanpa bantuan dari orangtuanya. Kasus perceraian keduanya membuat Rena berubah menjadi sosok yang ketus dan tak suka berdekatan dengan banyak orang. Dia lebih memilih mendekatkan diri dengan teman tertentu saja. Seperti Fina dan Amel.
“Kamu disuruh untuk memilih. Keluar dengan cara tidak hormat atau mengganti kerugian hotel. Kalau keluar dengan cara tidak hormat bisa saja akan berakhir di penjara. Saran saya lebih baik gaji kamu yang dikurangi,” kata sang direktur.
Rena terhenyak sesaat. Menarik napas perlahan lalu membuangnya. Jelas saja kalau diberhentikan dengan cara tak hormat akan membuat dirinya kesulitan mencari pekerjaan baru. Belum lagi reputasinya akan hancur karena kasus yang baru saja dibuatnya. Tak ada pilihan lain selain amunisi kedua.
“Berapa kisaran biaya yang harus saya ganti, Pak?” tanya gadis berkulit putih itu memberanikan diri.
“Berdasarkan gaji kamu di sini tertulis kalau kamu hanya menerima gaji sebesar 30 persen saja. Sisanya akan bisa terlunasi setelah dua tahun kamu bekerja. Bagaimana?” papar Sang Direktur.
Rena menurunkan kedua bahunya yang sedari tadi tegang. Tak ada yang bisa dilakukan selain mengiyakan kalimat itu. Pastilah pesta sekelas tuan Aaroon memang menghabiskan banyak biaya. Malang sekali nasibnya hari ini.
“Besok pagi datanglah ke kantor GM. Saya juga akan ke sana. Kamu boleh pergi.”
***
Di sinilah Rena dan sang direktur menanti kedatangan sang GM. Gadis itu sudah menandatangani isi kontrak kerja yang baru tanpa berpikir lebih lanjut. Tentunya tak lagi membaca kalimat yang tertera di dalam dokumen itu.
“Pagi, Pak,” sapa sang direktur pada sang atasan tertinggi di hotel tempat mereka bekerja.
Beda halnya dengan Rena. Dia mematung diri dengan posisi bibir yang terkatup rapat. Wajahnya memucat karena menyaksikan pemandangan yang lama tak dilihatnya setelah sebelas tahun berlalu. Luka itu kembali menganga setelah dia menutupnya dengan susah payah. Pun begitu juga dengan si pria yang sekarang sudah berada tepat di hadapannya.
“Tinggalkan kami berdua, Pak. Saya ingin bicara empat mata dengan nona Serena Queen Adhisty,” tegas Bara tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah anggun Rena.
Sesuai dengan perintahnya. Tak ada satu pun yang berada di ruangan. Hanya Rena dan Bara yang saling menatap satu sama lain. Bahkan dalam hitungan detik mereka masih sama-sama menyelami kenangan yang telah terkubur lama itu.
“Hello, My Ex!” sapa Bara sembari menampilkan senyum devilnya.
Perlahan tubuh lelaki itu semakin mendekat hingga jarak yang tercipta hanya satu jengkal saja di antara mereka.
Sadar bahwa posisinya sedang dalam keadaan tak aman, Rena semakin melangkah mundur. Selang beberapa detik kedua bulu mata lentiknya bergerak cepat membuat kerjapan berkali-kali. Tubuhnya sudah mendarat sempurna di atas sofa. Beruntung lengan kanan Pak GM menyanggah ke sandaran tempat yang empuk itu. Entah apa yang terjadi kalau keduanya bertubrukan secara tak sengaja barusan.
Dengan susah payah gadis itu berusaha bangkit hingga berhasil membuat tubuhnya tegak berdiri. Helaan napas lolos begitu saja saat dirinya berhasil bergerak sedikit menjauh dari sang mantan sekaligus atasan tertingginya saat ini.
“Kenapa hmmm?? Kau terkejut 'kah?” tebak Bara dengan posisi bersidekap.
Dia tersenyum miring memandangi tubuh mungil Rena yang putih dan menawan itu. Merasa ditatap dengan keanehan jelas membuat sang empu tak nyaman. Dia tak tahu harus mengatakan apa. Menyapa atau malah kabur dari sang GM yang berkuasa penuh di tempatnya bekerja. Keduanya jelas merupakan pilihan yang membingungkan bagi Rena.
“Ma-af, apa yang perlu saya lakukan?” tanya Rena usai mengumpulkan keberaniannya.
Bara mengulum senyuman tipis, “Tidur denganku.”
Rena terhenyak sembari membolakan mata. Seketika wajahnya berubah merah padam hingga membuat kedua tangannya mengepal sempurna.
“Why? Enggak usah sok suci, sok polos gitu. Katakan berapa yang kamu minta. Saya bisa penuhi apa yang kamu mau. Bahkan gaji 30% kamu itu akan berubah dalam hitungan detik,” ucapnya straight to the point.
“Maaf, Pak. Saya —”
Ucapan Rena terjeda saat Bara berusaha menyentuh pundaknya. Refleks sang gadis menepis tangan kekar itu.
Sang atasan segera menggeram hingga tertawa dengan riangnya. Tentu saja gadis itu semakin bingung dengan tingkah laku absurd sang GM. Apakah dia benar-benar sudah tak waras?
“Ternyata keputusanku balik dari London benar, Sayang. Kamu sekarang ada dalam genggamanku. Beruntung juga kamu ada hutang ke perusahaan dan mengacaukan acara malam tadi.” Bara menatap nyalang perempuan yang selama ini memang masih bersarang di hatinya.
Hanya decakan pelan yang keluar dari mulut Rena. Dia bahkan merasa sudah terjebak di kandang harimau. Tak ada gunanya kabur selain menerima terkaman dari sang GM.
“Mau Kakak ....” Rena menghentikan ucapannya lalu mengatupkan bibir seketika.
“Mau kamu apa?” lanjutnya usai menyadari sesuatu.
Ini merupakan kali pertama dia mengucapkan kata ‘kamu’ pada lelaki yang ada di depan matanya sekarang. Beruntung gadis itu tak lancang melanjutkan ucapan ‘kakak’ untuk memanggil Bara.
“Mudah saja. Kau hanya perlu menemaniku tidur. Setelah itu kau akan mendapatkan apa yang kau mau,” jawab lelaki pemilik senyum dimples itu.
Rena terkekeh pelan, “Segitunya terobsesi sama aku ya. Enggak nyangka ternyata kamu belum move on juga. Padahal aku cuma anggap hubungan kita sekadar cinta monyet.”
Bara berdecih, “Whatever. Aku cuma penasaran aja sama tubuh kamu yang dipake Jeno. Let me know, Ren. Gaya apa favorit kamu? Misionaris, woman on top, doggy style. Yang mana hmmm?”
“Ups, sorry. Sayangnya kamu bukan tipe aku. I’m not interested in you anymore,” ucap Rena sambil mengerdipkan matanya.
Langkah kakinya yang hendak berjalan menuju pintu keluar mendadak terhenti saat lengannya dicekal kuat oleh sang mantan.
“Jangan lupa nanti sore, dandan yang cantik.”
Kedua alis Rena saling bertaut. Dia memicingkan mata sejenak lalu menyorotkan pandangan heran pada Bara. Apa maksud perkataan sang GM? Begitulah yang ada di benak gadis itu. Rena sengaja menyelipkan rambutnya ke belakang telinga karena tak ingin sesuatu menghalangi indera pendengarannya kali ini.
Baru saja Rena hendak membuka suara, sang atasan sudah memberikan kode lewat lirikan matanya pada sebuah map yang terletak di atas meja. Berkas yang sudah ditandatangani oleh Rena sendiri tentunya.
“Sudah jelas ‘kan?” Bara menaik-turunkan alisnya sembari tersenyum licik.
“Is it trap?” Tangan gadis itu gemetar.
Mulutnya seketika menganga seolah tidak percaya pada apa yang tertera di lembaran terakhir perjanjian itu. Salahnya memang karena tidak meneliti lebih lanjut sebelum membubuhi tanda tangannya sendiri.
Jebakan Bara lagi-lagi berhasil. Lelaki itu sudah menampakkan deretan gigi putihnya yang rapi.
“Tadi malam isi perjanjiannya enggak gini. Kamu ...Ah,” decak Rena yang hampir frustrasi.
“Well, ini akan jadi hal yang menguntungkan buat kamu juga. Enggak usah nunggu dua tahun. Cukup tiga bulan kamu jadi sekretaris aku dan setelah itu pergi dari kawasanku. Is it so easy, isn’t it?” ucap Bara sambil menyunggingkan senyumnya.
“Tapi —”
“Cukup. Kau bisa pergi sekarang. Cepat temui Jenny sekarang,” ucap Bara yang segera membalikkan punggungnya.
Rena kalah. Dia hanya bisa menghentakkan kakinya lalu keluar tanpa berpamitan pada sang GM.
‘Aku akan balas semua rasa sakit hati ini, Ren. Kamu yang udah ngancurin hidup aku dengan semua kenangan palsu yang memuakkan itu,’ gumam Bara membatin diri sambil menumpukan kedua tangannya di atas meja kerja.
Sebenarnya Bara tak percaya dengan apa yang ia lihat sebelas tahun yang lalu. Namun banyak berita miring yang sengaja dibuat-buat oleh Rena hingga menjadikan Bara begitu membencinya. Termasuk rumor yang menyatakan bahwa sang mantan rela menjual dirinya demi uang semata.
Di saat yang bersamaan Rena sedang melipat tangannya sembari menaikkan dagu. Senyuman miring terbit seketika saat Jenny-sang sekretaris GM melihatnya penuh dengan kekesalan.
“Belum puas tidur sama pak direktur? Gimana caranya kamu bisa gantiin aku dalam sekejap? Pake pelet apa kamu sampek enggak jadi dipecat??” cecar Jenny dengan pertanyaan bertubi-tubi.
Bukan Rena namanya kalau tak membalas ucapan yang sering dia dengar. Bukannya berusaha meluruskan kebenaran, dia malah sengaja memancing sang lawan dengan cibiran pedasnya.
“Kenapa? Kamu iri? Kasihan sekali, skin care kamu enggak berguna sama sekali. Meskipun tubuhku sering dijamah namun selalu dikangenin. Sedangkan kamu? Ckck,” decak Rena sambil memutar malas bola matanya.
Sukses sudah Rena membuat Jenny tersulut emosi. Sang sekretaris GM yang sebentar lagi akan berpindah posisi itu hanya menghela napas pelan.
“Kamu enggak usah banyak bicara. Kasih tahu aku apa yang harus dilakuin nanti sore,” ujar Rena saat Jenny hendak mengeluarkan umpatannya.
Dengan terpaksa perempuan itu mengalah. Kini keduanya duduk saling berhadapan. Selang beberapa menit Rena berdiri saat tangan Jenny mulai beralih pada beberapa file yang ada di lemari bagian timur meja kerjanya.
“Jadi selama sebulan kita bakalan sering jumpa?” tanya Rena seraya menyibakkan rambutnya.
“Iya, terpaksa. Jadi sekretaris itu sebenarnya mudah kalau kita pake otak. Beda sama kamu yang dapetin jabatan modal badan doang,” cibir Jenny seolah bisa melanjutkan ucapannya yang sempat diurungkan tadi.
Rena menggeleng pelan, “Let you see soon. Pelayananku aja plus-plus ke pak direktur, apalagi khusus buat pak GM.”
Tatapan sengit keduanya terhenti saat melihat sang GM melirik sekilas lalu meninggalkan mereka begitu saja.
“Tunggu, Pak. Saya ‘kan calon sekretaris, tentunya boleh merasakan di lift khusus petinggi bukan?” ucap Rena seraya berjalan santai ke samping sang GM.
Lelaki itu menghela napas pelan, “Well, jangan ubah penampilan kamu, Nona Rena. Tetaplah berpakaian seksi biar banyak calon investor yang merasakan dirimu.”
“Apa maksudmu hah??”