Di suatu malam yang telah larut, tepat jam 10 malam, seorang gadis yang baru selesai bekerja, tampak sangat kelelahan. Gadis berkemeja putih dan bercelana jeans itu kini berjalan menelusuri kota. Manapaki jejak di pinggiran pertokoan.
Malam yang sangat sepi, ia terus berjalan pelan sambil menikmati semilir angin malam yang terasa dingin menerpa tubuhnya. Dengan ditemani cahaya lampu-lampu temaram yang berkelipan terlihat begitu indah menghiasi pinggiran jalan raya yang ia lewati kini.
Lalu tiba-tiba saja langkah kakinya terhenti. Tak kala kedua netra beningnya dengan tanpa sengaja melihat sebuah mobil yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Sembari kembali mengayunkan langkah, ia masih terus mengamati mobil mewah yang kini terparkir di depan rumahnya.
Dalam hatinya pun bertanya-tanya, "Mobil siapa ini? Apakah kali ini Ibu sedang berada di rumah?"
Tiap kali ia pulang kerja, rumah itu biasanya akan terlihat sepi. Karena ibunya jarang sekali pulang ke rumah ini. Sekalinya berada di rumah, pasti dia akan membawa teman laki-lakinya atau pelanggannya atau apalah itu namanya datang ke rumah itu juga. Sehingga membuat gadis yang baru berusia 20 tahunan itu sangat terganggu akan kehadirannya.
Namun, ia bisa apa? Dirinya sudah berapa kali mencoba melarang dan berusaha menasehati ibunya agar tidak melakukan hal yang tidak terpuji. Tetapi yang ada ia malah dimarahi habis-habisan olehnya dan bahkan ibunya itu tak segan untuk memukulnya atau lebih parahnya lagi bisa berbuat kasar lebih dari itu. Sehingga kini ia hanya bisa pasrah melihat ibunya yang terus melakukan perbuatan yang tercela itu.
Perlahan ia berjalan mendekati rumah kecil itu. Sebuah rumah yang sangat sederhana di pinggiran kota Jakarta, yang hanya memiliki luas sepuluh meter persegi.
Seperti rumah petak pada umumnya yang terlihat kecil dan tampak biasa saja. Tidak ada yang istimewa dengan rumah tersebut. Hanya saja itulah tempat satu-satunya untuk tempat tinggal gadis itu sekarang.
Samar-samar ia seperti mendengar ada keributan dari dalam rumah. Sehingga membuatnya merasa sangat penasaran ingin mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam sana. Dengan segera ia pun ingin masuk ke dalam rumah.
"Tolonglah kasih aku tenggang waktu beberapa hari lagi, Bang!" ucap Tamara memohon. "Aku janji akan membayar hutang itu dengan segera," lanjutnya lagi.
"Hahaha ... Tamara, Tamara. Mau sampai kapan kau terus memberi janji palsu seperti ini padaku?" kata seorang pria yang sedang duduk santai sambil menopang sebelah kakinya seperti Bos besar.
"Memangnya kau mau bayar pake apa nanti? Pake tubuh rentamu itu? Sorry, aku sudah tidak tertarik dengan wanita tua sepertimu." Pria itu mencemoohnya.
"Ya elah, Bang, kau bisanya hanya menyelaku saja. Yang terpenting, 'kan aku bisa bayar utang itu ke kamu nanti," sahut Tamara yang terlihat kesal terhadap laki-laki tua itu.
"Lagian siapa juga yang mau menawarkan diri ke padamu, Bang? Masih banyak kok, lelaki lain yang lebih gagah dan lebih muda darimu di luaran sana yang mau denganku. Kenapa aku harus memilihmu yang sudah tua dan sudah punya banyak istri pula." Wanita paruh baya itu tersenyum sinis balas mencemoohnya juga.
"Sombong sekali kau. Aku mau lihat, bagaimana caramu membayar semua hutang- hutangmu itu? Sementara ini saja, kau sudah tidak ada lagi orang kaya yang mau denganmu, bukan?" Orang itu pun menyunggingkan sebelah ujung bibirnya, mengejek Tamara.
"Itu bukan urusanmu. Yang terpenting aku bisa membayar hutang itu, dan masalah kita selesai," balas Tamara lagi.
Tiba-tiba saja terdengar ada yang membuka pintu.
Ceklekk!
"Assallamualaikum," ucap Syaqilla seraya membuka pintu.
Sontak semua orang langsung terdiam dan menoleh ke arah pintu. Bramantio pria 45 tahun itu langsung terpesona ketika melihat ada sesosok gadis cantik yang sedang memasuki rumah tersebut.
Begitu masuk ke dalam rumah, Ananda Syaqilla atau yang akrab dipanggil dengan Syaqilla atau Aqilla itu melihat di ruang itu ada satu orang laki-laki yang sedang duduk berhadapan dengan ibunya. Sedangkan dua orang lagi berdiri di belakang laki-laki tersebut.
Laki-laki yang sedang terduduk tampak sudah berumur. Badannya sedikit gembul, kepalanya botak, kumis tebal dan sorot matanya yang genit.
Sedangkan dua orang yang berada di belakangnya, berbadan kekar tampangnya pun sangar. Mereka tampak seperti pengawal ataupun bodyguardnya saja.
Laki-laki yang sedang duduk itu kini sedang menatapnya sambil tersenyum menyeringai kepadanya. Syaqilla pun bergidik ngeri dan juga merasa risih karena laki-laki itu terus mengamati dirinya dengan tatapan yang sangat mencurigakan. Sehingga ia memutuskan untuk pergi ke kamarnya saja dari pada harus memikirkan apa maksud dari tatapan laki-laki tersebut.
"Ya sudah, aku mau ke kamar dulu ya, Bu. Mari semua!" Gadis cantik itu tersenyum ramah seraya menunduk sopan. Kemudian dengan segera ia pergi menuju kamarnya.
Bramantio masih terus saja memandangi gadis muda itu. Matanya enggan sekali untuk berkedip barang sedetikpun. Ia masih terhipnotis oleh kecantikan Syaqilla yang begitu sempurna di matanya.
Wajahnya yang cantik, kulit putih bersih, tubuh yang ramping namun berisi. Belum lagi gigi gingsul yang ada di sebelah kanan itu menanbah kesan manis di senyumnya. Yang bisa membuat semua orang yang melihatnya langsung jatuh hati kepadanya.
Apalagi Bramantio, ia adalah tipe laki-laki mata keranjang yang suka sekali mengoleksi istri. Terlebih lagi yang masih muda dan masih segar sepertinya. Dia pasti sangat menyukainya.
"Ekhem!" Tamara sengaja berdehem karena melihat Bram yang terdiam melongo seperti sapi ompong. Sambil terus menatap kepergian Syaqilla. Kini ia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh rentenir tua itu.
"Dasar, bandot tua! Liat yang masih seger aja langsung ijo deh, tuh mata. Hahaha ... tapi ini kesempatan bagiku agar bisa mendapatkan uang yang lebih banyak bukan? Hahaha ...," umpat Tamara dalam hatinya. Namun ia juga merasa senang karena akan mendapat mangsa baru yang akan memberinya banyak uang nantinya.
Bram nyengir kuda lalu berkata, "Siapa dia, Ra?"
"Dia anakku. Kenapa?" jawabnya judes.
"Hah, anakmu! Sejak kapan kau punya anak?" Bram pun terkejut dan tidak percaya kalau Tamara mempunyai seorang anak gadis yang begitu cantik nan jelita. Karena sebelumnya ia tidak mengetahui kalau ternyata wanita yang tak lagi muda itu telah mempunyai seorang anak.
"Sudah lama."
"Tapi kok, aku gak pernah melihatnya."
"Ya karena aku menitipkanya di panti asuhan."
"Oh, gitu." Bram pun mengangguk -anggukan kepalanya. "Tapi, beneran itu anakmu?" tanyanya lagi masih belum percaya.
"Iya, Pak Bramantio ...." jawab Tamara dengan kesalnya.
Bram malah terkekeh ketika melihat wanita itu yang sudah mulai kesal dengan dirinya. "Jadi, apakah dia sama sepertimu?" ucapnya sambil menaikan sebelah alisnya.
"Tidak, dia masih suci," sahut Tamara mengerti dengan maksud pertanyaan Bram tadi.
"Benarkah?" Bram bertambah senang ketika mendengar kalau gadis itu masih suci alias masih perawan. Berarti gadis itu belum pernah disentuh oleh siapapun.
Otak nakalnya mulai traveling kemana-mana. Membayangkan yang tidak-tidak dengan gadis tersebut. Tiba-tiba terlintas keingin untuk memiliki gadis cantik itu. Sehingga ia pun ingin melakukan negosiasi dengan Tamara.
"Jadi gini, Tam. Gimana ... kalau kau serahkan gadis itu saja padaku? Dan hutangmu nanti akan ku anggap lunas," tawar Bram.
"Hahaha ... tuh, benarkan? Sudah ku duga. Dia pasti akan langsung tertarik dengan Aqilla. Dan aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini," ujarnya membatin.
"Hahaha ...," Tamara tertawa sinis mengejek Bram. "Jadi, anak gadisku yang masih perawan itu cuma kau hargai lima puluh juta doang?"
"Terus ... kau mau berapa, hah?" timpal Bram.
"Lima ratus juta! Aku mau lima ratus juta?!"
"Lima ratus juta! Aku mau lima ratus juta. Aku jamin kalau dia benar-benar masih perawan dan belum pernah disentuh oleh siapapun. Jadi, kau tidak akan rugi, bukan?" Dengan entengnya Tamara menyebutkan nominal harga yang ia inginkan. Ia seperti sedang menawarkan barang dagangan saja. Padahal yang ia jual adalah keperawanan anak gadisnya sendiri.
"Apaa?! Lima Ratus juta? Apa kau sudah gila?" Tentu saja Bram sangat terkejut mendengarnya. Dan ia terlihat sangat kesal dengan nominal yang disebutkan Tamara. Nominal itu terlalu besar buat membayar anak seorang pelacur. Walau putrinya masih perawan, tetapi bagi Bram itu angka fantastis yang tidak masuk akal. "Kau meminta uang bayaran, atau malah mau memerasku, hah?"
Dengan cueknya Tamara mengangkat kedua bahu. Tanda ia tidak perduli dengan rèspon Bram yang sedang meneriakinya.
"Itu sih, terserah kau saja, Bang. Kalau setuju, silahkan. Kalau gak, ya udah sana-sana kau pergi saja deh sekarang!" Tamara mengibas-ibaskan tangannya tanda mengusir Bram dari rumahnya itu.
"Lagi pula jika kau tak mau, masih banyak kok, orang yang mengantri demi mendapatkan putriku yang masih ting-ting itu," lanjut Tamara seraya tersenyum sinis padanya.
Bram terdiam sesaat, ia tampak sedang berfikir. Sungguh ia sangat menginginkan dan tergiur dengan gadis itu. Apabila ia tak bertindak cepat, benar kata Tamara, pasti ada banya laki-laki lain yang juga menginginkan gadis tersebut.
Hingga pada akhirnya ia pun berkata, "Ok, aku setuju. Tapi, uang yang lima ratus juta itu akan kuberikan setelah aku menikah dengannya nanti."
"Ok, deal." Dengan senang hati Tamara langsung menyetujui tawaran itu. "Tapi, tidak terpotong sama hutangku itu loh, Bang. Jadi besok aku mau terima utuh uang lima ratus juta itu."
Bram tersenyum bahagia karena merasa senang sebentar lagi ia akan segera memiliki gadis itu.Tetapi ia juga sedikit kesal dengan cara licik Tamara yang memanfaatkan keadaan ini untuk bisa terbebas dari hutang-hutangnya itu. "Ok, tapi, aku ingin membawa gadis itu malam ini juga. Dan besok pagi aku akan langsung menikahinya."
"Eh tunggu, sabar dululah, Bang! Gak sabar banget, sih," sungut Tamara.
"Yah, karena kalau nunggu besok, takut ia tidak mau dan malah kabur dari sini bagaimana?"
"Oh, jadi Abang takut, kalau aku akan menipumu gitu, Bang?"
"Ya, siapa tau bisa begitu, 'kan?"
"Ok, tapi beneran ya, Bang. Setelah kalian menikah besok, Abang akan langsung memberikan uang itu?"
Bram mengngguk menyakinkannya. "Ya ya ya ... pasti akan langsung aku tranfer besok."
"Baiklah, kalian tunggulah sebentar! Aku akan memanggilnya." Kemudian wanita paruh baya itu langsung pergi menuju kamar sang anak. Sementara ke tiga pria itu dengan sabar menunggu di ruang tamu.
Syaqilla yang semula akan merebahkan tubuhnya di atas kasur, merasa kaget ketika mendengar ada suara ketukan pintu. Sehingga ia terpaksa menunda keinginannya untuk segera beristirahat. Dengan malasnya ia beranjak dari tempat tidur dan segera membuka pintu kamarnya.
Cekllek.
"Eh, Ibu. Ada apa? Aku sudah ngantuk loh, Bu. Jadi, tolong jangan ganggu aku, ya! Aku mau tidur nih," ujarnya sembari menguap menahan rasa kantuknya.
"Oh, jadi kamu gak terima, kalau Ibu menggangumu, hah?" ujar Tamara ketus.
"Ya ya bukan begitu, Bu," jawabnya lirih.
"Sudah, sekarang kamu siap-siap ikut Pak Bram!" perintah Tamara.
"Hah, siap-siap?" Syaqilla mengerutkan dahinya karena bingung tidak mengerti maksud dari perkataan ibunya ini. "Siap-siap untuk apa, Bu? Da-dan Pak Bram itu siapa?"
"Ya siap-siap untuk ikut Pak Bram ke rumahnya, Qilla!"
"Untuk apa, Ibu, aku ikut ke rumahnya?"
"Kamu akan ibu nikahkan dengannya, Besok! Dan ibu tidak ingin ada bantahan sedikitpun darimu!"
JEDDER!
"A-apa? Me-menikah?!" Ucapan ibunya bagaikan petir yang menyambar di siang bolong. Yang seakan-akan memberi tekanan padanya, sehingga ia tidak bisa untuk membantahnya.
Seketika itu juga, rasa kantuk yang sedari tadi ia rasakan hilang begitu saja mendengar ucapan ibunya itu. Kata 'Menikah' membuat Syaqilla sangat syok dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Ja-jadi ma-mak-sud I-Ibu aku harus menikah dengan Pak Bram?" pekiknya.
"Ya, bukannya kamu ingin Ibu berhenti dari pekerjaan ini, kan?"
Syaqilla menggangguk.
"Makanya kamu harus menikah dengan dia," lanjut Tamara.
Syaqilla terdiam mematung masih mencoba mencerna perkataan dari ibunya. Namun tiba-tiba Tamara malah menarik tangannya, dengan paksa membawanya menuju ke ruang tamu.
"Aww ... sakit, Bu!" pekik Syaqilla menahan sakit di pergelangan tangannya. Karena sang Ibu mencengkramnya terlalu kuat. Namun ia terpaksa mengikuti langkah sang ibu yang menyeretnya ke ruang depan.
Lalu Tamara menghempaskan tangannya dengan kasar. "Ini, dia. Kalian boleh membawanya sekarang juga!"
Gadis bergigi gingsul itu sampai terbengong dibuatnya. Ia tidak mengira kalau Ibunya ini tega menyerahkan dirinya kepada pria yang bernama Bram.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Ibu? Kenapa aku harus ikut mereka? Aku tidak mau!" Syaqilla bersuara lantang mencoba melawan perintah Ibunya.
"Apa, kamu bilang? Tidak mau? Kamu mau jadi anak durhaka, yang membangkang kepada orang tua, hah!" Dengan sangat geram Tamara berteriak sambil melotot ke arahnya.
"Tetapi, aku belum mau menikah. Dan kenapa pula Ibu tiba-tiba saja menjodohkanku sama Pak Bram itu?" protesnya.
"Pak Bram itu orang kaya, orang terpandang, Qilla! Kamu bisa hidup enak tanpa harus capek-capek kerja keras seperti yang sekarang ini. Dan pasti dia akan cukupi semua kebutuhanmu nanti. Jadi, kurang enak apa lagi, coba?" ujar Tamara, memberikan sebuah alasan untuk membela dirinya sendiri. Padahal dalam hatinya, ia hanya ingin mendapatkan uang yang banyak tanpa memperdulikan bagaimana nasib gadis itu kedepannya nanti.
"Tapi, bukan seperti ini yang aku inginkan, Bu. Aku hanya ingin hidup damai bersama Ibu. Hanya ingin Ibu menyangiku. Dan ... kalau soal uang, aku masih sanggup bekerja untuk Ibu." Syaqilla mulai mengungkapkan isi hatinya yang ia pendam selama ini. Dengan sedih menatap sang ibu yang sedang berdiri di hadapanya itu.
"Alah, omong kosong." Tamara mengibaskan tanganya sambil tertawa mengejek dan meremehkan omongan putrinya tadi. "Emang berapa yang bisa kamu berikan ke Ibu, dengan kamu yang hanya bekerja sebagai pelayan toko, Qilla? Buat makan aja kurang, sok-sok'an mau ngebahagiain Ibu."
Syaqilla masih terdiam membatu menatap tidak percaya, kalau sang ibu akan berkata seperti itu padanya. Jadi selama ini yang ibunya pikirkan hanya uang dan uang. Dia tidak pernah memikirkan perasaanya walau sedikitpun.
Perlahan bulir-bulir bening seperti kristal mulai mengalir di kedua pipinya. Hatinya terasa sangat sakit, karena ternyata memang benar ibunya tidak pernah menyayanginya sepenuh hati.
"Ibu, apakah Ibu pernah menyayangiku walau hanya sedikit saja?" tanya Qilla sambil terbata-bata menahan tangisnya.
Tamara pun terdiam tidak menjawab. Dia bingung mau menjawab apa. Apakah harus berkata jujur atau membiarkannya saja berfikiran entah seperti apa tentang dirinya.
"Sudah cukup dramanya! Mending sekarang kau ikut denganku gadis cantik!" Tiba-tiba Bram menyela pertengkaran mereka berdua. Sehingga Syaqilla yang semula menunduk sambil menangis langsung mendungak dan menoleh ke arahnya.
"Anda siapa?" Sambil mengusap air matanya, gadis berpiama pink itu mengeryitkan dahinya melihat pria paruh baya tersebut.
Bram tertawa lantang lalu berkata, "Aku adalah calon suamimu, Sayang!"
"A-apa!" Sontak gadis cantik itu membelalakan mata. Lagi-Lagi dia dikejutkan oleh kenyataan kalau sang ibunya ini tega menjodohkannya dengan pria tua itu.
"Ibu, sungguh aku tidak mengerti, masa aku harus menikah dengan dia?" Protes Syaqilla menuding ke arah pria itu. Ia semakin menolak perjodohan ini. Apalagi setelah tau kalau umur pria yang akan menjadi calon suaminya itu terpaut jauh dengannya. Bahkan pria itu terlihat lebih pantas sebagai ayah mertuanya saja.
"Ya, benar. Memang dia calon suami kamu, Qilla!" jawab Tamara dengan acuhnya membenarkan ucapan Bram. "Jika kamu mau menikah dengannya maka hutang-hutangku kepadanya ajan dianggap lunas."
"A-apaa?!" Entah yang ke berapa kalinya gadis itu dibikin syok oleh perkataan Ibunya sendiri. "Ja-jadi Ibu menjadikanku sebagai pelunas hutang?"
"Sudah, cukup! Cepat bawa dia sekarang!" ucap Bram memberi perintah pada kedua anak buahnya.
"Tidak, aku tidak mau!" Seraya menggelengkan kepalanya, sebelum kedua anak buah itu mendekati dirinya, dengan sangat panik gadis itu langsung berlari menuju pintu depan, berusaha untuk kabur.
"Brengsek, dia malah kabur, lagi. Buruan cepat kejar dia, Bodoh!" Bram terlihat sangat marah memberikan perintah kepada anak buahnya yang hanya diam saja melihat Syaqilla melarikan diri dari sana.
Dengan segera kedua anak buah itu pun gegas berlari ke luar rumah mengejar gadis tersebut. Sementara Bram kini menatap Tamara dengan tajam dan penuh kemarahan.
"Jika putrimu itu tidak bisa ditemukan, maka hutangmu akan bertambah menjadi dua kali lipat!" ancam Bram.
"A-apa?! Ti-tidak bisa seperti ini dong, Bang!" pekik Tamara syok.
"Jika kau ingin hutangmu lunas, maka temukan putrimu itu dan serahkan dia padaku!" tandasnya. Kemudian Bram pergi meninggalkan rumah itu.
"Ah, sialan si Qilla! Dasar anak gak tau diuntung!" umpatnya sambil menggertakan giginya karena kesal.
Kemudian ia pun berlari keluar rumah, berusaha ingin mencari putrinya juga.
Sementara di pinggir jalan.
"Woy! Jangan kabur!" teriak dua orang pria berbadan kekar yang sedang mengejar seorang gadis.
Dengan sangat tergesa-gesa, seorang gadis muda sedang berlari dengan penuh ketakutan. Wajahnya tampak panik, ia berusaha menghindar dari kejaran dua orang yang berada di belakang.
Waktu sudah menunjukan pukul 23.00 WIB. Jalanan itu nampak lenggang tidak terlihat ada aktifitas orang yang melintas di sekitar jalan itu. Hanya ada beberapa mobil dan kendaraan bermotor saja yang masih berlalu lalang di sana.
Sehingga membuat suasananya menjadi semakin mencekam bagi Syaqilla. Ya, itulah nama gadis dua puluh tahunan ini yang sedang berusaha kabur dari kejaran anak buah rentenir tua yang benama Bramantio.
Sambil berlari gadis cantik itu sesekali menoleh ke belakang dan ia melihat kalau kedua orang itu masih terus mengejarnya. Bahkan jaraknya pun semakin mendekat dengannya.
Ia bertambah menjadi semakin panik, takut tertangkap oleh orang itu. Detak jantungnya semakin berpacu cepat saat melihat orang itu masih saja terus berusaha mengejarnya.
Gadis itu terus berlari di trotoar, seperti orang gila tanpa menghiraukan keadaan di sekitarnya yang terlihat masih ada kendaraan yang berlalu lalang di jalan itu. Bahkan ia tidak peduli lagi ke mana langkah kakinya membawanya kini.
Yang terlintas dalam pikiranya kali ini adalah ia harus lari dan terus berlari agar bisa kabur dari renternir tua itu. Hingga ia pun berhenti sejenak untuk mengambil nafasnya yang sudah hampir habis.
Sambil membungkukan badan, tangannya memegangi kedua lutut, ia mengatur nafas yang tersenggal-senggal. Ia juga menyeka keringat yang ada dahinya dengan lengan. Sembari celingukan melihat ke kanan-kirinya berniat menyebrangi jalan.
"Woy, jangan lari!" Syaqilla terhenyak kaget, ketika orang itu meneriakinya dari arah belakang. Ia pun menoleh dan betapa terkejutnya ternyata kedua orang tadi sudah nyaris mendekatinya. Tanpa berpikir panjang ia langsung berlari ke tengah jalan ingin menyebrangi jalan raya.
'Tin-tin ... !
'Tin-tin ... !
Syaqilla tersentak kaget dan langsung berhenti sejenak. Ketika ada beberapa mobil yang mengelakson, begitu melihat ada orang yang sedang berlari di tengah-tengah jalan yang mereka lewati.
"Woy! Gila kamu ya! Kalau mau bunuh diri, jangan di sini, dong! Huff, hampir saja aku menambraknya." Dengan kesalnya salah satu pengendara mobil yang melintas di sana meneriakinya.
Namun Qilla mengabaikan orang-orang yang murka kepadanya. Karena ia menerobos jalan itu tanpa memperdulikan kendaraan yang lalu lalang di sana.
Dengan jantung yang berdebar-debar Ia berusaha berhenti dengan tepat menghindari setiap ada mobil yang melintas. Bahkan jantungnya serasa mau copot, ketika satu persatu mobil yang melewatinya itu seperti hampir menabraknya.
Tin-tin ... !
Wuzz ...!
Wuzz ...!
Namun akhirnya ia dapat bernafas dengan lega karena berhasil sampai di sebrang jalan.
Sementara dua orang itu ikut menyusulnya juga, menyebrangi jalan. Tetapi sedikit kesusahan, karena ada beberapa mobil yang lalu lalang di sana. Sehingga langkah mereka terjeda oleh kendaraan itu.
Di saat itulah kesempatan Syaqilla untuk berlari lebih jauh lagi. Namun kedua orang itu pun berhasil menyebarangi jalan dan kebingungan mencari ke arah mana gadis itu berlari.
"Akh ... sial! Ke mana gadis itu larinya?" umpat salah satu laki-laki itu sambil ngos-ngosan menoleh ke kanan-kirinya.
Tak kuat berlari lagi, gadis itu memutuskan berhenti sejenak. Duduk di pinggir jalan meringkuk sendirian. Ia tampak kebingungan, ke manakah ia akan melarikan diri. Dia tidak mempunyai keluarga lagi selain dari Ibunya. Namun, ia tidak bisa membayangkan apabila ia sampai tertangkap dan harus menikah dengan rentenir tua yang sudah berumur itu.
Air matanya mulai mengalir membasahi kedua pipinya. Sungguh ia tidak menyangka kalau orang yang seharusnya menjadi pelindungnya, malah tega menjualnya.
Hatinya benar-benar terasa sakit, selama ini dia masih bisa menahan sikap kasar dari Ibunya. Namun kali ini, Ibunya sudah sangat keterlaluan, mana ada seorang ibu yang tega menjual anaknya sendiri kepada renternir tua pula.
Dan lebih parahnya lagi dirinya dijadikan sebagai penebus pembayar hutangnya. Sungguh ia tak habis pikir, kenapa Ibunya tega melakukan itu semua.
Sambil menunduk, badannya pun bergetar tersedu-sedu karena tangis. Ia merasa sangat sedih, cemas, takut dan juga kebingungan. Semua perasaan itu kini bercampur aduk memenuhi hatinya. Sekarang apa yang harus ia lakukan?
'Degg!
Tiba-tiba ada yang memegang bahunya dari belakang.
"Akhirnya, aku bisa menangkapmu gadis bodoh. Hahaha ... !" Suara bas seseorang mengagetkanya.
Syaqilla langsung menganggkat kepalanya dan matanya pun melotot karena kaget. Ia menoleh ke belakang dan ternyata kedua orang itu sudah berada di sana, dan menarik lengannya dengan kuat agar ia bangkit dari duduknya.
Seketika itu ia pun langsung panik dan meronta. "Lepaskan! Tolong lepaskan aku. Aku mohon Pak, kasihanilah aku! Tolong ... tolong!" Sambil meringis menahan kesakitan di lengannya itu. Syaqilla memohon dan memelas kepada kedua orang yang sedang memcengkram lengannya, ia berteriak meminta tolong.
Namun, kedua orang itu hanya tertawa mengejeknya. "Hahaha ... ! Percuma, Nona. Tidak akan ada yang menolongmu di sini. Lihatlah jalan ini sepi, gak ada orang di sini, siapa yang akan menolongmu, hah?"
Tanpa belas kasihan mereka terus menyeretnya ke pinggir jalan untuk menunggu kedatangan mobil bosnya yang akan datang menghampiri mereka.
"Jangan harap kau bisa lari lagi, Nona! Cepat hubungi Pak Bram! Bilang kalau kita sudah menangkap gadis ini!"
Salah satu laki-laki itu melepaskan cengkraman tangannya dan segera mengabil ponsel untuk menghubungi sang bosnya itu.
Syaqilla masih terus memberontak sambil terus berfikir bagaimana cara agar ia bisa terlepas dari mereka. Mau berteriak minta tolong juga percuma. Karena di jalan itu memang tidak ada siapa-siapa lagi selain mereka bertiga.
"Ya Allah! Bagaimana ini? Tolonglah hambamu ini, ya Allah." Ia hanya bisa berdoa semoga ada
orang yang datang untuk menolongnya, ataupun berharap semoga Tuhan memberi petunjuk bagaimana ia bisa kabur dari orang-orang jahat itu.
Tiba-tiba ia seperti mendapat petunjuk, ketika melihat salah satu orang itu sedang lengah karena sibuk menelfon. Ini kesempatanya untuk bisa melarikan diri lagi.
'Dugg!
Syaqilla menginjak kaki orang yang ada di sebelahnya. Kemudian membalikan badan dan menedang bagian intim laki-laki itu dengan dengkulnya.
'Bugg!
"Aww ... ! Sialan, dasar gadis brengsek!" umpatnya sambil meringis, memegangi begian bawahnya yang sakit akibat serangan Syaqilla yang terlalu kuat. Sehingga ia pun bisa terlepas dari cengkraman tangan laki-laki itu. Dan langsung berusaha untuk kabur lagi.
"E-eh -eh, woy. Jangan kabur!" Laki-laki yang sedang menelpon langsung terbelalak kaget ketika melihatnya bisa terlepas kembali.
"Ah, dasar bodoh kau ini! Menahan seorang gadis saja tidak bisa. Ayo cepat kejar dia!" teriaknya sambil berlari mengejar Syaqilla, meninggalkan temennya yang masih meringis menahan kesakitan.
Gadis yang masih mengenakan piama pink bermotif Hello kitty itu dengan sepenuh tenaga mempercepat langkah seribunya. Ia sudah tak memperdulikan lagi rasa perih di telapak kakinya, karena tak sempat memakai alas kaki, saat ia kabur tadi. Hingga tanpa disadari ia sudah melewati bahu jalan, namun ia tetap melanjutkan langkahnya hingga ke tengah jalan raya.
Sampai terdengar suara klakson yang menyadarkannya. Seketika itu ia pun langsung berhenti dan menoleh ke arah sumber suara.
Belum juga dia bereaksi dengan apa yang dia lihat. Tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang sedang melaju kencang ke arahnya. Dan ....
'Tin-tin ....
"Aaaaa ... !" Teriaknya sambil menyilangkan kedua tangan menutupi wajah.
'Ciiitt ... !
'Brrakk ... !
Tubuhnya kini terasa ringan melayang di udara tidak menyentuh bumi. Hingga akhirnya punggungnya membentur aspal jalan raya. Dan sekujur badan sudah tidak merasakan apa-apa lagi.
"Ya Allah, sungguh aku tidak mau menikah dengan lelaki itu. Jika sekarang aku harus mati, aku pun rela, ya Allah," batinnya pasrah.
Kini pandanganya menjadi kabur dan juga gelap. Lalu dengan perlahan ia menutup kelopak matanya sampai tidak sadarkan diri, tergeletak di tengah jalan.