Kata anak hrm! Sebuah kata yang tak pantas untuk didengar, namun itulah yang terjadi pada Sosok Juli yang sering dibuli atau bahkan dijauhi oleh temannya. Lantaran kata anak haram itu melekat dicap dalam dirinya. Juli semakin merasa sedih. Apa lagi, sosok seorang ayah, yang tidak pernah, ia ketahui. Hal itulah yang membuat Juli, harus berjuang untuk menuntaskan keinginannya, agar tak ada lagi kata anak hrm dalam dirinya.
Tapi semua itu tidaklah semudah apa yang di bayangkan Juli. Ia harus menerima segala ledekkan dan cemoohan dari teman sekelasnya. Tentu saja Rani merasa bersedih, sebagai ibu dari Juli. Kejadian itu semakin menambah kebencian Rani pada seseorang yang paling ia benci di dunia ini. Bagaimana mereka menjalani hari-hari dengan luka yang amat pedih itu?
Dentuman suara lagu sangat menggema keras. Di dalam ruang yang sumpek dan sesak Rani berada.
"Mira, ini tempat apa sih, ko sumpek dan berisik seperti ini?" Sambil keheranan Rani di tempat yang asing baginya.
"Sudahlah kau nikmati saja sih Rani, inikan enak kita," balasnya sambil berjingkrak-jingkrak dengan lepas Mira, mengajak Rani untuk mengikuti jingkrak-Nya.
"Mira, sebaiknya kita pulang saja yuk," ajak Rani sambil menarik-narik Mira .
"E ..., kau ini kenapa sih Rani?" Sambil melepaskan genggaman tangan Rani, di pergelangan tangan Mira.
"Bukannya kita mau ke Mall? Ko malah ke sini sih Mira?" Dengan raut muka keheranan Rani memandang Mira.
"Kau ini kenapa sih? Di ajak happy, malah ngga mau," ujar Mira dengan raut muka yang kecewa.
"Sudah, sebaiknya kita pulang Mira." Rani pun menyeret-nyeret tangan Mira, sampai keluar dari ruangan itu.
Setelah berada di luar, Mira seperti sangat marah, karena kesenangannya kini harus berakhir oleh Rani.
"Susah emangnya, kalau sama anak kuper kaya kamu mah Rani," ujar Mira dengan wajah masamnya.
"Sudahlah, ayo kita pulang, nanti sajalah Mira." Akhirnya Mira pun mengikuti kemauan Rani.
"Kau ini kenapa, masih saja cara pandangmu terlalu kolot Rani?"
Rani hanya mendengarkan clotehan Mira, yang merasa kecewa dengan tingkahnya. Tanpa sepatah kata, Rani menjawab.
"Hidup itu harus dinikmati, jangan kaku seperti itu," tegas Mira, yang masih tidak terima dengan perlakuan Rani.
Di sebuah mobil dengan santainya Rani menyetir mendengarkan ocehan Mira. Ia seolah-olah tidak peduli, apa yang dikatakan Mira padanya. 10 menit Rani diam, namun Mira tak henti-hentinya berbicara, seakan ia sangat kecewa dengan sikap Rani.
"Kau ini kenapa sih Mira? Dari tadi ngedumel terus, kau marah aku ajak pulang?"
"Lagian, orang lagi asyik kau ajak pulang," balas Mira dengan mengerutkan muka masamnya Mira berkata, seolah masih dongkol.
"Kita-kan ada janji di Mall, terus kenapa kita harus ke tempat itu coba?" tanya Rani keheranan.
"Iya, tapi-kan itu masih bisa kita kenselkan Rani?"
"Ngga bisa gitu dong Mira, masa harus begitu, nanti orang itu kecewa gimana coba?"
"Emang ya kamu tuh terlalu serius dengan kerjaan, ngga bisa dibawa santai Rani," balas Mira sedikit kecewa.
"Kau ini masih seperti anak kecil saja Mira."
"Ye ..., sembarangan kamu, orang aku udah gede ko," balas Mira sedikit protes.
"Ya, kamu gede, tapi cuma badannya doang Mira, hehehe."
"Ih ..., asem kamu Rani." Dengan mengerutkan wajahnya sambil menatap Rani.
"Buktinya, kita mau ada janji, kamu malah ngajak ke situ Mira?" tegas Rani dengan serius.
"Apa hubungannya sih dengan itu Rani?"
"Ya jelas ada dong, orang dewasa itu kan bertanggung jawab, bukan kaya gitu Mira."
Mira merasa tersindir, dengan perkataan itu, mukanya masam tak karuan. Ia merasa dongkol, dengan apa yang barusan diucapkan Rani padanya.
"Sudah tak usah masam kaya gitu, ngga enak aku liat mukamu Mira."
"Bodo ah, bete aku dengar ceramah kamu Rani," balas Mira dengan cemberut.
Rani hanya tersenyum, mendengar ungkapan kekecewaan dari Mira, yang masih belum terima dengan itu semua. Beberapa menit kemudian tibalah mereka di sebuah Mall yang telah disepakati. Nampak seorang laki-laki yang duduk di sebuah meja. Perawakan yang tinggi dan putih itu lah John. Laki-laki yang mempunyai janji dengan Rani.
Dari jarak 70 meter, Rani melihat sosok laki-laki yang sedang duduk di meja itu.
"Berhenti Mira, berhenti," ujar Rani tiba-tiba.
Spontan Mira merasa kaget dengan perkataan Rani.
"Astaga, kau ini kenapa sih Rani?" tanya Mira keheranan.
"Coba kau lihat, laki-laki yang duduk di sana. Bukanya itu orang yang kita tuju." Sambil menunjukkan jari ke arah laki-laki itu, Rani terkaget dengan sosok laki-laki itu.
"Kau yakin itu orangnya Rani?"
Dengan mengerutkan wajahnya, Rani seolah-olah ragu dengan pertanyaan Mira.
"Kenapa dengan dirimu? Ko malah kelihatan tidak meyakinkan gitu sih Rani?" tanya Mira, kembali merasa aneh.
"Itu bukan ya orangnya? Ko aku seperti ragu ya Mira?" balas Rani, ragu-ragu.
"Astaga, kau ini gimana sih Rani? Makanya kau ini harus banyak piknik, agar tidak gampang lupa."
"Heem ..., masam kali kau berkata Mira."
"Ya, itu buktinya, kau nampak tidak yakin dengan orang yang membuat janji itu," balas Mira sekenanya.
"Apa sebaiknya kita pulang aja ya Mira?" ujar Rani, dengan bingung.
"E ..., kau ini gila apa? Tadi kau tarik-tarik aku ngajak ke sini, terus sekarang kau ngajak pulang, gila ya kamu Rani." Dengan mata yang melotot, seolah Mira mau melahap Rani.
Rani seolah-olah ragu, tampak mukanya seperti salah tingkah dengan keadaan itu.
Sementara John sudah berulang-ulang kali melihat jam tangannya dan merasa resah menunggu ke datangan seseorang.
"Kenapa kau tidak yakin?" ucap Mira.
"Em ... emm," sambil mengaruk-garuk kepala, Rani merasa bingung.
Tanpa basa-basi lagi, ditariklah pergelangan tangan Rani oleh Mira. Setengah menahan Rani, dari tarikan Mira.
"Ayo, kau tunggu apa lagi sih Rani?" ujar Mira, sedikit memaksa.
"Apa sebaiknya kita tanyakan dulu ya pada Mamah, Mira?" tanya Rani dengan ragu.
"Kau ini gila apa? Orang sudah di depan mata kau mau telepon rumah gila ku rasa ya." Dengan sedikit jengkel Mira membentak Rani.
"Yasudah ayo kita ke sana." Dengan muka menunduk sambil berjalan Rani, mengikuti saran Mira.
Laki-laki yang sedang duduk merasa kaget dengan kedatangan Mira dan Rani. Tepat di hadapan John, Rani seperti kikuk.
"Maaf, apakah ini Rani?" tanya laki-laki itu.
Dengan menyikut-nyikut lengan Rani, Mira mendesak Rani bicara.
"Ada apa dengan kalian, kau seperti grogi gitu? Apa lagi wanita satu ini, ko malah menunduk begitu?"
Akhirnya mau tidak mau Mira angkat bicara.
"Ya perkenalkan nama saya Mira dan ini Rani."
Alangkah terkejutnya John saat melihat Rani mengangkatkan kepalanya.
"Loh bukannya ini Rani ya?" balas John dengan kaget.
"Iya ini aku John," ucap Rani dengan sedikit keki.
"Astaga kamu ini Rani." Raut muka John langsung tersenyum.
"Silahkan duduk-duduk," ajak John sambil merapikan kursi dan mejanya.
"Apa kabar Rani? Lama kita tidak jumpa," tanya John, berbasa-basi.
"Baik John," balas Rani dengan muka yang masih agak sedikit keki.
Mira menatap wajah Rani, seolah ia bertanya-tanya ada apa dengan Rani?
"Ini teman aku John, Mira," ujar Rani malu-malu.
"Ohh, ya, ya salam kenal ya Mira." Saling menjabat tangan itu terjadi Mira dan John. wajah Mira merasa ada yang aneh.
"Ko bisa-bisanya itu kamu John?"
"Aku pun tak menyangka kalau itu kamu Rani!"
"Jadi ceritanya kalian sudah saling kenal gitu?" tanya Mira keheranan.
"Oh ..., ya bukan kenal lagi, Rani-kan mantan aku Mira," balasnya dengan senyum dan santainya John berkata.
Rani seolah malu dengan perkataan John.
"O ..., ya, iya, jadi ceritanya ini CLBK ya?" ucap Mira sembari sedikit melongo.
Spontan wajah Rani memerah padam, ia pun menyikut tangan Mira dengan sikutnya.
"Apaan sih kamu Mira?" ujar Rani sedikit jengkel.
Mira masih terlihat kikuk dan gerogi menghadapi situasi ini.
"Pantasan saja kau tidak mau singgah dari tadi, ternyata ini masalahnya?" Mira membuka rahasia Rani.
"O ..., dari tadi aku nunggu ternyata, Rani udah ngga mau lagi ketemu aku gitu?" tanya John sedikit heran.
Rani yang mendengar kata itu dari John, langsung menjawab, "Bu ..., bukan seperti itu John." Dengan nada tersengal-sengal Rani menjawab seolah malu.
"Terus kenapa tidak langsung duduk ke sini?" tanya John sedikit memojokkan.
"Sudahlah John, sebaiknya kita pesan makanannya, kasihan Mira lapar." Rani pun mencoba mengalihkan perhatian John.
"Ye ..., siapa juga yang lapar?" tukas Mira menepis.
"Sudah kau diam," ujarnya membisikan kata itu di tepi telinga Mira.
10 menit sudah mereka menunggu makanan. Akhirnya tibalah seorang pelayan mengantarkan makanan itu.
"Ayo dimakan," ajak John menawarkan makanan.
Dengan sedikit agak keki, Rani mulai menyuap sesuap demi sesuap.
Mira yang sejak tadi memperhatikan Rani, semakin bertanya-tanya dan resah melihat tingkah Rani. Sementara John, asyik dan santai menikmati makanan itu, tanpa sedikit pun beban dalam hatinya.
"Apa maksud dari semua ini John?" tanya Rani tiba-tiba.
Tercenganglah John, yang tiba-tiba mendengar pertanyaan Rani. Sejenak makan pun terhenti. John terpelongo melihat wajah Rani, yang sedikit agak marah. Ia terkesima, dan tidak paham, apa maksud Rani?
"Apa yang kamu maksud? Aku sungguh tidak mengerti Rani?" tanya John keheranan.
"Bukannya semua ini sudah kau rencanakan John?" tanya Rani.
John merasa keheranan dengan sebuah pertanyaan yang dilontarkan. Mira seperti sangat kaget melihat Rani, yang marah tidak jelas itu.
"Aku sedikit pun tidak tau, kalau yang datang itu kamu Rani," balas John dengan polos.
"Sungguh lucu kau ya John," tepis Rani tersenyum dengan sinis atas jawaban John.
John pun menghentikan makannya dan melepas sendok dan garpu yang ia pegang.
"Rani, aku tidak ada sedikit pun untuk membuatmu kecewa!" ucap John.
"Sudah John, aku muak dengan kata-kata manismu," balasnya dengan mata yang tajam dan muka yang semakin memerah, tertumpah amarah Rani.
"Rani, tahan amarahmu, malu kita dilihat orang banyak," bisik Mira di tepi telinga Rani.
Rani pun mencoba bersikap tenang atas nasehat Mira.
Beberapa pengunjung merasa ke heranan atas keributan kecil yang terjadi itu.
"Ok, ok, sekarang coba kau tenangkan dirimu, jangan terbawa emosi, kita bisa bicara ini baik-baik ko Rani," ucap John dengan tenang.
Rani mengeram tidak karuan, tangannya mengepal seluruh jari-jari, seperti ingin memukul John.
"Sabar Rani, kita sedang berada di tempat umum, kuharap kau bisa tenang," bisik Mira, mencoba menenangkan Rani.
"Sudahlah, tak baik kau membenciku seperti itu. Lagi pula masalah itu telah berlalu, jadi ku harap bisa melupakan itu," ujar John dengan santainya.
"O ..., jadi kau datang hanya untuk itu John?" balas Rani, dengan tegas.
"Apa maksudmu Rani? Aku tidak mengerti?" balasnya dengan senyum kecil John menjawab.
"Sebaiknya kita pulang Mira." Tanpa pikir panjang, Rani berdiri dan meninggalkan John.
"Sori ya John, aku pamit," ujar Mira sedikit malu.
Mira menyusul dari belakang Rani.
"Sial sebenci itukah Rani terhadapku?"
John hanya bisa menatap langkah yang kian menghilang.
Pertemuan itu, tidak sesuai yang ia harapkan. Rencana yang sudah ia atur kini harus hancur berantakan.
Di sebuah mobil Rani dan Mira terasa dingin dengan suasana hati Rani yang masih kacau balau. Entah apa yang terjadi, Mira seperti bingung, karena ia pun belum tau apa yang terjadi sebenarnya. 15 menit sudah dalam kediaman, akhirnya Mira memberanikan diri untuk bertanya.
"Maaf Rani, bukan maksud untuk ikut campur, sebenarnya apa yang terjadi dengan John?" tanya Mira, dengan penasaran.
Rani masih terlihat dingin menanggapi pertanyaan Mira.
Akhirnya Mira pun menghelakan nafasnya secara perlahan.
"Uhh ..., hemm ..., yasudah jika kau tidak mau cerita aku tidak akan memaksakanmu," ucap mira yang masih tersimpan banyak tanya.
"Sori Mira, aku tidak bermaksud seperti itu. Tapi ini bukaan saat yang tepat untuk menceritakan masalah itu!"
"Baiklah, aku mengerti suasana hatimu, kau boleh cerita kapan pun kau mau Rani," balas Mira dengan senyum.
Kembali lagi suasana itu sunyi dan dingin tanpa sepatah kata yang terucapkan. 30 menit sudah, akhirnya sampailah mereka di sebuah rumah, yang tak lain adalah rumah Mira.
"Mampir dulu ngga Rani?"
"Sepertinya aku langsung balik Mira."
"Baiklah hati-hati di jalan sampai ketemu besok ya Rani," ucap Mira dengan melambaikan tangannya.
Sepanjang perjalanan Rani masih memikirkan pertemuan itu. Tak ia sangka kalau yang akan ia temui adalah John. John adalah sosok laki-laki yang paling ia benci di dunia ini.
Di sisi lain, Mira masih merasa aneh dengan perilaku Rani, yang masih belum ia ketahui, asal penyebab kemarahan Rani.
Mira merasa terkejut dengan kemarahan itu. Sepanjang yang ia kenal, ia tak pernah melihat Rani semarah dan sebenci itu.
Inilah yang membuat Mira jadi penasaran dan terheran atas tingkah laku Rani.
Apa yang terjadi dengan Rani? Pertanyaan yang masih belum terjawab oleh Mira. Akankah bisa mengungkap yang terjadi?
Dengan wajah yang kusam dan hati yang tak karuan, kini sampailah Rani di rumah. Dengan emosi yang masih terbawa ia memarkirkan mobil dengan suara keras masuk garasi. suara mobil itu, terdengar tidak karuan hingga sang ibu pun keluar panik melihat apa yang terjadi.
"Loh kamu kenapa Rani, ko uring-uringan gitu?"
Tanpa basa-basi Rani seolah tidak menghiraukan pertanyaan sang ibu. Masuklah Rani dan duduk di sofa dengan menyenderkan badannya. Di hampirilah ia oleh sang ibu, duduk dengan tenang.
"Apa yang terjadi?" tanya sang ibu.
Rani menghela napas secara mendalam.
"Sepertinya berat sekali sih masalahmu? Coba katakan pada Mamah apa yang terjadi?" ujarnya sambil membelai rambut Rani, sang ibu berkata pelan.
"Kenapa Mamah tidak memberitahu, kalau yang akan Rani temui itu adalah John?"
Sang ibu sedikit kaget atas pertanyaan itu.
"Loh maksudnya apa Rani?"
"Yang Rani temui itu adalah John," balasnya dengan nada sinis dan muka masam Rani menjawab.
"Ko bisa? Bukannya itu adalah Rafli, ko malah John sih?" balasnya dengan kaget sang ibu menjawab.
"Lantas kenapa yang Rani temui adalah John Mah?"
"Sepertinya ada yang aneh? Soalnya pak Handoko bilang, kalau itu Rafli. Mamah kan cuma sampaikan pesan dari pak Handoko. Jadi kurang tahu, kalau yang kamu temui adalah John," ucap sang ibu.
"Maksud Mamah apa? Rani tidak mengerti?" ujarnya dengan antusias bertanya.
"Mamah pun tak mengerti, kenapa bisa John? Pada hal yang akan kau temui itu Rafli," ucap sang ibu dengan keheranan.
"Lantas apa yang terjadi? Bisa- bisanya John yang datang?" tanya Rani dengan hati dongkolnya.
Sang ibu hanya bisa diam terpaku. Ia merasa tidak percaya, hal itu akan terjadi.
"Mamah taukan, orang yang paling Rani benci di dunia ini adalah John! kenapa harus bertemu dengan manusia seperti itu lagi?" tegas Rani dengan marahnya.
Sang ibu seperti masih bingung dengan kejadian ini. sang ibu pun seperti serius memikirkan hal itu.
"Sudahlah, biar nanti kita cari tau apa yang terjadi Rani," ucap sang ibu dengan gelisah.
"Oia Juli mana Mah?"
"Ada dia di kamar baru pulang sekolah!"
"Rani ke atas dulu mau lihat Juli."
Rani pun mengangkat badanya dan bergegas meninggalkan sang ibu yang masih kebingungan.
Perlahan-lahan Rani membuka pintu kamar Juli, nampak terlihat Juli sedang menangis lirih. Dengan bersegera Rani duduk di sebelah Juli.
"Apa yang terjadi sayang, kau anak Mamah nangis gitu sih?"
Juli langsung memeluk erat ibunya dengan isakan tangisan.
"Kenapa Juli menangis? Apa berantem lagi di sekolah?" tanya Rani dengan lembut.
Juli hanya menggelengkan kepala tanpa henti-hentinya ia menangis.
"Lantas apa yang terjadi? Coba cerita ke Mamah?" ujarnya sambil mengelus elus kepala Juli, Rani memberikan kasih sayang pada anaknya.
"Mah, semua teman Juli meledek Juli, mereka berkata kalau Juli adalah anak haram, yang tak punya ayah," ujar Juli dengan sendu.
Tersentak Mendengar kata seperti itu, Rani meneteskan air mata tanpa sadar.
Suara lirih Juli masih terdengar begitu pilu. Rani pun menghapus air mata dan merapikan wajah yang bergelinang air mata.
Di tegakkanlah Juli sambil ditatap wajah Juli oleh Rani.
