"Ma, Keysa tidak suka pria ini. Dia terlalu muda. Lagian pekerjaannya juga tidak jelas," rengekku pada Camila, ibu tiriku.
Dia memaksaku menikah dengan sembarang pria sesuai kemauannya hanya karena merasa malu pada teman-teman dan tetangga yang sering menyindirku karena aku belum menikah juga di usiaku yang sudah menginjak 36 tahun.
"Sampai kapan putrimu mau hidup sendiri Jeng? Malu loh dikatain perawan tua terus sama teman-teman kita." Kalimat sindiran itu hampir berulang kali terdengar dari Bu Imah, tetangga sebelah rumah kami.
Bu Imah hanya salah satu contoh dari sekian banyak penggosip yang tak pernah lelah membicarakan kehidupanku. Masih ada Bu Devi, Bu Siti, Bu Rosa dan banyak lagi. Mereka selalu membicarakan hal yang sama berulang kali, dan pada akhirnya membuat ibu tiriku juga turut menyindirku setiap hari.
Sampai pada suatu saat, teman-teman bedebahnya itu membawa foto beberapa pria, yang juga sedang mencari istri, untuk dijodohkan padaku. Totalitas sekali, kan?
Lelah menghadapi ibu tiri yang terus memaksaku untuk menikah, aku pun menyerah dan memilih foto salah satu pria yang sedikit lebih tua dariku, juga memiliki pekerjaan yang ku anggap baik dibanding calon lainnya, sebagai seorang ASN di kantor Kecamatan.
Tapi beberapa hari kemudian, dengan seenaknya ibu tiriku malah memilihkan pria lain. Pria yang fotonya pernah kusingkirkan setelah tahu kalau usianya terpaut 10 tahun, lebih muda, dariku.
Bukannya aku terlalu pemilih hingga hanya menilai seseorang dari usianya saja. Bukan berarti aku tidak suka dengan pria yang lebih muda. Bukan… Tentu saja bukan begitu maksudku. Andai dia lebih muda, setidaknya cukup dengan jarak 1 atau 2 tahun saja. Apalagi jika dia memiliki pekerjaan yang baik, tentu aku pasti akan menerimanya. Sungguh!
"Sepuluh tahun?! Oh..., yang benar saja. Jarak usia kami terlalu jauh untuk menjalin hubungan cinta, apalagi menjadi suami-istri," protesku setelah mengetahui calon suami yang ibu tiriku pilihkan.
Jika prianya yang lebih tua 10 tahun, mungkin tidak terlalu aneh. Kalau wanitanya? Entah untuk wanita lain, tapi bagiku itu sangat memalukan.
Selain itu, pria pilihan ibu tiriku juga tidak memiliki pekerjaan jelas. Belum lagi dia juga orang kampung yang tinggal di salah satu desa antah berantah yang berada di Pulau Kalimantan.
Bukan aku ingin meremehkannya. Aku bisa menebak, hidup di Jakarta bagi mereka tentu tidaklah mudah. Jangankan untuk mencari pekerjaan, untuk mencari makan saja dia mungkin akan kesulitan dan ujung-ujungnya akulah yang akan direpotkan.
"Cuma dia yang mau sama kamu, Keysa Andini!" Umpat ibu tiriku.
Aku tahu kalau ibu tiriku sudah menyebut namaku secara lengkap, dia sedang merasa gemas padaku. Andai sedang tidak ada maunya seperti ini, dia biasanya bukan hanya membentakku tapi juga tak segan mengambil dan melemparkan barang-barang yang ada di sekitarnya padaku.
"Lagian sudah untung Mama mencarikan kamu suami. Ingat, usiamu sudah mendekati kepala 4!" Tambahnya dengan nada ketus. Matanya mendelik padaku dengan sangat lebar seakan hendak keluar.
Aku hendak memprotesnya, tapi tatapan matanya membuatku menelan kembali kata-kataku. 'Masih ada empat tahun sebelum aku berusia 40 dan itu masih lama. Kenapa Mama membulatkan usiaku sesukanya saja?! Yah… membulatkan ke 30 memang lebih jauh sih.'
"Dia terlalu muda, Ma. Kerjanya juga tidak jelas," keluhku lagi.
"Tidak usah memikirkan pekerjaannya! Harusnya sudah cukup dengan penghasilanmu bekerja di perusahaan manufaktur itu, kan? Lebih baik juga kalau dia di rumah, mengurus rumah. Dia juga bisa kerja sambilan membantu adikmu di toko kelontong kita."
'Haiss… Yang benar saja!'
Ucapan itu membuatku meringis ngeri. Lelaki yang akan kunikahi sangatlah jauh dari yang kuimpikan selama ini —lagian keinginan untuk menikah sudah terhapus dari kamus hidupku.
Selain itu, aku juga tidak yakin apakah pria itu benar-benar mau menerimaku yang usianya jauh lebih tua darinya sebagai istri. Bisa saja dia memanfaatkanku, ingin hidup cukup sembari bermalas-malasan.
Beberapa teman segeng ku dari sejak SMA pernah bercerita kalau suami mereka hanya sibuk bermain game sepulang kerja, tanpa mau membantu mengurus rumah yang berantakan, juga anak.
Jika pria yang dalam pengawasan istri saat mereka sedang bersama di rumah saja seperti itu, bagaimana dengan suamiku nanti? Dia akan berada di rumah seharian selama aku bekerja.
Dia tentu akan bebas bermain game dan bermalas-malasan, atau malah membawa wanita lain untuk berduaan di rumah sementara aku sedang bekerja. Apalagi selama ini dia hidup di desa, tentu dia akan mudah tergoda untuk merayu wanita-wanita cantik Jakarta.
Harus kuakui jika melihat dari fotonya, dia cukup tampan —walau agak dekil juga sih—. Ku rasa dia tidak bodoh untuk tidak menyadari kelebihannya itu untuk digunakan memikat wanita.
Belum lagi aku pernah mendengar Bu Devi, orang yang merekomendasikan pria itu pada ibu tiriku, memberikan informasi kalau pria itu mungkin anak luar nikah dari seorang pengusaha besar di Jakarta yang dibuang ke desa.
Bu Siti waktu itu menyela dan mengatakan kalau sebenarnya dia dulu pernah buka usaha dan bangkrut karena membuka usaha saat masih berusia 18 tahun, jadi belum punya pengalaman. Karena malu, pria itu akhirnya pindah ke Kalimantan.
Yang membuatku ngeri adalah ucapan Bu Rosa yang mengatakan kalau pria itu mungkin anggota mafia yang kabur ke Kalimantan saat kelompoknya diburu polisi. Walaupun yang dikatakan Bu Rosa hanyalah terkaan, namun kata-katanya lah yang paling kuingat.
Karena perkataan mereka jugalah aku —saat pertama kali melihat fotonya beberapa hari lalu— langsung mengeleminasinya, selain karena alasan jarak usia dan status pekerjaaannya.
'Huft… Jika itu benar, membayangkannya saja sudah membuatku ngeri. Menikah bukan akan membuatku nyaman dan bahagia berada dalam lindungan dan tanggung jawab suami, malah justru akan menambah masalah dalam hidupku.'
Sebenarnya yang paling penting di sini adalah aku. Aku sebenarnya bukan tidak laku, bukan pula terlalu mematok standar yang tinggi sehingga tidak menikah-menikah juga. Ada banyak pria yang ingin melamarku, bahkan sudah melamarku, namun kutolak mentah-mentah.
Bukan karena aku angkuh atau sok cantik, melainkan karena aku memang ingin hidup sendiri. Aku ingin hidup bebas di hari tuaku. Berjalan-jalan keliling dunia dengan uang yang sudah kusisihkan hingga saatnya nanti aku akan memakainya.
"Mama sudah menghubungi dia. Kamu tunggu saja. Pokoknya siapkan saja foto ukuran 4x6 sebanyak dua lembar," ucap ibu tiriku sebelum berlalu pergi.
Aku hendak memprotes lagi, namun ibu tiriku sudah melengos pergi keluar rumah. Bisa kutebak, dia pasti ingin bergosip ke rumah Bu Imah tetangga kami yang terdekat.
"Woah… Benar-benar tiada hari tanpa bergosip, bahkan aku harus jadi korbannya."
Aku hanya bisa mengurut dada sembari menghela napas panjang, berusaha menyabarkan diriku sendiri. "Sial… aku harus menemukan cara untuk keluar dari nikah paksa ini," gerutuku sembari menatap punggung ibu tiriku dengan kesal.
Dari pintu tempat ibu tiriku baru saja pergi, tatapanku beralih pada pintu lain di mana ayah kandungku, yang lumpuh karena terkena serangan stroke selama 15 tahun ini, berada.
Karena dialah aku tidak bisa melakukan apa-apa. Maksudku, aku terpaksa selalu mengikuti kemauan ibu tiriku. Bukan hanya kali ini saja, namun di banyak hal yang jika kuingat satu per satu, akan membuatku sakit kepala.
"Kenapa nasibku sesial ini?"
Aku pergi menghampiri kamar ayahku, membuka pintunya sedikit lalu mengintip ayahku yang sedang terbaring lemah tanpa daya.
Aku hanya berharap kalau ayahku tidak mendengar apa yang baru saja aku dan ibu tiriku bicarakan. Aku tidak ingin menambah beban pikiran padanya, padahal dia sudah cukup menderita dengan penyakitnya.
Saat sedang memperhatikan ayahku, aku tiba-tiba teringat pada rumah yang kami tempati ini. Rumah yang memiliki tanah luas hingga terhubung ke dua jalan besar Kota Jakarta.
Ibu tiriku selalu ingin menjual rumah dan tanah kami ini karena ada beberapa pengusaha yang sudah menawar untuk membeli, namun aku menolaknya.
Sebagai ahli waris pertama dari rumah dan tanah ini, penjualannya harus dengan persetujuanku. Sayangnya ayahku telah melakukan kesalahan karena setuju dengan ide ibu tiriku yang pernah memintanya untuk membebaskanku dari status ahli waris ketika aku sudah menikah.
"Jadi Mama memaksaku menikah karena ingin mendapatkan rumah dan tanah ini, kan? Tsk…, halus sekali caranya."
❀❀❀❀❀❀❀
Garis takdir sering kali tidak berjalan sesuai keinginanku walau aku sudah berusaha untuk mengikuti kemana arah angin membawaku. Maksudku…, angin takdir yang dihembuskan oleh ibu tiriku.
Awalnya aku tidak ingin dipaksa menikah. Aku tidak peduli pada usiaku yang sudah menginjak 36 tahun dan masih belum juga menikah. Aku memang sudah tidak berencana untuk menikah, karena aku ingin hidup bebas.
Untuk itulah aku menyisihkan uang gajiku yang sudah banyak dipotong sana-sini.
Aku menabung sedikit demi sedikit untuk menikmatinya suatu saat nanti. Aku ingin menggunakan uang tabunganku untuk berkeliling dunia, mengunjungi tempat-tempat indah yang selama ini hanya pernah kulihat melalui Youtube.
Jangankan kepikiran menikah. Aku bahkan baru pernah berpacaran 2 kali dan semuanya berakhir kurang dari 1 minggu. Luar biasa bukan?
Kekangan dan mendapat sikap posesif. Yah..., bisa dibilang itulah yang membuatku tidak senang menjalin hubungan dengan pria. Bahkan dengan siapa saja yang memiliki sikap seperti itu.
Apa yang kualami di dalam rumah sudah cukup membuatku jera. Aku tidak mau lagi hidup terkekang oleh orang lain. Cukup hanya karena rasa terima kasih pada ibu tiriku yang sudah merawat ayahku —saat aku tidak bisa mengurusnya karena disibukkan oleh kuliahku pada saat ayahku mulai lumpuh.
Tidak lagi. Aku tidak mau lagi hidup dalam aturan dari siapapun.
Tapi, seperti yang kukatakan tadi... Hidup, terkhusus hidupku, hampir selalu tidak sesuai dengan apa yang kuinginkan. Saat aku sudah mengikuti arah angin —untuk mau dijodohkan— tetap saja, dari semua calon yang ada, pada akhirnya aku tetap dijodohkan dengan pria yang paling tidak ingin kunikahi.
Walaupun kuakui… Dia sebenarnya cukup tampan sih... 'Ups...'
Aku meliriknya sebentar sembari menyesap teh hangat untuk mengusir rasa kesal yang masih melandaku.
Ya..., Pria itu, suami mudaku... Eh tidak... Maksudku, suamiku yang masih muda, saat ini ada tepat di hadapanku. Duduk di seberangku, dalam acara makan keluarga.
Sebenarnya waktu sudah berlalu selama 3 minggu sejak ibu tiriku mengumumkan perjodohan paksa itu.
Aku juga sudah melakukan perang gerilya untuk membatalkan rencana tersebut. Sudah juga mengikuti arah angin seperti yang kukatakan tadi, mengikuti kemauan ibu tiriku dengan memilih sendiri pria mana yang akan kunikahi dari kesepuluh pria yang direkomendasikannya.
Tapi begitulah..., aku gagal. Angin menghembuskan ku lebih jauh dari tempat yang ingin kutuju, dan disinilah aku sekarang. Berada dalam acara makan keluarga setelah pulang dari KUA dan kantor pencatatan sipil untuk melakukan pernikahan yang sah secara Agama dan Hukum.
Tidak ada persiapan apa pun yang kulakukan selain menyediakan foto 4x6 yang ibu tiriku minta untuk digunakan dalam dokumen pernikahan kami. Karena itulah foto di buku nikahku cukup berbeda, tidak dengan foto gandeng seperti biasanya.
Tidak ada acara pernikahan. Aku tidak mengenakan gaun pengantin yang didambakan setiap wanita saat melangsungkan pernikahan, juga tidak ada resepsi pernikahan. Sebagai gantinya, kami hanya melakukan pesta kecil yang hanya bisa dikatakan sebagai acara makan-makan keluarga. Aku bahkan tidak mengundang sahabat baikku untuk datang. Jika sahabatku saja tidak kuundang, apalagi teman-teman dan kenalanku.
Jadi, pesta kecil ini tak jauh dari makan malam keluarga yang memiliki menu sedikit lebih banyak dan pastinya dengan lebih mewah —jika harus dibandingkan dengan menu makan malam asal yang biasanya ibu tiriku hidangkan beberapa tahun belakangan.
"Kakak ipar ganteng juga ya." Suara salah satu adik tiriku, yang menjadi satu-satunya tamu yang hadir, membuyarkan lamunanku.
Ya, kecuali dia. Nina, adik tiriku yang sedang menggoda suamiku. Selain dia, tidak ada tamu lain. Ayahku pun tidak ada. Hanya aku, suamiku yang masih muda, ibu tiriku, dan Nina.
Aku menatap tajam pada Nina. Ingin rasanya mengumpatkan kata-kata kasar padanya, ditambah dengan saran, "Kalau begitu kenapa bukan kau saja yang menikahinya?" Ingin rasanya ku lontarkan kata-kata itu andai tidak merasa kasihan dengan suamiku yang tampak canggung berada di antara kami yang merupakan orang asing baginya.
"Berapa usia Kakak?" Tanya Nina lagi pada Steven, suamiku.
"Dua puluh enam," sahut Steven singkat. Tidak seperti yang kuduga, Steven terlihat jelas tidak menanggapi kecentilan Nina yang padahal, menurutku sih, cantik dan manis.
'Ah… mungkin karena ada aku di sini.'
"Oh... Kakak hanya dua tahun lebih tua dari Nina?" Nina berbicara dengan gaya dan nada centil yang membuatku muak melihatnya.
'Ayolah Nina, tidak perlu berlebihan, tingkahmu membuatku kenyang seketika!'
"Keysa pulang dulu," ucapku sambil menggeser kursi dan bangkit berdiri.
"Kak Key sudah mau pulang? Kakak belum makan, kan?" Ucap Nina sok perhatian, padahal dia biasanya tidak begini.
'Halah... Tumben.'
"Aku tidak nafsu makan," sahutku ketus.
"Cie... Apa kakak sedang nafsu untuk segera melakukan malam pertama?"
'Bedebah ini!'
Untung aku bisa menahan diri untuk tidak mendampratnya seketika. Tapi dengan tatapan mataku, kurasa Nina tahu kalau aku marah padanya.
"Sudah... Sudah..." Ibu tiriku menengahi.
Dia tahu kalau aku marah, hanya dia saja yang bisa mengimbangi mulut berbahayaku. Tidak dengan Nina, juga adik tiri laki-laki lain yang tidak hadir dalam pernikahanku ini. Karena itulah dia dengan cepat mencegah agar aku tidak marah, terutama karena ini adalah hari pertama pernikahanku.
"Hati-hati di jalan ya, selamat menikmati malam pertama kalian," ucap ibu tiriku lagi sambil mengusap-usap tangan Steven seraya berkedip padanya.
'Oh yang benar saja! Menyebalkan!' Aku benar-benar muak melihat kelakuan Nina dan ibu tiriku ini. Orang-orang di rumahku memang tidak ada yang waras sama sekali, ―mungkin termasuk aku.
"Ayo..." Ajakku pada Steven tanpa memedulikan Nina yang baru saja mencegah kami pergi. Dia terlihat tertarik pada Steven. Aku bisa merasakan itu.
Nina biasanya tidak mau bicara pada pria yang tidak disukainya. Dia bahkan pernah membiarkan seorang pria baik-baik yang suka padanya menunggu di luar rumah selama 2 jam hanya karena dia tidak suka. Keterlaluan, kan?
Kalau aku mengingatnya lagi, aku merasa kasihan pada pria itu. Dia cukup baik, sopan dan sudah bekerja setelah lulus kuliah. Hanya karena kurang dalam hal tampang, Nina tidak menerima cintanya.
Andai dulu ada pria seperti itu yang mendekatiku, aku mungkin akan menerimanya.
Steven mengambil tas ranselnya yang terlihat berat —karena ransel itu sangatlah besar—, juga sebuah plastik hitam berukuran sedang, lalu pergi mengikutiku dengan patuh.
Aku sebenarnya agak sedikit kasihan padanya. Sudah jauh-jauh datang dari desa untuk menikahiku, tapi setelah bertemu denganku, aku malah bersikap agak dingin padanya.
"Sungguh anak yang malang," gumamku, sambil menatap Steven yang sedang memperhatikan jalanan ramai kota Jakarta.
Omong-omong, Steven ternyata tidak dekil juga tidak berambut gondrong. Sepertinya yang kulihat tempo hari adalah foto lamanya.
Steven yang berada di hadapanku saat ini cukup rapi. Kulitnya bersih, rambutnya juga pendek dan tertata dengan sangat rapi. Singkatnya, dia tampan, haha... Ups...
"Baru pertama kali ke Jakarta?" tanyaku, sekedar ingin membuat suasana sedikit mencair setelah seharian ini agak mengabaikannya.
Steven menoleh dan tersenyum padaku.
'Oh astaga, ayo bernapas Keysa... Oke baiklah, jantung? Aman...' Aku baru menyadari, selain tampan, dia memiliki senyum yang sangat memesona.
"Ya, ini pertama kalinya saya datang ke Jakarta," sahutnya sebelum kembali tersenyum, membuatku buru-buru mengalihkan mataku dari bibirnya.
'Astaga, yang benar saja! Bagaimana bisa ada pria yang tersenyum semanis ini?'
"Apa jalanan di Kalimantan tidak seramai ini?" tanyaku lagi seraya berusaha menjauhkan tatapan dari bibirnya.
"Di kotanya cukup ramai. Tapi tidak seramai ini. Dan...," ia mengernyitkan kedua alis sembari tersenyum aneh. "Jalanannya tidak berisik," lanjutnya.
"Tidak berisik? Bukankah semua jalanan pasti akan berisik kalau sedang ramai?" Aku tidak tahu dia ingin bercanda atau apa, yang pasti jawabannya membuatku bingung. 'Hmmm...'
"Tidak ada yang membunyikan klakson sesering ini." Sahut Steven sebelum akhirnya tersenyum kaku.
"Oh..."
Aku hanya bisa menanggapi dengan senyum kaku yang sama. Sepanjang hidup, aku cuma pernah pergi seputaran Jakarta, Bekasi, Tangerang, dan Bali. Jadi aku tidak bisa membayangkan jalanan padat kendaraan tanpa adanya keributan klakson.
'Di Bali yang tenang saja aku masih sering mendengar suara klakson,' kenangku.
Aku dulu kuliah di Bali dan seingatku jalanan di sana juga hanya sedikit lebih tenang saja dari jalanan di sini.
Taksi yang kupesan akhirnya tiba dan kami pun pulang menuju rumah pengantin baru kami.
Oh, ngomong-ngomong ibu tiriku membelikan kami sebuah rumah sederhana sebagai hadiah pernikahan.
Tidak... Sebenarnya tidak bisa disebut sebagai hadiah. Menurutku rumah itu disediakan untuk kami agar aku bisa pergi dari rumahku. Rumah ayahku.
Aku tahu, ibu tiriku ingin menjual rumah itu sejak lama. Seperti yang pernah kukatakan, beberapa pengusaha menginginkan tanah dari rumah kami yang berukuran sangat luas, sepertinya ingin membangun ulang rumah itu menjadi komplek rumah toko.
Tapi dia selalu gagal menjualnya karena aku terus-terusan menolak untuk pindah dan tentu saja menolak untuk menandatangani akta jual-belinya.
Setelah kupikir-pikir lagi, sindiran ibu-ibu tetangga kami yang selalu mengataiku perawan tua justru digunakannya sebagai kesempatan untuk menikahkanku secara paksa agar aku pindah dan tercoret dari daftar pewaris utama tanah milik ayahku itu.
Sekarang karena aku sudah pindah, ibu tiriku sudah pasti akan menjual rumah itu segera.
"Baru jemput adik ya, Neng?" Tanya sopir taksi, membuyarkan lamunanku.
'Haiss...'
Aku tersenyum canggung membalas tatapan pria paruh baya itu dari kaca spion di dekat kepalanya, lalu melirik pada Steven yang juga sedang tersenyum sambil menatapku.
'Argh... Tuh, kan? Pasti kelihatan sekali kalau aku lebih tua darinya. Untung saja tidak dikira keponakanku.'
"Kami suami-istri, Pak," sahut Steven menggantikanku.
Aku segera melirik kembali ke arah spion. Memicingkan kedua mataku, ingin melihat reaksi pak sopir setelah Steven memberi jawaban.
Pria paruh baya itu mengangguk-angguk kecil. Tidak ada ekspresi terkejut di wajahnya. Kalaupun ada, hanya sedikit. Tidak berlebihan.
"Saya pikir Neng ini kakaknya, Bang...," ucap pak sopir. "Menikah dengan jarak usia satu atau dua tahun dengan wanita yang lebih tua tidak jadi masalah sih, Bang," tambahnya lalu tertawa cekikikan.
'Apa?! Tidak, tunggu...'
Aku sebenarnya agak kesal dengan apa yang dia bicarakan. Topik pembicaraannya memang kurang sopan. Terlalu bersifat privasi. Tapi..., 'Satu sampai dua tahun? Apa jarak usia kami hanya terlihat sejauh itu?'
Aku tertawa. 'Terlihat 1-2 tahun kan, ya? Yuhu... Syukurlah tidak seburuk yang kukira.'
Pak sopir sampai menoleh padaku, terkejut saat aku tiba-tiba saja tertawa.
"Maaf Neng kalau ternyata seumuran atau Neng-nya malah lebih muda. Hehe..."
"Apa terlihat seperti itu, Pak?" Tanyaku dengan penuh semangat sebelum akhirnya tertawa lagi.
"Maaf Neng. Maklum sudah tua, mata bapak sudah agak rabun..."
Tawaku sirna seketika.
'Jiaahhh... si Bapak... Aku sudah melayang tinggi malah ditarik jatuh seketika. Jadi karena mata rabunnya maka dia tidak bisa melihat perbedaan usia kami yang sangat jauh ya? Hhh... Ternyata bukan karena aku terlihat awet muda.'
Aku tertarik untuk menoleh pada Steven, saat merasa kalau dia sedang menatapku, memperhatikan aku yang sedang mengobrol dengan pak sopir. Bukan hanya menatapku, dia ternyata sedang tersenyum juga.
'Haiss... Jangan tersenyum terutama untuk mengejekku! Kau tidak tahu kalau senyummu itu… Ah sudahlah!'
Saat aku mengernyitkan kedua alisku, Steven buru-buru mengambil ponsel dan mengetikkan sesuatu di sana, lalu mendekatkan ponselnya padaku.
Aku membaca tulisan "Anda memang terlihat awet muda," di layar ponselnya.
Setelah mendelik padanya selama beberapa saat, aku pun mengambil ponselku juga lalu menunjukkan balasanku padanya, "Tidak usah menghiburku."
Berikutnya dia membalas agak panjang, "Saya tidak sedang menghibur, apalagi berbohong. Jujur, saat saya melihat foto Anda, saya kira ibu Anda membohongi saya tentang usia Anda. Dan saat saya melihat Anda untuk pertama kalinya, saya tidak percaya jika Anda terlihat jauh lebih muda lagi dibandingkan yang ada di foto."
'Omong kosong! Hahaha... Huft… rayuan lelaki.'
Aku menyimpan kembali ponselku, tidak berniat membalas pujian Steven yang kuanggap hanyalah bualan kosong seperti yang sering para lelaki hidung belang ucapkan padaku.
Aku kemudian melirik sebentar pada pak sopir melalui kaca spion —melihatnya sedang senyum-senyum sendiri—. Sepertinya dia memperhatikan interaksi yang aku dan Steven lakukan.
Aku akhirnya memalingkan wajah dari mereka, memperhatikan kendaraan yang berlalu-lalang dari balik kaca mobil di sebelah kananku.
Dalam lamunanku, aku kembali ingat dengan apa yang baru saja Steven katakan, dan itu membuatku tidak bisa menahan senyum. Mungkin saja itu caranya untuk mencairkan suasana di antara kami agar bisa dekat denganku, dan pujian itu cukup membuatku sangat terhibur.
'Usahanya lumayan juga…'
Rasa takut akan terlihat berbeda jauh saat sedang jalan berdua dengannya —yang selama beberapa hari ini menghantuiku— agak sedikit berkurang.
'Hah? Kenapa aku malah terbujuk oleh kata-katanya?!'
❀❀❀
Steven memperhatikan keseluruhan tampak luar rumah sederhana kami selama beberapa saat, lalu tatapannya berhenti agak lama pada teras sebelum akhirnya mengikutiku masuk ke dalam rumah.
Rumah kami memang masih belum direnovasi. Rumah tipe 36 yang bahkan hanya memiliki teras seukuran 1x3 meter. Entah apa yang developernya pikirkan saat membuat teras seukuran itu. Mungkin, jika ukuran 1x2 meter tidak mirip seperti sebuah kuburan, mereka akan membuatnya seukuran itu.
Aku mempersilahkan Steven duduk di sofa bulu, satu dari dua perabotan yang ada di rumah kami yang kesemuanya kubeli secara kredit.
"Kau lebih suka teh atau kopi?" Tanyaku setelah menunggunya meletakkan tas ransel besar yang terlihat sangat berat itu, juga kantongan plastik yang sejak tadi ditentengnya, di lantai.
Entah apa isi plastik itu, kuharap bukan makanan khas daerahnya. Bukannya aku tidak suka makanan khas daerah lain, tapi makanan itu mungkin sudah basi setelah tertutup dalam plastik seharian.
Ia menatapku dengan mulut sedikit terbuka, seperti orang kebingungan, seperti baru saja mendapatkan pertanyaan yang agak berat untuk dimengerti.
'Apa di kampungnya teh dan kopi disebutkan dengan bahasa yang berbeda?'
"Air hangat saja," sahut Steven akhirnya.
"Oh…, ok..."
'Itu lebih baik. Aku jadi tidak perlu repot.'
"Apa saya boleh ke kamar mandi?"
Aku menatap wajahnya yang mengkilap dipenuhi keringat kering bercampur debu.
'Ah... dia pasti merasa gerah karena pertama kalinya ke Jakarta, kan? Tingkat kelembaban udara di sini dan di kampungnya pasti berbeda sangat jauh. Pantas sejak tadi dia terlihat gelisah.'
"Tentu. Kamar mandi ada di sana." Aku menunjuk salah satu dari 4 pintu yang ada di rumah kami. Bagi yang pernah tinggal di rumah tipe 36 pasti tahu, hanya ada 4-5 pintu di rumah bertipe tersebut. Pintu depan, pintu kamar, pintu kamar mandi, dan pintu menuju halaman belakang.
Aku memperhatikannya mengeluarkan handuk dan pakaian dari dalam kantongan plastik, lalu mengikutinya ke kamar mandi —tentu hanya dengan tatapan mataku saja.