Medan, 1950
***
Sebuah mobil Plymouth hitam bergerak pelan menyusuri jalan, memasuki sebuah kampung bernama Sungai Agul, pada ketika itu sedang Hari Pekan, di mulut kampung ramai sekali orang berjual-beli, di pinggir jalan atau di halaman rumah. Meskipun ada satu-dua toko kelontong, kedai kopi dan kedai pangkas berada di jalan utama memasuki kampung, tapi tidak seramai kalau sedang hari pekan. Orang-orang yang berada di dalam mobil Plymouth hitam memperhatikan dengan tiada jemu-jemunya. Suasana kampung yang berada di pinggiran kota Medan ini, membuat mereka seperti sedang bertamasya saja layaknya.
Tuan Hanafi berkali-kali memberi tahu arah jalan kepada Pak Amat yang menyetir mobil. Sementara itu di bangku belakang duduk dua orang perempuan, Puan Yusra dan Aina—istri dan anak perempuan Tuan Hanafi—mereka terus saja melempar pandang keluar jendela mobil, tapi hanya Tuan Hanafi dan istrinya saja yang asyik berbincang, seperti burung murai sedang berkicau. Sedangkan anak mereka, Aina hanya diam memperhatikan suasana di luar. Sejak semula ia memang enggan untuk mengikut kedua orang tuanya itu—berkunjung ke rumah kawan lama Tuan Hanafi—karena sejak awal, Aina telah menangkap gelagat yang tak biasa dari makna kunjungan itu. Sedikit banyak ia sempat juga mendengar soal perjodohan. Ayah dan ibunya membincangkan keluarga Pak Bachtiar yang katanya punya anak lelaki. Mendengarkan perbincangan kedua orangtuanya, sejak semula Aina sudah menampik usul perjodohan itu.
“Apa kata kau, Aina?” ujar Tuan Hanafi sambil menoleh sedikit ke belakang.
Aina yang sejak tadi asyik melihat-lihat keluar tak segera menjawab pertanyaan ayahnya—ia pura-pura tak mendengar—dan masih saja melempar pandangan keluar jendela mobil.
“Aina, kau dengar Ayahmu tidak?” Puan Yusra—ibunya Aina—menyikut lengan anaknya.
Aina menoleh kepada ibunya dengan air muka seperti orang bodoh. Mulutnya terbuka sedikit. Kemudian daripada itu, ia melempar pandang ke arah Tuan Hanafi yang duduk di depan, di samping Pak Sopir.
“Jawablah Ayah kau itu, Aina,” ujar Puan Yusra lagi.
“Apa yang hendak dijawab, Ibu?” Aina mengerutkan keningnya.
“Janganlah seperti kura-kura dalam perahu.”
Tuan Hanafi menyindir putrinya. Ia masih terus saja memandang ke depan. Sekarang mobil berjalan agak perlahan karena memasuki Pekan¹ yang sedang ramai-ramainya orang berjual-beli hingga hampir saja menutup jalan.
“Soal usul Ayah kau tentang anak lelaki sahabatnya itu, anak Pak Bachtiar. Apa kata kau, Aina?” terang Puan Yusra. Ia berharap Aina tak bisa berkilah lagi dengan pura-pura tak mendengar.
“Ayah harap kau tak menampiknya. Bukan begitu, Yusra?” ujar Tuan Hanafi kepada istrinya sambil memiringkan sedikit kepalanya seperti hendak menoleh ke belakang, tapi urung dilakukan.
“Iyalah, dulu Abang berkawan dengan Pak Bachtiar, tentu saja Abang sudah tahu seluk-beluk keluarganya. Lazimnya buah jatuh tak jauh dari pohon, begitu jugalah pasti Pak Bachtiar dan anaknya itu,” Puan Yusra mengibas-ngibaskan kipas dari anyaman daun pandan--serupa tikar--yang dipegangnya.
“Oh, kalau masalah itu, kau tak usah ragu, Yusra. Bachtiar itu kawan sepermainan Abang, satu sekolah pula dan rumah kami dulu pun berhampiran. Aku dan dia itu seperti lepat dengan daun, macam saudara sudah. Kalau ditanya paras-rupanya? Amboii ... gagah benar ia pada masa mudanya dulu,” Tuan Hanafi mengurai kata. Kalau sudah membicarakan kawan lamanya itu, bukan main berapi-apinya ia.
