"Liat liat Tuan dan Nyonya Dawson sudah datang." Ucap salah satu wartawan yang melihat kedatangan mobil mewah berikutnya yang akan melewati red carpet bagi pasangan pengusaha sukses dan terkenal di negara X tersebut.
Setelah pintu mobil penumpang berhenti tepat didepan red carpet tersebut, keluarlah seorang pria yang begitu tampan dengan diikuti oleh sang wanita yang tak kalah mempesona dengan menggunakan gaun tanpa lengan berwarna gold, yang begitu pas di tubuhnya, warna kulitnya yang putih terlihat begitu bercahaya ketika terus menerus ditembaki oleh lampu flash kamera daripada wartawan.
Keduanya tampak begitu harmonis dengan sang pria yang memegang tangan wanitanya sembari berjalan di red carpet tersebut dengan tidak lupa melemparkan senyum kepada setiap wartawan yang memanggil manggil nama mereka.
Vincent Dawson dan Audrey Dawson. Pasangan yang begitu sempurna dan harmonis bagi semua orang yang melihat, mendengar dan mengetahui pasangan itu. Sejak keduanya melangsungkan pernikahan yang begitu mengejutkan publik Empat tahun lalu, tak pernah sekalipun keduanya diterpa berita miring. Bahkan mereka berdua dijuluki sebagai business couple goals terbaik di negara X tersebut. Benar benar pasangan yang sempurna, tak hanya sempurna secara finansial, namun kisah cinta mereka pun terlihat begitu sempurna. Begitulah yang dipikirkan oleh setiap orang yang memandang pasangan itu.
Namun siapa sangka ternyata tidak semua yang kita lihat indah ternyata benar benar indah. Pasangan tersebut begitu banyak menyimpan rahasia dari banyak orang, Vincent Dawson pengusaha sukses terkenal dan juga terkaya di negara X tersebut menikah dengan Audrey Xavier yang kini berganti menjadi Audrey Dawson hanya untuk perjanjian bisnis semata.
Keduanya terikat hanya sebatas nama baik untuk meraih keuntungan masing-masing. Semua pertunjukan Harmonis dan romantis yang mereka tunjukkan selama empat tahun ini hanyalah akting belaka.
"Terus tunjukkan senyummu pada mereka." Bisik Vincent dengan tajam pada Audrey.
Saat ini keduanya tengah berpose di depan para wartawan sebelum mereka memasuki gedung tersebut. Terlihat Vincent merengkuh pinggang Audrey dengan tetap mempertahankan senyum ramahnya.
"Aku tau. Kau tidak perlu memberitahukan hal sekecil itu padaku, empat tahun sudah aku menjalani peran ini, tentu saja aku tau apa yang harus aku lakukan." Balas Audrey dingin, setelah mereka pergi meninggalkan wartawan yang telah mengambil begitu banyak foto mereka.
Saat mereka telah memasuki gedung tersebut, banyak pasang mata yang menyaksikan kedatangan pasangan tersebut, keduanya menatap takjub pada mereka berdua yang malam ini tampak begitu bercahaya. Keduanya mulai berjalan menuju meja yang telah dipersiapkan.
"Selamat malam tuan dan nyonya Dawson, senang rasanya melihat anda datang dengan begitu memukau malam ini." Ucap salah satu rekan bisnis Vincent saat keduanya telah duduk di meja tersebut.
"Selamat malam juga tuan Ronald, namun Saya rasa anda dan istri anda juga tampak sangat memukau malam ini, kalian tampak awet meskipun telah berumur seperti sekarang. Bukan begitu sayang?" Ucap Vincent sembari meminta dukungan dari Audrey atas pujiannya pada Tuan Ronald serta istrinya.
Audrey pun mengangguk sembari tersenyum manis pada Vincent sebelum bersuara. "Kamu benar, saya malah merasa lebih kagum pada anda Tuan Ronald serta Nyonya Ronald. Dibandingkan kami berdua, kalian masih jauh diatas kami, kami masihlah pasangan muda yang belum mempunyai banyak pengalaman seperti kalian."
"Sedangkan kalian, kalian telah melewati banyak hal sampai kalian berusia seperti sekarang, mempunyai anak dan cucu serta hidup bahagia di masa tua kalian kini. Saya justru begitu takjub pada kalian." Ucap Audrey tulus.
Ya, gadis itu memang begitu senang melihat pasangan paruh baya tersebut, keduanya terlihat apa adanya, meskipun mereka bergelimang harta namun keduanya tidak sombong, keduanya juga benar benar harmonis, namun harmonis yang sesungguhnya, bukan seperti dirinya yang hanyalah sandiwara semata. Cinta dan ketulusan antar keduanya begitu terpancar dari sinar mata pasangan paruh baya tersebut.
"Oh ya ampun nyonya Dawson, anda begitu merendah sekali, namun jujur, setiap melihat kalian aku teringat dengan masa muda ku dengan suamiku ini, rasanya benar begitu bahagia." Balas Nyonya Ronald.
"Namun Nyonya Dawson, mengapa anda belum memiliki anak di usia pernikahan anda yang telah menginjak empat tahun ini?" Tanya seorang wanita yang juga duduk di meja tersebut tiba-tiba kepada Audrey.
Tak berselang lama setelah pertanyaan itu dilontarkan, berbondong-bondong beberapa orang yang dominannya adalah wanita kembali melontarkan pertanyaan yang sama karena Audrey yang tak kunjung menjawab pertanyaan tersebut. Hingga akhirnya pertanyaan terakhir muncul kembali.
"Atau mungkin-- Nyonya Dawson mengalami kemandulan??" Tanya wanita itu lagi, yang tadi telah terlebih dahulu menanyakan perihal tersebut.
Deg....
"Saya--"
"Tentu saja tidak Nyonya Earl. Bagaimana mungkin kalian, khususnya anda berbicara seperti itu?" Tanya Vincent yang kini terlihat dingin pria itu menatap tajam pada wanita yang telah melontarkan pertanyaan tadi pada Audrey.
Wanita tersebut pun langsung gugup seketika, setelah Vincent menatapnya seperti itu. "Saya-- saya bertanya hanya sekedar bertanya biasa saja Tuan Dawson, tidak ada unsur lain." Ucap wanita itu berkilah.
"Saya harap anda dan kalian semua tidak perlu terlalu ikut campur dengan urusan pribadi seseorang, karena itu begitu menyinggung. Tak sepantasnya pertanyaan seperti itu dilontarkan, apalagi di depan khalayak umum seperti ini." Ucap Vincent lagi dengan masih mempertahankan nada dinginnya.
Tuan Ronald dan nyonya Ronald yang melihat kondisi di meja itu berubah menjadi mencekam pun akhirnya memutuskan untuk kembali bersuara.
"Hahaha, itu benar sekali tuan Dawson. Anda benar benar keterlaluan nyonya Earl, itu adalah urusan pribadi mereka, mengapa anda harus repot repot mengurus mereka?" Ucap tuan Ronald.
"Kau benar suamiku, nyonya Earl, lain kali tolong jangan berbicara tentang hal seperti itu, ataupun hal hal lainnya yang begitu pribadi. Karena itu sangatlah tidak sopan, biarlah itu menjadi urusan pribadi mereka." Ucap Nyonya Ronald menimpali Ucapan suaminya tadi.
"Bukan begitu nyonya Dawson?" Tanya nyonya Ronald lagi untuk meminta persetujuan Gadis itu.
Audrey pun mengangguk kecil sembari tersenyum tipis. "Anda benar nyonya Ronald."
Nyonya Earl yang akhirnya kepalang malu akibat mendapatkan teguran dari Vincent serta pasangan Ronald pun akhirnya memutuskan untuk meminta maaf pada Audrey. Dia mau tidak mau harus melakukan hal itu, daripada nanti harus mendengar kabar kebangkrutan perusahaannya.
Sejujurnya, wanita itu sendiri melakukan hal itu hanya untuk menjatuhkan pasangan tersebut di depan orang banyak, dia begitu iri melihat kemesraan dua orang itu, tidak seperti rumah tangganya yang lebih sering mendapatkan berita miring. Namun sayang, dia malah terperangkap dalam jebakannya sendiri.
"Aku- aku minta maaf nyonya Dawson. Aku hanya menunjukkan kepedulian ku saja, aku tidak bermaksud apapun padamu." Ucap wanita itu dengan sedikit gugup.
"Baiklah Nyonya Earl. Saya harap lain kali anda tidak melakukan hal seperti ini lagi." Ucap Audrey dengan datar pada wanita itu.
Setelahnya Vincent dan Audrey kini memutuskan untuk diam dan tidak lagi berkeinginan untuk mengobrol bersama dengan mereka yang ada di meja tersebut. Setelah peristiwa barusan, keduanya tidak memiliki mood yang bagus lagi untuk bercengkrama dengan orang orang itu. Sebagian besar orang orang disini hanya ingin menjatuhkan satu sama lain, sama halnya seperti yang mereka alami barusan.
Bersambung.....
Tepat pukul sepuluh malam Audrey menginjakkan kakinya di kediamannya bersama dengan Vincent. Rumah itu terlihat sepi, hal itu sendiri dikarenakan Vincent yang memang sejak awal telah mengatakan pada dirinya bahwa pria itu tidak suka dengan keramaian, dia benar benar mengutamakan privasinya.
Bahkan dirumah ini hanya ada dua Pelayan, dua supir, serta dua satpam yang bertugas, semuanya telah diatur sedemikian rupa untuk mengurusi rumah mewah dengan tampilan yang begitu modern ini.
Namun meskipun demikian, setiap Audrey menginjakkan kakinya dirumah ini, gadis itu hanya merasakan sepi dan mencekam. Setiap pukul sembilan malam, pelayan di rumah itu akan beristirahat di rumah khusus yang telah disiapkan di belakang rumah utama.
Saat Audrey telah menginjakkan kakinya dilantai dua, saat dia melewati salah satu pintu kamar menuju kamarnya, dia mendengar suara menjijikan dari salah satu pintu tersebut. Spontan Gadis itupun langsung tersenyum sinis ketika mendengar suara itu. Tak ingin ambil pusing, dia pun langsung bergegas kembali melangkahkan kakinya menuju kamarnya sendiri.
Sesampainya dikamar, gadis itu langsung mengunci pintu kamar tersebut dan memutuskan untuk segera membersihkan tubuhnya. Hari ini dia benar benar lelah, dia adalah seorang dokter bedah di salah satu rumah sakit terkenal di negara X tersebut.
Sebelum dia menikah dengan Vincent, tidak pernah ada yang tau bahwa dia adalah putri dari seorang pengusaha yang juga cukup sukses di negara tersebut. Meskipun tidak masuk ke dalam sepuluh kategori pengusaha sukses seperti Vincent, namun tak seorangpun yang tak mengenal ayahnya Andrew Xavier.
Kini ayahnya sendiri telah beralih menjadi seorang politikus sekaligus wali kota di kota A tersebut, sudah empat tahun ayahnya menjabat, dan tahun depan adalah tahun terakhir ayahnya untuk mengemban jabatan tersebut. Entahlah jika nantinya ayahnya itu ingin kembali mencalonkan diri untuk periode yang kedua, Audrey sendiri tidak ingin tahu tentang itu semua.
Masih teringat jelas olehnya, alasan ayahnya menjodohkan dirinya dengan pria dingin tak bermoral itu.
Flashback...
"Kenapa aku harus menikah dengannya ayah?! Ayah tau bukan kalau aku sudah mempunyai kekasih?!" Kesal Audrey pada ayahnya yang masih duduk dengan tenang di kursi kebesarannya itu.
Gadis itu kesal bukan main ketika membaca pesan dari ayahnya tadi sore. Pria paruh baya itu mengatakan bahwa dia akan dijodohkan dengan seseorang, dan dia tidak boleh membantahnya.
Alhasil gadis itupun kesal bukan main dan jauh jauh pulang dari kota B untuk segera menemui ayahnya tersebut dirumah. Dia pun langsung menuju ke ruang kerja ayahnya itu untuk mengkonfirmasi pesan tersebut.
"Kau harus menikah dengannya, itu saja. Aku rasa tidak ada yang perlu dipermasalahkan." Ucap Andrew dengan santai.
Audrey pun menggeram kesal, spontan gadis itupun langsung maju menuju meja kerja ayahnya itu dan menggebrak meja itu dengan keras.
"Ayah!!!"
"Apa alasannya sehingga aku harus menikah dengan pria itu ha? ayah tau kan bahwa Pria itu bukanlah orang yang baik. Dia terkenal Dingin, kejam, dan juga suka mempermainkan hati wanita."
"Lalu mengapa ayah tega sekali menjodohkan ku dengan pria itu?" Ucap Audrey dengan nada yang sudah mulai melemah. Dia benar benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran ayahnya itu, apakah ayahnya itu tidak memikirkan dirinya nanti ketika menikah dengan pria itu?
"Bisakah kau bersikap sopan?" Ucap Andrew dengan nada dingin pada Audrey.
"Aku telah mengatur dan memikirkan semuanya dengan baik. Aku yakin pernikahan kalian akan baik baik saja nantinya. Cukup menurut dan mengikuti semua yang aku katakan Audrey! Aku tidak ingin mendengar protes apapun lagi. Kau mengerti?!"
Mendengar perkataan ayahnya yang terkesan begitu memaksa, alhasil Audrey pun mau tidak mau harus menuruti perintah pria itu. Dia tahu benar, jika ayahnya telah menurunkan titah, maka dia tidak akan pernah bisa menolaknya.
Namun betapa terkejutnya Audrey ketika mendengar pengakuan dari Vincent saat malam pertama mereka seusai pernikahan.
Tak ada kejadian yang bahagia bagi Audrey layaknya gadis lain ketika baru menikah, yang ada hatinya justru terasa sakit ketika mengetahui ayahnya seperti menjual dirinya hanya untuk suatu jabatan semata.
"Jangan berharap lebih pada pernikahan ini. Karena aku tidak benar benar serius terhadap pernikahan ini, aku hanya menuruti keinginan papaku saja."
"Ayahmu melakukan kerja sama dengan ku untuk jabatan sebagai wali kota di kota ini. Aku membutuhkan seorang perempuan yang bisa ku jadikan istri sebatas status untuk mendapatkan warisan dari papaku."
"Dan ayahmu menawarkan dirimu sebagai solusi untuk permasalahan ku. Namun sebagai gantinya aku harus membantu ayahmu menang dalam pemilihan walikota." Jelas pria itu dengan nada dingin dan datar pada Audrey yang duduk diam membisu diatas ranjang pernikahan yang telah dihias dengan indah.
Gadis yang masih menggunakan gaun pernikahan itu terlihat kelelahan, terkejut, sedih, kecewa dan marah disaat yang bersamaan. Dia hanya menatap lurus ke depan dengan pandangan yang terlihat kosong.
"Kau harus mengikuti semua aturan yang aku buat dalam hubungan ini, aku tidak ingin repot repot membuat kontrak pernikahan atau semacamnya."
"Bahkan ku rasa tidak masalah jika kita menikah sampai seterusnya, hanya saja aku tidak akan membiarkan dirimu mengatur diriku. Kau tidak berhak mencampuri urusanku."
Audrey pun mengalihkan pandangannya pada Vincent yang masih setia duduk di sofa yang tak jauh dari tempat tidur tersebut. Pria itu duduk dengan santainya sembari menghisap rokok miliknya dengan tenang.
"Lalu bagaimana dengan ku? Kau juga tidak berhak mencampuri urusan ku kan?" Ucap Audrey dengan penuh keberanian, meskipun sejujurnya gadis itu saat ini tengah menahan rasa gugupnya untuk menantang pria yang kini telah menjadi suaminya itu
Vincent yang mendengar pertanyaan Audrey yang memang terkesan menantang itu pun tersenyum sinis.
"Apakah kau berniat selingkuh dariku?" Ucap pria itu dengan tenang, namun entah mengapa rasanya Audrey tiba tiba saja merasa tidak nyaman dengan cara bicara pria itu.
Melihat Audrey yang sepertinya tidak ingin menjawab pertanyaannya pun membuat Vincent kembali melanjutkan perkataannya.
"Tidak masalah jikalau kau masih ingin tetap berhubungan dengan kekasih mu itu." Perkataan pria itu spontan membuat Audrey kembali menatap pria itu dengan penuh tanya.
"Aku serius. Asalkan jangan sampai kau dan kekasih mu itu terpergok oleh media atau siapapun, karena itu akan mencoreng nama baik ku." Ucap pria itu sembari beranjak dari duduknya menuju ke arah Audrey.
Setelah tepat berada di hadapan Audrey, barulah Vincent kembali melanjutkan perkataannya. "Dan, kau dan aku harus selalu bisa bersandiwara di depan orang banyak bahwa kita adalah pasangan yang bahagia dan romantis. Dan Jika sampai ada yang mengetahui hubungan gelap mu itu, maka aku akan membuat mu dan pasangan gelap mu itu merasakan akibatnya." Ancam Vincent pada Audrey.
"Aku tidak suka ada kecacatan apapun pada diriku atau apapun yang menyangkut tentang ku. Jadi Karena dirimu yang terikat dengan ku, maka kau harus tetap mengikuti apapun yang aku katakan."
"Kau mengerti?!"
Audrey pun mau tidak mau hanya mengangguk kecil sebagai balasannya.
Vincent yang melihat Audrey sedikit ketakutan pun langsung tersenyum sinis. Pria itupun menundukkan tubuhnya untuk mendekat pada wajah Audrey yang kini langsung beringsut mundur.
"Apa yang ingin kau lakukan?!" Tanya Audrey yang merasa kesal namun takut secara bersamaan.
"Apa kau takut? Bagaimana jika kita melakukan 'itu' sekarang? kurasa tidak salah bukan?" Ucap pria itu dengan santai tanpa memperdulikan tatapan Audrey yang kini langsung menajam ketika mendengar perkataannya barusan.
"Kenapa? Apa aku salah?" Ucap pria itu lagi dengan polos, lebih tepatnya berpura-pura polos.
"Bukankah kau mengatakan bahwa kau tidak menganggap pernikahan ini serius? Lalu mengapa kini kau meminta ku untuk melakukan 'itu' dengan mu?"
Vincent pun langsung tertawa kecil mendengar pertanyaan gadis dihadapannya itu, lalu Setelahnya wajah pria itu langsung kembali datar dan dingin.
"Jika aku ingin tetap meminta kau melayani ku apakah itu salah? Secara hukum dan agama Kita telah sah menjadi sepasang suami istri bukan, kita telah melakukan pemberkatan serta mendaftarkan pernikahan kita secara resmi. Lalu apa salahnya?"
"Dan lagipula, apa salahnya juga jika aku ingin mencoba bermain dengan mu? Aku telah mengeluarkan biaya yang besar untuk mendapatkan mu, jadi tentu saja aku harus mendapatkan keuntungan juga bukan dari itu?"
Audrey pun merasa sakit hati ketika mendengar perkataan pria yang ada dihadapannya ini. Audrey tidak terima dengan pernyataan tersebut yang terkesan menuduh dirinya layaknya sebuah barang yang dijual, gadis itu merasa harga dirinya begitu direndahkan oleh pria dihadapannya ini.
"Aku tidak menyangka bahwa mulut mu seperti seorang wanita Tuan Dawson. Seharusnya orang berpendidikan tinggi sepertimu mengerti caranya berbicara dengan baik pada orang lain, minimal kau tidak perlu mengatakan hal tersebut pada orang lain, khususnya seorang wanita."
"Aku tau kau jugalah seorang Casanova yang suka mempermainkan hati seorang wanita, tapi aku bukanlah seperti wanita yang sering kau gunakan itu tuan Dawson. Meskipun ayahku menukar ku dengan jabatan walikota tersebut, namun itu semua diluar kemauan ku dan diluar sepengetahuan diriku."
"Asal dirimu tahu saja, aku lebih memilih lari saat itu dibandingkan harus menikah dengan mu jika saja aku tau ternyata aku ditukar dengan sebuah jabatan. Saat itu aku mencoba untuk berpikir lebih positif, mungkin saja ayahku berpikir bahwa kau adalah orang yang baik atau semacamnya yang aku juga tidak mengerti. Namun ternyata aku salah, aku sangat naif dalam hal ini."
"Jadi kuharap kau tidak lagi merendahkan ku seperti ini tuan, karena aku bukanlah wanita murahan atau gampangan seperti yang kau pikirkan." Balas Audrey dengan dingin pada pria dihadapannya itu.
Vincent sendiri cukup terkesiap ketika mendengar suara Audrey yang terkesan dingin, entah mengapa rasanya dia menjadi sedikit merasa bersalah ketika mendengar perkataan Audrey barusan. Namun secepat mungkin pria itu langsung menghilangkan perasaan itu dari hatinya, ia kembali menetralkan wajahnya seperti semula.
"Baiklah kalau begitu nyonya Dawson, lain kali aku akan lebih menjaga perkataan ku padamu, dan-- mungkin jika aku tidak bisa mendapatkan dirimu hari ini, mungkin lain kali bisa. Kalau begitu sampai nanti istri ku, aku pergi dulu, kau bisa beristirahat terlebih dahulu."
Cup...
Pria itu berhasil mencuri ciuman pada bibir Audrey sebelum dia melangkah pergi meninggalkan kamar tersebut. Vincent tersenyum senang ketika melihat wajah Audrey yang menegang dan memerah bak tomat ketika dia mengecup bibir gadis itu. 'Hanya persekian detik saja dia sudah gugup, bagaimana jika aku mengecupnya lebih lama?' Pikir pria itu saat melangkah keluar.
Setelah Audrey sadar dari keterkejutannya, ia pun langsung menatap nanar pintu kamar yang telah tertutup beberapa menit lalu. "Dasar pria kurang ajar!!!" Geram gadis itu.
Flashback off...
Kurang lebih begitu lah kisah awal dari hubungan sandiwara keduanya. Dan empat tahun sudah Audrey telah dapat beradaptasi dengan baik menjadi istri dari seorang Vincent Dawson.
Bersambung.....
"APA YANG KAU LAKUKAN DIKAMAR KU??!!!" Teriak Audrey yang baru saja tersadar jika ada Seseorang di kamarnya. Gadis itu hampir saja melepas bathrobe nya jika dia tidak menyadari jika ada Vincent yang berada di dekat pintu menuju balkon kamarnya.
Vincent yang mendengar teriakkan Audrey pun hanya mengedikkan bahunya acuh. "Ini rumah ku bukan? Lalu apa salahnya jika aku ingin masuk ke kamar ini."
Audrey pun menggeram kesal melihat pria ini berjalan dengan santai melewati dirinya, bahkan pria itu masih berani menubruk bahunya.
"Kauu!!!"
"Syuttss...." Ucap Vincent dengan sekaligus menempelkan jari telunjuknya pada bibirnya sendiri.
"Jangan terlalu sering berteriak dan juga marah marah, atau kalau tidak wajahmu itu nantinya akan semakin berkerut. Aku tidak mau ada berita yang nantinya meliput tentang hal itu."
" 'Dikabarkan istri Vincent Dawson seorang pengusaha terkenal terlihat berkerut dan menua, diduga hal tersebut dikarenakan Vincent Dawson yang tidak pernah membiayai perawatan istrinya.' Kau ingin ada berita seperti itu?"
Ucap Pria itu yang kini sudah duduk dengan tenang di tempat tidur Audrey.
Audrey pun mencoba untuk meredam amarahnya yang kini sedang menggebu-gebu. Audrey pun menarik nafasnya berulang kali sampai akhirnya dia pun bisa lebih tenang dari sebelumnya.
"Apa yang kau inginkan ha? Bukankah kau baru saja habis bersenang senang? Lalu apalagi yang kau inginkan sekarang? Jika tidak ada yang penting maka silahkan kau pergi dari kamar ku. Kau masih ingat dimana pintunya kan?" Sarkas Gadis itu.
"Wow nyonya Dawson, mulutmu semakin pedas dari waktu ke waktu ya." Ucap Vincent sembari menepuk tangannya.
"Kurasa kau telah banyak belajar dariku. Padahal sebelumnya kurasa kau begitu polos dan sering ketakutan ketika melihat diriku." Ucap Vincent terang terangan memaparkan tentang apa yang dia pikirkan saat melihat Audrey dulu.
Padahal sejujurnya, Audrey pun masih sering takut jika terlalu lama berdekatan dengan Vincent, meskipun dia adalah seorang Casanova, namun pria itu juga dijuluki sebagai pria dingin dan kejam, Vincent begitu pemilih meskipun dia suka bermain dengan wanita, dia tidak ingin memilih sembarangan, yah... sesuai dengan prinsip pria itu yang begitu menjunjung tinggi kesempurnaan. Sehingga jika ada seorang wanita yang memaksa dirinya pada pria itu, maka jangan harap jika wanita itu masih bisa melihat dunia ini keesokan harinya.
"Cepatlah katakan apa yang kau inginkan tuan Dawson, aku ingin segera menggunakan pakaian ku dan beristirahat!" Ketus Audrey.
"Kemarilah." Suruh Vincent pada Audrey sembari menepuk bagian kosong tempat tidur disampingnya.
Melihat Audrey yang tak kunjung melakukan perintahnya, membuat Vincent pun kembali mengulang perkataannya.
"Kemarilah nyonya Dawson!" Ulangnya lagi dengan nada yang dibuat dingin dan terkesan menuntut.
Jika sudah seperti itu maka mau tidak mau Audrey harus melakukan perintah pria itu. 'Cih Dasar pemaksa.' Batin Audrey sembari melangkah mendekati pria itu.
"Cepat katakan. Mengapa kau ingin membuang-buang waktu mu hanya untuk berada di sini ha?" Kesal Audrey yang tidak ingin berdekatan lama lama dengan pria itu.
Tak membalas ucapan Audrey barusan, Vincent pun malah memilih untuk meletakkan kepalanya di atas paha Audrey.
"Kenapa kau tidur di pahaku? Cepat kembali duduk Vincent! Kepala mu berat." Ucap Audrey sembari berusaha menegakkan tubuh Vincent, Vincent pun dengan sengaja menahan tubuhnya tetap tertidur di paha gadis itu. Alhasil Audrey pun menyerah karena tenaganya yang tak mampu untuk menegakkan tubuh pria itu.
"Biarkan begini dulu. Kau pelit sekali sih? Padahal aku yakin kekasih gelapmu itu juga sering melakukan ini padamu kan? Masa begini saja berat, seberapa jauh berat kepala ku dengan kepala kekasih mu itu?" Sungut Vincent.
Audrey pun memutar matanya malas. "Darimana kau tau kalau dia melakukan ini? Kau memata matai diriku sampai sedalam itu?"
Vincent pun langsung mengubah posisinya menjadi terlentang, sehingga dia dapat langsung melihat siluet wajah Audrey dari bawah.
"Apakah perkataan ku tadi benar?"
"Ck, lupakan saja. Cepat katakan apa yang kau inginkan."
"Apakah perkataan ku tadi benar?" Ulang Vincent pada pertanyaan sebelumnya, tak ingin menanggapi ucapan Audrey barusan.
Kali ini wajah pria itu tampak dingin kembali seperti sebagaimana biasanya. "Apa masalahnya untuk mu ha? Itu adalah urusan ku Vincent, kurasa kau tidak perlu repot-repot ingin tau tentang apapun yang kulakukan."
"Tentu saja aku perlu, kau harus ingat bahwa dirimu masih harus tetap dibawah kendali ku. Apapun yang kau lakukan masih berhubungan dengan ku, jadi jangan sampai kau melakukan kesalahan."
Vincent pun beranjak dari tidurnya. Lalu berdiri sembari menatap gadis itu. "Besok malam orang tuaku mengundang kita untuk makan malam bersama, ada juga beberapa paman dan bibiku serta sepupuku yang akan hadir. Kita harus hadir besok, dan harus tetap menunjukkan bahwa kita adalah pasangan yang sempurna dan romantis, besok siang aku akan mengirimkan pakaian yang akan kau gunakan, kau hanya perlu mempersiapkan dirimu." Beritahu Vincent.
Audrey pun hanya bisa mengangguk singkat, tak ingin menambah waktu untuk lebih lama berbicara dengan pria itu.
"Baiklah kalau begitu, selamat malam." Ucap Vincent sebelum pergi dari kamar Audrey. Setelah Vincent pergi, Audrey memilih merebahkan tubuhnya dibandingkan langsung menggunakan pakaiannya.
Sejujurnya dia sendiri begitu malas untuk pergi kerumah mertuanya itu, lebih tepatnya dia malas jika harus berinteraksi dengan mama mertuanya. Mama mertuanya itu begitu julid, ucapan wanita paruh baya itu selalu pedas terhadapnya, apapun yang dilakukan oleh Audrey pasti akan selalu salah dimana mama Mertuanya itu.
Apalagi semenjak usia pernikahan mereka telah menginjak dua tahun. Karena Audrey yang tak kunjung juga hamil, akhirnya Alicia, mama mertuanya itu langsung menyuruh mereka untuk memeriksa kondisi kesuburan mereka.
Dan hasil pemeriksaan dari mereka berdua, Audrey ternyata kurang subur, namun bukan berarti dia tidak dapat hamil, hanya saja memang sedikit sulit bagi gadis itu untuk bisa hamil layaknya wanita yang kondisinya lebih subur.
Namun meskipun demikian masih ada kesempatan untuk dirinya bisa mengandung, bukan berarti dia akan hamil. Bagaimana mungkin dia dapat hamil sedangkan dia saja masih perawan ting ting. Beruntungnya Vincent tidak benar-benar memaksa dirinya itu melakukan hal 'itu', jadi sampai saat ini gadis itu masih bisa aman.
Alicia sendiri yang telah mendengar hasil pemeriksaan medis dari dokter kepercayaannya itupun langsung kesal bukan main, kata katanya pun semakin tajam setiap bertemu dengan Audrey. Audrey sendiri sadar sebenarnya sedari awal Alicia tidak pernah menyukai dirinya, wanita paruh baya itu enggan menerima Audrey sebagai menantunya. Berbanding terbalik dengan Vano, papa mertuanya. Pria paruh baya itu sangat menyayangi Audrey layaknya anak sendiri, bahkan dibandingkan dengan Andrew ayahnya, Vano lebih menyayangi dirinya.
Namun yang dia kesalkan lagi adalah, setiap Alicia menghinanya terkait kondisi kesuburannya itu, Vincent tidak pernah berniat ingin membelanya, pria itu hanya menyaksikan saja bagaimana kejamnya perkataan Alicia terhadap Audrey. Hanya Vano papa mertuanya itu sajalah yang selalu siap membela Audrey. Beruntungnya Audrey masih mempunyai seseorang yang menyayangi dirinya.
Yang dia harapkan kini, semoga besok mama mertuanya itu tidak berulah, apalagi Tadi Vincent mengatakan bahwa paman, bibi serta sepupunya akan hadir disana. Itu tandanya seluruh keluarga besar akan hadir semua, dan bisa saja Alicia akan menjadikan dirinya sebagai sasaran empuk besok, Audrey benar benar tidak ingin berdebat dengan mama mertuanya itu, apalagi sampai dipermalukan di depan semua orang.
Bersambung.....