Bab 2

"Na, kamu di sini?" tanya ibu, ikut duduk di sampingku saat aku menunggu mas Harto di teras.

Aku terkejut dengan kehadiran ibu yang mendadak. Entah kapan ibu datang, aku sama sekali tidak mendengar derap langkah ibu. Padahal lantai rumah ini dari kayu. Aku berjalan saja terdengar, masa iya ibu tidak?

"I-iya Bu, lagi nunggu mas Harto," jawabku, sedikit menggeser posisi dudukku.

Melihatku bergeser, tatapan ibu berubah nyalang. Namun hanya sepersekian detik saja. Setelah itu tatapannya kembali normal.

"Oh... Apa Ibu boleh tanya? Kamu hamil Na?" tanya ibu, menatap perutku lekat.

Aku terdiam. Apa ibu tidak mengetahui soal kehamilanku? Perutku memang masih rata, karena usia kandungan baru saja memasuki bulan pertama. Apa mas Harto tidak menceritakan kabar bahagia ini pada ibunya? Secara ini calon cucu pertamanya, masa iya mas Harto main rahasia segala?

Baru saja mulutku terbuka ingin menjawah pertanyaan ibu, mas Harto datang dan buru-buru turun dari motornya menghampiriku.

"Na, kamu di sini? Sedang apa?" tanya mas Harto terlihat panik.

"Aku lagi nunggu kamu Mas," jawabku, menatap mas Harto bingung.

"Har, baru pulang?" tanya ibu, tersenyum manis menatap mas Harto yang baru datang.

"Eh, Ibu? I-iya Bu, baru aja. Ibu tumben di luar. Ada apa Bu?" tanya mas Harto, dari raut wajahnya terlihat gugup dan tidak suka.

"Ibu cuma mau duduk saja. Bapak kamu mana Har?" tanya ibu, mencari keberadaan bapak.

"Lagi di pabrik, mungkin sebentar lagi pulang," jawab mas Harto singkat, padat dan jelas.

Aku hanya diam menyimak perbincangan ibu dan anak di depanku. Suasana hati mas Harto sepertinya sedang tidak baik. Jadi aku memutuskan tidak ikut-ikutan.

Tak lama berselang setelah kepulangan mas Harto, adzan magrib mulai terdengar. Ibu yang tadinya duduk santai di sampingku langsung berdiri, dan lalu berlari masuk ke dalam rumah tanpa mengatakan sepatah katapun lagi. Aku dan mas Harto hanya saling tatap melihat keanehan ibu.

"Ibu kenapa Mas?" tanyaku penasaran.

Mas Harto hanya menjawab dengan pundak yang ia naik lalu turunkan. "Ayo masuk! Sudah magrib, tidak boleh duduk di luar rumah!" ajak mas Harto, menggandeng lenganku masuk.

Rumah dalam keadaan sepi. Penerangan juga tidak menyala sama sekali. Sepertinya ibu sudah masuk kembali ke kamarnya tanda menyalakan lampu rumah.

"Mas, nyalain lampunya dulu! Aku takut kalau gelap-gelap begini," pintaku, merapatkan tubuhku.

"Iya sebentar! Kamu masuk ke kamar aja dulu, nanti aku nyusul!" titah mas Harto, mengantarkan sampai ke depan pintu kamar.

Walaupun pencahayaan rumah mulai gelap, tapi aku bisa melihat jelas pintu kamar ibu. Kamar ibu dalam posisi tergembok dari luar. Begitu juga dengan kamar yang kosong itu.

Sesampainya aku di kamar, aku gegas menyalakan lampu. Ruang kamar terang benderang, berbeda jauh dengan keadaan di luar.

"Nin, sedang apa?"

Aku berbalik menatap mas Harto yang berdiri di ambang pintu dengan senyum menyeringai. Bulu kudukku seketika saja meremang. Ada yang aneh dengan senyum mas Harto, tidak seperti biasanya.

"Mas, kamu kenapa?" tanyaku, masih berdiri di dekat saklar lampu tanpa mau mendekat.

Mas Harto mendekat perlahan. Seringai masih terlihat jelas di wajahnya. Merasa ada yang tidak beres, aku segera menghindar.

"Mas, aku mau ke toilet dulu!" pamitku, berjalan cepat melewati mas Harto yang hanya diam.

Beberapa kali aku menengok ke belakang karena takut mas Harto mengikutku. Karena tidak fokus berjalan, aku menabrak sesuatu.

"Aaa...."

"Kenapa kamu Yank?" tanya mas Harto, menatapku heran.

Mas Harto berdiri di depanku. Seketika aku langsunh menoleh ke arah pintu kamar yang masih terbuka.

Kosong...

Di dalam kamar tidak terlihat mas Harto. Padahal aku sangat yakin, jika tadi mas Harto ada di sana. Tapi kenapa mas Harto sekarang ada di depanku? Apa mas Harto juga ikut ke dapur? Tapi kenapa aku tidak melihat dia berjalan mendahuluiku?

Ketakutan kian menjalar. Saat mas Harto di depanku menyentuh pundakku, aku dengan cepat menepisnya dan memundurkan langkahku menjaga jarak.

"Kamu kenapa Yank? Ada apa?" tanya mas Harto, mendekat mencoba menyentuh tanganku.

Dalam remangnya pencahayaan, aku meneliti mas Harto dari ujung kepala sampai ujung kaki. Semuany normal, sama seperti mas Harto biasanya. Tanpa bisa berkata-kata lagi, aku langsung menghambur memeluknya. Air mata tak aku pedulikan lagi. Aku menangis dengan tubuh bergetar dalam pelukan suamiku.

"Sayang, kamu kenapa sih? Kenapa malah menangis? Bukannya tadi aku bilang di kamar aja? Kenapa malah keluar?" Mas Harto memberondongku dengan banyak pertanyaan. Tapi tak ada satu pertanyaan pun yang aku jawab.

"Yasudah, kita ke kamar dulu!" ajak mas Harto, menggandengku ke kamar.

Sesampainya di kamar, kami berdua memilih duduk di atas tempat tidur. Meskipun rumah mertuaku terbuat dari kayu dan bukan bangunan beton. Rumah yang terkesan sederhana ini, nyatanya memiliki perabot yang lengkap di dalamnya. Termasuk kamar yang aku tempati ini. Tempat tidur yang besar, televisi besar, meja rias, sofa empuk dan dua buah lemari besar. Yang aku tafsir harga dari keseluruhan puluhan juta.

"Kamu kenapa? ayo cerita!" ucap mas Harto, berkata lembut sambil memandang wajahku.

Pandangan kami beradu. Meskipun mataku masih dipenuhi air sisa air mata. Aku dapat melihat jelas gurat kekhawatiran mas Harto dari wajahnya.

"Tadi kamu di mana Mas? Kenapa kamu tiba-tiba ada di dapur? Bukannya tadi ada di kamar?" tanyaku, menghentikan tangisku.

Kening mas Harto saling bertaut. Ada keraguan di wajahnya saat mendengar pertanyaanku.

"Dari tadi Mas di dapur. Bukannya tadi kamu minta nyalakan lampu, jadi Mas keliling rumah," bantah mas Harto.

Aku terdiam mencerna semua kata-kata mas Harto. Jika tadi bukan dia, lalu siapa?

"Yank, kenapa diam? kamu kenapa? Memangnya apa yang kamu lihat di kamar?" tanya mas Hardi, menggoyang lenganku pelan.

"Tadi aku lihat kamu di kamar, tapi ternyata kamu ada di dapur. Mungkin aku hanya kelelahan. Lupakan saja Mas!" sahutku, tidak ingin memikirkan yang aneh-aneh.

Lahir dan besar di kota, membuat aku merasa tidak terlalu percaya dengan hal berbau mistis. Apalagi di jaman yang modern seperti ini. Mana mungkin masih ada hal yang seperti itu.

"Mas, tadi ibu tanya ke aku. Kamu tidak bilang kalau aku hamil?" tanyaku, melihat mas Harto diam.

Wajahnya menegang, ia menoleh menatapku dalam. "Ibu tanya itu ke kamu? Terus kamu jawab apa?"

Aku yang bertanya malah mas Harto yang balik bertanya. Lama-lama sikap mas Harto semakin aneh jika membahas soal ibunya.

"Aku tidak jawab apa-apa. Kamu kan tadi keburu datang, jadi aku belum sempat mengiyakan. Memangnya ibu belum tau?" Aku mengulangi pertanyaanku tadi.

Bab 3

"Aku sudah cerita ke ibu. Mungkin ibu lupa. Aku juga tau kamu hamil dari ibu," ujar mas Harto, setelah mengatakan itu langsung menutup mulutnya.

"Kenapa Mas? Keceplosan?" tanyaku, memicingkan mata.

Mas Harto tampak salah tingkah. Ia mendekat dan menatapku lekat. Seperti ada sesuatu yang ingin ia sampaikan dengan isyarat matanya.

"Bagaimana kalau kita menyewa rumah Yank?"

Tawaran mas Harto sukses membuatku terkejut. Maksudnya apa? Aku tanya apa, ia malah menawariku pindah rumah. Memangnya apa yang salah jika diam di sini bersama kedua orang tuanya? Toh ibu bukan seperti ibu mertua pada umumnya yang cerewet atau banyak mengatur. Aku merasa betah tinggal di sini. Ibu tidak pernah memintaku membersihkan rumah. *anjuga tidak marah, kalau kerjaku hanya berada di dalam kamar seharian. Bukan karena aku malas. Aku hanya ingin mas Harto berbakti pada ibunya selagi masih ada.

"Mas, kenapa kamu selalu mengajakku pindah rumah? Kalau kita pindah, kasihan ibu. Dia pasti kesepian kalau bapak kerja. Kita tinggal di sini saja Mas! Sedari kecil aku sudah kehilangan kedua orang tuaku. Aku besar hanya dirawat kakak-kakakku. Di sini aku bisa merasakan rasanya punya ibu, punya bapak, punya orang tua lengkap," ucapku, sudut mataku mulai berair saat mengatakan itu.

"Aku tau apa yang kamu mau Yank. Tapi kan tidak etis saja, kalau kita selamanya tinggal di sini. Biar bagaimanapun kita sudah menikah, dan aku wajib memberikan tempat tinggal yang nyaman untuk kamu. Sekalian belajar mandiri juga," terang mas Harto, mengatakan alasannya.

Semua yang Harto katakan memang benar. Kami sudah menikah. Dan, sudah sepantasnya tinggal di rumah sendiri, walaupun itu hanya mengontrak. Tapi entah kenapa, ada sesuatu yang membuatku ingin terus tetap tinggal di sini. Rasanya berat sekali.

"Kita bicarakan ini nanti. Sekarang aku mau tanya ke kamu. Aku perhatikan, semenjak kita pindah ke rumah ini, kamu sepertinya menjaga jarak dengan ibu. Kamu lagi ada masalah sama ibu?" tanyaku, berharap mas Harto bisa menjawab rasa penasaranku.

"Tidak! Aku dan ibu baik-baik saja. Kita tidak usah membahas masalah ibu lagi. Aku lelah, bagaimana kalau kita sholat sebentar, terus setelah itu kita keluar cari makanan?" tawar Mas Harto, sepertinya sengaja mengalihkan pembicaraan kami.

Aku mengangguk setuju. Lagi pula, ini juga sudah memasuki waktu sholat maghrib. Dengan bergandengan tangan, kami berdua berjalan keluar kamar menuju arah dapur.

Dari luar, saat kami melewati kamar ibu. Suara berisik terdengar samar. Jika sudah masuk waktu magrib, kebiasaan ibu pasti akan berdiam diri di dalam sana sampai pagi menjelang. Entah apa yang ibu lakukan di dalam sana.

"Mas, suara apa itu?" tanyaku, penasaran.

"Jangan dihiraukan! Sekarang kita ambil wudhu, setelah itu masuk kamar lagi!" titah mas Harto, menarik tanganku menjauh dari depan kamar.

"Mas, aku mau ke kamar kecil dulu. Sudah kebelet ini," ujarku, berniat memisahkan diri.

"Pipis di sini saja! Jangan ke kamar kecil!" sahut mas Harto, melarangku.

Mendengar larangannya, tentu saja aku menolak. Aku tidak mungkin menunaikan hajat di ruang terbuka seperti ini. Biarpun mas Harto adalah suamiku, tetap saja aku malu.

"Malu Mas, aku ke kamar kecil saja!" tolakku, berniat pergi.

"Sudah, di sini saja! Memangnya malu kenapa? Aku kan suami kamu, masa kamu malu? Di sini tidak mungkin ada orang lain juga," ucap mas Harto, bersikeras menahanku.

Yang dikatakan mas Harto memang ada benarnya juga. Rumah ibu berjarak cukup jauh dari tetangga lain. Di desa ini, jarak antar rumah yang satu ke yang lain memang lumayan jauh. Wajar saja ia memintaku tidak usah malu.

"Tidak mau Mas! Aku ke kamar kecil sebentar saja. Kamu ambil wudhu duluan saja!" Aku juga bersikeras menolaknya.

Tanpa mempedulikan larangan mas Harto, aku menjauh, lalu mengayunkan langkah menuju kamar kecil.

"Uek..."

Kakiku melangkah mundur, saat pintu kamar kecil terbuka lebar. Pencahayaan memang remang di dalam sini. Karena memang hanya menggunakan lampu minyak. Yang membuat aku ingin muntah, aku tidak tahan dengan bau kamar kecil ini.

"Kamu kenapa Yank?" tanya mas Harto, sigap menyusulku.

"Bau sekali Mas. Kenapa kamar kecilnya bau seperti ini? Padahal tadi pagi sudah aku bersihkan. Setiap hari dibersihkan, tapi setiap hari juga bau pesing dan anyir," sahutku, bicara sambil menutup hidungku.

"Hem, biarkan saja! Kamu pipis di sana saja! Sekalian siram bersih-bersih, terus ambil wudhu!" titah mas Harto, dengan cepat menutup pintu kamar kecil.

Dengan tergesa-gesa aku menunaikan hajat, lalu mengambil wudhu di dekat sumur. Malam ini suasananya terasa seram sekali. Entah hanya perasaanku saja, atau memang menyeramkan.

Sejenak aku mendongak menatap langit. Cahaya bulan benar-benar terang malam ini. Bentuknya bulat sempurna. Sepertinya bulan sedang dalam bentuk terindahnya.

"Yank, ayo cepat! Nanti keburu masuk waktu isya!" Panggil mas Harto, mengejutkanku.

Aku gegas mendekatinya. Namun, sebelum aku mencapai mas Harto. Sempat aku berbalik ke belakang. Diantara rimbunnya batang-batang pohon bambu, sesuatu melayang cepat, menyisakan bau anyir yang sangat menyengat. Terakhir sebelum sosok itu menghilang, dapatku lihat cahaya merah melesat cepat.

"Yank, ayo!" Panggil mas Harto lagi.

Kali ini ia tidak hanya memanggilku, melainkan menarik tanganku sedikit kasar menjauh dari belakang rumah.

Sesampainya kami di dapur. Bapak sedang sibuk menyiapkan makan malam. Entah kapan bapak datang. Hanya bapak, sedangkan ibu sama sekali tidak terlihat. Aku sudah biasa dengan pemandangan ini setiap malamnya. Awal-awalnya aku memang curiga dengan kebiasan ibu. Tapi lama-lama aku sudah mulai terbiasa.

"Pak, kapan pulang?" tanyaku, menghentikan langkah.

"Baru aja Na. Kalian dari mana?" tanya bapak, menatap kami berdua.

"Dari belakang Pak, ambil wudhu. Bapak tidak sholat?" tanyaku.

Mas Harto hanya diam. Ia bahkan tidak menyapa bapaknya sendiri.

"Nanti saja Na," jawab bapak mertuaku, tersenyum masam.

Entah apa arti dari senyuman bapak. Aku tidak terlalu menanggapinya. Dari arah belakangku, mas Harto mengajakku untuk cepat ke kamar.

"Pak, kami ke kamar dulu!" pamitku, berjalan lebih dulu.

"Har, ini malam purnama. Kamu dan istrimu di kamar saja! Jangan keluar kamar sampai menjelang subuh! Kunci pintu dan jendela rapat-rapat!" titah bapak, dapat aku dengar sangat jelas.

Dalam hati mulai bertanya-tanya. Apa maksud bapak mengatakan itu? Memangnya ada apa dengan malam purnama? Kenapa kami harus mengurung diri sampai subuh menjelang? Banyak sekali pertanyaan dalam kepalaku. Mungkin nanti aku tanyakan langsung ke mas Harto saat di kamar.

"Baik Pak," jawab mas Harto, kemudian menyusulku.

Saat kami berdua melewati kamar ibu. Suara bising tadi sudah tidak terdengar. Senyap dan sepi sekali. Mungkin ibu sudah tidur lebih dulu. Biasalah ibu-ibu, rasa kantuk sangat cepat mendera, apalagi jika sudah seharian berberes rumah. Pasti badan rasanya lelah sekali.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED