Bab 2

Matahari pagi menyelinap melalui celah tirai di kamar Nadia, memantulkan sinar keemasan yang menyilaukan. Suasana di luar sudah mulai cerah, seolah dunia tak peduli dengan seberapa dalam kesedihan yang merasuki setiap sudut hidupnya. Nadia duduk di kursi tua dekat jendela, matanya kosong menatap dunia yang terus bergerak. Pikirannya dipenuhi suara jantungnya yang berdegup, menandakan betapa rapuhnya dirinya saat ini. Dunia luar berjalan dengan kebisingannya, sementara dirinya seolah terperangkap dalam ruang sunyi di mana hanya deru angin dan hujan malam yang menemani.

Ponselnya bergetar di atas meja, menyuarakan nada dering yang menyentakkan hatinya. Dia ragu sejenak sebelum mengangkatnya, jantungnya berdegup lebih kencang setiap kali nama itu muncul di layar: Reza Azhar.

"Selamat pagi, Nadia," suara Reza mengalir di telinga, jelas, tegas, dan tak ada celah untuk keberatan. Suaranya membuat tubuh Nadia membeku, mengingatkan dia akan betapa dinginnya pria itu. "Aku tahu semalam adalah malam yang berat untukmu."

Nadia menggigit bibir bawahnya, mencoba menenangkan diri. Meskipun suaranya terdengar tenang, di dalam hatinya amarah dan kebingungan bergemuruh. Bagaimana bisa pria ini, yang hampir tak pernah memperlihatkan sisi kemanusiaannya, tahu apa yang terjadi pada dirinya? Dia menarik napas dalam-dalam dan mencoba menjawab dengan nada seberapa mungkin terdengar biasa.

"Terima kasih, Reza. Tapi aku tidak tahu apa yang bisa kamu bantu," jawabnya, suaranya nyaris hilang dalam desakan yang mengisi ruang di sekitarnya.

Reza tertawa pelan di ujung sana, tawa yang seakan menyelipkan duri di hati Nadia. "Kita berdua tahu bahwa aku bisa membantu, Nadia. Dan aku di sini untuk memastikan kamu tidak merasa sendirian."

Kata-kata itu terasa seperti cambukan. Sendirian? Dia tak pernah merasa lebih kesepian daripada saat ini, terjepit di antara rasa sakit kehilangan dan pengkhianatan yang tak bisa dihindari. Nadia menatap langit biru yang tak memperlihatkan seberkas awan, berusaha menenangkan dirinya dengan keheningan luar yang menyakitkan.

"Jangan datang ke sini, Reza. Aku... aku tidak ingin melihatmu," kata Nadia, mengalihkan pandangan dari jendela ke ponselnya, matanya penuh kelelahan.

Tapi di ujung telepon, Reza menghela napas, seolah ingin berkata sesuatu yang lebih. "Kau tahu, Nadia, di dunia ini ada banyak hal yang bisa membuat kita terjebak dalam permainan yang tak kita pilih. Kadang, kita hanya bisa menerima kenyataan itu."

Kata-kata itu seperti ujung pisau yang menusuk di dada Nadia. Bagaimana bisa dia berbicara tentang kenyataan seolah dia tidak tahu apa yang telah terjadi? Bagaimana bisa dia mendekati kenyataan di mana hidupnya sudah seperti boneka yang dikuasai tangan-tangan tak terlihat?

"Jangan datang ke sini," Nadia mengulang, suara lebih tegas, tapi ada keraguan di dalamnya. "Aku tidak ingin menjadi bagian dari permainan ini."

"Semua sudah berjalan, Nadia. Tidak ada yang bisa mengubahnya sekarang," suara Reza kembali mengalun, kali ini lebih lembut, seolah berusaha menenangkan badai di hati Nadia.

Nadia menutup matanya, merasakan panas air mata yang menetes di pipinya. Semua sudah berjalan. Semua sudah diatur oleh tangan-tangan yang jauh lebih kuat darinya. Dan dia, dengan segala keterbatasannya, hanya bisa mengikuti arus yang membawa dia ke tempat yang tak pernah ia bayangkan-ke dalam jaring laba-laba yang menjeratnya hingga tak bisa bernapas.

Hari itu, di ruang pertemuan besar yang dipenuhi dengan kekuasaan dan keangkuhan, Reza Azhar duduk di kursi kulit hitam besar, matanya tertuju pada layar ponsel yang menampilkan foto Nadia. Foto itu diambil dari jauh, saat Nadia tengah duduk di taman rumah sakit, wajahnya tertekan, dan matanya merah. Reza tahu bahwa di balik setiap tatapan itu ada kekuatan yang tak terlihat-rasa sakit, penyesalan, dan ketakutan yang mungkin hanya bisa dipahami oleh mereka yang telah terjerat dalam permainan tak berperasaan ini.

"Jangan khawatir, Reza," suara lembut Satria terdengar dari balik pintu kaca. Wanita itu memasuki ruangan dengan senyum yang tak pernah bisa disamakan dengan kehangatan. Senyum itu adalah senyum yang penuh perhitungan. "Semua sudah berjalan sesuai rencana."

Reza menatap ibunya, matanya yang gelap seolah menyimpan ribuan kata yang belum diungkapkan. Dia tahu apa yang diinginkan Satria. Semua ini adalah permainan besar di mana setiap langkah adalah pertaruhan, dan semua orang di dalamnya bermain untuk kemenangan yang lebih besar dari sekadar kekuasaan-warisan, darah, dan nama yang akan dikenang sepanjang masa.

"Apakah Nadia sudah menghubungimu?" Satria melanjutkan, matanya yang tajam seperti pisau mengiris dalam. "Aku tidak ingin ada celah, Reza."

Reza menghela napas, menatap ke luar jendela yang menghadap ke taman yang dipenuhi bunga-bunga berwarna cerah. "Dia tidak menginginkanku, Ibu. Tapi, dia juga tahu apa yang harus dilakukan."

Satria mendekat, tangan putihnya menyentuh lengan Reza, menggenggamnya seolah ingin meyakinkan anaknya bahwa semuanya akan baik-baik saja. "Jangan ragu, Reza. Tidak ada yang lebih penting daripada memastikan masa depan kita tetap aman. Nadia hanya bagian kecil dari rencana besar ini. Aku sudah mengaturnya. Dia akan mengerti bahwa dia tidak punya pilihan lain."

Kata-kata itu mengisi ruang dengan bisikan-bisikan tak terdengar, menjelma menjadi kenyataan yang tak bisa ditolak. Reza tahu bahwa dia terperangkap di antara ambisi keluarganya dan perasaan yang mulai terbangun dalam dirinya, perasaan yang tak diinginkannya, tapi yang semakin sulit diabaikan.

Di luar sana, di sebuah apartemen kecil di pinggiran kota, Nadia duduk di meja makan yang sudah usang, menatap cermin di dinding seberang, mencoba mencari kekuatan yang sudah lama hilang. Ponselnya bergetar lagi, membuatnya menarik napas panjang. Dia tahu, kali ini, dia harus membuat keputusan.

Pintu depan diketuk dengan keras, membuat jantung Nadia berdegup kencang. Kaki Nadia terasa berat seolah terbuat dari batu, tetapi dia tahu, jika dia tidak membuka pintu itu, dunia di luar sana akan terus memaksa masuk. Dengan tangan yang gemetar, Nadia membuka pintu.

Di luar, berdiri seorang pria dengan jas hitam yang pas di tubuhnya. Senyum Reza muncul, tanpa kehangatan, hanya sebuah senyuman penuh perhitungan yang membuat Nadia mengingatkan dia pada musim gugur-sebuah awal yang penuh janji, tapi juga dingin dan mencekam.

"Kita harus berbicara," kata Reza, suaranya dalam dan tidak bisa dibantah.

Nadia hanya bisa mengangguk, menatap pria di depannya yang kini seolah menjadi bayangan dari pilihan yang mengubah hidupnya. Saat pintu ditutup dan langkah-langkah di ruang sempit itu mengisi kesunyian, Nadia tahu bahwa tak ada jalan keluar lagi.

Bab 3

Ruangan itu terasa semakin sempit setiap kali Nadia memandang ke sekelilingnya. Bau kertas usang, cat tembok yang mulai mengelupas, dan hawa dingin yang mengisi udara seolah menjadi saksi bisu dari apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia berdiri di dekat jendela, matanya terfokus pada tetes hujan yang membasahi kaca, mengalir seperti air mata yang tak pernah berhenti. Setiap tetesan itu seolah menggugah kenangan buruk yang semakin jelas di benaknya-kenangan tentang adiknya, tentang kekecewaan, dan tentang pilihan yang sekarang mengikatnya seperti rantai besi.

Reza berdiri di tengah ruangan, matanya yang tajam menilai setiap sudut, setiap detail yang membuat tempat itu tampak begitu jauh dari dunia yang biasa ia kenal. Pakaian hitamnya yang rapi kontras dengan keusangan apartemen Nadia, seolah memperlihatkan seberapa dalam perbedaan dunia mereka. Namun, di mata Reza, ada sesuatu yang tidak biasa, sebersit rasa penasaran yang membuat Nadia merinding.

Nadia membalikkan badan, mencoba menatapnya tanpa emosi, tetapi itu lebih sulit dari yang dia kira. Jantungnya berdegup kencang, mengingatkan dia pada hari pertama mereka bertemu, saat dia tidak tahu betapa dalamnya dia akan terperangkap dalam jaring ini. "Kenapa kau di sini?" suaranya lebih rendah dari yang ia inginkan, seperti teriakan yang tertahan di tenggorokan.

Reza mendekat, langkahnya tenang, tetapi berat, seolah membawa beban yang lebih besar dari yang Nadia bisa bayangkan. "Kita perlu berbicara, Nadia. Aku tidak bisa membiarkanmu terus bersembunyi di sini."

Nadia memalingkan wajah, mencoba menyembunyikan air mata yang mulai menetes. "Apa yang kau harapkan dariku? Apa yang kau ingin aku lakukan?" tanyanya, nada suaranya penuh dengan keputusasaan yang hampir tak terkendali. Setiap kata yang keluar dari mulutnya seolah menyayat, membuatnya semakin sadar bahwa di sinilah dia-terjebak dalam keputusan yang telah mengubah hidupnya selamanya.

Reza menghela napas, lalu duduk di kursi tua yang ada di sudut. Wajahnya yang tegas berubah serius, ekspresi yang tidak pernah Nadia lihat sebelumnya. Ada keraguan di matanya, seolah dia sendiri bertanya-tanya mengapa dia berada di sini, menghadapinya, di tempat yang seharusnya jauh dari dunianya yang mewah dan penuh kekuasaan.

"Dengar, Nadia. Aku tahu ini sulit bagimu, tapi... aku juga punya tanggung jawab. Kau harus mengerti bahwa semua ini lebih besar dari kita berdua."

Nadia memandangnya, matanya terbuka lebar, seolah mencoba menemukan seseorang yang bisa dia percaya. "Kau pikir aku tidak tahu itu? Aku sudah cukup lama berada di sini untuk mengerti apa yang terjadi, Reza. Tapi, adikku-" suaranya terhenti, suara itu dipenuhi sesak yang menghalangi napasnya. "Adikku sudah pergi. Apa yang bisa kau katakan untuk membuat semua ini lebih baik? Apa yang bisa kau katakan untuk menghapus kesalahan ini?"

Reza berdiri, berjalan mendekat hingga jarak di antara mereka hanya selemparan batu. Tangan Nadia mengepal, jantungnya ingin melompat keluar dari dadanya. Mereka berdua terdiam, hanya diisi oleh detak jantung yang memburu dan hujan yang semakin deras di luar. Reza menatap Nadia dengan mata yang seolah ingin mengisahkan segala sesuatu yang tak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata.

"Aku tidak bisa mengubah masa lalu, Nadia. Tapi aku bisa memastikan bahwa masa depanmu... masa depan kita, tidak akan seburuk yang kau bayangkan," ucapnya, suaranya rendah, nyaris seperti bisikan.

Nadia memejamkan mata, berusaha meresapi setiap kata itu. Tapi kenyataan bahwa hidupnya kini terperangkap dalam permainan ini membuatnya tak bisa menerima begitu saja. "Aku tidak ingin ada hubungan apapun denganmu, Reza. Aku tidak ingin bagian dari semua ini. Kau tidak mengerti betapa sakitnya..."

"Kau tidak sendirian," potong Reza, suaranya terdengar lebih tegas. "Aku tahu aku mungkin tidak bisa membenarkan apa yang telah terjadi, tapi aku bisa melindungimu. Dan anak itu. Anak itu adalah bagian dari kita, Nadia. Bagian dari warisan yang harus kita jaga bersama."

Kata-kata itu seperti petir yang menghantam dada Nadia. Dia terdiam, menatap Reza dengan mata yang mulai berbinar oleh rasa takut yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. "Jangan... jangan katakan itu, Reza. Anak itu... dia... bukan pilihan."

Reza melangkah lebih dekat, memandangnya dengan intensitas yang membuat jantung Nadia berhenti. "Tapi dia ada, Nadia. Dan sekarang, aku di sini untuk memastikan bahwa dia akan aman. Kau tahu aku tidak akan membiarkan dia tumbuh di dunia yang penuh dengan kebohongan dan bahaya."

Nadia mendongak, melihat ekspresi di wajah Reza yang sulit dijelaskan-penuh konflik dan pengorbanan. "Kau hanya peduli pada warisan dan kekuasaan. Aku tahu itu. Aku tahu siapa kau, Reza."

Reza menundukkan kepala, seolah mencoba mencerna setiap kata yang diucapkan Nadia. "Aku mungkin terlihat seperti itu, tapi bukan berarti aku tidak bisa berubah, Nadia. Tidak berarti aku tidak bisa memilih untuk melindungi yang benar."

Nadia menatapnya, tidak yakin apa yang harus dia rasakan. Sejak pertama kali dia mengenal pria ini, dia hanya tahu Reza sebagai simbol kekuasaan, sebagai sosok yang tak terjangkau, dingin, dan penuh rahasia. Namun, kali ini, dia melihatnya dengan cara yang berbeda. Sesuatu di matanya membuat Nadia bertanya-tanya, apakah ada kebenaran di balik segala kebohongan ini?

"Dan jika aku memilih untuk terus berlari?" Nadia bertanya, suaranya bergetar. "Jika aku tidak ingin terjebak dalam permainan ini, apakah kau akan mengejarku?"

Reza terdiam beberapa saat, ekspresinya mengeras, lalu berubah menjadi lembut, seperti batu yang diliputi lumut. "Aku tidak bisa membiarkanmu pergi, Nadia. Dan aku tidak bisa membiarkan anak itu tumbuh tanpa ayahnya. Kita tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi, tapi kita bisa memilih bagaimana melanjutkan hidup ini."

Nadia merasakan jantungnya berpacu, semangatnya terombang-ambing antara ketakutan dan harapan yang tak pasti. Dia tahu ini adalah titik balik yang tidak bisa dipulihkan. Apapun yang dia putuskan sekarang, akan menentukan sisa hidupnya. Dia memandang Reza dengan mata yang penuh air mata, seolah ingin membaca kejujuran di balik wajah yang selama ini tampak seperti batu.

"Jadi, apa yang kau inginkan dari semua ini, Reza?" Nadia bertanya, suaranya nyaris hilang, tetapi cukup untuk mengisi keheningan di antara mereka.

Reza mendekat lebih dekat, suaranya hanya terdengar oleh Nadia, penuh dengan kehangatan yang langka. "Aku ingin kau tahu bahwa kau tidak sendirian. Dan aku ingin memastikan bahwa anak itu memiliki kesempatan untuk tumbuh di dunia yang lebih baik, dunia yang bisa kita buat bersama."

Nadia menatapnya, seolah mencoba mencari petunjuk, jawaban, atau mungkin kebohongan di balik kata-kata itu. Tapi, seiring hujan yang terus jatuh di luar sana, dia merasa ada satu hal yang pasti: dunia mereka sekarang telah terjalin dalam takdir yang tak bisa diubah.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED