Bab 1

"Bu, perutku kenapa sakit, ya?" tanyaku, mendatangi ibu ke dapur.

Mendengar keluhanku, ibu hanya tersenyum. Sebuah senyum aneh yang selalu membuat aku merinding melihatnya. Matanya menatap liar ke arahku. Entah itu hanya perasaanku saja, atau memang benar seperti itu adanya.

"Sakit bagaimana? sini Ibu lihat!" ucap ibu, memintaku mendekat.

Kaki ini sudah siap melangkah, tapi kembali aku urungkan karena teringat pesan dari mas Harto.

"Sayang, kalau aku lagi kerja, kamu di kamar saja! Jaga jarak dengan ibu, jangan sampai ibu menyentuh tubuh kamu, apalagi perut kamu! Abaikan saja semua yang kamu dengar di luar kamar. Kalau kamu memang perlu bantuan, kamu hubungi saja saudara kamu!"

Kata-kata itu kembali terngiang. Perlahan aku memundurkan langkahku. Aku memutar otak mencari alasan untuk bisa menolak perintah ibu.

"Kenapa diam Na? Ayo sini!" titah ibu, bibirnya melebar masih menampilkan senyuman yang aneh.

"Emh, i-iya Bu. Tunggu sebentar ya Bu, aku mau ke toilet dulu!" ucapku, beralasan.

Ibu hanya mengangguk dengan senyum yang menghiasi wajahnya. Tanpa membuang waktu, aku gegas berbalik, melangkah menuju toilet di dekat sumur belakang rumah.

Rumah ibu mertuaku terletak di sebuah desa yang jauh dari pusat kota. Kehidupan di desa ini juga tertinggal jauh dari kota. Di kota tempat keluargaku tinggal, toilet dan kamar mandi sudah menyatu dengan bangunan utama rumah. Sedangkan di sini masih terpisah dan letakknya juga paling belakang.

Semakin aku menjauh, aku seperti merasa diawasi dari belakang. Mungkin saja ibu masih menatap punggungku. Ingin rasanya aku berbalik, tapi aku merasa takut.

Di belakang rumah, pohon-pohon tumbuh dengan subur dan rimbun. Gesekan batang bambu menimbulkan bunyi berisik saat diterpa angin. Aku merasa takut jika harus berlama-lama berada di luar seperti ini.

Cukup lama aku bertahan di tempat ini, akhirnya ibu mertuaku kembali ke kamar juga. Merasa situasi sudah aman, aku bergegas keluar dari toilet dan berlari kecil memasuki rumah dari pintu belakang.

Rumah yang terbuat dari kayu ini, cukup besar untuk suamiku yang hanya anak tunggal di rumah ini. Tapi yang membuat aku heran sekaligus takut, bukan karena rumahnya yang terbuat dari kayu. Melainkan jendela rumah yang hanya ditutupi menggunakan plastik terpal tanpa ada pengamanan apapun. Hanya pintu yang terbuat dari kayu kokoh. Itu pun juga tidak pernah dikunci. Pintu dibiarkan tertutup begitu saja, tanpa dikunci dari luar atau dalam.

Sesampainya aku di dalam kamar, aku langsung menutup pelan pintu kamar dan menguncinya. Ini semua aku lakukan atas dasar perintah dari mas Harto. Aku tidak tau apa alasannya. Jika aku bertanya, mas Harto hanya membalasnya dengan senyum. Aneh sekali.

"Mas, kapan kamu pulang?" tanyaku, melalui panggilan telepon.

"Nanti sore Yank, ada apa? Kamu mau dibelikan apa?" tanya mas Harto, suaranya begitu lembut menenangkan.

"Aku mau rujak Mas, kamu tidak lama kan? Perutku tadi sakit Mas, terus aku bilang ke ibu," Ceritaku.

Mas Harto diam untuk sepersekian detik. "Terus ibu bilang apa? Ibu tidak menyentuh perut kamu kan?"

Pertanyaan dan suara bergetar dari mas Harto membuat keningku mengkerut. Pertanyaan yang sama jika aku membahas tentang ibunya.

"Tidak mas, tadi sih ibu mau pegang dan memintaku mendekat. Tapi aku ingat pesan kamu, jadi aku beralasan ke kamar kecil," sahutku, terdengar helaan nafas dari ujung telepon.

"Memangnya kenapa sih kalau ibu pegang Mas? Apa tidak boleh?" tanyaku penasaran.

Semenjak aku dinyatakan hamil, mas Harto terus mewanti-wanti aku untuk tidak berdekatan dengan ibunya. Ia seperti ketakutan, jika ibunya datang mendekatiku. Entahlah sebabnya apa?

"Hem itu, ehm... Sebenarnya tidak apa-apa sih Yank. Kamu tunggu di rumah ya! Sebentar lagi aku pulang. Diam di kamar saja! Kunci pintunya dan jangan keluar, kecuali aku dan Bapak sudah pulang!" titah mas Harto.

"Iya, aku mau tidur dulu!" sahutku, memutuskan untuk berbaring di tempat tidur.

Tak lama setelah panggilan telepon terputus. Suara adzan dzuhur terdengar. Bertepatan dengan suara adzan mengalun, di luar kamar terdengar suara berisik. Entah dari mana asalnya. Di rumah ini terdapat tiga buah kamar. Satu kamarku dengan mas Harto, satu lagi kamar tidur ibu dan bapak. Tersisa satu kamar yang aku tidak tau apa fungsinya. Kamar itu selalu digembok dari luar. Begitu juga kamar ibu.

Ibu mertuaku seorang ibu rumah tangga. Sedang bapak mertua bekerja sebagai jaga malam di sebuah pabrik di ujung desa. Dari pekerjaan bapak yang hanya jadi tukang jaga malam, dapat aku simpulkan berapa gaji yang bapak dapat. Pasti tidaklah besar seperti gaji para karyawan pabrik. Tapi, yang menurutku aneh di sini bukan karena pekerjaan bapak. Melainkan uang yang didapat selama bapak bekerja. Setiap dua minggu atau satu bulan sekali, pasti ada saja kurir toko yang mengantar barang elektronik atau lemari dan peralatan lainnya ke rumah.

Pernah sempat terpikir olehku. Uang dari mana ibu membeli semua barang-barang itu? Sedang gaji bapak tidak sebanyak itu. Aku memang baru satu tahun ini menikah. Itu pun baru beberapa bulan ini tinggal di rumah ini. Kalau bukan karena pekerjaan mas Harti yang memaksanya untuk tinggal di desa ini, sudah pasti mas Harto memilih untuk tinggal di kota bersama saudara besarku.

"Arggh...."

Suara jeritan yang entah dari mana selalu terdengar bertepatan dengan suara adzan. Bulu kudukku perlahan tapi pasti meremang. Ketakutan selalu melanda jika hanya tertinggal sendiri di sini. Ibu bukan tipe wanita yang banyak bicara seperti ibu-ibu pada umumya. Ibu juga wanita yang sederhana. Pakaiannya selalu tertutup. Walau tidak memakai jilbab, tapi leher ibu selalu dililit dengan syal atau kain.

Aku memberanikan diri keluar dari kamar mencari asal suara. Rasa penasaranku sudah mencapai puncaknya.

"Bu, Ibu di dalam?" tanyaku, mengetuk pintu kamar ibu.

Suara erangan tadi mendadak hilang, seiring selesainya suara adzan. Pintu kamar ibu tidak terbuka sama sekali. Sedang aku masih setia berdiri dan mengetuk pintu kamar.

"Na, sedang apa kamu di situ?" tanya ibu.

Aku berbalik, menatap bingung ke arah ibu yang baru keluar dari kamar yang aku tidak ketahui fungsinya apa.

"I-ibu di kamar itu? aku kira di kamar ibu sendiri," ucapku tergagap.

Kaki ibu melangkah pelan mendekat ke arahku. Tanpa sadar aku malah memundurkan langkah, sedikit menghindar. Aku benar-benar takut sekaligus heran. Bagaimana ibu keluar dari kamar itu, sedangkan tadi saat aku lewat, kamar itu sudah tergembok dari luar.

"Kamu sedang apa di sini? kenapa mencari Ibu?" tanya ibu, suaranya lembut, tapi terdengar mengerikan di telingaku.

"Ti-tidak ada apa-apa Bu. Emh, aku cuma mau bil..."

"Assalamualaikum! Paket Bu!" teriak seorang pria dari arah luar rumah.

"Bilang apa?" tanya ibu, memiringkan kepalanya menatap dalam ke arahku.

Bulu kudukku meremang. Sebisa mungkin aku tahan. "Bilang kalau di luar ada yang mengantar barang. Aku buka pintu dulu Bu!" kilahku, segera berlari meninggalkan ibu.

Bab 2

"Na, kamu di sini?" tanya ibu, ikut duduk di sampingku saat aku menunggu mas Harto di teras.

Aku terkejut dengan kehadiran ibu yang mendadak. Entah kapan ibu datang, aku sama sekali tidak mendengar derap langkah ibu. Padahal lantai rumah ini dari kayu. Aku berjalan saja terdengar, masa iya ibu tidak?

"I-iya Bu, lagi nunggu mas Harto," jawabku, sedikit menggeser posisi dudukku.

Melihatku bergeser, tatapan ibu berubah nyalang. Namun hanya sepersekian detik saja. Setelah itu tatapannya kembali normal.

"Oh... Apa Ibu boleh tanya? Kamu hamil Na?" tanya ibu, menatap perutku lekat.

Aku terdiam. Apa ibu tidak mengetahui soal kehamilanku? Perutku memang masih rata, karena usia kandungan baru saja memasuki bulan pertama. Apa mas Harto tidak menceritakan kabar bahagia ini pada ibunya? Secara ini calon cucu pertamanya, masa iya mas Harto main rahasia segala?

Baru saja mulutku terbuka ingin menjawah pertanyaan ibu, mas Harto datang dan buru-buru turun dari motornya menghampiriku.

"Na, kamu di sini? Sedang apa?" tanya mas Harto terlihat panik.

"Aku lagi nunggu kamu Mas," jawabku, menatap mas Harto bingung.

"Har, baru pulang?" tanya ibu, tersenyum manis menatap mas Harto yang baru datang.

"Eh, Ibu? I-iya Bu, baru aja. Ibu tumben di luar. Ada apa Bu?" tanya mas Harto, dari raut wajahnya terlihat gugup dan tidak suka.

"Ibu cuma mau duduk saja. Bapak kamu mana Har?" tanya ibu, mencari keberadaan bapak.

"Lagi di pabrik, mungkin sebentar lagi pulang," jawab mas Harto singkat, padat dan jelas.

Aku hanya diam menyimak perbincangan ibu dan anak di depanku. Suasana hati mas Harto sepertinya sedang tidak baik. Jadi aku memutuskan tidak ikut-ikutan.

Tak lama berselang setelah kepulangan mas Harto, adzan magrib mulai terdengar. Ibu yang tadinya duduk santai di sampingku langsung berdiri, dan lalu berlari masuk ke dalam rumah tanpa mengatakan sepatah katapun lagi. Aku dan mas Harto hanya saling tatap melihat keanehan ibu.

"Ibu kenapa Mas?" tanyaku penasaran.

Mas Harto hanya menjawab dengan pundak yang ia naik lalu turunkan. "Ayo masuk! Sudah magrib, tidak boleh duduk di luar rumah!" ajak mas Harto, menggandeng lenganku masuk.

Rumah dalam keadaan sepi. Penerangan juga tidak menyala sama sekali. Sepertinya ibu sudah masuk kembali ke kamarnya tanda menyalakan lampu rumah.

"Mas, nyalain lampunya dulu! Aku takut kalau gelap-gelap begini," pintaku, merapatkan tubuhku.

"Iya sebentar! Kamu masuk ke kamar aja dulu, nanti aku nyusul!" titah mas Harto, mengantarkan sampai ke depan pintu kamar.

Walaupun pencahayaan rumah mulai gelap, tapi aku bisa melihat jelas pintu kamar ibu. Kamar ibu dalam posisi tergembok dari luar. Begitu juga dengan kamar yang kosong itu.

Sesampainya aku di kamar, aku gegas menyalakan lampu. Ruang kamar terang benderang, berbeda jauh dengan keadaan di luar.

"Nin, sedang apa?"

Aku berbalik menatap mas Harto yang berdiri di ambang pintu dengan senyum menyeringai. Bulu kudukku seketika saja meremang. Ada yang aneh dengan senyum mas Harto, tidak seperti biasanya.

"Mas, kamu kenapa?" tanyaku, masih berdiri di dekat saklar lampu tanpa mau mendekat.

Mas Harto mendekat perlahan. Seringai masih terlihat jelas di wajahnya. Merasa ada yang tidak beres, aku segera menghindar.

"Mas, aku mau ke toilet dulu!" pamitku, berjalan cepat melewati mas Harto yang hanya diam.

Beberapa kali aku menengok ke belakang karena takut mas Harto mengikutku. Karena tidak fokus berjalan, aku menabrak sesuatu.

"Aaa...."

"Kenapa kamu Yank?" tanya mas Harto, menatapku heran.

Mas Harto berdiri di depanku. Seketika aku langsunh menoleh ke arah pintu kamar yang masih terbuka.

Kosong...

Di dalam kamar tidak terlihat mas Harto. Padahal aku sangat yakin, jika tadi mas Harto ada di sana. Tapi kenapa mas Harto sekarang ada di depanku? Apa mas Harto juga ikut ke dapur? Tapi kenapa aku tidak melihat dia berjalan mendahuluiku?

Ketakutan kian menjalar. Saat mas Harto di depanku menyentuh pundakku, aku dengan cepat menepisnya dan memundurkan langkahku menjaga jarak.

"Kamu kenapa Yank? Ada apa?" tanya mas Harto, mendekat mencoba menyentuh tanganku.

Dalam remangnya pencahayaan, aku meneliti mas Harto dari ujung kepala sampai ujung kaki. Semuany normal, sama seperti mas Harto biasanya. Tanpa bisa berkata-kata lagi, aku langsung menghambur memeluknya. Air mata tak aku pedulikan lagi. Aku menangis dengan tubuh bergetar dalam pelukan suamiku.

"Sayang, kamu kenapa sih? Kenapa malah menangis? Bukannya tadi aku bilang di kamar aja? Kenapa malah keluar?" Mas Harto memberondongku dengan banyak pertanyaan. Tapi tak ada satu pertanyaan pun yang aku jawab.

"Yasudah, kita ke kamar dulu!" ajak mas Harto, menggandengku ke kamar.

Sesampainya di kamar, kami berdua memilih duduk di atas tempat tidur. Meskipun rumah mertuaku terbuat dari kayu dan bukan bangunan beton. Rumah yang terkesan sederhana ini, nyatanya memiliki perabot yang lengkap di dalamnya. Termasuk kamar yang aku tempati ini. Tempat tidur yang besar, televisi besar, meja rias, sofa empuk dan dua buah lemari besar. Yang aku tafsir harga dari keseluruhan puluhan juta.

"Kamu kenapa? ayo cerita!" ucap mas Harto, berkata lembut sambil memandang wajahku.

Pandangan kami beradu. Meskipun mataku masih dipenuhi air sisa air mata. Aku dapat melihat jelas gurat kekhawatiran mas Harto dari wajahnya.

"Tadi kamu di mana Mas? Kenapa kamu tiba-tiba ada di dapur? Bukannya tadi ada di kamar?" tanyaku, menghentikan tangisku.

Kening mas Harto saling bertaut. Ada keraguan di wajahnya saat mendengar pertanyaanku.

"Dari tadi Mas di dapur. Bukannya tadi kamu minta nyalakan lampu, jadi Mas keliling rumah," bantah mas Harto.

Aku terdiam mencerna semua kata-kata mas Harto. Jika tadi bukan dia, lalu siapa?

"Yank, kenapa diam? kamu kenapa? Memangnya apa yang kamu lihat di kamar?" tanya mas Hardi, menggoyang lenganku pelan.

"Tadi aku lihat kamu di kamar, tapi ternyata kamu ada di dapur. Mungkin aku hanya kelelahan. Lupakan saja Mas!" sahutku, tidak ingin memikirkan yang aneh-aneh.

Lahir dan besar di kota, membuat aku merasa tidak terlalu percaya dengan hal berbau mistis. Apalagi di jaman yang modern seperti ini. Mana mungkin masih ada hal yang seperti itu.

"Mas, tadi ibu tanya ke aku. Kamu tidak bilang kalau aku hamil?" tanyaku, melihat mas Harto diam.

Wajahnya menegang, ia menoleh menatapku dalam. "Ibu tanya itu ke kamu? Terus kamu jawab apa?"

Aku yang bertanya malah mas Harto yang balik bertanya. Lama-lama sikap mas Harto semakin aneh jika membahas soal ibunya.

"Aku tidak jawab apa-apa. Kamu kan tadi keburu datang, jadi aku belum sempat mengiyakan. Memangnya ibu belum tau?" Aku mengulangi pertanyaanku tadi.

Bab 3

"Aku sudah cerita ke ibu. Mungkin ibu lupa. Aku juga tau kamu hamil dari ibu," ujar mas Harto, setelah mengatakan itu langsung menutup mulutnya.

"Kenapa Mas? Keceplosan?" tanyaku, memicingkan mata.

Mas Harto tampak salah tingkah. Ia mendekat dan menatapku lekat. Seperti ada sesuatu yang ingin ia sampaikan dengan isyarat matanya.

"Bagaimana kalau kita menyewa rumah Yank?"

Tawaran mas Harto sukses membuatku terkejut. Maksudnya apa? Aku tanya apa, ia malah menawariku pindah rumah. Memangnya apa yang salah jika diam di sini bersama kedua orang tuanya? Toh ibu bukan seperti ibu mertua pada umumnya yang cerewet atau banyak mengatur. Aku merasa betah tinggal di sini. Ibu tidak pernah memintaku membersihkan rumah. *anjuga tidak marah, kalau kerjaku hanya berada di dalam kamar seharian. Bukan karena aku malas. Aku hanya ingin mas Harto berbakti pada ibunya selagi masih ada.

"Mas, kenapa kamu selalu mengajakku pindah rumah? Kalau kita pindah, kasihan ibu. Dia pasti kesepian kalau bapak kerja. Kita tinggal di sini saja Mas! Sedari kecil aku sudah kehilangan kedua orang tuaku. Aku besar hanya dirawat kakak-kakakku. Di sini aku bisa merasakan rasanya punya ibu, punya bapak, punya orang tua lengkap," ucapku, sudut mataku mulai berair saat mengatakan itu.

"Aku tau apa yang kamu mau Yank. Tapi kan tidak etis saja, kalau kita selamanya tinggal di sini. Biar bagaimanapun kita sudah menikah, dan aku wajib memberikan tempat tinggal yang nyaman untuk kamu. Sekalian belajar mandiri juga," terang mas Harto, mengatakan alasannya.

Semua yang Harto katakan memang benar. Kami sudah menikah. Dan, sudah sepantasnya tinggal di rumah sendiri, walaupun itu hanya mengontrak. Tapi entah kenapa, ada sesuatu yang membuatku ingin terus tetap tinggal di sini. Rasanya berat sekali.

"Kita bicarakan ini nanti. Sekarang aku mau tanya ke kamu. Aku perhatikan, semenjak kita pindah ke rumah ini, kamu sepertinya menjaga jarak dengan ibu. Kamu lagi ada masalah sama ibu?" tanyaku, berharap mas Harto bisa menjawab rasa penasaranku.

"Tidak! Aku dan ibu baik-baik saja. Kita tidak usah membahas masalah ibu lagi. Aku lelah, bagaimana kalau kita sholat sebentar, terus setelah itu kita keluar cari makanan?" tawar Mas Harto, sepertinya sengaja mengalihkan pembicaraan kami.

Aku mengangguk setuju. Lagi pula, ini juga sudah memasuki waktu sholat maghrib. Dengan bergandengan tangan, kami berdua berjalan keluar kamar menuju arah dapur.

Dari luar, saat kami melewati kamar ibu. Suara berisik terdengar samar. Jika sudah masuk waktu magrib, kebiasaan ibu pasti akan berdiam diri di dalam sana sampai pagi menjelang. Entah apa yang ibu lakukan di dalam sana.

"Mas, suara apa itu?" tanyaku, penasaran.

"Jangan dihiraukan! Sekarang kita ambil wudhu, setelah itu masuk kamar lagi!" titah mas Harto, menarik tanganku menjauh dari depan kamar.

"Mas, aku mau ke kamar kecil dulu. Sudah kebelet ini," ujarku, berniat memisahkan diri.

"Pipis di sini saja! Jangan ke kamar kecil!" sahut mas Harto, melarangku.

Mendengar larangannya, tentu saja aku menolak. Aku tidak mungkin menunaikan hajat di ruang terbuka seperti ini. Biarpun mas Harto adalah suamiku, tetap saja aku malu.

"Malu Mas, aku ke kamar kecil saja!" tolakku, berniat pergi.

"Sudah, di sini saja! Memangnya malu kenapa? Aku kan suami kamu, masa kamu malu? Di sini tidak mungkin ada orang lain juga," ucap mas Harto, bersikeras menahanku.

Yang dikatakan mas Harto memang ada benarnya juga. Rumah ibu berjarak cukup jauh dari tetangga lain. Di desa ini, jarak antar rumah yang satu ke yang lain memang lumayan jauh. Wajar saja ia memintaku tidak usah malu.

"Tidak mau Mas! Aku ke kamar kecil sebentar saja. Kamu ambil wudhu duluan saja!" Aku juga bersikeras menolaknya.

Tanpa mempedulikan larangan mas Harto, aku menjauh, lalu mengayunkan langkah menuju kamar kecil.

"Uek..."

Kakiku melangkah mundur, saat pintu kamar kecil terbuka lebar. Pencahayaan memang remang di dalam sini. Karena memang hanya menggunakan lampu minyak. Yang membuat aku ingin muntah, aku tidak tahan dengan bau kamar kecil ini.

"Kamu kenapa Yank?" tanya mas Harto, sigap menyusulku.

"Bau sekali Mas. Kenapa kamar kecilnya bau seperti ini? Padahal tadi pagi sudah aku bersihkan. Setiap hari dibersihkan, tapi setiap hari juga bau pesing dan anyir," sahutku, bicara sambil menutup hidungku.

"Hem, biarkan saja! Kamu pipis di sana saja! Sekalian siram bersih-bersih, terus ambil wudhu!" titah mas Harto, dengan cepat menutup pintu kamar kecil.

Dengan tergesa-gesa aku menunaikan hajat, lalu mengambil wudhu di dekat sumur. Malam ini suasananya terasa seram sekali. Entah hanya perasaanku saja, atau memang menyeramkan.

Sejenak aku mendongak menatap langit. Cahaya bulan benar-benar terang malam ini. Bentuknya bulat sempurna. Sepertinya bulan sedang dalam bentuk terindahnya.

"Yank, ayo cepat! Nanti keburu masuk waktu isya!" Panggil mas Harto, mengejutkanku.

Aku gegas mendekatinya. Namun, sebelum aku mencapai mas Harto. Sempat aku berbalik ke belakang. Diantara rimbunnya batang-batang pohon bambu, sesuatu melayang cepat, menyisakan bau anyir yang sangat menyengat. Terakhir sebelum sosok itu menghilang, dapatku lihat cahaya merah melesat cepat.

"Yank, ayo!" Panggil mas Harto lagi.

Kali ini ia tidak hanya memanggilku, melainkan menarik tanganku sedikit kasar menjauh dari belakang rumah.

Sesampainya kami di dapur. Bapak sedang sibuk menyiapkan makan malam. Entah kapan bapak datang. Hanya bapak, sedangkan ibu sama sekali tidak terlihat. Aku sudah biasa dengan pemandangan ini setiap malamnya. Awal-awalnya aku memang curiga dengan kebiasan ibu. Tapi lama-lama aku sudah mulai terbiasa.

"Pak, kapan pulang?" tanyaku, menghentikan langkah.

"Baru aja Na. Kalian dari mana?" tanya bapak, menatap kami berdua.

"Dari belakang Pak, ambil wudhu. Bapak tidak sholat?" tanyaku.

Mas Harto hanya diam. Ia bahkan tidak menyapa bapaknya sendiri.

"Nanti saja Na," jawab bapak mertuaku, tersenyum masam.

Entah apa arti dari senyuman bapak. Aku tidak terlalu menanggapinya. Dari arah belakangku, mas Harto mengajakku untuk cepat ke kamar.

"Pak, kami ke kamar dulu!" pamitku, berjalan lebih dulu.

"Har, ini malam purnama. Kamu dan istrimu di kamar saja! Jangan keluar kamar sampai menjelang subuh! Kunci pintu dan jendela rapat-rapat!" titah bapak, dapat aku dengar sangat jelas.

Dalam hati mulai bertanya-tanya. Apa maksud bapak mengatakan itu? Memangnya ada apa dengan malam purnama? Kenapa kami harus mengurung diri sampai subuh menjelang? Banyak sekali pertanyaan dalam kepalaku. Mungkin nanti aku tanyakan langsung ke mas Harto saat di kamar.

"Baik Pak," jawab mas Harto, kemudian menyusulku.

Saat kami berdua melewati kamar ibu. Suara bising tadi sudah tidak terdengar. Senyap dan sepi sekali. Mungkin ibu sudah tidur lebih dulu. Biasalah ibu-ibu, rasa kantuk sangat cepat mendera, apalagi jika sudah seharian berberes rumah. Pasti badan rasanya lelah sekali.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED