"Nona Arina, maafkan aku! Aku tidak bermaksud menjatuhkan kopermu!"
Kartina bergegas menuruni tangga dengan menunjukkan kekhawatiran yang berlebihan.
"Apa barang-barang ini aku masukkan ke dalam kantong untuk sementara?" imbuhnya sambil menyembunyikan rasa jijik di balik senyum manisnya. Kartina sudah lama muak dengan Arini karena dia menganggapnya tidak lebih dari gadis desa miskin yang tanpa malu-malu bergantung pada Kristian untuk kehidupan yang lebih baik.
Melihat pakaian-pakaian yang berserakan di lantai, Kristian mengerutkan kening dengan jengkel dan membentak, "Kamu ceroboh sekali!"
Tidak banyak yang ada di dalam koper, hanya beberapa potong pakaian dan hampir tidak ada perhiasan.
Tampaknya dia tidak menggunakan uang yang diberikan Kristian padanya selama bertahun-tahun. Melihat betapa sederhana dan hematnya dia menunjukkan bahwa dia tidak pernah mencoba mengambil keuntungan dari statusnya.
Namun, cinta tidak bisa dipaksakan atau dipalsukan.
"Koper Melani harus diprioritaskan terlebih dahulu. Masukkan saja barang-barang Arini ke dalam kantong untuk sementara. Aku akan menyuruh pelayan untuk membelikanmu koper yang baru besok," ucap Kristian sambil melirik ke arah koper yang rusak itu.
Arini tersenyum tipis dan pahit saat berkata, "Koper itu adalah koper yang kucuri dari para penculik saat kita kabur untuk menyelamatkan diri. Jika tidak ada koper itu, saat itu kita pasti sudah tenggelam."
Selama bertahun-tahun, Arini menjaga koper itu dengan baik, sama seperti dia menjaga pernikahan mereka. Namun sekarang, koper itu hancur, sama seperti pernikahan mereka saat ini.
Kristian tertawa dingin dan berkata, "Cerita itu mungkin bisa menipu kakekku, tapi tidak denganku."
Meskipun tidak dapat mengingat apa pun saat dia diculik ketika masih kecil, dia selalu merasa bahwa orang itu tidak mungkin Arini.
Beralih ke Kartina, Kristian meninggikan suara saat memerintah, "Cepat kemasi barang-barangnya!"
"Baik, Tuan," ucap Kartina sambil membereskan pakaian Arini dengan penuh semangat sambil menginjak pakaian itu dengan sengaja untuk mengotorinya.
Dengan nada manis yang memuakkan, dia mengejek, "Nona Arini, nenek Tuan Kristian selalu berkata bahwa manusia itu seperti pakaian. Jika pakaian seseorang terkena noda, tidak peduli seberapa banyak kamu mencucinya, nodanya tidak akan pernah benar-benar hilang."
Arini telah memperlakukan Kartina dengan baik selama bertahun-tahun.
Bagaimanapun juga, Kartina adalah kerabat jauh nenek Kristian.
Beberapa tahun yang lalu, ketika Kartina melakukan kesalahan yang hampir membuat Keluarga Sulistio berselisih dengan Kevin Lintang, putra tertua Keluarga Lintang, Arini-lah yang meredakan suasana. Dia telah menegosiasikan kesepakatan dengan Kevin, yang lumpuh, untuk mengamankan lahan yang strategis bagi proyek komersial Keluarga Sulistio. Pada saat itu, Kartina sungguh berterima kasih padanya. Namun kini, karena didorong oleh angin perubahan dalam Keluarga Sulistio, Kartina bertindak seolah-olah dia tidak pernah berutang budi padanya.
Semuanya bermuara pada satu hal, yaitu dukungan nenek Kristian telah memudar sehingga sikap keluarganya pun berubah.
"Kamu benar, pakaian yang kotor tidak akan bisa dicuci bersih sepenuhnya," ucap Arini, sambil melirik ke arah Kristian, lalu mengangkat bahu dan berkata dengan tenang dan tegas, "Jadi, aku tidak membutuhkannya lagi."
Lagi pula, pakaian yang polos dan biasa seperti itu bukanlah gayanya. Pakaian-pakaian itu tidak pernah cocok untuknya.
"Tapi, saat seseorang melakukan kesalahan, mereka harus menghadapi konsekuensinya," lanjutnya dengan suara yang dingin dan tidak seperti biasanya.
Udara di ruangan berubah. Untuk pertama kalinya, Kristian melihat Arini dari sudut pandang yang baru, di mana sifatnya yang lembut dan penurut kini tergantikan oleh sikap yang dingin dan tajam. Bahkan Kartina juga merasakan perubahan ini, tetapi dia buru-buru berkata dengan polos, "Aku hanya melayani Keluarga Sulistio, Nona Arini. Karena kalian sudah bercerai ...."
Plak!
Sebelum Kartina menyelesaikan kalimatnya, telapak tangan Arini mendarat pipi kirinya dengan sangat kuat sampai suaranya bergema di ruangan itu.
Kartina membelalak tidak percaya dan bertanya, "Beraninya kamu menamparku?"
"Suka-suka aku."
"Jika Nyonya tahu ...."
Plak! Tamparan kali ini mendarat di sisi pipinya yang lain dengan lebih kencang sehingga Kartina terhuyung mundur. Sekarang, kedua pipinya bengkak sehingga terlihat simetris.
Tamparan kedua sukses membuat tubuh Kartina tumbang dan terjatuh ke lantai. Pergelangan kakinya terkilir, dia menjerit kesakitan dengan raut wajah malu sekaligus marah.
Air mata mengalir di mata Kartina saat dia merengek, "Tuan Kristian, dia sudah keterlaluan!"
Namun sebelum Kartina sempat mengeluh lagi, Arini menghampirinya dan mencengkeram lehernya untuk menarik seuntai kalung dari lehernya.
"Ini adalah kompensasi untuk koper dan pakaian."
Arini mencengkeram lehernya sampai memerah dan air matanya tumpah.
"Sekarang, aku akan mengambil kembali apa yang sejak awal bukan milikmu."
Kalung itu terbuat dari batu zamrud bertatahkan berlian. Meskipun bukan perhiasan yang berharga, ukiran pada bagian belakangnya menunjukkan dengan jelas bahwa kalung itu bukan milik Kartina.
"Kamu ... kamu menyerangku dengan sengaja!" seru Kartina dengan suara serak sambil bernapas terengah-engah. Dalam kepanikannya, tanpa sadar dia mengompol.
Hampir mati lemas karena dicekik Arini, Kartina baru menyadari bahwa dia tidak pernah benar-benar mengenal Arini. Tidak hanya menyakitinya, wanita itu bahkan sanggup membunuhnya jika mau.
Namun, setelah menarik kalung itu dari leher Kartina, Arini berbalik dan pergi begitu saja.
Merasa putus asa, Kartina bangkit berdiri dan menghampiri Kristian sambil berkata dengan nada memohon, "Tuan, ini semua salah paham, kumohon ...."
"Keluar!"
Kesabarannya habis, Kristian menendang Kartina sehingga wanita itu terjatuh lagi.
Bau pesing yang tajam dan menyengat menusuk hidungnya, amarah Kristian yang sudah mencapai puncak pun meluap.
"Keluarga Sulistio tidak punya tempat untuk orang yang suka mencampuri urusan orang lain."
Sudah keluar dari vila dengan ponsel di tangan, Arini menghubungi nomor yang dikenalnya. Ketika panggilan telepon itu tersambung, dia berkata dengan santai, "Rania, aku sudah bercerai dan meninggalkan vilanya. Rumah dan mobilku berada di Nere. Apa kamu keberatan kalau aku menginap di tempatmu malam ini?"
Di ujung telepon lainnya, Rania Ghani tertegun sejenak sebelum menjerit kegirangan dalam hitungan detik.
"Astaga! Akhirnya kamu menceraikan pria idiot itu! Dari pada menginap, lebih baik kita berpesta! Pesta lajang!"
Bahkan dari kejauhan, Arini dapat mendengar tawa Rania yang berlebihan terdengar melalui telepon. "Jika orang-orang di Weco mengetahui sang pendiri telah kembali, servernya pasti akan meledak!"
Merasa putus asa, Kartina berlutut di depan Kristian dan bertanya dengan nada memohon, "Tuan Kristian, bukankah Anda berencana untuk memberi kejutan kepada Nona Melani di kapal pesiar malam ini? Biarkan saya membantu untuk menebus kesalahan saya!"
Dia telah melayani Melani selama bertahun-tahun, mengetahui preferensinya sampai ke rincian terkecil.
Kerutan di dahi Kristian semakin dalam. Melani muncul tanpa peringatan dan tempat pesta bahkan belum siap.
"Aku memberimu satu kesempatan terakhir," gumam Kristian sambil melirik arlojinya. Hanya tersisa tiga jam sebelum pesta di kapal pesiar dimulai. Jika kamu mengacaukannya, tamatlah riwayatmu. Kamu tidak hanya akan keluar dari Keluarga Sulistio, tapi juga dilaporkan ke polisi!"
Peringatan adalah pedang bermata dua, yaitu ancaman sekaligus peluang. Bersumpah pada diri sendiri bahwa dia tidak akan gagal, Kartina segera pergi.
Kristian berbalik dan tatapannya tertuju pada meja makan yang penuh dengan makanan. Rasa jengkel berkobar dalam dirinya, terutama saat dia mengingat Arini menampar Kartina sebelumnya.
Meskipun Arini terlihat tenang, tetapi ada sesuatu dalam dirinya yang terasa lebih dingin dan kasar dari sebelumnya, jauh berbeda dari wanita lembut dan penurut yang pernah dikenalnya.
Namun, pikiran itu segera sirna. Baginya, Arini akan selalu menjadi ibu rumah tangga yang penurut dan membosankan. Tanpa dia, wanita itu bukan apa-apa.
Di luar vila, sebuah Lamborghini mewah berhenti dan seorang wanita melangkah keluar.
"Arini, Sayang!" Rania bergegas mendekat dan memeluk Arini dengan hangat sambil melanjutkan, "Kamu tahu, kamu bisa tinggal di tempatku selamanya jika kamu mau!"
Rania, putri tunggal pemilik Grup Abadi, sebuah perusahaan properti, tidak kekurangan rumah untuk ditinggali. Jadi, menyediakan tempat tinggal untuk Arini bukanlah masalah besar.
Rania mengendus leher Arini dan bertanya, "Jadi, apa yang sebenarnya terjadi malam ini? Baumu masih seperti minyak goreng. Jangan bilang kamu memasak untuk pria tolol itu lagi?"
Pelukan ini terasa begitu erat dan hangat sehingga emosi Arini meluap dan dia merasakan sesak yang tidak asing di tenggorokannya.
"Kita bicara di mobil saja," ucap Rania.
Begitu berada di dalam Lamborghini, Arini mulai menceritakan apa yang terjadi hari ini. Walaupun Arini menceritakan dengan tenang, amarah Rania tetap berkobar seperti percikan api yang menyulut kayu bakar.
"Cuih, padahal Melani mencampakkannya di hari pernikahan mereka, tapi sekarang dia tega menceraikanmu dengan harapan bisa menikahi wanita itu? Mereka benar-benar pasangan yang cocok, yang satu wanita jalang dan yang lain pria tolol!" omel Rania.
Semakin marah, Rania menambahkan, "Orang tuanya juga menjijikkan! Kamu telah merawat mereka selama tiga tahun dengan mencurahkan seluruh jiwa dan ragamu, tapi ini balasan mereka?"
Rania terus mengomel.
"Dia memang kehilangan ingatan atas apa yang terjadi saat dia kecil, tapi bukan berarti dia berhak memperlakukanmu dengan semena-mena. Kamu telah membalas budi padanya selama tiga tahun terakhir, jadi kamu tidak perlu bersikap baik padanya lagi. Kalian sudah impas."
Duduk dengan lesu di kursi penumpang, Arini menatap kosong ke luar jendela mobil pada pemandangan yang berlalu lalang.
"Sekarang sudah selesai. Kami impas sekarang."
Selama tiga tahun, Arini membentuk dirinya menjadi sosok wanita sempurna menurut Kristian. Dia telah melepas sepatu hak tinggi, mengikat rambut ke belakang, dan mengenakan pakaian yang sederhana dan membosankan, pakaian yang bahkan tidak disukainya, semuanya hanya demi meniru Melani.
Namun, tidak peduli seberapa keras dia berusaha, dia tidak dapat bersaing dengan wanita yang benar-benar Kristian cintai.
"Arini, sejujurnya, Keluarga Sulistio tidak pantas mendapatkan orang sepertimu."
Merasakan kelelahan Arini, Rania melembutkan suaranya saat berkata, "Perceraian membutuhkan waktu, jadi untuk sementara, kamu bisa tinggal bersamaku. Lagi pula, kamu sudah kuanggap seperti saudara kandungku sendiri."
Arini tersenyum kecil dan berkata, "Oke."
Tumbuh di panti asuhan, Arini tidak pernah memiliki anggota keluarga.
Namun, Rania selalu memperlakukannya lebih baik daripada siapa pun.
Percakapan mereka terhenti saat mereka tiba di sebuah studio rias eksklusif. Rania menurunkan kaca jendela dan melambai dengan antusias ke arah Maria Bastian, seorang penata rias terkenal. "Hei, Maria! Ada pekerjaan untukmu!"
Arini mengusap pelipis dan mengerang pelan, "Sejujurnya, aku sangat lelah sekarang. Kurasa aku tidak sanggup berdandan malam ini."
"Oh, ayolah! Kamu tidak berencana untuk terus-menerus terlihat lelah dan mengharapkannya, kan?"
"Ya … tentu saja tidak."
"Ini baru sikap yang benar!" Rania menjelaskan dengan wajah berseri-seri, "Santai saja dan biarkan para profesional melakukan keajaiban mereka. Mereka adalah penata rias internasional papan atas. Malam ini, mereka akan mengembalikan kecantikanmu yang telah lama dirindukan dunia!"
Tiga puluh menit kemudian, penampilan Arini berubah drastis. Hampir semua orang yang melihatnya tercengang sesaat.
Wajah Arini yang cantik alami selalu tertutupi oleh kelelahan. Namun sekarang, hanya dengan sentuhan riasan sederhana, dia tampak menakjubkan.
Hanya dengan sedikit eye shadow yang menghias kelopak matanya, matanya yang berbentuk seperti mata kucing tampak sangat memikat. Tanda kecantikan yang halus digambar di dekat sudut matanya dan menambahkan sedikit kesan berani yang hampir terasa memberontak.
Bahkan Rania tidak dapat menahan kegembiraannya saat berseru, "Ini … ini Arini yang kuingat!"
Kemudian, dia menunjuk ke arah rak berisi gaun-gaun yang sedang dibawa masuk.
"Sayang, pilih gaun mana saja yang kamu suka. Demi merayakan kebebasanmu, aku sudah mengerahkan seluruh kemampuanku untuk pesta malam ini. Di atas kapal pesiar mewah, lengkap dengan delapan gigolo bertubuh kekar. Aku yakin, ini akan menjadi malam yang tidak akan terlupakan!"
Arini menepisnya dan berkata, "Saat ini aku sedang tidak tertarik pada pria."
Merasa sedikit kesal, Rania menatap Arini dengan tatapan penuh pengertian.
"Kenapa? Tapi ini sudah tiga tahun! Apa kamu tidak ... memiliki hasrat selama itu?
"Yah …." Arini tentu saja memiliki hasrat.
Selama tiga tahun menikah, Kristian mengaku dia "menyimpan" dirinya untuk Melani sehingga tidak sudi menyentuh wanita lain, jadi Arini masih perawan sampai sekarang.
Dia bukan orang suci. Dia memiliki hasrat.
Namun, dia tidak mau memaksakan hal ini.
Melihat Arini diam saja, Rania mengira wanita itu masih belum bisa melepaskan Kristian. Ini saatnya mengeluarkan senjata pamungkas! "Kamu tahu akan ada peracik parfum internasional yang diundang ke pesta ini, kan? Salah satunya adalah otak di balik Perusahaan Karisma! Tidakkah kamu ingin melihat siapa dia?"
Karisma adalah merek parfum paling bergengsi di dalam negeri.
Arini pernah bertemu dengan sang CEO di sebuah kompetisi parfum internasional. Karya-karyanya bisa dibilang merupakan suatu maha karya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia mencium sesuatu yang membangkitkan perasaan déjà vu. Ada sesuatu pada parfum-parfum itu yang mengingatkannya pada gaya ibunya.
Sayangnya, sang CEO juga misterius seperti Arini. Dia tidak pernah muncul di muka umum, bahkan saat Karisma meraih ketenaran global. Tidak seorang pun mengetahui seperti apa penampilannya, bahkan sampai sekarang.
Rasa ingin tahunya terusik, akhirnya Arini mengalah dan berkata, "Baiklah, mari kita liat."
Arini pernah meretas basis data Perusahaan Karisma, tetapi hasilnya nihil. Entah kenapa, dia memiliki firasat bahwa sang peracik parfum misterius ini mungkin ada hubungannya dengan ibunya.