"Nduk menjadi seorang wanita itu harus kuat dan bisa menjaga diri, karena seorang wanita itu akan selalu menjadi sasaran fitnah dunia, jika masih gadis ia harus bisa menjaga kehormatan kedua orang tua terutama ayahnya, dan bila sudah berstatus sebagai istri maka suami adalah pakaiannya. Jadi, di mana ia berpijak, wanita akan membawa beban berat yang harus ia pikul setiap saat. Laki-laki pun demikian, memiliki tanggung jawab yang sangat besar, seorang laki-laki tidak akan bisa masuk surga sebelum mampu menjaga 3 wanita dalam hidupnya, ibu yang melahirkannya, istri, dan anak perempuannya. Menjaga dalam hal agama, jika seorang anak perempuan ke luar rumah tanpa menutup aurat maka semakin dekat pula ayahnya memasuki pintu neraka."
"Ayo Kayla keburu malam, nanti ibu kamu khawatir! apalagi pacarmu Rendy tadi bilang nitip kamu ke aku kan!" rengek Faza yang berhasil membuyarkan lamunanku. Begitulah Kak Rendy seperti radar yang selalu mengikuti keberadaanku jika sedang tak bersamanya, dia tidak akan segan-segan menelpon siapa pun orang yang sedang bersamaku.
"Iya, ayo pulang, dasar cerewet," jawabku dengan santai sambil membereskan mukena lalu menaruh di tempat semula. Baru saja aku mengikat salah satu tali sepatuku tiba-tiba sebuah suara menyapa, seketika hatiku berdesir karena mengenali pemilik suara itu. Suara yang masih sering kurindukan selama tiga tahun terakhir.
Deg deg deg... Jantungku berpacu lebih cepat, suara itu terdengar sangat nyata, aku tidak berani mengangkat kepala. Pandanganku hanya tertuju pada sepasang sepatu sport putih tepat di hadapanku.
"Hallo Kayla, apa kabar?" Suara itu kembali memecah lamunanku. Kepalaku masih tertunduk kaku, memainkan tali sepatu yang memang sudah rapi untuk mengulur waktu agar segera tersadar dari halusinasiku.
"Kayla, kamu ini ya dari tadi ngikat sepatu nggak kelar-kelar sih!" Suara kesal Faza menyadarkanku meskipun hanya kuanggap angin lalu.
"Bismillah!" kuucap dalam hati sambil mencoba mereda detak jantungku yang memberotak, aku bahkan bisa mendengar detak keras jantungku sendiri atau mungkin saja Faza dan laki-laki di depanku juga mendengarnya, tapi aku tak peduli, jika benar laki-laki itu adalah Kak Gibran maka menghilang adalah pilihan terbaik saat ini.
Kuangkat kepalaku perlahan sembari mencubit lenganku sendiri, "au," lirihku saat netra kami bertemu. Dia nyata, laki-laki di depanku adalah Kak Gibran, laki-laki yang mengajarkanku tentang rasa cinta dan kecewa secara bersamaan.
"Kay siapa cowok ganteng ini?" bisik Faza sambil mencubit lenganku yang masih membeku, seketika dunia yang kupijak seolah terhenti berputar.
Aku berdeham untuk membunuh kebekuan sekaligus rasa canggungku. Kulirik Faza yang sedang terpesona dengan rupa elok Kak Gibran, sama persis sepertiku ketika pertama kali berkenalan dengannya dulu, tidak bisa kupingkiri seolah ada magnet kuat yang menghisapku masuk ke dalam pesonanya. Siapan pun yang melihatnya pasti bisa menebak dia bukan asli orang Jawa Timuran, kulitnya putih bersih, hidung bangir, wajah baby face, serta senyum ramah yang selalu ia berikan keada orang yang dikenalnya.
Aku segera memutus kontak mata kami lalu mengalihkan pandangan ke arah lain. Aku takut kalah dan terjebak kembali dalam cintanya karena kini ada hati yang harus aku jaga.
"Lama nggak bertemu, kamu sekarang terlihat lebih dewasa dan cantik!" pujinya yang seketika membuat wajahku merona.
"Makasih Kak, kakak gimana kabarnya?" Balasku tanpa berani memandang wajahnya.
"Alhamdulillah baik," balasku kembali dengan singkat sembari memberanikan diri menatapnya.
Deg. "Aduh... senyum itu." Sadar Kayla, rutukku dalam hati.
"Maaf Kak aku buru-buru pulang," jawabku memotong pembicaraan karena aku sudah tidak tahan berlama-lama berdekatan dengannya.
"Ok, aku minta nomor WhatsApp kamu, nanti malam aku hubungi!" sahutnya masih menatapku lekat.
"Ta tapi Kak!" ucapku dengan terbata.
"Mbak aku boleh minta nomor WhatsApp Kayla?" Ucapnya pada Faza karena aku masih terdiam Kak Gibran langsung memintanya ke Faza yang sedari tadi berada di sampingku.
"Ini!" Faza menyodorkan ponselnya pada Kak Gibran dan dia segera menyimpan nomor WhatsApp_ku.
Aku tersenyum padanya sambil menarik tangan Faza meninggalkan Kak Gibran menuju ke arah parkiran masjid.
"Ayo buruan cabut!" Perintahku pada Faza yang kini telah duduk di hadapanku.
"Iya ya," gerutu Faza sembari menyalakan mesin motor lalu segera pergi.
***
"Besok aku ingin bertemu, kamu ada waktu kan Kay? Kalau nggak bisa aku saja yang nyamperin ke kampus kamu."
"Aku cuma ingin bicara, menyelesaikan kesalah-pahaman di antara kita dulu."
"Please..!"
Kubaca pesan WhatsApp berantai dari Kak Gibran berulang-ulang dengan perasaan bimbang antara menerima atau menolak ajakannya untuk bertemu. Berselang satu jam aku akhirnya memberanikan diri membalas pesannya.
"Iya Kak, besok bertemu di kampusku jam 3 sore, kebetulan aku hanya ada satu kelas."
Ku hempaskan tubuhku di atas ranjang sembari menghela nafas panjang lalu menghembuskan perlahan setelah menjawab pesannya. Debaran itu masih ada dan nyata.
Semalaman aku terjaga, bayangan wajah Kak Gibran tak jua mau pergi dari pikiranku, semakin kupejamkan mata maka semakin lekat senyumannya. Tetapi hatiku juga tak bisa berbohong jika aku pun mendamba bertemu dengannya lagi.
"Kay cowok ganteng kemarin siapa hayo? aku mencium sesuatu yang nggak baik ini," selidik Adel dengan seringai aneh sembari mengendus-endus seperti kucing ke arahku.
"Apaan sih kamu, lihat kek kucing aja," protesku sembari menjauhkan wajahnya dariku.
"Teman! Puas!" Jawabku singkat lalu melanjutkan langkahku menuju arah gerbang ke luar kampus.
"Tapi kata Faza kamu nervous banget kemarin pas ketemu dia di masjid!" Sambung Adel kembali karena merasa belum puas dengan jawabanku.
"Ehem aku juga pengen tau nich kayak ya seru!" Tiara mulai kepo dan ikut mencecarku dengan pertanyaan yang sama dengan Adel.
"Dia Kak Gibran." Akhirnya dengan berat hati aku mengakui bahwa Kak Gibran adalah cinta pertamaku.
"Apa!" Jawab mereka serempak dengan ekspresi terkejut.
"Hai, pasti ngomongin cowok ganteng kemarin ya?" potong Faza yang tiba-tiba sudah bergabung setelah menuntaskan hajatnya dari kamar mandi sembari merangkul bahuku dan Adel bersamaan.
"Terus Rendy mau kamu ke manakan Kay! Udah buat aku aja cowok kemarin," sambung Faza yang langsung mendapat tonyoran di kepalanya dari Tiara.
"Apaan sih Ra! kamu belum lihat orangnya sih, aku yakin kalian berdua pasti klepek-klepek, ganteng pakek banget!" Terang Faza dengan kesal sembari meringis menerima tatapan tajam dua sahabatnya. Faza memang sudah memiliki kekasih namun mereka menjalani hubungan jarak jauh karena berbeda kampus. Mereka sudah berpacaran sejak duduk di bangku SMA hingga sekarang.
"Kalau Kayla milih tuh cowok aku rela menerima hibah pacar kamu, Rendy juga kan ganteng, baik, daaann tajir," puji Tiara dengan senyam-senyum sendiri.
"Dasar jomblo basi," balas Faza sembari mencubit pipi Tiara dengan gemas.
Belum selesai obrolan absurd itu berakhir seorang laki-laki dari kejauhan melambaikan tangan ke arahku.
"Sob's aku jalan dulu ya!" ucapku lalu segera pergi meninggalkan mereka bertiga yang seketika membeku. Langkahku terasa begitu ringan saat mendekati laki-laki tampan yang sudah menungguku dengan senyuman hangatnya. Senyuman yang selalu aku rindukan. Duniaku seolah berhenti berputar. Dia adalah cinta pertamaku, Muhammad Gibran Al-Farabi.
Kunikmati alunan lagu favoritku 'Surat Cinta untuk Starla' dari Virgoun biasanya aku terlarut dalam liriknya tapi kali ini tiba-tiba aku merasa tersindir, ironis memang. Dulu Kak Gibran yang mengkhianati hubungan kita dan sekarang apa yang kulakukan? Aku justru menemuinya tanpa sepengetahuan Kak Rendy. Dengan seenaknya pikiranku me-reply kisah cintaku bersamanya. Kuhela nafas panjang sembari memindai seluruh sudut kafe yang saat ini ternyata sudah banyak berubah.
Aku ikuti langkah kaki Kak Gibran menuju tempat yang dulu biasa kita gunakan untuk menghabiskan waktu bersama. Ternyata dia masih mengingat semua. Bahkan setelah kita duduk bersebelahan ia memesan menu favoritku, Mie ayam super pedas plus jus leci sedangkan dia memesan mie goreng cumi dan jus lemon.
Hening. Karena kita tenggelam dalam pikiran masing-masing. Jangan tanyakan mengapa aku menjadi pendiam! Sejak dulu jiwa bar-barku seketika menguap entah ke mana setiap kali bersamanya.
Kembali kenangan itu mencuat begitu saja di benakku.
"Dek, kamu lagi dekat sama cowok ya? Cieee yang lagi kasmaran!" Goda Kak Lyla waktu itu.
"Apaan sih Kak, kita cuma teman aja kok!" Jawabku berusaha ngeles dengan wajah merona. Aku tidak pergi bisa menyembunyikan perasaanku setiap kali mengingat Kak Gibran.
"Bisa aja ngelesnya, lah tiap malam yang nelponin kamu siapa hayo?" Selidik Kak Lyla penuh penasaran.
"Dan kata teman Kakak!" Jeda Kak Lyla seraya menatapku dengan seringai aneh. "Mmm.. Milen pernah lihat kamu jalan sama cowok fakultas lain dari kampus Kakak!" Cecarnya dengan wajah serius penuh selidik.
"Alah Kak Milen pasti salah lihat orang, cowok yang deket sama aku anak SMA dekat sekolahku kok!" Elakku agar tak ada cecaran pertanyaan lagi, aku segera masuk ke dalam kamar meninggalkan Kak Lyla yang terlihat tak puas dengan jawabanku.
Selama ini aku sengaja merahasiakan hubunganku dengan Kak Gibran pada Kak Lyla dan kedua orang tuaku. Kakak selalu melarang keras aku dekat dengan anak kampusnya. Karena rasa sayangnya padaku sifat protektif kakak akan selalu menjadi tameng setiap kali ada teman satu kampusnya yang mencoba mendekatiku. Tanpa ada satupun orang yang tahu aku sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama Kak Gibran. Merajut romantika rahasia.
Dia adalah cinta pertamaku di masa putih abu-abu. Di mataku dia laki-laki sempurna dengan perawakan tubuh tinggi berkisar 180 cm, ukuran standar pribumi Indonesia dengan kulit putih bersih, bahkan aku seperti moccacino bila sedang bersamanya karena kulitku yang berwarna sawo matang, hidungnya bangir, dan satu lagi yang selalu berhasil membuat hatiku luluh tak berkutik, tatapan teduh dan sikap tenangnya setiap kali kita bersama.
"Sudah lama kita tidak saling bertemu, nggak berasa hampir 3 tahun." Suaranya tiba-tiba membuyarkan lamunanku yang mengembara ke masa lalu.
"Aku sudah berulangkali mencoba mencari kabar tentang dirimu pada Febby sahabatmu tapi hasilnya nihil, dia malah marah dan menyuruhku berhenti untuk mencari kamu," akunya lirih sembari menatap mataku dalam.
Meskipun aku tidak satu kampus dengan Febby aku masih aktif menjalin komunikasi dengannya, kadang kita masih hangout bersama di akhir pekan, tetapi selama ini Febby tidak pernah cerita kepadaku jika Kak Gibran pernah mencariku. Seandainya Febby jujur padaku pasti sekarang kita sudah berbaikan, masalahnya sekarang ada Kak Rendy di antara kita berdua. Aku memang belum mencintai Kak Rendy, tetapi apakah adil jika aku menghianatinya?
"Aku ingin memperbaiki semua kesalahanku, semoga saja masih ada kesempatan untukku," ucapnya penuh harap sembari menatap kedua manik mataku dalam.
Aku hanya bisa diam sembari membalas tatapan matanya.
"Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahanku lagi Kayla, aku masih sangat mencintai k mu," akunya dengan tatapan berubah sendu.
Melihatnya rapuh seperti ini hatiku perlahan luluh, rasanya ingin sekali aku memeluk dan menghidu aroma khas tubuhnya yang masih kuingat, menuntaskan segala rasa rindu yang telah lama terpendam. Namun, sekuat mungkin kutekan egoku untuk tidak melakukannya. Kupikir menerima pertemuan ini akan menyelesaikan rasaku untuknya tapi ternyata aku salah. Rasa bahagia sekaligus rasa bersalah kini bersarang di benakku. Aku sudah berjanji membuka hati untuk Kak Rendy.
Seringai jail Kak Rendy tiba-tiba hadir begitu saja dalam benak, semakin menyesakkan dadaku yang dilanda kebimbangan.
"Ma maaf Kak," balasku lirih dengan terbata sembari memutus kontak kedua mata kita.
"Aku yakin, pasti sekarang sudah ada seseorang yang selalu menjagamu, dia pasti sangat beruntung." Terlihat jelas ada guratan kecewa di senyuman itu tapi aku pun merasakan hal yang sama. Hanya sampai di situkah perjuangannya untuk merebut hatiku kembali? andai dia tau hatiku pun masih tetap memilihnya hingga detik ini.
"Perempuan yang bersamaku waktu itu adalah kekasihku namanya Ranti, aku tahu aku salah karena telah menyakitimu, sejak saat itu aku menyadari bahwa aku benar-benar mencintaimu. Dan sekarang semuanya sudah terlambat. Maaf," terangnya seraya menghela nafas panjang dan perlahan mengembuskannya.
"Kukira perasaanku terhadapmu dulu hanya sekedar rasa sayang layaknya seorang kakak kepada adik. Tapi ternyata aku salah besar, karena nyatanya aku terlalu menyanyangimu layaknya perempuan dewasa," sambungnya dengan pandangan menerawang jauh. Entah mengapa hatiku juga perih seperti tercabik-cabik mendengar penuturannya. Andai dia tau setelah kejadian itu aku tidak pernah membuka hati untuk laki-laki lain, dan sekarang ketika aku bersusah payah belajar mencintai Kak Rendy dia hadir kembali untuk menggoyahkan rasa yang baru aku bangun.
"Kak Gibran maafkan aku ya? Kuharap urusan kita sudah selesai sekarang," selaku sembari meredam debaran jantungku yang berkejaran. Hatiku bergemuruh hebat untuk merangkai kata hingga mampu berucap. Aku terdiam sesaat ketika aroma khas itu mendekap tubuhku erat.
"Maafkan aku Kayla, aku yang salah," lirihnya seraya semakin menenggelamkanku ke dalam pelukannya.
"Ini salah Kak!" Sekuat hati dan tenaga aku mencoba mengurai pelukannya dari tubuhku.
"Tidak Kay, sekali ini saja biarkan aku memelukmu, sungguh aku sangat merindukan dirimu," bisiknya lirih. Aku seolah bisa mendengar debaran jantung kita menyatu dalam melodi yang sama.
"Maaf Kak sebaiknya kita pergi!" tegurku yang tetap bersikeras mengurai pelukannya dari tubuhku.
"Aku sudah memaafkan Kak Gibran, jadi anggap saja ini ucapan perpisahan kita," sambungku sembari menatapnya, tanpa kupinta buliran bening meluncur bebas di pipiku bersama kawanannya.
"Aku sudah berjanji akan belajar mencintai Kak Rendy dan aku tidak mau merusak kepercayaan itu," gumamku dalam hati, meskipun hatiku berkecamuk hebat ingin menghambur ke dalam ke pelukannya. Meronta ingin mengakui jika cintaku padanya tetaplah sama.
"Aku akan bahagia, Kakak juga harus bahagia!" Isakku lalu tanpa sadar aku menghambur ke dalam pelukaannya, aku menangis sejadi-jadinya. Kak Gibran mengusap lembut puncak kepalaku dan mengecupnya. Ingin rasanya kuhentikan waktu dan menghabiskan waktu yang tersisa bersamanya.
"Aku janji akan bahagia jika kamu bahagia Kayla," ucapnya lirih lalu mengurai pelukan, ia usap lembut air mataku yang semakin menderas sembari mengulas senyuman lembut.
***
Di sepertiga malam aku terjaga, aku memohon ketetapan hati dalam sujud panjangku.
Sambil menunggu azan subuh aku meraih ponselku yang tergeletak di atas ranjang yang sejak kemarin sore tak tersentuh. Sialnya, ponselku mati karena lowbat. Ku cari changer lalu mencolokkannya, tak lama layar itu menyala yang seketika menampilkan puluhan notifikasi pesan WhatsApp mau pun laporan telepon membombardir ponselku.
Deg.. Diurutan kedua setelah Kak Rendy nama Kak Gibran tertera di sana. Sedikit gugup kubuka chat dari Kak Gibran terlebih dahulu, mengabaikan pesan Kak Rendy yang biasanya membangunkan aku untuk salat malam.
"I miss you Kay..."
Kubaca pesan singkat Kak Gibran tanpa ingin membalasnya.
Drdrdr... Ponselku bergetar yang seketika berhasil menarik kedua sudut bibirku saat nama 'Pacar Rese' muncul di layar benda pipih milikku.
"Hai my sweetie, udah salat? Kenapa semalam ponselnya mati? Lyla bilang kamu kemarin pulang kuliah langsung masuk kamar, kamu sehat kan Sayang?"
Membaca pesan Kak Rendy seketika membuat hatiku berdesir dengan mata berkaca-kaca. "Ya Tuhan bagaimana bisa aku berniat menyakiti hati pria baik sepertinya?
Akhirnya aku pun luluh saat tiba-tiba Kak Gibran beberapa kali menemuiku di kampus, dua bulan berlalu kujalani hubungan rahasia bersama Kak Gibran. Namun tiba-tiba perasaan bersalah terhadap Kak Rendy tiba-tiba menguasai hati dan pikiran. Bukankah aku sangat egois karena takut kehilangan keduanya? Bagaimana mungkin aku menjalani 2 hubungan sekaligus? Dua laki-laki dengan kelebihan berbeda yang membuatku takluk. Aku memang mencintai Kak Gibran, tetapi di sudut hatiku terdalam selalu mendamba Kak Rendy yang selalu menemaniku.
Sembari mereda sesak di dada sekaligus menahan laju air mata yang hampir tumpah kutulis deretan kalimat panjang untuk mengakhiri semuanya. Ya, semua ini harus diakhiri sebelum luka yang lebih dalam lagi tercipta.
"Kak Gibran aku minta maaf. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita ini. Apa yang kita lakukan adalah salah. Sudah cukup keegoisan ku. Aku ingin menjalin hubungan tanpa melukai hati orang lain, aku yakin tak lama lagi Kakak akan menemukan seorang perempuan yang jauh lebih baik dariku. I will always miss u!"
Tangisku pecah seketika setelah tanda centang 2 berubah menjadi warna biru, menandakan bahwa pesan yang kukirim kepada Kak Gibran telah terbaca olehnya. Kudekap bantal dengan erat, mencoba meredam sesak yang semakin merajam di dada seraya menyakinkan hati bahwa ini adalah keputusan yang terbaik.
***
Tak terasa delapan purnama telah berlalu, akhirnya aku bisa berdamai dengan hatiku, tak ada lagi rasa bimbang meskipun terkadang rindu itu masih hadir tanpa kuundang. Ternyata dengan memaafkan aku mendapatkan cinta baru. Dengan bismillah kubuka lembaran baru bersama Kak Rendy. Laki-laki yang selalu memberikan tatapan teduh penuh cinta.
"Dek bantu Ibu menyiapkan semua kebutuhan untuk acara lamaran Kak Lyla ya?" ujar ibu yang seketika membuatku terkejut. Untuk beberapa detik aku tertegun sebelum menanggapi permintaan ibu.
"Loh kok tiba-tiba aja Bu? Emang Kakak udah punya calon suami? Kok aku nggak tau Bu?" Cecarku dengan rasa penasaran. Siapa sosok yang akan menjadi kakak iparnya kelak?
"Iya dua hari lalu pacar Kakak kamu datang ke rumah, meminta izin kepada Ibu dan Ayah untuk melamar kakak kamu," terang ibu lalu memelukku dengan erat, terlihat jelas rona bahagia terpancar di wajah perempuan yang telah melahirkan aku tersebut.
"Ayah dan Ibu setuju, kami yakin dia laki-laki baik, insyallah kakak kamu bahagia bersamanya," sambung ibu dengan antusis menceritakan tentang calon suami Kakak yang katanya ganteng, dewasa, dan mapan.
"Aamiin," ucapku dengan perasaan haru melihat ibu yang terlihat sangat bahagia.
Aku juga sangat bahagia mendengar kabar baik itu. Setahuku kakak sudah putus dengan Kak Tomy 6 bulan lalu, setelah berpacaran hampir 2 tahun mereka putus gara-gara kak Tomy selingkuh dengan sahabat kakak yang bernama Milen. Sejak saat itu kakak tidak pernah terlihat dekat dengan laki-laki mana pun.
Tetapi beberapa waktu lalu kakak sempat bercerita telah berkenalan dengan laki-laki yang langsung mengajaknya untuk ta'aruf, dari sorot mata Kakak aku yakin laki-laki itu pasti seseorang yang sangat istimewa.
***
Seringkali orang salah memanggil aku dengan Lyla atau sebaliknya, usia kami bertaut 4 tahun, tetapi orang lain selalu menganggap kami adalah saudara kembar. Mungkin secara fisik kami memiliki banyak kemiripan satu sama lain. Namun kami berbeda untuk urusan fashion, kakak lebih cantik karena kulit putihnya sedangkan aku lebih cenderung gelap dengan kulit kuning langsat, dan tentu saja kakak adalah perempuan berperawakan anggun, lembut dalam bertutur kata, selalu berbusana muslimah yang semakin memancarkan aura kecantikannya. Sedangkan aku gadis tomboi yang fashionable dengan sifat egois dan keras kepala. Sejak kecil kakak selalu menjadi gadis yang penurut dan manis, kebalikan dari diriku.
Itulah sebabnya pendapat kakak selalu mendapat persetujuan dari ibu dan ayah. Masih lengkap dalam memoriku ketika kakak memilih fakultas manajemen bisnis, fakultas impiannya. Bahkan ibu dan ayah memberikan kebebasan kepada Kakak kuliah di kota mana pun sesuai keinginannya. Tetapi anehnya kakak lebih memilih kuliah di kota sendiri. Dan di saat kuputuskan untuk melanjutkan study S1 fakultas Sastra Indonesia di Yogyakarta dengan mentah-mentah kedua orang tuaku menolak. Bahkan jika aku masih bersikeras dengan keinginanku mereka akan mengirim aku ke pondok pesantren.
"Dek maaf ya, aku nggak cerita tentang lamaran Alfa, aku memang sengaja bikin kejutan buat kamu," ucap kakak yang berhasil menarikku dari lamunan panjang.
"Kak Lyla nggak asyik, masak aku orang terakhir yang tahu klo Kakak akan lamaran," jawabku dengan tampang cemberut sambil memajukan bibirku yang langsung mendapat cubitan dari perempuan itu.
"Nanti pas acara lamaran aku kenalin, tapi jangan naksir ya!" godanya dengan ancaman.
"Nggak lah Kak, pasti masih ganteng Kak Rendy," balasku dengan tergelak.
"Dia ganteng, dewasa, dan kharismatik. Pokoknya Kakak jatuh cinta dech," cerita kakak dengan netra berbinar. Kupeluk Kak Lyla dengan erat. Tiba-tiba butiran bening menetes berlahan di pipiku karena terharu.
"Ah kamu kok malah nangis," sambungnya seraya membalas pelukanku.
***
Akhirnya hari pertunangan kakak pun tiba. Kakak sangat cantik bak bidadari turun dari kahyangan, anggun terbalut gamis brukat berwarna dusty senada dengan jilbab yang dikenakannya, hanya dipoles bedak dan lipstik berwarna nude kakak tampil sempurna. Kugenggam erat tangannya yang sedingin es sembari mengulas senyuman lembut untuk menenangkannya. Perempuan mana yang tidak akan gugup bila sang pujaan hati datang untuk meminangnya.
"Subhanallah Kakak cantik banget," pujiku berdecak kagum. Kuakui kakak memang sangat cantik berbeda jauh dengan kesehariannya yang selalu tampil natural tanpa make up.
"Ah kamu bisa saja," jawab kakak bersamaan dengan semburat jingga menyapu pipinya.
Acara lamaran pun dimulai, aku masih sibuk di dapur mempersiapkan hidangan untuk keluarga calon besan ibu. Dapat kudengar dengan samar suara paman yang tengah memperkenalkan seluruh anggota keluarga kami. Dimulai dari keluarga tertua ayah dan ibu kemudian disusul dengan keluarga yang paling termuda yaitu aku saudara kandung kakak.
"Kayla ayo ke depan! acara sudah dimulai, cepetan ayo!" Panggil ibu dengan terburu-buru seraya menarik tanganku untuk mengikuti langkahnya menuju ruang tamu.
"Iya bu," jawabku singkat sambil membenahi jilbabku yang sedikit kurang rapi. Aku masuk bersama ibu ke ruang tamu sembari memasang senyuman termanisku lalu duduk di sebelah kakak.
"Lyla hanya 2 bersaudara, perkenalkan ini adik kandung Lyla, Kayla Anastasya." Paman memperkenalkanku kepada keluarga calon keluarga kakak. Adat perkenalan seperti ini biasa dilakukan setiap kali acara lamaran digelar. Tujuannya agar kedua belah pihak dari keluarga bisa melebur menjadi satu keluarga.
Deg... Betapa terkejutnya aku saat pandanganku mengedar pada satu persatu tamu yang hadir. Seketika kedua mataku terpaku pada sosok laki-laki yang sangat familiar bagiku. Laki-laki itu duduk di antara dua laki-laki yang memiliki kemiripan wajah sekitar 95%. Aku yakin laki-laki berambut hitam keabuan itu ayahnya dan laki-laki muda tampan berkacamata itu pasti abang yang sering dia ceritakan padaku dulu. Dia terlihat semakin gagah dan tampan dengan kemeja batik senada dengan kebaya yang dikenakan oleh kakak.
"Kayla itu calon kakak ipar kamu, namanya Muhammad Gibran Al-Farabi," bisik kakak di telingaku yang seketika membuat tubuhku membeku, bahkan suara gelak tawa kedua calon keluarga tak terdengar lagi di telingaku. Duniaku seolah berhenti seketika.
Di sini akulah orang yang paling berbahagia saat mempersiapkan acara pertunangan ini. Tetapi, kini aku juga orang yang paling terluka.