Bab 1

Gadis itu berlari-lari kecil ketika menyeberangi jalan menuju hotel Tree Bayana di ujung persimpangan Caya Street. Kesibukan pejalan kaki yang berlalu lalang di malam hari itu tampak seirama dengan aktifitas malam para pedagang di sepanjang pertokoan menuju tempat kerja barunya. 

Mutasi kerja yang dibencinya perlahan menyatu dengan ingatan wajah orang tuanya. Mau tak mau ia harus bersedia menerima perubahan yang sangat tiba-tiba. Sebulan yang lalu, manager hotel cabang memberikannya sepucuk surat perintah kepindahan tugas ke kantor pusat. Ia merasa berat karena harus berpisah sekali lagi dengan orang tuanya, setelah dulunya berpisah saat masa kuliah. 

Tak dipungkiri, hati kecil gadis berusia dua puluhan itu merasa tidak nyaman harus bekerja di ibukota, yang tentu saja atmosfernya berbeda dari pedesaan tempat ia dibesarkan. Sebagai anak satu-satunya, berbakti dari jauh juga tidak semenyenangkan berbakti dalam jarak dekat.

Kakinya tepat melangkah masuk pintu lift yang hampir tertutup. Ia terengah-engah berdiri di depan pintu bahagian nomor lift. Tangannya menyeka keringat di dahi, satunya lagi menopang tubuh pada pegangan lift. Ia meringis menahan ludah. 

Jarak kosannya dengan hotel tidaklah jauh. Tetapi, informasi yang telat membuatnya harus bekerjaran dengan waktu. Kabar tentang presiden perusahaan yang akan berkunjung besok pagi-pagi membuatnya kewalahan. Seharusnya malam ini ia bisa beristirahat sejenak, karena dua malam sebelumnya berturut-turut harus menggantikan staf yang libur mendadak.

Ia tidak habis pikir, hotel sebesar itu kekurangan staf. Tugasnya di ruang sekretaris perhotelan harusnya sama dengan dua rekan sejawatnya, tetapi ia selalu harus menggantikan kekosongan shift malam. Namun begitu, ia merasa lebih diandalkan karena di setiap acara penting pejabat ia lebih sering menemani manager dibanding rekan lainnya.

Sebagai bagian staf kesekretariatan di hotel megah di ibukota, ia merasa bangga meski mutasi ke tempat kerja itu bukanlah impiannya. Impiannya hanyalah hidup sederhana di sisi orang tuanya di desanya yang damai. 

Ia lupa menekan tombol lantai yang hendak dituju ketika pintu lift terbuka dan menunjukkan lantai lima-puluh-dua. Ah! Harusnya ia turun di lantai dua! Terpaksa ia menunggu keluar dua tamu dari lift, menunggu pintu tertutup lalu menekan tombol dua. 

Pria berpakaian kaos long-sleeved abu-abu keluaran Dolce Gabbana yang baru saja keluar dari lift itu berdiri menghadap pintu. Pria lain di belakangnya berdiri dengan siaga. Pria itu sedikit mendongak, merapatkan kedua lengan ke dalam saku celana jeans custom Escada. Ia menunggu beberapa detik. Angka berada di nominal dua! Ia tersenyum, lantas beranjak pergi diikuti ajudannya. 

Ia melangkah ke kamar yang telah dipesan sekretaris atas nama kenalannya. Segera ia meraih Galaxy ZFold dari sakunya dan menerima pesan masuk. Ia kembali tersenyum, lalu menutup smartphonenya. Ia memberi kode pada ajudannya dan dibalas dengan anggukan hormat sebelum beranjak keluar. 

Ia menuju sisi jendela yang menampilkan view malam kota Kuala Lumpur. Dua menara di hadapan sana menjadi teman senyumnya malam itu. Ia masih belum merasa mengantuk setelah seharian perjalanan dari Jakarta dan KLIA. Titik terbang yang ditujunya kali ini sepertinya menghilangkan rasa penatnya dalam beberapa bulan ini. 

Bergelut dengan setumpuk masalah anak cabang perusahaan membuatnya harus terbang ke sana dan kemari. Ia tiba di perusahaan terakhir, yang menjadi rute perjalanan bisnisnya setelah menerima dekrit sebagai pewaris utama perusahaan papa angkatnya itu, diam-diam. Hanya ingin melepas penat lebih lama dari biasanya tanpa ditemani manusia-manusia berwajah dusta. 

Ia sendiri sama sekali tidak menyangka kepercayaan Alex, papa angkatnya, padanya sangat besar. Sekaligus mengundang keirihatian Theo, anak kandung papa angkatnya. Fasilitas yang diberikan Teguh sama seperti yang didapat Theo. Pendidikan di London juga di tempat paling mahal. 

Ia merebahkan tubuhnya ke atas bean bag, merentangkan seluruh anggota tubuh dengan lega, menatap langit kamar suite. Dengan atmosfer ketenangan, ia menarik nafas dalam dan pelan hingga saraf mata lelahnya yang tegang mulai mengendur. Matanya perlahan menutup.

Terlintas segurat wajah dalam diamnya. Wajah gadis yang berlarian bercanda di taman SnowWorld di Genting Highlands bersama teman-temannya. Masa reuni sebelum ia ke London melanjutkan studi magister. Ia belum pernah melihat wajah cantik bahagia seorang perempuan bukan-penampilan-glamor dan tidak-populer tanpa riasan kemunafikan. 

Wajah manis putih gadis itu beralih menjadi wajah gadis di lift. Hanya menatap punggungnya yang sedang menormalkan pernapasan dan membetulkan sandaran berdiri karena kelelahan, ia sangat yakin kedua gadis dalam bayangannya adalah orang yang sama. Gadis bernama Siti, junior di kampusnya saat menempuh studi sarjana di Kuala Lumpur. 

Dalam tidur rileksnya yang sekejap itu, ia lagi-lagi tersenyum. Tiba-tiba, Galaxy ZFold mengalunkan irama panggilan masuk. Ia membaca sekilas nama yang tertera, dan meletakkannya ke  atas meja kecil di sisi kirinya tanpa berniat menjawab panggilan itu. Ia kembali menidurkan tubuh yang meronta-ronta dilepaskan hormon kortisol sedari tadi.

Panggilan masuk kembali mengalun. Namun, panggilan berulang dari perempuan yang disebut tunangan Theo itu tidak bisa masuk ke alam mimpinya walau bagaimanapun. Tunangan Theo selalu mengusik pria itu dan mengejarnya tanpa sepengetahuan Theo. Meski selalu menghindar, ada saja cara untuk mengganggu pria tampan berusia tiga puluhan itu.  

Siti, berwajah asia dengan rambut mulletnya, berdiri di depan pintu kamar suite menunggu dibuka. Cukup lama ia menunggu. Tapi ia memutuskan untuk tetap berdiri di sana. Sudah tiga kali ia menekan bel, tetapi pemilik kamar belum membuka pintu. Sejenak ia ragu, apa benar pria berseragam hitam tadi memintanya ke kamar ini. Apa mungkin salah kamar. 

Ia menarik napas pelan, sebelum menekan bel sekali lagi dan memutuskan pergi. Beberapa detik kemudian, pintu suite terbuka. Pemilik kamar berdiri sembari memijit matanya perlahan dan berdiri di depan pintu tanpa melihat Siti.

Siti terperangah dengan mulut terbuka. Matanya berkedip-kedip menatap pria tampan di hadapannya. Belum pernah ia bertemu dengan wajah anggun seorang pria seperti sekarang ini.

Tangan pria itu merentang seperti meminta sesuatu. Siti tersadar, segera menyodorkan bungkusan plastik di tangannya. Tetapi, pria itu tidak menerima bungkusan plastik dan malah membuka pintu kamar lebar. Siti berdiri bingung. Terdengar suara dari dalam. 

Ia beranjak masuk ke kamar mandi, menyiapkan air di bath tub lalu meneteskan aroma esensial ke dalam air dengan rempahan bunga. Lalu ia menyemprotkan spray aroma esensial lain ke ruangan tempat tidur. Lalu beranjak keluar kamar. 

Pria itu memperhatikan Siti dengan seksama. Tak beda jauh dengan pertemuan masa reuni kuliah, cantiknya masih sama. Ia lagi-lagi tersenyum.

Siti turun ke lobi dan menemui manager yang sedari tadi nampak gusar. Berkacak pinggang selama dua jam ini. Sesekali mengusap-usap rambut ke belakang bergantian mengusap wajah dan dagu, tetapi tangan tetap berkacak pinggang. Bolak-balik sepanjang sofa lobi.

Bab 2

Rudi, manager hotel, merasa sedikit lelah dengan persiapan penyambutan esok pagi. Ia belum pernah melihat rupa bos besarnya yang baru dilantik itu. Takut berbuat silap di hari pertama perkenalan.

Dua staf kesekretariatan yang duduk memakai baju piyama merengut mengantuk. Kepala divisi dan kepala koki juga terkantuk-kantuk duduk menunggu arahan manager. Beberapa staff setiap divisi juga bolak-balik memberikan laporan progress persiapan. 

Siti dengan seragam dinasnya duduk berbaur setelah turun dari lantai lima-puluh-dua. Ia terlihat agak pucat, memijit tengkuk yang terasa mau jatuh. Ia berusaha untuk tidak tidur. Staff yang bertugas shift malam itu harusnya yang bekerja tetapi sedang sibuk dengan persiapan penyambutan. 

Akhirnya, persiapan selesai dan mereka bubar. Rudi kembali mewanti-wanti agar tidak terlambat besok. Ia lalu menatap Siti yang sedang duduk membaca beberapa berkas yang masih belum tertangani sembari menghela napas, berat. Berharap besok lancar. 

Paginya …

Siti merapikan beberapa berkas dokumen yang tergeletak di atas meja. Ia juga merapikan sejenak rambut mullet-nya yang hanya diberi dry shampoo. Ia masih belum sempat keramas setelah tiga hari berturut-turut harus menjalani shift malam. 

Ia bergegas menuju lift hendak ke lobi menunggu tamu agung yang dikabarkan akan tiba pagi-pagi sekali. Saat pintu lift akan menutup, tangannya mencegah dan pintu kembali terbuka. Ia merapikan rambutnya dan melangkah masuk dengan elegan. Setelah masuk, ia merapikan seragamnya dan agak memijit kepalanya. Hentakan larian tadi agak berat di kepalanya.

Seseorang di sampingnya menegur, bertanya hendak ke lantai berapa. Siti berpaling ke arah penanya. Saat akan menjawab, ia terperangah. Pria itu dari kamar suite semalam. Alis terangkat yang bertengger di wajah elegan pria itu semakin memukau Siti.

“Emm … lobi lounge,” sahut Siti tanpa sadar. Wajah pria itu semakin lekat, mempertanyakan lobi yang mana. Namun, pria itu teringat. Lobi yang dimaksud gadis di hadapannya pasti lobi yang berada di area pintu utama masuk hotel. Pria itu tersenyum memperlihatkan sederet gigi putih bersihnya, lalu menekan tombol G. 

Lift tertutup dan segera menuruni ruang listrik dan tiba di ground floor. Siti melangkah keluar dari lift namun masih belum memalingkan wajahnya meski pria itu sedang menutupi sebagian wajah dari hadapan lift. Di luar sana tim penyambutan tamu agung hotel sudah standby sedari pukul enam. Rasa kantuk dan dingin masih menggigit.

Siti mendengar suara manager yang memanggilnya. Sejenak ia berpaling dan menyahut. Namun pintu lift sudah tertutup dan mata Siti mengarah ke atas pintu yang menunjukkan pintu berhenti di basement hotel.

Suara manager yang tidak sabaran membuat Siti tersadar. Ia bergegas menuju pintu utama hotel dan bergabung bersama dengan yang lain. Ia berdiri di barisan penyambutan karpet merah.

Pikiran Siti masih teringat pada pria tadi. Tadi malam lewat dini hari, pria itu meminta pihak hotel untuk menyediakan makan malam. Hal yang sangat memusingkan! Restoran hotel dan lobi lounge tentu saja sudah tutup. Akhirnya ia terpaksa keluar menuju supermarket membeli makanan siap saji dengan beberapa sayur dan telur. Pria itu tidak terima. 

“Kenapa tidak pesan saja di restoran luar,” ujarnya datar. Siti yang masih terkantuk-kantuk seperti terketuk di kepala dan ia menepuk jidat. Iya, benar! Kenapa tidak pesan di aplikasi online saja!

“Saya juga belum makan, Tuan. Sisanya boleh berikan untuk saya,” sahut Siti berkilah. Alasannya memang masuk akal tapi itu bukan dari bagian pelayanan hotel untuk tamu. Pria itu mengiyakan. Ia memberikan dapur untuk Siti memasak.

