Bab 1

Langit sore merona jingga, membalut halaman rumah kecil bercat putih itu dengan cahaya hangat. Aroma ayam bakar yang baru matang menyelinap ke udara, berpadu dengan wangi bunga melati dari pot di teras. Dari luar, rumah itu tampak seperti potret sempurna sebuah keluarga bahagia-rapi, hangat, dan penuh tawa.

Di ruang makan, Aruna sedang menata piring di atas meja. Rambut hitamnya diikat sederhana, beberapa helai jatuh di sisi wajahnya. Ada kelembutan dalam setiap gerakannya-seperti seseorang yang terbiasa merawat, memberi, dan menjaga.

"Bunda! Ayamnya sudah boleh dimakan belum?" suara riang Aila, putri kecilnya yang baru berusia lima tahun, terdengar dari ruang tengah.

Aruna tersenyum. "Tunggu Ayah pulang dulu, sayang. Lagi di jalan kok."

Seolah menjawab, suara pagar berderit. Langkah tergesa terdengar di teras. Rayhan muncul dengan setelan kerja yang masih rapi, dasinya sedikit longgar, senyum hangatnya seperti cahaya kecil di penghujung hari.

"Ayah!" Aila berlari menghampiri dan memeluk kakinya.

Rayhan jongkok, mengangkat putrinya. "Aila cantik nungguin Ayah, ya?" tanyanya sambil mencium pipi kecil itu.

"Iya! Bunda nggak mau makan sebelum Ayah pulang!" ujar Aila, pipinya menggembung lucu.

Rayhan melirik istrinya. "Aturan Bunda memang keras, ya," candanya.

Aruna tersenyum samar, tapi matanya memperhatikan wajah Rayhan lebih lama dari biasanya. Ada gurat lelah di sudut matanya. "Kamu capek? Meeting lagi?" tanyanya lembut.

Rayhan menaruh Aila, lalu duduk di kursi makan. "Iya, lumayan. Tapi lihat kalian berdua, rasanya capek hilang semua." Ia mengecup kening Aruna.

Mereka makan malam bersama, berbincang ringan tentang rencana akhir pekan, tentang Aila yang ingin ke taman bermain, dan tetangga baru di ujung jalan. Suasana itu hangat-nyaman. Seperti potongan kecil kebahagiaan yang membuat Aruna sering berpikir: hidupnya sudah lengkap. Namun, kebahagiaan kadang terlalu indah... sehingga menakutkan.

Setelah makan, Rayhan mengajak Aila bermain di ruang tengah. Aruna membereskan piring, mendengar tawa mereka dari dapur. Sesekali ia melirik: Rayhan menggendong Aila, memutar-mutar hingga tawa anak kecil itu memenuhi ruangan.

Pemandangan itu menghangatkan hatinya-namun juga menorehkan rasa aneh. Bukan karena ia tak bahagia, tetapi karena belakangan ini, ia sering menangkap Rayhan menatap kosong ke luar jendela, atau memandangi ponselnya terlalu lama. Kadang, teleponnya berdering lama... dan Rayhan memilih menjawab di luar rumah.

Malamnya Aila sudah terlelap di kamarnya. Aruna keluar ke teras dengan secangkir teh hangat. Udara malam membawa aroma tanah basah setelah hujan sore tadi. Lampu jalan memantulkan cahaya kuning di aspal yang masih lembap.

Rayhan menyusul, duduk di kursi rotan sebelahnya. "Teh malam-malam? Tumben."

"Biar hangat." Aruna menyerahkan satu cangkir padanya. "Kamu kelihatan makin sibuk akhir-akhir ini. Ada proyek baru?"

Rayhan menyeruput pelan. "Iya, ada beberapa. Deadline-nya mepet." Jawabannya sederhana, tapi nadanya hati-hati. Seolah setiap kata harus disaring dulu sebelum keluar.

Aruna menatap cangkirnya. "Kalau ada yang bikin kamu capek... atau gelisah, kamu cerita ya. Jangan simpan sendiri."

Rayhan tersenyum tipis, matanya menerawang. "Aku nggak nyimpen apa-apa kok, Sayang. Semua baik-baik aja."

Ia menggenggam tangan Aruna. Hangatnya menenangkan, tapi entah kenapa, Aruna merasa ada sesuatu di balik genggaman itu-sesuatu yang tak diucapkan.

Malam semakin larut. Aruna berbaring di tempat tidur, memandangi langit-langit. Rayhan sudah terlelap di sebelahnya. Tapi matanya tak kunjung terpejam.

Tiba-tiba, ponsel Rayhan di meja samping bergetar pelan. Sekali. Dua kali. Layar menyala, menampilkan nama yang tak ia kenal "Maya."

Dada Aruna menegang. Tangannya terhenti di udara, ragu antara membiarkannya atau mengambilnya. Ia menoleh ke arah Rayhan-suaminya tetap tidur, napasnya teratur. Ponsel bergetar sekali lagi. Kali ini muncul pesan singkat:

"Kita harus bicara. Ini penting."

Aruna menarik napas panjang, memejamkan mata. Mungkin itu urusan kantor, mungkin. Ia memutuskan tak menyentuh ponsel itu. Tapi hatinya tahu-sejak malam itu, ada sesuatu yang berubah.

---

Keesokan paginya, matahari menembus tirai, menyapu lembut kamar. Aruna bangun lebih awal, menyiapkan sarapan. Rayhan sudah berpakaian rapi, dasinya terikat sempurna.

"Kamu ada meeting pagi-pagi banget?" tanya Aruna sambil menuang teh.

Rayhan mengangguk cepat, meraih roti panggang. "Iya, mendadak. Nanti aku pulang agak malam. Kamu sama Aila makan dulu aja."

"Meeting di kantor?" tanya Aruna, nada suaranya berusaha terdengar ringan.

Rayhan terhenti sejenak. "Iya, di kantor." Ia tersenyum-senyum manis yang kini terasa seperti tirai tipis menutupi sesuatu.

"Aku pergi dulu, ya." Ia mengecup pipi Aruna, lalu menunduk mencium kening Aila yang baru keluar dari kamar.

Saat Rayhan melangkah keluar rumah, Aruna berdiri di ambang pintu, melihat punggung suaminya menjauh. Aila menarik ujung bajunya.

"Bunda, kenapa liatin Ayah terus?" tanya gadis kecil itu polos.

Aruna tersenyum, mengusap rambut putrinya. "Nggak apa-apa, sayang. Bunda cuma senang lihat Ayah."

Namun dalam hati, ia bertanya-apakah benar itu alasannya? Atau ia sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa senyum Rayhan yang ia lihat setiap hari... masih jujur?

---

Hari itu berjalan seperti biasa. Aruna menyapu, menjemur pakaian, lalu menemani Aila menggambar di ruang tamu. Namun pikirannya terus melayang pada nama yang muncul semalam. Maya. Ia mencoba menepis, tapi rasa penasaran itu tumbuh liar seperti benih yang tak sengaja tertanam.

Menjelang sore, saat Aila tidur siang, Aruna duduk di teras, menatap jalan kosong di depan rumah. Ia mencoba mengingat setiap percakapan terakhir mereka-nada suara Rayhan, tatapan matanya, caranya tertawa. Ada hal kecil yang dulu terasa alami, kini terasa... dibuat-buat.

Ia meneguk teh dingin di tangannya. Dalam diam, Aruna tahu kadang, perubahan tak datang dengan ledakan besar, melainkan dengan hal-hal kecil-sebuah senyum yang tak lagi hangat, pelukan yang terasa ringan, atau pesan dari nama yang asing.

Matahari mulai turun, meninggalkan langit berwarna oranye keemasan. Di dapur, Aruna menyiapkan makan malam, sendirian. Suara jam dinding berdetak pelan, mengisi ruang kosong yang biasanya dipenuhi tawa.

Ketika malam turun dan jam menunjukkan pukul delapan, Rayhan belum juga pulang. Aruna menatap layar ponselnya, mempertimbangkan untuk menelepon, tapi mengurungkan niat. Ia tahu jawaban yang akan didengar "Masih di kantor, Sayang."

Dan malam itu, saat ia menatap meja makan yang sudah tertata rapi namun kosong di hadapannya, Aruna sadar satu hal-kadang, sesuatu yang tampak sempurna... hanya bertahan sampai seseorang berhenti jujur.

Ia menatap foto keluarga mereka di dinding-tiga wajah tersenyum di bawah langit biru. Lalu berbisik pelan, hampir tak terdengar:

"Kalau cinta ini menyimpan rahasia... aku siap mendengarnya. Tapi jangan buat aku menebak sendirian."

Di luar, angin malam berhembus pelan, menggoyangkan tirai. Seolah rumah kecil bercat putih itu ikut menyimpan sesuatu-rahasia yang baru saja mulai terungkap.

Bab 2

Hujan tipis turun sejak pagi, membasahi halaman kecil di depan rumah. Langit berwarna kelabu, udara lembap dan dingin memenuhi dapur bersama aroma kopi yang baru diseduh. Aruna duduk sendirian di meja makan, menatap keluar jendela, memperhatikan butiran air yang berlari di kaca.

Di hadapannya, cangkir teh sudah setengah dingin. Rayhan berangkat lebih awal dengan alasan meeting mendadak, sementara Aila bermain boneka di kamarnya. Sunyi seperti ini selalu membawa Aruna kembali pada masa-masa yang ingin ia lupakan-masa ketika ia masih bersama Dion.

Enam tahun lalu, dunia Aruna jauh berbeda. Ia bekerja di galeri seni kecil di pusat kota-tempat penuh warna, tawa, dan keyakinan bahwa cinta bisa menyembuhkan apa pun. Saat itu, Dion adalah segalanya. Pria dengan tutur lembut, pandangan hangat, dan janji-janji yang terasa seperti kepastian.

Ia masih mengingat sore ketika semua itu runtuh. Senja yang tenang berubah menjadi luka yang tak pernah benar-benar kering.

Aruna datang ke apartemen Dion tanpa memberi kabar. Ia ingin memberi kejutan-dengan tangan yang membawa sekotak kue kesukaannya dan hati yang penuh cinta. Tapi begitu pintu terbuka, yang menyambutnya bukan senyum hangat Dion, melainkan seorang perempuan muda dengan gaun tipis, berdiri terlalu dekat dengannya.

"Aruna... aku bisa jelasin," suara Dion tergagap. Matanya panik, wajahnya pucat.

Aruna berdiri kaku di ambang pintu. "Jelaskan? Dengan siapa kamu di sini?"

Perempuan itu tersenyum miring, lalu menatap Aruna tanpa ragu. "Aku tunangannya."

Dunia Aruna runtuh seketika. Nafasnya berhenti. Semua janji, semua kata cinta, semua malam panjang penuh tawa-ternyata hanya sandiwara. Ia menatap Dion sekali lagi, lalu berbalik pergi tanpa kata. Hujan turun waktu itu juga, menelan tangisnya bersama langit.

Kini, di masa sekarang, Aruna memejamkan mata, mencoba mengusir kenangan itu. Ia sudah bahagia bersama Rayhan dan putri kecil mereka. Tapi luka seperti itu tak pernah benar-benar sembuh. Ia hanya belajar berjalan sambil menahan nyeri yang kadang muncul tanpa sebab-terutama ketika ia takut, Rayhan mungkin akan sama seperti Dion.

Suara ketukan di pintu memecah lamunannya. Aruna bangkit, membuka pintu, dan menemukan Kirana berdiri dengan payung basah di tangan dan sekantong roti hangat. Sahabatnya sejak kuliah itu tersenyum ramah.

"Pagi, Na," sapa Kirana. "Aku lewat, sekalian mampir."

"Masuk, Kir. Hujan-hujan gini, roti hangat pas banget, tapi kamu selalu repot bawain aku sesuatu" jawab Aruna, mempersilakan masuk.

Mereka duduk di dapur, mengiris roti dan menyesap teh. Obrolan ringan mengalir, tapi Kirana memperhatikan Aruna dengan tatapan tajam, seolah membaca isi pikirannya pasti ada sesuatu yang ditutupi oleh sahabatnya itu tutupi.

"Kamu kelihatan kepikiran. Ada masalah?" tanya Kirana akhirnya.

Aruna terdiam sesaat. "Entahlah. Belakangan ini Rayhan sering kelihatan aneh. Pulang larut, sering dapat pesan dari nomor yang aku nggak kenal."

Kirana mengaduk tehnya perlahan. "Mungkin urusan kerja kali Na. Kamu tahu Rayhan jarang cerita detail kan."

"Tapi aku merasa... ada yang dia sembunyikan."

Senyum tipis muncul di bibir Kirana, tapi tatapannya sekilas berubah-aneh, seperti menahan sesuatu. "Kalau memang ada, mungkin dia punya alasannya, Na. Belum tentu hal buruk dan siapa tau supaya kamu ngga ikut kepik."

Nada suaranya membuat Aruna diam. Ia ingin percaya, tapi kalimat Kirana terasa seperti menyimpan sesuatu di baliknya. Dan pembahasan mereka berhenti begitu saja seperti hilang di lahap kesenyapan.

Siang itu, Aruna memutuskan pergi ke galeri tempat ia dulu bekerja. Ada pameran kecil, dan ia berharap bisa menenangkan pikirannya di antara aroma cat minyak dan warna-warna kanvas. Galeri itu masih sama: dinding putih, lampu sorot hangat, dan musik lembut yang mengisi ruangan.

Saat Aruna berdiri di depan lukisan abstrak berwarna biru laut, sebuah suara familiar memecah kesunyian.

"Aruna?"

Tubuhnya menegang. Ia menoleh perlahan. Di sana, berdiri Dion-dengan jas abu-abu rapi dan senyum yang sama seperti dulu. Dunia seakan berhenti berputar sejenak.

"Lama nggak ketemu," ucap Dion pelan.

Aruna menarik napas dalam. "Iya. Lama."

"Aku nggak tahu kamu masih suka datang ke sini," katanya.

"Aku cuma lewat," jawab Aruna singkat. "Dan itu bukan urusan kamu ju."

Dion tersenyum kecil. "Aku sponsor pameran ini. Jadi aku harus datang." Ia menatap Aruna lekat-lekat, seolah mencari sesuatu di balik wajahnya. "Kamu kelihatan... baik-baik saja. Aku senang."

Aruna tersenyum getir. "Orang yang kamu hancurkan hatinya bisa sembuh, Dion. Tapi bekasnya nggak akan hilang tapi aku akan belajar buat hilangkan itu."

Dion menunduk. "Aku tahu. Aku minta maaf. Aku nggak bisa mengubah masa lalu, tapi..." Ia berhenti sebentar, lalu menatapnya lagi. "Aku cuma mau bilang-hati-hati sama suami kamu."

Aruna mengerutkan alis. "Apa maksud kamu?"

"Rayhan... dia bukan orang yang kamu kira."

Darah Aruna terasa berhenti mengalir. "Ckk, setelah kelakuan Kamu yang jelek itu terlihat kamu juga ingin menjelekkam Rayhan? Kamu nggak berhak bicara tentang suamiku," katanya tajam.

"Aku tahu aku nggak berhak," Dion menunduk. "Tapi tolong ingat kata-kataku. Suatu hari kamu akan mengerti."

Aruna tak ingin mendengarnya lagi. Ia berbalik, melangkah cepat meninggalkan ruangan itu. Tapi kata-kata Dion terus berputar di kepalanya, seperti gema yang tak mau hilang.

Senja mulai turun ketika Aruna tiba di rumah. Hujan sudah reda, menyisakan aroma tanah basah. Ia duduk di teras, memandangi jalanan yang kosong. Saat itulah suara mobil berhenti di depan rumah. Rayhan keluar, membawa beberapa kantong belanjaan.

"Halo, cantik," sapanya dengan senyum ceria. "Aku beliin dessert kesukaan kamu."

Aruna terkejut tak biasanya sang suami sudah pulang di jam segini biasanya ada saja alasannya lembur. Ia menerima kantong itu, tapi pandangannya tetap tertuju pada wajah Rayhan.

"Kamu ketemu siapa hari ini?" tanyanya tiba-tiba.

Rayhan terkejut. "Maksud kamu?"

"Aku cuma tanya. Salah, ya?"

"Meeting, seperti biasa," jawab Rayhan tenang.

"Kenapa?"

Aruna menatapnya lama sebelum akhirnya menggeleng. "Nggak apa-apa. Makasih dessert-nya. Ayo kita makan bareng"

"Ngga, sayang, itu untuk kamu aja aku belinya," ucap Rayhan.

Rayhan tersenyum, mengecup keningnya, lalu masuk ke kamar untuk berganti baju. Aruna menatap punggungnya hingga hilang di balik pintu, lalu menunduk memandangi tangannya yang gemetar.

Nafasnya tiba-tiba sesak, sedari tadi ia menahan napas untuk tidak bertanya berlebihan kepada suaminya dan akan menimbulkan masalah baru.

Kata-kata Dion bergema di benaknya, "Hati-hati sama suamimu."

Ia menutup mata, mencoba menepis semuanya. Tapi di dalam dada, luka lama dan rasa curiga mulai bercampur menjadi sesuatu yang lebih berbahaya: ketakutan.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Aruna tak yakin apakah rumah kecil mereka masih menjadi tempat yang aman-atau hanya panggung yang perlahan retak dari dalam.

Bab 3

Sabtu pagi, langit cerah dan udara segar menyusup lewat jendela ruang tamu. Aruna sedang membereskan mainan Aila yang berserakan di lantai ketika suara bel rumah berbunyi. Rayhan sejak tadi sudah pamit pergi seperti biasa melakukan hobi bermain golf bersama temannya.

"Bunda, siapa itu?" tanya Aila yang sedang memeluk boneka kelincinya.

"Kayaknya Tante Kirana," jawab Aruna sambil membuka pintu.

Benar saja, Kirana berdiri di sana dengan blus putih sederhana dan celana jeans, rambutnya diikat rapi. Tangannya membawa kantong belanja besar. Ia tersenyum semangat mengangkat dua kantong plastik ditangannya.

"Aku bawa bahan buat masak bareng. Lumayan, sarapan sekalian brunch," kata Kirana sambil masuk menuju dapur rumah Aruna.

Aila langsung memeluk kaki Kirana. "Tante Kiranaaa! Aila mau bantu masak!" pekik Aila.

"Wah, pinter banget boleh dong sayang," Kirana tertawa, lalu mengelus rambut Aila.

Mereka bertiga pindah ke dapur. Seperti biasa Aruna sudah menganggap Kirana seperti saudaranya tak heran hampir setiap hari Kirana datang bahkan hanya sekedar datang bercerita saja.

Sambil memotong sayuran, Kirana sesekali melirik Aruna. Tatapan itu bukan sekadar perhatian seorang sahabat ada campuran khawatir, ingin bicara, tapi menahan diri.

"Kamu kelihatan capek, Na," ujar Kirana akhirnya.

"Kurang tidur lagi?"

Aruna mengangguk kecil. "Belakangan ini pikiran aku nggak tenang. Semua kayak muter di kepala aku" eluh Aruna.

"Kamu masih kepikiran soal Rayhan?"

"ntahlah... dia bilang semua baik-baik aja, tapi aku ngerasa dia nyembunyiin sesuatu. Dan... kemarin aku ketemu Dion di galeri."

Pisau di tangan Kirana berhenti bergerak. "Dion?" tanyanya kaget.

"Iya. Setelah bertahun-tahun ngga ketemu bisa-bisanya Dia bilang... aku harus hati-hati sama Rayhan. Menurutmu aneh nggak? Mantan pacar dan masa lalu buruk bilangin hal kayak gitu?"

Kirana menunduk, pura-pura fokus memotong wortel. "Aneh sih. Tapi Dion... dia kan memang suka ngomong aneh-aneh. Jangan terlalu dipikirin. Mungkin dia masih belum move on dari kamu secara kalian berakhir juga karena kesalahan dia"

Aruna menghela napas. "Tapi entah kenapa kata-katanya terngiang dan buat aku sedikit percaya. Apalagi, kamu juga pernah bilang... mungkin Rayhan nyembunyiin sesuatu."

Kirana terdiam sesaat. "Na... kamu ngga perlu mikir keras. Kadang ada hal yang kalau diungkap sekarang, malah bikin sakit hati lebih cepat. Mungkin itu cuma perasaan kamu aja Rayhan sibuk kerja buat kamu dan Aila."

Aruna menatapnya lekat-lekat. "Kirana... kamu tahu sesuatu tentang Rayhan, ya?"

Pertanyaan itu membuat Kirana sedikit kaku. "Hah? Aku... cuma nggak mau kamu nyakitin diri sendiri dengan pikiran buruk. Itu aja. Lagian hal apa sih yang aku rahasiain dari sahabat aku sendiri," ucap Kirana berusaha meyakini Aruna.

Aruna ingin bertanya lebih jauh, tapi Aila tiba-tiba memanggil. "Bunda, kelinci Aila jatuh di halaman!"

Mereka berdua pun beralih, dan percakapan itu menguap begitu saja. Setidaknya pembahasan berat ini berakhir untuk kali ini dan Kirana akan berusaha menenangkan sahabatnya itu.

---

Menjelang siang, setelah selesai makan bersama, Kirana membantu Aruna mencuci piring. Sementara itu, Aila bermain di teras. Rayhan tadi mengirimkan pesan tidak akan makan siang di rumah dan Aruna bisa mendapatkan waktu membicarakan suaminya bersama Kirana.

"Kamu pernah lihat Rayhan tertekan nggak?" tanya Aruna tiba-tiba, suaranya pelan.

"Pernah... sekali, dia sepupu aku Na sedikit banyak hal yang aku tau" jawab Kirana, ragu. "Itu beberapa bulan sebelum kalian menikah. Dia kayak lagi ngejar waktu, sering bolak-balik telepon, dan... kayak orang yang takut kehilangan sesuatu."

Aruna berhenti membilas piring, menatap sahabatnya curiga. "Kamu nggak pernah cerita soal itu sebelumnya. Kamu mau main rahasia ama aku"

Kirana hanya tersenyum tipis dan berusaha tenang. "Karena aku pikir nggak penting. Dan waktu itu... kamu lagi bahagia banget. Aku nggak mau merusaknya. Lagian sepertinya juga bukan hal yang penting Na"

"Tapi sekarang? Kalau aku tanya terus terang... kamu akan jujur?" tanya Aruna berusaha abai dengan penjelasan Kirana.

Kirana meletakkan piring, mengeringkan tangannya. "Na, aku sahabatmu. Kalau memang aku rasa waktunya tepat, aku akan cerita. Sekarang... aku cuma mau kamu percaya sama Rayhan, setidaknya sampai dia siap bicara sama kamu semuanya."

Jawaban itu tidak memuaskan Aruna. Tapi ia tahu, memaksa Kirana hanya akan membuatnya makin menutup diri. Kirana sudah baik kepada dirinya dan Aruna bersyukur memiliki sahabat serta saudara secara bersamaan di Kirana.

---

Sore harinya Kirana pamit pulang. Aruna begegas menghantarkan Kirana sampai ke depan pintu. Saat Kirana menuruni tangga, ponselnya bergetar di tangan. Sekilas, Aruna melihat nama "Dion" di layar sebelum Kirana buru-buru memasukkannya ke saku.

"Kamu... masih kontakan sama Dion?" tanya Aruna, sedikit terkejut dan heran.

Kirana tersenyum tipis, tapi matanya menghindar berusaha tenang. "Kadang-kadang sih. Urusan kerjaan aja Na. Kenapa?"

Aruna terdiam dan menggeleng pelan, dia pikir itu memang urusan Kirana untuk tidak mencampuri urusan pribadi dengan pekerjaan.

"Na, kamu tenang aja. Aku hanya bersikap professional. Aku benci dia yang sudah menyakiti kamu." jelas Kirana.

Aruna ingin bertanya lebih lanjut, tapi Kirana sudah melambaikan tangan dan berjalan menuju mobilnya. Ya seharusnya Aruna tidak memiliki masalah untuk hal itu lagipula Dion tidak penting untuk diingat.

---

Aruna duduk sendirian di ruang tamu menunggu suaminya pulang. Di meja, ada secangkir teh yang sudah mulai dingin. Pikirannya kembali pada tatapan Kirana saat mereka di dapur, juga reaksi cepatnya saat nama Dion muncul di ponsel.

"Sayang, aku pulang. Kamu sudah nunggu aku lama ya?" Rayhan muncul dengan senyum manisnya.

"Ngga papa, kamu kan sedang menghabiskan waktu libur kamu. Kamu mau makan malam sekarang?" tanya Aruna seraya tersenyum lembut.

Rayhan mendekati Aruna dan menciumi seluruh wajah sang istri, ia sangat mencintai Aruna terlepas dari apapun gangguan yang mereka akan lalui.

"Ngga, sayang aku mau manja-manja sama kamu aja. Ayo kita ke kamar,"

Aruna tersenyum dan sedikit terharu momen ini sangat jarang terjadi sejak munculnya pikiran dan rasa penasaran kepada suaminya. Tanpa menyisakan kesempatan pasangan suami istri itu menuju kamar dan menghabiskan waktu bersama.

---

Di tempat lain, Kirana duduk di kursi mobilnya yang terparkir di depan rumahnya. Ia menatap ponselnya yang masih menampilkan pesan terakhir dari Dion. Perasaannya tentu tidak tenang karena menyangkut sahabatnya Aruna.

"Kita harus segera bicara. Kalau Aruna tahu, semua bisa kacau." Kirana kembali mengirim pesan kepada Dion.

Kirana menutup matanya sejenak, merasakan beban yang semakin berat di pundaknya. Di antara rasa sayang pada sahabatnya dan rahasia yang ia simpan, Kirana tahu... waktu mereka semakin menipis sebelum kebenaran itu akhirnya keluar ke permukaan dan banyak hal yang akan tersakiti. Kirana harus mengambil langkah cepat.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED