Dari bisnis yang dikelolanya, Nara banyak belajar, terutama tentang sifat manusia yang tidak pernah puas. Jangan jauh-jauhlah, dirinya sendiri bisa dijadikan contoh. Bagaimana lipstik merah menyala yang berjejer di meja riasnya bisa dijadikan simbol ketidakpuasan manusia.
Setiap bulan, kadang malah dua atau tiga kali sebulan, pasti kotak lipstiknya ada penghuni baru. Kadang warnanya sama tapi merk berbeda, ada juga yang merknya sama tapi shadenya beda tipis. Bisa dibilang, sebagian besar penghasilan Nara teralokasi ke sana.
Dirga bilang itu pemborosan, tapi Nara menyebutnya investasi. Dirga mencibir mendengar pembelaan diri Nara itu. Hah? Investasi? Investasi macam apa itu? Memangnya berapa harga jual kembali segambreng lipstik second yang warnanya hampir sama semua itu? Mana warnanya mentereng? Situ siapa sih? Marilyn Monroe? Dirga mencibir tiap kali berdebat dengan Nara soal kecanduannya dengan lipstik merah menyala.
Sekarang, adalagi yang sejenis dengan Nara. Klien yang punya sifat tak pernah puas. Ya, klien cantik di depannya ini juga masuk dalam kategori manusia tak pernah puas. Ditilik dari sisi manapun, klien Nara yang satu ini bisa dibilang nyaris sempurna. Tinggi semampai, kulit bersih cerah, wajah mungil dengan hidung bangir, tulang pipi tinggi, dan bibir yang tipis. Tapi tetap saja, dengan kondisi nyaris sempurna seperti itu, si klien masih belum merasa cantik dan masih ingin operasi lagi.
"Kalau mbak Nara operasi dimana?" tanya si klien sambil menatap Nara dari atas ke bawah. Tatapan matanya perpaduan dari rasa kagum dan iri. Dan selalu pertanyaan yang sama lagi yang di dengar Nara. Dirinya selalu dituduh melakukan operasi plastik, mentang mentang dia pemilik tempat ini.
"Saya belum pernah operasi apapun, Bu. Jangankan pisau bedah, suntik vaksin bulan lalu saja, saya hampir ngompol ketakutan." jawab Nara dibalas dengan tatapan tidak percaya perempuan di depannya itu.
"Ooh.. berarti mbak Nara ini memang jago make up ya. Buktinya bisa kelihatan cantik begini. Mana mungkin orang bisa cantik kayak barbie gini kalau nggak di edit edit mukanya. Kalau nggak oplas, pasti make up deh." perempuan itu menjawab lagi dengan nada sinis. Satu sisi mulutnya terangkat ke atas, dan dia memasang wajah angkuh, dan mengatakan semua itu tanpa melepaskan pandangan dari brosur yang dari tadi bolak balik dibacanya. Nara hanya menanggapi dengan anggukan samar sambil diam diam menggeretakkan gigi. Sesukamu mau bicara apa, Bu. Yang penting transaksi kita berjalan lancar. Kalau bukan karena uang, sudah lama mukamu itu ku operasi sendiri tanpa bius. Batin Nara menahan kesal.
"Saya cuma mau filler bibir. Tapi yang bagus. Sama hidung nih, bisa dimancungin lagi dikit kan? Ini pipi juga kayaknya udah mulai kempot deh.." Lisa Natania, perempuan cantik mantan model itu terus mengeluhkan kekurangannya sambil menatap cermin. Ia lalu melanjutkan.
"Sudut mata juga mulai ada keriputnya nih, iya kan sayang?" Lisa menoleh ke arah suaminya. Meminta pendapat.
"Mau jujur apa bohong?" tanya Fernando, sang suami pada istrinya.
"Ya jujur lah sayang." jawab Lisa sambil terus mematut diri di cermin besar di meja Nara.
"Aku nggak suka kamu oplas. Kamu tu udah cantik. Kurang apalagi coba?" tanya Fernando yang terlihat kesal dengan pilihan istrinya untuk oplas.
"Aku cuma nggak suka keliatan tua, Sayang. Cewek-cewek di sekeliling kamu tuh masih muda-muda semua, bisa kesalip pelakor kalo aku nggak berusaha mempertahankan kecantikan!" bantah Lisa dengan suara meninggi.
"Itu lagi yang dibahas! Memangnya kapan sih aku lirik perempuan lain?" Suara Fernando naik ikut ikutan satu oktaf seperti sang istri.
Nara memutar bola mata. Helloooww.. Bapak, Ibu, di sini kantor agen wisata medis dan konsultan operasi plastik. Bukan ruangan penasehat perkawinan. Ini kenapa malah berantem bahas rumah tangga di sini sih?
Jangan sampe ni kantor berubah jadi sasana tinju ya, aku ogah alih profesi dari konsultan jadi wasit dadakan. Batin Nara dalam hati sambil menatap sepasang suami istri di depannya itu dengan tatapan jengkel.
"Kamu pelit banget sih! Ini tuh nggak seberapa biayanya!" Lisa mulai berteriak.
"Ini bukan masalah duit! Ini paling berapa sih, mana pernah aku mempermasalahkan uang? Beli apartemen sama tanah kemarin aja aku nggak hitung kok, apalagi cuma biaya operasi yang recehan begini." Fernando tak terima dibilang pelit. Dia membalas istrinya dengan sengit.
Receh? Sepuluh digit dia bilang receh? Dia siapa sih? Crazy Rich? Atau CEO terkaya yang pernah masuk forbes? Shombong Amhat! Nara membatin kesal.
"Ya udah, kalo gitu kenapa dilarang coba?" si istri mulai ikut-ikutan meninggikan suara. Mereka tidak sadar sedang ada dimana. Bagai permen karet di ujung lidi, pertengkaran mereka memancing minat lalat-lalat tukang gosip yang mulai melebarkan telinga, siap menebar berita panas layaknya akun Lambey Tumpah.
"Ya sudah terserah kamu ajalah! Aku cuma nggak mau muka kamu jadi berubah! Siapa sih yang hasut kamu sampe segini ngototnya pengen oplas? Paling-paling nanti hasilnya juga sama aja!" Fernando mengomel lagi. Menyulut kemarahan sang istri. Brosur dengan foto wajah Kim Ji Won dan Yua Shinkawa mendadak remuk dalam genggaman Lisa.
"Ya udah, kalo memang nggak boleh aku batalin aja. Kamu emang tega." air mata Lisa mulai menggenang. Drama deh. Nara memutar bola mata. Mulai jengah dengan kelakuan dua sejoli tak punya urat malu ini.
"Bukan gitu sayang.." Fernando melunak. Dimana-mana sama, lelaki selalu lemah dengan air mata, seperti perempuan yang selalu luluh dengan lelaki yang punya mulut manis berbisa.
"Aku pengen cantik, Yang. Anita yang rekomendasiin agen oplas ini ke aku. Kamu liat dong dia makin cantik dan keliatan lebih muda. Masa dia bisa aku nggak bisa?" rengek Lisa.
Ah, si Anita rupanya. Istri anggota dewan juga, jebolan ajang pencarian bakat yang tereliminasi pertama kali. Mantan sekuter, selebriti kurang terkenal yang beberapa bulan lalu sempat menggunakan jasa kantor mereka untuk mempermudah proses oplas di korea. Pasti Lisa dan Anita bertetangga. Nara menebak dalam hati.
Ternyata si Lisa ini penganut paham rumput tetangga lebih hijau. Sungguh klise. Horang kayah macam mereka ini tak ada bedanya dengan emak-emak kampung yang biasa dilihat Nara. Selalu iri dengan apa yang dimiliki tetangga, padahal punya sendiri tak kalah bagusnya. Kalau emak-emak kampung nyinyirin tetangga yang beli kulkas baru padahal miliknya sendiri masih bagus, si Lisa ini iri dengan muka baru sang tetangga padahal dia sendiri jauuuh lebih cantik dari Anita.
