Semakin bertambah umur, Mayang bukanya terlihat tua malah semakin terlihat lebih muda dan cantik. Jika dulu dia burik maka sekarang dia semakin menarik.
Memasuki usia ke delapan pernikahannya dengan Galang, Mayang jadi semakin dewasa dalam menyikapi rumah tangganya. Gayanya lebih elegan tanpa ada lagi tantrum saat menghadapi perilaku sang suami spek kulkas dua pintu.
Suami yang selalu menatapnya dingin dari kursi rodanya. Suami yang sedikit bicara namun selalu menusuk jantung dan merobek ususnya setiap kali mengeluarkan kata-kata.
"Mas Galang sudah bangun, mau berangkat sekarang, Mas?" sapa Mayang saat melihat sang suami keluar dari kamar menggunakan kursi rodanya yang dibantu oleh Wardoyo, asistennya.
Tidak ada suara yang keluar dari mulut Galang untuk menjawab pertanyaan Mayang. Lelaki itu hanya sedikit berkedip sebagai ganti ucapan.
Bahkan dari lirikan matanya yang sinis, Mayang bisa menerjemahkan kedipan mata Galang menjadi sebuah kalimat yang panjang.
'Ya, seperti yang kamu lihat. Aku sudah duduk di sini itu artinya aku sudah bangun. Apa hal kecil seperti ini saja perlu kamu tanyakan?'
Kurang lebih seperti itulah kalimat yang ada di kepala Mayang saat melihat kedipan enggan sang suami.
"Mas Galang mau sarapan apa? Ada roti dan bubur ayam. Kalau mau nasi juga ada, tapi lauknya hanya ada ayam goreng dan sayur nangka kuah santan. Mas Galang kayaknya jangan makan yang bersantan dulu, deh. Gimana kalau makan roti isi saja?" tawar Mayang dengan ceria.
Namun di balik sifat ceria yang ditunjukan Mayang, ada seribu luka yang dia sembunyikan. Di balik kepasrahannya dengan semua sifat sang suami, ada jutaan harapan yang terus ia nyalakan.
Galang memutar bola matanya bosan. Entah kenapa Mayang suka sekali bertanya padanya meski jarang sekali dijawab.
Galang Perdana, pengusaha muda asal Solo yang sudah menetap di Jakarta. Menikah setengah hati dengan Mayang untuk melupakan kekasihnya yang lebih memilih orang lain.
Siapa yang sangka kekasihnya tiba-tiba meminta untuk dinikahi secara siri setelah Galang resmi menikah dengan Mayang.
Bodohnya, dia bersedia melakukannya tanpa tahu kekasihnya saat itu sedang hamil. Dia baru mengetahui anak yang dikandung kekasihnya bukan darah dagingnya setelah kecelakaan yang merenggut nyawa sang kekasih dan melumpuhkan kakinya.
Jika bukan karena Mayang bersikeras mengasuh anak itu, sudah dipastikan anak itu berakhir di panti asuhan. Sejujurnya, Mayang menikmati emosi yang ditunjukan sang suami saat menatap anak itu. Rasa marah, kecewa, sedih bercampur menjadi satu.
Ada kepuasan tersendiri bagi Mayang, seolah itu bisa sedikit mengobati luka batinnya karena pengkhianatan Galang. Entah apa yang ada di benak Mayang dan Galang hingga mereka mempertahankan rumah tangga yang tidak sehat ini.
"Tidak perlu menyiapkan apapun," ucap Galang singkat. Dia lantas memberikan perintah pada Wardoyo untuk segera pergi meninggalkan rumah menuju ke tempat kerja.
Mayang mengangkat bahu acuh tak acuh. Dia menguatkan hatinya agar tidak berkecil hati jika Galang tidak mau memakan masakan yang sudah susah payah dia siapkan.
"Lihat saja, Mas. Suatu saat nanti kamu enggak akan bersedia makan kalau bukan masakanku," gumam Mayang.
***
Mayang memandangi foto pernikahanya dengan Galang delapan tahun silam. Senyumnya indah merekah, kontras dengan Galang dengan wajah datarnya. Jelas sekali terlihat tidak ada antusiasme atau kebahagiaan yang terpancar dari wajah bekunya. Mayang tersenyum kecut mengingat saat itu. Betapa naifnya dia membayangkan dirinya seperti Cinderella yang dipinang sang pangeran.
Kenyataan memang kejam, meski tahu dia hanya akan dijadikan pengantin bayangan. Mayang menerima dengan bahagia. Baginya Galang adalah seseorang yang memiliki tempat tinggi di hatinya. Seseorang yang takan sanggup ia raih. Maka saat tawaran itu datang, tanpa berpikir panjang perempuan itu menyetujuinya.
Tok ... tok ... tok ....
"Permisi "
Seketika lamunan Mayang buyar. Dengan langkah cepat dia berlari membuka pintu.
"Permisi, Kak. Apa benar ini rumah pak Galang?"
"Ya betul. Tapi mas Galang nggak ada, ada perlu apa ya?"
"Oh gini Kak, saya disuruh ngambil berkas milik pak Galang. Katanya ketinggalan di meja kamar."
Mayang memandang pemuda di depannya dari atas ke bawah.
"Kamu asisten baru mas Galang, ya? Masuk dulu Mas, saya carikan berkasnya."
"Bukan ... saya ...." Belum selesai dia menjelaskan Mayang sudah terburu-buru berjalan masuk ke dalam.
"Nih, Mas, minum dulu. Kamu pasti haus kan? Kamu yang sabar ya ngadepin mas Galang. Orangnya memang sedikit galak tapi aslinya baik kok. Pokoknya yang betah ya biarpun kadang suka menuntut ini itu, asal kerjanya bagus gajinya pasti juga bagus."
"Tapi saya bukan ...."
"Oh satu lagi, mas Galang itu paling royal sama karyawan yang rajin. Kamu yang rajin ya, apa aja yang mas Galang bilang kamu ikutin. Dijamin aman. Abaikan saja kata-kata judesnya. Anggap angin lalu."
"Aku cuma magang, Kak."
"Oh begitu, enggak apa-apa. Tetap semangat, ya. Semoga lekas diangkat jadi karyawan tetap. Semangat!"
"Pasti, Kak. Aku tau pak Galang memang baik. Makanya papa minta aku belajar dari pak Galang."
"Papa?"
"Iya papa teman baik pak Galang. Papa sangat mengagumi pak Galang. Oh, ya kenalkan aku Elang Prima Wardhana."
"Pfft … maaf aku enggak bermaksud menertawakan namamu tapi … nama kamu keren, ya, kayak nama PT." Mayang menutupi mulutnya karena tidak bisa menahan tawa.
"Ini buat kamu, istirahat dulu saja sebentar sambil minum. Di luar pasti panas banget."
Elang tersenyum malu-malu dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Makasih, Kak, buat keramahannya tapi aku lagi buru-buru. Jadi saya pamit dulu, ya. Makasih buat minumannya, lain kali kalau tidak buru-buru saya pasti mampir lebih lama. Bye."
Elang berlalu meninggalkan Mayang yang masih sedikit linglung. Ada satu kesalahpahaman yang akan menjadi awal kesalahan yang lain. Elang salah mengira Mayang adalah adik dari Galang. Dan Mayang salah mengira Elang adalah karyawan magang biasa anak kenalan suaminya.
Dia mengira Elang adalah mahasiswa yang bekerja magang untuk biaya kuliah. Namun yang tidak Mayang tahu adalah, Elang adalah bibit unggul yang akan mewarisi kerajaan bisnis Prima Wardhana Group.
"Elang ...," teriak Mayang dari dalam rumah sebelum Elang keluar dari pintu gerbang.
"Tunggu sebentar di situ! Jangan ke mana-mana!"
Terengah-engah Mayang menyerahkan sebungkus kantong plastik berisi minuman mineral dan kue buatannya.
"Tadi kakak bikin kue, kamu makan nanti di kantor, ya. Semangat semangat semangat!"
Elang benar-benar speechless. Baru kali ini dia menghadapi perempuan energik penuh aura positif yang menyalurkan begitu banyak hal baik. Rasanya seperti melihat Tinkerbell.
"Kenapa bengong, udah sana jalan. Nanti keburu ditanyain mas Galang."
"I ... iya Kak, bye lagi."
"Dah...."
***
Di ruang sunyi, bunyi ketukan keyboard memecah kesunyian. Seorang pria dengan alis bertaut memandangi layar komputer. Pandangan matanya menatap layar seakan penuh konsentrasi tapi siapa yang tahu kalau pikirannya berada jauh pada seseorang yang ada di rumah. Hal itu karena dia teringat akan pembicaraannya dengan Elang barusan.
'Pak Galang, tadi di rumah bapak saya bertemu dengan adik bapak. Benar apa kata papa, dia sangat imut. Dia benar-benar lucu dan menggemaskan. Meskipun dia setahun lebih tua dariku, tapi rasanya seperti aku bertahun-tahun lebih tua darinya. Ah, pak Galang sangat beruntung punya adik yang manis seperti dia. Tidak seperti adik temanku yang brutal.'
'Pak Galang, meski baru pertama bertemu tapi hati ini rasanya berdebar-debar.'
'Pak Galang, selama ini aku hanya menyukai gadis dengan rambut hitam alami. Tapi melihat adik pak Galang diwarnai coklat terang terlihat sangat menawan. Rasanya aku sudah sangat akrab dengannya meski baru sekali bertemu.'
'Kue buatannya juga sangat enak. Benar-benar cocok jadi istri masa depanku. Ya ampun, pak Galang … aku benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama.'
'Pak Galang, Pak Galang, kuharap Pak Galang tidak keberatan menjadikan aku adik iparmu.'
Semakin bersemangat Elang bercerita, semakin dalam emosi yang ditahan Galang. Bagaimanapun dia tahu bahwa yang ditemui Elang bukanlah adiknya tetapi istrinya. Istri yang selalu ia beri bahu yang dingin. Adiknya saat ini sedang berada di Solo untuk menjemput ibunya. Dan warna rambut coklat jelas sekali milik istrinya.
Alisnya berkerut semakin dalam. Ada semacam perasaan krisis yang mencuat di hatinya.
"Mayang .... "
"Ke mana mas Galang, jam segini masih belum kelihatan batang hidungnya," gumam Mayang.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam tapi suami Mayang masih belum pulang. Bukan hal baru suaminya bekerja lembur tapi biasanya tidak sampai selarut ini. Mayang memandangi wajah polos anaknya yang terlelap, Kenzo Anugrah Perdana.Tiap kali memandang anak ini, hatinya berdenyut sakit. Anak sekecil ini sudah dicoba dengan banyak ujian.
Galang sangat dingin pada Anu. Dia tidak pernah membiarkan Anu mendekatinya. Beruntung Anu memiliki IQ di atas rata-rata. Meski masih kecil dia sangat sadar dengan penolakan dari laki-laki yang seharusnya menjadi orang paling dekat dengannya.
Mayang kembali melihat jam dinding yang hampir mendekati pukul dua belas malam. Keresahannya hilang saat ia mendengar suara mobil di depan rumah.
"Mas baru pulang? Kenapa malam sekali?" bergegas Mayang mengambil alih kursi roda yang didorong asisten pribadi Galang.
"Yo, kamu bantu saya bersih-bersih baru kamu istirahat," ucap Galang menghentikan niat Mayang mendorong kursi rodanya.
"Biar aku aja Mas yang bantuin, kasihan Wardoyo pasti lelah. Sudah malam juga pasti..."
"Apa tubuh kerempengmu kuat mengangkat aku?"
"Kuat, jangankan cuma mengangkat, menggendong keliling rumah juga aku kuat."
Galang memandang istrinya dengan aneh. Alisnya mengernyit melihat tekad di mata istrinya. Wardoyo sang asisten bingung tidak tahu harus pergi atau membantu Galang.
"Yo, kamu bantu aku," ucap Galang mengabaikan Mayang.
Mayang memanyunkan bibirnya, padahal dia tahu pasti akan ditolak tapi tetap saja dia kerap menawarkan diri merawat suaminya. Suami di atas kertas.
"Lain kali jangan sembarangan memberikan makanan pada orang lain!" ucap Galang sebelum masuk ke dalam kamar.
"Hah?" Mayang membeku mendengar ucapan Galang. Tidak ada kalimat lain karena Galang langsung masuk ke kamarnya.
"Mas, jangan bilang kamu cemburu, pftt!" Terkikik geli Mayang membayangkan suaminya marah karena cemburu. Namun dia sadar diri dan hal itu tidak mungkin terjadi.
"Jangankan kue, menu hotel bintang lima juga bisa kubikinin buat kamu mas. Sebut aja apa yang kamu mau, pasti aku bikinin," gumam Mayang
Mayang menatap pintu kamar Galang yang tertutup. Semenjak kecelakaan itu, Galang dan Mayang memang tidak tidur di kamar yang sama. Galang menjauhkan dirinya dari Mayang. Masih menjadi misteri kenapa mereka masih bersama dalam ikatan pernikahan.
***
Pukul sebelas siang, Mayang yang keasyikan membaca novel online hampir lupa menjemput Anu di sekolahnya. Terburu-buru dia berganti baju dan berlari keluar. Namun saat baru membuka pintu, dia dikejutkan dengan kehadiran ibu mertua dan dua adik iparnya, Gendis dan Gading.
"Loh ya ampun, Ibu? Kenapa enggak ngabarin kalau sudah sampai?" Mayang memeluk dan mencium ibu mertua yang sudah lama tidak dia jumpai.
"Ibu apa kabar? Mayang kangen banget sama Ibu."
"Alhamdulillah sehat, Nduk. Kamu gimana kabarnya kenapa makin kurus? Galang bener-bener gak bisa diandelin. Mantu kesayangan ibu sampai kurus kering begini."
"Ah, Ibu … Mayang bukan kurus tapi langsing. Aduh Ndis, kenapa gak ngabarin kalau udah nyampe. Kan mbak bisa jemput kalian di stasiun."
"Gak perlu Mbak, Mbak juga repot."
"Mbak ga kangen aku?" ucap Gading manja.
"Gak ah, takut disemprot lagi sama pengagum kamu."
"Wes to uwes, Ibu cape ayok ke dalam dulu."
"Oh iya Bu, keasyikan ngobrol jadi lupa. Tapi Bu...Mayang tinggal dulu sebentar ya. Mayang jemput Anu dulu."
"Kamu lebih mentingin anak itu dari Ibu, Yang? Ibu baru datang jauh-jauh kamu tinggal cuma buat anak itu?" suara Ibu meninggi.
"Maaf, Bu. Mayang ga bermaksud begitu. Mayang..."
" Suruh supir jemput!"
"Tapi, Bu. Anu..."
"Gading anterin Ibu pulang sekarang!"
"Ibu jangan Ibu. Maaf, Mayang gak pergi Bu."
"Biar Gading aja mbak yang jemput."
"Ya udah, Ding. Makasih ya. Maaf ngerepotin."
"Santai mbak."
"Yang kamu lupa anak itu anak siapa? Kamu lupa apa yang sudah dilakukan ibunya?" tegur ibu mertua Mayang.
"Tapi Anu cuma anak kecil, Bu. Dia gak tahu apa-apa."
"Mbak Mayang gak usah sok suci lah. Ibu baru dateng. Mbak Mayang jangan bikin Ibu tambah cape!" ucap Gendis yang bosan dengan topik yang sama.
Lagi-lagi terjadi hal seperti ini. Hati Mayang rasanya seperti diiris-iris setiap kali menyaksikan perlakuan keluarga suaminya pada Anu. Bukan hanya suaminya yang tidak menyukai Anu tapi juga ibu mertua dan kedua adiknya.
Rasa sayang Mayang pada Anu tidak kalah seperti ibu kandung yang mencintai anaknya. Hatinya akan sakit bila ada yang menyakiti anaknya.
Ibu mertua Mayang merasa sesak saat melihat menantunya yang terlihat sedih. Dia lantas mendekat dan menggenggam tangan Mayang.
"Nduk … jangan salah paham sama ibu, ya. Ibu melakukan ini karena ibu sayang sama kamu. Toh anak itu juga bukan anak kandung kamu."
Ucapan sang ibu mertua tak ubahnya seperti belati yang menikam langsung ke jantung. Anu memang bukan anak kandungnya, dia adalah anak Galang dengan istri sirinya.
Mereka semakin membenci Anu setelah mengetahui kalau Anu bukan darah daging Galang. Namun apa harus status Anu menjadikannya anak yang diasingkan oleh keluarganya sendiri?
"Ibu benar, Mba May. Dari pada sibuk ngurus bocah itu, lebih baik mbak Mayang pikirkan diri Mbak Mayang sendiri," ucap Gendis.
Mayang tersenyum untuk menyenangkan ibu mertua dan adik iparnya. Dia sadar betul kalau apa yang mereka perlu ucapkan semata-mata karena kasih sayang mereka untuknya.
"Ibu sama Gendis nggak usah khawatir, aku tetap memperhatikan diriku sendiri meskipun mengurus Anu," ucap Mayang.
Sebelum pembicaraan melebar ke mana-mana, Mayang lebih dulu mengajak ibu dan adiknya untuk istirahat.
Gendis menarik tangan Mayang pelan kemudian berbisik di telinganya, "Mbak May sebaiknya jangan bahas Anu di depan ibu. Suasana hati ibu belakangan ini kurang baik. Kalau bisa mending Anu jangan muncul di depan ibu sementara ini."
"Ndis … apa perlu sejauh ini? Anu masih kecil, Ndis."
"Ibu sudah tua, Mbak. Harusnya Mbak Mayang juga tahu seberapa dalam luka yang sudah dibuat oleh anak itu dan ibunya. Jangan lupa, mas Galang enggak bisa jalan karena ibu dari anak itu!"
Kepala Mayang terasa berdenyut setiap kali membahas hal ini. Anu hanya anak kecil, bukan kesalahannya Galang mengalami kecelakaan. Apalagi ibu kandung Anu kehilangan nyawa dalam kecelakaan itu.
"Mbak kalau aku boleh usul-"
"Enggak, Ndis. Apapun usul kamu akan mbak terima selama kamu enggak minta mbak untuk menjauh dari Anu!"
Gendis memutar bola matanya bosan. Dia bukan bermaksud kejam pada Anu, hanya saja dia tidak ingin keluarganya berantakan hanya karena seorang anak yang tidak berhubungan darah dengan keluarganya.
Sementara itu, Anu sudah sampai di rumah tapi dia tetap berdiri di depan pintu. Kakinya terasa berat untuk masuk ke dalam rumah. Dia ragu-ragu untuk masuk karena tahu ada neneknya di rumah.
"Kenapa enggak masuk, Nu?" tanya Gading melihat Anu yang diam di depan pintu.
"Masuk saja, nenek pasti sedang istirahat."
Anu mengangguk, dia lantas memegang gagang pintu lalu membukanya. Namun siapa sangka, begitu membuka pintu dia mendapati sang nenek berdiri di depannya.
Anu bingung apakah harus salim atau pura-pura tidak melihat sang nenek. Dia sadar neneknya tidak suka padanya dan biasanya menolak bila dia ingin salim.
Benar saja, neneknya melengos pergi saat Anu mengulurkan tangan untuk salim.
Mayang yang melihat kejadian itu kembali harus merasakan nyeri di ulu hatinya.
"Anak mama sudah pulang, sini sayang dulu," ucap Mayang. Dia mengambil tangan Anu yang masih terulur. Mayang memeluk dan mencium anak kesayangannya itu meski sambil menahan air mata agar tidak terjatuh.
"Mah..." Anu memanggil lirih ibunya.
"Mamah nangis, ya?"
"Hah siapa yang nangis? Mamah?"
Anu menatap wajah ibu tersayangnya. Anu yakin ibunya tidak akan mengakui kesedihannya. Akan ada ribuan alasan yang diucapkan ibunya. Anu tidak peduli jika ayahnya tidak menerimanya. Anu tidak masalah jika neneknya mengabaikannya. Selama ada sang ibu yang selalu ada disisinya itu sudah cukup.
"Pak tua itu bikin Mamah sedih?"
"Nu...berapa kali mamah bilang jangan panggil papah pak tua. Dia papahmu sayang. Kamu wajib menghormatinya."
"Pak tua itu tidak mau menjadi papahku."
"Nu..."
"Nu paham Mah. Nu akan tetap menghormati dia. Tapi Mamah jangan paksa Nu panggil dia Papah."
"Nu..."
"Nu sayang sama Mamah, tapi Nu akan marah kalau Mamah terus paksa Nu mendekati Papah."
Mayang memeluk Anu dengan erat. Apa benar usianya tujuh tahun? Apa yang bisa dipikirkan anak usia tujuh tahun?
"Nu...Papah sangat sayang sama Nu. Beri papah waktu ya sayang. Kamu sabar dulu, suatu saat nanti Papah akan mengungkapkan rasa sayangnya sama Nu."
"Nu tahu, Mah. Anu bukan anak kandung Papah kan?" Mayang tidak terkejut dengan kata-kata Anu. Cepat atau lambat Anu pasti akan menanyakan hal ini. Sikap ayah dan neneknya terlalu terlihat jelas.
"Nu..."
"Gak masalah, Mah. Anu gak sedih. Selama Mamah adalah Mamah kandungku semua baik-baik saja. Suatu hari nanti Anu akan bikin Mamah bangga. Nu akan jadi orang sukses dan akan bawa Mamah pergi dari sini."
Hati Mayang berdebar mendengar ucapan Anu. Dia tak sanggup membayangkan hancurnya hati Anu jika suatu saat nanti mengetahui bahwa dia bukan ibu kandungnya.
"Nu dengar kata Mamah sayang. Mamah dan Papah sangat menyayangi Anu. Anu mungkin merasa Papah gak sayang Anu, tapi sejatinya Papah sangat sayang Anu. Hanya saja Papah saat ini sedang sakit. Jadi Papah gak bisa dekat-dekat Anu dulu. Papah gak mau terjadi sesuatu sama Anu. Lagian mamah juga bukan nangis karena Papah. Mamah nangis abis nonton drakor. Adegannya terlalu menyedihkan. Mamah gak kuat lihatnya.".
"Oh iya lupa. Tadi tante Gendis ngajak kita jalan-jalan ke supermarket. Tante mau belanja buat oleh-oleh nenek nanti kalau mau pulang. Kamu ganti baju gih buruan!"ucap Mayang sembari mengusap air mata yang hampir jatuh. Secengeng itulah Mayang. Air matanya gampang sekali jatuh. Namun setiap kali ia mampu menyembunyikan air matanya.
***
Asam di gunung garam di lautan bertemu di penggorengan. Sama seperti Mayang dan Elang yang tidak sengaja bertemu di swalayan. Sebenarnya hanya Elang yang melihat Mayang sedangkan Mayang sibuk dengan belanjaannya. Elang berteriak memanggil dengan antusias tapi Mayang sama sekali tidak menanggapi. Terang saja Mayang diam saja karena Elang memanggil dia Gendis.
"Kak Gendis... Kak," teriak Elang girang.
Karena tidak juga mendapat tanggapan dia akan mendekati Mayang karena posisinya agak jauh. Namun sebelum dia melangkah dia sudah ditarik oleh seseorang.
"Mau kemana kamu? Kebiasaan, gak bisa banget lihat yang bening dikit."
"Eh Om Leo, bentar doang Om. Jarang-jarang Elang punya kesempatan ketemu nona peri?"
"Julukan apa lagi itu?"
"Julukan buat calon pacar, orangnya imut, lincah kaya Tinkerbell."
"Sadis juga kamu sekarang. Om sendiri baru pulang dari luar negeri dikacangin cuma buat calon pacar? Fine kamu Om coret dari daftar kartu keluarga."
"Dih Om lebay. Kalau aku dicoret Om gak punya ponakan yang unyu-unyu lagi. Yang bisa menangkis serangan wanita-wanita pengejar om-om kualitas super."
"Jeez!"
Hanya sesaat Elang ngobrol dengan Leo, adik ayahnya yang usianya hanya terpaut beberapa tahun tapi dia langsung kehilangan jejak Mayang. Daripada om dan ponakan, Elang dan Leo lebih terlihat seperti kakak adik. Selain jarak usia yang tidak begitu jauh mereka juga terlihat sangat akrab dan cocok.
Di tempat lain Gendis yang sejak tadi mendengar namanya dipanggil tanpa bisa melihat siapa yang memanggilnya mulai merasa parno. Tengok kanan dan kiri tapi tak melihat orang yang sekiranya dia kenal. Karena takut, dia menggamit tangan Mayang dan buru-buru mengajaknya pulang.
***
Setiap kali ibu Galang berkunjung maka Mayang dan Galang akan berakting seperti pasangan normal. Bertingkah laku layaknya suami istri yang lain termasuk tidur satu kamar. Meski berada satu ruangan mereka tetap tidur terpisah. Bukan kehendak Mayang tapi Galang. Dia tidak mau berada di sisi Mayang dalam jarak kurang dari satu meter.
Galang memandangi wajah polos istrinya yang terlelap. Dari sofa tempatnya berbaring dia bisa melihat istri kecilnya yang rupawan. Bertambah usianya semakin cantik wajahnya. Kecantikan yang anggun disertai sikap dewasa dan tak ketinggalan cerianya.
Wajar saja Elang yang jauh lebih muda terpesona olehnya. Berbeda sekali dengan dirinya sendiri yang terlihat kuyu dan rapuh. Terlebih dengan kedua kakinya yang sudah tidak berfungsi. Berdampingan dengan Mayang tidak akan ada yang menyangka mereka adalah pasangan suami istri.
Galang selalu berpikir ini adalah karma yang ia tuai karena menyakiti hati Mayang yang dulu masih naif.
Galang mengangkat tangannya dan mengarahkan jari-jarinya ke wajah Mayang. Memposisikannya seolah ia membelai wajah Mayang. Siapa sangka saat itu Mayang membuka matanya.
"Loh, Mas Galang bangun? Haus? Mau Mayang ambilkan minum?"
Galang tersentak ketika Mayang tiba-tiba bangun. Detak jantungnya berpacu dengan cepat seolah seribu kuda berlarian di dalam jantungnya.
"Kenapa ... Mas mimpi buruk? Mayang ambilkan minum dulu, ya?"
"Tidak usah," ucap Galang ketus dan berbalik memunggungi Mayang.
"Mas Galang tadi gak lagi mengagumi wajahku kan?"
Galang berbalik lagi menatap sinis Mayang. Dari tatapan matanya Mayang seakan bisa mendengar Galang bicara,"heh pede banget kamu. Memangnya kamu pikir kamu ini cantik apa? Ngaca!"
"Kagum juga gak apa-apa, Mas. Istrimu emang nggemesin. Kalau jemput Anu aja suka banyak yang ngira aku kakaknya. Awalnya ibu-ibu di sekolah gak ada yang percaya aku ibunya, mereka ngotot kalau aku ini kakaknya Anu."
"Memang kamu bukan ibunya," ucap Galang datar.
Skak mat!
Mayang seketika mengunci mulutnya rapat-rapat. Dia sudah hapal betul tabiat suaminya. Seharusnya dia tidak mengajak suaminya bercanda karena pasti akan berakhir derita.
Galang sadar ucapannya pasti melukai istrinya tapi dia tidak menyesal mengatakannya. Istrinya terlalu baik untuk menjadi ibu dari anak seorang penghianat.
Suasana kamar yang awalnya sunyi berubah semakin mencekam. Mayang menggigit bibirnya mencoba menahan bulir bening yang mengancam akan tumpah.
"Mas ... tolong jangan ucapkan hal seperti ini lagi. Aku gak mau kalau nanti Anu sampai tahu. Aku mohon ini kali terakhir Mas mengucapkan hal ini!"
Galang tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia kembali membalikan wajahnya menghadap sandaran sofa, memunggungi Mayang dan bersikap seolah tak terjadi pembicaraan apapun.
Mayang kembali tidur, menutupi dirinya dengan selimut dari ujung kaki sampai ke ujung rambut. Dia menumpahkan air mata yang sejak tadi ia tahan. Perempuan itu menangis menumpahkan semua yang ia pendam tanpa suara. Hanya bulir-bulir air mata yang terus membanjiri pipinya. Rasanya sungguh menyakitkan menangis diam-diam seperti ini.
'Aku tahu aku bukan ibunya, tapi bisa ga sih ga perlu membahas hal itu lagi dan lagi?'
Di sisi lain Galang memejamkan matanya namun tidak bisa tertidur. Alisnya berkerut dalam menandakan beban pikiran yang berat. Jika menangis tanpa suara sudah sangat menyiksa maka menangis tanpa air mata jauh lebih menyayat jiwa.
Tidak bisa mengeluarkan emosi yang dirasakan membuat Galang teramat putus asa. Istri kecilnya ... apa yang harus dia lakukan. Dia tidak ingin menyakitinya dengan terus mempertahankannya. Namun dia belum bisa untuk melepaskan Mayang. Dia belum bisa dan mungkin tidak akan pernah bisa.