"Kalian sudah bercerai?" Ada sedikit rasa gembira dalam nada suara Vina selama beberapa detik, lalu dia melanjutkan dengan wajah tidak percaya, "Apa maksudmu ketika mengatakan kalian tidak peduli dengan hidupku? Dewi, bukankah dia yang membuatku menjadi seperti ini? Kamu bahkan memanfaatkan situasi tersebut dan memaksa Kresna untuk menikahimu. Sekarang kamu merasa menyesal? Apakah kamu tidak merasa malu pada dirimu sendiri? Kamu sangat menjijikkan!"
"Cepat atau lambat aku akan menemukan kebenaran tentang kecelakaan mobil pada waktu itu. Tapi, kamu memang benar akan satu hal. Aku sangat menyesal karena menikah dengan Kresna," ucap Dewi tanpa basa-basi.
"Kamu ...." Vina terdiam ketika mendengar perkataannya.
Dia merasa gelisah setelah mengetahui Dewi hendak menyelidiki kebenaran di balik kecelakaan mobil tersebut.
Kemudian, dia melihat pria berjas sedang berdiri di dekat pintu. "Kresna!"
Kresna baru saja memarkir mobilnya di tempat parkir bawah tanah. Saat tiba di bangsal, dia mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Dewi. Perkataan Dewi seolah menampar wajahnya dengan keras. Wajah Kresna seolah terbakar.
Ekspresinya berubah menjadi muram.
Dewi tidak menoleh meski tahu pria itu ada di bangsal. "Aku sudah menyampaikan apa yang ingin kukatakan. Nona Vina, lebih baik kamu segera mencari donor darah lain. Jika terlambat, mungkin sakitmu akan benar-benar menjadi parah."
Wajah Vina berubah menjadi pucat ketika memahami situasi yang sedang dihadapinya.
Dewi berbalik. Ketika berjalan ke arah pintu, dia menatap mata Kresna yang dingin dan bisa merasakan amarahnya.
Kesabaran pria itu pasti sudah habis jika mereka tidak berada di rumah sakit.
Bibir Dewi berkedut ketika berkata, "Selamat tinggal untuk selamanya."
Setelah itu, dia berjalan melewatinya dan meninggalkan bangsal.
Kresna berdiri di depan pintu sambil mengernyitkan alisnya dan tanpa sadar menatap Dewi.
Tubuh Dewi sangat kurus sehingga tulang belikatnya terlihat jelas dari belakang, dia berjalan dengan tegak dan menghilang dari pandangan Kresna. Dia tidak berhenti atau menoleh ke belakang. Tidak lama kemudian, sosoknya hilang dari pandangan Kresna.
Setelah meninggalkan rumah sakit, Dewi memanggil taksi dan kembali ke vila Keluarga Hartadi. Kemudian, dia mengemasi semua barangnya dan pindah.
Sejak kecil, orang tuanya selalu mengatakan bahwa hanya anak laki-laki yang boleh mewarisi bisnis keluarga. Jadi, dia mulai bekerja paruh waktu ketika menempuh pendidikan di universitas dan tidak pernah meminta uang dari keluarganya.
Beberapa tahun yang lalu, dia menggunakan tabungannya untuk membeli sebuah apartemen di pusat kota. Sekarang, apartemen itu sangat berguna.
Setelah membersihkan apartemen, Dewi menatap wajahnya di cermin. Dia tampak lelah dan kuyu, bahkan ada lingkaran hitam di matanya. Dia telah berubah dari wanita penuh semangat menjadi wanita pendiam yang rendah hati. Pernikahan dengan Kresna telah mengubah hidupnya.
Beruntung sekali, semuanya sudah berakhir.
Dia mengambil ponsel dari sebelah wastafel dan memblokir nomor Kresna tanpa ragu-ragu. Kemudian, dia melemparkan ponsel ke samping.
Tiga hari kemudian, berita anjloknya harga saham Grup Santoso menjadi tajuk utama. Sejumlah besar pemegang saham telah berkumpul di sekitar pintu masuk perusahaan untuk membuat masalah.
Dewi bangun pagi-pagi sekali karena ponselnya terus bergetar.
Dia menyalakan layar dan melihat pesan dari temannya yang bernama Leno Permana. Dia menyuruh Dewi pergi ke kantor Grup Santoso secepatnya karena terjadi sesuatu.
Dewi mencengkeram ponsel, lalu mengangkat selimut dan bangkit dari tempat tidur. Meski hatinya dipenuhi rasa benci dan amarah, dia masih menjadi bagian dari Keluarga Santoso.
Begitu mobil berhenti di gerbang gedung perusahaan, para wartawan bergegas mendekat dan memblokir pintu mobil.
"Nona Dewi, apakah Anda bisa menjelaskan utang Pak Lukman senilai 6 triliun, penggelapan dana publik dan dugaan korupsi yang dia lakukan?" Mikrofon disodorkan ke depan mulut Dewi.
Meski tubuh Dewi didorong oleh kerumunan, dia mengangkat kepalanya tanpa rasa takut dan berkata, "Dugaan Pak Lukman melakukan korupsi akan diselidiki oleh pihak yang berwenang. Sementara utang senilai 6 triliun ...."
Dahinya sedikit mengernyit. Grup Santoso memang mengalami masalah finansial. Akan tetapi, defisit perusahaan hanya senilai puluhan miliar. Kenapa tiba-tiba menjadi utang sebesar 6 triliun?
Hal ini menyebabkan perusahaan dalam bahaya!
"Nona Dewi, ada apa? Kenapa Anda tidak menjawab pertanyaan kami? Apakah Anda merasa bersalah?"
Selain wartawan, ada banyak pemegang saham di sini. Ketika akhirnya melihat anggota Keluarga Santoso, mereka menyerbu sambil membawa spanduk.
"Kamu harus memberi penjelasan yang masuk akal pada kami!"
Pada saat yang bersamaan, mobil Maybach berwarna hitam berhenti tepat di depan gerbang Grup Santoso.
Pria yang sedang duduk di kursi belakang adalah Kresna. Dia memejamkan mata ketika suara operator di ponselnya berkata, "Nomor yang Anda panggil saat ini sedang tidak tersedia ...."
Kemudian, dia pergi ke log obrolan dan mengetik sebuah pesan. "Apakah kamu ada di sana?"
Ketika mencoba mengirim pesan tersebut, sebuah notifikasi mengatakan dia perlu menambahkan kontak sebagai teman sebelum dapat mengirim pesan.
Saat Kresna membaca pesan tersebut, dia mencengkeram ponselnya dengan sekuat tenaga sehingga buku-buku jarinya berubah menjadi putih. Ternyata, Dewi telah memblokir nomornya!
Begitu membuka mata, dia menoleh ke jendela dan memberikan tatapan marah ke arah wanita yang sedang berada di antara kerumunan. "Kamu adalah wanita yang tidak tahu berterima kasih," gumamnya pelan.
"Semuanya! Tolong dengarkan penjelasan saya!"
Dewi menoleh ke arah datangnya suara dan melihat Lukman berdiri di balkon yang terletak di lantai empat gedung. Pria itu memegang megafon di tangannya dan berteriak, "Saya mengaku bahwa kesalahan saya telah mengakibatkan Grup Santoso terlilit utang dalam jumlah besar. Tapi, saya dapat meyakinkan kalian bahwa putri saya yang bernama Dewi merupakan istri Pak Kresna dari Grup Jaya. Kita semua mengetahui kekuatan Grup Jaya. Oleh karena itu, kalian harus percaya bahwa Grup Santoso akan melunasi semua utang!"
Semua orang di Kota Barka mengetahui pernikahan antara Keluarga Santoso dan Keluarga Hartadi. Jadi, perkataan Lukman berhasil meredakan rasa khawatir yang dirasakan oleh kerumunan dan mereka perlahan-lahan menjadi diam.
Namun, Dewi berpikiran lain. Jantungnya berdetak dengan sangat kencang di dadanya.
Berita mengenai perceraiannya dengan Kresna belum dipublikasikan. Lukman dapat menggunakan pernikahan putrinya untuk meyakinkan orang banyak.
Namun, menyetujui pernyataan ayahnya berarti dia berbohong pada publik.
"Aku ...." Di sisi lain, keluarganya akan mengalami bencana jika berita mengenai perceraian itu diumumkan sekarang.
Jadi, dia menatap Lukman dengan wajah muram sambil menggertakkan giginya. "Ya, Keluarga Hartadi tidak akan menolak jika kami meminta bantuan untuk mengatasi masalah keuangan kami. Semuanya, harap tenang dulu. Perusahaan kami pasti akan melunasi semua utang dan tidak akan berutang pada para pemegang saham."
"Semua orang tahu bahwa pernikahanmu dan Pak Kresna hanyalah sebuah formalitas! Kami semua tahu hubungan kalian sangat buruk! Apakah kamu yakin Pak Kresna akan memberikan uang sebesar 6 triliun pada Grup Santoso? Siapa yang akan percaya? Apakah Pak Lukman sedang mencoba mengulur waktu?" ucap seorang pria bertopi hitam yang berdiri di tengah kerumunan. Sepertinya, dia ingin menimbulkan kekacauan untuk Grup Santoso.
Di dalam mobil, asisten Kresna melirik kaca spion untuk memperhatikan Kresna yang sedang duduk di kursi belakang. Dia bertanya-tanya dalam hati apa yang sedang dipikirkan Kresna.
Berdasarkan ekspresi Kresna, dia tahu suasana hati pria itu sangat buruk.
Setelah ragu-ragu sejenak, dia memberanikan diri untuk berkata, "Pak Kresna, sepertinya kita tidak akan bisa menyelesaikan serah terima hari ini. Bagaimana kalau kita kembali ...."
Sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, Kresna mendorong pintu hingga terbuka dan keluar dari mobil.
"Pak ... Pak Kresna ...."
Asisten itu menelan ludah dengan susah payah. Entah kenapa, dia mendapat firasat bahwa tidak lama lagi mereka akan mengalami kejadian mengejutkan.
Kresna berjalan menuju ke bagian tengah kerumunan. Akan tetapi, ketika baru berjalan dua langkah, dia mendengar suara pria yang keras, "Aku punya bukti bahwa Nona Dewi dan Pak Kresna sudah bercerai beberapa hari yang lalu! Karena mereka telah bercerai, apakah Pak Kresna bersedia membantu Grup Santoso membayar utangnya?"
Kemudian, pria itu mengeluarkan ponsel, memperbesar nama "Dewi Santoso" dan "Kresna Hartadi" lalu menunjukkan foto itu ke semua orang. Dia melanjutkan, "Apakah kalian bisa melihat? Ini adalah akta cerai mereka!"
Kresna menghentikan langkahnya setelah mendengar penyataan pria bertopi tersebut.
Dewi juga menoleh ke arah pria itu. Berita perceraian mereka belum diumumkan ke publik. Bagaimana mungkin pria ini mengetahuinya? Dia bahkan punya foto akta cerai sebagai bukti!
Pernyataan pria itu menimbulkan kegemparan di antara kerumunan.
"Cerai? Mereka telah bercerai?" tanya orang-orang di kerumunan.
Awalnya, Lukman mengira dia bisa menggunakan nama Grup Jaya untuk mengulur waktu bagi perusahaannya. Akan tetapi, dia tidak menyangka akan mendapat kejutan seperti ini. Wajahnya berubah menjadi merah saat berteriak, "Kamu! Jangan bicara sembarangan! Hubungan mereka berdua sangat baik. Mana mungkin mereka bercerai?!"
Setelah memarahi pria itu, dia meminta bantuan Dewi dan mendesaknya untuk memberi penjelasan secepatnya.
Namun, Dewi menyadari bahwa menyembunyikan kebenaran hanya akan memperburuk keadaan.
Jadi, dia menarik napas dalam-dalam dan mengaku, "Ya, perkataanmu memang benar. Aku dan Pak Kresna sudah bercerai. Tapi, bukan berarti Grup Santoso tidak bisa menyelesaikan masalah finansial yang sedang kami hadapi. Aku akan mencari cara untuk mendapatkan uang 6 triliun ... aduh!"
Sebelum menyelesaikan kalimatnya, Dewi merasa lengannya ditarik seseorang. Detik berikutnya, dia didorong keluar dari kerumunan.
"Apa?! Dia berani mencoba membodohi kita menggunakan putrinya?! Mereka berdua tidak punya hati!"
Kulit kepala Dewi terasa sakit saat rambutnya ditarik. Kemudian, seseorang mengambil kamera wartawan dan mencoba memukul kepala Dewi.
Dewi secara naluriah mengangkat tangan untuk melindungi dirinya sendiri. Ketika bersiap untuk menerima benturan, dia merasakan sebuah tangan mencengkeram pinggangnya dan menarik tubuhnya ke belakang dengan keras. Detik berikutnya, dia bersandar ke dada bidang seorang pria.
Ketika mendongak, Dewi melihat wajah yang dia pikir tidak akan pernah dia lihat lagi selama sisa hidupnya.