Isak tangis dan teriakkan memekakkan saling bersahutan. Menggema di rumah megah yang dipenuhi keluarga besar dan sanak saudara. Kecemasan, kekalutan, dan kekacauan berbaur merasuki jiwa-jiwa insan di sana.
“Ke mana dia, Bu?” tanya Mardhan seraya memeriksa kamar besar berhias kain lavender berpadu putih. Dibantingnya pintu setelah mendapati tiada siapa pun di dalamnya. Berlari ke arah balkon pun tak ada. Pagar menuju tangga dari tempat tersebut yang mengarah ke halaman belakang tampak terbuka.
“Mau jadi apa anak itu, Bu. Ya Tuhan, malu kita, Bu. Malu!”
Seluruh yang hadir berdesakkan, persiapan untuk acara besok pun terabaikan.
Lika hanya menunduk seraya terisak duduk di kasur. Memikirkan penyebab putrinya yang selama ini penurut tiba-tiba menjadi pemberontak dan senekat itu. Terlebih pada acara penting yang hendak dilangsungkan tinggal hitungan jam.
“Mau di kemanakan wajah kita, Bu? Kamu enggak becus, ngedidik anak!”
Lika terisak, tak kuasa menahan sesak di dada. Hanya bisa pasrah menerima lontaran kalimat tajam suaminya.
Bisik-bisik keluarga dan sanak saudara yang berdesakkan depan ruangan itu, membuat Mardhan sampai tidak terkendali. Dia bangkit membanting barang-barang di kamar itu. Hingga dadanya terasa nyeri seiring napas yang terasa berat. Urat-urat di lehernya tampak menegang. Disertai sorot netra tajam dan memerah.
Hisyam, selaku anak sulung di keluarga itu lekas menginterupsi. “Tolong pahami keadaan kami, semuanya.” Dia mengatupkan tangan depan dada seraya menyorotkan tatapan penuh penyesalan.
“Kelihatannya aja adikmu itu penurut, ternyata kelakuannya lebih kurang ajar ketimbang anak kami yang bebas dan terkesan kurang sopan,” celetuk salah seorang kerabat Mardhan.
“Topengnya udah kebuka sekarang, kan?” timpal salah seorang lagi.
“Weslah, bubbar! Ora ono gunane nang omah iki. Wes mulih kabbeh!” teriak seorang bapak-bapak berkumis yang merupakan kakak Lika.
“Enggak nyangka, ya!”
“Iya, igh. Amit-amit cah weddok macam iku.”
“Kurang didikan atau terlalu dimanja kali!”
“Sia-sia semuanya!” Berlanjut banyak komentar dan hujatan insan-insan di sana.
Hisyam hanya bisa menunduk sembari terpejam, tak berkutik mendengar seluruh kalimat tajam yang dilontarkan. Dia hanya bisa pasrah menerimanya, sebab dirinya pun sama sekali tidak bisa menoleransi tindakan adiknya.
Sungguh memalukan!
Hisyam menggemeretukkan gigi seiring tangan yang terkepal erat. Menyorotkan tatapan tajam ke arah para tamu yang berangsur pulang. Demi Tuhan, dia sangat kecewa terhadap adiknya. Benci tindakan tak bertanggung jawab macam demikian.
Sandrina, istri Hisyam mendekat, lantas menyentuh bahu suaminya. “Kendaliin dirimu sekarang, Mas. Jangan sampe kita kena batunya. Kamu kudu tegas sama adikmu itu!”
“Ya, Mas harus tegas bahkan lebih keras. Untuk kali ini.” Pria itu berjalan ke kamar Viskha yang masih terdengar barang-barang dipecahkan.
Mendapati ayahnya berang dan sulit ditenangkan, juga ibunya yang tak henti meneteskan air mata.
Dia mendekati Lika, membimbingnya berdiri, lantas membawa ke dekat istrinya. Khawatir terkena imbas kemarahan ayahnya.
“Sand, tolong bawa Ibu ke kamarnya!” pintanya kepada sang isri, lantas kembali ke ruangan sebelumnya.
Kedua wanita itu pun berjalan dengan Sandrina memegangi bahu ibu mertuanya ke tempat yang disebutkan Hisyam.
“Yah, stop! Tolong kendaliin amarah Ayah. Semua ini enggak ada gunanya.”
“Gimana Ayah bisa tenang mendapati semua ini? Adikmu lari dan kita menanggung malu akibatnya. Mau dikemanain wajah kita, Syam? Dia udah mencoreng nama baik keluarga.” Sang ayah duduk terhempas di lantai dengan penampilan sudah tak karuan.
“Ya Hisyam juga marah dan kecewa, tapi kita harus nyari dia buat pertanggung jawabin perbuatannya, Yah. Kepalang basah nyebuh sekalian. Kita harus bikin Viskha menyadari kesalahan dan menyesalinya.” Pria berumur tiga puluh enam tahun itu mengepalkan tangan dan menggemeretukkan gigi ketika menyebut nama adiknya.
“Ayah bahkan enggak mau lihat lagi dia menampakkan batang hidungnya di depan ayah! Meski sampe mati pun!”
Hisyam terkesiap mendengarnya, walau bagaimanapun dia tak bisa membayangkan jika hal itu benar-benar terjadi. Namun, memang amarah bisa membutakan segalanya. Dia sebagai kakaknya saja sudah sangat kecewa apalagi orang tua mereka, bukan? Memaklumi tindakan ayahnya, hanya itu yang bisa dilakukannya kini.
“Kenapa adikmu sampe senekat itu? Enggak ada satu pun didikan rumah ini yang dia pake. Dianggapnya apa kita ini?” Sang ayah bangkit berdiri lalu mondar-mandir gusar.
Hisyam hanya bisa jadi pendengar dan memikirkan tempat yang kira-kira jadi pelarian adiknya.
“Ya, Gusti! Apa kata keluarga Kertajaya nanti? Gimana perasaan dan tindakan mereka? Syam, ayah enggak tahu lagi mesti gimana.”
“Tenang dulu, Yah. Untuk itulah Hisyam lagi mikirin gimana caranya untuk meminimalisir risiko itu. Aku tahu keluarga mereka bukan orang sembarangan. Takutnya gara-gara ini bakal bawa masalah yang berbuntut panjang. Makanya kita harus nyari dulu Viskha, nanya alasan di baliknya. Mungkin aja ada campur tangan Leonard juga, kan? Mengingat respons pemuda itu waktu pertemuan pertama dengan Viskha. Ayah, inget?”
“Ya, kamu bener, Syam!” Mardhan melangkah panjang-panjang, lantas membanting pintu.
Hisyam pun mengekorinya menuruni tangga menuju ruang keluarga. Berbelok ke kamar untuk membawa kunci dan jaket, lantas kembali ke dekat ayahnya yang juga baru kembali dari kamar. Kedua pria itu pun melangkah tergesa-gesa menuju garasi. Segera naik, lantas melajukan tanpa tujuan.
Mardhan berusaha menghubungi nomor anak bungsunya, tetapi tidak aktif.
“Sial! Anak durhaka kamu, Viskha!” Pria itu terus mengumpat-umpat sepanjang jalan.
“Coba hubungin temen-temen deketnya, Yah.”
“Kamu ada nomornya?”
Hisyam menghentikan mobil, lantas merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel.
“Cari aja username kontak Friends Vika.” Vika, panggilan Mardhan kepada adiknya. Kecuali saat dia marah akan menyebutnya dengan nama asli gadis itu.
Mobil kembali dilajukan Hisyam setelah ayahnya menerima gawai.
Mardhan pun lekas mengetik kata yang disebutkan putranya. Muncullah beberapa kontak dengan user serupa dan diikuti nama masing-masing pemilik nomor.
Seorang teman Viskha mengangkat, tetapi menjawab tidak mengetahuinya. Dua orang, tiga orang, empat orang, hingga nomor-nomor selanjutnya pun hampir mengatakan jawaban serupa. Mardhan menepuk jidat sendiri sambil mengempaskan punggung, lantas menyugar rambut kasar. Menatap langit-langit mobil dengan tajam.
Menangkap gelagat sang ayah, Hisyam sudah bisa menduga penyebabnya.
Dia terus berpikir, mengingat kemungkinan yang akan jadi pelarian adiknya. Hingga dia mengingat suatu waktu, saat adiknya menceritakan rahasianya. Beberapa tahun lalu.
“Ya, dia. Pasti ke sana!” pekiknya seraya memutar arah.
Mardhan terheran-heran melihat tingkah putranya.
“Apa kamu tahu sesuatu?”
Hisyam mengangguk yakin, entah mengapa dia begitu mempercayai firasatnya.
“Hisyam tahu ke mana dia pergi!”
“Cepatlah! Semoga dugaanmu benar.”
Hisyam memacu mobil menuju suatu perkampungan yang samar-samar masih diingat nama tepatnya. Hingga kembali menghentikan mobil. Dia meminta ponsel miliknya dari tangan sang ayah, kemudian mengetikkan nama dusun tersebut di internet. Dia salah eja sedikit, tetapi Google mengoreksinya hingga muncul nama tempat yang benar. Beralih ke aplikasi Maps dan mendapatkan petunjuk rute menuju ke sana.
Selanjutnya kembali menjalankan kendaraan ke tempat tujuan. Sampai tak terasa puluhan menit berlalu dalam harapan dan kecemasan. Tibalah mobil Hisyam di suatu kampung yang masih terlihat asri dan menghijau. Namun, dia tidak tahu di mana tepatnya rumah orang yang kemungkinan jadi tempat pelarian Viskha. Dia memutuskan turun disusul Mardhan. Berjalan mendekat ke arah kerumunan ibu-ibu yang tengah mengobrol.
Baru saja mulutnya terbuka, dering gawainya menginterupsi. Ditatapnya layar ponsel yang menampakkan nomor istrinya.
Tepat saat telepon di terima dan ponsel telah menempel di telinga. Kabar dari Sandrina membuatnya membulatkan mata dengan raut cemas yang tiba-tiba tercetak jelas.
-¤¤¤-
Sepi dalam keramaian, itulah yang Viskha rasakan sekarang. Dia tenggelam dalam lautan manusia berlalu lalang. Pergi tanpa tujuan. Barukali ini dia berada dalam situasi demikian. Sekalipun dan sedikit pun tidak pernah terpikirkan sepanjang hidupnya, akan ada satu masa yang membawanya lari dan tega mempertaruhkan nama baik keluarga. Bahkan sampai mengabaikan rasa hormatnya terhadap orang tua.
Dia terpejam lalu membuka mata, menatap langit legam setibanya di terminal. Melangkah tanpa arah. Dia tahu betul alasan pelarian itu, tetapi tidak tahu tempat yang dituju. Setidaknya untuk sementara waktu sebelum penantian itu berujung temu. Dia juga tak mungkin mempercepat masa bersua, mustahil baginya menghampiri insan nun jauh dari jangkauan dalam kondisi demikian.
Mengabaikan sejenak rasa bersalah yang bercokol dalam dada, dia berupaya memikirkan solusinya. Bila tidak orang tua dan kakaknya kemungkinan akan segera menemukannya. Tidak, jangankan bertemu, bahkan berbicara dengan mereka saja dia merasa tak punya lagi nyali.
Gadis bercelana jeans dipadukan atasan kaos oblong dan jaket parasut itu berjalan, hingga suara kernet meneriakkan kota tujuan bus yang ditumpangi terdengar. Viskha terperangah, secepat kilat otaknya bekerja. Teringat kepada sahabatnya semasa kuliah dulu.
“Ya, Talita!” Viskha berlari menuju bus yang telah melaju. “Mas, tunggu, Mas!” pintanya saat telah dekat kendaraan itu. Mengalihkan tas ke depan, lantas berusaha naik cepat-cepat.
“Ayo cepet-cepet, naek!” Si kernet segera membantu Viskha naik seraya melompat dari pintu. Selanjutnya meneriakkan lagi nama kota tujuannya.
Viskha masuk dengan limbung dalam bus yang kembali melaju tanpa menunggu dia duduk. Suasana bus kelas ekonomi seketika menyambutnya. Berdesakkan, panas, bau keringat dan asap, juga polusi suara yang tak bisa dihindari. Dia tidak terbiasa dengan kondisi seperti itu. Namun, tak ada pilihan. Terminal itulah tempat terdekat yang bisa dijangkau, belum lagi meminimalisir dugaan orang rumah tentang tempat pertama yang dikunjunginya. Selain itu satu-satunya bus yang akan membawa pindah segera dari kota kelahirannya.
Dia terus berusaha melangkah pelan seraya mendekap tas punggung besarnya. Mendesak di antara lautan manusia dan bau menyengat bensin juga berbagai campuran bebauan. Mencari kursi kosong yang bisa diduduki, tetapi tidak juga didapatkan. Dia menatap orang-orang di depannya yang berdiri di lajurtengah dan berpegangan ke kursi di sampingnya.
Terpaksa dia pun melakukan hal serupa seraya memegangi tas di depan. Bus terus melaju di jalanan kota yang masih ramai. Diliriknya arloji cokelat susu, jarum menunjukkan angka sembilan. Beralih menoleh ke jalanan melalui jendela bus. Lampu-lampu berpancar menerangi jalanan yang gelap.
Viskha terpejam lagi setelah menunduk. Membayangkan respons orang tua, kakak, juga seluruh keluarga. Betapa buruknya akibat dari perbuatannya. Namun, sekarang terlambat untuk menyesali tindakan impulsifnya. Ya, dia telah memilih berarti harus siap juga dengan segala risikonya. Di sisi lain lagi, dia merasa lega dengan keputusannya. Tak bisa menjalani sesuatu di luar keinginan hati. Ya, pesta pernikahan hanya sehari, tetapi menjalani masa ke depannya adalah yang tak terhingga. Dia tak mau menjalani rumah tangga tanpa rasa. Tersiksa selamanya karena terpaksa. Itu sama sekali bukan pilihan baik.
Biarlah kemarahan keluarga dan rasa malu ditanggung, tetapi dia tidak bisa mengorbankan masa depannya. Terlebih mengingat respons insan yang hendak dijodohkan dengannya. Pastilah dia juga akan senang mengetahui hal itu. Ketika kali pertama bertemu saja, dia telah bisa melihat penolakan dari gelagat Leonard. Itu cukup menjadi penambah petunjuk atas kebenaran tindakan yang dilakukan.
Dia menghela napas, menenangkan perasaan juga pikiran. Mengenyahkan segala hal yang mengganggu benak. Fokus dengan hal yang akan dilakukan ke depannya. Demi janji yang telah diikrarkan, cinta, dan cita-cita yang dalam waktu dekat akan segera terlaksana.
-¤¤¤-
Di tempat lain, di bawah langit yang sama. Mardhan danHisyam baru tiba di rumah megahnya. Disambut teriakkan dan isak tangis.
“Ibu!” Hisyam menghambur ke dekat ibunya yang bersimpuh dilantai dan bersimbah air mata.
“Ada ribut-ribut apa ini?” tanya Mardhan dengan lantang seraya masuk. Hingga netranya bisa melihat insan yang berdiri pongah dengan wajah diselimuti kebencian.
Lika yang bersimbah air mata berusaha mengendalikan hati. Sesak di dada berusaha dienyahkan seiring tarikan napas yang dihembuskan. Kepalanya terasa berdenyut memikirkan semua yang baru terjadi, ditambah kekacauan yang menyambutnya sejak tadi.
“Katanya keluarga berpendidikan dan menjunjung tinggi tata krama, kenyataannya bertindak di luar batas kesopanan!” teriak seorang pria tambun berambut cepak, Guntoro Kertajaya di samping seorang wanita berpenampilan glamor.
“Apa kata Mami, juga, Pi. Mereka ini bukan keluarga baik-baik. Sudah kubilang jangan ada acara perjodohan segala dengan anak mereka. Lihat, kan, akibatnya! Lihatlah, betapa wajah tanpa dosanya menanyakan ada apa? Seolah kitalah yang menyebabkanprahara!” Nyonya Kertajaya mengibaskan kipas yang dibawa-bawanya ke mana pun.
Hisyam tak bisa melawan. Lebih memilih membawa ibunya kekamar. Entah perkataan apa yang telah dilontarkan dan tindakan yang dilakukan keluarga Kertajaya itu. Dia harus menanyakan kepada istrinya nanti. Omong-omong di mana istrinya? Di keadaan seperti ini bisa-bisanya dia bersembunyi dan membiarkan ibu mertuanya menghadapi sendirian. Hisyam lagi-lagi geleng-geleng, giginya bergemeletuk. Namun, berusaha diabaikan. Itu bisa diurusnya nanti. Sementara masalah yang tersaji depan mata mesti dihadapi saat ini juga.
Mardhan mengatupkan tangan depan dada. “Atas nama putri kami dan diri saya pribadi. Saya mohon maaf sebesar-besarnya. Sungguh ini di luar kendali kami. Kami-”
“Kami enggak mau tahu soal itu! Kita sudah sepakat dengan perjodohan itu. Dan anak kalian yang kabur merusak segalanya! Membuat malu dan mencoreng nama baik keluarga kami! Lebih-lebih merugikan kami. Berapa biaya yang telah kami keluarkan untuk semua ini? Apa kalian enggak berpikir? Undangan telah disebar dan beberapa jam lagi malah dibatalkan? Apa kata orang di luar sana? Keluarga besar kami dan para kolega.” Guntoro melayangkan tatapan nyalang seiring napas yang tersengal.
Mardhan bergeming, menunduk, dengan sesak yang serupa menyerang dada. Urat di lehernya telah menegang. Lebih dari sekadar malu akibat perbuatan putrinya, ucapan-ucapan orang di hadapannya merupa hinaan yang tidak bisa dimaafkan. Namun, dia tidak bisa beralibi apa-apa. Viskha memang salah, sangat-sangat salah.
Hisyam kembali ke ruangan itu, lantas turut bicara.
“Tolong, beri kesempatan kepada kami. Beri kami waktu untuk memperbaiki semuanya. Kami janji akan membawa Viskha ke hadapan keluarga Kertajaya. Secepatnya!”
Guntoro meludah ke samping kiri. “Saat itu terjadi semuanya telah terlambat. Apa Anda tidak berpikir betapa cepatnya berita menyebar di era milenial seperti sekarang?” Pria itu memicing. “Bagaimana kalian akan menghapus semua itu, memperbaiki semuanya?” Tawa meremehkan pria itu menguar.
“Media! Jika berita ini menyebar secepat kedipan mata. Kita juga bisa menyelesaikannya melalui media yang sama dengan kecepatan serupa. ”Hisyam berdiri penuh keyakinan. “Saya punya rencana!” Dia berjalan mendekati Guntoro.
-¤¤¤-
Guntoro menyorotkan tatapan penuh kesangsian.
“Rencana?”
Hisyam mengangguk mantap. “Saya yakin ini akan berhasil dan bisa membalikkan keadaan. Sekali dayung dua pulau terlampaui. Satu berita rekayasa kita sebar, nama baik dua keluarga terselamatkan, Viskha pun akan kembali.”
Guntoro malah tertawa kencang yang syarat dengan sindiran.
“Kelihatannya Anda sangat percaya diri. Kita lihat hasilnya nanti. Tapi jangan harap saya akan menjanjikan sesuatu untuk sesuatu yang tak pasti begitu.”
Nyonya besar Kertajaya turut bicara. “Rencana yang sudah pasti saja bisa berubah sekejap mata karena ulah keluarga mereka, apalagi ini yang hanya bertaruh pada spekulasi belaka! Jangan percaya, Pi. Mereka cuma beralibi dan mengulur waktu!”
Guntoro menyentuh lengan istrinya yang terus berjalan maju ke arah Hisyam dengan netra berkilat marah. Dia menyorotkan tatapan untuk tenang kepada istrinya.
“Tapi, Pi-” Wanita berpakaian glamor itu melayangkan pandangan protes.
“Papi tahu yang harus dilakukan.” Dingin, Guntoro mengucapkannya penuh tekanan.
Dia maju selangkah setelah istrinya menggeser posisi berdiri.
“Baik! Saya akan lihat dulu hasilnya. Tapi, jika dalam seminggu enggak ada hasil. Kalian akan terima akibatnya!” Pria itu melipat tangan depan dada dengan tatapan penuh ancaman.
Mardhan gentar, dia khawatir dengan rencana yang diusulkan sang anak malah menambah rumit keadaan. Parahnya menimbulkan masalah baru.
Sementara Hisyam yang sangat percaya diri. Dia mengabaikan segala tekanan yang tidak diutarakan secara langsung. Meski merasakan, tetapi lebih kuat mempertahankan gagasan yang dicetuskan.
“Kami sepakat!”
Guntoro dan istrinya berbalik pergi, bahkan tanpa mengucapkan kata perpisahan maupun sopan santun seperti biasanya.
“Syam, apa kamu enggak mikir gimana akibatnya nanti? Mereka bukan keluarga sembarangan, Nak. Ayah-”
“Tenang, Yah. Hisyam yakin, inilah satu-satunya cara untuk menyelamatkan semuanya. Ayah hanya perlu mendukung Hisyam dan kasih sokongan material. Itu aja. Selebihnya Hisyam yang bakal bertindak.”
Kendati masih diselimuti keraguan, Mardhan berusaha memberikan sedikit kepercayaan. Barangkali memang gagasan jiwa muda anaknya akan berguna menjelma penolong dalam situasi pelik ini.
“Lakukan sebaik mungkin. Semoga berhasil dan bisa memperbaiki semuanya. Ayah sangat mengandalkanmu, Nak.”
Hisyam mengangguk yakin, lantas berjalan ke kamar setelah berpamitan kepada sang ayah.
-¤¤¤-
Jam tiga pagi, Viskha baru tiba di terminal kota tujuan yang lengang nan dingin. Gelap yang diterangi lampu-lampu silau, dia turun dari bus dan menyusuri koridor menuju musala. Dihempaskannya badan yang pegal tak terkira, lantas berbaring menggunakan tas sebagai alas kepala.
Dia menengadah menatap langit-langit tempat ibadah itu, kemudian mengambil gawainya. Mengirim pesan kepada Talita untuk mengabari kedatangannya dan meminta alamat kediaman sang sahabat. Setelahnya, memasukkan benda pipih itu ke saku jaketnya. Dia terpejam hingga terlelap begitu saja saking penatnya.
Dua jam lebih kemudian, dering gawai membangunkan dari tidurnya. Viskha mengucek mata, meraba-raba saku jaket untuk mengambil benda itu. Segera menempelkan ke telinga tanpa melihat nama si penelepon. Dia menguap sebelum menjawab. Suara yang familier baginya seketika menerjang telinga.
“Kamu beneran udah di terminal? Ya ampun, aku seneng banget, Vikachu! Aku segera kirim alamatnya via chat, oke! Btw kok tiba-tiba, sih?” Talita berbicara tanpa rem dengan keras membuat Viskha menjauhkan gawai dari telinga.
“Thanks, ya. Soal itu nanti aku ceritain kalo udah nyampe, ya.” Suara serak khas bangun tidur dan lelah Viskha terdengar.
“Oke, siap-siap. Kamu pasti lelah banget, ya. Oya, btw aku hari ini ngantor. Nanti ku tambahin informasi letak apartemen beserta sandi pintunya, oke.”
“Sekali lagi makasih banyak, ya.”
“Ish, kamu ini. Jangan gitu, lah. Kayak sama siapa aja. Bosen aku denger ucapan monoton itu. Btw, em .... aku mau siap-siap dulu, oke. Bye, bye. Hati-hati di jalan!” Diakhiri kecupan jauh yang terkesan lebai, tetapi Viskha memakluminya. Talita memang begitu dari dulu.
Telepon pun terputus, Viskha meregangkan tangan dan badan sejenak. Menyimpan gawai ke tempat semula, lantas ke kamar mandi umum. Dia membersihkan diri dan mengambil wudu, lantas melaksanakan kewajiban dua rakaatnya. Setelah usai, barulah menggendong kembali tas dan keluar dari terminal.
Dia berjalan menyusuri jalan, menatap langit yang mulai agak terang seiring mentari yang mulai menampakkan diri. Hingga tiba di warteg sekitar sana, lantas membeli makanan untuk sarapan. Meski terlahir dari keluarga berada, hal itu tidak membuat Viskha gengsi makan di warung pinggir jalan. Bahkan sejak kuliah dulu kerap menjajaki jajanan jalanan yang baginya lebih sedap dicecap ketimbang makanan di restoran mewah yang selalu dikunjungi keluarganya. Hal itu disadarinya sejak mengenal Zumar, pria yang membuatnya jatuh cinta karena kesederhanaan dan tingkah lakunya. Mengingat pria itu, secara otomatis kenangan mereka semasa awal-awal menjalani kisah-kasih pun terbayang.
“Kamu berbeda, dan aku suka,” katanya suatu kali saat Zumar mengajaknya menikmati ketoprak di sekitar kampus untuk kali pertama.
Zumar membalasnya dengan usapan manja di kepala Viskha.
Senyuman terbit di wajah Viskha seiring suara ibu pemilik warteg yang menariknya kembali ke masa sekarang.
“Mbaknya ngelamun?” tanya si ibu warung yang ke sekian kalinya.
“Eh, aduh maaf, Bu.” Viskha gelagapan menyadari kealfaannya. “Ibu tadi bilang apa?” Dia menggaruk belakang kepala yang tak gatal.
“Saya cuma mau kasih teh angetnya. Si mbaknya dari tadi saya liatin senyum-senyum sendiri.” Si ibu mengulum senyum.
Viskha makin jengah sendiri karena tingkahnya.
Ya, Tuhan semoga ibu itu tidak menganggapku kurang waras.
“Oh, iya. Makasih, Bu. Lupakan, Cuma teringat kejadian lucu, Bu.” Dia lekas meneguk teh hangat itu.
“Sama-sama, Mbak. Pantesan aja, yaudah saya pamit kembali melayani pembeli lain, ya, Mbaknya.”
“Eh, tunggu, Bu!” Viskha mencegah sambil merogoh saku jaket sebelah kanan. “Ini uangnya.” Dia memberikan pembayaran selembar berwarna biru.
“Saya ambil dulu kembalian, ya, Mbaknya.” Dia berlalu setelah mengangguk kepada Viskha.
Tak lama kemudian, ibu itu menghampiri Viskha lagi seraya menyerahkan kembalian.
“Terima kasih, ya, sudah makan diwarung ibu, Nak.”
“Sama-sama, Bu. Nasi ramesnya enak.” Viskha memasukkan uang ke saku sambil tersenyum, dia pamit seraya berjalan.
“Wah, Mbaknya bisa aja. Silakan, Mbak!”
Viskha pun keluar dari sana bersamaan dengan pemilik warung yang kembali ke dekat etalase makanan.
Gadis berpakaian sporty itu berjalan ke tempat taksi berjajar, dia menyebutkan alamat apartemen Talita kepada seorang sopir. Masuk setelah sang sopir mengangguk dan mempersilakannya.
“Sudah, Mbak?” tanya sang sopir ketika penumpangnya telah duduk di jok belakang.
Viskha mengangguk setelah mengenakan sabuk pengaman. Selanjutnya, taksi pun melaju dengan kecepatan sedang.
“Sudah sampe, Mbak,” kata sopir ketika taksi tiba depan sebuah gedung bertingkat nan mewah. Viskha menatap sekilas bangunan itu, lantas turun usai memberikan ongkosnya.
“Terima kasih, ya, Pak.” Dia mengangguk melalui kaca taksi depan yang terbuka.
“Sama-sama, Mbak.” Sopir itu mengangguk, lantas lekas memarkir taksinya dan melajukan kembali.
Viskha berjalan masuk setelah disapa sang satpam, lantas naik menggunakan lift hingga tiba di lantai tempat apartemen Talita berada. Berjalan menyusuri koridor sampai menemukan nomor yang tertera di chat dari sahabatnya itu. Dia menatap tombol-tombol di depannya, melirik layar gawai dan mengetikkan sandi yang tertera.
Pintu pun terbuka, dia masuk ke ruangan berfurnitur modern dan minimalis itu. Mengedarkan pandangan setelah pintu tertutup. Bagian ruang tamu yang terlihat cukup rapi meski tidak terlalu. Beberapa majalah terbuka dan bekas kaleng minuman masih bertengger di meja begitu saja.
“Khas gaya Talita,” gumamnya seraya menutup majalah-majalah itu, lantas mengambil kaleng bekas dan membuangnya ke tempat sampah. “Ya ampun, aku lupa ngabarin orang baik ini.” Segera merogoh saku dan mengambil gawainya. Dia mengetikkan pesan.
Viskha: Aku udh nyampe, Ta.
Tanpa menunggu lama balasan pun datang.
Talita: Yuhu, slmt dtg di ibu kta. Slmt dtg jg di apartemenku, yg .... saaangat-saaangat rapi itu! 😅😁 ✌ Btw, kalo lpr tinggal msk mknan aja, ya. Kamu jago msk, kan, tuh. Bhn2nya ada di kulkas, oke. Anggap aja rumah sendiri. See you my beloved bestfriend, Vikachu.”
Viskha geleng-geleng membaca isi pesan itu. Sungguh, sahabatnya itu tidak berubah dari dulu. Dia meletakkan gawai di meja. Melepas tas dan meletakkan di sofa. Dia lekas berjalan menuju dapur yang tampak sama berantakannya.
“Ya Tuhan ....” Dia tersenyum segera mencuci piring dan membereskannya. Lanjut menyapu dan mengepelnya. Meski lelah dan belum cukup tidur, dia mawas diri akan tinggal menumpang meski sementara.
Setelah selesai dan puas dengan pekerjaannya, Viskha berjalan ke kulkas. Mencari minuman untuk meredakan dahaga. Baru saja akan membukanya, melihat sepucuk surat tergeletak di atasnya. Di sana tertulis ‘Teruntuk sahabatku, Viskha Vikachu! Vikachu, panggilan khas Talita kepada Viskha. Gadis itu pun mengambilnya, lantas membuka lipatan. Tepat saat hendak membacanya, bel apartemen milik sahabatnya terdengar. Buru-buru melangkah ke arah sumber suara, lantas membukanya.
“Kejutan!” teriak pria di depan pintu setelah terbuka. Dia menampakkan wajah terkejut seiring senyum yang menyusut.
Sama herannya seperti Viskha yang kini mengerutkan dahi dengan tatapan penuh tanya.
-¤¤¤-