Kalya duduk tepekur di sudut pembaringan sambil menatap sekeliling kamarnya. Prosesi pemakaman berlangsung sangat cepat, kurang dari 30 menit, namun khidmat. Dihadiri hanya orang-orang terdekat saja. Walaupun demikian, waktu yang sesingkat itu mampu menguras energi Kalya sehingga membuatnya seperti habis berlari puluhan kilometer.
Di dalam kamarnya, pertahanan Kalya runtuh total. Tangisnya pecah berkeping-keping, dia berteriak sekuat tenaga, namun teriakkan tersebut hanya menggema di dalam dadanya. Yang ke luar hanyalah isak tangis pilu yang lebih intens daripada saat dia menangis di pesawat.
Matanya yang mengembun, menatap nanar pada foto keluarga dalam posisi portrait di dinding yang terpasang sempurna. Dia, Dimi suaminya, serta Jose buah cinta mereka tersenyum bahagia, seolah-olah tidak akan pernah ada nestapa yang akan menghampiri mereka.
Di sampingnya, terdapat foto keluarga yang terpasang di kiri kanannya. Foto di sebelah kanan adalah mereka bersama keluarga Dimi. Di sana ada ayah dan ibu mertua serta nenek Dimi yang sangat mencintai serta menyayanginya. Pemuda gagah yang berdiri di belakang suaminya adalah Rodriguez, adik angkat Dimitri, kesayangan nenek Ornella. Tidak ada foto kakek Dimi, karena kakek meninggal setelah nenek Ornella melahirkan Matteo, ayah Dimi. Seperti kata pepatah, orang baik biasanya tidak berumur panjang. Kecelakaan merengut nyawa ketiganya dalam waktu bersamaan kakek Dimi yang telah lebih dulu pergi. Seandainya saja saat itu Dimi ikut bersama mereka, tentu Dimi juga akan pergi meninggalkan dunia ini bersama mereka.
Takdir telah menyelamatkan Dimi dari kecelakaan maut. Rodriguez yang lebih memilih untuk menemani saudara angkatnya --saat harus melakukan peresentasi ujian gelar master bidang politik-- ikut terselamatkan.
Tidak ada yang mengetahui bahwa dia, Dimi, Jose dan Rodriguez tidak ikut dalam perjalanan menuju Milan, untuk menghadiri pesta amal yang diselenggarakan perusahaan mereka. Rencananya mereka memang akan menyusul pada acara gala dinner saja. Namun kenyataan bicara lain. Mobil yang dikendarai orang tua dan nenek Dimi, mengalami kecelakaan tunggal saat melintasi area bebas hambatan saat menuju tempat acara.
Belum selesai penyelidikkan untuk memastikan kematian mereka apakah murni kecelakaan atau ada unsur kesengajaan, Dimi suaminya, telah menyusul mereka hanya dalam waktu tiga bulan saja. Tanpa terasa air mata kembali meleleh di pipi Kalya.
Dalam bingkai satunya lagi, adalah foto dirinya dan Dimi bersama keluarganya di Indonesia, yang diambil pada saat pernikahan mereka empat tahun lalu. Ibunya telah pergi karena penyakit diabetes, sementara ayahnya yang tidak terbiasa hidup tanpa ibunya menyusul hanya dalam kurun waktu lima bulan setelah kepergian ibunya. Saat itu Jose belum ada. Jadi tidak ada di dalam foto keluarga dari pihak Kalya.
Dimi dan Kalya sama-sama anak tunggal. Bedanya Dimi adalah anak seorang konglomerat, sedangkan dirinya hanyalah anak petani biasa di sebuah desa terpencil di Banyuwangi, Jawa Timur Indonesia.
Kalya teringat pertemuan pertama, saat itu dirinya tanpa sengaja menumpahkan kudapan ke dada seorang pria dengan pakaian kasual, yang bersiap untuk surfing di Pantai Pulau Merah Banyuwangi, tempat dia dan keluarganya mengais rezeki.
"Oh, maafkan aku Tuan, aku tidak sengaja." Meskipun itu bukan salahnya, Kalya tetap meminta maaf. Dia telah belajar, bahwa sebagai orang miskin, memiliki stok maaf yang banyak sangat diperlukan. Tidak perduli benar atau salah, orang miskin harus selalu meminta maaf terlebih dahulu, untuk menghindari masalah di masa depan.
"Tidak, kamu tidak salah. Aku yang tidak hati-hati hingga menabrakmu. Apakah ada yang terluka?" pria itu berjongkok di samping Kalya, menunjukan empati dan kesopanan yang tidak diharapkan oleh Kalya.
Entah mengapa Kalya merasa tersipu, lalu serasa ada desir hangat yang menjalari tubuhnya, sampai dia tidak menyadari ketika tubuhnya telah dipapah dengan lembut oleh pria berambut gelap bermata almond dengan bola mata coklat kelam, untuk duduk di atas kursi pantai yang di sewanya.
"Duduklah, aku akan kembali dan membawakan air untukmu."
Baru saja pria tersebut akan berdiri, sebuah suara bariton milik pria berambut pirang berpotongan rapih, dengan bola mata biru terang menghampiri mereka sambil menenteng papan selancar.
"Oh, ada yang sedang bercengkrama rupanya. Aku menunggumu bermain dengan ombak sampai menyelesaikan dua gulungan dengan sempurna, tetapi kamu malah sedang asyik di sini bersama gadis cantik. Dimi, kamu membuatku kehilangan momen untuk menyombongkan diri di hadapanmu. Harusnya kamu tadi melihatku bagaimana dua ombak tersebut berhasil kutunggangi dengan sukses. Ombak di sini lumayan besar, dan belum banyak turis yang menyesaki area ini." Rupanya nama pria yang menabraknya adalah Dimi. Diam-diam Kalya mencatatnya dalam hati.
"Sudah, simpan saja kesombonganmu, Rod. Sekarang tolong belikan aku air atau apapun itu. Aku menabrak gadis ini dengan papan selancarku. Semoga tidak ada yang terluka atau memar."
Pria yang dipanggil Rod membelalakan matanya. "A-p-p-a? Kamu menabraknya dengan papan selancar?" Dengan kekhawatiran yang sulit disembunyikan, pria yang dipanggil Rod ikut membungkuk mencoba memeriksa tangan dan kaki Kalya, yang langsung ditepis oleh Dimi.
"Aku yang membuatnya celaka, aku yang harus memeriksanya. Kamu cepat pergi, cari air, makanan, obat, atau apa saja. Sana!"
Pria pirang tersebut kembali berdiri sambil mengangkat tangan menggoda Dimi. "Ow ow ow… ada yang mendadak posesif rupanya… apakah aku melewatkan sesuatu, Tuan D-i-m-i-t-r-i-o D-i-a-z?"
"Tuan Rodriguez Diaz, apakah perintahku tidak jelas?" Dimi menyambar pria yang ternyata bernama Rodriguez itu dengan tatapan tajam.
"Like a wish Mr. Dimitrio Diaz yang terhormat."
Dimi mengangguk tegas. "Segera laksanakan, atau aku akan mengikatmu di papan selancar, lalu melepaskan di laut agar menjadi mangsa hiu."
"Jangan membuatku takut, Tuan Dimi." Rodriguez masih saja menggoda.
"R-o-d-r-i-g-u-e-z yang terhormat…" Dimi menggeram, membuat Rodriguez langsung pergi sambil tertawa-tawa. Kalya ikut tertawa melihat adegan kedua pria konyol tersebut.
Dimi mengalihkan pandangannya pada Kalya yang sedang menahan senyum. "Dia adikku, Rodriguez Diaz." Dimi menjelaskan tanpa diminta. "Oh ya, aku Dimitrio Diaz, kakak dari Rodriguez." Kalya terkikik sambil menerima uluran tangan Dimitrio. Setelah dia menjelaskan bahwa Rodriguez adalah adiknya, tentu Dimi adalah kakak dari Rodriguez, namun Dimi justru mengulang-ulang, seolah Kalya tidak paham konsep kakak-beradik.
"Aku Kalya, lengkapnya Kenes Kalyani, putri dari pemilik kedai di sebelah sana. Aku sungguh tidak apa-apa. Tetapi karena aku telah menumpahkan pesanan seseorang, aku harus membuatnya lagi. Aku tidak mau mendapatkan complain dari tamu yang di sana itu.." Kalya menunjuk pada pasangan setengah baya yang sedang berjemur tidak jauh dari posisi duduk mereka.
Dimi tersenyum. "Jangan hawatir, mereka orang tuaku. Aku akan menjelaskan pada mereka."
Kalya sedikit terkejut, namun dia berusaha menyembunyikannya. "Tapi aku sungguh tidak apa-apa. Aku hanya perlu memberikan pesanan mereka, jika tidak, ayahku tidak akan memiliki uang untuk membeli beras bagi kami."
Dimi mengerutkan keningnya. "Kalian tidak bisa membeli beras untuk makan jika tidak menjual sesuatu hari ini?"
"Ya, tentu saja, menurutmu bagaimana?"
"Apakah kalian tidak punya tabungan?" Seumur hidup, dia tidak pernah tahu arti dari bertahan day by day untuk sekedar survive. Di mansionnya yang besar ada puluhan pelayan yang siap melayaninya dua puluh empat jam, serta banyak pengawal yang menjamin keselamatan mereka sekeluarga dari ancaman. Dan gadis ini baru saja mengatakan, "'jika dia tidak menjual sesuatu, mereka semua tidak bisa makan?' apakah ada kehidupan sesulit itu?"
"Bagaimana kami bisa menabung, jika untuk makan sehari-hari saja kami masih harus berhemat."
Dimi merasa hidupnya sangat diberkati setelah mendengar kata-kata Kalya. Dibandingkan dengan gadis ini, kehidupannya bagaikan langit dan bumi. Entah apa yang merasukinya, tiba-tiba Dimi merasa harus menjadi malaikat pelindung bagi gadis ini. Lalu tanpa disadari oleh Kalya, dia sudah menggendong Kalya menuju ke orang tuanya yang sedang berjemur.
Kalya yang kaget setengah mati berusaha untuk turun dari gendongan Dimitrio, namun ternyata pria itu sangat kuat. Kalya hanya bisa pasrah ketika dirinya berada dihadapan orang tua Dimitrio yang sedang berbaring, sementara dirinya berada dalam gendongan Dimitrio yang berdiri menjulang di hadapan kedua orang tuanya.
"Mom, Dad, ini Kalya. Aku tadi menabraknya dengan papan selancarku tanpa sengaja. Dia putri dari penjual kelapa muda di sudut sana." Dimi menunjuk dengan pandangan matanya. "Jadi mohon maafkan jika pesanan kalian akan sangat terlambat datang, Rod sedang mengurusnya. Sementara itu, aku akan membawa Kalya ke rumah sakit."
Belum sempat kedua orang tua Dimi memberikan jawaban, Dimi sudah pergi menuju mobilnya. Dua orang yang siaga di area parkir dengan sigap membuka pintu mobil bagian belakang untuk mereka, lalu membawanya ke sebuah villa, bukan rumah sakit seperti yang tadi Dimi katakan. Kalya benar-benar tercengang dengan semua yang baru saja terjadi tanpa mampu berkata-kata. Semuanya begitu cepat, mengalir begitu saja.
Kalya tersenyum mengingat awal pertemuan mereka. Dan sampai kapanpun, jika dibutuhkan dan bisa membuat Dimi kembali padanya, dia rela ditabrak papan selancar berkali-kali.
Air mata Kalya merembes diiringi senyum, antara sedih dan bahagia, mengenang masa lalu yang indah, semua memori yang berdesakan itu, telah mengaduk-aduk emosinya.
Ponsel Kalya berdering, nama Rodriguez terpampang di layar ponselnya. "Ya , Rod." Jawab Kalya malas.
"Ada informasi dari Carlotta, Leo dan Javer. Mana yang lebih dulu ingin kamu dengar?"
"Sambungkan di ruang konferensi, kita meeting online sekarang."
"Baik, akan siap dalam lima menit."
Kalya bergegas merapihkan riasannya. Meskipun di dalam ruangan, Kalya tetap mengenakan kaca mata hitam untuk menutupi matanya yang sembab. Dia memoles bedak sedikit tebal dan warna lipstick yang cukup terang agar terlihat lebih fresh. Namun matanya yang bengkak, sangat sulit untuk disembunyikan.
Setelah dianggap riasannya cukup sempurna, Kalya melangkah ke ruang konferensi. Di sana ada banyak layar monitor berukuran lima puluh inchi yang mengelilingi ruangan. Tiga diantara monitor tersebut menampilkan wajah Carlotta, sekretaris utama yang bertanggung jawab atas keseluruhan administrasi bagi jaringan bisnis Dimi yang diwarisi dari Matteo.
Di monitor lain, tampak Leo yang sibuk menatap monitor lain sehingga tidak fokus pada monitor utama untuk konferensi. Meskipun demikian, sesekali Leo melirik ke monitor utama. Leo yang seorang hacker dan ahli IT memang bertanggung jawab untuk mengamankan jaringan internet bagi seluruh perusahaan Dimi yang tersebar di banyak negara. Jadi setiap hari dia akan berkutat dengan banyak monitor di hadapannya.
Sementara Javer, bertanggung jawab atas kontrol terhadap stock market, termasuk saham-saham mereka di luar jaringan inti. Javer memiliki insting yang luar biasa sebagai trader. Namun biasanya Javer selalu merendah dengan mengatakan, bahwa setiap keberhasilan eksekusi yang dia lakukan saat trading, lebih kepada akurasi informasi yang dia terima dari Matteo ataupun Dimi. Dari segala keputusan mereka, arah perdagangan stock market bisa diprediksi lebih akurat. Sebab Matteo dan Dimi adalah pengusaha yang bisa dibilang memiliki pengaruh terhadap arah perdagangan di stock market.
Sementara itu, di kursi telah duduk Rodriguez, Pietro dan Benigno. Mereka serentak menoleh ketika Kalya hadir ke dalam ruangan. Kalya melambaikan tangannya, memberi kode agar mereka tidak perlu berdiri, dan tetap duduk di tempatnya.
Perlahan dia mengambil posisi duduk yang biasa ditempati oleh Dimi. Matanya menyapu semua ruangan. Meskipun Kalya tidak melepaskan kaca matanya, semua orang yakin Kalya sedang menatap mereka dengan tajam. Ada aura mengerikan dalam diri wanita asia yang jarang sekali terlihat emosi ini.
"Salam semuanya." Kalya membuka pembicaraan. "Terima kasih sudah hadir di sini. Dan sebelum kita mulai, aku mewakili almarhum suamiku, meminta maaf kepada kalian semua jika ada kesalahan yang pernah diperbuat suamiku yang membuat kalian merasa sedih atau terluka. Jika ada yang harus dibayar, maka beritahu aku, baik secara materi maupun kerugian immaterial. Aku akan berusaha untuk menunaikannya, demi kedamaian almarhum Dimi." Ada getar lembut yang hampir tidak terdengar saat Kalya menyebutkan nama Dimi disertai kata almarhum.
Semua terdiam. Tidak ada satupun yang berani angkat bicara.
"Baiklah, perihal tersebut, aku akan menetapkan jangka waktunya dalam tiga hari. Jika tidak ada tuntutan apapun dari kalian, maka aku anggap semuanya clear. Dan untuk Carlotta, jika ada partner atau client kita yang memiliki sangkutan terhadap suamiku, tolong beritahu aku."
Dari layar monitor, Carlotta mengangguk kecil. "Baik, Nyonya."
"Javer, bagaimana posisi kita?" Kalya menatap Javer yang sedikit terkejut, tidak menyangka dia harus melapor pada urutan pertama. Dia memang sedikit tidak siap dengan apa yang baru saja dikumpulkannya.
Dengan sedikit gugup, Javer mencoba menjelaskan kepada Kalya. "Dengan segala hormat, Nyonya. Kondisi stock market kita tidak sedang baik-baik saja. Beberapa partner telah melepas saham mereka pada penjualan pagi tadi. Dan terindikasi ada sebuah perusahaan yang berani memborong dalam jumlah besar semua saham yang dijual."
"Apa yang sudah kamu lakukan untuk mengantisipasi?" tanya Kalya datar.
"Aku menghubungi beberapa partner untuk menawarkan penambahan deviden, Nyonya."
"Dan bagaimana reaksi mereka?"
"Sebagian tetap menjual, sebagian lagi mempertahankan saham mereka atas nama solidaritas dan kesetiaan."
"Artinya, kematian suamiku telah langsung sampai ke telinga mereka?" Kalya menatap Rodriguez.
"Sepertinya memang begitu." Jawab Rodriguez lemah.
Kalya menatap monitor yang menampilkan wajah Carlotta. "Carlotta, konfirmasikan kepadaku, siapa saja partner kita yang menjual sahamnya, berikut waktu transaksi. Aku ingin di susun berdasarkan grafik interval waktu yang jelas sampai ke detiknya. Beri tanda post it merah di sudut, pada data perusahaan yang telah memborong saham perusahaan kita."
Selanjutnya Kalya berpaling pada monitor Leo. "Leo, cari tahu siapa yang menyebarkan informasi kematian Dimi kepada partner bisnis kita. Dan apa yang sudah kamu dapatkan terkait pengirim foto mayat suamiku beserta lokasi keberadaan Jose?"
Leo tidak kalah berkeringat dibandingkan Javer, dengan terbata-bata Leo mencoba menyampaikan apa yang diketahuinya. "Terkait penyebar informasi tentang kematian Tuan Dimi, belum bisa terlacak. Namun lokasi pemilik nomor yang mengirimkan gambar Tuan Dimi saya sudah dapatkan kordinatnya. Namun sepertinya mereka memang sengaja memberitahu hal tersebut kepada kita. Mengingat sulitnya melacak informan yang menyebarkan kematian Tuan Dimi, sangat aneh jika kordinat lokasi pemberi kabar foto Tuan Dimi justru sangat mudah di dapatkan. Aku hawatir ini adalah jebakan, Nyonya Kalya."
Kalya mengangguk, dia sepakat dengan Leo. "Bagaimana dengan Jose? apakah sudah ditemukan informasi tambahan selain kordinat lokasinya?"
Leo di dalam layar monitor menggeleng lemah. "Aku akan berusaha segera menemukan informasi lain, Nyonya. Namun sekarang memang hanya itu yang bisa disampaikan."
Kalya menatap Pietro dan Benigno yang duduk bersebrangan dengan Rodriguez. "Langkah apa yang sudah kalian lakukan untuk menemukan Jose?"
Pietro membuka suara. "Kami telah mengirimkan penembak jitu dan beberapa pengawal terlatih ke lokasi kordinat yang diberikan oleh Leo. Namun kami juga mengantisipasi beberapa hal, jadi kami menyebar mata-mata di beberapa titik yang siap menerima perintah kapan saja dalam radius kurang dari dua kilometer dari lokasi yang kami curigai sebagai basis."
Kalya menghela nafas berat. Hatinya mendadak nyeri mengingat Jose anaknya. "Apakah anaknya kelaparan? Apakah Josenya sedang ketakutan sekarang?" Segera ditepisnya perasaan melankolis yang mendadak melintas. Dia harus kuat. Dia harus mampu berpikir jernih untuk bisa menarik benang merah dari kekusutan ini.
"Carlotta, kirim semua data terupdate mengenai client kita juga partner bisnis kita. Aku ingin semuanya berada di mejaku paling telat nanti malam pukul delapan. Soft copy juga kirimkan melalui email pribadiku. Dan besok, tolong siapkan semacam pengumuman resmi tentang kepergian Dimi di kantor pusat. Pengumuman ini harus bersifat tertutup. Atur agar semua key person bisa hadir pada virtual meeting pukul 9.30 waktu Napoli Italia. Yang berada di zona waktu lain harap segera menyesuaikan diri. Aku yang akan memimpin rapatnya."
"Baik, Nyonya Kalya." Carlotta menjawab sigap. Namun kepalanya dipenuhi dengan berjuta beban pekerjaan yang diyakini akan menghujaninya selama beberapa minggu ke depan. Kematian Tuan Matteo belum tuntas penyelidikannya, lalu disusul dengan kepergian Tuan Dimitri, meskipun dirinya memiliki enam orang asisten yang mewakili setiap bisnis di setiap benua, tetap saja hal-hal krusial dan bersifat rahasia harus dia yang mengerjakannya. Namun Carlotta tidak memiliki pilihan, itu sudah menjadi tugas serta tanggung jawabnya. Toh selama ini Tuan Matteo dan Tuan Dimi selalu baik padanya. Jadi dia sama sekali tidak keberatan untuk bekerja lembur.
"Meeting ditutup sampai di sini. Kalian aku beri akses khusus untuk menghubungiku selama dua puluh empat jam melalui jalur dua, khusus untuk setiap informasi terkait keberadaan Jose, perpindahan saham, pembeli saham, pergerakan stock market lebih dari 100 point per menit." Lalu Kalya menatap Rodriguez dan berbisik, namun cukup bisa terdengar oleh Pietro dan Benigno, bahkan Carlotta, Leo dan Javer juga mendengarnya melalui earphone. "Juga informasi tentang Paman Romelio. Aku ingin update terbaru jam berapapun kalian mendapatkannya."
Semua orang tahu, bahwa paman Romelio tidak pernah menyukai Kalya, terlebih lagi sejak kelahiran Jose. Namun perang dingin antara paman Romelio dan Kalya tidak terlalu kelihatan, sebab keduanya sangat mampu memainkan peran sebagai keluarga harmonis dihadapan semua orang, kecuali mereka yang sungguh-sungguh dekat, tidak akan bisa menyadari perang dingin diantara keduanya.
Kalya melangkah meninggalkan ruangan, sekuat tenaga dia melangkah dengan anggun, begitu tiba di kamarnya, Kalya langsung menjatuhkan dirinya di kasur, membuka kaca matanya, dan membiarkan air mata mengalir deras melewati pipi dan membasahi sprei disekitarnya.
"Menangislah Kalya, menangislah hingga kamu lelah. Tidak perduli berapa banyak waktu yang kamu butuhkan untuk menangis, lakukan saja! Tetapi pastikan, hanya kamu seorang yang boleh tahu, seberapa hancur dirimu!" Kalya bermonolog dalam hatinya. Dia harus mampu menguatkan dirinya sendiri. Sebab dia tahu, dihadapannya terbentang perang maha dahsyat yang harus dihadapinya. Dia harus siap dengan segala kemungkinan terburuk. Namun dia tidak boleh menyerah, terutama untuk bisa menemukan Jose.