Bab 3

Ratu Seraphina menelan salivanya. “Kau?” tanyanya tak bisa menyembunyikan rasa semburat penasaran sekaligus keterkejutannya. Ini pertama kalinya ia melihat wajah Ana tanpa veil.

Bergegas, Ana menunduk dalam. Ia juga tak kalah terkejut melihat reaksi sang ratu. Sebaliknya, ia mengira Ratu Seraphina begitu jijik dan benci melihatnya.

‘Tak mungkin! Matanya mirip …’ batin sang ratu dengan perasaan yang berkecamuk.

Ratu Seraphina memangkas jarak di antara mereka. Tangannya terulur pada wajahnya namun segera ia menariknya kembali.

“Yang Mulia, dia gadis yang menggantikan Putri Clarissa,” lapor Duke Arvin dengan nada hati-hati. Ia sedikit menunduk, tahu betul bahwa kabar ini bukan hal sepele. Ia hanya ditugasi mencari gadis yang mirip dengan Putri Clarissa.

Berusaha menormalkan perasaannya, Ratu Seraphina berdiri membelakangi jendela besar aula timur, sorot matanya kosong menatap kebun mawar yang sedang mekar. Wajahnya tenang—hingga sulit ditebak apakah ia marah, sedih, atau curiga.

Ana duduk di atas sofa berlapis beludru yang mewah dengan perasaan yang berdebar-debar, menunggu apa yang ingin disampaikan sang ratu padanya.

“Hmm...” Ratu Seraphina berdehem, berusaha menetralkan desakan aneh dalam dadanya. “Ana, kau akan tinggal di istana. Tidak diizinkan lagi tidur di dapur bersama pelayan. Aku ingin kau menggantikan Putri Clarissa menjadi pengantin Pangeran Leonhart,”

Ana mengangkat mata, terkesiap. Mulutnya setengah terbuka, namun tak ada suara beberapa detik.

“Pengantin? Tapi … Yang Mulia, saya hanya seorang koki—”

Ratu Seraphina cepat menyela. Tatapannya menajam setajam belati. “Kau pikir, aku sembarang memilih? Ini bukan soal pantas atau tidak. Ini soal menyelamatkan kerajaan,”

Perintah itu jatuh seperti palu godam.

Glek,

Ana menelan salivanya yang terasa kecut. ‘Atas nama siapa saya harus berkorban? Kerajaan? Ambisi?’

Naasnya, kalimat itu hanya tersangkut di tenggorokannya.

“Jika kau berani membantah, maka mulai besok kau bukan lagi koki istana—kau akan jadi tahanan kerajaan karena pencemaran nama baik keluarga kerajaan. Atau … akan ada banyak kepala yang melayang dari dapur istana,”

Ancaman Ratu Seraphina tidak main-main. Sorot matanya menusuk hingga ke tulang belulang.

Tubuh Ana menggigil. Bagaimana caranya ia bisa lari dari situasi pelik itu? Kemanakah Putri Clarissa? Mengapa dia tega melarikan diri hingga menyeretnya dalam pusaran masalah istana?

Setelah Ana keluar dari ruangan, keheningan kembali menguasai ruangan megah itu. Tapi matanya tak lepas dari pintu yang tertutup pelan.

Ada sesuatu yang membuat hatinya tak tenang. Ana Merwin. Gadis itu... terlalu mirip seseorang.

Ratu Seraphina menarik napas dalam-dalam, lalu berkata. “Panggil Madam Mia ke ruang belakang. Sekarang.”

Tak lama, pelayan kepercayaan sang Ratu datang. Madam Mia—wanita tua bertubuh mungil, dengan rambut memutih yang disanggul rapi. Ia membungkuk dalam-dalam.

“Yang Mulia memanggil saya?”

“Kau yang membesarkan Ana Merwin?” tanya Ratu Seraphina langsung, dingin, tanpa basa-basi. Ia tak sabar menunggu jawaban. Ia menatap Madam Mia seperti hendak menggulitinya.

Madam Mia mengerjap. Lalu mengangkat matanya. Tubuhnya bergetar ketakutan. “Ana Merwin, anak yatim piatu dari wilayah Utara, Yang Mulia. Dia sudah bekerja di dapur istana selama tiga tahun. Dia salah satu koki berbakat.”

‘Yatim piatu?’

Ratu Seraphina mengangkat tangan. “Pergilah!”

Menghela nafas, Madam Mia akhirnya bisa pergi dari sana.

“Apa Anda mencurigainya sebagai mata-mata, Yang Mulia?” tanya Duke Arvin merasa khawatir. Ia menyelidik raut wajah sang ratu.

Sang Ratu terdiam beberapa saat. “Selidiki asal usulnya!”

Duke Arvin mengangguk pelan. “Baik, Yang Mulia,” katanya pamit pergi dari sana.

Tak lama ruangan itu sepi, Ratu Seraphina pergi ke kamar utama. Raja Alric memilih tidur di kamar sayap timur karena sedang sakit. Ia ingin tidur sendiri. Sudah hampir setahun ia menderita demam remiten.

Malam itu Ratu Seraphina dihantui mimpi buruk lagi. Seorang gadis berpakaian pelayan datang lalu menusuknya dengan pedang. Apakah gadis itu Ana Merwin? Seseorang yang datang dari masa lalu?

“Ada apa Yang Mulia? Anda bermimpi buruk lagi?” kata salah satu dayang sang ratu setelah mendengar suara jerit kecilnya saat tidur. Ia langsung menyodorkan cawan bertangkai berisi air minum untuk sang ratu. “Minumlah, Yang Mulia,”

Ratu Seraphina tertegun sesaat sebelum mengambil air minum itu. Ingatannya mendarat pada kenangan dua puluh tahun silam—yang ia berusaha kubur dalam-dalam.

“Yang Mulia Ratu Seraphina,” panggil salah satu dayang dengan suara hati-hati, melihat tangan Ratu Seraphina bergetar halus saat menggenggam cawannya.

Seraphina menutup mata sesaat, berusaha menenangkan gemuruh yang tak seharusnya muncul di dadanya. Ia meneguk air itu perlahan, mencoba menyembunyikan kepanikan yang baru saja melanda.

Napasnya mulai stabil, tetapi pikirannya masih tercabik-cabik.

Jika gadis itu benar berasal dari masa lalu maka ia harus disingkirkan segera dan tanpa jejak kesempatan untuk bernapas.

Pandangannya mengeras, berubah tajam seperti bilah pedang.

Semua harus berakhir sebelum semuanya terungkap...

Cawan di tangannya bergetar sedikit. “Kalau perlu,” gumam Seraphina dingin, “pernikahan Pangeran Leonhart akan kupercepat.”

Sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk senyum ancaman.

Bab 4

Malam itu, di kamar, Ana duduk memeluk lututnya di tepi ranjang. Tangan lentiknya menggenggam liontin berukiran bunga lily yang berkilauan indah. Ia bisa melihat pantulan wajah cantiknya dari sana.

Oh, Tuhan, apa yang harus aku lakukan?

Berbagai doa melangit. Berharap ada keajaiban datang.

Mata Ana terasa panas. Ia tidak bisa membayangkan dirinya akan menikah dengan pangeran keji dan buruk rupa. Menikah dengannya sama seperti menggali kuburannya sendiri.

Seketika ingatannya berlabuh pada hari di mana sebelum ia dipanggil pihak istana untuk datang.

“Ana, kau punya hak untuk tahu ini.”

Suara parau itu datang dari seorang wanita tua bersurai keperak-perakan yang tengah berdiri di bangku kayu dekat pintu dapur istana.

Tangannya gemetar saat membawa sebuah kotak kayu berbahan walnut dengan pengait dari logam yang sudah berkarat tergerus waktu.

Ana menoleh tatkala mendengar suaranya. Sontak, ia menghentikan pekerjaannya. Ditaruhnya periuk berisi sup daging yang baru saja diangkatnya.

“Bibi Martha?” Ana menyipitkan mata. “Mengapa Anda di sini?”

Wanita berusia setengah abad itu mengulum senyum. Wajahnya dipenuhi keriput, tubuhnya dibalut mantel rajut yang lusuh, tetapi matanya seperti danau yang menyimpan rahasia.

“Aku sengaja datang dari panti Westmere,” katanya pelan. “Tempat kau dulu ditemukan.”

Hati Ana mencelos. Nama Panti Westmere selalu membawa memori yang emosional dalam pikirannya. “Aku tak mengerti, Bibi,”

“Ibu pengurusmu dulu, Nyonya Elia, menitipkan ini padaku. Ia sakit parah dan tidak sempat memberikannya padamu sebelum meninggal sebulan yang lalu,” paparnya seraya mengangsurkan sebuah kotak itu pada Ana.

Netra Ana berkaca-kaca saat mendengar kabar duka itu. Helaan nafas berat lolos dari bibirnya. Tak berselang lama ia menerima kotak itu dengan perasaan yang berkecamuk.

Ana perlahan duduk dengan pundak yang luruh, tangan gemetar saat menyentuh kotak kayu itu. Ukirannya sederhana, tapi di tengahnya terpatri lambang bunga lily berkelopak lima.

Bibir Ana bergetar lalu bersuara lirih. “Kenapa tidak ada yang memberitahuku? Sebulan yang lalu, aku keluar istana, Bibi. Andai aku tahu itu hari terakhir Bu Elia, pasti aku sempat mengucapkan selamat tinggal untuk beliau—”

Ada rasa getir menyelinap di hati wanita itu tatkala melihat Ana yang terlihat bersedih hati. Bagaimanapun, Bu Elia sudah ia anggap ibunya sendiri. Ia tidak akan pernah melupakan semua kasih sayang dan perhatiannya.

Ana memang sudah meninggalkan panti tiga tahun lamanya. Ia sudah menjadi koki istana semenjak ia bekerja di restoran wilayah Utara kerajaan Velmont.

Tatapan Bibi Martha terpacak pada kotak itu. “Dia bilang, ini milikmu sejak bayi. Diselipkan dalam selimutmu saat kau ditinggalkan di gerbang panti.” Ada helaan nafas berat di ujung kalimatnya.

Mengusap air matanya yang lancang luruh begitu saja, Ana membuka kotak itu perlahan. Di dalamnya ada sebuah liontin batu hijau jamrud berukir lambang bunga lily dan sepotong kertas tua dengan tinta yang hampir pudar.

Ana memegang liontin itu dengan perasaan getir. Rasa dingin menjalar di telapak tangannya, tetapi ada sesuatu yang aneh, rasa familiar. Seperti pernah merasakannya, jauh sebelum ia bisa mengingat apa pun.

“Kau mungkin bukan hanya gadis panti biasa, Ana,” gumam Bibi Martha. “Dan lambang itu, aku pernah melihatnya disulam di pakaian-pakaian kerajaan.”

Ana menatapnya, ternganga. “Apa maksud Bibi?”

Bibi Martha menghela nafas. “Entahlah, Ana. Aku tidak tahu menahu banyak hal tentang dunia apalagi istana. Anak-anak tak dibuang dengan benda seperti itu, kecuali ada sesuatu yang ingin disembunyikan.”

Ana memejamkan mata sejenak. Suara kayu bakar berderak pelan menjelma Dejavu yang memaksanya untuk menggali ingatan sewaktu ia masih kecil.

“Kenapa baru sekarang?” bisiknya seraya membuka matanya, menatap dunia yang kini tak lagi sama.

“Karena dunia ini tak selalu memberi kita waktu yang tepat,” jawab Bibi Martha. “Mungkin sudah saatnya kau tahu siapa dirimu sebenarnya.”

Ana memandangi liontin itu dalam. Mungkin, liontin itu adalah salah satu kunci baginya untuk menemukan identitas aslinya.

“Apakah ke dua orang tuaku bangsawan di kerajaan Velmont?” gumam Ana dengan bibir yang gemetar.

.

.

.

Waktu pernikahan Putri Clarissa dan Pangeran Leonhart dipercepat atas titah sang ratu. Sejak Raja Alric dilanda sakit, tanggung jawab atas roda pemerintahan sebagian besar beralih ke tangan Ratu Seraphina.

Semua pelayan terlihat sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Kepala pelayan membacakan gulungan perkamen berisi daftar tamu undangan. Sementara itu para koki dapur sibuk menyiapkan bahan makanan yang akan dihidangkan saat acara berlangsung; daging rusa, angsa, gandum dan bahan mentah lainnya.

Dari balkon kamarnya, sang ratu mengawasi mereka semua dengan seksama. Tidak boleh ada yang terlewat sedikitpun. Ini demi reputasi kerajaan.

Sisi lain, Ana tersenyum getir di balik jendela kamar pelayan di lantai atas. Ia bahkan dikurung, tak diijinkan keluar kamar. Ia tidak lagi bekerja sebagai koki dapur. Ia adalah calon permaisuri Pangeran Leonhart. Tanpa sadar air matanya luruh tatkala melihat pemandangan itu di balik jendela kayu.

Namun saat ia menatap liontin yang dipasang di kalungnya, senyum samar terbit di wajahnya. Ada secercah harapan di hatinya, mungkin ketika ia masuk ke dalam keluarga kerajaan, ia bisa mencari tahu asal usulnya. Sesaat perasaan tenang menyelimuti hatinya yang gusar.

Hari yang dinantikan tiba. Esok adalah hari pernikahan Putri Clarissa dan Pangeran Leonhart. Malam hari, Ana tidak bisa tidur nyenyak. Ia hanya berguling di atas dipan ke kanan dan ke kiri.

Suara derit pintu terdengar. Ana menoleh dengan mata yang memicing kaget bercampur takut. Gegas, ia berdiri saat melihat bayangan hitam orang bertubuh tinggi melesak masuk ke dalam kamarnya.

Salah satu pria mendekat saat melihat ternyata Ana bangun. Saat Ana hendak berteriak minta tolong, pria itu membekap mulutnya dengan tangannya.

“Mmmmph,” gumam Ana tak terdengar. Matanya perih. Tubuhnya berusaha meronta saat ke dua tangannya dikunci oleh ke dua pria lain.

“Cepat, oleskan!” kata salah satu pria ke pria berjubah hitam di depannya.

Ana berusaha sekuat tenaga melawan. Namun ia tak berdaya saat pria itu membungkam mulutnya dengan sapu tangan. Saat kesadarannya mulai menurun ia bisa merasakan cairan dingin dan berbau tajam menyapu wajahnya.

Keesokan harinya, kepala pelayan mendatangi kamar Ana untuk merias wajahnya. Madam Mia tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya saat melihat wajah Ana Merwin!

“Ana, kenapa dengan wajahmu?”

Bab 5

Mendengar teriakan Madam Mia, Ana langsung mencari cermin rias. Matanya membulat dan bibirnya menganga saat melihat wajahnya di sana.

“Apa yang terjadi pada wajahku?” gumam Ana dengan tak percaya.

“Apa kau merusak wajahmu dengan sengaja Ana?” kata Madam Mia langsung mendekat. Ia menilik wajah Ana dari jarak sangat dekat. Bahkan ia menyentuh bagian pipi kanan dan kirinya bergantian.

“Ough, gatal, Madam,” kata Ana dengan lenguhan pelan. Ia meringis kesakitan.

Madam Mia menghela nafas berat, “Jika Baginda Ratu tahu, kau—”

“Cepat obati dia dan rias!”

Suara kharismatik terdengar. Baik Ana maupun Madam Mia langsung membungkukan badan mereka, menyapa sang ratu.

Madam Mia mengangguk pelan seraya menjawab, “baik, Yang Mulia,”

Ratu Seraphina menatap Ana sebentar dengan tatapan yang rumit lalu pergi begitu saja meninggalkan mereka. Aneh, reaksinya datar.

“Ana, apa yang terjadi?” desak Madam Mia—masih kaget kenapa wajah Ana berubah mengerikan.

Ana mencoba mengingat kejadian semalam. “Madam, semalam ada sekitar tiga orang pria masuk ke kamar. Mereka tiba-tiba membekap mulutku. Setelah itu … aku tidak mengingat apapun. Aku hanya merasakan kalau wajahku gatal dan panas,”

Madam Mia menatap Ana dengan tatapan rumit. Gadis pelayan itu tidak mungkin berbohong. Dari sorot matanya ia bisa melihat kejujurannya.

Namun semua penghuni istana menutup rapat mulut mereka ketika mendengar kondisi wajah sang putri yang bengkak, penuh ruam dan mengerikan. Bahkan ke dua matanya yang biasanya indah tampak segaris. Semua orang yang melihatnya mungkin akan bergidik ngeri, jijik hingga ingin muntah.

Gosip istana pun mulai terdengar memanas dan semakin liar. Mereka mengaitkan apa yang terjadi pada sang putri berhubungan dengan kutukan. Mungkin kerajaan Velmont memang tidak ditakdirkan bersatu dengan kerajaan Ravensel.

Sebaliknya, Ratu Seraphina sama sekali tidak terusik dengan kondisi wajah Ana. Pernikahan akan tetap berlanjut. Ana tetap dirias oleh kepala pelayan kepercayaan ratu, Madam Mia sesuai rencana.

Di depan altar, pemuka agama berdiri dan bersiap-siap memimpin prosesi pernikahan. Di depannya sepasang calon pengantin berdiri dengan perasaan yang aneh. Bukan pernikahan karena cinta. Tapi … pernikahan karena kepentingan kerajaan.

Pangeran Leonhart tampak gagah dalam balutan resmi jubah hitam dengan emblem kerajaan, gambar seekor singa keemasan yang tengah berdiri tegak, cakar depannya mencengkeram dua pedang bersilang, dan di atas kepalanya bertengger sebuah mahkota bertatah permata merah. Sementara itu Ana terlihat anggun dalam balutan gaun pengantin putih yang menjuntai hingga ke lantai. Mahkota kecil bertengger di atas kepalanya yang berbalut veil hingga menutupi wajahnya.

Satu tarikan nafas tertahan sesaat janji suci ikatan pernikahan terucap. Tidak ada ciuman ataupun tatapan mesra dari sang mempelai pria pada mempelai wanita. Hanya ada tatapan intimidatif sang pangeran pada wanita yang kini menjadi permaisurinya.

“Menarik, semua orang merayakan kebohongan,” bisik Pangeran Leonhart tepat ke sisi wajahnya. Ana menahan nafas, gugup.

Gadis malang itu memilin jari jemarinya. Ia berkata lirih. “Maaf, apa maksud Yang Mulia,”

Pria bertopeng phantom itu mendesis pelan. Sudah ketahuan menipunya, masih berusaha menutupi kebohongannya.

Pangeran Leonhart berkata dengan nada dingin, “Aku tahu kau bukan Putri Velmont. Kau hanya seorang pelayan rendahan–”

Tubuh Ana bergetar. Namun … air yang sudah tumpah tak bisa ditadah kembali. Ia memilih bungkam seribu bahasa.

Beberapa detik kesunyian yang ia rasakan. Saat mendongak, Ana hanya bisa merasakan sentuhan jubah sang pangeran yang menyapu lantai. Punggung kekarnya sudah menjauh. Meninggalkan pengantin wanita yang menyedihkan.

Acara pesta berlangsung meriah hingga malam. Keesokan harinya Ana langsung diboyong ke tempat tinggal Pangeran Leonhart. Tidak ada perpisahan yang berarti.

Mereka menaiki kereta kuda mewah berlambang kerajaan Ravensel. Selama perjalanan hening. Ana duduk terpisah dengan sang pangeran. Ia sendirian, tak seperti putri lain yang ditemani dayang mereka. Tentu saja, Ana hanyalah pengantin pengganti. Ia bukan seorang putri.

Suara derit roda yang beradu dengan kerikil terasa seperti detak waktu yang menuntunnya menuju tempat terasing. Perjalanan panjang yang melelahkan itu akhirnya berakhir.

Mereka tiba di kastil milik Pangeran Leonhart. Kastil yang terletak di hutan Ebony, hutan kematian karena pepohonannya terbakar habis, tanahnya menghitam dan keras.

“Hutan ini seperti Pangeran Leonhart,” gumam Ana tatkala ia mengintip di balik tirai sebelum ia turun dari kereta kuda.

Seorang pengawal mengulurkan tangan saat Ana hendak turun. Namun sang pangeran langsung memekik. “Dia tidak pincang. Dia bisa jalan sendiri,”

Suara keras Pangeran Leonhart semakin membuat Ana mengecil. Saat ini ia begitu penasaran, apa rencana pria itu tetap membawanya ke tempatnya padahal sudah tahu jika dirinya bukan Putri Clarissa.

Apakah ia akan dihabisi di ranjang pengantin itu dengan sebilah pedang? Apalagi setelah tahu wajahnya terlihat mengerikan.

Berbagai pikiran buruk berseliweran di kepala Ana. Tanpa sadar, Ana diam mematung di atas jalan berbatu cukup lama. Pangeran Leonhart sudah lebih dulu masuk gerbang istana gelap itu.

Sang pengawal menuntunnya masuk. Sambutan yang pertama kali ia lihat adalah pemandangan gerbang kastil yang terlihat gelap dan kelam, terbuat dari besi tempa. Benar-benar menunjukan karakter The Black Phantom yang misterius.

Seorang pelayan wanita paruh baya langsung menyambut kedatangannya. Ia mengantarnya ke kamar pengantin.

Kamar pengantin yang sudah dirias sedemikian rupa untuk pengantin baru. Sebuah kamar bergaya aristokrat dengan jendela raksasa menghadap hutan.

Ana menelan salivanya susah payah tatkala tatapannya jatuh pada ranjang mewah itu. Entah apa yang akan terjadi malam nanti.

Suara deheman Pangeran Leonhart mengusik indera pendengaran Ana. Sontak, Ana menoleh ke arahnya. Sial, pangeran itu justru mendekat.

“Ana Merwin?”

Ana mengerjap. Pangeran itu sangat cerdas dan ratu begitu naif merasa paling pintar mengelabuinya. Bibir Ana bergetar, ingin bersuara, namun lidahnya mendadak kelu. Tenggorokannya tercekat udara.

Namun Ana harus bisa mengatasi situasi pelik itu. Ia terlihat menghela nafas pelan. “Yang Mulia—”

“Tidak usah pura-pura hormat padaku!” sela Pangeran Leonhart cepat. Tatapannya mengguliti tubuh Ana dari pucuk kepala hingga kaki.

Gadis itu memiliki kulit yang bersih dengan pinggang yang ramping. Sekilat mirip sekali dengan Putri Clarissa. Naasnya, Pangeran Leonhart orang yang teliti. Ia pernah bertemu sekali dengan Putri Clarissa saat acara ulang tahun Raja Edric, ayahnya. Putri itu memiliki tanda lahir di lengan kirinya.

“Kau sudah menjadi istri. Bukankah kau harus membuka veilmu?” kata Pangeran Leonhart dengan suara yang dingin menusuk.

Cengkraman Ana pada gaunnya semakin erat. Sontak, ia berjalan mundur.

Namun tangan Pangeran Leonhart terulur menarik veil tipis dalam sekali hentakan. Wajah Ana tersingkap di bawah cahaya senja yang redup.

Ia menatapnya. Namun bukan dengan kekaguman. Wajahnya justru mengeras dengan rahang yang menegang.

Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED