Bab 1
Mataku membola, menatap seonggok benda kepunyaan wanita berada di dalam koper suamiku. Untuk apa ia membeli pembalut? Apa ia sengaja membelikannya untukku? Tapi, jika ini untukku. Kenapa jumlahnya hanya dua biji saja.
Pintu kamar mandi terbuka lebar, bersama munculnya lelaki berambut basah. Ya, Mas Hakam--suamiku baru saja selesai melangsungkan ritual mandinya.
Setengah jam yang lalu ia baru pulang dari luar kota. Cepat kututup kembali koper hitam legam ini. Oke, pura-pura tidak tahu saja. Akan aku selidiki semuanya diam-diam. Jika benar ia bermain serong di belakangku. Lihat saja akibatnya.
"Mas, bolehkah kopernya aku bereskan?" tanyaku manis. Seolah tidak tahu isi di dalamnya.
Sejurus kemudian. Ia sudah berada di dekatku dan menyambar koper yang tengah kusentuh permukaannya.
"Jangan, Wi! Kamu tidur saja. Biar aku sendiri yang membereskannya. Lagian ini sudah larut malam." sergah Mas Hakam sedikit gugup. Terlihat tangannya yang bergetar. Aku jadi semakin yakin. Jika ada lebih banyak lagi misteri di balik koper itu.
"Oh, oke, Mas. Kamu juga tidur ya," aku meninggalkannya yang masih berdiri di dekat lemari. Cepat kupura-pura mengerjap, meski banyak pikiran yang mengitari kepalaku.
*
Hari minggu, Mas Hakam libur bekerja. Saat ia tengah berada di lantai bawah. Gegas kucari benda yang menjadi sumber kecurigaanku semalam.
Kubuka koper yang tergelak di atas lemari.
Kosong. Rupanya Mas Hakam sudah membereskan isinya.
Pikiranku makin tak tenang. Apa iya, lelaki itu menghianatiku? Ah, mungkin itu hanya perasaanku saja. Selama ini dia selalu menjadi suami yang pengertian. Bahkan banyak teman-temanku yang iri akan rumah tangga harmonis kami. Meski belum ada anak, tapi hubungan kami sangat hangat. Ia tak pernah mempermasalahkan soal keturunan. Walaupun usia pernikahan kami sudah 8 tahun lamanya.
Aku dibuat bingung akan situasi seperti ini. Ingin kubertanya perihal pembalut itu, pasti ia akan mengelak.
Ting!
Bunyi notifikasi pada gawaiku menghenyakanku dari lamunan. Aku beranjak dan mengambil benda pipih itu. Lalu menyalakannya, nampak pesan di aplikasi hijau menunjukan nama Fania--teman dekatku.
[Wi, kamu kemarin habis melancong kemana? Aku lihat suamimu di bandara tapi kok sama anak kecil ya, kemarin aku mau tegur dia, tapi aku udah keburu check in.] pesan dari Fania semakin membuat hatiku tak tenang.
Mas Hakam di bandara? Sama anak kecil? Bukankah dia keluar kota menggunakan mobil? Lagi pula kota yang dibilang Mas Hakam tak terlalu jauh, hanya sekitar 3 jam dari sini.
Jemariku lugas mengetik balasan untuk Fania.
[Aku tidak pergi kemana-mana, Fan. Mungkin kamu salah lihat. Kan kamu tahu sendiri, kita belum ada anak.] kirim.
[Tapi, itu benar suami kamu, Wi. Dia sama anak kecil laki-laki kira-kira umurnya 3 tahunan. Di sama wanita pake kaca mata item. Aku kira itu kamu, karena aku lihatnya dari kejauhan.]
[Apa kamu ada bukti? Kalau tidak. Jangan asal menuduh deh, Fan.] balasku. Hatiku dongkol membaca pesan dari Fania, apa dia sengaja mengkompori aku.
Seperkian detik. Sebuah foto dikirimkan Fania.
Tak lama, foto itu terpampang jelas di layar ponselku. Nampak Mas Hakam sedang menggendong anak lelaki, seperti yang dimaksud Fania. Di sampingnya ada seorang wanita yang aku pun tak mengenalnya. Pose mereka sedang berada di bandara. Oh jadi, Mas Hakam membohongiku.
Ya Allah, apa benar dia selingkuh?
Kumatikan layar ponselku. Lalu bergegas menyusul Mas Hakam di lantai bawah.
Tahan Wi, jangan emosi! Selidiki secara cantik. Jika benar, ambil semua aset. Yang sudah susah payah kamu bangun bersama lelaki itu.
Kakiku menapak di dekat sofa. Mas Hakam menyadari keberadaanku. Ia menyambut dengan tersenyum manis.
"Mas, bolehkah aku pinjam mobilmu? Mobilku remnya bermasalah." kataku.
"Mau kemana, Wi?" ia menggapai kunci mobil di atas nakas samping remote TV. "biar Mas antar," tawarnya lalu berdiri.
"Nggak usah, Mas. Aku cuma mau pergi ke Alfa." tolakku pelan.
"Oh, ya sudah. Hati-hati ya," ujarnya lalu memberikan kontak mobil itu padaku.
"Mas, aku pergi dulu ya," pamitku. Segera kumelenggang meninggalkan Mas Hakam.
*
Kupacu kecepatan mobil ini menuju ke salah satu bengkel.
Rencanaku adalah, memasang GPS pelacak jejak. Agar aku tahu kemana pun Mas Hakam pergi.
Baiklah Dewi, semoga rencanamu berhasil.
*
Aku berhenti di bengkel yang cukup terkenal di kota ini. Tentu saja sesuai rencanaku tadi. Ingin memasang GPS di mobil Mas Hakam.
"Mas, tolong pasangi GPS di mobil ini." ujarku pada pegawai bengkel yang tengah sibuk berkutat dengan alat-alat perkakas khas bengkel. Tidak perlu kusebutkan satu-satu apa alatnya, nanti malah nggak selesai-selesai.
"Iya, Mbak. Tapi harganya mahal, Mbak. Sekitar 1 juta 600 sekalian ongkos pasangnya." jawab Mas-Mas bergigi agak maju itu.
"Tak masalah. Nih saya kasih uang 2 juta untuk biaya pasang GPS itu." tanganku merogoh tas yang kubawa dari rumah. Tentu aku mengambil uang. Setelah kupastikan jumlahnya sama seperti yang kubilang tadi. Lanjut kuangsurkan lembaran uang tersebut kepada pegawai bengkel.
Ia menggapai uang yang kuberikan.
"Terimakasih, Mbak. Mbak tunggu di sana saja. Dengan cepat saya akan mengerjakannya." titahnya sambil menunjuk kursi kosong di sebrang sana.
"Oke, tolong dipercepat ya, Mas."
Pegawai itu mengangguk paham.
Lantas aku menunggu di kursi yang ia maksud tadi.
Untuk mengusir rasa jengah. Kumainkan ponsel dalam genggaman tanganku. Kubuka aplikasi berlogo biru. Untuk sekedar berselancar di sana. Aku jarang sekali mengunggah kehidupan pribadiku di halaman facebook atau sosial media lainnya, kecuali tengah bersama teman-teman arisanku.
Tak ada apa-apa di beranda facebookku. Yang ada hanyalah deretan orang pamer dan tukang nyinyir. Yang suka mencela orang lain. Kutekan tombol out. Lalu beralih membuka aplikasi novel online kesayanganku. Sekedar membaca tulisan-tulisan yang mengusir kegundahan atau kadang juga mendapat inspirasi.
"Mbak, udah selesai pasangnya." ucap pegawai bengkel menghentikan aktivitasku membaca rentetan huruf pada gawaiku.
"Oh, ya, bagus." balasku lalu berdiri.
"Silahkan masukan kode ini ke ponsel Mbak. Agar nanti Mbak bisa memantau ke mana pun mobil ini pergi. Hanya lewat ponsel yang mbak pake." jelasnya. Sesuai arahan dari Mas-Mas ini. Hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk menghubungkan GPS di mobil Mas Hakam dengan ponselku.
Setelah semua selesai. Cepat aku pamit untuk pulang.
"Saya balik dulu, Mas. Makasih." kataku lalu melenggang masuk ke dalam mobil.
"Iya, Mbak."
Kunyalakan mesin mobil ini. Dan melajukannya meninggalkan bengkel.
Sekarang kamu akan ketahuan Mas jika pergi ke tempat yang menjadikan hubungan kita renggang.
Hampir saja aku lupa. Tadi pamitku pada Mas Hakam 'kan pergi ke Alfa. Bisa curiga dia kalau aku pulang tak membawa barang belanjaan.
Oke, Dewi. Beli beberapa stok makanan. Agar lelakimu tak curiga. Bertingkahlah biasa saja. Singkap semua tabir kebenaran secara perlahan dan main cantik.
Kuhentikan mobil ini di parkiran salah satu toko. Kubeli beberapa makanan ringan dan lalu membayarnya. Langkahku tergesa, karena aku sudah terlalu lama pergi. Walau hanya sekedar pergi ke Alfa. Itu kan bohongku pada Mas Hakam. Ia tidak tahu kalau aku pergi ke bengkel memasang alat pelacak di mobilnya.
*
Lima belas menit perjalanan. Akhirnya aku sudah sampai di rumah. Terlihat Mas Hakam terhenyak dengan kedatanganku.
Ia buru-buru memasukan ponselnya ke dalam saku. Dengan raut wajah kelabakan.
"Kok lama ke Alfanya?" ia melontarkan pertanyaan itu padaku.
"Tadi macet Mas. Jalannya." balasku biasa saja. Dalam hati aku curiga. Kenapa Mas Hakam buru-buru menyembunyikan gawainya saat aku datang. Ada apa sebenarnya?
"Wi, aku ijin pergi ya, ada urusan." Mas Hakam bangkit dari sofa dan menghampiriku yang tengah sibuk mengeluarkan beberapa makanan ringan yang barusan kubeli.
"Oh, iya, Mas. Ini kunci mobilnya." kuserahkan kontak mobil pada Mas Hakam.
Ia mengecup keningku sebelum berlalu pergi.
"Hati-hati ya, Mas." ucapku sedikit berteriak saat ia sampai di dekat pintu.
Mas Hakam tersenyum sambil melambaikan tangan.
Tak lama, punggung lelaki itu sudah tak terlihat dari pandangan mataku.
Pergilah Mas, kemanapun kau tidak akan bisa berbohong. Ponsel pintarku akan senantiasa menunjukan kemana arah yang kau tuju Mas.
Aku tersenyum miring membayangkan apa yang akan terjadi pada Mas Hakam. Apakah ia benar ada urusan? Ataukah ada urusan lain yang memancing pertengkaran. Kita lihat saja nanti!
Gawai ini akan membawaku ke tempat persinggahanmu.
****
Bab 2
Saat Mas Hakam benar-benar sudah pergi. Cepat kuambil ponselku yang tergelak di dalam tas.
Gegas kubuka aplikasi yang terhubung dengan mobil yang ia pakai.
Jemariku bergulir menyentuh layar digital ini. Oke, mari kita lihat. Mas Hakam sudah sampai mana?
Mataku memerhatikan gambar kecil yang bergerak lurus. Itu artinya, keberadaan Mas Hakam belum jauh dari sini.
Sedikit santai, tak apa. Toh kemana pun ia pergi akan kuketahui.
Beberapa menit menunggu. Mobil Mas Hakam melesak semakin jauh. Kini giliranku untuk membuntutinya.
Kutinggalkan dulu barang belanjaan ini di atas nakas. Tanganku menyambar kontak mobil milikku yang biasa berada di dekat televisi. Langkah ini terus berlalu menuju tempat penyimpanan mobil di samping teras.
Aku segera memasuki mobil dan melajukannya mengikuti ke mana arah lelaki itu pergi.
Ponsel kuletakan di dasboard mobil. Agar aku mudah memantau keberadaan Mas Hakam.
Seperkian menit mengikuti. Kulihat titik kecil di dalam maps ini menunjukkan gambar sebuah toko kue.
Jadi Mas Hakam berhenti di toko kue?
Sengaja kujaga jarak mobilku dengannya. Biar tidak ketahuan. Lagi pula, tadi aku sempat bilang bahwa mobilku remnya bermasalah. Tak mungkin 'kan, aku ngelayap pake mobil ini.
Sedikit kumajukan lagi letak mobilku. kini dapat kulihat toko kue yang terletak di ujung sana.
Tak lama. Sosok lelaki yang sangat kukenal ke luar dari pintu kaca toko itu.
Kupincingkan mata untuk mempertajam pengelihatanku. Ternyata Mas Hakam tengah membawa kue entah apa bentuknya. Tidak terlalu jelas dari sini.
Setelahnya ia kembali masuk ke dalam mobil. Dan melajukannya.
Apa kah ini yang dinamakan urusan? Mau dibawa ke mana kue itu? Aku jadi semakin penasaran.
Tahan Dewi. Ikuti saja ke mana dia pergi. Jika benar kue itu untuk selingkuhannya. Potong saja terongnya. Biar kapok!
Lanjut kuinjak pedal gas pada mobil ini. Agar segera melesak membelah jalanan kota.
Baru beberapa ratus meter dari toko kue. Mas Hakam berhenti lagi disebuah toko. Dan ini toko emas langgananku. Untuk apa dia di toko emas?
Apa mau membelikan aku sebuah perhiasan?
Pikiranku sangat tak karuan. Pertanyaan dalam kepalaku adalah. Akan diberikan kepada siapa dua benda yang barusan Mas Hakam beli?
Sabar Dewi, sabar. Tunggu semuanya berjalan. Jangan gegabah.
Berulang kali aku menarik nafas. Berusaha mengusir pikiran yang mengganjal dalam hati.
Lelaki itu turun dari kendaraannya dan melenggang masuk ke dalam toko emas.
Cukup lama aku menunggu ia keluar. Sudah hampir lima belas menit.
Ternyata benar. Bahwa menunggu itu membosankan. Seperti yang lakukan sekarang. Menunggu lelaki bergelar suami itu ke luar dari sana.
Akhirnya ... Mas Hakam ke luar juga. Ia membawa bingkisan di paper bag berwarna gold. Tentu isinya perhiasan. Aku sudah sangat hafal dengan toko ini. Dan harganya pun pasti sangat fantastis.
Mas Hakam melanjutkan perjalanannya. Aku tetap mengikutinya dari jarak yang agak jauh.
Setelah berpacu dengan ramainya kendaraan. Mobil Mas Hakam tengah berbelok dan memasuki perumahan yang aku sendiri belum pernah menjamah ke sini.
Tak jauh dari kelokan tadi. Mobilnya berhenti di sebuah rumah tanpa pagar dengan gaya arsitektur klasik. Lumayan mewah hanya tak sebesar rumah yang aku tinggali saat ini.
Rasa penasaranku semakin merasuk dalam. Sengaja kutinggal mobilku jauh dari lokasi rumah yang Mas Hakam tuju.
Lelaki berkulit putih itu memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah itu.
kutarik nafas dalam-dalam. Agar gugup ini hilang.
Kaki jenjangku melangkah menyusuri jalan beraspal. Aku melangkah kian mendekat. Hingga melipir dan bersembunyi di dekat rimbunnya pohon mangga.
"Yey, Ayah datang ...," suara anak kecil itu membuat jantungku serasa berhenti berdetak. Ia menyebut Mas Hakam Ayah?! ya Allah, ujian hidup macam apa ini? Kuharap telingaku hanya salah dengar.
Terlihat jelas dari sini. Mas Hakam menghambur memeluk bocah itu sambil tertawa riang. Mereka saling peluk di teras rumah. Namun dua benda yang di beli Mas Hakam tak terlihat lagi. Mungkin masih di mobil. Pikirku.
"Bunda, Ayah datang," lagi, bocah kecil itu bersuara dengan berteriak. Aku jadi makin penasaran. Siapa yang disebut Bunda.
Air mataku mencelos begitu saja dari pelupuk mata ini. Sepahit ini kah hidup? Apa status Mas Hakam dengan bocah itu. Mengapa ia menyebutnya Ayah? Berbagai pertanyaan mengitari kepalaku. Sanggup kah aku menelan pil pahit dari lelaki yang kucintai.
Mataku fokus menatap ke arah sana. Sosok wanita muncul dari pintu yang tengah terbuka lebar. Dia mirip yang berada di foto. Foto yang dikirimkan Fania. Meski foto itu tak terlalu jelas menggambarkan sosok siapa. Tapi aku sangat yakin, bahwa itu dia.
"Mas, barusan datang? Kenapa nggak masuk rumah dulu." ucap wanita itu ramah. Ia menyambar tangan Mas Hakam dan mencium punggung tangan lelaki itu takzim. Semakin hancur rasa hati ini ya Rabb. Menyaksikan semua kejadian ini di depan mataku.
"Tunggu ya," ujar Mas Hakam. Lalu berjalan ke arah mobil. Tak lama, ia kembali membawa paper bag dan kue. Ternyata benda barang-barang itu untuk wanita jal*ng itu. Awas kamu Mas!
"Wah, kamu beliin aku apa Mas?" mata wanita itu berbinar melihat benda yang dibawa Mas Hakam.
"Hadiah untuk kamu, Sayang. Happy anniversary yang ke empat Sayang," dengan raut bahagia, Mas Hakam melontarkan kata-kata itu. Ia pun mencium kening si wanita di depannya. Sama seperti saat ia mencium keningku.
Hatiku hancur lebur menatap semua ini. Inginku mencabik wajah wanita dan lelaki yang tengah bahagia di atas tangisku. Namun aku berfikir. Tak perlu membalas dengan kekerasan. Cukup pelan dan menyakitkan. Sungguh, jika rumah yang ditempati wanita itu adalah hasil dari uang Mas Hakam. Aku tak akan rela. Lebih baik rumah itu aku infakkan kepada anak yatim. Dari pada harus ditempati para tikus itu.
Air mata ini terlalu mahal untuk menangisimu Mas. Kau harus membayar mahal untuk hal ini. Bagiku sudah jelas. Kau pengkhianat!
Kuseka pipi yang sedari tadi basah. Aku harus kuat. Tunjukan, bahwa aku bukan wanita lemah.
Satu orang lagi muncul dari dalam rumah. Mataku membeliak melihat siapa sosok wanita tua itu. Tentu aku mengenalnya.
"Eh, Ibu. Lihat lah, Mas Hakam bawa apaan." wanita yang keningnya dicium Mas Hakam menyebut wanita tua itu Ibu. jadi ... dia?
Astaghfirullah haladzim.
***
Bab 3
Astaghfirullahalazim. Wanita tua itu mantan pembantuku dulu. Ternyata dia Ibu dari wanita selingkuhannya Mas Hakam.
Benar-benar manis sekali permaninan mereka. Orang yang kuanggap baik ternyata menusukku dari belakang. Mantan pembantuku itu namanya Bu Karti. Dia sudah lama bekerja denganku. Sejak aku masih gadis. Tak kusangka ia berhenti bekerja dan malah terlibat dalam semua ini. Aku sudah sering menolongnya dengan materi. Malah ia balas dengan sembilu. Baik lah, akan kubuat kalian menyesal sampe ke ubun-ubun.
Ingin sekali rasanya menghampiri mereka bertiga. Memberi tamparan keras pada wajah mereka satu persatu. Tahan! Plis tahan!
Kukepalkan kedua tanganku. Gigi ini bergemelatuk erat. Apa aku labrak saja mereka sekarang. Ah, jangan! Urus dulu semua aset yang sudah atas nama Mas Hakam balik menjadi atas namamu termasuk mobil itu. Beli obat tidur, suruh lelaki brengs*k itu tanda tangan. Setelahnya meminta cerai. Setia itu mahal Mas! Tak pantas jika diberikan kepada lelaki tak tahu diri sepertimu. Kau fikir kau bisa apa tanpa aku? Bahkan jabatan sebagai pimpinan perusahaan pun itu miliku. Kau hanya sebagai pegawai! Bukan pemiliknya!
Aku masih terperangah di sini. Melihat kebersamaan mereka. Teganya pembantu tak tahu diri itu bersekongkol dengan Mas Hakam. Orang yang kukira baik ternyata malah seperti ular. Jadi, selama ini aku telah memelihara dua ular sekaligus dalam rumahku. Dan itu sudah bertahun-tahun lamannya. Benar-benar cantik sekali permainan mereka. Akan aku tujukan, jika permainanku tak kalah cantik.
"Nak Hakam. Dewi nggak tahu 'kan kalau kamu ke sini?" wanita tua bernama Karti itu menanyakan tentangku. Semakin jijik aku mendengarnya.
"Tidak, Bu. Dia sedang di rumah. Oh, Ya, hari ini kan ulang tahun pernikahanku dengan Intan. Jadi aku mau ajak Intan sama Albert jalan-jalan." jelas Mas Hakam lalu mengangkat bocah laki-laki itu dan menggendongnya.
"Asyik ... jalan-jalan lagi sama Ayah," rengek anak kecil yang tadi namanya disebut Albert.
"Nggak usah, Mas. Kita kan baru saja liburan ke Bali." tolak wanita selingkuhan Mas Hakam. Tangannya mengelus lembut pundak suamiku.
Ternyata Mas Hakam bukan kerja di luar kota? Melainkan liburan dengan Intan. Semakin muntab aku dibuatnya.
"Nggak pa-pa sayang, mumpung weekend." balas Mas Hakam tersenyum manis.
"Udah lah, In. Jalan saja, mumpung Nak Hakam libur. Dia kan sibuk ngurus perusahaan yang nanti akan diwariskan pada Albert. Iya 'kan Kam?" tukas Bu Karti sembari tertawa renyah.
Apa? Perusahan mau diwariskan pada Albert! Jangan mimpi! Enak saja mengharap harta yang bukan haknya. Semua itu milikku. Alhmarhum papaku yang sudah mengelola perusahaan itu susah payah. Sedang Mas Hakam. Ia hanya tinggal meneruskan manisnya saja. Dasar lelaki rakus dan tak tahu diri! Kurang apa kamu Mas? Hidup bersamaku, semua keinginanmu terpenuhi. Termasuk menjadi orang yang paling dihormati di kantor. Kau tak perlu susah payah merangkak semua dari nol. Tinggal duduk manis dan menjadi bos. Itu pun malah kau sia-siakan.
Mereka pun masuk ke dalam rumah. Sekarang aku tak tahu apa yang dilakukan mereka di dalam sana.
Aku harus pulang atau ... menunggu di sini?
Dua pilihan yang membingungkan. Oke, kuputuskan menunggu di mobilku.
Tadi 'kan. Mas Hakam bilang, ia ingin pergi jalan-jalan. Semoga mantan pembantu itu tidak ikut. Akan kuberi dia pelajaran setelah mereka pergi.
*
Beberapa saat menunggu. Mobil Mas Hakam terlihat keluar dari halaman itu. Entah Bu Karti ikut atau tidak.
Saking dekatnya dulu aku dengan Bu Karti. Aku menganggapnya seperti Ibu sendiri. Bahkan aku kerap memanggilnya 'Bu' bukan Bibik. Seperti sebutan pembantu pada umumnya. Tapi sekarang aku tahu semuanya.
Terimakasih Tuhan, kau sudah menunjukkan semua ini. Meski sakit, tapi ini lebih baik dari pada terlambat.
Mobil Mas Hakam melaju ke arah Kiri. Itu artinya dia tidak akan melintas di jalan yang tengah ada mobilku.
Apa aku harus mengikutinya? Atau aku harus mengecek Bu Karti di rumah atau tidak.
Arrrgghh! Nafas ini menghunus di udara dengan berat. Kupukul setir mobil dengan keras. Frustasi dengan semua ini.
Ayo Dewi, berpikirlah yang jernih. Kau tak lemah! Kau bodoh! Kau wanita kuat dan cerdas.
Mempertimbangkan langkahku selanjutnya. Semua masih terasa mengambang di angan-angan. Sulit sekali meredakan emosi yang mendominasi.
Fix, aku putuskan untuk pulang. Aku tak mengikuti Mas Hakam dan intan pergi. Tak mau hati ini semakin terbakar api cemburu.
Dan untuk Bu Karti. Nanti akan ada kejutan yang manis untukmu. Atau bisa jadi, Kejutan ini bisa membuat jantungmu copot! Geram rasanya mengingat kebusukan mereka. Kuatkan aku ya Rabb.
Kuputar arah mobilku dan melesakannya untuk pulang.
Sesampainya di rumah. Kuhempaskan bobot ini di ranjang. Tubuhku terasa lemas. Jangan tanya bagaimana keadaan hatiku sekarang. Tentu hancur tak berbentuk.
Lelah rasanya mata ini. Hingga tak sadar aku menyelam ke alam mimpi.
*
"Bangun, Wi. Udah mau maghrib." sayup-sayup suara terdengar memenuhi telinga. diiringi guncangan di bahu kananku.
Aku mengerjab beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke rentina mataku.
Mas Hakam tersenyum dengan posisi duduk di tepi ranjang.
Hampir setengah hari aku tidur. Ini membuat kepalaku pening sekali.
"Udah pulang, Mas?" tanyaku datar. Lalu merubah posisi menjadi duduk dan bersandar di kepala ranjang.
"Aku udah pulang dari tadi, Wi." balas Mas Hakam singkat.
"Gimana Mas, urusannya? Lancar?" Mulutku mencelos begitu saja mengucap pertanyaan itu.
"Iya, Wi." cetus lelaki ini singkat. Tapi wajahnya biasa saja. Tak merasa bersalah sama sekali. Dia fikir aku tidak tahu semuanya.
Nikmati lah detik-detik terakhirmu di rumah ini Mas. Sebentar lagi kau akan enyah dari sini.
Hatiku tersenyum devils menatap lelaki yang tengah duduk seranjang denganku.
"Mas, aku boleh minta tolong nggak?"
"Minta tolong apa, Wi?"
"Tolong beliin aku, sate dong!"
"Siap. Tunggu ya,"
Tanpa basa-basi. Mas Hakam pergi menjalankan perintahku.
Bagus!
Sekarang tinggal ambil BPKB milik Mas Hakam. Surat pindah kuasa rumah dan pimpinan kantor. Memang semua masih ada embel-embel namaku. Kecuali mobil. Tapi aku tak mau jika lelaki ini pergi membawa secuil harta pun dari keluargaku.
Baiklah Dewi, jalankan dengan rapi. Setelahnya pergi ke meja hijau untuk mengakhiri semuanya.
****