Tangan Eko Kurnoto gemetar saat melemparkan mangkuk itu ke kaki Rina Kurnoto, bunyi benturannya menggema di seluruh ruangan. Darah berwarna merah gelap menodai bibirnya, sementara wajahnya berkerut karena marah. "Bagaimana kamu bisa tega melakukan hal ini padaku?! Adik macam apa yang ingin mencelakai kakaknya sendiri?" bentaknya sebelum kata-katanya terputus oleh batuk yang keras. "Jika Lisa tidak memperingatkanku sebelumnya, kamu pasti sudah membunuhku, kan?"
Ekspresi Rina berubah saat dia melihat obat yang hancur itu, kekecewaan tampak jelas di wajahnya saat dia berkata, "Kak Eko, aku sudah bilang padamu bahwa obat ini tidak beracun. Obat ini mengandung bahan yang dapat membantu mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui muntah untuk mempercepat pemulihan. Menatap obat yang tumpah dan meresap ke karpet, rasa penyesalan melintas di matanya. Dia telah menghabiskan begitu banyak uang dan tenaga untuk menemukan obat yang tepat bagi kakak tertuanya, tapi sekarang obat itu terbuang begitu saja.
Lisa Kurnoto, putri angkat Keluarga Kurnoto, berdiri di samping Eko, lengannya memeluk erat buku teks kedokteran yang selalu dia bawa. Air mata menggenang di matanya saat dia berkata dengan suara meninggi, "Kak Rina, tolong berhentilah mencari alasan. Kak Eric sudah mencoba menguji obat darimu dan menemukan beberapa zat berbahaya dalam obat tersebut"
Sikap skeptis yang dingin melintas di wajah Rina saat dia bertemu pandang dengan Lisa dan menjelaskan dengan nada mencibir, "Dasar bodoh. Semua obat bisa berbahaya jika tidak digunakan dengan benar. Dalam kasus Kak Eko, penyakitnya sudah terlalu parah. Jadi, satu-satunya cara untuk mengobatinya adalah dengan memberikan dosis obat yang kuat. Dosis obat yang ringan tidak akan mampu menyembuhkannya."
Hampir tidak dapat menahan air matanya, suara Lisa bergetar saat dia memohon pada Rina, "Kak Rina, dia memuntahkan darah tepat di depan kita, dan kamu masih bersikeras ini satu-satunya cara untuk menyembuhkannya? Kita masih mahasiswa kedokteran, jadi kemampuan kita masih jauh dari sempurna. Tolong jangan bermain-main dengan nyawa orang lain hanya demi mementingkan egomu."
Mengambil langkah gemetar ke arah Rina, Lisa melanjutkan dengan kata-kata sarat akan emosi, "Aku sudah menemukan seorang dokter spesialis kawakan. Dia memberikan resep obat yang mungkin bisa menyembuhkan Eko. Jika kamu salah, akui saja dan biarkan kami mencoba menggunakan resep dari dokter itu."
Eko membungkuk dan memuntahkan seteguk darah sebelum menatap Rina dengan penuh amarah sambil membentak, "Kamu sudah memberiku obat yang meragukan ini, dan sekarang kamu juga menyerang Lisa? Andai saja kamu memiliki sedikit saja belas kasihan seperti dia, keadaan tidak akan menjadi runyam seperti ini. Minta maaf padanya, sekarang juga!"
Rina menegakkan tubuh dan menatap Eko tanpa gentar sedikit pun saat berkata dengan nada menantang, "Aku hanya berniat untuk membantumu, jadi kenapa aku harus meminta maaf? Aku sama sekali tidak berbuat salah padanya."
"Cukup!" Bangkit berdiri dengan wajah merah padam, Eko menyambar sebuah cambuk dari dinding dan membentak dengan amarah yang membabi buta, "Kamu hampir membuatku mati muda, tapi bukannya merasa bersalah, kamu malah berani menantangku? Kamu memang tidak pernah belajar! Enyahlah dari sini! Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi!"
Sebelum cambuk itu sempat menyerang, Rina menjauh dengan lincah sehingga terhindar dari serangan itu. Dari lantai atas, terdengar suara langkah kaki seseorang yang terukur, diikuti dengan sebuah ransel yang lusuh mendarat di dekat kakinya.
Eric Kurnoto, kakak kedua Rina, sedang berdiri di dasar tangga. Suaranya yang dingin memecah udara saat dia berkata, "Rina, asal kamu tahu, Lisa adalah adik kandung kami yang sebenarnya dan kamu hanyalah orang luar. Selama ini kami menyembunyikan rahasia ini darimu dengan harapan kamu tidak membencinya, tapi hari ini, kami melihat betapa jahat dan kejamnya kamu. Jika kamu bersikeras tidak mau mengakui kesalahanmu, silakan kemasi barang-barangmu sekarang juga dan angkat kaki dari sini. Kami akan mengumumkan secara resmi bahwa Lisa adalah satu-satunya adik kandung kami, sehingga kamu secara otomatis akan kekayaan dan privilese yang kamu miliki saat ini. Ini saatnya kamu kembali ke desa, ke tempat di mana keluarga kandungmu berada."
Ini bukan pertama kali bagi Rina menghadapi ancaman semacam ini, jadi dia tidak merasa gentar sedikit pun. Setelah mengalami penindasan oleh Keluarga Kurnoto selama bertahun-tahun yang membuatnya tertekan, baik secara fisik maupun emosional, betapa bersyukurnya dia ketika mengetahui bahwa dirinya tidak memiliki hubungan darah dengan mereka. Seolah-olah beban yang berat telah terangkat dari pundaknya, kini dia bisa menarik napas lega. Akhirnya, dia tidak perlu lagi membuang-buang pengetahuan atau bakatnya untuk sebuah keluarga yang tidak pernah menghargainya.
Memikirkan hal ini, dia selalu bertanya-tanya kenapa dirinya berotak encer, sementara saudara-saudara memiliki kecerdasan di bawah rata-rata.
"Syukurlah kalau begitu," ucap Rina tanpa sedikit pun menunjukkan penyesalan. Dengan jari-jari yang lincah, dia menyambar ranselnya, mengambil sebuah permen dari mangkuk, dan mengulumnya di dalam mulut sambil melangkah menuju pintu keluar tanpa menoleh ke belakang sedikit pun.
Memandang punggung Rina yang menjauh, bibir Lisa melengkung membentuk senyum puas. Akhirnya, perjuangannya untuk mengusir Rina selama lima tahun lamanya membuahkan hasil. Dengan kepergian Rina, dia akan menjadi satu-satunya putri kesayangan Keluarga Kurnoto, di mana dia akan menerima seluruh kasih sayang dan pujian dari saudara-saudaranya.
Meskipun demikian, dia harus mempertahankan kedoknya sebagai adik yang baik dengan memasang wajah khawatir saat mengejar Rina dan memanggil, "Kak Rina! Jangan pergi seperti ini! Kamu akan selalu punya tempat di sini! Tolong jangan buat aku merasa seperti penjahat. Kumohon!"
Eko menyela dengan tajam, "Cukup, Lisa! Biarkan dia pergi. Seorang wanita udik yang tidak punya hati seperti dia sebaiknya tetap tinggal di desa selamanya. Dia tidak pernah pantas tinggal di rumah ini."
Mendengar ini, tawa dingin lolos dari bibir Rina. Apakah semua orang di Keluarga Kurnoto begitu bodoh sehingga semudah itu dibodohi? Apakah mereka benar-benar percaya bahwa Eko bisa kembali sehat, bangun dari tempat tidur dan berjalan lagi hanyalah karena keberuntungan semata? Tanpa campur tangan dan obatnya, dia ingin melihat seberapa jauh keberuntungan dapat menolongnya.
Menarik tudung jaket ke atas kepala, Rina membiarkan angin meniup helaian rambutnya yang panjang ke bibirnya yang merah cerah, sepasang matanya yang indah dipenuhi dengan rasa jijik.
...
Sementara itu, di tengah Kota Kanma yang ramai, berdiri kediaman Keluarga Darmadi yang megah, sebuah simbol kekuatan dan kekayaan.
Di dalam rumah yang luas dan mewah itu, Aliando Darmadi menghantamkan tongkat berlapis emasnya ke atas lantai marmer dan berkata, "Bukankah kalian bilang dia sudah ditemukan? Kenapa dia masih belum ada di sini?"
Di sekelilingnya, berdiri tiga pria, masing-masing merupakan sosok yang menonjol dan berwibawa sehingga pejabat pemerintah tertinggi pun tunduk pada mereka.
Namun, meskipun mereka memiliki kedudukan yang tinggi, fakta bahwa adik bungsu mereka yang hilang sejak kecil masih belum ditemukan membuat wajah mereka berkerut karena khawatir.
"Jejak terakhirnya yang kami temukan ada di Kota Kuno. Menurut informan kami, dia pernah tinggal di sebuah desa di pegunungan sebelum diculik dan dijual. Setelah itu, dia menghilang tanpa jejak sehingga kami belum berhasil menemukan keberadaannya."
Mendengar laporan ini, raut wajah Aliando menjadi semakin suram. "Anak itu telah hilang selama 18 tahun. Bayangkan penderitaan apa yang telah dia alami di tempat seperti itu!"
"Kakek, kami telah melacak salah satu pelaku perdagangan manusia yang terlibat dalam penculikan beberapa tahun yang lalu. Dia mengaku bahwa korban dijual pada seorang wanita kaya di Kota Kuno. Tolong beri kami waktu sedikit lagi, kami pasti akan menemukannya dalam waktu dekat," jelas salah satu pria dengan optimis.
Mendengar kabar baik ini, ketegangan di wajah Aliando sedikit memudar. Saat dia bangkit dari kursi, tidak ada lagi jejak kejengkelan yang tersisa di sorot matanya karena telah digantikan oleh secercah harapan. "Kalau begitu, ayo kita berangkat sekarang juga. Aku akan ikut dengan kalian. Kita akan mencarinya bersama-sama."
Memanggul tas ransel yang berat di bahu, Rina melangkah keluar dari kediaman Keluarga Kurnoto tanpa menoleh ke belakang, langsung menuju tempat parkir di mana sepeda motor edisi terbatas kesayangannya telah menunggu.
Setelah bertahun-tahun menyembunyikan seluruh kemampuan dan kecerdasannya karena tidak mau mencari masalah dengan Keluarga Kurnoto, kini akhirnya dia bisa terbebas dari belenggu itu dan menjadi dirinya sendiri.
Melaju kencang di jalanan kota, sepeda motornya meraung dan membelah udara sore sampai akhirnya dia tiba di depan pintu masuk sebuah kompleks perumahan yang berada di dekat pangkalan militer.
Di pos pemeriksaan, protokol keamanan berjalan dengan ketat seperti biasa, tapi saat sepeda motor Rina muncul, satpam yang sedang berjaga langsung menyambutnya dengan senyum lebar sambil membukakan pagar lebar-lebar dan menyapa, "Nona Rina, tumben kamu datang ke sini."
Dengan gerakan yang terlatih, Rina membuka pelindung mata dari helmnya dan mengangguk sopan pada satpam itu.
Di dalam kompleks, bunga sakura sedang bermekaran dan mengeluarkan aroma menenangkan yang disebar ke segala penjuru oleh angin sepoi-sepoi. Beberapa perwira pensiunan sedang berjalan-jalan di bawah pepohonan yang sedang berbunga itu. Melihat Rina datang, mereka segera berjalan mendekat.
"Lihat siapa yang datang! Rina, aku baru saja akan ingin menemuimu. Aku sudah kehabisan obat yang kamu berikan padaku terakhir kali."
Setelah memarkirkan sepeda motornya, Rina melepas helmnya dan memperlihatkan fitur wajahnya yang halus. "Besok aku akan berada di klinik. Kamu bisa datang ke klinik untuk mengambil obatmu."
Melihat wajah lain yang dia kenal, dia menunjuk ke arah seorang pria tua yang masih mengenakan penyangga leher dan berkata, "Sementara kamu, aku sudah bilang padamu bahwa menggunakan penyangga leher seperti itu bisa merusak tulang lehermu."
Senyum malu mengembang di wajah pria tua itu saat dia melepaskan penyangga itu dan bertanya, "Apa aku sudah boleh melakukan olahraga ringan?"
"Yang penting hati-hati dan jangan terlalu memaksakan diri," jawab Rina sambil melangkah masuk ke dalam gedung apartemen.
Hubungannya dengan komunitas ini dimulai secara tidak terduga. Dulu, saat berkunjung ke Rumah Sakit Angkasa untuk membeli obat, dia bertemu dengan seorang pria tua yang menderita epilepsi. Berkat resep darinya, yang menargetkan akar masalah dari serangan epilepsi tersebut, pria itu berhasil pulih dari penyakitnya, di mana dokter lain tidak bisa menyembuhkannya.
Ternyata, pria tua itu adalah seorang mantan dokter terkenal yang sekarang sudah pensiun. Terpesona dengan kemampuan Rina, dia bersikeras ingin menjadikan wanita itu sebagai muridnya dan menawarkan sebuah unit apartemen di kompleks tersebut sebagai hadiah ucapan terima kasih.
Para penghuni di kompleks perumahan tersebut sangat ramah dan memperlakukannya dengan baik. Ditambah dengan lokasinya yang strategis, seiring berjalannya waktu, Rina mulai menganggap tempat ini sebagai rumahnya.
Begitu dia melangkah masuk ke dalam apartemennya, lampu menyala dan suara mekanis yang lembut dan tidak asing menyambutnya. "Selamat datang di rumah, Rina. Ketika kamu pergi selama tiga hari, ada dua pesan suara yang terenkripsi, email baru, dan air kamar mandi sudah disiapkan."
Rina melempar tasnya ke samping sampai menimbulkan bunyi gedebuk dan resletingnya terbuka. Dari dalam tas, setumpuk besar uang tunai tumpah keluar dan berserakan di sepanjang pintu masuk.
Dia menatap tumpukan uang itu sambil menebak total keseluruhan dari uang itu, yaitu sekitar 20 juta. Dia mendengus mengejek dan mencibir. Apakah Keluarga Kurnoto benar-benar melihatnya sebagai seorang pengemis sehingga mereka membuangnya dengan melemparkan sejumlah uang padanya?
"Putar pesanku," ucapnya.
Sebagai pesan pertama yang masuk kemarin malam, suara Feri memenuhi ruangan.
"Hei, Rina, batas waktu pendaftaran untuk balapan semakin dekat. Kami sudah menyelesaikan dua sesi latihan. Apa kamu benar-benar masih terus membela Keluarga Kurnoto? Asal kamu tahu, si brengsek Arif sudah kalah telak dariku dalam kedua sesi latihan terakhir!"
Alis Rina sedikit terangkat. Dia tentu saja mengenali orang yang disebut Feri.
Arif Kurnoto, kakak ketiganya, mengelola salah satu klub balap paling eksklusif di dunia, yang khusus melatih pembalap profesional untuk berkompetisi dan memperebutkan hadiah uang. Sebelumnya, untuk mendukung timnya meraih kemenangan, dia selalu menjalani sesi latihan malam yang panjang dan melelahkan. Namun setiap musim, pada saat final semakin dekat, Arif akan menukarnya dengan Lisa, agar kemenangan dan kejayaan jatuh ke tangan wanita itu. Selama beberapa musim kejuaraan berturut-turut, dia telah dimanfaatkan sepenuhnya hanya agar Lisa dapat bergabung dengan saudara-saudaranya dalam mengangkat piala kejuaraan, membuatnya tidak mendapat sorotan dan pengakuan yang seharusnya menjadi haknya.
Dulu, dia menganggap itu hanyalah sebuah piala, yang tidak ada artinya baginya. Berpikir bahwa yang terpenting adalah menyelamatkan harga diri keluarganya, dia tidak terlalu mempermasalahkan hal ini. Namun sekarang ....
Senyum mengembang di wajahnya saat dia menelepon Feri dan berkata, "Aku ingin setengah dari hadiah uang itu."
Sebelumnya, Feri sudah putus asa, tapi begitu mendengar jawaban dari Rina, kekecewaan di dalam hatinya sirna seketika dan dia membalas dengan penuh semangat, "Beres! Aku sama sekali tidak takut pada tim Arif. Aku sudah mempelajari setiap taktik mereka. Jika kamu yang berada di balik setir, tidak seorang pun yang sanggup mengimbangimu. Jika aku terus-menerus meraih juara dua, itu bukan karena aku kalah dari Arif, melainkan darimu!"
Merasa geli, Rina terkekeh pelan dan berkata, "Ternyata kamu juga menyadarinya. Padahal itu jelas sekali, tapi mereka selalu saja memandangku sebelah mata atas apa yang telah kulakukan untuk mereka."
Rasa penasaran mewarnai nada bicara Feri saat dia mengganti topik. "Omong-omong, ada satu hal penting lagi. Ada kabar beredar di web bahwa Keluarga Darmadi, keluarga terkaya di Kota Kanma, baru-baru ini datang ke Kota Kuno untuk mencari putri mereka yang hilang dan menawarkan hadiah besar untuk siapa pun yang dapat memberikan petunjuk. Menurutmu, apa sebaiknya kita ikut turun tangan dalam kasus ini?"
Rina menjawab tanpa ragu, "Maaf, aku tidak bisa karena aku sedang sibuk melakukan persiapan ujian akhir semester. Sampai jumpa."
Di ujung telepon yang lain, Feri terkejut. Dari semua alasan untuk menolak tawaran ini, bagaimana bisa Rina menggunakan ujian sebagai alasan? Seingatnya, dia belum pernah melihat Rina mengikuti ujian. Sebaliknya, wanita itulah yang membuat soal ujian!
Rina beralih ke pesan suara berikutnya, yang ternyata berasal dari Adrian, salah satu dokter yang paling dihormati di Rumah Sakit Angkasa.
Suara pria tua itu terdengar sedikit mengemis saat berkata, "Rina, aku menghadapi situasi yang cukup rumit. Putra salah satu teman lamaku menderita penyakit kronis selama bertahun-tahun dan baru-baru ini kondisinya semakin memburuk. Obat khusus yang kamu berikan padaku tidak terlalu efektif lagi untuk mengatasi penyakitnya. Apa kamu bisa meluangkan waktu untuk memeriksanya?"
Rina segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Adrian. Begitu panggilan telepon tersambung, dia berkata, "Aku akan datang ke klinik setelah kelas besok malam. Suruh dia datang menemuiku saat itu."
Adrian menghela napas pelan sebelum berkata, "Tapi, saat ini dia sedang dirawat di ruang VIP di rumah sakit. Karena protokol di rumah sakit sangat ketat, mustahil baginya untuk meninggalkan rumah sakit dan menemuimu."
Rina mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja dan bertanya "Pak Adrian, tolong katakan padaku siapa pasien itu."
Setelah terdiam sejenak, Adrian menjawab dengan suara berbisik, "Dia adalah Juna Dewantara, cucu Jenderal Sirman Dewantara. Ini bukan kasus biasa. Keluarga Dewantara diam-diam telah menghubungi dokter-dokter terkemuka di seluruh negeri. Mereka menawarkan 40 miliar rupiah pada siapa pun yang dapat menyembuhkannya."
Reaksi Rina hanya mengangkat salah satu alis. Keluarga Dewantara adalah keluarga legendaris yang dipimpin oleh Sirman Dewantara, seorang jenderal yang tangguh. Dia adalah seorang pria yang bahkan dihormati oleh presiden.
Adapun Juna Dewantara, dia telah mendengar tentang tuan muda dari keluarga terkemuka ini. Di usianya yang masih menginjak 30 tahun, dia sudah mengumpulkan sejumlah besar penghargaan militer berkat kecerdasannya dalam menyusun taktik, sehingga dia dipercaya menjabat sebagai laksamana laut termuda.
Mengingat rekam jejak Juna yang luar biasa, Rina bertanya-tanya apa yang terjadi dengan pria itu.
Dia mengecek email pribadinya, yang terenkripsi, dan benar saja, di sana terdapat undangan resmi dari Departemen Kesehatan Nasional.
Beroperasi dengan nama samaran 'Tangan Ajaib' di Internet, dia adalah seorang spesialis dalam menangani kasus medis yang sangat kompleks. Seiring berjalannya waktu, dia mengumpulkan individu-individu yang sevisi dengannya dan membentuk sebuah tim elit. Tidak mengherankan jika pemerintah datang mencarinya.
Dia menjawab dengan tenang, "Aku sudah menerima undangan itu. Imbalannya memang sangat menggiurkan. Aku akan menangani kasus ini."
Sementara itu, kabar tentang undangan mendesak Keluarga Dewantara ini juga sampai ke telinga Keluarga Kurnoto. Eric segera bertindak dengan menghubungi sejumlah kontak dengan harapan bisa mendapatkan peluang.
Di kalangan kaum elit, Keluarga Kurnoto dipandang sebelah mata sehingga mereka tidak mampu menjalin hubungan dengan pejabat pemerintah. Jika mereka berhasil menyembuhkan Juna, tiket untuk memasuki lingkaran sosial tertinggi berada di depan mata.
Sementara itu, rumor lain telah menggemparkan kota, yaitu keluarga terkaya di Kota Kanma telah mendarat di Kota Kuno dan menjanjikan imbalan bernilai fantastis bagi siapa saja yang berhasil menemukan putri mereka yang hilang. Tergiur oleh iming-iming ini, seluruh warga kota langsung heboh dan berlomba-lomba mencari putri yang hilang.
...
Keesokan harinya.
Bunyi dering ponsel yang melengking membangunkan Rina dari tidurnya. Rasa kantuk masih menguasainya, dia meregangkan badan sambil menguap lebar-lebar, lalu menyeret dirinya turun dari atas ranjang dengan malas.
Di ujung telepon yang lain, Lilo, ketua tim peneliti, hampir tidak bisa menutupi kekesalannya saat dia menegur, "Rina! Aku sudah menyuruhmu untuk mengurus pengorganisasian data, tapi kamu belum juga datang ke kampus sepanjang pagi ini! Apa kamu ingin mengundurkan diri dari kelompok penelitianku? Lisa sudah datang ke sini sejak pagi. Cepat datang ke sini sekarang juga!"
Alih-alih mengucapkan sesuatu, Rina langsung mengakhiri panggilan telepon dan melirik jam.
Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi.
Pikirannya melayang kembali pada malam sebelumnya. Sepanjang malam, dia meneliti dan memilah beberapa resep obat kuno yang sudah berumur berabad-abad, sehingga hari ini dia bangun kesiangan dan melupakan tugas dari Lilo.
Dia menguap lebar-lebar saat menyalakan laptopnya, menulis email dengan santai, dan mengirimkannya. Setelah mandi, dia berpakaian, menenteng tas ranselnya, dan melangkah keluar dari apartemen menuju tempat parkir, di mana motornya sudah menunggu.
Motornya melaju kencang di jalan-jalan kota sampai dia tiba di depan laboratorium universitas. Setelah memarkir motornya, dia melangkah menuju pintu masuk.
Ketika menggesek kartu aksesnya di mesin akses kontrol pintu, layar mesin berkedip dan terpampang pesan 'akses ditolak', yang menandakan bahwa aksesnya telah dicabut.
Pada saat ini, pintu laboratorium terbuka dan keluarlah Lisa, diapit oleh dua mahasiswa senior dari tim peneliti.
Melihat Rina yang kebingungan, senyum mengejek tersungging di bibir salah satu senior saat dia berkata dengan nada mencibir, "Rina, kamu pikir dirimu istimewa? Selain datang terlambat, kamu juga lalai dalam melaksanakan tugas, sehingga kesabaran Pak Lilo habis dan dia mencabut aksesmu ke laboratorium sepenuhnya. Aku penasaran ingin melihat apa yang akan kamu lakukan sekarang."