"Nia, aku hamil."
Dengan wajah jumawa Sonya mengabarkan berita kehamilannya untuk kakak tirinya, Kania.
"Apa aku harus mengucapkan selamat? kau bahkan belum menikah!" datar suara Kania menanggapi pernyataan adik tirinya.
Dia heran biasa Sonya menemuinya hanya untuk memakinya, menghinanya, memfitnahnya.
Itu yang selalu dilakukannya sejak ibunya menikah dengan ayah Kania.
Tumben hari ini dia berbicara yang tidak ada hubungannya dengan Kania.
"Terserah, kau bisa mengucapkan selamat padaku atau pada Bram." Kini wajah Sonya tersenyum culas.
"Pada BRAM? Bramantyo?" Kania tahu kalau Sonya memang selalu menggoda tunangannya, Bramantyo Ajisaka, tapi selama ini Bram mengabaikannya.
Lalu kalau sampai hamil, diperlukan 2 pihak yang terlibat untuk bisa hamil bukan?
"Memangnya ada berapa Bram yang kamu kenal? ya iyalah Bramantyo Ajisaka!" bentak Sonya.
"Nggak mungkin, Bram tidak mungkin mengkhianati aku, jaga mulutmu Sonya!"
"Heh, kakak tiri, kamu yang jaga mulutmu, kalau nggak, aku bisa melemparmu keluar dari rumah ini!" kembali Sonya membentak Kania.
Kania tidak menghiraukan Sonya.
Sudah kenyang Kania dengan ulah Sonya dan Ibu tirinya yang tidak puas-puasnya berusaha menyiksa Kania.
Kania mengabaikan adik tirinya yang masih berusaha menancapkan taringnya, Kania sedang menelepon tunangannya yang kini satu kantor dengan ayahnya.
Setelah mereka bertunangan, ayah Kania telah memberi Bramantyo Ajisaka kedudukan sebagai salah seorang Wakil Direktur Keuangan di perusahaan milik keluarga mereka.
"Kania, tumben kamu telepon, ada apa?" tanya Bram.
"Apa aku menyela sesuatu yang penting?" Tanya Kania.
Itu memang kebiasaan Kania yang selalu mengesampingkan urusan pribadi.
"Tidak, aku sudah di jalan, ada yang ingin kau beli? Makanan?" Tanya Bram dengan nada seperti biasa.
'Pasti Sonya yang bermulut besar,' batin Kania mendengar nada lembut Bram.
"Ada Sonya di depanku, dia bilang sedang mengandung anakmu, benarkah?" Kania bertanya sambil menatap tajam manik Sonya.
Tidak ada jawaban.
Hening.
"Bram?"
"Masalah ini tidak bisa kita bahas lewat telepon."
Deg!!
Kania mulai merasa gelisah mendengar jawaban Bram.
"Kau hanya tinggal bilang TIDAK, maka semuanya selesai." sergah Kania lembut.
"Tunggu kita bahas bersama, separuh perjalanan lagi aku sampai." Kemudian Bram menutup teleponnya.
"Bagaimana? masih nggak percaya? Oh ya Bram juga bilang kamu terlalu dingin, nggak bisa membangkitkan gairahnya, bahkan banci pun mungkin lebih baik dari kamu, itu kata pria yang jadi tunanganmu lho, bukan kata aku." Sonya semakin mengejek sambil menaikkan alisnya.
"Nggak mungkin itu anak Bram, kamu memang terlalu liar!" Desis Kania.
Tawa Sonya seketika membahana.
"Tahukah kau? Itu yang membuat Bram jatuh dalam pelukanku... LIARRR...itu memang kelebihan ku sekaligus itu adalah kekuranganmu, kau pikir di ranjang pria ingin wanita yang sopan? Tenang? Lemah lembut? Elegan? Kasihannn amat .... nggak becus sampai tunanganmu harus cari kepuasan di ranjang wanita lain!"
Sudah lama Kania tahu mulut Sonya memang jahat, tapi sore ini dia mendapati mulut itu terlalu jahat!
Kania ingin menyangkal tidak mungkin Bram bilang dia di ranjang lembut dan sopan, karena memang mereka belum pernah seranjang, dia berusaha menjaga dirinya, lagian menurutnya selama ini dorongan untuk melepas kesuciannya pun tidak pernah datang, Bram tidak membuatnya kepanasan dan kewalahan seperti yang dia baca dan dengar selama ini.
Kania memandang adik tirinya dengan muak.
"Hamil tanpa suami kok malah bangga, dasar tidak PUNYA MALU!"
"Ada apa ini?" tanya seorang wanita lanjut usia yang masih terlihat segar dengan gaun terbuka di dada.
Sonya langsung memasang tampang memelas.
"Kania bilang Sonya liar, padahal Bram sendiri yang memaksa Sonya, ngejar-ngejar Sonya, sampai Sonya hamil." Sonya berusaha mengambil hati ibunya.
"Kania, kamu yang nggak bisa bahagiakan tunanganmu kalau sampai dia jatuh hati sama Sonya!" Bentak ibu tirinya.
"Bram nggak mungkin tertarik kalau bukan Sonya yang menggoda!" Kania sudah setengah hati membela Bram, 'layakkah pria itu menerima pembelaanku,' batin Kania.
"Nggak usah nuduh ya, kamu sama aja dengan Ibumu, nggak becus jaga suami, nggak bisa memuaskan pasangannya!!"
KURANG AJAR!
Kania meradang mendengar almarhum Ibu kandungnya dihina.
Bisa-bisanya ayahnya membuang ibunya hanya untuk wanita dangkal seperti ini.
"Cukup! TUTUP MULUTMU! menyebut nama ibuku pun kamu nggak layak." Suara Kania bergetar sarat dengan kemarahan.
Gentar juga ibu tirinya melihat raut wajah Kania, tapi dia nggak mau kehilangan muka.
"Awas kalau aku dengar kamu bilang anakku liar lagi!" ancam ibu tirinya, Emmy Damayani, yang sejak masuk rumah tangga mereka selalu berusaha menyingkirkan Kania.
Kania bukan orang yang lemah, dia tidak akan membiarkan mereka menindasnya di rumahnya sendiri, memang ibunya telah meninggal, jadi dia hanya seorang diri melawan mereka berdua tapi dia tidak takut.
"Keluar kalian dari kamarku!" usir Kania.
"Berani kamu berbicara kasar dengan Ibumu!" bentak Emmy Damayani.
"Kau tidak pantas menjadi seorang Ibu!"
"Apa? Kau memang keterlaluan, tidak ada hormat-hormatnya pada orang tua."
"Percuma mengajarkan etika kalau diri sendiri tidak melakukan."
"Apa maksudmu?"
"Wanita yang menghancurkan rumah tangga orang lain pasti bukan orang baik-baik, jadi berhentilah menasehati."
"Dasar anak tak tahu diuntung, lihat aja aku akan membuatmu menderita."
"Itu memang sudah watakmu bukan? Membuat orang lain menderita!" Balas Kania.
"Ada apa ini, Kania kenapa kamu membentak ibumu begitu keras?" tanya Ayah Kania, yang tiba-tiba sudah ada di belakang ibu tirinya.
"Papa, harus tahu cerita seutuhnya, bukan aku yang mengusik mereka duluan."
"Billy, anakmu memang tidak pernah bisa menerimaku, bukan aku yang membuat ibunya meninggal, kenapa dia selalu membenciku?" Emmy mengeluarkan airmata buayanya.
"Kania, minta maaf sama ibumu." Bentak Billy pada anak perempuan dari istri pertama yang sangat disayangnya.
Bibir Kania terlihat bergetar menahan emosinya yang campur aduk.
"Pa, Papa cuma tahu bagian akhirnya, Papa tidak tahu saat mereka memakiku, menghinaku, sekarang aku yang harus minta maaf?"
Billy terdiam, dia mengenal anak perempuannya, tidak mungkin anaknya berdusta.
"Kenapa kalian semua tidak bisa berdamai? selalu bertengkar? tidak bisakah rumah ini tenang?" teriak Billy kesal, selalu ada pertikaian saat dia ingin ketenangan sepulang kantor.
"Kalau kau ingin tenang, suruh Kania keluar dari rumah ini, suruh dia beli rumah sendiri, agar dia tidak menunjukkan kebenciannya yang begitu besar, lama-lama aku nggak tahan Billy!" kembali ibu tirinya bermain drama, mengucapkan tiap kata dengan lemah dan parau seakan sedang menahan tangis.
Luar biasa munafik!
"Papi suruh kakak Kania minta maaf, sudah ngata-ngatain Sonya liar, jalang, ganjen, sudah memaki-maki Mommy." Sonya pun menangis di pelukan ibunya, semakin menguatkan kubu ibunya sebagai pihak yang teraniaya.
"Kania, kau bilang Sonya begitu?"
"Aku hanya bilang Sonya liar karena dia hamil tanpa ada yang bertanggung jawab, apa namanya, Pa?"
"Sonya, kau hamil?" Billy tahu anak tirinya memang bergaul bebas, tapi dia tidak menyangka Sonya sampai begitu bodoh membiarkan dirinya hamil.
Kania melihat Sonya segera memasang tampang yang menyedihkan
'Ibu dan anak sama saja, pemain drama nomor satu,' kata Kania dalam hati.
"Suruh pacarmu datang menghadap Papi, hari ini juga!" Teriak ayah Kania sambil memandang anak tiri bawaan dari istri keduanya.
"Aku yang bertanggungjawab!"
suara dalam seorang pria mengalun di udara, menciptakan keheningan.
"BRAM?" Kania terpana.
Bramantyo tunangannya?
Mereka semua memandang Bram dengan pikiran mereka masing-masing.
"Kenapa harus kamu yang bertanggung jawab Bram?" desak Kania.
Kali ini Emmy yang angkat suara sambil memindahkan anak gadisnya ke pelukan Bram, yang memeluk Sonya dengan setengah hati.
"Kamu tuh double degree, lulusan luar negeri tapi gitu aja lemot, ya Bram bapaknyalah, makanya Bram yang akan tanggung jawab!!" Bentak Emmy.
Wajah Kania memucat.
Bukan hanya Kania yang kaget, ayah Kania pun terkejut, setelah pertunangan anaknya, Billy mengangkat Bramantyo menjadi Wakil Direktur Keuangan dengan harapan besok dialah yang akan menggantikan Billy.
Kenapa sekarang dengan anak tiri yang bukan darah dagingnya? Sonya adalah anak bawaan Emmy dengan suami pertama yang memang berwatak licik.
Bramantyo bisa membaca gelagat yang kurang baik, segera dia memutar otaknya.
"Papa jangan khawatir aku tetap akan melangsungkan pernikahanku dengan Kania, aku sayang dengan mereka berdua, Pa."
Bram merasa Sonya mau memprotes, hingga dia mencubit Sonya agar mau menuruti permainannya, dia berbisik di telinga Sonya, "Dialah pewaris sebenarnya dari PT Nikelindo, kau mau hidup miskin?" Kalimat Bram sukses membuat Sonya menutup mulutnya.
Keadaan menjadi hening.
"Otakmu sudah dicuci Bram, kamu kira aku mau dimadu? apalagi dengan wanita liar seperti dia!" Kania berusaha merendahkan suaranya sambil menunjuk Sonya dan Bram.
"Kakak Kania selalu ngejelekkin aku." Di depan orang banyak Sonya selalu pura-pura baik hati, memanggil kakak tirinya dengan sopan.
"Cukup, cukup, kalian semua keluar dari kamar Kania, kita duduk bersama , kita selesaikan masalah ini biar tidak berlarut-larut!"
Tiba-tiba Emmy, ibu tiri Kania mulai oleng, kemudian dia berpegangan pada ayah Kania.
"Bill, kau ceraikan saja aku, kalau itu bisa membuatmu tenang, walau aku terlalu mencintaimu," dengan terisak-isak ibu tiri Kania melancarkan strateginya, padahal Kania tahu watak aslinya jika di belakang ayah Kania.
Ayah Kania diam saja, sambil menuntun Emmy dan mendudukkannya di sofa panjang.
"Bram, kamu tunangan Kania, kenapa kamu bisa bersama Sonya?" Ayah Kania berusaha bersikap adil terhadap anak gadisnya.
Bram memandang Billy lama, seakan ingin menyampaikan isi hatinya 'kita sama sama Pria, mana kuat kita menolak godaan, kau tahu kenapa'
Terdengar Bram menjawab sambil melihat Kania. "Kania terlalu sibuk dengan urusannya Pa, sampai aku terlena oleh perhatian Sonya, jadi aku akan tetap menikahi Kania walaupun aku juga tidak mungkin melepaskan tanggung jawabku terhadap Sonya, Pa!"
Kania merasa ingin muntah.
Sudah cukup lama dia tersiksa sejak ayahnya menikah dengan ibu tirinya, tapi semua masih bisa ditahannya hingga malam ini.
Kania memaki kebodohannya, dulu dia menolak saat ayahnya berusaha memperkenalkan dia dengan Bram, tapi akhirnya dia luluh, ternyata intuisinya benar, Bram dan mereka semua memang ular.
Kania ingat ibunya yang menderita saat ayahnya meminta ijin untuk menikah lagi, hingga ibunya sakit-sakitan kemudian meninggalkan Kania, anak gadis semata wayangnya sendirian.
Sudah terlalu sering ayahnya mengkhianati ibunya, tapi ayahnya selalu menyesal dan tidak mau menceraikan ibunya, alasannya karena terlalu mencintai ibunya, CINTA MACAM APA yang selalu menyakiti? batin Kania.
"Bagamana Pa, Papa setuju kan?" Bram masih berusaha mengambil hati calon mertuanya itu.
"Aku terserah Kania saja!"
Mendengar perkataan ayah Kania, mereka semua memandang Kania dan menunggu.
Mereka yakin Kania merasa lega karena Bram tetap akan melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan. Mereka berpikir Kania pasti gadis manja yang tidak mau hidup susah, jadi pasti Kania akan mengalah.
Akan tetapi yang terjadi diluar perkiraan mereka.
Mereka semua tertegun melihat apa yang Kania lakukan.
Kania melepas cincin pertunangannya dan meletakkan di meja terdekat.
"Selesai, tidak ada lagi hubungan diantara kita," kata Kania kepada tunangan yang tidak malu menawarkan menikahi mereka berdua.
Pria macam apa yang telah menjadi tunangannya selama ini?
"Aku juga tidak akan menganggapmu saudara dan ibuku," kini perkataan Kania ditujukan kepada Ibu tiri dan adik tirinya.
"Pa, besok Kania akan pergi ke rumah lama." kemudian Kania meninggalkan mereka semua.
Ayah Kania akan berdiri, bermaksud mengikuti anak gadisnya ketika Emmy kembali memeluknya dan menangis.
Bramantyo Ajisaka melihat kepergian tunangannya dengan hati menyesal, Kania benar-benar marah, Bram sebenarnya lebih memilih Kania, walau selama ini Kania tidak mau melayaninya dengan alasan mereka belum menjadi suami istri.
Kania begitu menjaga kesuciannya, tidak sebanding dengan Sonya yang sudah tidak lagi virgin saat dia mengajaknya tidur untuk yang pertama kali.
**
Kania masuk ke kamar, normalnya dia akan menangis meraung-raung tapi tidak ada setitik air mata pun yang keluar, dia tahu hatinya sedih tapi kemarahannya jauh lebih besar hingga dia tidak bisa menitikkan air mata.
Dia menelepon sahabatnya, Fara. Akan tetapi lama menunggu teleponnya tidak juga diangkat lalu dia ingat Fara sedang mengantar neneknya berobat ke luar negeri.
Dalam kesedihannya dia meringkuk sendirian.
Benar-benar sendirian.
Dia merindukan mendiang ibunya, yang selalu ada menenangkannya saat dia menghadapi masalah walaupun saat itu ibunya sendiri sedang memendam kesedihan, kini dia bisa merasakan bagaimana rasanya HATI yang TERSAKITI... luar biasa sakitnya, ingin rasanya dia keluar, dan membalaskan sakit hati ibunya kepada ayahnya yang mendua dan memaki ibu tirinya, lalu memaki Bram yang begitu mudahnya mengkhianati janji mereka.
Kania berbaring dengan membawa kekecewaan yang dalam terhadap ayahnya dan Bram.
DUA PRIA terpenting dalam hidupnya, yang telah menghancurkan semua bayangan romantis yang pernah dimilikinya tentang cinta dan kue pernikahan.
Pria begitu mudah berpaling.
Dadanya nyeri, dia tahu ini bukan karena fisiknya terganggu tapi psikisnya yang terganggu.
Dia merasa gamang.
Dia berharap bisa tertidur agar dapat melupakan rasa sakit di hatinya, dia tidak patah hati, karena dia tidak jatuh cinta setengah mati terhadap Bram, tapi dia sudah menata gambaran masa depannya, dan berharap semua berjalan sesuai harapan.
Ternyata sebuah impian akan susah terwujud jika melibatkan pria!
Karena tak juga dapat tertidur akhirnya Kania bangun, membawa kunci mobilnya, keluar dari rumahnya tanpa tujuan, hingga dia melewati sebuah cafe yang tempat parkirnya cukup luas.
Dia memarkir mobilnya, masuk ke dalam cafe yang sangat ramai karena ada yang berulang tahun.
Saat Kania masih menyesuaikan diri dengan keadaan cafe yang mewah dan elegan, tiba-tiba terdengar suara berat seorang pria.
"Honey, kau sudah membuat aku cemas, tadi sebenarnya lebih baik aku menjemputmu," Pria itu mencium sudut bibir Kania sambil bergumam, "IKUTI PERMAINANKU KALAU TIDAK KAU AKAN MENYESAL!"
Kania berusaha melepaskan lengannya tapi gagal.
Setelah sesi kecupan yang disertai ancaman, si pria menggandeng tangan Kania dan menghampiri sebuah meja dengan lima pasang mata yang mengamati mereka, dalam diam.
Kania balas menatap mereka, otaknya masih belum bekerja normal. Dia baru saja keluar dari rumah yang penuh dengan orang-orang keji, kini dia diperhadapkan dengan orang-orang asing. Beberapa dari mereka memandangnya sama seperti raut sinis ibu tirinya.
Hari apa ini? Kenapa dia harus menghadapi masalah bertubi-tubi?
"Mom, Dad, Henny, Tante, Om, ini gadis yang tadi Nick ceritakan, Honey kenalan dulu," dalam kebingungannya Kania berjabat tangan dengan mereka semua tanpa menyebutkan namanya.
Kania menerima pandangan mencemooh dari Henny dan ibunya, seolah melecehkan pilihan Nick.
"Nick nggak salah pilih? masak gadis nggak bertata krama gini yang mau dijadikan kekasih." Henny menghina Kania terang-terangan.
"Jeng, masa ini calon menantumu, nggak malu? Emang kenalan dimana Nick?"
Sergah mamanya Henny dengan wajah jumawa.
Kania melihat wajah mereka satu demi satu hingga sampai di wanita yang ditebaknya sebagai Ibu Nick yang terlihat tenang-tenang saja.
Wajahnya teduh.
"Sudah Ma, nggak usah ngurusi orang!" Tegur ayah Henny sungkan melihat kelakuan istri dan anaknya.
"Mungkin nak Nick marah karena Henny sibuk dengan geng sosialitanya, maklum jeng, Henny termasuk pendirinya." Kembali Ibu Henny berusaha mengambil hati orangtua Nick.
Kania menilai mereka dengan otaknya yang masih berkabut, hasilnya dia belum bisa menangkap apa pun selain hinaan, yah...kembali dia mendapat hinaan!
Tidak ada yang membelanya, memang penampilannya pasti mengerikan... batin Kania, setelah menangis cukup lama, dia keluar tanpa mengganti pakaian rumahnya, dia hanya ingin menjauh dari mereka semua.
Ternyata dia terjebak dalam keadaan yang sama.
Polanya berulang, kembali dia menjadi korban hinaan.
Ini hari apa? Apa dosanya hingga dia mengalami hinaan bertubi-tubi seperti ini?
Pria yang dipanggil Nick itu mengajaknya duduk bersama.
Nick mengangsurkan gelas berisi sampanye untuk Kania lalu Nick mengangkat gelasnya sendiri dan
mengajak mereka semua bersulang.
"Untuk kebahagiaan."
Kania mendengar Nick bergumam.
Lalu Nick mendekatkan kepalanya dan berbisik dengan mesra.
"Aku sudah memberitahu Mom and Dad tentang hubungan kita, Honey."
Berlawanan dengan apa yang nampak dipermukaan, Kania merasa tangan Nick di bawah meja menekan pahanya sebagai tanda peringatan.
"Ayo, kita makan dulu, ini sudah jam makan malam." Ajak Pierce Sebastian, ayah Nick yang berusaha menetralisir suasana canggung yang tercipta sejak teman bisnisnya, Mr Zack Vettel yang tanpa konfirmasi datang dengan anak gadisnya di pertemuan bisnis mereka.
Ini pertemuan mereka yang ketiga dan selalu ada Henny.
Pierce dan Nick datang mewakili PT Antampura akan tetapi Henny tidak mewakili perusahaan ayahnya, dia murni diajak karena akan disodorkan sebagai calon istri Nick Sebastian.
Sebenarnya Pierce juga heran dengan orang tua yang mencampuri urusan perjodohan anak-anaknya.
Mereka semua mulai makan dalam diam.
Nick menyuapkan roti ke mulut Kania.
Kania mengunyah pelan tanpa ekspresi.
Melihat hal itu kembali Nick memotong garlic bread dan menyuapkannya kembali.
Sebenarnya Nick kasihan melihat gadis yang memperkenalkan diri dengan Kania ini, gadis tak berdosa yang harus menjadi bulan-bulanan Henny, karena itulah Nick melayani Kania untuk sedikit meringankan perasaan bersalahnya.
Gadis ini dihina karena dia yang memanfaatkan kehadirannya, karena dia muak meladeni Henny yang sejak pertemuan pertama mereka tak punya malu mengejarnya dengan berbagai cara.
Nick kembali menyuapkan roti ke bibir Kania, ketika Henny seperti orang hilang akal mulai berulah.
"Nggak bisa dandan, nggak modis, nggak mungkin bisa memuaskan suami, terus apa yang bikin kamu pilih dia daripada aku? Jawab aku Nick, beri aku alasan satu aja kelebihan dia!" Henny sengaja bersuara keras , hingga menarik perhatian orang-orang yang ada di sekeliling mereka.
Pria yang di panggil Nick sudah mulai menipis kesabarannya, dia ditelepon orang tuanya untuk makan bersama kolega bisnis mereka, ternyata saat dia tiba sudah ada Henny dan kedua orang tuanya, dia tahu sudah lama mereka ingin menjodohkannya dengan putri mereka, gadis sombong, yang menganggap dirinya paling hebat.
Karena itu Nick mencari cara agar bisa lolos, dia bilang sedang menunggu kekasihnya, saat itulah dia melihat seorang gadis baru turun dari mobilnya, sendirian. Untunglah.
"Diamlah Hen, kekasihku dari tadi tidak membalas sedikitpun ocehanmu tapi bukan berarti kamu boleh terus menghina dia, cukup." Tegur Nick berusaha meredam kegusarannya karena di sana ada orang tua yang sangat dihormatinya.
"Mi, Mas Nick kenapa kasar sekali sama Henny?" Henny merajuk dengan gaya manja yang dimata Nick sangat memuakkan.
"Sudahlah, diam Hen." Kata Ayah Henny.
"Memang dia nggak punya tata krama, Pi. Kenalan aja nggak nyebut nama, memangnya sebenarnya nama dia siapa?" Desak Henny.
Nampak Nick dan orang tuanya diam saja pura-pura tidak mendengar pertanyaan Henny.
Hanya Kania yang menatap nanar ke arah Henny.
"Eh, mari kita lanjutkan, silahkan." Terdengar suara maskulin orang tua Nick mengisi kekosongan, Mr Pierce mempersilahkan mereka semua untuk makan.
Kembali terdengar suara sang pianis yang dari tadi menghibur, menyapa setiap pengunjung cafe.
"Bapak, Ibu, selamat malam, setelah lagu pembukaan, saya melihat ada seorang sahabat saya, satu asrama dengan saya di University of Adelaide, yang sangat mahir bermain piano, ladys and gentleman kita sambut KANIAAAA."
Mereka semua memberi applaus sambil menunggu siapa yang dipanggil oleh MC.
Kania yang sedang bersedih, mendengar namanya dipanggil, dia melihat ke stage, ada Dilla di sana, temannya yang tetap berhubungan baik walau sudah kembali ke Indo, akhirnya Kania berdiri dan berjalan ke stage.
Sesampainya di stage, Dilla berbisik.
"Senang sekali dia menghinamu, satu ruangan ini semuanya sampai tahu setiap hinaan yang dikeluarkannya dengan kasar, bikin dia tambah panas Nia, ayo jangan diam aja."
Seketika Kania merasa terbangun, ada orang dipihaknya.
Ada orang yang membelanya.
'Aku tidak akan diam saja menerima semua hinaan seharian ini,' batin Kania.
"Thank you Dill," bisik Kania.
Lalu ia membalikkan tubuhnya menghadap para pengunjung cafe elite yang malam ini begitu ramai.
"Lagu ini saya persembahkan buat calon suami saya tercinta, Sweetheart... this is for you, only you!" Kania sengaja mengatakannya sambil memandang lurus ke arah pria yang tadi tiba-tiba menggandengnya dan membawanya ke dalam masalah baru.
Ini pertama kalinya dia menatap pria itu yang ternyata LUAR BIASA TAMPAN.
Tinggi pria itu lebih dari 180 cm setelan bagus yang dikenakannya tidak bisa menyembunyikan tubuh kuat dan liat di baliknya. Mereka saling berpandangan dan Kania melihat mata kelabu itu memandangnya di atas hidung lurus yang tak kenal kompromi dengan bibir yang dipahat dan rahang persegi yang penuh tekad.
Sempurna.
Pria sejati!
Semua yang hadir bertepuk tangan dan tersenyum senang membuyarkan interaksi tanpa suara diantara mereka berdua.
Kemudian Kania mulai memainkan piano dengan begitu memukau, apalagi dia sedang ingin melampiaskan kemarahannya sehingga permainannya begitu hidup.
Dia memulai lagu pembukaannya dengan lagu 'La CampNella" nya Franz Liszt, segala kekesalannya ditumpahkannya ke dalam permainannya membuat para penonton tercekad, semua yang hadir terpana, begitu indahnya seakan nada-nada yang dimainkan Kania keluar dan menari-nari mengelilingi ruangan itu.
Setelah selesai Kania berdiri dan mereka semua standing applaus, hanya Henny dan ibunya yang tetap duduk di tempat.
Saat Kania sampai di mejanya, kembali Henny berusaha menyakiti hati Kania.
"Mungkin itu pekerjaannya, bermain dari satu club ke club yang lain, wanita malam!!"
Masih saja Henny mengeluarkan taringnya, bahkan kini dia semakin benci karena ternyata saingannya bisa memainkan piano begitu bagus hingga menarik perhatian banyak orang.
"Bisa tolong kamu jaga ucapanmu? Dari tadi kau menghinanya, salah dia apa? Kalian baru kenal kan? Kasar sekali kamu." Tegur Nick yang mulai bosan menahan dirinya melihat keculasan Henny.
"Halah, paling kamu juga baru ketemu dia kan? Kamu main comot biar aku kepanasan? Cemburu? Aku berani taruhan nanti kalian akan pulang ke rumah masing-masing! Kalian akan berpisah di pelataran parkir!" nyerocoslah Henny sesuka hatinya.
"Kau pikir lah sesukamu." Jawab Nick yang sudah sangat muak dengan kelakuan Henny yang merasa diri paling cantik dan paling kaya dan paling bener.