Bab 1

Ketika Dewi Santoso meninggalkan pengadilan, dia membawa dua lembar akta cerai di tangannya. Namun, dia terlihat sangat tenang.

Pernikahan mereka telah berlangsung selama lebih dari tiga tahun. Apakah dia merasa sedih ketika harus bercerai?

Tentu saja. Namun, di sisi lain dia merasa sangat lega.

Mantan suaminya yang bernama Kresna Hartadi tidak pernah mencintainya. Semalam, Kresna mabuk karena terlalu banyak minum dan mereka melakukannya untuk pertama kalinya. Namun, nama yang dia panggil adalah nama wanita lain.

Dewi berusaha keras untuk mengendalikan emosinya, lalu berdiri di pinggir jalan untuk memanggil taksi. Tidak lama kemudian, sebuah mobil Rolls-Royce berwarna hitam berhenti di depannya. Melalui jendela yang setengah terbuka, dia melihat mata dingin seorang pria tampan yang sedang duduk di kursi pengemudi.

Kaya dan menawan merupakan dua kata yang tepat untuk menggambarkan Kresna.

"Pihak rumah sakit mengatakan kondisi Vina sedang kritis. Ayo ikut aku ke rumah sakit," ucapnya dengan acuh tak acuh setelah meliriknya sekilas.

Vina Budiman. Lagi-lagi nama itu!

Bahkan setelah mereka bercerai, nama itu masih mengganggunya.

"Bagaimana jika aku menolak, Pak Kresna?" Suaranya terdengar lembut, tetapi Dewi bukanlah wanita patuh seperti sebelumnya.

Kresna mengerutkan dahinya. Wanita yang selalu mematuhi perintahnya, berani menentangnya secara terbuka setelah mereka bercerai.

Dia mengangkat kepalanya perlahan dan menatap Dewi dengan dingin. "Apakah kamu melupakan situasi keluargamu saat ini? Apa kamu ingin aku mengingatkan siapa yang menyebabkan kecelakaan mobil sehingga Vina terluka?"

Hati Dewi terasa dingin. Dia tidak peduli jika keluarganya bangkrut, tetapi dia tidak akan pernah melupakan kecelakaan mobil tiga tahun lalu.

Pada waktu itu, adik laki-lakinya yang bernama Wira Santoso berada di dalam mobil yang sama dengan Vina karena alasan tertentu. Setelah kecelakaan itu, Vina terluka parah dan Wira tidak mau memberi penjelasan. Oleh karena itu, dia didakwa dengan penyerangan dengan kekerasan berlebihan. Hingga saat ini, dia masih mendekam di penjara.

Dia harus menjalani hukuman selama satu bulan lagi sebelum dibebaskan.

"Jika kamu ingin Wira tinggal lebih lama di penjara ...." Mata Kresna berubah menjadi tajam, seolah menyiratkan akan terjadi masalah serius.

Dia berhasil mengalahkan Dewi hanya menggunakan beberapa kalimat.

"Baiklah, aku akan pergi."

Dewi mengepalkan tinjunya dan menarik napas dalam-dalam. Wajahnya terlihat datar ketika membuka pintu kursi belakang dan masuk.

Kresna mengendarai mobilnya ke rumah sakit dengan kecepatan tinggi. Sikapnya menunjukkan bahwa dia sangat peduli pada Vina.

Dewi mengepalkan telapak tangannya dengan sekuat tenaga sehingga kukunya menusuk ke daging dan berdarah.

Saat mobil berhenti di gerbang rumah sakit, Dewi segera turun dan membanting pintu dengan keras. Dia mengangkat kepala dan bertemu dengan tatapan Kresna, lalu berkata, "Ini adalah yang terakhir kalinya."

Mata gelap Kresna berubah menjadi sedingin es. Dia memandangi tubuh mungil Dewi yang semakin menjauh. Dia terkejut bahwa anak kucing yang jinak di depannya, tiba-tiba menunjukkan cakar dan memamerkan taringnya.

Setelah selesai donor darah, Dewi mencengkeram lengannya dan wajahnya tampak pucat. Dia menderita anemia dan takut darah, tetapi tidak pernah memberi tahu orang lain.

Pada waktu itu, kedua orang tuanya yang bernama Lukman Santoso dan Puspa Gumelar berlutut di hadapannya untuk memohon agar dia menyelamatkan Wira. Mereka mengatakan darahnya memiliki rhesus negatif. Jika dia bersedia mendonorkan darahnya untuk Vina, Wira dapat diselamatkan.

Hubungan Dewi dengan kedua orang tuanya tidak terlalu baik. Pasangan itu lebih peduli pada putra mereka. Namun, Wira memperlakukannya dengan baik. Dia pernah bertemu dengan sekelompok siswa yang hendak menindasnya. Wira menarik Dewi ke belakang punggungnya dan melindungi kakaknya seperti orang dewasa. "Kak, kamu pergi dulu. Aku tidak takut pada mereka!"

Ketika dia kembali sambil membawa pertolongan, Wira terbaring di gang dan berlumuran darah.

Begitu pulang, Puspa menghajar Dewi menggunakan ikat pinggang.

Akhirnya, Dewi setuju mendonorkan darahnya ke Vina demi Wira. Namun, dia punya satu permintaan tambahan yaitu menikah dengan Kresna. Alasannya sangat sederhana. Dia sangat mencintai Kresna dan sudah lama memendam perasaannya.

Beberapa menit kemudian, dia tiba di bangsal nomor 402. Nama Vina Budiman ditempel di dinding yang terletak di dekat pintu. Setelah berhenti sejenak, dia memutar kenop pintu.

Meski wanita dia atas tempat tidur sedang menerima infus, wajahnya merona merah. Dia tidak terlihat seperti pasien yang sakit parah.

"Kenapa kamu datang ke sini? Mana Kresna?" tanyanya dengan nada tidak ramah.

"Kresna sangat mencintaimu. Kenapa kamu sangat takut dia akan meninggalkanmu?" Dewi berjalan mendekati tempat tidur, lalu mengeluarkan akta cerai dari dalam tas dan menunjukkannya pada Vina. "Vina, aku sudah bercerai dengannya. Aku tidak akan mendonorkan darahku untukmu di masa depan. Mulai sekarang, aku dan Wira tidak akan peduli apakah kamu hidup atau mati."

Bab 2

"Kalian sudah bercerai?" Ada sedikit rasa gembira dalam nada suara Vina selama beberapa detik, lalu dia melanjutkan dengan wajah tidak percaya, "Apa maksudmu ketika mengatakan kalian tidak peduli dengan hidupku? Dewi, bukankah dia yang membuatku menjadi seperti ini? Kamu bahkan memanfaatkan situasi tersebut dan memaksa Kresna untuk menikahimu. Sekarang kamu merasa menyesal? Apakah kamu tidak merasa malu pada dirimu sendiri? Kamu sangat menjijikkan!"

"Cepat atau lambat aku akan menemukan kebenaran tentang kecelakaan mobil pada waktu itu. Tapi, kamu memang benar akan satu hal. Aku sangat menyesal karena menikah dengan Kresna," ucap Dewi tanpa basa-basi.

"Kamu ...." Vina terdiam ketika mendengar perkataannya.

Dia merasa gelisah setelah mengetahui Dewi hendak menyelidiki kebenaran di balik kecelakaan mobil tersebut.

Kemudian, dia melihat pria berjas sedang berdiri di dekat pintu. "Kresna!"

Kresna baru saja memarkir mobilnya di tempat parkir bawah tanah. Saat tiba di bangsal, dia mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Dewi. Perkataan Dewi seolah menampar wajahnya dengan keras. Wajah Kresna seolah terbakar.

Ekspresinya berubah menjadi muram.

Dewi tidak menoleh meski tahu pria itu ada di bangsal. "Aku sudah menyampaikan apa yang ingin kukatakan. Nona Vina, lebih baik kamu segera mencari donor darah lain. Jika terlambat, mungkin sakitmu akan benar-benar menjadi parah."

Wajah Vina berubah menjadi pucat ketika memahami situasi yang sedang dihadapinya.

Dewi berbalik. Ketika berjalan ke arah pintu, dia menatap mata Kresna yang dingin dan bisa merasakan amarahnya.

Kesabaran pria itu pasti sudah habis jika mereka tidak berada di rumah sakit.

Bibir Dewi berkedut ketika berkata, "Selamat tinggal untuk selamanya."

Setelah itu, dia berjalan melewatinya dan meninggalkan bangsal.

Kresna berdiri di depan pintu sambil mengernyitkan alisnya dan tanpa sadar menatap Dewi.

Tubuh Dewi sangat kurus sehingga tulang belikatnya terlihat jelas dari belakang, dia berjalan dengan tegak dan menghilang dari pandangan Kresna. Dia tidak berhenti atau menoleh ke belakang. Tidak lama kemudian, sosoknya hilang dari pandangan Kresna.

Setelah meninggalkan rumah sakit, Dewi memanggil taksi dan kembali ke vila Keluarga Hartadi. Kemudian, dia mengemasi semua barangnya dan pindah.

Sejak kecil, orang tuanya selalu mengatakan bahwa hanya anak laki-laki yang boleh mewarisi bisnis keluarga. Jadi, dia mulai bekerja paruh waktu ketika menempuh pendidikan di universitas dan tidak pernah meminta uang dari keluarganya.

Beberapa tahun yang lalu, dia menggunakan tabungannya untuk membeli sebuah apartemen di pusat kota. Sekarang, apartemen itu sangat berguna.

Setelah membersihkan apartemen, Dewi menatap wajahnya di cermin. Dia tampak lelah dan kuyu, bahkan ada lingkaran hitam di matanya. Dia telah berubah dari wanita penuh semangat menjadi wanita pendiam yang rendah hati. Pernikahan dengan Kresna telah mengubah hidupnya.

Beruntung sekali, semuanya sudah berakhir.

Dia mengambil ponsel dari sebelah wastafel dan memblokir nomor Kresna tanpa ragu-ragu. Kemudian, dia melemparkan ponsel ke samping.

Tiga hari kemudian, berita anjloknya harga saham Grup Santoso menjadi tajuk utama. Sejumlah besar pemegang saham telah berkumpul di sekitar pintu masuk perusahaan untuk membuat masalah.

Dewi bangun pagi-pagi sekali karena ponselnya terus bergetar.

Dia menyalakan layar dan melihat pesan dari temannya yang bernama Leno Permana. Dia menyuruh Dewi pergi ke kantor Grup Santoso secepatnya karena terjadi sesuatu.

Dewi mencengkeram ponsel, lalu mengangkat selimut dan bangkit dari tempat tidur. Meski hatinya dipenuhi rasa benci dan amarah, dia masih menjadi bagian dari Keluarga Santoso.

Begitu mobil berhenti di gerbang gedung perusahaan, para wartawan bergegas mendekat dan memblokir pintu mobil.

"Nona Dewi, apakah Anda bisa menjelaskan utang Pak Lukman senilai 6 triliun, penggelapan dana publik dan dugaan korupsi yang dia lakukan?" Mikrofon disodorkan ke depan mulut Dewi.

Meski tubuh Dewi didorong oleh kerumunan, dia mengangkat kepalanya tanpa rasa takut dan berkata, "Dugaan Pak Lukman melakukan korupsi akan diselidiki oleh pihak yang berwenang. Sementara utang senilai 6 triliun ...."

Dahinya sedikit mengernyit. Grup Santoso memang mengalami masalah finansial. Akan tetapi, defisit perusahaan hanya senilai puluhan miliar. Kenapa tiba-tiba menjadi utang sebesar 6 triliun?

Hal ini menyebabkan perusahaan dalam bahaya!

"Nona Dewi, ada apa? Kenapa Anda tidak menjawab pertanyaan kami? Apakah Anda merasa bersalah?"

Selain wartawan, ada banyak pemegang saham di sini. Ketika akhirnya melihat anggota Keluarga Santoso, mereka menyerbu sambil membawa spanduk.

"Kamu harus memberi penjelasan yang masuk akal pada kami!"

Pada saat yang bersamaan, mobil Maybach berwarna hitam berhenti tepat di depan gerbang Grup Santoso.

Bab 3

Pria yang sedang duduk di kursi belakang adalah Kresna. Dia memejamkan mata ketika suara operator di ponselnya berkata, "Nomor yang Anda panggil saat ini sedang tidak tersedia ...."

Kemudian, dia pergi ke log obrolan dan mengetik sebuah pesan. "Apakah kamu ada di sana?"

Ketika mencoba mengirim pesan tersebut, sebuah notifikasi mengatakan dia perlu menambahkan kontak sebagai teman sebelum dapat mengirim pesan.

Saat Kresna membaca pesan tersebut, dia mencengkeram ponselnya dengan sekuat tenaga sehingga buku-buku jarinya berubah menjadi putih. Ternyata, Dewi telah memblokir nomornya!

Begitu membuka mata, dia menoleh ke jendela dan memberikan tatapan marah ke arah wanita yang sedang berada di antara kerumunan. "Kamu adalah wanita yang tidak tahu berterima kasih," gumamnya pelan.

"Semuanya! Tolong dengarkan penjelasan saya!"

Dewi menoleh ke arah datangnya suara dan melihat Lukman berdiri di balkon yang terletak di lantai empat gedung. Pria itu memegang megafon di tangannya dan berteriak, "Saya mengaku bahwa kesalahan saya telah mengakibatkan Grup Santoso terlilit utang dalam jumlah besar. Tapi, saya dapat meyakinkan kalian bahwa putri saya yang bernama Dewi merupakan istri Pak Kresna dari Grup Jaya. Kita semua mengetahui kekuatan Grup Jaya. Oleh karena itu, kalian harus percaya bahwa Grup Santoso akan melunasi semua utang!"

Semua orang di Kota Barka mengetahui pernikahan antara Keluarga Santoso dan Keluarga Hartadi. Jadi, perkataan Lukman berhasil meredakan rasa khawatir yang dirasakan oleh kerumunan dan mereka perlahan-lahan menjadi diam.

Namun, Dewi berpikiran lain. Jantungnya berdetak dengan sangat kencang di dadanya.

Berita mengenai perceraiannya dengan Kresna belum dipublikasikan. Lukman dapat menggunakan pernikahan putrinya untuk meyakinkan orang banyak.

Namun, menyetujui pernyataan ayahnya berarti dia berbohong pada publik.

"Aku ...." Di sisi lain, keluarganya akan mengalami bencana jika berita mengenai perceraian itu diumumkan sekarang.

Jadi, dia menatap Lukman dengan wajah muram sambil menggertakkan giginya. "Ya, Keluarga Hartadi tidak akan menolak jika kami meminta bantuan untuk mengatasi masalah keuangan kami. Semuanya, harap tenang dulu. Perusahaan kami pasti akan melunasi semua utang dan tidak akan berutang pada para pemegang saham."

"Semua orang tahu bahwa pernikahanmu dan Pak Kresna hanyalah sebuah formalitas! Kami semua tahu hubungan kalian sangat buruk! Apakah kamu yakin Pak Kresna akan memberikan uang sebesar 6 triliun pada Grup Santoso? Siapa yang akan percaya? Apakah Pak Lukman sedang mencoba mengulur waktu?" ucap seorang pria bertopi hitam yang berdiri di tengah kerumunan. Sepertinya, dia ingin menimbulkan kekacauan untuk Grup Santoso.

Di dalam mobil, asisten Kresna melirik kaca spion untuk memperhatikan Kresna yang sedang duduk di kursi belakang. Dia bertanya-tanya dalam hati apa yang sedang dipikirkan Kresna.

Berdasarkan ekspresi Kresna, dia tahu suasana hati pria itu sangat buruk.

Setelah ragu-ragu sejenak, dia memberanikan diri untuk berkata, "Pak Kresna, sepertinya kita tidak akan bisa menyelesaikan serah terima hari ini. Bagaimana kalau kita kembali ...."

Sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, Kresna mendorong pintu hingga terbuka dan keluar dari mobil.

"Pak ... Pak Kresna ...."

Asisten itu menelan ludah dengan susah payah. Entah kenapa, dia mendapat firasat bahwa tidak lama lagi mereka akan mengalami kejadian mengejutkan.

Kresna berjalan menuju ke bagian tengah kerumunan. Akan tetapi, ketika baru berjalan dua langkah, dia mendengar suara pria yang keras, "Aku punya bukti bahwa Nona Dewi dan Pak Kresna sudah bercerai beberapa hari yang lalu! Karena mereka telah bercerai, apakah Pak Kresna bersedia membantu Grup Santoso membayar utangnya?"

Kemudian, pria itu mengeluarkan ponsel, memperbesar nama "Dewi Santoso" dan "Kresna Hartadi" lalu menunjukkan foto itu ke semua orang. Dia melanjutkan, "Apakah kalian bisa melihat? Ini adalah akta cerai mereka!"

Kresna menghentikan langkahnya setelah mendengar penyataan pria bertopi tersebut.

Dewi juga menoleh ke arah pria itu. Berita perceraian mereka belum diumumkan ke publik. Bagaimana mungkin pria ini mengetahuinya? Dia bahkan punya foto akta cerai sebagai bukti!

Pernyataan pria itu menimbulkan kegemparan di antara kerumunan.

"Cerai? Mereka telah bercerai?" tanya orang-orang di kerumunan.

Awalnya, Lukman mengira dia bisa menggunakan nama Grup Jaya untuk mengulur waktu bagi perusahaannya. Akan tetapi, dia tidak menyangka akan mendapat kejutan seperti ini. Wajahnya berubah menjadi merah saat berteriak, "Kamu! Jangan bicara sembarangan! Hubungan mereka berdua sangat baik. Mana mungkin mereka bercerai?!"

Setelah memarahi pria itu, dia meminta bantuan Dewi dan mendesaknya untuk memberi penjelasan secepatnya.

Namun, Dewi menyadari bahwa menyembunyikan kebenaran hanya akan memperburuk keadaan.

Jadi, dia menarik napas dalam-dalam dan mengaku, "Ya, perkataanmu memang benar. Aku dan Pak Kresna sudah bercerai. Tapi, bukan berarti Grup Santoso tidak bisa menyelesaikan masalah finansial yang sedang kami hadapi. Aku akan mencari cara untuk mendapatkan uang 6 triliun ... aduh!"

Sebelum menyelesaikan kalimatnya, Dewi merasa lengannya ditarik seseorang. Detik berikutnya, dia didorong keluar dari kerumunan.

"Apa?! Dia berani mencoba membodohi kita menggunakan putrinya?! Mereka berdua tidak punya hati!"

Kulit kepala Dewi terasa sakit saat rambutnya ditarik. Kemudian, seseorang mengambil kamera wartawan dan mencoba memukul kepala Dewi.

Dewi secara naluriah mengangkat tangan untuk melindungi dirinya sendiri. Ketika bersiap untuk menerima benturan, dia merasakan sebuah tangan mencengkeram pinggangnya dan menarik tubuhnya ke belakang dengan keras. Detik berikutnya, dia bersandar ke dada bidang seorang pria.

Ketika mendongak, Dewi melihat wajah yang dia pikir tidak akan pernah dia lihat lagi selama sisa hidupnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED