Bab 2

Putih yang cantik. Memesona seperti intan permata. Lagi suci selayaknya permadani milik bidadari, … adalah hal terindah yang pertama kali didapatkan oleh tuan putri sulungnya kerajaan Pasir Batang, yang memiliki nama Purbararang, … dari penampilan memukaunya sang adik kandung yang baru saja terlahir ke dunia ini.

“Rarang, lihatlah tangan kecilnya. Bukankah dia sangat lucu?”

Ibu kandung dari Purbararang, sang Ratu Kerajaannya Pasir Batang, Ibu Ratu Sari Dewi Bunga Pamasti, … memiliki rupa cantik lagi menawan dalam menurunkan gennya ke adik Purbararang.

Diberkahi dengan rambut putih keperakan yang anggun, juga mata putih bening sesilau jernihnya bekuan air murni, … seorang ratu muda yang dikenal oleh rakyatnya sebagai seorang dewi karena sering menebar banyak kebaikan itu, … lekas mengarahkan tangan putri sulungnya yang baru menginjak usia 5 tahun kurang, untuk mencolek sedikitnya kulit merah bayi mungil di pangkuannya tersebut.

“Dia sangat cantik,” tukas seseorang menyusul.

Orang itu terlihat memiliki mahkota agung di kepala berambut hitam kelamnya, dengan manik mata hitam juga persis seperti ciri fisik yang terdapat pada Purbararang.

Mengusapkan tangannya untuk mengelus lembut kepala kecil sesosok makhluk hidup yang sebesar boneka ini, orang itu kembali menyambungkan ucapan.

“Sangat cantik sehingga segala kecantikan yang ada di dunia ini, seolah-olah berpusat kepadanya. Ah, bukan. Sepertinya, … semua kecantikan di dunia inilah, yang justru berasal darinya.”

Dia, orang itu, adalah seorang laki-laki tampan yang berprofesi sebagai raja muda kerajaan Pasir Batang, suaminya ibu ratu, juga Ayahnya Purbararang.

Yakni, Paduka Raja Prabu Tapa Agung.

“Purbasari, kuberikan nama itu.”

Mengecup dahi kecil si bayi yang baru saja di namakan dengan nama “Purbasari” olehnya, … Prabu Tapa Agung, lekas melengkapi pemberkatannya terhadap anak berdarah keluarga kerajaan yang baru lahir, dengan memanjatkan sebuah harapan.

“Semoga kamu tumbuh dengan baik, menjadi Putri yang sangat bijaksana untuk semua rakyatmu, … Putri Purbasari.”

***

“Teteh Lalang, Teteh Lalang!"

Purbararang kecil yang saat ini tengah bermain rumah-rumahan bersama dengan para putri–anak perempuannya raja dari selir-selir–lain yang kurang lebih memiliki usia tak jauh beda dengannya, … menolehkan kepala dengan rambut hitam sependek bahunya di cepol dua, … ke arah putri berambut hijau lemon dan bermata hijau kulit jeruk.

Putri itu adalah Purbaendah. Putri raja yang terlahir dari selir kedua.

“Endah dengal dari Ibu, adiknya Teteh Lalang sudah bisa belbicala banyak-banyak. Bukan menangis telus. Apa Endah boleh lihat?"

Awalnya terdiam sesaat, tak butuh waktu berapa lama kemudian, Purbararang menyahut dengan diiringi oleh tersimpulnya senyuman lebar yang terlihat begitu manis.

“Owhh, tentu! Saat Adik Rarang berbicara, dia akan sangat lucu, tahu! Dia cantik. Cantiknya mirip Rarang. Kamu ingat kan? Namanya Purbasari.”

“Purbathari?” sahut Putri lain yang tampak tertarik dengan topik pembicaraan.

“Kenapa membicarakan Purbathari? Apa Purbathari thudah bitha menyebut nama Ana? Ana mau lihat!”

Putri itu adalah Purbakancana.

Seorang putri yang memiliki rambut kuning kejinggaan seperti warna pada batu perunggu, … mengerjap-ngerjapkan manik mata yang berwarna serupa miliknya, kepada Purbararang.

Purbakancana, si putri yang juga sering kali mencoba menarik perhatian kakak tirinya ini dengan bersikap sok menggemaskan, adalah anak bungsu yang terlahir dari perut selir pertama raja.

Dia memiliki kakak perempuan yang satu setengah tahun lebih tua darinya. Dan kakaknya, adalah anak yang kurang lebih memang sebaya dengan Purbararang.

Namanya ….

“Ana, bukankah Ibu sudah bilang kalau bayi itu jelek? Untuk apa kita melihat sesuatu yang jelek?”

… Purbamanik.

“Mending kita main rumah-rumahan di sini saja.”

Putri muda berambut merah kejinggaan seperti warna pada langit sore, dengan manik mata serupa seperti yang dimiliki Purbakancana itu, … telah menyirikan sifat arogan sedari dini.

“Ah~ Teteh, … Ana ingin lihat!”

Merengek dan mulai menampakkan muka yang berkaca-kaca, pada akhirnya, Purbakancana mendapatkan dukungan persetujuan dari putri yang lain.

Dari sepasang putri kembar yang dilahirkan dari ibu berupa wanita bergelar selir ketiga.

Mereka adalah ….

“Apa salahnya, melihat sekilas?”

“Ya, itu lebih baik dari pada terus menyimpan rasa penasaran kita.”

… Purbaleuih dan Purbadewata.

Sepasang putri kembar seiras, yang hanya dapat dibedakan melalui warna pada rambut dan juga mata mereka saja.

Jika Purbaleuih memiliki rambut hitam keungu-unguan, dengan manik mata ungu gelap, … maka, Purbadewata memiliki rambut hitam kebiru-biruan, dengan warna mata biru lautan dalam.

“Lihat! Teteh Leuih thama Teteh Dewata thaja thetuju juga, kan?” tukas Purbakancana mempertanyakan keraguan dari si kakak kandungnya ini, dengan membela diri memanfaatkan pendapat dari kakak tirinya yang lain.

“Kalau Teteh Manik tidak mau, ya thudah! Jangan ikut!” lanjutnya, sembari bersembunyi dibalik punggung saudara tiri yang sebaya dengannya, Purbaendah.

Dia melakukan hal itu, karena merasa sangat takut dengan reaksi mengerikan apa yang akan kakak pemarahnya tersebut lontarkan.

Membalas pernyataan mengesalkan adiknya yang menjadikan keningnya berkerut, Purbamanik menyahut. “Siapa juga yang mau ikut! Aku tidak mau! Kalau mau pergi, ya sudah, … pergi saja sana!”

“….”

Kamar tempat bermain para putri ini mendadak hening, segera setelah mendengar Purbamanik menuturkan amarah kekesalannya.

Tentu saja hal ini membuat sang putri yang hampir setiap hari selalu saja dibanding-bandingkan dengan Purbararang oleh ibunya itu pula, mendadak merasa malu.

“A-apa? Ti-tidak pergi?”

Menggeleng-menggelengkan kepalanya dan berdecap menirukan tingkah laku orang dewasa ketika mereka merasa kecewa, Purbararang melontarkan kata.

“Kekanak-kanakan,” ujarnya terdengar konyol, karena mereka semua saat ini memang masih anak-anak.

“Sudahlah, semuanya. Ayo kita pergi,” ajaknya kemudian kepada yang lain, sambil menuntun dan menggenggam tangan Purbaendah beserta Purbakancana, … untuk kemudian mulai melangkahkan kaki diikuti si putri kembar dalam meninggalkan Purbamanik di ruangan bermain ini sendiri.

Dirasa ingin mengucapkan sesuatu tetapi tak kunjung muncul kata yang dapat keluar dari mulutnya, … Purbamanik yang sebetulnya merasa ingin ikut dengan mereka jauh dari dalam lubuk hati, tetapi merasa begitu malu dalam mengatakan segalanya secara jujur, … mengepalkan tangannya erat.

Apa?

Melihat bayi yang konon katanya memiliki sari kecantikan seperti kopiannya paduka ratu. Seseorang perempuan hebat yang menjadi idola untuk Purbamanik, … melebihi rasa hormat kepada ibunya sendiri?

Memangnya, … siapa yang tidak ingin melakukan itu?

“Hei! Tunggu aku!” jerit Purbamanik tak berlangsung lama, mengejar para putri lain setelah bergelut dengan keras melawan rasa gengsi.

“Katanya tidak mau ikut?” cibir Purbararang, membuat wajah Purbamanik memerah melebihi warna pada rambutnya sendiri.

“Ja-jangan salah sangka! Aku ikut karena aku harus mengawasi Ana! Sebagai Kakak yang baik, aku harus menjaga adikku dari kedekatan! Bukan karena ingin melihat adikmu yang jelek!” elaknya, melimpahkan segala alasan dengan melibatkan adiknya yang saat ini memandangnya dengan hati ingin mengatai.

“Kalau begitu … ya sudah.”

Melepaskan tangan Purbakancana untuk terulur meminta raihan tangan Purbamanik, dengan polosnya … Purbararang tersenyum semringah, menampakkan deretan giginya yang bolong-bolong.

“Ayo kita pergi bersama-sama!” ajaknya, segera dibalas Purbamanik dengan membiarkan tangannya tuk lekas digenggam oleh tangan milik saudara tiri yang paling membuatnya iri.

Dengan ikutnya Purbamanik saat ini, kini … formasi yang dilakukan oleh Purbararang untuk menuntun adik-adiknya itu pun jadi berubah.

Dia mengubah posisinya untuk berdiri di tengah-tengah.

Menggunakan tangan kirinya untuk menggandeng tangan Purbamanik yang juga menuntun Purbakancana, … bersama tangan kanannya menggandeng tangan Purbaendah, yang menuntun si putri kembar.

Dengan demikian, secara damai dan terlihat menentramkan jiwa, keenam Putri Kerajaan Pasir Batang tersebut pun, kembali berjalan bersama … dengan lengan mereka yang kecil-kecil, saling bertaut tuk menggandeng tangan satu sama lain.

Bab 3

Sesampainya di depan kamar Purbasari yang terletak tidak jauh dari kamar tempat bermain, … keenam putri ini, segera disambut oleh seorang ksatria tingkat paling tinggi.

Dia adalah orang yang paling dipercayai oleh ayah mereka.

Seorang komandan ksatria dari segala faksi ksatria, yang saat ini ditugaskan untuk mengawal Putri Purbasari yang sudah menginjak umur 3 bulan, … Sir Batara.

Menjadi komandan besar untuk para ksatria dalam usia yang sangat muda, si pria yang memiliki penampilan lembut dan disenangi oleh anak-anak, dengan rambut coklat pucat seperti lempung juga mata coklat gelap seperti kacang kenari, … Sir Batara, adalah orang yang ramah, lagi baik hati.

Dia bukanlah orang yang congkak apalagi songong, dalam menyombongkan segala prestasi yang ia milikki.

Selain itu, dia juga tipikal orang yang akan merasa gampang terenyuh dengan suatu keindahan, kelembutan, kelucuan, juga kegemasan dari sesuatu atau pun seseorang.

Terutama, di diri para putri yang masih kecil-kecil ini.

Merundukkan tubuhnya rendah untuk berjongkok supaya dapat berhadap-hadapan secara lurus dengan tubuh pendeknya para putri, Sir Batara … cepat-cepat bertanya dengan antusias.

“Ada gerangan apa, sampai-sampai menjadikan Anda sekalian repot-repot datang kemari, … para Nyai Putri Saya yang terhormat?”

Melepaskan pegangan tangan dengan menghempasnya, setelah itu langsung menunjuk muka Purbararang dengan telunjuk, seenaknya saja … Purbamanik menceletuk.

“Mau lihat kejelekan di adiknya Rarang.”

Tak terima dengan perkataan itu, Purbararang yang merajuk, menggembungkan pipinya kesal dan menampik ucapan Purbamanik dengan sebuah sanggahan sengit.

“Tidak! Adik Rarang tidak jelek! Ayo buktikan sekarang jika kamu masih tidak mempercayainya!”

“… Ah? Anda sekalin ingin melihat Nyai Putri Purbasari ya?” sadar Sir Batara, mulai memahami apa maksud dibalik kedatangan mereka.

“Sayang sekali, saat ini beliau tengah tertidur."

Mendapati pemaparan dari si pengawal kamar Purbasari yang mengucapkan sebuah penjelasan mengecewakan, keenam putri itu pun merengut sebal.

Enggan melihat putri-putri yang lucu itu bersedih, Sir Batara berupaya untuk menghibur mereka.

Sambil mengedipkan satu mata, juga menaruh telunjuk di depan bibir secara melintang untuk mengisyaratkan supaya nantinya para putri tidak banyak menimbulkan bisik suara, … Sir Batara berkata.

"Tetapi, jika Anda sekalian masih ingin tetap melihatnya, maka … tolong jangan berisik ya?”

Serentak lagi kompak menganggukkan kepala mereka masing-masing, merasa paham akan apa yang Sir Batara tuturkan barusan, pada akhirnya keenam putri itu pun … mulai masuk ke dalam kamar Purbasari satu persatu dengan langkah yang sesenyap mungkin, berusaha untuk tidak menimbulkan suara nyaring barang sedikit pun.

“Uwohh.”

Melirih, menggumamkan keterpakuannya terhadap bayi lucu yang tertidur di dalam kungkungan boks bayi yang saat ini tengah mereka kelilingi, Purbakancana membekap mulutnya kagum.

Reaksi keterpikatan mereka terhadap kecantikan juga kelucuan Purbasari pun, tergambar dengan gamblang pada wajah merona milik Purbaendah, Purbaleuih, juga Purbadewata pula.

Tanpa terkecuali, untuk putri yang harga dirinya sangat tinggi sekali. Yakini Purbamanik.

Ah~ itu adalah suatu pemandangan indah yang begitu memukau, kau tahu?

Rambut putih keperakannya yang entah kenapa tampak lebih mengkilap seakan-akan telah disiram oleh bubuk dari cahaya bulan, … lengkap dengan kulit putih kemerahannya yang terlihat empuk, lembut, dan seperti sengaja untuk meminta disentuh, … telah menggoda Purbamanik supaya segera mengangkat tangan, tuk ia tunjukkan ke arah bayi yang sedang tertidur pulas.

“Ish!”

Akan tetapi, sebelum niatnya itu sepenuhnya dapat terlaksana ….

PAKK!

… Purbararang menggagalkannya dengan menampik uluran tangan tersebut lumayan keras, sampai ke titik di mana bunyi nyaring timbul begitu dekat dengan telinga bayi, … dan berujung membuatnya bangun secara terkesiap.

“Jangan menyentuhnya …!”

“Uhh, Te— … Teteh Lalang.”

“… Tanganmu kotor!”

“T-teteh, … Teteh Lalang!"

Menoleh kepada Purbaendah yang tadi sudah mencoba memanggilnya dalam menyadarkannya akan kebisingan yang dihasilkan telah menyebabkan Purbasari mulai merengek dan menangis, … baik itu Purbararang maupun para putri yang lain, mendadak langsung panik seketika.

“Uw-uwweehhh~!"

Ikut menangis dengan Purbasari, Purbakancana yang malah membuat semuanya menjadi runyam itu merembetkan rasa ingin menangisnya kepada Purbadewata dan Purbaleuih pula.

Tak tahu harus bagaimana, Purbaendah yang awalnya mencoba untuk menepuk-nepuk Purbasari demi menenangkan dan memberhentikan tangisan si putri bungsu, malah ikut menangis juga.

Jadi, di ruangan yang dipenuhi oleh banyak tangisan beberapa putri ini, tersudutlah Purbamanik dan Purbararang, … yang merasa semakin panik akan keadaan yang sudah sangat heboh.

Karena adik-adiknya tidak kunjung mendengarkan mereka berdua untuk segera berhenti menangis, hal ini pun telah sukses membuat dua putri yang ketegarannya lumayan tersisa, ikut-ikutan menangis jua.

Sehingga, tangisan itu pun segera berhenti, begitu Sir Batara menampakkan kehadirannya untuk menenangkan segala kebisingan.

“Tidak apa-apa, Nyai Putri semua. Bayi menangis dengan keras seperti itu, sudah menjadi hal yang biasa.”

Memangku dan menimang Purbasari sampai si putri bungsu yang masih bayi menjadi tertidur kembali, Sir Batara yang telah mendengarkan maksud dari keenam putri itu jadi ikut menangis tadi, … berucap demikian.

“Tidak ada yang perlu ditakutkan."

Merendahkan sedikit tubuhnya untuk memperlihatkan Purbasari di dekapan tengah tersenyum manis seperti sedang melihat sesuatu yang membahagiakan di alam mimpi, Sir Batara terkekeh kecil.

"Lihat?"

“Wah, lihat-lihat! Dia terthenyum! Purbathari terthenyum!” seru Purbakancana senang, sembari menghapus jejak air mata yang telah membuat pipinya memerah.

“Benar, kan? Anda sekalian semua saja, senang melihat Nyai Putri Purbasari tersenyum. Begitu juga dengan Saya.”

Sir Batara yang dikelilingi oleh keenam putri, … ah tidak! Maksudnya, tujuh dengan Purbasari ini, … adalah seorang pria muda yang benar-benar dilimpahi oleh sifat yang didominasi oleh rasa kasih sayang, … sampai-sampai membuatnya menjadi banyak disukai anak-anak.

“Saya tidak ingin melihat Anda sekalian menangis. Saya hanya ingin melihat kebahagiaan yang dipancarkan oleh para Nyai Putri Saya yang cantik-cantik ini.”

Oleh sebab itu pulalah, dia dipercayai paduka raja … tuk ditempatkan bertugas di dekat para putri kerajaan Pasir Batang, dari pada bertugas tepat di sekitar dirinya.

Terutama, dia memang sudah dikhususkan untuk bertugas di dekat si putri yang masih berusia seumur jagung.

Putri Purbasari.

"Tersenyumlah, … Nyai Putri."

~•••~

“Selamat pagi, Purbasari.”

Datang dan melihat adik kecil mereka dari hari ke hari setelah hari pertama yang membuat mereka mempelajari untuk tidak takut dengan membuat bayi menangis setelah tahu cara menenangkannya, … keenam putri, lagi-lagi datang secara bersama-sama, … untuk mengajak bicara Purbasari yang kali ini kebetulan sedang tidak tertidur.

“Halo, Purbathari. Hari ini, kami datang lagi.”

“Hali demi hali, kamu semakin cantik ya? Pulbasali?”

“Purbasari …?”

“….”

Membuka dan mengatup-ngatupkan mulut mungilnya berulang kali, dan juga tak bisa mendiamkan diri untuk tidak menggerakkan kaki beserta tangan mungilnya secara hiperaktif, … Purbasari mengeluarkan suara bayi.

“Aung~ Aooo~”

“…!”

Dia mengeluarkan suara yang terdengar seperti menyapa balik kakak-kakaknya, dalam memberi sapaan.

Ah, dan … tentu saja.

Kemajuan akan kedekatan mereka dengan Purbasari kecil yang telah menghasilkan kejadian langka nan begitu berharga persis semacam ini, telah membuat semuanya menjadi heboh.

“K-kalian lihat kan? Purbasari bilang 'halo' kepadaku?”

Bertanya dengan nada suara yang persis seperti sedang bergumam kepada semuanya, Purbamanik yang pipinya sudah diterpa oleh rona merah menyala, … langsung mendapatkan sahutan dari Purbararang yang mengelak tidak terima.

“Tidak! Dia bukan bilang 'halo' kepadamu. Tapi dia bilang 'halo' kepada Rarang! Rarang kan Kakaknya. Ibu kami sama! Jadi, sudah pasti kalau Purbasari bilang ’halo' kepada Rarang!”

Membalas sahutan Purbararang dengan tak kalah sengit, Purbamanik menimpal. “Hei! Walau Ibu kami memang berbeda, tetap saja aku memiliki status sebagai Kakaknya juga!”

"Tidak! Bukan! Kamu bohong! Purbamanik bohong!"

"Itu benar! Aku tak bohong! Sama sepertimu, aku juga lebih tua lima tahun dari Purbasari. Jadi, Purbasari juga harus menganggapku sebagai Kakaknya!”

“Waktu itu kamu bilang kalau adikku itu jelek. Kamu juga bilang kalau kamu tidak mau melihat sesuatu yang jelek!”

“Itu kan dulu! Jangan mengungkit-ungkit sesuatu yang telah terjadi!”

“Tapi adikmu itu kan Ana. Kalau Purbasari, dia itu adik Rarang!”

Yah, sama seperti hari-hari sebelumnya, di hari ini pun … dalang dari balik kebisingan yang dapat membuat Purbasari menangis di ujung kunjungan sampai harus merepotkan Sir Batara kembali tuk datang dan menenangkan, … lagi-lagi, telah berulah.

“Uuweekk! Uweekk!”

“Ah …?! Gara-gara kamu kan, Purbasari jadi menangis!”

“Bukan karena Rarang! Tapi kamu yang sudah membuat adik Rarang menangis!”

Mereka berdua, … si Putri Purbararang dan Putri Purbamanik yang tak dapat menurunkan ego besar mereka terhadap satu sama lain untuk salah satunya menjadi mengalah dalam perdebatan, … telah membuat Sir Batara menjadi sangat kesusahan, karena harus berusaha dengan sebaik mungkin untuk segera menenangkan dan memberhentikan tangisan keras Purbasari, … lagi.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED