Bab 1

Kalya menatap hampa pada peti mati yang mengantarkan suaminya pada kehidupan lain, dan tidak lagi bisa tersentuh olehnya. Rasa lelah dan jetlag akibat menempuh perjalanan panjang selama lebih dari 20 jam, tidak membuatnya merasa membutuhkan istirahat. Yang dia tahu, separuh jiwanya telah pergi, membawa semua kenangan indah dan cintanya.

Rodriguez, adik angkat Dimi yang telah menjadi sahabatnya, serta pelindungnya setelah Dimi, menghampiri perlahan, lalu memberikan pelukan untuk menguatkan. Namun hal tersebut justru membuatnya lunglai. Kalya hampir tidak bisa menahan air mata yang dengan susah payah dia bendung. Selama perjalanan dari Indonesia menuju Roma, dia sudah menangis tiada henti. Sesaat setelah pesawat mendarat di airport Fiumicino, dia langsung menghapus airmatanya. Setelah melewati imigrasi, dia bergegas menuju toilet untuk memperbaiki riasan.

Kalya tidak membawa bagasi, dia hanya menggeret koper ukuran kabin yang berisi keperluan standar. Dia tidak ingin waktunya terbuang hanya untuk mengurusi bagasi. Sedetik setelah dia menerima telepon dari Rodriguez perihal kematian suaminya, serta penculikan terhadap Jose, putra mereka, Kalya yang sedang berada di Indonesia, langsung membeli tiket dan terbang ke Roma.

Dilihatnya sekali lagi riasan yang telah rapih, memastikan tidak ada sisa-sisa tangis di wajahnya. Setelah yakin, dia memakai kaca mata hitam yang membingkai sebagian besar wajah bulat khas asia miliknya. Kalya mengangkat dagu, menatap sosok wanita berpakaian setelan jas hitam formal, yang sedang berpura-pura tegar di depan cermin.

"Tidak boleh ada yang tahu bahwa aku sedang berada di titik terendah. Aku harus menunjukkan bahwa aku bisa menghadapi semua ini, dan mendapatkan kembali Abimanyu Jose Diaz, anakku. Dimitrio Diaz suamiku tersayang, pergilah dengan tenang. Jangan pikirkan aku dan Jose. Percayalah, aku akan menemukan anak kita, dan menjadikannya laki-laki kuat dan berani seperti dirimu." Setelah mengafirmasi dirinya sendiri, Kalya bergegas menuju arrival hall, di sana telah menanti Rodriguez dan enam orang pengawal berpakaian kasual. Kalya mengenali pengawal-pengawal yang menyamar sebagai turis maupun pengunjung di sekitar arrival hall. Sejak dirinya menjadi anggota keluarga Dimi, dia sudah terbiasa dengan segala hal seperti itu.

Rodriguez menatap sekilas pada sosok wanita yang duduk anggun di sampingnya. Kemudian kembali menatap ke depan, menutup sekat antara ruang pengemudi dan penumpang. Sehingga apapun pembicaraan yang terjadi di ruang penumpang, tidak akan di dengar oleh pengemudi. Dia selalu mengagumi sosok Kalya. Seandainya saja Kalya bukanlah istri dari kakak angkatnya, dia sudah akan memperjuangkan Kalya untuk menjadi miliknya.

"Sekarangkah saatnya aku bisa memiliki janda kakak angkatku?" pikiran itu berkelebat di kepala Rodriguez. Namun dia segera menepis hal tersebut dari pikiran kotornya. "Tidak, bagaimanapun aku tidak boleh mengambil kesempatan dalam kesempitan. Aku harus tahu membalas budi kepada keluarga Diaz. Kecuali, Kalya yang pada akhirnya nanti jatuh cinta pada diriku, maka akan dengan senang hati kedua tangan ini menyambutnya dalam pelukan."

"Rod, detil apa yang tidak aku ketahui selama kepergianku?" Kalya memecah keheningan. Dengan susah payah mengusahakan agar tidak ada getar dalam suaranya. Sementara Rodriguez sedikit tersentak kaget.

"Aku akan menceritakannya ketika kita tiba di rumah. Beristirahatlah sejenak, karena setelah sampai, kita akan langsung mengikuti prosesi pemakaman. Aku tidak ingin kamu tidak siap dengan itu." Rodriguez mencoba berempati. Segala ucapan yang dikatakan sebisa mungkin keluar dalam intonasi datar, cukup lembut, dan tidak melukai. Sebab dia tahu, wanita di sebelahnya sangat memuja suaminya seperti dewa.

"Katakan saja, Rod." Kalya menjawab datar. "Aku sangat siap dengan apapun. Percayalah. Aku ingin setiba di rumah, bisa mengantisipasi situasi yang mungkin tidak aku pahami. Biarkan aku mencernanya sekarang, Rod." Meskipun nada suara Kalya sangat pelan, namun ada ketegasan dalam setiap kata-katanya.

"Tapi…"

"Mulailah dari Paman Romelio." Kalya langsung memotong kata-kata Rodriguez. Wajahnya tetap menghadap ke depan, namun saat Kalya melirik dari balik kaca mata hitam yang menutupi sebagian wajahnya, Kalya menangkap kegelisahan pada Rodriguez.

Setelah mengambil nafas dalam-dalam, Rodriguez mulai bercerita pada Kalya. "Sesaat setelah kamu terbang ke Indonesia untuk mengurus beberapa resort di Lombok, Indonesia, terjadi kericuhan di mansion. Kompetitor pada bisnis baru kita berupa perdagangan permata, menyerang mansion tiba-tiba tanpa terdeteksi, saat itu aku sedang ditugasi Paman Romelio untuk menandatangi suatu kontrak bersama Pietro dan Benigno."

Kalya mengernyit, lalu berpaling pada Rodriguez "Pietro dan Benigno?"

Rodriguez semakin gelisah. "Maafkan aku, Lya. Percayalah, aku sudah menolak didampingi oleh Pietro dan Benigno, tetapi Paman Romelio memaksa."

Pietro dan Benigno adalah pengawal pribadi Jose, putranya. Mereka berdua bertugas untuk melindungi keselamatan putranya, bahkan jika harus mempertaruhkan nyawa mereka. Pasti ada yang tidak beres jika sampai kedua pengawal itu dijauhkan dari putranya. "Boleh aku tahu alasannya, mengapa harus Pietro dan Benigno?" Tanpa sadar Kalya menggertakkan giginya.

"Sejujurnya, aku tidak tahu, Lya. Tetapi Dimi meyakinkan bahwa Jose aman bersamanya. Karena Dimi mendukung keputusan Paman Romelio, aku bisa apa?"

Kalya mengangguk kecil, tanda memahami situasinya. "Tidak apa-apa, Rod. Aku hanya ingin tahu. Lanjutkan ceritamu."

"Di tengah meeting, Pietro mendapatkan informasi dari Luigi, bahwa terjadi kekacauan di mansion. Kami segera meninggalkan meeting dan kembali ke mansion. Saat kami tiba, suasana sudah sangat kacau balau. Paman Romelio ditemukan pingsan dengan luka tusukan di lambungnya, lalu kami segera membawanya ke rumah sakit. Sesaat kemudian aku menerima sebuah foto mayat melalui ponselku. Kondisi mayat sangat memprihatinkan, tubuhnya dimutilasi menjadi beberapa bagian dengan wajah rusak disayat pisau." Rodriguez melirik Kalya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri, bahwa dia bisa meneruskan ceritanya tanpa membuat Kalya pingsan.

"Lanjutkan!" Perintah Kalya singkat. Kalya menahan gejolak di dadanya sekuat tenaga. Dia tidak boleh terlihat rapuh, meski di hadapan Rodriguez sekalipun.

"Gambar tersebut disertai sebuah pesan, 'kalian mengambil permata kami, dan kami mengambil 'permata' kalian, ambil paket kalian di tempat pembuangan sampah, di sana ada informasi tentang keberadaan Jose.'"

"Kalian menemukan lokasi Jose?"

"Pietro dan Benigno sedang menyelidikinya saat ini."

"Nomor yang mengirimu gambar, apakah sudah bisa di deteksi?"

"Leo sedang menyusup ke beberapa jaringan untuk tracking, kita masih harus menunggu. Rupanya orang yang sedang bermain-main bersama kita dengan sangat hati-hati.

"Beri aku updatenya setiap saat terkait kasus Jose."

"Pasti!"

"Apa lagi yang mereka minta?"

"Tidak ada."

Kalya mengernyit heran. "Tidak ada?"

"Ya, akupun bingung. Karena nilai permata yang mereka tuntut tidaklah terlalu besar. Dan entah mengapa hal tersebut menjadi pemicu pembunuhan terhadap Dimi dan penculikan Jose?" Rodriguez tidak mampu menyembunyikan keheranannya di hadapan Kalya.

"Kamu sudah periksa saham perusahaan kita?"

Tiba-tiba Rodriguez tersadar, dia melewatkan sesuatu, segera diraihnya ponsel yang tergeletak di pangkuannya, dalam ringing pertama, seseorang di seberang sana langsung menjawab, dan Rodriguez tanpa basa-basi langsung bertanya. "Carlotta, coba periksa data saham perusahaan kita, dan kabari kepadaku secepatnya!"

Lalu Rodriguez menutup ponselnya, dan menghubungi yang lain. "Javer, periksa stock market, aku ingin setiap detil statusnya dikirim kepadaku, segera!" Keringat mulai mengembun di dahi Rodriguez, padahal temperatur di dalam mobil cukup nyaman, sama sekali tidak panas. Sementara diam-diam Kalya sudah mulai menarik beberapa kesimpulan, dia mempersiapkan yang terburuk dan akan berusaha sebisa mungkin menghadapinya. Kalya memejamkan mata, dan menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya sendiri.

Setelah perjalanan sekitar kurang dari dua jam melintasi jalan raya di kota Roma menuju Napoli, mobil membawa mereka memasuki sebuah gerbang mansion yang sangat besar. Memasuki area taman pertama, mereka disambut oleh air mancur yang berada di tengah, seolah mengucapkan selamat datang kepada setiap yang melintasi bingkai jalan yang mengelilinginya. Masih banyak kerusakan di sana-sini dan belum sempat dirapihkan. Namun Kalya tidak perduli, dia hanya ingin segera hadir pada prosesi pemakaman suaminya untuk memberi penghormatan terakhir.

Mobil melintasi gerbang kedua, berupa bangunan berbentuk benteng dengan penjaga yang waspada di sana sini pada setiap sudut benteng. Lalu setelah melewatinya, mobil melaju perlahan menuju area belakang mansion. Makam keluarga Diaz berada di bagian belakang mansion, lokasinya dekat danau yang dipisahkan oleh taman golf mini, tempat anggota keluarga bercengkrama di sore hari sambil berlatih golf.

Ada landasan helipad yang membentang di sebelahnya. Mereka memiliki beberapa helikopter dan jet pribadi yang bisa digunakan sewaktu-waktu untuk kebutuhan mendesak. Saat ke Indonesia, Kalya menolak menggunakan jet pribadi, dia memilih menggunakan pesawat komersil. Karena menurut Kalya, kunjungan ke Indonesia bukan sekedar mengurusi bisnis resortnya di beberapa tempat yang tersebar di Indonesia, namun lebih kepada liburan dan mengenang masa lalunya yang sederhana. Menaiki jet pribadi akan membuatnya tidak nyaman dengan pandangan dari teman-teman lam di kampungnya. Hanya saja, dia menyesal tidak mengajak Jose untuk ikut bersamanya ke Indonesia. Seandainya saja dia memaksa Jose untuk ikut, serta mampu memberikan argumentasi yang kuat kepada Dimi suaminya, mungkin saat ini Jose masih berada bersamanya. Tetapi penyesalan memang selalu datang belakangan. Apapun itu, yang sudah terjadi harus bisa diterima tanpa syarat, yang penting, dia harus memikirkan bagaimana caranya mendapatkan Jose kembali dalam pelukannya.

Di sinilah dia sekarang, diantara orang-orang terdekat, dalam prosesi pemakaman suaminya, yang bahkan dia tidak sempat untuk melihat mayatnya dengan mata kepalanya sendiri, entah seberapa hancur tubuh di dalam peti tersebut. Mereka hanya mengatakan, kondisinya sudah mulai membusuk. Dan mereka hanya menunggu kedatangan Kalya untuk melakukan prosesi pemakaman.

"Aku harus kuat, sebab Jose membutuhkanku. Dan aku tidak bisa lagi menggantungkan diri pada Dimi, malaikat pelindungku. Aku benar-benar harus berusaha sendiri sekarang. Aku pasti bisa. Dimi bantu kuatkan aku! Pergilah dengan tenang, aku akan menuntaskan masalah ini, dan menyelamatkan Jose. Percayalah padaku!" Kalya terus menguatkan dirinya sendiri dalam diam.

Bertahun-tahun hidup bersama Dimi, dia tahu bahwa yang terbaik adalah tidak memperlihatkan emosi maupun asumsi secara jelas, meski terhadap kerabat sekalipun. Semakin sulit diduga, akan semakin mampu untuk melindungi keselamatan mereka.

Bab 2

Kalya duduk tepekur di sudut pembaringan sambil menatap sekeliling kamarnya. Prosesi pemakaman berlangsung sangat cepat, kurang dari 30 menit, namun khidmat. Dihadiri hanya orang-orang terdekat saja. Walaupun demikian, waktu yang sesingkat itu mampu menguras energi Kalya sehingga membuatnya seperti habis berlari puluhan kilometer.

Di dalam kamarnya, pertahanan Kalya runtuh total. Tangisnya pecah berkeping-keping, dia berteriak sekuat tenaga, namun teriakkan tersebut hanya menggema di dalam dadanya. Yang ke luar hanyalah isak tangis pilu yang lebih intens daripada saat dia menangis di pesawat.

Matanya yang mengembun, menatap nanar pada foto keluarga dalam posisi portrait di dinding yang terpasang sempurna. Dia, Dimi suaminya, serta Jose buah cinta mereka tersenyum bahagia, seolah-olah tidak akan pernah ada nestapa yang akan menghampiri mereka.

Di sampingnya, terdapat foto keluarga yang terpasang di kiri kanannya. Foto di sebelah kanan adalah mereka bersama keluarga Dimi. Di sana ada ayah dan ibu mertua serta nenek Dimi yang sangat mencintai serta menyayanginya. Pemuda gagah yang berdiri di belakang suaminya adalah Rodriguez, adik angkat Dimitri, kesayangan nenek Ornella. Tidak ada foto kakek Dimi, karena kakek meninggal setelah nenek Ornella melahirkan Matteo, ayah Dimi. Seperti kata pepatah, orang baik biasanya tidak berumur panjang. Kecelakaan merengut nyawa ketiganya dalam waktu bersamaan kakek Dimi yang telah lebih dulu pergi. Seandainya saja saat itu Dimi ikut bersama mereka, tentu Dimi juga akan pergi meninggalkan dunia ini bersama mereka.

Takdir telah menyelamatkan Dimi dari kecelakaan maut. Rodriguez yang lebih memilih untuk menemani saudara angkatnya --saat harus melakukan peresentasi ujian gelar master bidang politik-- ikut terselamatkan.

Tidak ada yang mengetahui bahwa dia, Dimi, Jose dan Rodriguez tidak ikut dalam perjalanan menuju Milan, untuk menghadiri pesta amal yang diselenggarakan perusahaan mereka. Rencananya mereka memang akan menyusul pada acara gala dinner saja. Namun kenyataan bicara lain. Mobil yang dikendarai orang tua dan nenek Dimi, mengalami kecelakaan tunggal saat melintasi area bebas hambatan saat menuju tempat acara.

Belum selesai penyelidikkan untuk memastikan kematian mereka apakah murni kecelakaan atau ada unsur kesengajaan, Dimi suaminya, telah menyusul mereka hanya dalam waktu tiga bulan saja. Tanpa terasa air mata kembali meleleh di pipi Kalya.

Dalam bingkai satunya lagi, adalah foto dirinya dan Dimi bersama keluarganya di Indonesia, yang diambil pada saat pernikahan mereka empat tahun lalu. Ibunya telah pergi karena penyakit diabetes, sementara ayahnya yang tidak terbiasa hidup tanpa ibunya menyusul hanya dalam kurun waktu lima bulan setelah kepergian ibunya. Saat itu Jose belum ada. Jadi tidak ada di dalam foto keluarga dari pihak Kalya.

Dimi dan Kalya sama-sama anak tunggal. Bedanya Dimi adalah anak seorang konglomerat, sedangkan dirinya hanyalah anak petani biasa di sebuah desa terpencil di Banyuwangi, Jawa Timur Indonesia.

Kalya teringat pertemuan pertama, saat itu dirinya tanpa sengaja menumpahkan kudapan ke dada seorang pria dengan pakaian kasual, yang bersiap untuk surfing di Pantai Pulau Merah Banyuwangi, tempat dia dan keluarganya mengais rezeki.

"Oh, maafkan aku Tuan, aku tidak sengaja." Meskipun itu bukan salahnya, Kalya tetap meminta maaf. Dia telah belajar, bahwa sebagai orang miskin, memiliki stok maaf yang banyak sangat diperlukan. Tidak perduli benar atau salah, orang miskin harus selalu meminta maaf terlebih dahulu, untuk menghindari masalah di masa depan.

"Tidak, kamu tidak salah. Aku yang tidak hati-hati hingga menabrakmu. Apakah ada yang terluka?" pria itu berjongkok di samping Kalya, menunjukan empati dan kesopanan yang tidak diharapkan oleh Kalya.

Entah mengapa Kalya merasa tersipu, lalu serasa ada desir hangat yang menjalari tubuhnya, sampai dia tidak menyadari ketika tubuhnya telah dipapah dengan lembut oleh pria berambut gelap bermata almond dengan bola mata coklat kelam, untuk duduk di atas kursi pantai yang di sewanya.

"Duduklah, aku akan kembali dan membawakan air untukmu."

Baru saja pria tersebut akan berdiri, sebuah suara bariton milik pria berambut pirang berpotongan rapih, dengan bola mata biru terang menghampiri mereka sambil menenteng papan selancar.

"Oh, ada yang sedang bercengkrama rupanya. Aku menunggumu bermain dengan ombak sampai menyelesaikan dua gulungan dengan sempurna, tetapi kamu malah sedang asyik di sini bersama gadis cantik. Dimi, kamu membuatku kehilangan momen untuk menyombongkan diri di hadapanmu. Harusnya kamu tadi melihatku bagaimana dua ombak tersebut berhasil kutunggangi dengan sukses. Ombak di sini lumayan besar, dan belum banyak turis yang menyesaki area ini." Rupanya nama pria yang menabraknya adalah Dimi. Diam-diam Kalya mencatatnya dalam hati.

"Sudah, simpan saja kesombonganmu, Rod. Sekarang tolong belikan aku air atau apapun itu. Aku menabrak gadis ini dengan papan selancarku. Semoga tidak ada yang terluka atau memar."

Pria yang dipanggil Rod membelalakan matanya. "A-p-p-a? Kamu menabraknya dengan papan selancar?" Dengan kekhawatiran yang sulit disembunyikan, pria yang dipanggil Rod ikut membungkuk mencoba memeriksa tangan dan kaki Kalya, yang langsung ditepis oleh Dimi.

"Aku yang membuatnya celaka, aku yang harus memeriksanya. Kamu cepat pergi, cari air, makanan, obat, atau apa saja. Sana!"

Pria pirang tersebut kembali berdiri sambil mengangkat tangan menggoda Dimi. "Ow ow ow… ada yang mendadak posesif rupanya… apakah aku melewatkan sesuatu, Tuan D-i-m-i-t-r-i-o D-i-a-z?"

"Tuan Rodriguez Diaz, apakah perintahku tidak jelas?" Dimi menyambar pria yang ternyata bernama Rodriguez itu dengan tatapan tajam.

"Like a wish Mr. Dimitrio Diaz yang terhormat."

Dimi mengangguk tegas. "Segera laksanakan, atau aku akan mengikatmu di papan selancar, lalu melepaskan di laut agar menjadi mangsa hiu."

"Jangan membuatku takut, Tuan Dimi." Rodriguez masih saja menggoda.

"R-o-d-r-i-g-u-e-z yang terhormat…" Dimi menggeram, membuat Rodriguez langsung pergi sambil tertawa-tawa. Kalya ikut tertawa melihat adegan kedua pria konyol tersebut.

Dimi mengalihkan pandangannya pada Kalya yang sedang menahan senyum. "Dia adikku, Rodriguez Diaz." Dimi menjelaskan tanpa diminta. "Oh ya, aku Dimitrio Diaz, kakak dari Rodriguez." Kalya terkikik sambil menerima uluran tangan Dimitrio. Setelah dia menjelaskan bahwa Rodriguez adalah adiknya, tentu Dimi adalah kakak dari Rodriguez, namun Dimi justru mengulang-ulang, seolah Kalya tidak paham konsep kakak-beradik.

"Aku Kalya, lengkapnya Kenes Kalyani, putri dari pemilik kedai di sebelah sana. Aku sungguh tidak apa-apa. Tetapi karena aku telah menumpahkan pesanan seseorang, aku harus membuatnya lagi. Aku tidak mau mendapatkan complain dari tamu yang di sana itu.." Kalya menunjuk pada pasangan setengah baya yang sedang berjemur tidak jauh dari posisi duduk mereka.

Dimi tersenyum. "Jangan hawatir, mereka orang tuaku. Aku akan menjelaskan pada mereka."

Kalya sedikit terkejut, namun dia berusaha menyembunyikannya. "Tapi aku sungguh tidak apa-apa. Aku hanya perlu memberikan pesanan mereka, jika tidak, ayahku tidak akan memiliki uang untuk membeli beras bagi kami."

Dimi mengerutkan keningnya. "Kalian tidak bisa membeli beras untuk makan jika tidak menjual sesuatu hari ini?"

"Ya, tentu saja, menurutmu bagaimana?"

"Apakah kalian tidak punya tabungan?" Seumur hidup, dia tidak pernah tahu arti dari bertahan day by day untuk sekedar survive. Di mansionnya yang besar ada puluhan pelayan yang siap melayaninya dua puluh empat jam, serta banyak pengawal yang menjamin keselamatan mereka sekeluarga dari ancaman. Dan gadis ini baru saja mengatakan, "'jika dia tidak menjual sesuatu, mereka semua tidak bisa makan?' apakah ada kehidupan sesulit itu?"

"Bagaimana kami bisa menabung, jika untuk makan sehari-hari saja kami masih harus berhemat."

Dimi merasa hidupnya sangat diberkati setelah mendengar kata-kata Kalya. Dibandingkan dengan gadis ini, kehidupannya bagaikan langit dan bumi. Entah apa yang merasukinya, tiba-tiba Dimi merasa harus menjadi malaikat pelindung bagi gadis ini. Lalu tanpa disadari oleh Kalya, dia sudah menggendong Kalya menuju ke orang tuanya yang sedang berjemur.

Kalya yang kaget setengah mati berusaha untuk turun dari gendongan Dimitrio, namun ternyata pria itu sangat kuat. Kalya hanya bisa pasrah ketika dirinya berada dihadapan orang tua Dimitrio yang sedang berbaring, sementara dirinya berada dalam gendongan Dimitrio yang berdiri menjulang di hadapan kedua orang tuanya.

"Mom, Dad, ini Kalya. Aku tadi menabraknya dengan papan selancarku tanpa sengaja. Dia putri dari penjual kelapa muda di sudut sana." Dimi menunjuk dengan pandangan matanya. "Jadi mohon maafkan jika pesanan kalian akan sangat terlambat datang, Rod sedang mengurusnya. Sementara itu, aku akan membawa Kalya ke rumah sakit."

Belum sempat kedua orang tua Dimi memberikan jawaban, Dimi sudah pergi menuju mobilnya. Dua orang yang siaga di area parkir dengan sigap membuka pintu mobil bagian belakang untuk mereka, lalu membawanya ke sebuah villa, bukan rumah sakit seperti yang tadi Dimi katakan. Kalya benar-benar tercengang dengan semua yang baru saja terjadi tanpa mampu berkata-kata. Semuanya begitu cepat, mengalir begitu saja.

Kalya tersenyum mengingat awal pertemuan mereka. Dan sampai kapanpun, jika dibutuhkan dan bisa membuat Dimi kembali padanya, dia rela ditabrak papan selancar berkali-kali.

Air mata Kalya merembes diiringi senyum, antara sedih dan bahagia, mengenang masa lalu yang indah, semua memori yang berdesakan itu, telah mengaduk-aduk emosinya.

Bab 3

Ponsel Kalya berdering, nama Rodriguez terpampang di layar ponselnya. "Ya , Rod." Jawab Kalya malas.

"Ada informasi dari Carlotta, Leo dan Javer. Mana yang lebih dulu ingin kamu dengar?"

"Sambungkan di ruang konferensi, kita meeting online sekarang."

"Baik, akan siap dalam lima menit."

Kalya bergegas merapihkan riasannya. Meskipun di dalam ruangan, Kalya tetap mengenakan kaca mata hitam untuk menutupi matanya yang sembab. Dia memoles bedak sedikit tebal dan warna lipstick yang cukup terang agar terlihat lebih fresh. Namun matanya yang bengkak, sangat sulit untuk disembunyikan.

Setelah dianggap riasannya cukup sempurna, Kalya melangkah ke ruang konferensi. Di sana ada banyak layar monitor berukuran lima puluh inchi yang mengelilingi ruangan. Tiga diantara monitor tersebut menampilkan wajah Carlotta, sekretaris utama yang bertanggung jawab atas keseluruhan administrasi bagi jaringan bisnis Dimi yang diwarisi dari Matteo.

Di monitor lain, tampak Leo yang sibuk menatap monitor lain sehingga tidak fokus pada monitor utama untuk konferensi. Meskipun demikian, sesekali Leo melirik ke monitor utama. Leo yang seorang hacker dan ahli IT memang bertanggung jawab untuk mengamankan jaringan internet bagi seluruh perusahaan Dimi yang tersebar di banyak negara. Jadi setiap hari dia akan berkutat dengan banyak monitor di hadapannya.

Sementara Javer, bertanggung jawab atas kontrol terhadap stock market, termasuk saham-saham mereka di luar jaringan inti. Javer memiliki insting yang luar biasa sebagai trader. Namun biasanya Javer selalu merendah dengan mengatakan, bahwa setiap keberhasilan eksekusi yang dia lakukan saat trading, lebih kepada akurasi informasi yang dia terima dari Matteo ataupun Dimi. Dari segala keputusan mereka, arah perdagangan stock market bisa diprediksi lebih akurat. Sebab Matteo dan Dimi adalah pengusaha yang bisa dibilang memiliki pengaruh terhadap arah perdagangan di stock market.

Sementara itu, di kursi telah duduk Rodriguez, Pietro dan Benigno. Mereka serentak menoleh ketika Kalya hadir ke dalam ruangan. Kalya melambaikan tangannya, memberi kode agar mereka tidak perlu berdiri, dan tetap duduk di tempatnya.

Perlahan dia mengambil posisi duduk yang biasa ditempati oleh Dimi. Matanya menyapu semua ruangan. Meskipun Kalya tidak melepaskan kaca matanya, semua orang yakin Kalya sedang menatap mereka dengan tajam. Ada aura mengerikan dalam diri wanita asia yang jarang sekali terlihat emosi ini.

"Salam semuanya." Kalya membuka pembicaraan. "Terima kasih sudah hadir di sini. Dan sebelum kita mulai, aku mewakili almarhum suamiku, meminta maaf kepada kalian semua jika ada kesalahan yang pernah diperbuat suamiku yang membuat kalian merasa sedih atau terluka. Jika ada yang harus dibayar, maka beritahu aku, baik secara materi maupun kerugian immaterial. Aku akan berusaha untuk menunaikannya, demi kedamaian almarhum Dimi." Ada getar lembut yang hampir tidak terdengar saat Kalya menyebutkan nama Dimi disertai kata almarhum.

Semua terdiam. Tidak ada satupun yang berani angkat bicara.

"Baiklah, perihal tersebut, aku akan menetapkan jangka waktunya dalam tiga hari. Jika tidak ada tuntutan apapun dari kalian, maka aku anggap semuanya clear. Dan untuk Carlotta, jika ada partner atau client kita yang memiliki sangkutan terhadap suamiku, tolong beritahu aku."

Dari layar monitor, Carlotta mengangguk kecil. "Baik, Nyonya."

"Javer, bagaimana posisi kita?" Kalya menatap Javer yang sedikit terkejut, tidak menyangka dia harus melapor pada urutan pertama. Dia memang sedikit tidak siap dengan apa yang baru saja dikumpulkannya.

Dengan sedikit gugup, Javer mencoba menjelaskan kepada Kalya. "Dengan segala hormat, Nyonya. Kondisi stock market kita tidak sedang baik-baik saja. Beberapa partner telah melepas saham mereka pada penjualan pagi tadi. Dan terindikasi ada sebuah perusahaan yang berani memborong dalam jumlah besar semua saham yang dijual."

"Apa yang sudah kamu lakukan untuk mengantisipasi?" tanya Kalya datar.

"Aku menghubungi beberapa partner untuk menawarkan penambahan deviden, Nyonya."

"Dan bagaimana reaksi mereka?"

"Sebagian tetap menjual, sebagian lagi mempertahankan saham mereka atas nama solidaritas dan kesetiaan."

"Artinya, kematian suamiku telah langsung sampai ke telinga mereka?" Kalya menatap Rodriguez.

"Sepertinya memang begitu." Jawab Rodriguez lemah.

Kalya menatap monitor yang menampilkan wajah Carlotta. "Carlotta, konfirmasikan kepadaku, siapa saja partner kita yang menjual sahamnya, berikut waktu transaksi. Aku ingin di susun berdasarkan grafik interval waktu yang jelas sampai ke detiknya. Beri tanda post it merah di sudut, pada data perusahaan yang telah memborong saham perusahaan kita."

Selanjutnya Kalya berpaling pada monitor Leo. "Leo, cari tahu siapa yang menyebarkan informasi kematian Dimi kepada partner bisnis kita. Dan apa yang sudah kamu dapatkan terkait pengirim foto mayat suamiku beserta lokasi keberadaan Jose?"

Leo tidak kalah berkeringat dibandingkan Javer, dengan terbata-bata Leo mencoba menyampaikan apa yang diketahuinya. "Terkait penyebar informasi tentang kematian Tuan Dimi, belum bisa terlacak. Namun lokasi pemilik nomor yang mengirimkan gambar Tuan Dimi saya sudah dapatkan kordinatnya. Namun sepertinya mereka memang sengaja memberitahu hal tersebut kepada kita. Mengingat sulitnya melacak informan yang menyebarkan kematian Tuan Dimi, sangat aneh jika kordinat lokasi pemberi kabar foto Tuan Dimi justru sangat mudah di dapatkan. Aku hawatir ini adalah jebakan, Nyonya Kalya."

Kalya mengangguk, dia sepakat dengan Leo. "Bagaimana dengan Jose? apakah sudah ditemukan informasi tambahan selain kordinat lokasinya?"

Leo di dalam layar monitor menggeleng lemah. "Aku akan berusaha segera menemukan informasi lain, Nyonya. Namun sekarang memang hanya itu yang bisa disampaikan."

Kalya menatap Pietro dan Benigno yang duduk bersebrangan dengan Rodriguez. "Langkah apa yang sudah kalian lakukan untuk menemukan Jose?"

Pietro membuka suara. "Kami telah mengirimkan penembak jitu dan beberapa pengawal terlatih ke lokasi kordinat yang diberikan oleh Leo. Namun kami juga mengantisipasi beberapa hal, jadi kami menyebar mata-mata di beberapa titik yang siap menerima perintah kapan saja dalam radius kurang dari dua kilometer dari lokasi yang kami curigai sebagai basis."

Kalya menghela nafas berat. Hatinya mendadak nyeri mengingat Jose anaknya. "Apakah anaknya kelaparan? Apakah Josenya sedang ketakutan sekarang?" Segera ditepisnya perasaan melankolis yang mendadak melintas. Dia harus kuat. Dia harus mampu berpikir jernih untuk bisa menarik benang merah dari kekusutan ini.

"Carlotta, kirim semua data terupdate mengenai client kita juga partner bisnis kita. Aku ingin semuanya berada di mejaku paling telat nanti malam pukul delapan. Soft copy juga kirimkan melalui email pribadiku. Dan besok, tolong siapkan semacam pengumuman resmi tentang kepergian Dimi di kantor pusat. Pengumuman ini harus bersifat tertutup. Atur agar semua key person bisa hadir pada virtual meeting pukul 9.30 waktu Napoli Italia. Yang berada di zona waktu lain harap segera menyesuaikan diri. Aku yang akan memimpin rapatnya."

"Baik, Nyonya Kalya." Carlotta menjawab sigap. Namun kepalanya dipenuhi dengan berjuta beban pekerjaan yang diyakini akan menghujaninya selama beberapa minggu ke depan. Kematian Tuan Matteo belum tuntas penyelidikannya, lalu disusul dengan kepergian Tuan Dimitri, meskipun dirinya memiliki enam orang asisten yang mewakili setiap bisnis di setiap benua, tetap saja hal-hal krusial dan bersifat rahasia harus dia yang mengerjakannya. Namun Carlotta tidak memiliki pilihan, itu sudah menjadi tugas serta tanggung jawabnya. Toh selama ini Tuan Matteo dan Tuan Dimi selalu baik padanya. Jadi dia sama sekali tidak keberatan untuk bekerja lembur.

"Meeting ditutup sampai di sini. Kalian aku beri akses khusus untuk menghubungiku selama dua puluh empat jam melalui jalur dua, khusus untuk setiap informasi terkait keberadaan Jose, perpindahan saham, pembeli saham, pergerakan stock market lebih dari 100 point per menit." Lalu Kalya menatap Rodriguez dan berbisik, namun cukup bisa terdengar oleh Pietro dan Benigno, bahkan Carlotta, Leo dan Javer juga mendengarnya melalui earphone. "Juga informasi tentang Paman Romelio. Aku ingin update terbaru jam berapapun kalian mendapatkannya."

Semua orang tahu, bahwa paman Romelio tidak pernah menyukai Kalya, terlebih lagi sejak kelahiran Jose. Namun perang dingin antara paman Romelio dan Kalya tidak terlalu kelihatan, sebab keduanya sangat mampu memainkan peran sebagai keluarga harmonis dihadapan semua orang, kecuali mereka yang sungguh-sungguh dekat, tidak akan bisa menyadari perang dingin diantara keduanya.

Kalya melangkah meninggalkan ruangan, sekuat tenaga dia melangkah dengan anggun, begitu tiba di kamarnya, Kalya langsung menjatuhkan dirinya di kasur, membuka kaca matanya, dan membiarkan air mata mengalir deras melewati pipi dan membasahi sprei disekitarnya.

"Menangislah Kalya, menangislah hingga kamu lelah. Tidak perduli berapa banyak waktu yang kamu butuhkan untuk menangis, lakukan saja! Tetapi pastikan, hanya kamu seorang yang boleh tahu, seberapa hancur dirimu!" Kalya bermonolog dalam hatinya. Dia harus mampu menguatkan dirinya sendiri. Sebab dia tahu, dihadapannya terbentang perang maha dahsyat yang harus dihadapinya. Dia harus siap dengan segala kemungkinan terburuk. Namun dia tidak boleh menyerah, terutama untuk bisa menemukan Jose.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED