Udara pagi yang dingin menusuk tulang membuat Dara terbangun. Tubuhnya seakan remuk, tulang belulang seperti dipereteli satu per satu. Kelakuan Raka semalam benar-benar menyisakan efek buruk untuknya.
Saat ingin meregangkan tubuh, Dara sadar ada tangan kekar yang sedang membelenggu. Wanita muda itu pun menoleh, melihat wajah maskulin Raka di bawah cahaya remang. Seketika jantungnya seakan porak poranda, ketika mengingat bahwa lelaki yang sedang tertidur pulas itu sudah mengambil semua darinya semalam.
“Kenapa bangun? Ini masih fajar. Tidur lagi.” Kalimat serupa perintah itu membuat jantung Dara yang tadinya melompat-lompat, menjadi mencelos seketika.
Apa dia sudah bangun? Tapi, kok, matanya masih merem? Apa jangan-jangan dia bisa ngeliat pas matanya ketutup? Pakai mata batin kali, ya. Dara mengoceh dalam hati, bingung karena Raka tahu dia sudah bangun, padahal lelaki itu masih memejamkan mata. Apa dia sedang mengigau?
Seharusnya Dara memalingkan muka, tetapi matanya malah terpaku melihat Raka. Sejenak dia memperhatikan setiap sudut wajah Raka, kemudian terpikir olehnya, masalah apa yang sedang dihadapi laki-laki itu? Kenapa saat tidur pun, wajahnya tidak terlihat damai?
Kebanyakan dosa ini orang kayaknya. Kudu dimandiin pakai air zamzam dulu kali, biar mukanya nggak kaku kayak tiang bendera.
Saat Dara sedang bicara dalam hati, tiba-tiba Raka membuka mata. Pandangannya tertuju pada Dara yang langsung mati kutu. Ditatap oleh mata tajam Raka dari jarak sedekat itu, membuat tubuh Dara seperti mati rasa. Hanya jantungnya saja yang terasa berdegup sangat kencang.
“Saya bilang, tidur lagi.” Ucapan penuh penekanan itu membuat Dara meneguk ludah kasar.
“Mau tidur, atau mau saya makan lagi?”
“Dih, dikata aku kue apem kali, ya. Main makan aja!” tukas Dara kesal, lalu segera menutup mulut rapat-rapat.
Mampus! Ucapannya barusan membuat Raka melotot padanya.
Saat Raka akan membuka mulut lagi, Dara langsung memejamkan mata kuat-kuat. Persetan dengan muka tampan Raka, Dara tidak mau dimakan dua kali hari ini olehnya. Tadi saja serasa sudah robek-robek dibuatnya, bagaimana kalau diulang lagi? Bisa-bisa jadi pepes Dara hari ini.
***
Ketika Dara terbangun lagi, Raka sudah tidak ada di sampingnya. Wanita muda itu mencoba duduk, menahan nyeri di bagian tertentu. Dia melilitkan selimut ke seluruh tubuh, lalu beringsut untuk turun dari kasur.
Baru saja kaki Dara menapak di atas keramik putih, dia mendengar suara pintu terbuka. Ketika mendongak, ternyata Raka yang baru keluar dari kamar mandi. Dara sempat melotot karena pria itu hanya menggunakan handuk putih di pinggangnya. Cepat-cepat wanita itu menunduk, lalu meletakkan bantal di atas kepala untuk menutupi rambutnya.
Raka yang melihat gaya istrinya itu hanya bisa menghela napas panjang, lalu menggeleng. Sementara Dara segera berdiri, kemudian berjalan menyamping agar tidak berpapasan dengan Raka. Jadilah Dara seperti kepiting karena jalan menyamping, mana agak pincang pula karena harus menahan sakit.
Mr. Crab aja nggak begini banget jalannya, rutuk Dara dalam hati.
Ini semua gara-gara Raka yang kejam dan tidak berperasaan, langsung melahap Dara seperti hewan buas yang kelaparan di malam pertama mereka.
Aku sumpahin jadi harimau Sumatra, biar punah sekalian!
“Kenapa?” tanya Raka dengan tatapan dingin.
Mendengar ucapan Raka, Dara langsung sadar jika dia sudah berhenti berjalan, bantal yang tadi ada di kepala pun entah sudah dibuang ke mana. Dara sedang berdiri di depan pintu kamar mandi dengan tangan tercangkol di kenop pintu.
“Ke-kenapa apanya?”
Raka menghela napas dalam, lalu berkacak pinggang. “Kenapa ngelihatin saya? Mulai ketagihan?”
Dara langsung kaget mendengar ucapan Raka, langsung menggeleng keras.
Dasar mesum! rutuk Dara dalam hati.
Wanita itu langsung memutar kenop yang sejak tadi dipegang, lalu masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya dari dalam. Dia melihat keran air hangat sudah dinyalakan, sepertinya Raka juga mandi air hangat pagi ini. Dara memutar keran, lalu melepas selimut yang melilit tubuh. Dia membuang benda itu ke lantai, lalu menggeser pintu kaca yang membatasi area shower. Wanita itu terduduk di bawah guyuran air.
“Kenapa harus aku yang berakhir di sini?” lirih Dara, membiarkan air matanya luluh bercampur air keran.
“Kenapa bukan Mbak Widya? Dia sudah lulus kuliah, sudah lebih dewasa dibanding aku.”
Dara merapatkan tubuh ke dinding, lalu menggosok-gosok tubuhnya. Seumur hidup, dia belum pernah disentuh laki-laki. Dia bahkan jarang melakukan kontak fisik dengan ayahnya, kecuali untuk bersalaman sebelum pergi sekolah. Rasanya aneh ketika Raka menyentuhnya, bahkan menyusuri setiap jengkal tubuhnya. Dara merasa benar-benar asing dan tidak nyaman.
Sementara di kamar, Raka yang sudah mengenakan pakaian lengkap duduk di tepi kasur, melihat bercak merah di atas seprai putihnya.
“Pantas rasanya beda,” gumam lelaki itu, teringat sensasi yang ia rasakan semalam saat menyentuh Dara. Raka memang bukan manusia polos seperti Dara, dia sudah banyak mencicipi hidangan dunia dan menikmati rasa yang berbeda-beda. Namun, dia juga tidak menyangka bila Dara bisa memberikannya sensasi yang asing. Seperti sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Raka menunggu istrinya ke luar dari kamar mandi. Cukup lama sampai membuatnya tidak sabar, lalu mengetuk pintu dengan cukup keras.
“Apa kamu masih hidup?” tanyanya.
Dara yang mendengar itu dari kamar mandi langsung berdecih, lalu mematikan keran air.
“Masih!” jawabnya agak memekik karena takut suaminya itu tidak mendengar.
“Lagian Mas Raka, kan, udah tuwir. Kata orang, kalau udah tuwir, kupingnya jadi agak pekak,” gumam Dara seorang diri. Sesaat kemudian, dia langsung celingukan. Di mana handuknya?
Wanita itu langsung menepuk jidat. Astaga, kebiasaan mandi lupa bawa handuk!
“Ma! Tolong ambilin handuk!” Dara refleks berteriak, lalu lagi-lagi menepuk jidat. Astaga, dia lupa lagi. Dia di rumah Raka sekarang, bukan di rumahnya. Tidak ada lagi emak yang akan membawakan handuk kalau dia lupa membawanya ke kamar mandi.
“Di mana handuk kamu?” Raka yang menjawab dari balik pintu.
“Itu … anu … di koper.”
Tanpa bicara lagi, Raka membuka koper hitam Dara, lalu mencari handuk. Dia menemukannya dengan mudah karena Dara tidak membawa banyak barang di koper itu.
Raka memutar kenop, tetapi pintunya terkunci. “Buka!” teriaknya.
Dara memungut lagi selimut yang tadi dia buang ke lantai untuk menutupi tubuh, lalu membuka sedikit pintu untuk mengambil handuk dari Raka. Cepat-cepat dia menyambar handuk pink itu, lalu kembali menutup pintu dan segera mengeringkan tubuh. Dara mencari hair dryer di laci yang ada di dekat wastafel, tetapi tidak menemukan benda itu. Jadilah dia harus berlama-lama di kamar mandi untuk mengeringkan rambut.
Sementara itu, Raka melihat sinis ke arah koper Dara yang tadi dibukanya. Pria itu menilik isi koper Dara, lalu menggeleng heran.
“Apa dia benar-benar anak orang kaya? Kenapa celana dalamnya bolong?”
*****
Raka memicingkan mata saat terpaksa menjumput celana dalam bolong tersebut karena penasaran. Ia meneliti dari berbagai sisi, dan ternyata memang sama buluknya. Tidak ada pengaruh dilihat dari sudut mana pun.
"Yang benar saja, aku baru melihat bentuk celana dalam seperti ini. Apa kebangkrutan ayahnya terlalu parah sampai nggak mampu beli yang baru?" gumamnya sendiri.
"Mas Raka ...!"
Terikan itu membuat Raka terkejut dan menoleh pada Dara yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi, lalu refleks menjatuhkan benda tersebut hingga kembali masuk ke koper yang masih terbuka.
"Mas Raka ngapain!" ujarnya panik, berjalan pelan karena masih menahan sakit, berusaha secepatnya mendekati Raka yang berdiri di dekat koper miliknya.
Dengan buru-buru, Dara menutup koper tersebut. Padahal sebelum dia menutup benda itu, Raka sudah melihat semua barang-barang tidak berharga yang ada di dalamnya.
"Enggak sopan tau!" omel wanita yang masih memakai handuk di kepalanya itu.
"Tadi kamu yang nyuruh ambilkan handuk, ‘kan? Salah saya di mana?"
"Iya, handuk. Kenapa pake pegang-pegang celana dalam orang?" Dara meletakkan kembali koper tersebut di samping almari.
"Kalo nggak bolong juga saya nggak pegang. Tadi penasaran saja. Barang kali model terbaru memang bentuknya seperti itu."
Ucapan Raka membuat Dara melotot dan membekap mulutnya sendiri seketika. Ia tidak ingat kalau benda miliknya itu memang ada beberapa yang sudah bolong dan masih dipakai.
Kali ini wanita berlesung pipit itu tidak berani berbalik, apalagi menemui wajah Raka yang masih berdiri di belakangnya. Ia masih berpikir keras, bagaimana cara menepis rasa malu yang membuatnya hampir pingsan itu.
"Buang saja. Beli yang baru. Baju-baju kamu juga keliatan sudah nggak ada yang bagus," sambung Raka.
"Tetep aja itu nggak sopan," sahut Dara yang masih membelakangi Raka. Ia hampir menangis mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut suaminya itu.
Apa yang ia dengar barusan, membuatnya berhasil mengingat kembali jika ia jarang sekali membeli baju baru. Sebagian besar yang ia pakai hanya bekas dari Widya, kakaknya.
"Dara ...," panggil Raka dengan menyentuh kedua lengan wanita yang ada di hadapannya supaya berbalik. Benar saja, kini ia melihat air mata yang menggenang di pelupuk itu.
"Kenapa nangis?"
"Enggak. Aku cuma ingusan," sahutnya sambil memainkan jemari. Ia memendam banyak rasa. Sedikit sedih karena mengingat sesuatu, dan malu luar biasa karena Raka sudah melihat apa yang seharusnya tidak pernah dilihat. Harga dirinya benar-benar jatuh ke dasar lapisan terdalam Bikini Buttom, lalu bertemu dengan Spongebob.
"Saya nggak lihat ingus, saya lihat mata kamu berkaca-kaca. Sekarang ganti baju, kita keluar beli baju baru buat kamu."
"Ta-tapi ... belum Lebaran. Ngapain beli baju? Lagian mau pakai baju apa? Katanya nggak ada yang bagus?" Dara mulai tidak percaya diri. Kebanyakan baju yang ia bawa hanya atasan dan rok panjang, juga jilbab yang hanya itu-itu saja.
"Ya sudah, kalau gitu telanjang saja. Saya lebih suka," ucap Raka, ia melengos pergi dari hadapan Dara, dan berdiri di depan cermin merapikan rambutnya.
"Dasar mesum!" gerutu Dara dengan lirikan sinisnya.
*
"Maaf, aku baru ke sini, Bu," ucap Raka pada wanita yang terbaring lemah di bed pasien ruang inap VVIP tersebut.
Wanita yang berusia lebih dari paruh baya itu tersenyum tipis. Lalu tatapannya berpindah pada Dara, yang berdiri tepat di sisi Raka. Ia menunduk santun, lalu membalas senyuman ibu mertuanya itu.
"Istri kamu cantik sekali, Nak," puji Dewi, ibu Raka.
Satu-satunya alasan Raka mau menikah adalah hanya karena menuruti permintaan ibunya. Dewi tidak menerima, saat Raka menyatakan sesuatu yang membuat hatinya terluka.
Lelaki dengan sorot mata tajam itu mengatakan satu hal, bahwa ia tidak tertarik dengan ikatan pernikahan. Lalu meminta ibunya untuk menerima keputusan tersebut. Namun, Dewi tidak bisa menyetujui permintaan anak satu-satunya itu. Ia tidak bisa membiarkan Raka hidup seorang diri di dunia, dan merasakan apa yang ia rasakan selama ini.
Dengan susah payah Dewi meyakinkan Raka, hingga anak lelakinya itu luluh. Rasa cinta yang begitu besar pada sang ibu, membuat Raka kalah hingga memutuskan untuk menuruti permintaan itu. Ya, Dewi menganggap hal tersebut sebagai permintaan terakhirnya pada Raka.
"Dara yang sabar, ya? Sikap Raka memang suka dingin," ucap Dewi lirih. Kondisinya semakin melemah ketika usai kemoterapi. Rambutnya yang sudah banyak diselingi uban juga mulai rontok dan hanya tersisa sedikit.
"Oh, iya, Bu. Enggak apa-apa. Mungkin dulu ngidamnya es Tea Jus gula batu, ya?"
Seketika Raka melirik Dara sinis. Sementara itu ibunya menahan tawa. Ia cukup terhibur dengan sikap menantunya yang ternyata di luar dugaan. Melihat kepolosan Dara, Dewi semakin yakin bahwa anaknya tidak salah memilih teman hidup.
Wajah Dara menciut mendapat lirikan maut dari Raka. Ia memalingkan wajah ke sisi lain sambil bergumam dalam hati.
Pantes aja mukanya kelihatan horor, garing banget hidupnya. Baru diledekin begitu aja mukanya udah kayak mau ngamok.
"Doain Ibu cepet sembuh, ya? Biar kesampaian bisa gendong cucu."
Ha? Cucu?
Kedua insan tersebut kompak menoleh dengan mata melotot. Bagaimana bisa mereka punya anak? Bagi Raka, menikahi Dara bukanlah masalah besar. Sekalian mencari teman tidur. Namun, memiliki anak tidak pernah ada dalam wacana hidupnya.
Begitu pun dengan Dara. Dia tidak bisa membayangkan bila harus melahirkan anak Raka. Kalau bapaknya saja cuek dan dingin macam es batu begitu, anaknya nanti bakal seperti apa? Prasasti hidup?
*
Mobil terhenti tepat di teras kafe milik Raka. Sore ini cukup ramai, terlihat dari pelataran parkir yang dipenuhi oleh motor dan beberapa mobil.
Tanpa bicara, Raka membuka pintu dan keluar dari mobil. Praktis Dara mengikuti. Ia pun berjalan membuntuti Raka yang sudah lebih dahulu melangkah masuk. Tanpa bergandengan, mereka berdua bahkan tidak memikirkan hal tersebut.
"Kalau mau makan, pesan saja. Terserah mau pilih makanan apa. Saya ada kerjaan di dalam sebentar. Jadi, tunggu saja di sini, jangan pergi ke mana-mana," titahnya. Lalu pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Dara.
Wanita berjilbab abu-abu itu menuruti, ia melihat daftar menu yang ada di atas meja. Dara mulai membaca satu per satu daftar makanan dan minuman yang tertera di sana. Sudah membacanya sampai selesai, tapi tidak ia temukan menu minuman Wiski, Wine, atau Vodka, yang Raka sebutkan malam itu di telepon.
Apa benar minuman keras tersebut harus dipesan secara rahasia? Hati Dara terus bertanya-tanya.
Kali ini tatapannya mengelilingi setiap sudut kafe ini. Tidak ada yang aneh atau mencurigakan. Semua terlihat biasa saja seperti kafe pada umumnya. Ada banyak karyawan yang berlalu lalang mengerjakan pekerjaannya masing-masing. Namun, ia yakin betul semalam tak salah dengar.
Sekali lagi ia meneliti untuk menemukan nama ruangan yang masih menggantung di dalam kepala. Ruang Safir. Ia berpikir bahwa mendapatkan minuman yang dipesan secara rahasia itu bisa saja dengan cara diantar ke ruangan tersebut.
Dara yakin akan mendapatkan jawaban, jika ia bisa menemukan ruang yang ia maksud. Wanita bertubuh langsing itu memberanikan diri untuk masuk lebih dalam, dengan alasan mencari toilet.
Ia sudah melewati pintu yang bertuliskan staff only. Lalu sedikit terkejut saat hampir bertabrakan dengan salah satu karyawan.
"Maaf, Mbak. Cuma karyawan yang boleh masuk," ucap pekerja tersebut.
"Oh, iya. Maaf, Mas, saya istrinya Mas Raka. Mau ketemu sebentar." Jawaban spontan itu terdengar cukup masuk akal.
"Oh, maaf saya nggak tau, Mbak. Silakan," ucap lelaki muda itu, sebelum ia pergi ke luar.
Dara kembali melangkah masuk. Langkah demi langkah terasa mulai menegangkan. Entah kenapa hatinya tidak tenang. Sepertinya, ada sesuatu yang tersembunyi di balik kafe milik suaminya itu.
Ia menyapu pandangan, tak juga menemukan nama ruangan yang ia cari. Hingga langkahnya terhenti sama sekali, saat sebuah tangan memegang bahunya cukup kuat ....
Jantungnya berdebar. Lalu pertanyaan besar dengan mudah bersarang di kepala. Siapa yang memergokinya?
*****