"Kamu ni selalu aja iri dengan punya tetangga. Kemarin beli apartemen gara-gara Mbak Yuli, istri Pak Heru juga baru beli apartemen kan? Terus apalagi? Mobil kamu minta diganti juga ngikutin gayanya si Renata kan? Anaknya Pak Salman? Terus beli tanah itu? Hasutan siapa lagi itu?" Fernando meradang lagi.
"Itu bukan hasutan. Tanah itu aku beli karena semua pada beli tanah disitu, masa aku sendiri nggak? Masa tetangga investasi di mana-mana aku cuma gigit jari aja?" Lisa membela diri.
Nara mendesis. Sampai kapan drama ini mencapai episode akhir? Live lagi, mana bisa di skip! Harus di cut ini, sebelum jumlah episodenya ngalahin sinetron tukang cucur naik bajay.
"Ehm.. Bapak, ibu.. Maaf saya menyela. Saya coba jelaskan pilihan kliniknya dulu ya. Setelah itu, nanti Bu Lisa bisa diskusikan lagi dengan Bapak, karena untuk tindakan yang tadi Bu Lisa sebutkan tadi, saya ada rekomendasi beberapa klinik yang terkenal di Korea. Bu Lisa dan Bapak bisa berdiskusi dulu. Jadi atau tidaknya bisa dibicarakan nanti." Nara menjelaskan dengan santai.
Kedua orang didepannya memasang ekspresi terkejut, malu, bercampur kesal. Mungkin karena babak pertama pertarungannya diinterupsi.
Tapi akhirnya, kedua orang itu pulang juga setelah Lisa bersikeras mengambil beberapa brosur dan berjanji pasti datang lagi untuk proses selanjutnya.
Dirga, yang sudah hampir sekarat karena lelah, lapar dan kesal, langsung mengajak Nara pulang. Rumah mereka memang searah. Dengan dalih menghemat ongkos, Dirga selalu nebeng Nara setiap hari.
"Rumputnya sih sudah bukan lagi hijau." gerutu Nara sambil menutup pintu.
"Hah? Apa? Rumput? Rumput apa? Kok tiba tiba kamu bahas rumput sih?" kening Dirga berkerut mendengar Nara bergumam sendiri soal rumput. Dirga paham kalau sahabatnya ini sering bicara random. Tapi ini terlalu random. Kenapa tak ada angin tak ada hujan, tiba tiba membahas rumput?
"Itu, si Lisa. Rumput tetangganya warnanya jingga. Semenarik itu, makanya si Lisa ngotot banget pengen punya juga. Ah, sudahlah. Ayo kita pulang. Kalau sampai dia jadi, kita harus berterimakasih ke Anita, si tetangga yang rumputnya berwarna jingga." ujar Nara menganalogikan sifat iri hati Lisa pada Anita dengan rumput tetangga. Sementara Dirga menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia bingung dengan apa yang dibicarakan Nara.
Seandainya Nara tau, warna jingga rumput tetangga itulah yang nanti jadi sumber malapetakanya.
Baru jam setengah delapan pagi. Nara masih di balik kemudi, dengan sepotong roti selai kacang terjepit di sela bibir saat ponselnya berdering dan suara lembut Sevilla terdengar dari seberang sana.
"Pagi, Bu Nara, maaf bu, ada tamu menunggu ibu.
"Tamu? Sepagi ini?" Nara seketika menoleh ke arah Dirga yang duduk di sampingnya, "Ga, ada jadwal terlewat ya?" Nara bertanya dengan raut wajah bingung. Seingatnya tak ada jadwal sepagi ini. Tapi mungkin ada yang terlewat. Itu sebabnya Nara bertanya pada sekretarisnya sekaligus sahabatnya ini. Dia yang memegang semua jadwal Nara. Tapi yang ditanya malah sibuk memasang kaos kaki dekil yang seketika menebar aroma tahu gejrot campur ikan asin jambal di mobil Nara.
"Heh! Bangke kecoa! Jorok banget sih! Baaauuu tauuu! Berapa lama tuh benda nggak dicuci?" maki Nara sambil melempar botol parfumnya ke kepala Dirga. Tepat mengenai bagian samping kepalanya. Dirga mengelus jidatnya yang memerah, lalu menyemprot cairan wangi itu ke segala arah.
"Baru tiga hari kok, itu yang ketinggalan di jok mobil kamu kemarin malah udah semingguan nggak dicuci. Emangnya nggak kecium?" jawab Dirga santai.
"JOROOOKK!" Nara meradang sambil kembali memukul Dirga.
"Aduh!" Dirga meringis. Serangan kedua tiba-tiba mendarat di tempat yang sama.
"Jorok banget sih! Untung aku lagi nyetir, kalo nggak, ku sumpel tuh kaos kaki ke mulut kamu!"
"Iyaaa maaap.. Apaan tadi? Nanya apaan?"
"Itu.. Ada janji kelewat nggak? Ini Sevilla telepon, katanya ada tamu pagi buta begini."
"Hah? Nggak ada. Dari kemarin sore aku bolak balik ngecek jadwal." Dirga menjawab sambil mengecek lagi ponselnya. Mereka berdua sama-sama bingung. Jarang sekali kantor mereka kedatangan tamu pagi-pagi sekali.
"Halo, Sev? Tamunya siapa?" tanya Nara dengan kening berkerut.
"Katanya namanya Tania, Bu." jawab Sevilla.
"Hah? Tania? Oke, suruh tunggu sebentar ya, Sev. Kurang lebih lima menit lagi sampe kantor." jawab nara sambil memprediksi waktu kedatangannya ke kantor.
"Baik, Bu." Sevilla menjawab, lalu menutup telepon setelah Nara selesai berbicara.
Kening Nara lagi lagi berkerut pertanda bingung. Tania? Satu-satunya Tania yang Nara kenal cuma perempuan sialan itu.
Jangan-jangan....
"TNT?" seolah ada kekuatan telepati, Dirga menggumamkan tiga huruf yang baru saja terpikirkan oleh Nara.
Ya.. T N T.
* * *
Trinitrotoluena. Begitu Nara dan Dirga memanggilnya. Tentu saja tanpa sepengetahuan yang bersangkutan. Bukan tanpa alasan Nara mengganti nama Tania Nashifa Trianda menjadi nama senyawa kimia itu. Selain karena sama-sama disingkat TNT, merekapun punya sifat yang sama : pemicu ledakan.
Bukan satu dua kali Nara terdampak 'ledakan' yang disebabkan ulah perempuan cantik itu. Dan semuanya meninggalkan 'cacat permanen' dalam hidup Nara.
Mulai dari nama baiknya yang tercemar, ia juga dibully habis habisan di kampus, lalu wisudanya juga harus tertunda, sampai terakhir, ia pun harus berurusan dengan pihak kepolisian gara gara keterlibatan Tania.
Rasa-rasanya, kalau tidak menyangkut hidup dan mati, Nara tidak mau berurusan dengan perempuan satu itu. Sudah cukup dia membuat masalah dalam hidup Nara.
Tapi sekarang, mau tidak mau, Nara harus menghadapinya. Seorang perempuan mungil berambut coklat yang sedang duduk diruangannya. Mata perempuan itu bertumpu pada benda bertuliskan Kinara Aruna Azalea di meja. Papan namanya.
Benar dugaan Nara dan Dirga. Perempuan ini adalah TNT. Tania Nashifa Trianda. Si pemicu ledakan, Trinitrotoluena.
"Tania?" Nara menyapa singkat saat melihat Tania duduk di ruang tunggu ruangannya.
"Eh, hai, Ra.. Apa kabar?" Tania balas menyapa. Ia langsung berdiri dan memeluk Nara dengan sikap bersahabat namun kontras dengan tatapan matanya yang dingin.
"Baik. Duduk, Tan. Tumben pagi-pagi? Ada perlu apa?" Nara yang tak suka basa-basi langsung menanyakan maksud kedatangan Tania. Untuk apa basa-basi? Hubungan masa lalu mereka yang tidak baik membuat Nara merasa tak perlu bersikap manis pada perempuan ini.
"Aku perlu oplas, Ra. Klinik atau rumah sakit terbaik di Korea, dan yang paling cepat. Aku butuh segera. Berapapun kubayar. Uang bukan masalah." tukas Tania cepat. Kalimat terakhir ia cetuskan dengan intonasi yang lebih tegas, dan ada sedikit nada sombong di sana.
"Soal klinik atau rumah sakit, aku bisa rekomendasikan yang terbaik. Aku jamin itu. Tapi kalau soal cepat, aku belum bisa janji ya. Kalau ada yang kosong, sekarang juga bisa, tapi kalau penuh, kamu harus masuk waiting list. Itu aturannya. Semua pun patuh dengan itu, tidak peduli siapa dan berapa banyak uang yang dia punya." jawab Nara tegas. Ia menyerang balik Tania. Tania menghela nafas dan melirik Nara dengan tatapan tak suka.
"Maaf menyela, kalau boleh tau, tercepat yang dimaksud itu berapa lama? Siapa tau masih bisa diusahakan. Lagipula kan belum cek jadwal. Mudah-mudahan bisa disegerakan." Dirga mencoba menengahi.
Tania, yang tak sadar akan kehadiran Dirga langsung menatapnya heran. "Dirga?"
"Hai, Tan..." sapa Dirga singkat.
"Kamu kerja di sini?" Tania menatap Dirga tak percaya.
"Iya, aku manajer di sini, sekaligus sekretaris boss kita ini. Dia mencuriku dari sebuah bank, aku dipaksa resign dan memaksaku bekerja dengannya." Dirga menjelaskan sambil tersenyum dan mengerling ke arah Nara. Tania, yang masih terkejut, menatap Dirga dan Nara bergantian. Sekarang posisinya makin tidak nyaman. Dua orang yang tau masa lalunya sekarang ada di sini.
"Aku perlu oplas secepatnya. Kalau bisa minggu ini." tegas Tania cepat.
"Minggu ini? Berarti tinggal tiga hari lagi. Ini bedah estetik zeyeeng, bukan bedah jantung. Nggak sedarurat itu! Buru-buru amat? Memangnya kalau nggak oplas minggu ini jantungmu bisa berhenti?" sindir Nara sinis. Sikap basa-basinya seketika lenyap.
Dirga menatap Nara, memasang gesture seperti ibu yang jengkel dan ingin menenangkan anaknya yang tantrum ditengah prosesi ijab kabul tetangga. Nara, bagaikan hewan buas yang dijinakkan pawang, langsung menutup mulutnya dengan enggan.
"Tan, kita ngobrol di ruangan sebelah ya.. Nanti aku coba cocokkan jadwal sambil rekomendasikan beberapa rumah sakit yang sesuai dengan permintaan kamu." lagi-lagi Dirga mengambil alih, sebelum si boss medusa bersikap tidak profesional dan melontarkan kalimat sakti yang bisa mengusir klien. Bisa gawat, singa betina menyerang, cuan bisa hilang.
Tania melempar tatapan setajam pisau jagal ke arah Nara. Dia kesal setengah mati. Kalau bukan karena reputasi kantor Nara yang dikenal terbaik dan sudah tersohor kemana-mana, Tania pasti sudah angkat kaki dari tadi. Apa boleh buat, operasi ini sangat penting untuknya.
"Kok buru-buru amat, Tan?" tanya Dirga penasaran.
"Tiga bulan lagi aku harus ke Jepang. Suamiku ada kerjaan di sana. Penampilanku harus all out, Ga. Suamiku bukan orang sembarangan." jawab Tania dengan nada angkuh dan dengan sombong memamerkan kedudukan suaminya yang katanya bukan orang sembarangan.
"Tiga bulan? Tania, bedah paling sederhanapun proses pengerjaannya bisa berhari-hari. Pake make up pun baru bisa full setelah hitungan minggu. Tiga bulan lagi? Jangan mimpi bisa tampil all out, muka nggak bengkak lagi pun udah untung." cecar Dirga panjang lebar.
Tania menghela nafas. Tanpa sadar jarinya membuat gerakan teratur mengetuk meja. Keberangkatan ke Jepang itu sudah seperti masalah hidup dan mati untuknya. Entah kenapa, Tania merasa sangat tidak percaya diri kalau harus terbang ke Jepang dengan kondisi wajahnya yang sekarang.
"Ga, paling cepat berapa lama?" tanya Tania, rupanya ia masih bersikukuh ingin oplas secepatnya.
"Tergantung, tindakan apa yang mau dilakukan nanti? Tapi kalau aku lihat, kamu harusnya nggak perlu di operasi, Tan. Mukamu yang sekarang juga nggak kenapa-napa." Dirga enggan menyematkan kata cantik untuk teman lamanya ini. Itu sebabnya ia hanya mengatakan kalau wajah Tania tidak kenapa kenapa. Walaupun dalam hati dia mengakui, kalau Tania sebetulnya memang sangat cantik.
"Face and body liposuction.." permintaan pertama Tania. Ia mengabaikan komentar Dirga.
Mata Dirga membola. Hah? Sedot lemak? Lemak bagian mana lagi yang mau dia enyahkan? Muka tirus badan kurus begitu? Kurang-kurangin lah, Tan. Kalau ke pantai terus ketiup angin siapa yang tanggung jawab? Omel Dirga. Sayangnya omelan itu cuma dalam hati saja. Bagaimanapun juga, Tania adalah klien.
"Ear cartilage rhinoplasty. Biar hasilnya lebih alami.." permintaan kedua. Ia meminta hidungnya dipermak dengan menambahkan tulang rawan dari telinga.
Buseet. Itu hidung kurang mancung gimana lagi, Markonah! Mau cosplay jadi pinokio apa gimana ini? Dirga mengomel mengingat hidung Tania aslinya memang sudah cukup mancung. Untungnya lagi lagi Dirga hanya mengomel dalam hati, bukan disemburkan semua macam si boss medusa tadi.
"Face counturing perlu nggak ya, Ga? Atau cukup botox aja biar dapet V shape?" lagi lagi Tania bertanya sambil mematut dirinya di cermin.
Manakutempe. Yang kulihat mukamu itu sudah runcing mirip beauty blendernya si Sevilla. Hati-hati dikira tumpeng kebalik. Dirga mulai jengkel dan kembali mengomel dalam hati lagi.
"Gini Tan.. Untuk tindakan sebanyak itu nggak akan cukup cuma dengan tiga bulan. Aku serius. Kamu memang sudah bisa beraktifitas, sudah bisa make up. Tapi hasil operasimu belum bakal terlihat. Yang ada nanti kamu malah kelihatan bengkak, Tania." jelas Dirga pelan. Berharap Tania paham.
Tanpa sadar Tania mengumpat meski pelan. Dia harus percaya diri dan itu tidak cukup hanya dengan sentuhan make up. Di Jepang, selain mendampingi suaminya, dia juga ada janji temu dengan beberapa teman sosialitanya. Tania menolak terlihat tua. Apalagi rata-rata mereka sudah pernah merasakan tajamnya pisau bedah dokter Korea. Tania jelas tak mau kalah.
"Oke, gini aja, Ga. Tolong tetap carikan aku rumah sakit terbaik dan tercepat. Aku tetap akan operasi secepat mungkin. Tolong biayanya di WA ke aku ya, langsung ku transfer. Masalah lain-lain besok aja kita bahas, nanti aku kesini lagi. Aku buru-buru." Tania memutuskan secepat kilat. Dirga hanya mengangguk.
"Oke. Siap bu boss. Aku proses yaa.." tukas Dirga yang senang karena ini artinya perusahaan mereka akan dapat cuan.
"Oke. Eh, satu lagi. Aku maunya, selama proses ini berlangsung, kamu yang jadi konsultan aku. Jangan sampe alergiku kambuh kalo berurusan dengan nenek sihir itu!" Tania menunjuk ruangan Nara sambil melirik tajam.
Sejurus kemudian, dia pergi begitu saja tanpa pamit dengan Nara.
Dirga yang profit oriented langsung mengerjakan apa yang Tania pinta. Tanpa sadar bahwa TNT itu akan meledak lagi. Tania Nashifa Trianda, akan langsung menjelma menjadi Trinitrotoluena, dan menyebabkan Nara harus babak belur terkena ledakannya.