“Anaknya pula bagaimana?” susul Puan Yusra.
Tuan Hanafi terdiam sejenak. Aina berdehem—batuk yang dibuat-buat—mengejek ayahnya yang terdiam. Mobil yang mereka tumpangi berhenti di tengah jalan, ketika seorang pedagang kambing menyeret kambing-kambingnya menyeberang jalan kecil di tengah Pekan. Kesempatan itu dipergunakan Tuan Hanafi untuk mengomel—pura-pura—menyalahkan penjual kambing yang serampangan menyeberang jalan. Aina berdehem-dehem lagi. Menggoda ayahnya.
“Ibu sudah bertanya, sekarang apa kata Ayah?” ujar Aina melepas geramnya melihat Tuan Hanafi yang tadi begitu berapi-api memuja-muja sahabat lamanya itu.
“Mmm ... memang sudah lama Ayah tak berkunjung ke rumah mereka, dan seingat Ayah, kali terakhir melihat anaknya, si Hafiz waktu ia baru berumur dua atau tiga tahun.”
Aina tertawa. Gelak-gelak. Lalu katanya:
“Amboiii ... sudah berpuluh tahun tak bersua, masih ingatkah mereka kepada, Ayah?”
Tuan Hanafi menoleh ke belakang. Memandang putrinya—Aina—dengan saksama.
“Baru sepekan yang lalu, Ayah bertemu dengannya.”
“Betul itu, Aina. Hari ahad yang baru lalu, Ayahmu bersua dengan kawannya itu, di Kantor Jawatan Perkebunan,” Puan Yusra menguatkan kata-kata suaminya.
Lalu Tuan Hanafi bercerita lagi, tentang kawan lamanya itu dan juga anak lelakinya yang bernama Hafiz. Entah dari siapa asal mulanya, di tengah pertemuan kedua kawan lama itu Tuan Hanafi dan Pak Bachtiar bersepakat untuk menjodohkan anak-anak mereka. Kemudian diaturlah pertemuan awal untuk saling memperkenalkan Aina dan Hafiz. Maka hari ini diputuskan keluarga Tuan Hanafi yang datang berkunjung lebih dulu.
Mendengar penjelasan ayahnya, bukan main geramnya hati Aina.
“Oh, kita pula yang datang ke rumah mereka, macam sumur mencari timba!” ujar Aina dengan nada suara yang tinggi.
“Tak ada salahnya itu, Aina. Pak Bachtiar yang menganjurkan Ayah untuk datang berkunjung,” Tuan Hanafi pula coba menyabarkan Aina.
“Kenapa Ayah mau?!” Aina meradang.
“Kalau kalian jadi menikah, hubungan baik Ayah dan Pak Bachtiar akan berlanjut sampai ke anak cucu. Lagi pula sejak dulu pun kami sudah seperti saudara, tapi alangkah bagusnya kalau hubungan itu dikekalkan dengan pernikahan kalian.”
“Alangkah mudahnya Ayah menjodoh-jodohkanku dengan orang yang belum dikenal perangainya?” Aina menampik ucapan Tuan Hanafi.
“Ayah tahulah bagimana perangai kawan Ayah itu.”
Aina tersenyum sinis memandangkan Tuan Hanafi.
“Iya, kawan Ayah. Bagaimana pula dengan anaknya?!”
“Kan Ibu sudah katakan tadi, buah jatuh tak jauh dari pohonnya, Aina,” Puan Yusra pula berusaha membela—Tuan Hanafi—suaminya.
“Buah tak sama dengan manusia, Bu. Aku tak ingin disangkut-pautkan dengan urusan perjodohan ini. Baiklah aku turun di sini saja,” Aina sudah tak bisa menahan geram di hatinya.
Mendengar ucapan Aina, terkejutlah Tuan Hanafi dan Puan Yusra. Serempak mereka memandang Aina. Pak Amat sopir mereka hanya melirik dari kaca spion mobil. Sejak tadi ia sudah banyak mendengar pembicaraan keluarga majikannya itu. Pak Amat pura-pura tak mendengar dan sibuk menyetir mobil.
“Turunkan aku di sini saja, Pak Amat!” perintah Aina.
“Mau apa kau buat di tengah Pekan ini, Aina?” Puan Yusra tahu betul tabiat putrinya itu. Tak bisa dikerasi sedikit pun, kalau sampai hal semacam itu terjadi, alamat Aina akan menentang bukan alang-kepalang.
“Banyak yang bisa dibuat, Ibu. Lihatlah sekarang hari Pekan, ramai orang berjual-beli. Mungkin ada satu-dua barang yang kuperlukan, tak payah lagi besok-besok Pak Amat mengantarkanku berbelanja di Kesawan,²” ujar Aina berkilah.
Tuan Hanafi pula lebih mafhum akan tabiat putri tunggalnya itu. Sudahlah perajuk, ia juga tak sungkan menentang kalau ada sesuatu yang tak sesuai dengan keinginan hatinya. Maklum saja, Aina itu anak satu-satunya. Selalu dimanja dan diperturutkan apa pun kehendaknya. Sekarang mati kutu-lah Tuan Hanafi dan Puan Yusra menghadapi Aina. Pak Amat pula jadi tak tentu apa yang hendak dilakukan. Mau mengikuti perintah Aina, ia segan kepada Tuan Hanafi.
“Berhenti di sini saja, Pak Amat!” ujar Aina sekali lagi.
Pak Amat menoleh kepada Tuan Hanafi yang duduk di sampingnya. Ia tak berani bertanya—mobil masih saja berjalan pelan, sebentar lagi mereka akan melewati Pekan yang ramai—dan hanya menunggu perintah majikannya saja untuk menghentikan laju mobil.
“Turunkan aku di sini, Pak Amaaat!” Aina menyergah. Ia semakin meradang.
Pak Amat terkejut bukan kepalang. Ia menoleh sekali lagi kepada majikannya—Tuan Hanafi—seolah meminta persetujuan untuk mengikuti perintah Aina. Bukannya Tuan Hanafi menangkap maksud sopir pribadinya itu, melainkan ia berusaha menyabarkan putrinya.
“Tak baik dilihat orang, anak perempuan berjalan seorang diri, Aina,” Tuan Hanafi membujuk putrinya.
“Apa peduliku, Ayah. Lagi pula ini kan masih siang hari, bukannya malam!”
Puan Yusra tersenyum sambil menepuk-nepuk bahu Aina.
“Kalau kau tak ingin bersua, baiklah menunggu di dalam mobil saja. Tak usah masuk ke rumah kawan Ayah kau itu, tapi jangan minta turun di sini, Aina.”
“Tidak, Ibu. Apa kata mereka seandainya tahu aku bersembunyi di dalam mobil? Sudahlah tak perlu kita berpanjang kata lagi. Pak Amat, apa harus aku sendiri yang melompat dari mobil ini?!” Aina menggertak.
Karena takutnya ia, Pak Amat pun langsung menepikan mobil tanpa meminta persetujuan majikannya lagi—kini mobil mereka sudah keluar sedikit dari hiruk-pikuk orang berjual-beli, di sekitar Pekan tadi. Lalu dengan cepatnya Aina membuka pintu, kemudian turun di pinggir jalan. Sebelum menutupkan pintu mobil ia pun berkata:
“Ayah dan Ibu, tak usah risaukan Aina. Nanti setelah selesai berkunjung ke rumah kawan lama Ayah itu, jemputlah aku di Pekan ini,” Aina terdiam sejenak. Ia memalingkan kepala ke kiri dan kanan. Melihat-lihat sekitarnya.
“Oh, di sana. Di depan kedai dobi³ atau di kedai kelontong⁴ itu.”
Tak ada lagi yang bisa dikatakan oleh Tuan Hanafi dan Puan Yusra. Kalau sudah anak mereka punya mau, muskil rasanya untuk menolak. Kemudian Tuan Hanafi menggerakkan kepalanya sebagai isyarat kepada Pak Amat untuk menjalankan mobil kembali. Aina tersenyum sambil melambaikan tangan ke arah mobil Plymouth hitam yang bergerak menjauh. *
*keterangan:
1.Pasar
2. Pusat Kota
3. Laundry
4. Barang pecah belah
Sebentar-sebentar ia melempar pandang ke seberang jalan. Lalu-lalang orang berjalan kaki, becak, sepeda dan pedati, membuat jarak pandanganya terganggu. Ia alihkan kepala--kadang ke kiri, sebentar ke kanan--sekali-dua ia masih melihat perempuan berkebaya encim warna cokelat muda. Kali ketiga rupanya ia kehilangan sosok yang sejak tadi diintainya. Debu jalan menguar, lelaki itu menarik pandangan. Hasratnya kini beralih kepada aroma kopi dari kedai sebelah yang telah memberangsangkan hatinya untuk menikmati seteguk dua Kopi Arabica yang wangi. Lekas ia berjalan meninggalkan toko Babah Liong, penjual tembakau linting harum, setelah dibayarnya harga sejumput besar, seharga dua rupiah. Tembakau sebanyak itu bisa habis dua hari saja baginya.
Lelaki itu masuk ke kedai kopi.
“Kasih aku kopi kental manis!” ujarnya pada pelayan kedai.
“Selain kopi apalagi yang hendak Tuan pesan?” tanya pelayan sambil membungkuk hormat.
“Tidak, tak ada. Kalau nanti terbit niatku pada juadah kau itu, barulah aku panggil kau sekali lagi. Boleh begitu?”
“Oh, tidak mengapa, Tuan. Bagi kami pembeli adalah raja. Sila membayar secangkir kopi, 20 sen saja, Tuan.”
Lelaki itu mendongakkan sedikit wajahnya. Lalu ia melempar senyum. Si pelayan tak tentu perangainya. Malu hati ia.
“Memang kita sudah meniru cara orang luar berniaga, Tuan. Bayar lebih dulu, pesanan baru diantar," ujar pelayan sedikit malu-malu.
“Ini aku bayar kopi kau itu, 20 sen!”
“Tuan tak ada uang 20 sen saja?” si pelayan kedai kopi melihat selembar uang satu rupiah di atas meja.
“Sisanya itu bagianmu, ambil dan simpanlah sebagi pemberian dariku, tapi dengan satu syarat ....”
“Asal tidak memberatkan saya saja, Tuan. Bolehlah saya perturutkan," Si Pelayan tersenyum senang.
“Kau tahu, siapa perempuan yang berkebaya encim warna cokelat muda, yang sudah lebih dari sejam, berdiri di seberang kedai kopi kau ini. Lihat ke sana, di kedai dobi pakaian itu.”
Si Pelayan kedai kopi menjulurkan kepala, mengikut jari yang ditunjuk si lelaki ke seberang jalan.
“Tak ada perempuan seperti ciri yang Tuan sebutkan tadi?” Si Pelayan kedai kopi nampak kebingungan.
Lelaki itu menarik kembali tangannya. Air mukanya tampak menahan geram.
“Memang sekarang sudah tidak ada, yang aku bilang, itu perkara tadi!”
Pelayan tersengih--senyum seperti kuda--ia menoleh pada Si Lelaki.
“Kalau perkara tadi, kenapa baru Tuan tunjuk sekarang?”
Lelaki itu mengambil kertas rokok merek ZIG-ZAG, serta tembakau yang tadi dibelinya di toko Babah Liong. Lelaki itu memilin-milinnya sebentar. Kemudian ia melintingnya.
“Sudah lebih dari sejam perempuan itu berdiri di sana, kenapa bisa kau tak melihatnya, barang sekali- dua?”
“Saya ini bekerja, Tuan. Mana sempat perhatikan orang?” Si Pelayan kedai beranjak pergi.
Lelaki itu tak bersuara lagi. Ia selesai melinting tembakau, memantik korek api dan membakar ujung lintingan tembakau yang serupa balon bentuknya. Asap pun mengepul-ngepul dari mulut lelaki itu. Sebentar saja ia menikmati kepulan asap tembakau, terlihat pula olehnya perempuan berkebaya encim cokelat muda, melintas di depan kedai kopi. Lelaki itu pun berdiri, mengejar keluar.
“Nona!” diberanikannya diri untuk menegur.
Perempuan berkebaya encim cokelat muda berhenti dan menoleh ke belakang. Bukan main seri wajahnya. Setanding dengan kejora, memancar-mancar penuh pesona. Hafiz terpana memandangnya.
“Tuan memanggil saya?” perempuan itu menyahut. Air mukanya menunjukkan kalau ia amatlah terkejut ditegur oleh seorang lelaki, muda dan gagah pula.
Si lelaki tak tahu apa yang telah diperbuatnya. Memanggil tadi tak sengaja ia lakukan. Hanya dorongan hatinya saja, tapi sekarang sudah lacur, nasi sudah menjadi bubur.
“Saya lihat, Nona sejak tadi menunggu sesuatu, tapi pada sangka saya pastilah orang yang Nona tunggu-tunggu tak datang jua.”
Perempuan berkebaya encim cokelat muda tersenyum. Kali ini dipandanginya lelaki itu dengan sangat cermat. Sejak dari kepala hingga ujung kaki. Boleh juga potongannya, seperti pegawai pemerintah, atau kalau pun tidak, mestilah ia berniaga. Pikir hati perempuan itu.
“Saya sedang menunggu Ayah dan Ibu, mereka ada keperluan dengan kawannya.”
“Oh, begitu rupanya? Kenapa Nona tak mengikut saja?”
“Ah, tidak. Saya memilih turun dari mobil, sekalian ada barang yang ingin saya cari di Pekan ini.”
Si Lelaki terdiam sejenak. Turun dari mobil? Pastilah ia anak orang kaya, ujar lelaki itu dalam hati. Lalu dengan tersenyum, ia berkata lagi:
“Baiklah Nona menunggu di dalam kedai kopi saja. Mau minum apa tinggal meminta, lagi pula banyak juadah⁵ yang menerbitkan selera. Tak apa saya yang bayar, marilah masuk.”
“Terima-kasih banyak, Tuan. Saya sudah tak ada waktu lagi, permisi,” perempuan itu pun melangkah pergi.
Tiba-tiba saja Si Pelayan kedai kopi menjulurkan kepala dari ambang pintu, ia memandang keluar.
“Itukah orangnya yang Tuan maksud tadi?”
“Ya, dialah orang.” sahut Si Lelaki sambil terus memperhatikan perempuan berkebaya encim warna cokelat muda pergi menjauh.
“Kenapa ia tak berdiri di depan kedai dobi, seperti yang Tuan katakan tadi?”
“Dia itu manusia, tentulah bergerak ke sana-sini. Mengapa tak sampai pikiran kau ke situ?”
Si pelayan tersengih-sengih.
“Aih, sudahlah Tuan. Itu kopinya sudah terhidang.”
“Oh, ya. Kasih juga aku beberapa macam juadah kau itu,” seru Si Lelaki tanpa menoleh kepada Si Pelayan.
“Agaknya perempuan itu telah membuat perut Tuan menjadi lapar?” goda Si Pelayan sambil beranjak ke dalam kedai.
“Pergilah sana, nanti aku laporkan kau kepada majikanmu, mau?” ancam Si Lelaki menggertak.
“Alahai, janganlah cepat sekali Tuan naik darah. Saya tadi cuma berkelakar saja.”
Si pelayan melangkah pergi mengambilkan juadah. Sedangkan lelaki itu masih berdiri saja di ambang pintu kedai kopi sambil memandang perempuan berkebaya encim cokelat muda yang semakin menjauh. Entahlah kenapa hatinya seperti hendak melompat keluar, mengejar perempuan itu yang seri wajahnya setanding kejora. Belum pernah ia melihat paras sejelita itu. Selama ini hanya ada dalam mimpi saja sangkanya. Siapakah dia? Ah, Si Lelaki semakin tak menentu hatinya.
“Ini juadahnya tuan, semuanya lima ringgit, sepuluh sen!” Si Pelayan meletakkan juadah, bercampur antara kue malaka, dadar, wajik, bika dan kue lumpang.
Bagai tak ada nyala semangat dalam hati lelaki itu, ia melangkah masuk ke kedai kopi. Diambilnya uang satu rupiah lalu meletakkannya di atas meja. Kemudian itu katanya.
“Ambil sisanya untukmu.”
Si Pelayan tersenyum. Matanya berseri-seri, girang bukan kepalang.
“Kalau beginilah semua orang yang minum di kedai, alamat besok lusa, aku pula yang jadi majikan. Punya kedai kopi sendiri.”
“Sudahlah, jangan mengganggu aku lagi,” ujar Si Lelaki sambil menyeruput kopinya yang sudah mulai dingin.
“Baiklah, Tuan. Besok-lusa saya akan coba melihat-lihat kalau perempuan itu datang lagi.”
Si Lelaki mendongak. Memandang Si Pelayan yang masih berdiri di dekat mejanya.
“Apa pula pentingnya bagimu?”
“Siapa tahu, saya bisa mintakan nama dan alamatnya untukmu, Tuan?”
Mendengar itu tersenyum Si Lelaki. Terbit harapan di bola mata. Dipandanginya Si Pelayan.
“Boleh, boleh juga usulmu itu, Ujang.”
“Nama saya bukan Ujang, Tuan. Panggil saja Jali, nama saya Rojali.”
“Baiklah kalau begitu, Jali. Aku mintakan tolong pada engkau. Coba kau amat-amati, mana tahu perempuan itu datang lagi besok-besok?”
“Ya, tapi menurut firasat saya, pastilah perempuan itu berasal dari kota.”
“Kota mana?”
“Barangkali dari Medan, Tuan.”
“Ini juga Medan, Jali!”
“Betul yang Tuan katakan itu, tapi kita ini berada di pinggirnya.”
“Baiklah, kalau dia tinggal di pusat kota, tak sampai setengah hari bersepeda.”
“Itu pun kalau Tuan punya sepeda,” Si Pelayan melempar pandangannya keluar kedai. Tak ada satu pun sepeda yang nampak olehnya.
“Aku bisa pinjam, apa katamu?” ujar Si Lelaki seolah tahu isi hati pelayan kedai.
Si Pelayan kedai terdiam sejenak—berpikir—sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Ah, tapi tak mungkin juga, mustahil Tuan tak punya sepeda. Lagak gaya Tuan saja sudah seperti pegawai.”
“Kita baru saja merdeka, Jali. Kehidupan semua orang sedang susah, kecuali bekas pegawai Belanda atau mereka yang bekerja di Jawatan Negara.”
“Kalau boleh saya tahu, Tuan bekerja di mana?”
“Jali!”
Seorang lelaki gemuk memakai kopiah memandangnya geram. Jali tekejut dan menoleh ke belakang. Majikannya, Pak Badrun telah berdiri di pintu dapur kedai.
“Masak air satu dandang, sebentar lagi orang habis Pekan! Apa kata kau kalau kita kehabisan air panas?” Pak Badrun kembali menghilang ke dalam dapur.
“Baiklah, Tuan!” Jali menyahut, tapi tak juga beranjak dari tempatnya. Ia masih berkeinginan berbincang dengan lelaki yang menjadi tamu di “kedainya” itu. Lalu katanya:
“Kalaulah saya boleh tahu, Tuan bekerja di mana? Sudah lama Tuan jadi pelanggan di kedai kami, tapi sampai sekarang, saya tak tahu apa pekerjaan Tuan yang sebenarnya,” sambil bicara, Jali menoleh sesekali ke belakang, takut ia kalau-kalau Pak Badrun memanggilnya lagi.
“Apa pula perlunya bagi kau, aku bekerja di mana, Buyung?” ujar Si Lelaki itu dengan tiada sukanya.
Si Pelayan bernama Jali itu tersengih lagi. Mirip macam kuda dalam birahi.
“Bukan apa, Tuan. Siapalah tahu ada tempat untuk bekerja di kantor, bolehlah aku minta petunjuk dari, Tuan?”
“Jali!” terdengar lagi suara Pak Badrun.
“I-iya ... Tuan!” Si Pelayan terperanjat.
“Orang seperti kau ini mau bekerja di kantor? Disuruh memasak air sedandang saja oleh majikanmu, tak segera kau tunaikan. Apakah lagi bekerja di kantor yang amatlah sibuknya itu? Pastilah kau dibuang lewat pintu belakang!” ujar Si Lelaki menahan geli di hatinya.
Si Pelayan merengut mendengar ejekan itu. Lalu katanya:
“Aku tak percaya, Tuan bekerja di kantor. Tak ada potongan!” Si Pelayan melangkah pergi setelah puas melampiaskan geram kepada—Si Lelaki—tamu di “kedainya” itu.
“Terserah kau sajalah, Buyung! Masak air sedandang, cepat!” balas Si Lelaki mengejek.
Di luar kedai—berpuluh meter jaraknya—seorang perempuan berkebaya encim cokelat muda menghentikan langkah dan berpatah-balik ke arah ia datang semula, tapi sampai di dekat kedai—penjual tembakau—Babah Liong, ia berhenti. Agaknya ada sesuatu yang ingin dicarinya. Sosok lelaki gagah yang tadi menyapa dan menawarkannya untuk mencoba juadah di kedai kopi, dan berkata ia pula yang akan membayarnya. Amboiii ... alangkah ramah dan baik hati lelaki gagah itu, bisik hati perempuan berkabaya encim cokelat muda sambil memanjangkan lehernya—meninjau—ke arah kedai kopi yang berada sekitar sepuluh meter dari tempatnya berdiri. Ingin sekali lagi ia melihat paras rupa Si Lelaki itu. Senyum dan suaranya bagai pangeran dari kayangan. Sering ia ditegur-sapa oleh lelaki, tapi tak sedikit pun berkenan di hatinya. Lain sekali dengan lelaki yang tadi menyapanya dari kedai kopi. Lagak dan gayanya sangatlah sopan dan tak ada sedikit pun terkesan hendak menggoda. Aina terpesona juga dengan lelaki itu, tapi apa ia punya nama? Aih! Bersemu merah wajahnya, malu hati pada diri sendiri. Mengangankan lelaki yang belum ia kenal, tak tahu pula asal-muasalnya. Aina masih berdiri di depan kedai Babah Liong, melempar pandangan dengan malu-malu ke arah kedai kopi—seperti takut ketahuan kalau ia sedang mengintai—berharap lelaki yang menegurnya tadi keluar lagi dari kedai itu, tapi sudah agak lama menunggu, lelaki yang dinantinya tak juga kunjung keluar dari kedai. Sejurus kemudian Si Perempuan berkebaya encim cokelat muda beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
Matahari semakin tinggi, Si Lelaki keluar dari kedai kopi setelah perempuan berkebaya encim cokelat muda sudah pergi menjauh. Niat Si Lelaki tadi pergi ke Pekan hanya ingin membeli tembakau. Kalau hari biasa, tempat ini sepi. Hanya ada satu dua kedai yang buka, tapi kalau hari pekan, pedagang dari mana-mana pelosok datang menggelar barang dagangannya. Tempat ini jadi ramai. Bagus juga untuk mencuci mata, itulah sebab ia singgah di kedai kopi Pak Badrun. Memang rumahnya tak berapa jauh dari Pekan. Ia cukup berjalan kaki saja, tak sampai tiga puluh menit. Lagi pula untuk apa pulang cepat, di rumah pun pening kepala. Ayah dan ibunya selalu menegur, menasihati, bahkan menunjuk-nunjuk mukanya, supaya hidup lebih terarah. Cari kerja, jangan hanya sibuk bersyair, harapkan jadi pujangga. Mau makan apa? Menurut hematnya, semua rejeki manusia sudah ditanggung oleh Tuhan. Semut di lubang batu saja bisa makan, apalagi ia seorang manusia. Lelaki itu tak pernah risau pada masa depannya. Hidup itu jangan dipikirkan, kalau banyak pikiran alamat cepat masuk liang kubur!
Hampir dekat ke rumahnya, ia berhenti di bawah pohon ketapang yang rindang, ada penjual es doger di situ. Satu-dua pedati melintas di jalan yang masih berupa tanah, warna kuning kecokelatan. Ada juga beberapa orang mengendarai sepeda, tapi lebih banyak yang berjalan kaki, searah dengannya pulang dari Pekan.
“Bang, kasih aku es doger,” lelaki itu berkata seraya duduk di bawah pohon ketapang.
Penjual es doger lekas berjingkat dari duduknya. Menyiapakan segelas es yang warnanya merah jambu, sungguh cerah dan sangat menerbitkan selera. Siang semakin terik. Lelaki itu berniat berangin-angin barang sejenak—melinting lagi tembakaunya sambil menunggu segelas es doger dengan tapai berwarna putih yang rasanya enak. Baginya hidup itu diselenggarakan dengan cara sederhana saja. Tak perlu risau pada kedudukan dan harta. Jiwa dapat bebas berkelana sesuka hati. Tidak pernah takut akan hilang-kehilangan dan punya tak berpunya. Harta duniawi itu makin dikira, semakin terasa kurangnya. Hah! Seperti minum air laut saja. Baiklah ia mengisap tembakau sambil minum es doger. Dapat luput sejenak silang-sengkarut dalam hati. Jangan pulang dulu. Begitulah yang ada di dalam pikirannya.
Kalau di rumah pastilah ia mendengar permintaan remeh-temeh orangtuanya. Supaya ia cepat berumah-tangga, punya istri dan anak. Disuruhlah ia mencari kerja, ijasah HBS⁶--Hogere Burger School, sudah ada di tangan. Kata ayah dan ibunya, sudah tinggi sekali sekolahnya pada jaman itu. Sangat mudahlah mencari kerja kalu saja ia mau. Pada saat itu jangankan yang bersekolah sampai sejenjang dengannya, yang masih buta hurup lebih banyak daripada yang berpendidikan. Itulah yang saban hari didengarnya, tapi lelaki itu tak pernah bersedia menjadi kacung, pesuruh di jawatan negara. Apalagi perusahaan milik perseorangan. Baginya kalau kita sudah bekerja pada satu jawatan negara atau perusahaan perseorangan, itu namanya sudah teken mati. Tak ada kebebasan lagi. Dari pagi sampai petang habis tersita waktu untuk bekerja. Waktu kita sudah dibeli! Ia lebih suka menulis syair-syair—membacakan sajak-sajaknya pada acara-acara kesenian. Saban hari kerjanya hanya berjalan sesuka hati, sekali waktu ia numpang tidur di rumah kawan, lain waktu tertidur pulas di emperan toko daerah Kesawan yang terletak di pusat Kota Medan. Kalau tak ada uang, ia pulang ke rumah, minta pada ibunya. Lalu pergi lagi, begitu sajalah kerjanya. Semangat bersyair semakin menjadi-jadi ketika ia baca sajak-sajak Chairil Anwar, pada Majalah Nisan. Chairil itu anak Medan yang sudah pindah ke Jakarta. Dulu mula-mula sekali, ia pernah terjumpa sekali-dua dengan lelaki kurus berambut tebal itu. Ah, sosok Chairil semakin mengapi-apikan semangatnya untuk bersyair. Seniman itu bebas, bebas dari kungkungan norma!
Sewaktu duduk di bawah pohon ketapang yang rindang daunnya, sambil sesekali meneguk es doger, tak lupa juga ia mengisap tembaku linting. Angan-angan pun memenuhi benaknya. Baru hari ini hatinya tergerak memikirkan perempuan. Memang aku tak boleh luput dari makhluk yang bernama perempuan, tapi bila harus menaklukkan diri pada pekerjaan, karena itulah syarat untuk bisa menghidupi anak-bini, sangatlah risau hatinya. Kalau tidak, makan apa mereka nanti? Semakin risaulah hati lelaki itu. Keruh juga air mukanya. Omelan orang-tuanya kembali bersipongang di telinga: bersyair-syair sepanjang hidup, mau makan apa?
“Abang sudah kawin, anak berapa?” ujar Si Lelaki mengalihkan risau hatinya pada penjual es doger.
“Anak saya lima, Tuan.”
“Ha?! Abang bisa menghidupi lima anak dengan seorang bini, hanya berjualan es doger saja?” terkejut Si Lelaki mendengarnya.
“Rejeki sudah ada yang mengatur, Tuan. Asal kita mau berusaha.”
Terdiam ia. Rasa ditampar mukanya. Jawaban penjual es doger itu membangkitkan rasa malu di hati. Ia tersenyum—meski terpaksa—sambil memandang penjual es doger.
“Ya, betul apa yang Abang katakan tadi. Rejeki sudah ada yang mengatur,” ujar Si Lelaki menutup rasa malu di hatinya.
Dua orang anak kecil berlarian menghampiri penjual es doger di bawah pohon ketapang. Sambil melayani kedua anak kecil itu, penjual es doger menoleh pada Si Lelaki yang duduk tak jauh dari gerobak es.
“Tuan ini pastilah seorang pegawai. Bekerja di jawatan apa?”
Lelaki itu menghabiskan sisa es doger dalam cangkirnya, lalu meletakkan uang lima puluh sen pada sisi gerobak es.
“Aku penyair, mana ada potongan jadi pegawai?” ujarnya sambil berlalu.
Penjual es doger terkejut. Ia memandangi Si Lelaki dengan saksama.
“Penyair?”
Lelaki itu menoleh sebentar.
“Ya, penyair,” jawabnya dengan lagak.
“Seperti Chairil Anwar?” seru penjual es doger merasa takjub.
“Ah, bu-bukan. Kalau aku belum lagi seperti beliau,” sahut Si Lelaki gugup.
“Meskipun begitu, tapi Tuan adalah penyair juga, kan?”
“I-iya ... betul itu. Aku penyair, menulis sajak, tapi belum pernah masuk surat kabar,” lelaki itu menyeringai sedikit, sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan penjual es doger.