"Lihat Mamah sayang! Juli itu punya ayah, tapi ayah Juli sudah meninggal," ujar Rani, menenangkan Juli.
"Tapi mengapa mereka tidak percaya Mah? mereka berkata kalau Juli sedang berbohong." Suara tangisan itu masih belum reda dalam wajah Juli.
"Sudah, Juli jangan dengar mereka. Juli-kan anak laki-laki, Juli harus tangguh," ujarnya sambil tersedu Rani menasihati anaknya.
Ia masih tak habis pikir kalau ini berdampak pada anaknya yang tidak tau apa-apa.
"Mah, makam ayah di mana? Bolehkan Juli mengunjunginya?"
Rani semakin bingung untuk menjawab pertanyaan anak kesayangannya.
"Em ... mm, Oia Juli sudah makan?"
"Belum Mah, Juli tidak mau makan, Juli ingin bertemu ayah," rengek Juli.
Rani merasa terpukul tanpa bekas luka, yang ada luka hati yang semakin perih di hati yang paling dalam.
"Sudahlah, sebaiknya Juli makan dulu ya, Mamah bawakan makanan ke sini," bujuk Rani menenagkan Juli.
Juli hanya menganggukkan kepala saja, tanpa berkata.
Dengan langkah pilu Rani turun dari tangga menuju dapur.
Pemandangan itu sempat terlihat oleh sang ibu Rani.
"Kenapa kamu menangis?" tanya sang ibu.
"Mah, kenapa aku harus dihukum seperti ini?"
"Apa yang terjadi?" ucap sang ibu dengan heran.
"Di sekolah Juli di cemooh oleh temannya. Yang paling miris aku dengar kalau ia dikatakan anak haram." Dengan tangisan yang semakin pilu Rani menjawabnya.
"Heem.., sudahlah jangan terlalu kau risaukan. Namanya juga anak kecil yang masih belum tau apa-apa," bujuk sang ibu Rani.
Rani pun melanjutkan langkahnya ke dapur dengan membawa luka yang ada.
1 hari kemudian di sebuah pagi. Rani pergi mengantar ke sekolah. Dengan melupakan kejadian itu, ia melaju dengan seraut wajah cerah. Menyisir jalan, berpacu dengan waktu. Juli hanya diam, tanpa seucap kata terucapkan. Bulian itu masih terniang-niang di kepala dan ingatan Juli. 20 menit, waktu telah mengiring Rani, pada tempat yang dituju. Tanpa berlama-lama, Juli keluar dengan wajah masamnya.
"Jangan nakal ya sayang," ujar Rani, sambil mencium kening Juli.
Juli hanya terdiam dan melambaikan tangan, ketika sang ibu pergi.
Dari jauh balasan lambaian tangan itu dibalas Rani dalam sebuah mobil.
Nampak seperti wajah sedih masih menghias wajah Juli.
"Lihat tuh Dika, si anak hrm," sambil menjulurkan lidah seorang teman sekelas Juli meledeknya.
Juli hanya diam tertunduk sambil berjalan ke arah kelas.
Sepanjang itu ia, dikatakan anak haram oleh teman sekelasnya.
"E ... kalian tidak boleh begitu. Itu jelek awas ya kalau sampai terulang lagi." Seorang guru merelai ejekan itu.
Juli masih diam tertunduk malu tanpa kata.
"Juli jangan sedih ya. jangan dengarkan mereka." Sang guru mengusap kepala Juli.
Juli tak berkata sepatah kata pun, ia meneruskan jalannya dengan di dampingi oleh seorang guru.
Semua teman sekelas memandang Juli dengan tajam, ketika Juli hendak masuk kelas.
"Dengarkan Ibu! Kalian tidak boleh lagi memaki atau menghina Juli lagi. Karena kita di sini sama- sama belajar, jadi kalian harus saling menghargai dan menghormati!"
“Tapi Juli-kan anak haram, yang tak punya ayah, Bu," ucap salah satu teman sekelasnya yang bernama Doni.
"Huus, tak boleh begitu Doni. Itu tidak baik, Ibu tidak pernah mengajarkan seperti itu." Dengan mengajak duduk Juli ke tempatnya, sang guru menjawabnya.
"Sudah, mari kita mulai. Saatnya kita belajar, perhatikan Ibu baik-baik."
Sang guru pun lekas memberi sebuah pelajaran di papan boor.
Doni menatap wajah Juli dengan penuh benci dan ledekkan.
Juli hanya diam tanpa kata. Beberapa jam berlalu dengan dilalui ledek-ledekkan Doni, Juli tetap diam. Sampai tiba, saat pulang.
12:00
Jam pulang telah tiba.
"Hey anak hrm." Suara itu mencoba mengganggu Juli.
"Anak hrm, anak hrm, anak haram." Teriakan itu merasa bising di telinga Juli.
"Berhenti," bentak Juli dengan keras.
Semua Terhenyak saat Juli berteriak. Doni dan kawan-kawannya terbengong melihat teriakan Juli.
"Aku punya ayah! Aku juga sama seperti kalian," ucap Juli dengan lantang.
"Mana ayahmu? Kami belum pernah lihat ia datang ke sini?" tanya Doni.
Dengan linangan dan tangisan Juli pun menjawabnya, "Ayahku sudah meninggal," ucap Juli dengan marah.
"Huuuuh, bohong itu, itu pasti bohong," ucap Doni dengan menunjuk jarinya ke arah Juli.
"Sudah hentikan, kalian tidak boleh seperti itu." Suara itu datang dari belakang Juli, yang tak lain adalah Riska, teman sekelas Juli.
"Huuuuh, dasar kau Riska, malah membela anak haram ini," ucap salah satu teman Doni yang bernama Rafel.
"Apa kalian tidak dengar, apa yang diucapkan ibu guru tadi pagi? Kalian malah menghina Juli," bela Riska yang iba pada Juli.
Selang tak begitu lama Rani datang menjemput Juli. Seketika anak-anak itu pun pergi meninggalkan Juli dengan tergesa-gesa.
"Apa yang terjadi sayang?"
"Tadi ada anak-anak nakal yang menghina Juli Tante," ucap Riska membela Juli.
Di rangkullah Juli dengan menatap wajah Juli, sang ibu berlinang air mata.
"Sudah sayang sebaiknya kita pulang," ajak Rani dengan menuntun tangan Juli.
Riska melihat dan melambaikan tangan untuk Juli. Juli hanya menatap Riska dari jauh. Sepanjang perjalanan, Rani melihat Juli dengan dingin. Tanpa sepatah kata pun ia bicara. Melihat hal itu Rani merasa bersalah pada dirinya sendiri, ia malah semakin benci dengan laki-laki itu.
Juli yang masih duduk di kelas 2 SD, masih belum mengerti keadaan ini. Yang seharusnya masa-masa itu bahagia, tapi ini seperti tertekan dengan perlakuan teman-teman di sekolahnya.
"Juli kenapa kamu sayang?" tanya Rani.
Juli tak bergeming sedikit pun atas pertanyaan sang ibu.
“Juli harus sabar, Juli-kan anak laki-laki. Anak laki-laki itu harus kuat sayang," ujar Rani sedikit menahan air mata.
"Apakah benar, kalau Juli anak haram Mah?" tanya Juli tiba-tiba.
Rani kaget dengan pertanyaan itu.
"Tidak, tidak sayang, kau bukan anak haram, kau anak Mamah satu-satunya yang Mamah sayangi sepanjang hidup Mamah," balas Rani, dengan sendu.
Tak terasa deraian air mata menetes di pipi Rani. Sambil ia menyetir mobil, ia merasakan pedihnya keadaan ini.
"Tapi kenapa mereka selalu menyebut Juli anak haram Mah?" tanya Juli menatap nanar wajah Rani.
Rani mencoba tegar dan menghapus air matanya, ia menghela napas dalam-dalam.
"Juli sayang, jangan dengarkan apa kata mereka. Mereka-kan tidak tau kita," balas Rani mengelus kepala Juli, Rani mencoba tegar.
"Ko setiap hari, Juli selalu dikatakan anak haram?" tanya Juli kembali dengan murung.
"Sudah jangan dengar itu. Yang penting Juli belajar dengan baik, kelak setelah dewasa Juli akan mengerti ini semua," tegas Rani, meyakinkan Juli.
Juli hanya bisa menundukkan kepalanya dengan dingin.
Rani yang melihat itu, merasa amat tersiksa melihat penderitaan anaknya. Tak begitu lama, tibalah di rumah.
"Sampai kita sayang, Mamah mau balik dulu ke kantor ya."
Dengan muka yang masih dingin Juli hanya menganggukkan kepala saja. Juli keluar dari pintu mobil, berdiri dengan wajah murungnya.
"Sudah belajar sana yang rajin, agar kelak kau jadi laki-laki hebat," dengan senyum Rani meyakinkan Juli.
Juli pun berlalu dari hadapan sang ibu. Di pandanglah langkah Juli dengan tangisan air mata Rani, yang sejak dari tadi ingin menangis namun ia tahan.
"Semoga kelak, kau bisa jadi anak yang baik Juli," ujar Rani sambil terisak-isak.
Rani pun bergegas menuju kantor. Pikiran-pikiran tentang Juli, selalu terbayang dalam benak pikiran dan hatinya. Sepanjang perjalanan itu, Rani merasa semakin benci pada laki-laki itu. Orang yang teramat ia benci di dunia ini.
Sesampai ia di kantor tepat pukul 12:30.
"Hay Rani sini."
Terlihat Mira sedang duduk di sebuah kantin kantor.
Rani menghampiri dengan gontai nampak seperti tidak bersemangat.
"Ada apa denganmu Rani? Ko matamu memerah seperti itu?" tanya Mira keheranan.
Rani masih tak sadar dengan pertanyaan Mira. Melihat hal itu, Mira merasa cemas dengan keadaan Rani.
"Rani, ko malah bengong sih?"
Tidak sedikit pun Rani bergeming. Ia hanya diam tanpa kata, seperti layaknya sebuah patung.
"Hey Rani." Sambil menepuk bahunya Rani, Mira mencoba menyadarkan Rani.
"Oh ... ia kenapa Mira?" balas Rani dengan kaget.
“Astaga dari tadi ditanya malah bengong gitu sih?" ucap Mira.
"Sori-sori, aku agak sedikit tidak enak badan Mira."
"Ada apa sih sebenarnya? Ceritalah padaku, siapa tau aku bisa bantu kamu," ucap Mira dengan meyakinkan Rani.
"Aku bingung Mira," balasnya sambil menghela napas panjangnya.
"Coba katakan apa yang terjadi Rani?” tanya Mira dengan antusias.
"Ini tentang anakku Mira," balas Rani dengan murung.
"Kenapa dengan anakmu? Apa ia berantem di sekolah?" tanya Mira dengan cemas.
Rani kembali terdiam, tanpa sepatah kata. Ia kembali terdiam, dengan wajah tertunduk murung.
"Heloo, oy." Sambil melambaikan tangannya ke muka Rani.
"Ihhhh, apaan sih kamu Mira?" balas Rani sedikit terkejut.
"Lagian, aku tanya kau malah bengong, aku-kan semakin tak mengerti Rani?"
"Sudahlah kau lanjut tuh makanmu, habiskan sebentar lagi kita-kan masuk," balas Rani sedikit menggerutu.
"Yaelah kau ini kebiasaan deh Rani." Dengan muka sedikit kecewa Mira merasa sebel dengan Rani.
"Emang kau tidak mau makan apa Rani?"
"Lagi malas aku Mira," balas Rani sekenanya.
"Yaelah, pusing sih pusing, tapi jangan libatkan perut dong Rani," sindir Mira.
"Apaan sih, tambah ngga jelas deh kamu Mira?" balas Rani bertambah sewot.
“Iya-lah, sepusing atau seberat apa pun, perut itu-kan harus diisi Rani."
"Sudah bawel habiskan makanannya, bentar lagi kita masuk!"
"Huuuh, gitu aja kau sensi Rani," sambil menggerutu dengan muka mengejek Rani.
Rani masih terdiam memikirkan Juli yang makin hari makin tersakiti.