“Aku harap masakanmu tidak membuatku makin tidak bisa tidur,” ucap pria itu disambut acungan jempol oleh Siti.

Siti segera memasak dan menghidangkan dua cup besar mie instan rasa soto lengkap dengan telur ceplok dan sayur mayur. Pria itu duduk di hadapan dua cup dan memandang Siti bolak-balik. Siti tersenyum menyeringai. Segera saja ia meraih cup miliknya dan memakannya dengan lahap. Ia belum makan dengan benar semenjak tiba tadi.

Pria itu menatap Siti dengan lekat lalu tersenyum sumringah. Ia ikut mengambil cup miliknya dan mulai menyantap dengan perlahan. Rasa yang nikmat. Teringat akan makanan mewah yang ia nikmati selama ini. Tidak sesedap yang disajikan malam ini.

Keduanya selesai melahap dan kedua cup kosong. Siti tertawa renyah menatap ke arah tamunya itu. Kemudian, ia meminta izin membersihkan meja dan keluar sembari membuang sampah bekas makanan. Ia mengucapkan terima kasih mendalam, ia berharap tamunya tidak mengajukan komplain atas pelayanan sajian yang diberikan. 

Pria itu tersenyum mengiyakan. Ia hendak memberikan tip kepada Siti namun Siti bergegas pergi tanpa berniat untuk berlama-lama lagi. Ia sangat berharap tamunya tidak mengajukan komplain, itu saja!

Pagi ini, penyambutan tamu yang terkesan sangat meriah tampak membosankan. Sudah berlalu satu jam lebih, tetapi orang yang ditunggu belum datang juga. Para staf tampak mulai gusar. Mereka lelah berdiri lama dan beberapa ada yang menepi ke pintu masuk dan tangga. 

Rudi gusar dan berkali-kali melihat ke arah jam tangannya. Ia menerima pesan masuk. Ia terlihat tambah kesal setelah membaca pesan. Ia berteriak dan memerintahkan para staf untuk mengecek kamar hotel.

“Bos baru kita menginap di hotel semalam. Kenapa kalian tidak memberitahuku?!” teriak Rudi keras. Para staf keheranan. Beberapa dari mereka berlarian ke dalam dan berencana mengecek nama dalam daftar tamu. Tetapi, mereka tidak menemukan nama Reza Managung!

Siti masuk ke dalam dan duduk di sofa lobi. Ia merasa hendak pitam. Ia bergegas meraih gula sachet di saku jasnya. Ia mengulum pelan. Hipoglikemi muncul di saat seperti ini. Ia menundukkan kepala merasakan setiap saraf perlahan mengendur. Kepalanya mulai tenang.

Siti mengangkat kepalanya dan melihat kerumunan di teras hotel. Sepertinya bos besar sudah tiba! Bos baru diangkat itu memang belum pernah diketahui siapapun. Siti berdiri perlahan, melangkahkan kaki ke tempat barisan penyambutan. 

Namun, belum tiba ia di teras sana, di pintu luar hotel ia berhenti lagi karena matanya terasa buram dan kepala agak berkunang. Genggaman tangannya menahan rasa sakit. Bekas gula sachet di tangannya teremas dengan kuat. 

Dion, sekuriti hotel, yang bertugas di depan pintu pagi itu menghampirinya dan berusaha untuk memapahnya. Siti menahan tubuh berdiri dengan bantuan Dion. Ia menghela napas pelan dan kembali mengulum gula pocket yang kedua. Biasanya satu sachet cukup, mungkin ini sudah sangat parah. 

Siti melepas tangan sekuriti perlahan. Ia merapikan rambut dan jasnya sebelum mengucapkan terima kasih atas bantuan Dion dan melangkah ke teras hotel. 

Tampak Rudi tersenyum, tertawa, bicara sambil tertawa lagi, menggoyang-goyangkan tangan bos besar, lalu mempersilakan rombongan melangkah ke dalam. 

Siti tidak sadar berjalan menghadap rombongan yang sedang berjalan ke arah pintu masuk hotel. Di atas karpet yang sama, Siti berjalan dengan mata yang semakin buram. Rudi dan para staf berseru keras, tetapi tampak Siti tidak mendengar. Ia tengah sibuk memapah diri sendiri.

Bos besar berdiri tepat di hadapan Siti. Siti yang masih meraba langkah dan menyadari kakinya di atas karpet, berhenti. Ia menatap sepasang sepatu pria di depannya. Ia terkesiap! Segera ia mengangkat kepala.

Bab 3

Siti tertegun. Pria di hadapannya adalah yang makan malam bersamanya tadi malam di kamar suitenya. Siti tersenyum meringis. Tadi mereka juga berjumpa di lift. Siti makin tidak karuan. Apa yang harus ia lakukan.

Rudi menghampiri bos besar, berusaha menjelaskan apa yang dilakukan Siti tidak bermaksud kesalahan dan menyuruh Siti untuk meminta maaf. Siti terperangah. Bos?!? Bos yang ditunggu-tunggu dalam persiapan satu malam saja! Matanya terbelalak lalu berusaha bersikap normal.

Siti meminta maaf pada bos besar dengan sedikit membungkuk. Hipoglikeminya juga pergi. Ia sudah bisa berpikir jernih. Tapi apa yang harus ia lakukan.

Bos tersenyum. Senyumnya disambut histeris oleh barisan staf wanita yang berseru kegirangan melihat ketampanan bos besar mereka.

Pria itu makin tersenyum lebar dan malah mengambil sapu tangan di saku jas Rudi dan menyerahkannya ke Siti. Siti mengangkat kepalanya dan melihat sapu tangan di tangan bos besar. Ia menatap ke arah mata bos besar yang pernah ia sajikan dua cup mie instan itu. Dua bola matanya seolah menenggelamkan Siti ke lautan samudera, memeluknya dengan kehangatan.

Siti hanya berdiri tegak. Lama, akhirnya pria itu mendekatkan sapu tangan itu ke tepi bibir Siti. Menyapu bubuk tipis yang menempel di sekitar bibirnya. Suara histeris barisan staf wanita kembali menyala. Rudi menutup telinga dan berteriak ke mereka untuk diam.

Siti tersadar dan meraih sapu tangan lalu menyeka sendiri sisa gula yang menempel di mulutnya. Mukanya memerah. Telinganya memerah. Ia merasa sangat memalukan. Tetapi pria itu hanya tersenyum, kali ini ia tersenyum jahil, senang melihat tingkah gadis di hadapannya sekarang. 

Ia melihat ke arah saku jas kanannya. Remahan gula juga menempel di sana. Ia makin tersenyum yang senyumannya makin menaikkan volume histeria dari para staf wanita. 

Matahari sudah semakin naik ke singgasana. Tapi suasana di teras hotel bercampur panas dan dingin. Suasana penyambutan bos besar yang baru hari itu terasa meriah oleh tingkah tak terduga bos besar. 

Rudinmenerima pesan masuk dan tersenyum menyeringai. Ia tampak puas dengan pesan yang masuk dan melanjutkan melayani bos besar, mengajaknya untuk masuk ke dalam.

Siti berdiri sendiri sembari menyeka bibir dan mengibas-ngibas saku jas, diiringi tatapan iri deretan staf wanita. Dion kembali menghampiri Siti dan mengingatkan untuk membersihkan diri di kamar staf terlebih dahulu. Siti membalas dengan senyuman, merasa berterima kasih.

**

Siti mendapat cuti panjang. Ia tidur sepanjang hari itu. Saat ia bangun, ia mendapati tiga ratus panggilan tidak terjawab dan lima puluh pesan masuk. Ia mengerjap matanya perlahan dan bangun dari tempat tidur. Ia membersihkan diri sejenak, agak lama, di kamar mandi.

Siti keluar dengan wajah segar. Senyumnya terasa puas setelah tidur dari malam hingga ke siang hingga masuk malam lagi. Ia menuju dapur dan bersiap memasak menu udang asam manis. 

Sesaat ia memulai memasak, terdengar bunyi bel. Beberapa kali bunyi bel terdengar tidak sabaran. Siti meninggalkan dapur dan menuju pintu. Ia melihat dari lubang kecil dan tidak mendapati siapapun. 

Siti berpikir sejenak. Ia lalu kembali ke dapur dan melanjutkan memasak. Setelah hidangannya selesai, ia duduk menghadap televisi yang menyiarkan acara megah peresmian hotel cabang di dua tempat sekaligus. Ia pun makan dengan lahap hingga habis dua mangkuk nasi penuh. 

Samsung Galaxy S24 Ultra kembali mengalunkan nada panggilan masuk. Siti beranjak dan meraih smartphonenya. Ia mengecek panggilan dan mulai membaca pesan masuk. Tidak ada satupun yang menanyakan kesehatannya. Mereka hanya perlu jawaban atas dokumen dan file yang berkaitan perusahaan. Rudi pun hanya menyuruh untuk segera masuk kerja, jangan beralasan sakit untuk cuti. 

Siti menghela napas selesai meletakkan Galaxy S24 Ultra ke atas meja. Ia mengarahkan pandangan ke tabung kaca yang memperlihatkan beberapa orang diwawancara. Hingga kamera bergoyang berpindah arah ke kumpulan berjas hitam yang memasuki panggung utama. Di sana, pria yang memberinya izin cuti berdiri di atas mimbar dan berpidato. 

Pria itu, bos barunya, memintanya ke ruangan setelah acara penyambutan. Siti bercermin dan merapikan jasnya sebelum menghadap Reza Managung. Ia masuk dan berdiri di tengah-tengah pejabat hotel yang sedang duduk di sofa yang mengelilingi sudut ruangan. Ia membaca nama yang tertulis di meja bos barunya. Tertera nama direktur yang sekarang duduk di antara sofa Chesterfield. 

Siti menunduk hormat dan seisi ruang diam hening, menunggu bos besar berbicara. Rudi memulai pembicaraan dengan tawa terkekeh. Ia memuji Siti dengan sangat baik. Integritas dan kinerja Siti dipaparkan dengan bumbu-bumbu pujian berlebihan. 

“Ambillah cuti untuk dua minggu. Biarkan yang lain bekerja. Tidak ada pemotongan gaji.” Rudi yang sibuk berbicara tadi terdiam dan menatap ke arah bos besarnya dengan kaget. Lalu berusaha menjelaskan kalau hal itu tidak perlu. 

Pria bernama Reza itu melanjutkan perbincangan dengan direktur hotel. Ia tidak mau mendengar apapun dari manager hotel itu. Ia lalu mengibaskan tangannya saat Siti menunduk, menyuruhnya keluar dari ruangan. 

Siti sudah mencapai pintu saat Rudi memanggilnya menyuruhnya menyusun lembaran dokumen yang dimintai direktur. Direktur tampak tidak senang dengan sikap Rudi dan berdehem mengingatkan. Rudi terkekeh, malu. Ia pun menuju meja berisi dokumen yang sudah ditata Siti tadi pagi. 

Siti melihat kibasan tangan direktur dan bergegas keluar. Reza melirik kepergian gadis itu dengan senyum sembari mengetuk-ngetuk jari ke lengan sofa. 

Saat ini, bel pintu terdengar hanya sekali. Siti beralih dari menatap wajah bos barunya di televisi ke depan pintu. Ia tidak berniat beranjak sama sekali. Dalam seminggu ini bunyi bel tidak berhenti. Ia tidak berniat membuka dan sekali pergi keluar hendak ke supermarket, ia mendapati banyak bingkisan dan bungkusan di depan pintu. Ia meminta sekuriti apartemen untuk mengambilnya dan membaginya ke siapa saja.

Sekuriti memperlihatkan hasil bingkisan dan bungkusan yang ia ambil selama itu, ia tertawa seakan mendapat jackpot. Semua benda berisi makanan dan bunga yang dipajang jadi pengharum ruang 3x4 meter tempatnya bertugas itu.

Siti beranjak dari tempat duduknya menuju pintu dan di balik pintu ia melihat Siska dan Yunda bersama dua teman lainnya. Mereka tampak sibuk dengan bingkisan di depan pintu. 

Pintu terbuka. Siti tersenyum menyambut koleganya. Dua kolega yang pertama adalah teman sejawat di ruang manajemen hotel. Dua lainnya staf divisi lain. Mereka mengangkat beberapa bungkusan di depan pintu dan membawanya masuk. 

Siti mempersilakan tamunya duduk. Ia sedang menyeduh teh saat terdengar suara histeris dari arah televisi. Ia membawakan empat gelas teh dan dua kotak cemilan. Tetapi ia melihat beberapa bungkusan snack sudah dibuka dari bingkisan depan pintu tadi.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED